Anda di halaman 1dari 21

ILMU SOSIAL

BUDAYA DASAR
KONSEP ILMU SOSIAL DAN
BUDAYA DASAR

Pokok-pokok Substansi Kajian ISBD

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pendahuluan (Pengantar ISBD)


Manusia dan kebudayaan
Manusia, dan peradaban
Manusia sebagai individu dan makhluk sosial
Manusia, keragaman, dan kesetaraan
Manusia, nilai, moral dan hukum
Manusia, sains, teknologi dan seni.
Manusia dan lingkungan

Latar Belakang
Latar belakang diberikannya Ilmu Sosial Dasar
(ISD), adalah banyaknya kritik yang ditujukan kepada
sistem pendidikan di perguruan tinggi oleh sejumlah
cendikiawan, terutama sarjana pendidikan, sosial, dan
kebudayaan.
Mereka menganggap sistem pendidikan yang sedang
berlangsung ini berbau kolonial dan masih merupakan
warisan sistem pendidikan pemerintah Belanda, yaitu
kelanjutan dari politik balas budi (erische politiek)
yang dianjurkan oleh Conrad Theodore van Deventer.
Sistem ini bertujuan menghasilkan tenaga-tenaga
terampil untuk menjadi tukang-tukang yang mengisi
birokrasi mereka di bidang, administrasi,
perdagangan, teknik dan keahlian lain, dengan tujuan
eksploitasi kekayaan negara.

Ternyata sekarang masih dirasakan banyaknya tenaga ahli


yang berpengetahuan keahlian secara khusus dan mendalam
(spesialis), sehingga wawasannya sempit.
Padahal sumbangan pemikiran dan adanya komunikasi ilmiah
antar disiplin ilmu diperlukan dalam memecahkan berbagai
masalah sosial masyarakat yang demikian kompleks.
Sering suatu masalah terasa tuntas pemecahannya menurut
suatu disiplin ilmu tertentu, tetapi ternyata bagi disiplin ilmu
yang lain masih merupakan masalah besar.
Hal lain ialah sistem pendidikan kita menjadi sesuatu yang
elite bagi masyarakat kita sendiri, kurang akrab dengan
lingkungan masyarakat, tidak mengenali dimensidimensi lain
diluar disiplin keilmuannya.
Sebagai upaya untuk mengatasi kegusaran para cendekiawan
tersebut, diberikanlah ilmu sosial dasar sebagai pelengkap
pembentukan sarjana paripurna sebagaimana yang
diharapkan.
Oleh karena itu, dalam paradigma kuliahnya mempunyai ciriciri tersendiri, banyak menyangkut problem oriented yang
dirasakan dan nyata di masyarakat

Tiga jenis kemampuan yang diharapkan


dihasilkan di PT
Kemampuan personal adalah kemampuan kepribadian. Dengan
kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki
pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, tingkah laku,
dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia,
memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan,
dan kenegaraan (pancasila), serta memiliki pandangan yang luas
dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh
masyarakat Indonesia.
Kemampuan akademis adalah kemampuan untuk
berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan,
menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis,
sistematis dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk
mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta
mampu menawarkan alternatif pemecahan.
Kemampuan profesional adalah kemampuan dalam bidang
profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini,
para tenaga ahli diharapkan memilikipengetahuan dan
ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.

Latar belakang diberikannya mata kuliah ilmu


budaya dasar, selain melihat konteks budaya Indonesia,
juga sesuai dengan program pendidikan di perguruan
tinggi. Rapat rektor-rektor universitas / institut negeri se
Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 11 s/d 13
Oktober 1971 di Tugu menyimpulkan pentingnya
pemberian mata kuliah basic social science (ilmu sosial
dasar) dan basic humanities (ilmu sosial dasar) dalam
rangka menyempurnakan pembentukan sarjana.

Latar belakang IBD dalam konteks


budaya, negara, dan masyarakat
Indonesia
karena
Kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku
bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yang tercermin
dalam berbagai aspek kebudayaan, yang biasanya tidak lepas dari
ikatan-ikatan primordial, kesukuan dan kedaerahan
Proses pembangunan yang sedang berlangsung dan terus menerus
menimbulkan dampak positif dan dampak negatif berupa terjadinya
perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan
sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya. Akibat lebih
jauh dari pembenturan nilai budaya ini ialah timbulnya konflik dalam
kehidupan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dalam teknologi menimbulkan
perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan
tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap
kemajuan yang telah diciptakannya. Hal ini merupakan akibat sifat
ambivalen teknologi, yang disamping memiliki segi-segi positifnya,
juga memiliki segi-segi yang negatif. Akibat dampak negatif
teknologi, manusia ini menjadi resah dan gelisah.

Keresahan manusia tersebut muncul akibat adanya


benturan-benturan nilai teknologi modern dengan nilai-nilai
tradisional karena sains dan teknologi berpihak pada suatu
kerangka budaya.
Terjadilah kontak budaya dengan kebudayaan asing yang
menimbulkan perubahan orientasi budaya dan menimbulkan
dampak terhadap tata nilai masyarakat.
Dari segi pandangan politis, Indonesia adalah sesuatu yang
utuh.
Akan tetapi, di dalam keanekaragaman kebudayaannya
secara jujur diakui masih terdapat jarak komunikasi diantara
kelompok etnis, hal yang sering menimbulkan konflik budaya
pada seseorang yang bergerak dari satu kelompok etnis ke
kelompok etnis yang lain.
Konflik budaya tersebut acap kali bertaraf nasional.
Oleh karena itu seorang sarjana calon intelektual harus
mampu mengenal dan menyadari adanya masalah semacam
ini, memiliki wawasan yang luas tentang soal-soal
kebudayaan, sehingga sanggup dan mampu memegang
peranan dalam usaha-usaha pembangunan dan modernisasi.

Lingkup ilmu sosial dan


budaya dasar
Berbagai kenyataan yang bersama-sama merupakan
masalah sosial yang dapat ditanggapi dengan
pendekatan sendiri maupun sebagai pendekatan
gabungan (antar bidang).
Adanya keanekaragaman golongan dan kesatuan sosial
lain dalam masyarakat, yang masing-masing
mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola-pola
pemikiran dan pola-pola tingkah laku sendiri, tetapi
juga amat banyaknya persamaan kepentingan
kebutuhan serta persamaan dalam pola-pola pemikiran
dan pola-pola tingkah laku yang menyebabkan adanya
pertentanganpertentangan maupun hubungan setia
kawan dan kerja sama dalam masyarakat kita.

Tegasnya, mata kuliah ilmu sosial dasar itu


adalah usaha yang diharapkan dapat
memberikan pengetahuan dasar dan
pengertian umum tentang konsep-konsep
yang dikembangkan untuk mengkaji
gejala-gejala sosial agar daya tanggap,
persepsi, dan penalaran mahasiswa dalam
menghadapi lingkungan sosial dapat
ditingkatkan sehingga kepekaan
mahasiswa pada lingkungan sosialnya
menjadi lebih besar.
Ilmu budaya dasar identik dengan basic
humanities. Humanities berasal dari kata
latin humanus yang artinya manusiawi,
berbudaya, dan halus (refined). Dengan

Pokok bahasan ilmu sosial dan


budaya dasar
Mata Kuliah ini memberikan kemampuan kepada
mahasiswa untuk memahami konsep ilmu-ilmu sosial
dan Budaya Dasar yang berkaitan dengan pelayanan
kebidanan dan cara-cara pendekatan sosial buidaya
dalam praktek kebidanan di masyarakat.
Adapun pokok pokok bahasan yang diberikan meliputi
: konsep ilmu sosial budaya dasar sosial budaya
yang banyak mempengaruhi dalam pelayanan
kebidanan dan cara-cara pendekatan sosial buidaya
yang ada di masyarakat sebagai media dalam
peningkatan akses masyarakata terhadap pelayanan
kehidupan.

Masalah-masalah budaya dalam


ilmu sosial dan budaya dasar
Masalah-masalah budaya adalah segala sistem atau tata nilai,
sikap metal, pola berpikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek
kehidupan yang tidak memuaskan bagi warga masyarakat secara
keseluruhan.
Atau dapat dikatakan bahwa masalah budaya adalah masalah
tata nilai yang dapat menimbulkan krisis-krisis kemasyarakatan,
misalnya terjadinya proses dehumanisasi atau pengurangan arti
kemanusiaan seseorang.
Masalah-masalah budaya tersebut mencakup :
1.Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan
ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya.
2.Hakikat manusia universal. Akan tetapi perwujudannya
beraneka ragam. Ada kesamaan-kesamaan, tetapi juga
ketidakseragaman yang diungkapkan secara tidak seragam,
sebagaimana yang terlihat ekspresinya dalam berbagai bentuk
dan corak ungkapan pikiran dan perasaan, tingkah laku, dan
hasil kelakuan mereka.

Pengertian
Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung
pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang
kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat
istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari
anggota masyarakat (Taylor, 1897).
Dari hasil penyelidikan tersebut timbul dua pemikiran tentang munculnya
suatu kebudayaan atau peradaban.
Pertama, anggapan bahwa adanya hukum pemikiran atau
perbuatan manusia (baca kebudayaan) disebabkan oleh tindakan
besar yang menuju kepada perbuatan yang sama dan penyebabnya
yang sama.
Kedua, anggapan bahwa tingkat kebudayaan atau peradaban
muncul sebagai taraf perkembangan dan hasil evaluasi masingmasing proses sejarahnya.
Perlu dicatat bahwa kedua pendapat di atas tidak lepas dari kondisi
alamnya atau, dengan kata lain, alam tidak jenuh oleh keadaan yang
tidak ada ujung pangkalnya, atau alam tidak pernah bertindak dengan
meloncat.
Demikian pula proses sejarah bukan hal yang mengikat, tetapi
merupakan kondisi ilmu pengetahuan, agama, seni, adatistiadat, dan
kehendak semua masyarakat.

Dalil proposisi (Herkovits dalam Man and


His Work) tentang teori kebudayaan yaitu
Kebudayaan dapat dipelajari.
Kebudayaan berasal atau bersumber dari segi biologis,
lingkungan, psikologis, dan komponen sejarah eksistensi
manusia.
Kebudayaan mempunyai struktur
Kebudayaan dapat dipecah-pecah kedalam berbagai
aspek.
Kebudayaan berisifat dinamis.
Kebudayaan mempunyai variabel.
Kebudayaan memperlihatkan keteraturan yang dapat
dianalisis dengan metode ilmiah.
Kebudayaan merupakan alat bagi seseorang (individu)
untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti
bagi kesan kreatifnya.

Kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap,


pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama
diturunkan oleh simbul-simbul yang menyusun pencapaiannya
secara tersendiri dari kelompok-kelompok mausia, termasuk
didalamnya perwujudan benda-benda materi; pusat esensi
kebudayaan terdiri atas tradisi cita-cita atau paham, dan terutama
keterikatan terhadap nilai-nilai (Kroeber dan Klukhohn (1950))
Ketentuan-ketentuan ahli kebudayaan itu sudah bersifat universal,
dapat diterima oleh pendapat umum meskipun dalam praktek,
arti kebudayaan menurut pendapat umum ialah sesuatu yang
berharga atau baik (Bakker, 1984).
Pendek kata, kebudayaan dalam kaitannya dengan ilmu budaya
dasar adalah penciptaan, penertiban, dan pengolahan nilai-nilai
insani.
Tercakup didalamnya usaha memanusiakan diri di dalam alam
lingkungan, baik fisik maupun sosial.
Nilai-nilai ditetapkan atau dikembangkan sehingga sempurna.
Tidak memisah-misahkan dalam membudayakan alam,
memanusiakan hidup, dan menyempurnakan hubungan insani.
Manusia memanusiakan dirinya dan memanusiakan lingkungan
dirinya.

Kerangka kebudayaan
1. Konsep Kebudayaan
Menurut Koentjoroningrat (1980), kata kebudayaan
berasal dari kata Sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak
dari budhi yang berarti budi atau akal.
Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal
yang bersangkutan dengan akal.
Sedangkan kata budaya merupakan perkembangan
majemuk dari budi daya yang berarti daya dari budi
sehingga dibedakan antara budaya yang berarti daya
dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, dengan
kebudayaan yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa.
Dalam disiplin ilmu antropologi budaya, kebudayaan dan
budaya itu artinya sama saja.
Menganalisis konsep kebudayaan perlu dilakukan dengan
pendekaan dimensi wujud dan isi dari wujud kebudayaan

Menurut dimensi wujudnya,


kebudayaan mempunyai tiga wujud
Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia. Wujud ini
disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat,
dan berpusat kepada kepalakepala manusia yang
menganutnya.
Disebutkan bahwa sistem budaya karena gagasan dan pikiran
tersebut tidak merupakan kepingan-kepingan yang terlepas,
melainkan saling berkaitan berdasarkan asas-asas yang erat
hubungannya, sehingga menjadi sistem gagasan dan pikiran yang
relatifmantap dan kontinyu.
Kompleks aktivitas, berupa aktivitas manusia yang saling
berinteraksi, bersifat konkret, dapat diamati atau diobservasi.
Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini tidak
dapat melepaskan diri dari sitem budaya.
Apapun bentuknya pola-pola aktivitas tersebut ditentukan atau
ditata oleh gagasan-gagasan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam
kepala manusia.

Karena saling berinteraksi antara manusia, maka


pola aktivitas dapat pula menimbulkan gagasan,
konsep, dan pikiran baru serta tidak mustahil dapat
diterima dan mendapat tempat dalam sistem
budaya dari manusia yang berinteraksi tersebut.
Wujud sebagai benda.
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak
lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai
hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.
Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan
benda untuk berbagai keperluan hidupnya.
Kebudayaan dalam bentuk fisik yang konkret biasa
juga disebut kebudayaan fisik, mulai dari benda
yang diam sampai pada beda yang bergerak

2. Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan meliputi semua kebudayaan di
dunia, baik yang kecil, bersahaja dan terisolasi, maupun
yang besar, kompleks, dan dengan jaringan hubungan yang
luas.
Menurut konsep B. Malinowski, kebudayaan di dunia
mempunyai tujuh unsur universal, yaitu :
a. Bahasa
b. Sistem tekonologi
c. Sistem mata pencaharian
d. Organisasi sosial
e. Sistem pengetahuan
f. Religi
g. Kesenian

Gambar 1. Kerangka Kebudayaan (dikutip dari Koentjoroningrat,


Persepsi
Masyarakat tentang Kebudayaan Nasional, 1985).

Kerangka kebudayaan merupakan dimensi analisis dari


konsep kebudayaan yang dikombinasikan ke dalam suatu
bagan lingkaran.
Mengapa dengan bagian lingkaran ialah untuk
menunjukkan bahwa kebudayaan itu bersifat dinamis.
Kerangka kebudayaan digambarkan dengan tiga
lingkaran konsentris (lihat gambar).
Sistem budaya digambarkan dalam lingkaran yang paling
dalam dan merupakan inti, sistem sosial dilambangkan
dengan lingkaran kedua di sekitar inti, sedangkan
kebudayaan fisik dilambangkan dengan lingkaran yang
paling luar.
Unsur kebudayaan universal yang tujuh macam itu
dilambangkan dengan membagi lingkaran tersebut
menjadi tujuh sektor yang masing-masing melambangkan
salah satu dari ketujuh unsur tersebut.
Maka terlihat jelas bahwa tiap unsur kebudayaan yang
universal itu dapat mempunyai tiga wujud kebudayaan,
yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.