Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. PENYAKIT POLIP SERVIK
1.
Penyakit Polip Servik
a. Pengertian
Polyp adalah tumor jinak yang tumbuh menonjol dan
bertangkai dari selaput lendir dibagian tubuh manusia, seperti
hidung, telinga, usus dan selaput lendir lainnya. Cervix adalah
leher rahim. Polip serviks adalah polip berukuran kecil, tumbuh di
permukaan mukosa serviks, atau pada saluran endoserviks dan
menonjol pada mulut serviks.
Polip serviks sering mempunyai tungkai yang pendek, tetapi
beberapa dapat mempunyai dasar yang lebar. Penyebabnya belum
jelas, meskipun penampilannya menggambarkan respon epitel
endo servik terhadap proses peradangan. Polip servik dapat
menimbulkan perdarahan pervaginam, perdarahan kontak, pasca
coitus atau setelah pencucian merupakan gejala yang tersering
dijumpai. Diagnosisnya dibuat dengan menginspeksi servik. Jika
terdapat

perdarahan,

menyingkirkan

harus

kelainan,

dilakukan

terutama

pemeriksaan

keganasan

serviks

untuk
dan

endometrium. Bila polip mempunyai tangkai kurus, tangkainya


digenggam dengan forsep polip dan diputar beberapa kali sampai
dasar polipnya terlepas dari jaringan servik dasarnya. Bila terdapat
perdarahan pervaginam abnormal, maka diperlukan curettage di RS
untuk menyingkirkan keganasan servik dan endometrium.
Polip servik yang terjadi sebagai akibat stroma lokal yang
menutupi daerah antara kedua celah pada kanalis servik. Epitellium
silinder yang menutupi polip dapat mengalami ulserasi. Banyak
polip servik tidak memberikan gejala-gejala utama adalah
perdarahan intermitten. Diagnosis dibuat dengan melakukan
inspeksi pada servik
Sebuah polip serviks adalah umum jinak polip atau tumor pada
permukaan saluran leher rahim. Mereka tidak teratur dapat
menyebabkan

menstruasi
5

pendarahan

tetapi

sering

tidak

menunjukkan gejala. Sekitar 1% dari polip serviks akan


menunjukkan neoplastik perubahan yang dapat menyebabkan
kanker. Mereka adalah yang paling umum di posmenstruasi,
pramenopause wanita yang telah hamil.
b. Jenis Polip Serviks
1) Polip ektoservik yaitu polip servik dapat tumbuh dari lapisan
permukaan luar servik, sering di derita oleh wanita yang telah
memasuki periode pasca-menopause, meskipun dapat pula di
derita oleh wanita produktif. Prevalensi kasus polip servik
berkisar antara 2 hingga 5% wanita.
2) Polip endoservik yaitu pertumbuhan servik dari bagian dalam
servik, biasanya pada wanita pre menopause di atas usia 20
tahun dan mempunyai setidaknya 1 anak
c. Etiologi
Penyebab pasti timbulnya polip rahim belum diketahui, namun
diduga akibat infeksi yang tidak ditangani dengan baik, atau
memang jaringan tersebut mempunyai sifat tumbuh yang
berlebihan.
d. Patofisiologi
Polip servik dapat menyerang lapisan permukaan luar servik
(ektoservik) dan bagian dalam servik (endoservik). Normalnya
servik uteri pada nullipara dalam keadaan normal kanalis servikalis
bebas kuman, pada multipara dengan ostium uteri eksternum lebih
terbuka, batas ke atas ostium uteri internum bebas kuman.
Radang pada servik uteri, bisa terdapat pada porsio uteri diluar
ostium uteri eksternum dan / pada endoservik. Penyakit gonorea,
sifilis, ulkus molle dan granuloma inguinale dan TBC dapat
ditemukan peradangan kronis pada servik.
Karena adanya peradangan yang kronis / virus memicu
endoservik merespon dengan timbulnya Adenoma-Adenoma
fibroma (hiperplasia pada epitel endoservik).
Setelah epitel endoservik tumbuh menonjol dan / bertangkai dan
dapat panjang hingga keluar dari vulva, ujungnya mengalami
nekrosis serta mudah berdarah.

e. Diagnosa
Diagnosis polip serviks relatif mudah, karena mereka dapat
dengan mudah dilihat oleh dokter. Mereka tampak batang halus
dengan warna merah atau ungu dan mereka menonjol dari saluran
serviks.
f. Tanda dan Gejala
Biasanya, tidak akan ada gejala untuk polip serviks tetapi pada
waktu

penyakit

ini

akan

ditandai

oleh:

Abnormal pendarahan vagina yang terjadi antara periode


menstruasi, setelah menopause, setelah hubungan seksual, dan
setelah douching. Polip serviks bisa meradang tetapi jarang
menjadi terinfeksi periode normal berat atau menoragia keluarnya
lendir putih atau kuning, sering disebut keputihan. Hanya ada
beberapa gejala yang dikenal infeksi ini dan kadang-kadang bahkan
kentara. Seorang wanita perlu memiliki pemeriksaan tahunan
sampai

mengevaluasi

kesehatan

reproduksi

wanita.

Gejala utamanya adalah terjadinya perdarahan diluar haid yang


warnanya lebih terang dari darah haid. Terutama timbul setelah
melakukan senggama (perdarahan paska senggama=post coital
bleeding=PCB). Perlu dipertimbangkn juga adanya kanker leher
rahim jika ditemukan PCB.
g. Manifestasi Klinis
Biasanya, tidak akan ada gejala untuk polip serviks tetapi pada
waktu terjadi penyakit ini akan ditandai oleh:
1) Abnormal pendarahan vagina yang terjadi antara periode
menstruasi, setelah menopause, setelah hubungan seksual, dan
2)
3)
4)
5)

setelah douching.
Polip serviks bisa meradang tetapi mereka jarang menjadi
Terinfeksi periode normal berat atau menoragia
Keluarnya lendir putih atau kuning, sering disebut keputihan
Hanya ada beberapa gejala yang dikenal infeksi ini dan
kadang-kadang bahkan kentara. Seorang wanita perlu memiliki
pemeriksaan

tahunan

reproduksi wanita.

sampai

mengevaluasi

kesehatan

h. Faktor Resiko
Faktor risiko memiliki polip serviks meningkat pada wanita
dengan diabetes mellitus dan vaginitis berulang dan servisitis.
polip serviks tidak pernah benar-benar terjadi sebelum onset
menstruasi. Hal ini biasanya terlihat pada wanita usia reproduksi.
Yang paling rentan terhadap penyakit ini adalah perempuan usia 40
sampai 50 tahun. Hal ini juga mengatakan bahwa polip serviks
dapat ditemukan pada insiden yang memicu produksi hormon.
Wanita hamil memiliki risiko yang lebih tinggi karena perubahan
tingkat hormon, mungkin dari peningkatan produksi hormon
beredar juga.
i. Tindakan Pencegahan
Ada beberapa langkah yang dapat membantu mencegah infeksi
ini:
1) Pakai celana katun atau stoking dengan selangkangan kapas.
Ini membantu mencegah akumulasi kelebihan panas dan
kelembaban. Panas dan kelembaban membuat seorang wanita
rentan terhadap infeksi vagina dan leher rahim.
2) Apakah pasangan Anda memakai kondom setiap hubungan
seksual. Ini mengurangi resiko infeksi menular seksual.
j. Penatalaksanaan dan Pengobatan
Polip hanya dipelintir sampai putus, kemudian tangkainya di
kuret. Tindakan dilakukan dalam pembiusan umum (general
anasthesia). Selanjutnya jaringan polip dikirim ke laboratorium
patologi guna memastikan bahwa histologis-nya jinak/sesuai
dengan gambaran jaringan polip serviks. Kemungkinan ganasnya
kecil. Artinya,

melalui operasi sederhana, polip serviks dapat

dihapus. polip akan memutar dan lembut dihapus selama operasi.


Dalam satu metode, string bedah terpasang di sekitar alas dan
menembak terputus. dasar akan dihapus melalui elektrokauter atau
pengobatan laser. Setelah operasi, pasien disarankan untuk
mengambil di antibiotik bahkan jika tidak ada tanda-tanda infeksi.
Beberapa polip serviks belum tentu kanker tetapi mereka masih
dikirim ke laboratorium untuk analisa lebih lanjut. Selain itu, cukup

mustahil untuk polip untuk tumbuh kembali tetapi ada insiden


kambuh.
Bila dijumpai polip servik, dokter dapat mengambil dua macam
tindakan yaitu:
1) Konservatif, yakni bila ukuran polip kecil, tidak mengganggu,
dan tidak menimbulkan keluhan (misal sering bleeding, sering
keputihan). dokter akan membiarkan dan mengobservasi
perkembangan polip secara berkala.
2) Agresif, yakni bila ukuran polip besar, ukuran membesar,
mengganggu aktifitas, atau menimbulkan keluhan. tindakan
agresif ini berupa tindakan curettage atau pemotongan tangkai
polip. tindakan kauter ini bisa dilakukan dengan rawat jalan,
biasanya tidak perlu rawat inap.
3) Untuk polip-polip yang ukurannya kecil (beberapa milimeter)
bisa dicoba pemberian obat yang dimasukkan melalui vagina,
untuk mengurangi reaksi radang. setelah pemberiannya tuntas,
diperiksa lagi, apakah pengobatan tersebut ada efeknya pada
polip atau tidak. jika tidak, maka untuk pengobatannya dengan
kauterisasi.
4) Bila polip mempunyai tangkai kurus, tangkainya digenggam
dengan forsep polip dan diputar beberapa kali sampai dasar
polipnya terlepas dari jaringan servik dasarnya. Bila terdapat
perdarahan pervaginam abnormal, maka diperlukan curettage di
RS untuk menyingkirkan keganasan servik dan endometrium.
5) Polip yang mudah terlihat dengan tangkai yang tipis dapat
disekam dengan klem arteri atau forcep kasa dan dipluntir putus.
Dianjurkan

mengkauterisasi

dasarnya

untuk

mencegah

perdarahan dan rekurensi.


6) Pasien yang mempunyai banyak polip mungkin terbaik diterapi

dengan cara konisasi sehingga setiap polip yang tidak terlihat


didalam kanalis tidak akan diabaikan. Biasanya, polipektomi
cervix harus dilakukan bersama dengan suatu kuretase.