Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Sejarah dan Perkembangan Akuntansi Indonesia
Sejarah akuntansi dimulai sejak manusia mengenal hitungan
uang dan menggunakan catatan. Pada abad XIV perhitungan laba rugi
telah dilakukan pedagang-pedagang Genoa untuk mengetahui harta
hasil pelayarannya yaitu dengan membandingkan harta akhir pelayaran
dengan harta pada saat mereka berangkat. Perkembangan akuntansi
juga ditandai pada tahun 1494 pada saat Lucas Pacioli ahli matematika,
mengarang sebuah buku yang berjudul Summa de Aritmatica,
Geometrica, Proportioni et Propotionalita, di mana dalam suatu bab
berjudul Tractatus de Computies et Scriptoris membahas cara-cara
pembukuan menurut catatan berpasangan (double book keeping).
Akuntansi di Indonesia berkembang setelah UU Tanam Paksa
dihapuskan pada tahun 1870. Hal ini mengakibatkan munculnya para
pengusaha swasta Belanda yang menanamkan modalnya di Indonesia,
sehingga Indonesia menganut sistem kontinental / tata buku yang
dipakai Belanda saat itu (Soemarso, 1992). Tata buku menyangkut
kegiatan-kegiatan yang bersifat konstruktif dari proses pencatatan,
peringkasan,

penggolongan

dan

aktivitas

lain

yang

bertujuan

menciptakan informasi akuntansi berdasarkan pada data. Sejak tahun


1950-an akuntansi mulai berubah yakni dengan mengacu pada sistem

akuntansi yang dianut oleh Amerika yakni Generally Accepted


Accounting Principles (GAAP) dan pada tahun 2008 Dewan Standar
Akuntansi

Keuangan

Ikatan

Akuntan

Indonesia

(DSAK-IAI)

mencanangkan untuk melakukan konvergensi standar akuntansi


keuangan berbasis IFRS dalam 2 tahap yaitu dimulai dengan komitmen
publik pada tahun 2008 dan menetapkan standar akuntansi keuangan
untuk diterapkan oleh perusahaan sampai tahun 2011 sebagai tahap
pertama dan selanjutnya tahun 2012 hingga 2014 menjadi tahap kedua
untuk mengimplementasikan standar akuntansi keuangan berbasis IFRS
sehingga pada tahun 2015 tidak ada beda material di dalam standar
yang digunakan perusahaan.
Terdapat tiga tonggak sejarah pengembangan standar akuntansi
Indonesia yakni :
1. Pada periode 1973-1984, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah
membentuk Komite Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia untuk
menetapkan standar-standar akuntansi, yang kemudian dikenal
dengan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).
2. Pada periode 1984-1994, komite PAI melakukan revisi secara
mendasar PAI 1973 dan kemudian menerbitkan Prinsip Akuntansi
Indonesia 1984 (PAI 1984).
3. Menjelang akhir 1994, Komite standar akuntansi memulai suatu
revisi besar atas prinsip-prinsip akuntansi Indonesia dan melakukan
kodifikasi dalam buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) pada

tanggal 1 oktober 1994. Dalam perkembangannya standar akuntansi


keuangan

Indonesia

terus

direvisi

secara

berkesinambungan

sebanyak 6 kali yakni revisi 1 oktober 1995, 1 juni 1996, 1 juni


1999, 1 april 2002, 1 oktober 2004, dan 1 september 2007
menghasilkan 35 pernyataan standar akuntansi keuangan, yang
sebagian besar harmonis dengan IAS yang dikeluarkan oleh IASB.
(IAI, September 2007).
Seiring dengan perkembangan standar akuntansi Indonesia
sehingga menghasilkan standar akuntansi keuangan yang baik, maka
badan penyusunnya juga terus dikembangkan dan disempurnakan
sesuai dengan kebutuhan. Fungsi awal dari badan pembentuk standar
akuntansi adalah sebagai penyusun dan pengembang standar
akuntansi keuangan hingga pada saat terbentuknya Dewan Standar
Akuntansi Keuangan (DSAK) dan Dewan Konsultatif Standar
Akuntansi Keuangan (DKSAK) sebagai mitra DSAK dalam
merumuskan arah dan pengembangan SAK di Indonesia diberikan
hak otonomi untuk sekaligus mengesahkan PSAK dan ISAK
berlandaskan prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU) di
Indonesia. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
(merupakan padanan dari frasa generally accepted accounting
principles) adalah suatu istilah teknis akuntansi yang mencakup
konvensi aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi
praktik akuntansi yang berlaku umum di wilayah tertentu pada saat

tertentu. Indonesia memiliki empat pilar standar akuntansi Indonesia


(Dwi Martani : 2015)yaitu :
1. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
2. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
signifikan - SAK-ETAP. Standar Akuntansi Keuangan ETAP
digunakan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik
tidak signifikan.
3. Standar AkuntansiSyariah SAK Syariah
4. Standar Akuntansi Pemerintahan SAP.
Gambar 2.1
Proses Terbentuknya Badan Pembentuk Standar Akuntansi
Indonesia
1973
Terbentuknya
Panitia
Penghimpunan
Bahan-bahan

1974 - 1994

1994 - 1998

Dibentuknya
Komite Prinsip
Akuntansi
Indonesia
(PAI)

Diubah menjadi
Komite Standar
Akuntansi
Keuangan
(Komite SAK)

Kongres IAI 1998


Dewan
Standar
Akuntansi
Keuangan
(DSAK)

Dewan Konsultatif
Standar Akuntansi
Keuangan
(DKSAK)

18 Oktober 2005
Komite Akuntansi
Syariah (KAS)

Sumber : Ikatan Akuntan Indonesia. (2007)

2.1.2. IFRS (International Financial Reporting Standards)


International

Financial

Reporting

Standards

(IFRS)

merupakan suatu standar akuntansi yang dikembangkan oleh IASB dan


menjadi standar global untuk penyiapan laporan keuangan perusahaan
publik (dalam IFRS FAQs). Standar Akuntansi Internasional disusun
oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi

Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi


Internasional

Pasar

Modal

(IOSOC),

dan

Federasi

Akuntansi

Internasional (IFAC). International Accounting Standar Board (IASB)


yang dahulu bernama International Accounting Standar Committee
(IASC) merupakan lembaga independen untuk menyusun standar
akuntansi (sejauh ini terdapat 28 IAS, 15 IFRS, 11 IFRIC, dan 6 SIC)
dan berfokus melakukan konvergensi standar akuntansi di seluruh
dunia. Pendekatan yang dilakukan IASB adalah menyediakan lebih
banyak panduan dalam bentuk prinsip-prinsip umum dari pada sekedar
aturan (Illiano, 2008). Pada bulan April 2001, IASB mengadopsi
seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan.
Adapun karakteristik dari IFRS (Dwi Martani : 2015) yaitu :
a.

IFRS menggunakan Principles Base :


-

Lebih menekankan pada intepreatasi dan aplikasi atas standar


sehingga harus berfokus pada spirit penerapan prinsip tersebut.

Standar membutuhkan penilaian atas substansi transaksi dan


evaluasi apakah presentasi akuntansi mencerminkan realitas
ekonomi.

Membutuhkan profesional judgment pada penerapan standar


akuntansi.

b.

Menggunakan fair value dalam penilaian, jika tidak ada nilai pasar
aktif harus melakukan penilaian sendiri (perlu kompetensi) atau
menggunakan jasa penilai

c.

Mengharuskan pengungkapan (disclosure) yang lebih banyak


baik kuantitaif maupun kualitatif.

d.

IFRS secara dinamis akan berubah mengikuti perkembangan


lingkungan bisnis dan kebutuhan informasi para pengguna.
Dalam situs www.ifrs.comIFRS FAQs menyatakan bahwa :
Dengan mengadopsi IFRS suatu bisnis dapat menyajikan
laporan keuangan berdasarkan basis yang sama dengan
kompetitornya sehingga perbandingan laporan keuangan
lebih mudah dilakukan. Lebih jauh, perusahaan-perusahaan
dengan anak usahanya di berbagai negara yang harus
menggunakan IFRS bisa menggunakan bahasa akuntansi
yang sama. Perusahaan-perusahaan juga perlu beralih ke
IFRS jika mereka menjadi anak usaha dari suatu perusahaan
di luar negeri yang wajib menggunakan IFRS, atau jika
mereka memiliki investor asing yang harus menerapkan
IFRS. Perusahaan-perusahaan juga harus dapat memperoleh
manfaat dengan menggunakan IFRS jika mereka ingin
memperluas modal di luar negeri.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Tabel 2.1
DaftarIAS/IFRS/IFRIC/SIC
Judul IAS/IFRS/IFRIC/SIC
List of International Accounting Standard (IAS) :
IAS 1, Presentation of Financial Statements
IAS 2, Inventories
IAS 7, Cash Flow Statements
IAS 8, Accounting Policies, Changes in Accounting Estimates and Error
IAS 10, Events After the Balance Sheet Date
IAS 11, Construction Contracts
IAS 12, Income Taxes
IAS 16, Property, Plant, and Equipment
IAS 17, Leases
IAS 18, Revenue
IAS 19, Employee Benefits
IAS 20, Accounting for Government Grants and Disclosure of
Government Assistance
IAS 21, The Effects of Changes in Foreign Exchange Rates
IAS 23, Borrowing Costs
IAS 24, Related-Party Disclosures
IAS 26, Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plans
IAS 27, Consolidated and Separate Financial Statements

18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

IAS 28, Investments in Associates


IAS 29, Financial Reporting in Hyperinflationary Economies
IAS 32, Financial Instruments: Presentation
IAS 33, Earnings per Share
IAS 34, Interim Financial Reporting
IAS 36, Impairment of Assets
IAS 37, Provisions, Contingent Liabilities and Contingent Assets
IAS 38, Intangible Assets
IAS 39, Financial Instruments: Recognition and Measurement
IAS 40, Investment Property
IAS 41, Agriculture
List of International Financial Reporting Standard (IFRS)
IFRS 1, First-time Adoption of International Financial Reporting
Standards
IFRS 2, Share-Based Payment
IFRS 3, Business Combinations
IFRS 4, Insurance Contracts
IFRS 5, Noncurrent Assets Held for Sale and Discontinued Operations
IFRS 6, Exploration for and Evaluation of Mineral Resources
IFRS 7, Financial Instruments: Disclosures
IFRS 8, Operating Segments
IFRS 9, Financial Instruments
IFRS 10, Consolidated Financial Statements
IFRS 11, Joint Arrangements
IFRS 12, Disclosure of Interests in Other Entities
IFRS 13, Fair Value Measurement
IFRS 14 Regulatory Deferral Accounts (efektif 1 Januari 2016)
IFRS 15 Revenue from Contracts with Customers (efektif 1 Januari
2017)
List of International Financial Reporting Interpretations Commitee
(IFRIC)
IFRIC 1 Changes in Existing Decommissioning, Restoration and similar
liabilities
IFRIC 2 Members Share in Co-operative Entities and Similar
Instruments
IFRIC 4 Determining whether an arrangement contains a Lease
IFRIC 5 Rights to Interests arising from Decommissioning, Restoration
and Environmental rehabilitation Funds
IFRIC 6 Liabilities arising from Participating in a Specific Market
Water electrical and Electronic Equipment
IFRIC 7 Applying the Restatement Approach under IAS 29
IFRIC 10 Interim Financial Reporting and Impairment
IFRIC 12 Service Concession Arrangements
IFRIC 13 Consumer Loyalty Programmes
IFRIC 19 Extinguishing Financial Liabilities with Equity Instruments

11

IFRIC 20 Stripping Costs in theProduction Phase of a Surface Mining


List of Standing Interpretation Commitee (SIC)
1
SIC 12 Consolidation Special Purpose Entities
SIC 13 Jointly Controlled Interest non Monetary Contribution by
2
Ventures
3
SIC 15 Operating Leases Incentives
4
SIC 21 Income Taxes Recovery of Revalued non Depreciable Assets
SIC 27 Evaluating the Substance Transaction in the Legal Form of
5
Lease
6
SIC 32 Intangible Assets Website Costs
Sumber: Roberts et al. (2005)
Dwi Martani, 2015
www.ifrs.com
2.1.3. Menuju Adopsi IFRS di Indonesia
Menurut Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK),
tingkat pengadopsian IFRS dapat dibedakan menjadi 5 tingkat:
1. Full Adoption yaitu suatu negara mengadopsi seluruh standar IFRS
dan menerjemahkan IFRS sama persis ke dalam bahasa yang negara
tersebut gunakan.
2. Adopted yaitu program konvergensi PSAK ke IFRS telah
dicanangkan IAI pada Desember 2008. Adopted maksudnya adalah
mengadopsi IFRS namun disesuaikan dengan kondisi di negara
tersebut.
3. Piecemeal yaitu suatu negara hanya mengadopsi sebagian besar
nomor IFRS yaitu nomor standar tertentu dan memilih paragraf
tertentu saja.
4. Referenced (konvergence) yaitu sebagai referensi, standar yang
diterapkan hanya mengacu pada IFRS tertentu dengan bahasa dan
paragraf yang disusun sendiri oleh badan pembuat standar.

5. Not adopted at all yaitu suatu negara sama sekali tidak mengadopsi
IFRS.
Rencana peralihan kiblat akuntansi pelaporan keuangan
Indonesia ke standar keuangan Internasional atau IFRS dikhawatirkan
memunculkan suatu dilema bagi pelaku pasar modal apabila tidak
adanya aturan penyesuaian baru yang dilakukan oleh semua otoritas
lembaga keuangan termasuk Bapepam-LK, Bank Indonesia, dan
Direktorat

Jenderal

www.kompas.com).
Akuntansi

Pajak
Melihat

Keuangan

(Ketua
kondisi

Ikatan

Bapepam-LK

tersebut,

Akuntan

Dewan

Indonesia

dalam
Standar

(DSAK-IAI)

menyatakan belum memiliki rencana untuk adopsi penuh IFRS, seperti


dikutip seusai berbicara Seminar Tantangan Pasar Modal Indonesia
Dalam

Menghadapi

Integrasi

Pasar

Modal

ASEAN

Melalui

Keterbukaan Informasi dan Penetapan IFRS (2013) dibawah ini:


Kebijakan Indonesia adalah untuk tetap menggunakan prinsipprinsip akuntansi yang diterima umum atau Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP) sendiri dan
melakukan konvergensi GAAP tersebut dengan IFRS secara
bertahap dengan cara meminimalkan perbedaan signifikan
antara kedua standar tersebut. Indonesia tidak memiliki suatu
rencana pun atau skedul waktu untuk mengadopsi IFRS secara
penuh.
Di sisi lain, dalam acara yang sama, sebagaimana dikutip dari
situs www.iaiglobal.or.id dan www.ifrs.org, Hans Hoogervorst (IASB
Chairman) mengatakan perlunya adopsi IFRS secara penuh seperti pada
kutipan sambutannya berikut ini :

...sangat penting untuk memahami bahwa manfaat penuh


penggunaan IFRS hanya bisa dinikmati jika Anda
mengadopsinya secara penuh. Untuk investor asing, akan
menjadi sangat sulit bagi mereka membedakan perbedaan kecil
dengan perbedaan yang besar. Jika suatu negara (juridiksi)
tidak menyatakan bahwa negara tersebut telah mengadopsi
IFRS secara penuh, investor mungkin akan berfikir bahwa
perbedaan yang muncul bisa jadi lebih besar dari yang
sebenarnya terjadi. Jika Anda telah mampu mengatasi semua
masalah saat mengadopsi 95% IFRS, yakinlah bahwa Anda
masih harus menyelesaikan sisa 5%-nya. Jika tidak, Anda akan
mengalami pening kepala akibat transisi tersebut tanpa
mendapatkan manfaat penuh dari pengakuan internasional
terhadap pencapaian Anda. (Prianto,Budi : 2013)
Pernyataan DSAK-IAI yang mempertegas bahwa Indonesia
berada pada tahap konvergensi terus menyusun program kerja DSAK
sebagai berikut :
1. Melanjutkan komitmen proses konvergensi IFRS;
a. Adopsi IFRSs terbaru;
b. Revisi SAK berbasis IFRS per 1 Januari 2009 menjadi per 1
Januari 2014;
c. Target Annual Improvements SAK berbasis IFRS per 1 Januari
2009 menjadi per 1 Januari 2014.
2. Penyusunan kajian atas isu akuntansi terkini;
a. Kajian penyusunan SAK Nirlaba; Mempertimbangkan kebutuhan
SAK Nirlaba bagi entitas nirlaba di Indonesia dan melihat
perbandingan SAK Nirlaba yang diterapkan di yurisdiksi lain
b. Kajian kebutuhan pilar akuntansi baru di Indonesia dengan
mempertimbangkan kebutuhan entitas atas SAK selain dari SAK

Umum dan SAK ETAP yang saat ini berlaku dan melihat
kebutuhan pedoman akuntansi bagi entitas mikro
3. Melanjutkan komitmen partisipasi aktif dalam forum regional dan
global;
a. Aktif berpartisipasi dan berkontribusi dalam forum regional dan
internasional termasuk ikut serta dalam forum: Asian-Oceanian
Standard Setters Group (AOSSG); Emerging Economies Group
(EEG); International Forum of Accounting Standard Setters
(IFASS); World Standard Setters (WSS)
b. Aktif mengangkat isu akuntansi Indonesia, untuk didiskusikan di
forum regional dan internasional;
4. Melakukan

kodifikasi

penomoran

PSAK

dan

konsistensi

penggunaan istilah;
5. Memberikan komentar dan masukan untuk Exprosure Draft dan
Discussion Paper IASB;
Program konvergensi IFRS ini dilakukan melalui beberapa
tahapan yakni tahap adopsi mulai 2008 sampai 2011 dengan persiapan
akhir penyelesaian infrastruktur dan tahap implementasi pada 2012.
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAKIAI) telah menetapkan
roadmap. Pada tahun 2009, Indonesia belum mewajibkan perusahaanperusahaan listing di BEI menggunakan sepenuhnya IFRS, melainkan
masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan nasional atau
PSAK. Namun pada tahun 2010 adopsi IFRS sangat dianjurkan,

sedangkan pada tahun 2012, Dewan Pengurus Nasional IAI bersamasama dengan Dewan Konsultatif SAK dan DSAK merencanakan untuk
menyusun/merevisi PSAK agar secara material sesuai dengan
IAS/IFRS versi 1 Januari 2009.
Gambar 2.2
Roadmap IFRS di Indonesia

FASE 1
Efektif
< 2010

Efektif
2011

Efektif
2012

Efektif
2014&2015

Efektif
2013

3 PSAK

16 PSAK

11 PSAK

22 PSAK

1 ISAK
9 PPSAK
1 PISAK

6 ISAK

12 ISAK

1 ISAK

1 PPSAK

3 PPSAK

2 PPSAK

4 PSAK
9 Revisi PSAK
4 ISAK (2014)
1 PPSAK (2014)
Penyesuain SAK

Sumber : Martani, Dwi (2015)


Berdasarkan IFRS FAQs, konvergensi PSAK ke IFRS
memiliki manfaat sebagai berikut: Pertama, memudahkan pemahaman
atas laporan keuangan dengan standar akuntansi keuangan yang dikenal
secara internasional. Kedua, meningkatkan arus investasi global melalui
transparansi. Ketiga, mengurangi biaya SAK termasuk menurunkan
biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar
modal secara global. Keempat, menciptakan efisiensi penyusunan
laporan keuangan. Kelima, Meningkatkan kualitas laporan keuangan
termasuk meningkatnya kredibilitas laporan dengan mengurangi
kesempatan untuk melakukan earning management.

Tabel 2.2
SAK Konvergensi
Standar Akuntansi Keuangan
Tahun 2007
PSAK 13 (revisi 2007): Properti Investasi
PSAK 16 (revisi 2007): Aset Tetap
PSAK 30 (revisi 2007): Sewa

Tanggal Efektif

1 Januari 2008

Tahun 2008
PSAK 14 (revisi 2008): Persediaan

1 Januari 2009

Tahun 2009
PSAK 26 (revisi 2009): Biaya Pinjaman

SAK ETAP

1 Januari 2010,
penerapan lebih
dini di anjurkan
1 Januari 2011,
penerapan lebih
dini di anjurkan

PSAK
PSAK 2 ( revisi 2009): Laporan Arus Kas
PSAK 5 (Revisi 2009): Segmen Operasi
PSAK 7 (revisi 2009): Pihak-pihak Berelasi
PSAK 12 (Revisi 2009): Bagian Partisipasi dalam Ventura
Bersama
PSAK 25 (Revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan
Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan
PSAK 56 (Revisi 2009) : Laba Per Saham
PSAK 57 (Revisi 2009): Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset
Kontinjensi
PSAK 58 (Revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk
Dijual dan Operasi yang Dihentikan

1 Januari 2011

ISAK
ISAK 7 (revisi 2009): Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus
ISAK 9: Perubahan atas Liabilitas Aktivitas Purnaoperasi,
Restorasi, dan Liabilitas Serupa
ISAK 10: Program Loyalitas Pelanggan
ISAK 11: Distrubusi Aset Nonkas kepada Pemilik
ISAK 12: Pengendalian Bersama Entitas : Kontribusi
Nonmoneter oleh Venturer

Mengikuti PSAK
nya

PPSAK
PPSAK 1: Pencabutan PSAK 32:Akuntansi Kehutanan, PSAK
35: Akuntansi pandapatan jasa telekomunikasi dan PSAK 37:
Akuntansi penyelenggaraan jalan tol
PPSAK 2: Pencabutan PSAK 41: Akuntansi Waran dan PSAK
43 Akuntansi Anjak Piutang
PPSAK 3: Pencabutan PSAK 54: Akuntansi Rekstrukturisasi
Utang Piutang Bermasalah
PPSAK 4: Pencabutan PSAK 31:Akuntansi Perbankan, PSAK
42: Akuntansi Perusahaan Efek, dan PSAK 49: Akuntansi Reksa
Dana
PPSAK 5: Pencabutan ISAK 06 : Interpretasi atas paragraf 12
dan 16 PSAK 55 (1999) tentang Instrumen Derivatif Melekat
pada Kontrak Dalam Mata Uang Asing.

1 Januari 2010

Tahun 2010
PSAK
PSAK 10 (revisi 2010): Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing
PSAK 19 (revisi 2010): Aset Takberwujud
PSAK 22(revisi 2010): Kombinasi Bisnis
PSAK 23 (revisi 2010): Pendapatan
PSAK 63 (revisi 2010) : Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi
Hiperinflasi

1 Januari 2012,
penerapan dini
diperbolehkan

ISAK
ISAK 13: Lindung Nilai Investasi Neto Kegiatan Usaha Luar
Negeri
ISAK 14: Aset tidak berwujud- Biaya Situs Web

1 Januari 2012,
penerapan dini
diperbolehkan
1 Januari 2011

Tahun 2013
ISAK
ISAK 27 : Pengalihan Aset dari Pelanggan
ISAK 28 : Pengakhiran Liabilitas Keuangan dengan Instrumen
Ekuitas
ISAK 29 : Biaya Pengupasan Lapisan Tanah Tahap Produksi
pada Tambang
Terbuka
PPSAK

1 Januari 2014
Penerapan dini
diperkenankan

PPSAK 12 : Pencabutan PSAK 33

1 Januari 2014
Penerapan dini
diperkenankan

PSAK
PSAK 1 (Revisi 2013) : Penyajian Laporan Keuangan
PSAK 3 (revisi 2010): Laporan Keuangan Interim (PH)
PSAK 4 (Revisi 2013) : Laporan Keuangan Tersendiri
PSAK 15 (Revisi 2013) : Investasi pada Entitas Asosiasi dan
Ventura Bersama
PSAK 18 (revisi 2011): Akuntansi dan Pelaporan Program
Manfaat Purnakarya.
PSAK 8 (revisi 2010): Peristiwa setelah Tanggal Neraca
PSAK 46 (revisi 2013) : Pajak Penghasilan
PSAK 48 (revisi 2014) : Penurunan Nilai Aset
PSAK 50 (revisi 2014) : Instrumen Keuangan: Penyajian
PSAK 55 (revisi 2014) : Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran
PSAK 24 (revisi 2013) : Imbalan Kerja
PSAK 36 (revisi 2011) : Kontrak Konstruksi
PSAK 60 (revisi 2014) : Pengungkapan Instrumen Keuangan
PSAK 61 (revisi 2011) : Akuntansi Hibah Pemerintah dan
Pengungkapan Bantuan Pemerintah
PSAK 65 (revisi 2013) : Laporan Keuangan Konsolidasian
PSAK 66 (revisi 2013) : Pengaturan Bersama
PSAK 67 (revisi 2013) : Pengungkapan Kepentingan dalam
Entitas Lain
PSAK 68 : Pengukuran Nilai Wajar
ED PSAK
ED PSAK 53 (revisi 2010): Pembayaran Berbasis Saham

1 Januari 2015

ISAK
ISAK 16: Perjanjian Konsesi Jasa
ISAK 17: Laporan Keuangan Interim dan Penurunan Nilai
Sumber : Dwi Martani (2015)
2.1.4. Perubahan Laba Bersih dan Ekuitas
Adanya pengadopsian standar akuntansi keuangan berbasis
IFRS merupakan salah satu contoh perubahan prinsip akuntansi yang
terjadi dikarenakan adanya ketidaksesuaian penggunaan prinsip
akuntansi sebelumnya seperti penggunaan historical cost yang berganti
menggunakan nilai wajar untuk mengukur aktiva dan kewajiban.

Adanya perubahan prinsip akuntansi tersebut tidak dilibatkan dalam


penghitungan laba bersih karena pengaruhnya terkait dengan periode
sebelumnya,

namun

retrospektif

terhadap

diakui
laporan

dengan

melakukan

keuangan.

penyesuaian

Penyesuaian

tersebut

membuat laporan keuangan tahun lalu konsisten dengan prinsip yang


baru diadopsi. Perusahaan mencatat pengaruh kumulatif dari perubahan
periode lalu sebagai penyesuaian terhadap laba ditahan pada awal tahun
yang

disajikan.

Sehingga

berdasarkan

pendekatan

retrospektif,

perusahaan memasukkan kembali angka laba tahun lalu menurut


metode yang baru diadopsi dan mempertahankan komparabilitas. Selain
itu, Financial Accounting Standard Board (FASB) setuju dan telah
mengidentifikasi beberapa transaksi yang harus dicatat secara langsung
pada ekuitas pemegang saham, seperti halnya keuntungan dan kerugian
yang belum direalisasi atas sekuritas yang tersedia untuk dijual.
Keuntungan dan kerugian tersebut tidak dimasukkan dalam laba bersih,
sehingga mengurangi volalitas laba bersih akibat fluktuasi nilai wajar.
Pos-pos terkait laporan laba rugi akan dimasukkan menurut konsep
laba komprehensif. Laba komprehensif (comprehensive income)
meliputi semua perubahan ekuitas selama satu periode kecuali
perubahan akibat investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik.
Karena itu, laba komprehensif meliputi semua pendapatan dan
keuntungan, beban dan kerugian yang dilaporkan dalam laba bersih,
dan selain itu juga mencakup keuntungan dan kerugian yang tidak

dimasukkan dalam laba bersih tetapi mempengaruhi ekuitas pemegang


saham. Pos-pos yang melewati laporan laba-rugi ini disebut sebagai
laba komprehensif lainnya (other comprehensive income).
2.1.5. Indeks LQ-45
Indeks LQ 45 merupakan salah satu dari sebelas indeks harga
saham yang diluncurkan pada Februari 1997 di Bursa Efek Indonesia.
Indeks harga saham adalah indikator atau cerminan pergerakan harga
saham. Indeks merupakan salah satu pedoman bagi investor untuk
melakukan investasi di pasar modal, khususnya saham. Adapun
kesebelas indeks harga saham di BEI sebagai berikut :
1. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan semua
perusahaan tercatat sebagai komponen perhitungan Indeks. Agar
IHSG dapat menggambarkan keadaan pasar yang wajar, Bursa Efek
Indonesia berwenang mengeluarkan dan atau tidak memasukkan satu
atau beberapa Perusahaan Tercatat dari perhitungan IHSG. Dasar
pertimbangannya antara lain, jika jumlah saham Perusahaan Tercatat
tersebut yang dimiliki oleh publik (free float) relatif kecil sementara
kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga saham
Perusahaan Tercatat tersebut berpotensi mempengaruhi kewajaran
pergerakan IHSG. IHSG adalah milik Bursa Efek Indonesia. Bursa
Efek Indonesia tidak bertanggung jawab atas produk yang
diterbitkan oleh pengguna yang mempergunakan IHSG sebagai

acuan (benchmark). Bursa Efek Indonesia juga tidak bertanggung


jawab dalam bentuk apapun atas keputusan investasi yang dilakukan
oleh siapapun Pihak yang menggunakan IHSG sebagai acuan
(benchmark).
2. Indeks Sektoral
Indeks

Sektoral

menggunakan

semua

perusahaan

tercatat yang termasuk dalam masing-masing sektor. Sekarang ini


ada 10 sektor yang ada di BEI yaitu sektor Pertanian, Pertambangan,
Industri Dasar, Aneka Industri, Barang Konsumsi, Properti,
Infrastruktur, Keuangan, Perdangangan dan Jasa, dan Manufatur.
3. Indeks LQ-45
Indeks LQ-45 merupakan indeks yang terdiri dari 45 saham
perusahaan tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas
dan

kapitalisasi

pasar,

dengan

kriteria-kriteria

yang

sudah

ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.


4. Jakarta Islmic Index (JII)
Indeks yang menggunakan 30 saham yang dipilih dari sahamsaham yang masuk dalam kriteria syariah (Daftar Efek Syariah yang
diterbitkan

oleh

Bapepam-LK)

dengan

mempertimbangkan

kapitalisasi pasar dan likuiditas.


5. Indeks Kompas100
Indeks yang terdiri dari 100 saham Perusahaan Tercatat yang
dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar,

dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan


penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.
6. Indeks BISNIS-27
Kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan harian Bisnis
Indonesia meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks
BISNIS-27. Indeks yang terdiri dari 27 saham Perusahaan Tercatat
yang dipilih berdasarkan kriteria fundamental, teknikal atau
likuiditas transaksi dan Akuntabilitas dan tata kelola perusahaan.
7. Indeks PEFINDO25
Kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan lembaga
rating PEFINDO meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama
Indeks PEFINDO25. Indeks ini dimaksudkan untuk memberikan
tambahan informasi bagi pemodal khususnya untuk saham-saham
emiten kecil dan menengah (Small Medium Enterprises / SME).
Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih
dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria seperti: Total Aset,
tingkat pengembalian modal (Return on Equity / ROE) dan opini
akuntan publik. Selain kriteria tersebut di atas, diperhatikan juga
faktor likuiditas dan jumlah saham yang dimiliki publik.
8. Indeks SRI-KEHATI
Indeks ini dibentuk atas kerja sama antara Bursa Efek
Indonesia dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia
(KEHATI). SRI adalah kependekan dari Sustainable Responsible

Investment. Indeks ini diharapkan memberi tambahan informasi


kepada investor yang ingin berinvestasi pada emiten-emiten yang
memiliki kinerja sangat baik dalam mendorong usaha berkelanjutan,
serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan dan menjalankan tata
kelola perusahaan yang baik. Indeks ini terdiri dari 25 saham
Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriterikriteria seperti: Total Aset, Price Earning Ratio (PER) dan Free
Float.
9. Indeks Papan Utama
Menggunakan saham-saham Perusahaan Tercatat yang masuk
dalam Papan Utama.
10. Indeks Papan Pengembangan
Menggunakan saham-saham Perusahaan Tercatat yang
masuk dalam Papan Pengembangan.
11. Indeks Individual
Indeks harga saham masing-masing Perusahaan Tercatat.
Untuk

membangun

indeks

dibutuhkan

pertimbangan

penting sehingga mampu mencerminkan sebagian total populasi


(pergerakan saham). Pertimbangan tersebut meliputi sampel (The
Sample),

pembobotan

anggota

sampel

(Weighting

Sample

Members) dan prosedur perhitungan (Computational Procedure).


Indeks LQ-45 terdiri dari 45 emiten dengan rasio likuiditas (Liquid)
tinggi dan diseleksi melalui beberapa kriteria pemilihan. Selain

penilaian atas likuiditas, seleksi atas emiten-emiten tersebut juga


mempertimbangkan kapitalisasi pasar dengan ukuran utama
likuiditas transaksi adalah nilai transaksi di pasar reguler.
Selanjutnya untuk mempertajam kriteria likuiditasnya maka
dimasukkanlah jumlah hari perdagangan dan frekuensi transaksi.
Sehingga kriteria suatu emiten untuk dapat masuk dalam
perhitungan indeks LQ45 adalah mempertimbangkan faktor-faktor
sebagai berikut:
1. Telah tercatat di BEI minimal 3 bulan.
2. Aktivitas transaksi di pasar reguler yaitu nilai, volume dan
frekuensi transaksi.
3. Jumlah hari perdagangan di pasar reguler,
Emiten berada di TOP 95 % dari total rata rata tahunan nilai
transaksi saham di pasar reguler.
4. Kapitalisasi pasar pada periode waktu tertentu.
Emiten berada di TOP 90% dari rata rata tahunan kapitalisasi
pasar.
5. Selain mempertimbangkan kriteria likuiditas dan kapitalisasi
pasar tersebut di atas, akan dilihat juga keadaan keuangan dan
prospek pertumbuhan perusahaan tersebut.
Bursa Efek Indonesia secara rutin memantau perkembangan
kinerja emiten-emiten yang masuk dalam penghitungan indeks LQ-45
setiap tiga bulan sekali untuk evaluasi indeks. Sementara untuk

penggantian akan dilakukan setiap enam bulan sekali, yaitu pada awal
bulan Februari dan Agustus. Untuk menjamin kewajaran (fairness)
pemilihan saham, BEI juga dapat meminta pendapat kepada komisi
penasehat yang terdiri dari para ahli dari Bapepam-LK, Universitas dan
profesional di bidang pasar modal yang independen.
Indeks LQ-45 diluncurkan pada bulan Februari 1997. Untuk
mendapatkan data historikal yang cukup panjang, hari dasar yang
digunakan adalah tanggal 13 Juli 1994, dengan nilai dasar sebesar 100.
Selain nilai dasar, nilai pasar yang merupakan kumulatif jumlah saham
tercatat dikali dengan harga pasar diperlukan untuk menghitung indeks
LQ-45 dengan menggunakan formula :
LQ 45 =
Sumber : Indonesia Stock Exchange, (2010)
2.1.6. Teori Regulasi
Regulasi pada umumnya diasumsikan harus diperoleh oleh
suatu industri tertentu dan dirancang serta dioperasikan terutama untuk
keuntungannya sendiri. Terdapat dua kategori utama dalam regulasi
suatu industri tertentu yaitu teori-teori kepentingan publik, dan
kelompok yang berkepentingan atau teori-teori tangkapan. Kedua
kategori tersebut menekankan pada adanya kepentingan dan hampir
semua para ahli teori menyatakan bahwa regulasi terbentuk ternyata
karena adanya konflik kepentingan dan terjadi sebagai reaksi terhadap
suatu krisis yang tidak dapat di identifikasi.

Melalui

teori-teori

kepentingan

publik

dari

regulasi

berpendapat bahwa regulasi diberikan jawaban atas permintaan publik


akan perbaikan dari harga-harga pasar yang tidak efisien atau tidak adil,
sehingga teori ini mampu memberikan perlindungan dan kebaikan
masyarakat umum. Sementara itu, kelompok yang berkepentingan atau
teori-teori tangkapan dari regulasi berpendapat bahwa regulasi
diberikan sebagai jawaban atas permintaan dari kelompok dengan
kepentingan khusus, dengan tujuan untuk memaksimalkan laba dari
para anggotanya.
Adanya konflik kepentingan tersebut akan menimbulkan
konsekuensi yang akan diterima pengguna. Berikut ini konsekuensi
yang akan diterima pengguna laporan keuangan terhadap penerapan
standar baru dalam pelaporan keuangan.
Tabel 2.3
Konsekuensi Ekonomi
Pengguna
Konsekuensi Ekonomi
Perusahaan / Korporasi
Biaya penerbitan laporan keuangan
Perbedaan volalitas angka laporan
keuangan
Manajemen
Perilaku Manajemen
Masyarakat
Persepsi atas perusahaan
Investor dan kreditor
Keputusan keuangan
Sumber: Hendriksen (2005)
2.1.7. Teori Signal
Teori signal menjelaskan alasan perusahaan menyajikan
informasi kepada publik (Wolk et al.,2001: 308). Informasi tersebut
bisa berupa laporan keuangan, informasi kebijakan perusahaan maupun
informasi lain yang dilakukan secara sukarela oleh manajemen

perusahaan. Teori signal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya


sebuah perusahaan memberikan signal-signal kepada pengguna laporan
keuangan. Signal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah
dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik.
Signal dapat berupa promosi atau informasi lainnya yang menyatakan
bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lainnya
(Machfoedz, 1999, dalam Wirawan, 2010). Penggunaan peraturan
seperti IFRS yang meningkatkan kualitas pelaporan merupakan salah
satu signal perusahaan untuk menarik investor atau pengguna lain.
2.1.8. Teori Kepemilikan (proprietary theory)
Menurut teori kepemilikian (proprietary theory), entitas
adalah agen, perwakilan, atau pengaturan dimana wirausahawan
individual atau pemegang saham beroperasi. Sudut pandang dari
kelompok pemilik sebagai pusat kepentingan dicerminkan dalam caracara di mana catatan akuntansi disimpan dan laporan keuangan disusun.
Tujuan utama dari teori kepemilikan adalah penentuan dan analisis dari
kekayaan bersih (net worth) pemilik. Pengaruh dari teori kepemilikan
dapat ditemukan dalam beberapa teknik dan terminologi akuntansi yang
digunakan oleh korporasi yang kepemilikannya terbuka seperti halnya
metode ekuitas akuntansi untuk investasi pada anak perusahaan yang
tidak dikonsolidasikan merekomendasikan bahwa bagian perusahaan
tersebut atas laba bersih anak perusahaan yang tidak dikonsolidasikan

dimasukkan dalam laba bersih. Dengan demikian, praktik juga


menggunakan konsep kepemilikan.
Teori kepemilikan dapat memiliki paling tidak dua bentuk,
yang berbeda dalam hal siapa yang dimasukkan dalam kelompok
pemilik. Dalam bentuk pertama, hanya pemegang saham biasa yang
menjadi bagian dari kelompok pemilik sementara pemegang saham
preferen dikeluarkan. Dengan demikian, dividen saham preferen
dikurangkan ketika menghitung laba pemilik. Dalam bentuk kedua dari
teori kepemilikan, baik saham biasa maupun saham preferen
dimasukkan dalam ekuitas pemilik sehingga terfokus perhatian pada
bagian ekuitas pemegang saham di neraca dan jumlah yang akan
dikreditkan kepada semua pemegang saham di laporan laba rugi.
2.1.9. Penelitian Terdahulu
Telah banyak penelitian mengenai pengadopsian IFRS namun
penelitian yang secara langsung berfokus pada suatu perusahaan yang
terdapat dalam indeks saham suatu negara masih terbatas, adapun
penelitian terdahulu adalah sebagai berikut :

Tabel 2.4
Peneliti Terdahulu
No

Nama
Peneliti

Judul
Penelitian

Hasil Penelitian

Tujuan Penelitian
-

Cordazzo,
(2013)

Situmorang
(2011)

The impact of
IFRS on net
income
and equity:
evidence from
Italian
listed companies

Menginvestigasi
dampak adopsi IFRS
terhadap
laporan
keuangan perusahaan
terdaftar di bursa Italia

Menguji
apakah
terdapat dampak yang
signifikan transisi ke
Transisi Menuju IFRS
terhadap
IFRS Dan
financial
statement
Dampaknya
(laporan
keuangan)
Terhadap
khususnya net profit,
Laporan
liquidity, gearing dan
Keuangan
equity dengan melihat
(Studi Empiris pengaruh
yang
Pada Perusahaan significant
dengan
Yang Listing Di hubungannya
pada
BEI)
penggunaan
auditor
pada
perusahaanListing di
BEI

Transisi laba bersih


lebih
relevan
dibandingkan
ekuitas.
Analisis
penyesuaian
individu
menunjukkan lebih
besar
ketidaksesuaian
antara GAAP Italia
dan IFRS dalam
penerapan
akuntansi
untuk
aktiva
tidak
berwujud,
pajak
penghasilan
dan
penggabungan
usaha
IFRS
memiliki
dampak
yang
signifikan terhadap
net profit perusahaan,
ekuitas,
rasio
likuditas, gearing, dan
membedakan
pengaruh net profit,
ekuitas, gearing, dan
likuiditas
pada
perusahaan
yang
menggunakan KAP
(ukuran auditor) big 4
dan non big 4

Wardhani,
(2010)

The Effect Of
Degree
Convergence To
IFRS and
Governance
System to
Accounting
Conservatsism:
Evidence Of
Asia.

Untuk
menganalisis
dampak
derajat
konvergensi ke IFRS
dan
sistem
pemerintahan
ke
conservatisme
akuntansi:
Studi
kasus
pada
negara-negara
Asia
yaitu : Hongkong,
India,
Indonesia,
Jepang,
Korea,
Malaysia,
Filipina,
Singapura,
Taiwan,
dan Thailand dan
Termasuk
dalam
perusahaan-perusahaan
yang ada di CLSA CG
Watch.

Konvergensi ke IFRS
dan
sistem
pemerintahan
memiliki
Dampak yang
Positif
terhadap
kualitas laba

Gamayuni,
(2009)

Perkembangan
Standar
Akuntansi
Keuangan
Indonesia
Menuju
International
Financial
Standards

Melihat
apakah
Indonesia
perlu
mengadopsi IFRS atau
tidak. (Studi Empiris
Pada Perusahaan Yang
Listing Di BEI)

Indonesia
memang
perlu
mengadopsi standar
akuntansi yang
berlaku global untuk
dapat bersaing secara
global
menarik
investor

Impact of
International
Accounting
Standard on
Firms

Menjelaskan dampak
adopsi IFRS pada
laporan
keuangan
perusahaan dan pada
manajemenperusahaan.
(Studi Kasus Pada
Perusahaan
SaintGobain Group)

Pengungkapan
laporan
keuangan
lebih
tinggi
dan
manajemen
perusahaan menjadi
lebih
bertanggungjawab
(accountable)

Petreski,
(2006)

Sumber : Peneliti (2015)


2.2. Kerangka Konseptual
Pengadopsian standar akuntansi internasional yaitu IFRS ke dalam
standar akuntansi domestik bertujuan menghasilkan laporan keuangan yang
memiliki tingkat kredibilitas tinggi, persyaratan akan item-item pengungkapan
akan semakin tinggi sehingga nilai perusahaan akan semakin tinggi pula,

manajemen akan memiliki tingkat akuntabilitas tinggi dalam menjalankan


perusahaan, laporan keuangan perusahaan menghasilkan informasi yang lebih
relevan dan akurat, dan laporan keuangan akan lebih dapat diperbandingkan dan
menghasilkan informasi yang valid untuk aktiva, hutang, ekuitas, pendapatan dan
beban perusahaan (Petreski, 2006). Hung &Subramanyan (2004) dalam

Gamayuni (2009) menguji efek adopsi IFRS memberikan bukti bahwa total
aktiva, total kewajiban, lebih tinggi yang menerapkan IAS. Sementara,
Michela Cordazzo (2013) menguji efek adopsi IFRS memberikan bukti laba
bersih dan ekuitas emiten Italia lebih tinggi dibandingkan dengan
diterapkannya Italia GAAP.
Bagi para pengguna laporan keuangan terutama investor, dampak
yang ditimbulkan terhadap laporan keuangan terkait laba bersih dan ekuitas
emiten menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan untuk
menginvestasikan modalnya dan mengharapkan return yang tinggi.
Gambar 2.3
Model Berpikir Peneliti
Sebelum IFRS (X)

1. Laba Bersih (X1)


2. Ekuitas (X2)
Sumber : Peneliti (2015)

Sesudah IFRS (Y)

Uji beda

1. Laba Bersih (Y1)


2. Ekuitas (Y2)

2.3. Hipotesis
Titik fokus para pengguna laporan keuangan terutama para
stakeholder untuk mengetahui kondisi perusahaan dan berkembangtidaknya
investasi mereka terletak pada laporan keuangan dengan tampilan laba dan
ekuitas yang dihasilkan perusahaan, sehingga menunjukkan pentingnya
penyajian laporan keuangan yang berkualitas dengan menggunakan standar
akuntansi keuangan yang tidak hanya diterima secara umum oleh satu negara
tetapi juga dapat diakui dan diterima oleh negara lain. Oleh karena itu, suatu
negara dituntut untuk menjadikan International Financial Reporting
Standards (IFRS) sebagai dasar penyajian laporan keuangan meskipun
terdapat kendala yang ditimbulkan dalam penyajian laporan keuangan. Salah
satu kendalanya adalah fakta bahwa belum semua negara menerima konsep,
standar akuntansi dan pelaporan keuangan versi IFRS dikarenakan
konsekuensi ekonomi yang dikhawatirkan akan timbul akibat perubahan
regulasi.
Berikut ini beberapa PSAK revisi 2013 dan 2014 yang berlaku
efektif tahun 2015 secara prospektif dan berlaku efektif tahun 2011-2012
secara retrospektif oleh emiten indeks LQ-45, sehingga terdapat reklasifikasi
akun yang menimbulkan perbedaan laba dan ekuitas di tahun 2011 dan 2012
antara sebelum dan sesudah pengadopsian standar akuntansi keuangan
berbasis IFRS.

Tabel 2.5
Ikhtisar Perbedaan PSAK dan SAK Berbasis IFRS
Berlaku Efektif Tahun 2015 Secara Prospektif
Perihal

SAK Berbasis IFRS

PSAK

Revisi 2013(efektif 1 Januari 2015 secara prospektif)


Penyajian Laporan
Keuangan
Judul Laporan

Definisi

Komponen Laporan
Keuangan

Informasi Komparatif

Penyajian penghasilan
komprehensif lain

Imbalan Kerja

Biaya Jasa Lalu

PSAK No. 1 (revisi 2013)

PSAK No. 1 (revisi 2009)

Laporan Laba Rugi dan Penghasilan


Komprehensif Lain
Memberikan definisi Laba rugi, Pemilik,
material, Penyesuaian Reklasifikasi,
tidak
praktis,
Total
penghasilan
Komprehensif

Laporan
Laba
Rugi
Komprehensif
Tidak memberikan definisi
tersebut

Laporan posisi keuangan


Laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain
Laporan perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Catatan atas laporan keuangan
Informasi kompratif
Menambahkan persyaratan penyajian dan
pengungkapan :
Informasi komparatif minimum
Informasi komparatif tambahan

Laporan posisi keuangan


Laporan
laba
rugi
komprehensif
Laporan perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Catatan
atas
laporan
keuangan
Tidak terdapat pengaturan
tersebut

Disajikan berdasarkan kelompok:


Disajikan dalam kelompok
1. Pos-pos yang akan direklasifikasi ke Penghasilan
komprehensif
laba rugi
lain
2. Pos-pos
yang
tidak
akan
direklasifikasi ke laba rugi
PSAK No. 24 (revisi 2013)

PSAK No. 24 (revisi 2010)

- Biaya jasa lalu adalah perubahan nilai - Biaya jasa lalu adalah
kini kewajiban imbalan pasti atas jasa perubahan nilai kewajiban
pekerja pada periode-periode lalu, imbalan pasti atau jasa
sebagai akibat dari amandemen pekerja pada periode-periode
program (pemberlakuan awal atau lalu,
yang
berdampak
pembatalan, atau perubahan, program terhadap periode berjalan
imbalan pasti) atau kurtailmen akibat penerapan awal atau
(penurunan signifikan yang dilakukan perubahan terhadap imbalan
oleh entitas dalam hal jumlah pekerja pascakerja atau imbalan
yang ditanggung oleh program).
kerja jangka panjang lain.

Biaya jasakeuntungan/kerugian
penyelesain

Perubahan Lainnya

Laporan Keuangan
Konsolidasian
Ruang lingkup
Definisi

Keuntungan
atau
kerugian
atas
penyelesaian adalah perbedaan antara:
Nilai kini kewajiban imbalan pasti
yang
sedang
diselesaikan,
sebagaimana ditentukan pada tanggal
penyelesaian.
Harga penyelesaian, termasuk setiap
aset program yang dialihkan dan
setiap pembayaran yang dilakukan
secara
langsung
oleh
entitas
sehubungan dengan penyelesaian
tersebut
Imbalan kerja yang diharapkan akan
diselesaikan seluruhnya sebelum dua
belas bulan setelah akhir periode
pelaporan
tahunan
saat
pekerja
memberikan jasa terkait.

Keuntungan atau kerugian


atas penyelesaian terdiri dari:
Perubahan yang terjadi
dalam nilai kini kewajiban
imbalan pasti
Perubahan yang terjadi
dalam nilai wajar aset
program
Keuntungan dan kerugian
aktuaria dan biaya jasa
lalu yang belum diakui
sebelumnya
Imbalan kerja yang jatuh
tempo dalam waktu dua belas
bulan setelah akhir periode
pelaporan
tahunan
saat
pekerja memberikan jasa.

Tidak meliputi LK sendiri

PSAK No. 4 dan ISAK


No. 7
Diatur

Diatur dalam lampiran tersendiri

Diatur

PSAK No. 65 (revisi 2013)

Pengendalian

Definisi
yang
umum
meliputi:
kekuasaan,
ekposure
hak
dan Diatur
kemampuan menggunakan kekuasaan

Pengendalian tanpa
adanya hak suara
mayoritas

Memberikan panduan penerapan dalam


Diatur
menaksir pengendalian tanpa hak suara

Hak suara potensial


Hubungan keagenan

Ketentuan lebih detail


Diatur
Terdapat pedoman penerapan hubungan
Tidak diatur
keagenan

Persyaratan akuntansi

LK konsolidasian disusun dengan Diatur


menggunakan kebijakan yan sama

Kepentingan non
pengendali
Penentuan apakah
entitas adalah entitas
investasi
Entitas investasi
pengecualian terhadap
konsolidasi

Penyajiannya terpisah
pemiliki entitas induk
Terdapat definisi

dari

ekuitas

Diatur
Tidak diatur

Tidak dikonsolidasi tetapi mengukur


Tidak diatur
investasinya dengan nilai wajar

Pengaturan Bersama
Pengendalian bersama
operasi dan aset

PSAK No. 66 (revisi 2013)

Operasi bersama hak dan kewajiban atas Mengakui aset/ liabilitas dan
aset/ liabilitas mengakui aset/ liabilitas pendapatan/ beban sesuai
dan pendapatan/ beban sesuai porsi
porsi
-

Pengendalian bersama
entitas

PSAK No. 12

Operasi bersama hak dan kewajiban


atas aset/ liabilitas mengakui aset/
liabilitas dan pendapatan/ beban Pilihan antara konsolidasi
sesuai porsi
proporsional dan metode
Hak atas aset menggunakan metode ekuitas
ekuitas
Konsolidasi proporsional dihapus

Revisi 2014 (efektif 1 Januari 2015 secara prospektif)


Penurunan Nilai

Ruang Lingkup

PSAK No. 48 (revisi 2014)

Pengaturan investasi pada entitas


anak dan ventura bersama dalam
laporan keuangan tersendiri mengacu
pada PSAK 4 (2013): Laporan
Keuangan Tersendiri

PSAK No. 48 (revisi 2009)


Pengaturan investasi pada
entitas anak dan ventura
bersama
dalamlaporan
keuangan
tersendiri
mengacupada
PSAK
4:
LaporanKeuangan
Konsolidasian dan Laporan
Keuangan Tersendiri

Definisi

Tidak memberikan definisi mengenai


Memberikan
definisi
nilai wajar dikurangi biaya untuk
mengenai
nilai
wajar
menjual dan pasar aktif.
dikurangi
biaya
Memberikan definisi nilai wajar
untukmenjual dan pasar
sesuai dengan PSAK 68: Pengukuran
aktif
Nilai Wajar.

Terminologi

Nilai wajar dikurangi biaya pelepasan


Pengukuran nilai wajar

Pengukuran
nilai
wajar Memberikan
pengaturan
dikurangibiaya pelepasan mengacu
mengenai
nilai
wajar
padahirarki nilai wajar dalam PSAK
dikurangi biaya untuk
68:Pengukuran Nilai Wajar.
menjual.

Memberikan
tambahan
penjelasanmengenai perbedaan nilai Tidak diatur
wajardan nilai pakai.

Pengukurannilai wajar
dikurangi
biayapelepasan

Komposisiestimasi
aruskas masadepan

Nilai wajar dikurangi biaya


untuk menjual
Penentuan nilai wajar

Alokasi goodwill pada


unit penghasil
kas

Setiap unit atau kelompok unit


yangmemperoleh alokasi goodwill:
menunjukkan tingkat terendah dalam
entitas yang goodwill-nya dipantau
untuk tujuan manajemen internal; dan
tidak lebih besar dari segmen operasi
yang didefinisikan dalam PSAK 5:
Segmen Operasi paragraf 08 sebelum
penggabungan

Setiap unit atau kelompok


unit yang memperoleh alokasi
goodwill:
menunjukkan
tingkat
terendahdalam entitas yang
goodwillnya dipantau untuk
tujuan manajemen internal;
dan
tidak lebih besar dari
segmen
operasi
yang
ditentukan sesuai dengan
PSAK 5: Segmen Operasi

Koreksi editorial

Menggunakan istilah harapan dan


yang diharapkan

Menggunakan
ekspektasidan
ekspektasian

Pengungkapan

Memberikan tambahan persyaratan


pengungkapan untuk setiap aset
individual atau unit penghasil kas
yang mana kerugian penurunan
nilai telah diakui atau dibalik selama
periode:
jumlah terpulihkan aset (unit
penghasil kas) dan apakah jumlah
terpulihkan aset (unit penghasil kas)
merupakan nilai wajarnya dikurangi
biaya untuk menjual atau nilai
pakainya.; dan
jika jumlah terpulihkan merupakan
nilai wajar dikurangi biaya pelepasan,
entitas mengungkapkan:
tingkat hirarki nilai wajar sesuai
dengan PSAK 68: Pengukuran
Nilai Wajar;
teknik penilaian (level 2 dan 3);
dan
setiap asumsi utama yang
mendasari manajemen untuk
menentukan nilai wajar dikurangi
biaya pelepasan (level 2 dan 3).

istilah

Memberikan persyaratan
pengungkapan
untuk
setiap rugi penurunan nilai
material yang diakui atau
dibalik selama periode
aset
individual
(termasukgoodwill
dan
unit penghasilkas)

Berlaku efektif Tahun 2012 :


Transaksi dalam
mata uang asing

PSAK No. 10 (revisi 2009)

PSAK No. 10, 11, dan 52


-

Penentuan mata uang


fungsional

Terdapat hirarki indikator


penentuan mata uang fungsional

PSAK No. 52 : ada 3


indikator
mata
uang
dalam
fungsional, yaitu :
1. Indikator arus kas
2. Indikator harga jual
3. Indikator biaya
-

Pengukuran dan
penyajian mata uang

Aset Tak Berwujud


Pengukuran setelah
pengakuan
Masa manfaat
ekonomis

Masa manfaat tak


terbatas

Pengukuran mata uang menggunakan


mata uang fungsional
Penyajijan
mata
uang
dapat
menggunakan mata uang selain mata
uang fungsional

PSAK No.19 (revisi 2010)

PSAK No. 19
-

Entitas
hanya
menggunakan
harga perolehan

Umumnya tidak melebihi


20 tahun

Entitas dapat memilih model harga


perolehan atau model revaluasi

Entitas dapat menentukan :


1. Masa manfaat terbatas
2. Masa manfaat tidak terbatas

Tidak diamortisasi
Pengujian penurunan
Nilai aset setiap tahun & ketika
terdapat indikasi penurunan nilai

Pendapatan

PSAK No. 23 (revisi 2010)

Tidak diatur

dapat
model

Tidak terdapat ketentuan

PSAK No. 23
-

Pendapatan bunga dari


aset

Pengukuran dan penyajian


mata uang menggunakan
Rupiah
Entitas
dapat
menggunakan mata uang
selain Rupiah jika mata
uang tersebut memenuhi
kriteria sebagai mata uang
fungsional

Hasil
efektif
suatu
asetmerupakan
tingkat
bungayang
diperlukan
untukmendiskontokan
aliranpenerimaan kas di
masadepan

Pengakuan dividen
pada efek

Tidak diatur

Dividen
pada
efek
ekuitasdiumumkan
daripenghasilan
neto
ebelumpembelian,
dividentersebut dikurangi
dari harga beli efek
tersebut

Berlaku efektif Tahun 2011 :


Laporan Arus Kas

PSAK No. 2 (revisi 2009)

Arus kas dari pos luar


biasa

- Dihilangkan

Metode tidak langsung

- Dihilangkan

PSAK No. 2
- Terdapat
pengaturan
mengenai arus kas dari pos
luar biasa
- Penyesuaian atas laba atau
rugi termasuk berasal dari
hak
minoritas
dalam
laba/rugi konsolidasi

Arus kas dari


pelepasan kepemilikan
pada entitas anak yang - Arus kas dari transaksi tersebut diakui
tidak mengakibatkan
sebagai arus kas pendanaan
hilangnya
pengendalian
Pengungkapan
PSAK No. 7 (revisi 2010)
Pihak-Pihak Berelasi
Departemen dan instansi pemerintah yang
tidak
Pihak-pihak yang
mengendalikan, mengendalikan bersama
mempunyai hubungan
atau memiliki
Istimewa
pengaruh pengaruh signifkan terhadap
entitas pelapor
Kebijakan akuntansi,
perubahan estimasi
PSAK No. 25 (revisi 2009)
akuntansi dan
kesalahan
Pemilihan kebijakan
akuntansi

Mengatur persyaratan pemilihan dan


penerapan kebijakan akuntansi
Memberikan
panduan
pemilihan kebijakan akuntansi ketika tidak ada
SAK yang secara spesifik berlaku
untuk transaksi, peristiwa atau kondisi
lainnya

Tidak ada pengaturan

PSAK No. 7

Hanya
menyebutkan
Departemen dan instansi
pemerintah

PSAK No. 25

Tidak diatur. Hal ini


sebelumnya diatur dalam
PSAK 1 (1998)

Provisi, liabilitas
kontinjensi, dan aset
kontinjensi
Istilah

PSAK No. 57 (revisi 2009)


-

Provisi

PSAK No. 57
-

Kewajiban diestimasi

Sumber : Martani, Dwi (2015)


Hung dan Subramanyam (2004) menyatakan bahwa total aktiva,
ekuitas, total kewajiban akan lebih tinggi yang menerapkan IAS dibanding
dengan standar akuntansi Jerman. Thornton (2006) dalam Ballas (2010) juga
menemukan bahwa IFRS berdampak positif terhadap ekuitas perusahaan.
Tsalavoutas (2010) menemukan bahwa implementasi IFRS memiliki dampak
yang positif terhadap ekuitas dan laba bersih perusahaan di Yunani. Cordazzo
(2008) dalam Tsalavoutas (2010) menemukan laba bersih dan ekuitas yang
lebih tinggi pada IFRS dibanding pada Italian GAAP. Peneliti Haller et al (
2009) dalam Tsalauvoutas( 2010) mengatakan bahwa ;
the transition from Germany GAAP to IFRS on equity and net
income of German companies which had to adopt IFRS in 2005 and
they find a significant increase in shareholders equity and net
income
H1. Standar akuntansi keuangan berbasis IFRS berpengaruh signifikan
terhadap laba bersih
H2. Standar akuntansi keuangan berbasis IFRS berpengaruh signifikan
terhadap ekuitas