Anda di halaman 1dari 17

SINDROM DOWN

Chromoso
m

Klasifikasi

Etiologi

Sindrom
Down

Manifestasi
klinis

Patofisiolog
i

Merupakan suatu kelainan genetic bersifat aneuploid atau


abnormalitas chromosom.
Kelainan ini menimbulkan bentuk keterbelakangan mental dengan
variasi gejala abnormalitas organ lain.
Chromosom yg dimaksud adalah Chromosom 21.

Sindrom Down

Nondisjunction 21
(Trisomy 21)

Translokasi Chromosom
(Translokasi
Robertsonian)
t(21q14q)

Trisomy 21 Mosaicism

Etiologi

Sindrom Down
Faktor
predisposisi

Idiopatik

Umur ibu: biasanya pada ibu yg


berumur lebih dari 30 tahun.
Mungkin karena suatu
ketidakseimbangan hormonal atau
biokimiawi. Umur ayah tidak
berpengaruh.
Mekanisme eliminasi, usia ibu
yg tua menurunkan
mekanisme eliminasi
terhadap ovum yg cacat
dll

Prinsip dasar
o Sel Somatic : Mitosis
Diploid (23 Pasang Chromosom)
o Sel Germinal
( gamet sel ) : Meiosis
Haploid (23 Buah Chromosom)
Spermatozoa
Ovum,

Gambar ini menunjukan proses normal pembelahan sel Meiosis I dan Meiosis II, kedua proses
memiliki fase yg sama
(A.profase, B.metafase, C.anafase, D.telofase, d.cytokynesis).
Tetapi terdapat perbedaan pada Meiosis I (Profase I), fase lebih panjang di fase ini terdapat
pertukaran materi genetic.
Meiosis I fase metafase, gambar C memperlihatkan Chromosom Homolog berada di bidang
Equator, gambar D memperlihatkan Chromosom homolog terpisah ke kutub masing. Nah pada fase
ini sering terjadi NONDISJUNCTION, Chromosom gagal memisah (1set chromosom homolog
hanya menuju satu kutub, sementara Kutub lainnya menjadi kekurangan jumlah chromosom. Jadi,
Hal ini pada Meiosis I menghasilkan
1 kutub (a) = 1 sel = 2n+2extra Chromosom
1 kutub (b) = 1 sel = 2n-2minus Chromosom
(apabila nondisjunction Meiosis I)

NONDISJUNCTION MEIOSIS II

Lanjutan nya, perhatikan gambar yg kedua !!, di pembahasan sebelumnya terjadi


nondisjuction pada meiosis I akan menghasilkan :
1 kutub (a) = 1 sel = 2n+2extra Chromosom
1 kutub (b) = 1 sel = 2n-2minus Chromosom
selanjutnya 1 sel yg membawa 2n+2extra chromosom akan melanjutkan ke
Meiosis II akan menghasilkan :
2 sel yg masing-masing (n)+1extra Chromosom tampak gambar yg kedua.
Coba anda bayangkan apabila (n)23 buah chromosom+1extra chromosom
(berlanjut menjadi ovum), dan bertemu dengan sperma yg membawa (n) 23 buah
chromosom. Jadi apa ?
Ovum ( (n)+1ekstra chromosom ) + Sperma ( (n) ) =

Sperma (n) 23buah chromosom


ovum (n) 23 buah chromosom
FERTILISASI, membentuk Zigot (2n) 23 pasang Chromosom. Atau 46 buah
chromosom.
Ini yg terjadi pada anak NORMAL.
Nah bagaimana kalau,
Sperma (n) 23 buah chromosom
Ovum (n)+1ekstra Chromosom
FERTILISASI, membentuk zigot= 2n+1ekstra chromosom = TRISOMY
47,XX+21 (nomenklatur untuk perempuan trisomi 21)
47,XY+21 (nomenklatur untuk laki-laki trisomi 21)

Pertenyaan mendasar dalam memahami hubungan antara chromosom 21


tambahan dan gambaran klinis sindrom down adalah apakah fenotipe
disebabkan oleh ekspresi gen abnormal atau konstitusi chromosom yg
abnormal ?
PRINSIP GENETIK :
tentang dosis gen, yg menyatakan bahwa jumlah suatu produk gen per sel
setara dengan jumlah salinan gen yg ada. Dengan kata lain, jumlah protein yg
di produksi oleh semua atau hampir semua gen yg terletak di chromosom 21
adalah 150% jumlah normal pada sel trisomi 21, dan 50% jumlah normal pada
sel monosomi 21. dan 100% pada sel yg bukan Monosomi ataupun Trisomi.
Bukti eksperimental umumnya mendukung pandangan bahwa fenotipe
sindrom down disebabkan oleh peningkatan ekspresi gen-gen spesifik dan
bukan oleh efek buruk non spesifik aneuploidi sel

Manifestasi klinis
Primer
o Anak dengan sindrom down ini sangat mirip satu dengan yg lain nya, seakan-akan kakak
beradik.
o Retardasi mental sangat menonjol
o Kepala agak kecil dan brakisefalik dengan daerah oksipital yg mendatar.
o Mukanya lebar,
o tulang pipi tinggi,
o hidung pesek,
o mata letaknya berjauhan serta sipit miring keatas dan samping (seperti mongol).
o Iris mata menunjukan bercak-bercak (bronsfield spot). Lipatan epikantus jelas sekali.
o Telinga agak aneh,
o bibir tebal dan lidah besar, kasar dan bercelah-celah (scrotal tongue).
o Pertumbuhan gigi-geligi sangat terganggu.
o Kulit halus dan longgar tetapi warnanya normal. Dileher terdapat lipatan-lipatan yg berlebihan.
o Pada jari tangan tampak kelingking yg pendek dan membengkok ke dalam
o Gambaran telapak tangan tampak tidak normal, terdapat satu garis besar melintang (simian
crease).
o Alat kelamin biasanya kecil. Otot hipotonik dan pergerakan sendi-sendi berlebihan. Kelainan
jantung bawaan seperti defek septum ventrikel sering di temukan.

Sekunder
o Sekitar 40% anak dengan DS memiliki penyakit jantung bawaan. Anomaly ini
meliputi kanal atrioventrikular, defek septum ventrikel atau atrium, dan kelainan
katup.
o Sekitar 10% bayi baru lahir dengan DS memiliki anomaly traktus gastrointestinal.
Tiga defek tersering adalah atresia duodenum, pancreas anulare, dan anum
imperforate.
o Sekitar 1% bayi dengan DS mengalami hipotiroidisme kongenital.
o Polisitemia saat lahir (kadar hematokrit >70%) sering di jumpai dan membutuhkan
tatalaksana. Peningkatan resiko Leukemia 10-18 kali.
o Anak DS lebih rentan terhadap infeksi.
o Katarak
o Sekitar 10% memiliki instabilitas atlatoaksial, yaitu pelebaran vertebra cervical
pertama dan kedua yg merupakan predisposisi terhadap jejas sum-sum tulang
belakang.

Pemeriksaan Penunjang
o Skrining diagnosis prenatal: Amniosintesis
Spesifik
o Pemeriksaan Kariotipe (Analisis Chromosom)
o PCR (Polymerase Chain Reaction)
Non Spesifik
o Echocardiografi / Elektrokardiografi
o Pemeriksaan darah tepi dan BMP (bone marrow punction)
o Hormon tiroid
o Head MRI scan / CT scan

PENALAKSANAAN
o Tidak ada pengobatan atau medikamentosa yg spesifik
terhadap penyembuhan sindrom down.
o Pengobatan bisa di berikan apabila di ketahui kelainan organ
yg jelas dan pengobatan bersifat simtomatik. Tujuan lain
adalah untuk meningkatkan kualitas hidup anak dan
meminimalkan berbagai variasi gejala. 2
o Pembedahan dapat di lakukan apabila di temukan defek pada
jantung. Yg paling sering adalah VSD (ventricle septal defect),
ASD (Atrial septal defect)