Anda di halaman 1dari 48

BAB 2

TINJAUAN TEORI
2.1 Kehamilan
2.1.1 Pengertian
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari), dihitung
dari hari pertama haid terakhir. (Saifuddin, 2006)
Kehamilan adalah suatu keadaan untuk menjadi seorang bayi yang
belum lahir menjadi mampu hidup di luar lingkungan tubuh ibunya
yang aman, nyaman, dan terlindungi, sedangkan anda dan pasangan
anda menjadi orang tua. (Simkin, 2007)
Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira
280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).
(Wiknjosatro, 2007)
Menurut Wiknjosatro (2007), ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan
dibagi dalam 3 bagian, yaitu:
1. Kehamilan triwulan pertama (antara 0 12 minggu)
2. Kehamilan triwulan kedua (antara 12 28 minggu)
3. Kehamilan triwulan ketiga (antara 28 40 minggu)

2.1.2 Perubahan Fisiologis Kehamilan


Menurut Hidayati (2009), perubahan fisiologis adalah sebagai berikut :
2.1.2.1 Perubahan Sistem Reproduksi
1. Uterus
a. Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30
gram akan mengalami hipertrofi dan hiperplasia,

sehingga menjadi seberat 1.000 gram saat akhir


kehamilan.
b. Perubahan pada isthmus uteri menjadi lebih panjang dan
lunak, sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah
kedua jari dapat saling sentuh. Perlunakan isthmus
disebut tanda Hegar.
2. Serviks
Perubahan warna dan konsistensi
3. Vagina dan vulva
Organ vagina dan vulva mengalami peningkatan sirkulasi
darah karena pengaruh estrogen, sehingga tampak makin
merah dan kebiru-biruan (Tanda Piscaseck).
4. Ovarium
Terjadinya kehamilan indung telur yang mengandung
korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya
sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16
minggu.
5. Payudara
a. Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan
sebagai persiapan memberi ASI pada saat laktasi.
Perkembangan payudara dipengaruhi oleh hormon
estrogen, progesteron, dan somatomammotropin.
b. Pembentukan payudara akan terasa lebih lembut, kenyal
dan berisi, serta jalur-jalur pembuluh darah disekitar
wilayah dada akan lebih terlihat jelas dari biasanya, hal
ini untuk persiapan saat menyusui.
2.1.2.2 Perubahan Sistem Sirkulasi
Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor berikut ini:
1. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah, sehingga dapat
memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan
janin dalam rahim.
2. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada
sirkulasi retroplasenter.
3. Pengaruh hormon estrogen dan progesteron.
Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan
peredaran darah, antara lain sebagai berikut:
a. Volume darah
1) Volume darah semakin meningkat, dimana jumlah
serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel

darah, sehingga terjadi semacam pengenceran


darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia
kehamilan 32 minggu.
2) Curah jantung akan bertambah sekitar 30%.
Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak
sekitar umur kehamilan 16 minggu. Oleh karena
itu, pengidap penyakit jantung harus berhati-hati
untuk hamil beberapa kali. Pada postpartum terjadi
hemokonsentrasi.
b. Sel darah
Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk
dapat mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim,
tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan
peningkatan volume darah, sehingga terjadi hemodilusi
yang disertai dengan anemia fisiologis.
2.1.2.3 Perubahan Sistem Respirasi
Selama periode kehamilan, sistem respirasi mengalami
perubahan. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan
O2 yang semakin meningkat. Disamping itu juga terjadi
desakan diafragma karena dorongan rahim. Ibu hamil akan
bernafas lebih dalam sekitar 20-25% dari biasanya. Sesak
nafas dan pernafasan yang cepat akan membuat ibu hamil
merasa lelah, hal ini dikarenakan saat kehamilan kerja jantung
dan paru-paru.
2.1.2.4 Perubahan Sistem Percernaan
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat rasa enek
(nausea). Mungkin ini akibat pada hormon estrogen yang
meningkat. Tonus otot-otot digestivus menurun, sehingga
motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan
lebih lama berada di lambung dan apa yang telah dicerna lebih
lama berada di usus. (Wiknjosastro, 2007)
2.1.2.5 Perubahan Sistem Traktus Urinarius
Pengaruh desakan hamil muda atau pembesaran rahim seiring
dengan bertambahnya usia kehamilan yang menekan kandung
kemih dan turunnya kepala bayi pada hamil tua akan
menyebabkan gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih.
2.1.2.6 Perubahan Integumen

1. Perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena


pengaruh Melanophore Stimulating Hoemone (MSH),
pengaruh lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar
suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae
gravidarum lividae atau alba, areola mammae, papila mammae,
linea nigra, dan pipi (cloasma gravidarum). Setelah persalinan
hiperpigmentasi ini akan menghilang.
2. Perubahan kondisi kulit yang berubah terbalik dari keadaan
semula, yang biasanya (pada saat belum hamil) kulit kering,
maka kini akan menjadi berminyak, begitu pula sebaliknya.
Hal ini terjadi karena adanya perubahan hormon di dalam
tubuh ibu hamil.
3. Rambut menjadi lebih kering atau berminyak karena adanya
perubahan hormon.
2.1.3 Perubahan Psikologis Selama Kehamilan
Menurut Hidayati (2009), adaptasi psikologis ibu hamil yaitu:
1. Trimester pertama
Ragu ragu akan kehamilannya, ambivalen (konflik perasaan) dan
lebih banyak berfokus pada diri sendiri. Pada trimester ini, adanya
perasaan tidak nyaman akibat perasaan mual, muntah dan keletihan
sering kali keinginan seksual menurun.
2. Trimester kedua
a. Adanya pergerakan bayi, ibu menjadi yakin dengan keberadaan bayinya dan ibu
merasa percaya akan segera mempunyai bayi.
b. Ibu lebih banyak berfokus pada bayinya, biasanya dia merasa lebih baik dari
pada trimester I dan belum mengganggu aktivitasnya.
c. Perubahan ukuran tubuh untuk beberapa orang menyebabkan perubahab body
image atau pandangan terhadap gambaran diri yang negatif.
3. Trimester Ketiga
a. Persiapan kelahiran sudah mulai dilakukan ibu. Ibu menanyakan tentang tanda
tanda persalinan kepada teman atau saudaranya yang telah mengalami proses
persalinan.
b. Beberapa wanita mengalami ketakutan persalinan dan merasa tidak nyaman
menghadap hari hari menjelang persalinan.
c. Ibu menyiapkan pakaian, tempat untuk bayi dan merencanakan perawatannya.

2.1.4 Ketidaknyamanan Selama Kehamilan


Menurut Kusmiyati (2009) Ketidaknyamanan yang dirasakan ibu hamil selama
kehamilan, diantaranya :
2.1.4.1 Keputihan (pada TM I,II,dan III)
Terjadi peningkatan produksi lendir dan kelenjar endocervikal sebagai akibat dari
peningkatan hormon estrogen. Cara meringankan atau mencegah : meningkatkan
kebersihan dengan mandi setiap hari, memakai pakaian dalam yang terbuat dari
katun bukan nilon, menghindari pencucian vagina dan mencuci vagina dengan
sabun dari arah depan ke belakang.
2.1.4.2 Sering buang air kencing / nocturia
Terjadi karena penekanan uterus pada kandung kemih. Nocturia akibat eksresi
sodium yang meningkat bersamaan dengan terjadinya pengeluaran air. Cara
meringankan : kosongkan saat terasa dorongan untuk kencing, perbanyak minum
pada siang hari, jangan kurangi minum di malam hari untuk mengurangi nocturia
kecuali jika nocturia mengganggu tidur dan menyebabkan keletihan, batasi minum
bahan diuretik alamiah seperti : kopi, teh dan cola.
2.1.4.3 Rasa mual atau muntah muntah
Penyebab yang pasti tidak diketahui, mungkin disebabkan peningkatan kadar
HCG, estrogen atau progesteron. Cara meringankan atau mencegah : hindari bau
dan faktor penyebab, makan sedikit tapi sering, hindari makan yang berminyak
dan berbumbu merangsang.
2.1.4.4 Garis-garis di perut (Striae gravidarum)
Terdiri dari arteriola tengah yang terbuka yang datar atau sedikit meningkat
dengan radiasi cabang kapiler yang menyebar, yang paling jelas di daerah - daerah
kulit yang dialiri darah dari vena cava superior (sekitar mata, leher, kerongkongan,
dan lengan). Cara meringankan atau mencegah : gunakan emollien topikal atau
antipiuritik jika ada indikasinya, gunakan atau kenakan pakaian yang menopang
payudara dan abdomen.
2.1.4.5 Konstipasi
Terjadi karena tekanan dari uterus yang membesar pada usus, peningkatan kadar

progesteron yang menyebabkan peristaltik usus jadi lambat. Cara meringankan


atau mencegah : tingkatkan intake cairan, istirahat cukup, minum cairan dingin
atau hangat (ketika perut kosong).
2.1.4.6 Sesak napas
Biasanya terjadi pada trimester II dan III. Sesak napas terjadi karena uterus yang
membesar dan menekan pada diafragma. Cara meringankan atau mencegah :
latihan napas melalui senam hamil, tidur dengan bantal ditinggikan, makan tidak
terlalu banyak, konsul ke dokter bila ada asma.

2.1.4.7 Varises pada kaki/vulva


Biasanya terjadi pada trimester II dan III. Varises ini terjadi karena kongesti vena
dalam vena bagian bawah yang meningkat sejalan dengan kehamilan karena
tekanan dari uterus yang hamil. Cara meringankan atau mencegah : tinggikan kaki
sewaktu berbaring atau duduk, hindari berdiri atau duduk terlalu lama, istirahat
dalam posisi berbaring kekiri.

2.1.5 Tanda Bahaya Kehamilan Trimester III


Menurut Pinem (2009), tanda bahaya dalam kehamilan perlu diketahui oleh ibu
dan keluarga agar ia waspada terhadap ancaman kesehatan diri maupun janinnya.
Berikut adalah tanda bahaya yang penting diketahui oleh ibu dan keluarga:
1. Perdarahan melalui jalan lahir, baik sedikit maupun banyak.
2. Nyeri perut bagian bawah secara terus-menerus, kadang-kadang menjalar ke
punggung atau ke samping dan tidak kurang waktu dibawa beristirahat. Gejalagejala ini merupakan tanda infeksi kandung kemih yang dapat menyebabkan
persalinan sebelum waktunya.
3. Bengkak, mula-mula pada kaki yang tidak hilang setelah istirahat rebah,
disertai nyeri kepala, mual, nyeri ulu hati, apalagi disertai penglihatan kabur dan
kejang-kejang.
4. Keluar cairan ketuban dari jalan lahir sebelum kehamilan cukup bulan.
5. Demam tinggi, batuk hebat, muntah-muntah atau diare. Semua penyakit ini
dapat membuat ibu hamil lemah, ibu dan janin dapat meninggal dunia.
6. Janin berkurang geraknya, karena mungkin kekurangan oksigen atau makanan
dari ibunya sehingga janin dapat menjadi lemah dan mungkin meninggal.

7. Berat badan turun atau tidak bertambah


2.1.6 Asuhan Antenatal
2.1.6.1 Asuhan antenatal
Menurut Saifuddin (2006), pelayanan/asuhan antenatal merupakan cara penting
untuk memonitor atau mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi
ibu dengan kehamilan normal. Oleh karena itu, kunjungan antenatal sebaiknya
dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.
Ante Natal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. (Manuaba, 1998)
2.1.6.2 Tujuan Asuhan Antenatal
Tujuan asuhan antenatal adalah sebagai berikut:
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang bayi.
2. Meningkatkan dan mempertahankan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi
3. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin
terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan
pembedahan
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu
maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
ekslusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
dapat tumbuh kembang secara normal.
2.1.6.3 Kebijakan Program
Menurut Saifuddin (2006), kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling
sedikit 4 kali selama kehamilan.
1. Satu kali pada triwulan pertama.
2. Satu kali pada triwulan kedua.

3. Dua kali pada triwulan ketiga.


Pelayanan/ asuhan standar minimal termasuk 10 T, yaitu:
1. Timbang berat badan
2. Ukur (Tekanan) darah
3. Nilai status lingkar lengan (LILA)
4. Ukur (Tinggi) fundus uteri
5. Tentukan presentasi janin dan DJJ
6. Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
7. Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.
8. Tes Laboratorium.
9. Tes terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS).
10. Temu wicara atau konseling termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan
komplikasi serta KB pasca persalinan. (PWS KIA, 2009)
2.1.6.4 Jadwal kunjungan ulang
Menurut Siti (2009), Jadwal kunjungan ulang pada kehamilan yaitu:
1. Kunjungan I (16 minggu), dilakukan untuk:
a. Persiapan dan pengobatan anemia
b. Perencanaan persalinan
c. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.
2. Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu), dilakukan untuk:
a. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
b. Penapisan pre eklampsia, gemeli, infeksi alat reproduksi, dan saluran

perkemihan.
c. Mengulang perencanaan persalinan
3. Kunjungan IV: 36 minggu sampai lahir:
a. Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III
b. Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
c. Memantapkan rencana persalinan
d. Mengenali tanda-tanda persalinan
2.1.6.5 Kebijakan teknis
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat.
Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya.
(Saifuddin, 2006)
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen
sebagai berikut:
1. Mengupayakan kehamilan yang sehat.
2. Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta
rujukan bila diperlukan
3. Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4. Perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakuakan rujukan jika
terjadi komplikasi .

2.1.7 Pemeriksaan / Pengawasan wanita hamil


2.1.7.1 Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan yang dilakukan pada bagian tubuh dari
kepala sampai kaki. Kehamilan merupakan suatu proses pembuahan dalam rangka
melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang
tumbuh normal di dalam rahim ibu. (Hidayati, 2009).
2.1.7.2 Tujuan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik pada ibu hamil selain bertujuan untuk menegtahui kesehatan
ibu dan janin saat ini, juga bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi
pada pemeriksaan berikutnya. Penentuan apakah sang ibu sedang hamil atau tidak
sangat diperlukan saat ibu pertama kali berkunjung ke petugas kesehatan. Jika
hasil pemeriksaan pada kunjungan pertama sang ibu dinyatakan hamil, maka
langkah selanjutnya perlu ditentukan berapa usia kehamilannnya. Setiap
pemeriksaan kehamilan adalah dengan melihat dan meraba petugas akan
mengetahui apakah ibu sehat, janin tumbuh dengan baik, tinggi fundus uteri
sesuai dengan umur kehamilan atau tidak, serta dimana letak janin. (Hidayati,
2009)
2.1.7.3 Tahapan pemeriksaan (Wiknjosastro, 2007).
1. Pemeriksaan pertama (anamnessa)
Tanyakan identitas dengan lengkap, kemudian tanyakan riwayat kehamilan ini.
Bila seorang wanita datang dengan haid terlambat dan diduga ada kehamilan,
maka dapat ditentukan tanggal perkiraan partus, jika Haid Pertama Haid Terakhir
(HPHT) diketahui dan siklus 28 hari. Rumus yang dipakai adalah rumus
Naegele. Perkiraan partus menurut rumus ini : hari + 7, bulan -3, dan tahun +1.
Misalnya HPHT tanggal 1-5-1990, maka perkiraan partus menurut rumus ini jatuh
pada tanggal 8-2-1991.
Cara menghitung :
Jika HPHT tidak diingat maka sebagai pegangan dapat dipakai yaitu gerakangerakan janin, umumnya pada primigravida gerakan janin dirasakan oleh ibu pada
usia 18 minggu, dan multigraviada pada kehamilan 16 minggu. Dapat pula
digunakan perasaan nausea yang biasanya hilang pada akehamilan 12-14 minggu,
hal ini bisa ditanyakan pada ibu. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang
sebelumnya perlu pula ditanyakan beserta beratnya bayi waktu dilahirkan.
Tanyakan pula pola makan ibu, aktifitas sehari-hari, imunisasi, kontrasepsi yang
pernah digunakan, riwayat penyakit yang dideritanya atau riwayat penyakit
keluarga seperti jantung, ginjal, DM, TBC, paru-paru dan sebagainya. Serta
riwayat sosial yaitu perasaan tentang kehamilan ini dan status perkwinan.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan seluruh tubuh wanita harus diperiksa dengan teliti. Keadaan
umum harus baik, tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan, diperiksa dan dicatat.
Kepala (rambut, kebersihan, ketebalan, dan adakah benjolan), mata (konjungtiva,
sklera, dan pupil), telinga (kebersihan, adakah cairan, serta posisi simetris/tidak),
hidung (kebersihan dan polip), mulut (bibir, kebersihan, bau dan tonsil), gigi

(lubang, caries), leher (pembesaran kelenjar thyroid/getah bening, dan nyeri),


jantung (bunyi jantung I dan II), paru (suara nafas), mammae (simetris/tidak,
benjolan, aerola, puting susu dan kebersihan), aksila (ada benjolan/tidak), seluruh
abdomen (garis kehamilan, striae, bekas luka, bentuk, pembesaran, dan oedem),
ekstremitas (varices, oedem tangan/jari, oedem tibia kaki dan refleks patella),
diperiksa dengan teliti dan di catat.
3. Pemeriksaan ginekologik (pemeriksaan dalam/ bimanual)
a. Genitalia eksterna
Inspeksi luar : keadaan vulva / uretra, ada tidaknya tanda radang, luka /
perdarahan, discharge, kelainan lainnya. Labia dipisahkan dengan dua jari
pemeriksa untuk inspeksi lebih jelas. Inspeksi dalam menggunakan spekulum (in
speculo) : Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa, alat spekulum Cusco
(cocorbebek) dimasukkan ke vagina dengan bilah vertikal kemudian di dalam
liang vagina diputar 90o sehingga horisontal, lalu dibuka. Deskripsi keadaan
porsio serviks (permukaan,warna), keadaan ostium, ada/tidaknya darah/cairan/
discharge di forniks, dilihat keadaan dinding dalam vagina, ada/tidak tumor, tanda
radang atau kelainan lainnya. Spekulum ditutup horisontal, diputar vertikal dan
dikeluarkan dari vagina.
b. Genitalia interna.
Palpasi : colok vaginal (vaginal touch) dengan dua jari sebelah tangan dan
bimanual dengan tangan lain menekan fundus dari luar abdomen. Ditentukan
konsistensi, tebal, arah dan ada/tidaknya pembukaan serviks. Diperiksa ada/tidak
kelainan uterus dan adneksa yang dapat ditemukan. Ditentukan bagian terbawah
Pada pemeriksaan di atas 34-36 minggu dilakukan perhitungan pelvimetri klinik
untuk memperkirakan ada/tidaknya disproporsi fetopelvik/sefalopelvik.
4. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah gol darah (A, B, O), faktor rhesus,
reaksi Wasserman, Kahn, dan seologik lainnya. Kadar haemoglobin, urine untuk
albumin, gula, berat jenisnya, dan bila perlu untuk bakteriuri dan sebagainya.
5. Pemeriksaan Obstetrik
Wanita hamil yang diperiksa disuruh berbaring terlentang dengan bahu dan kepala
sedikit lebih tinggi (memakai bantal), dan pemeriksa berada disebelah kanan yang
diperiksa berada disebelah kanan yang diperiksa. Dikenal beberapa cara palpasi,
yang lazim dipakai ialah cara palpasi menurut Leopold, karena telah hampir
mencakupi semuanya (Wiknjosatro, 2007).

Palpasi dilakukan menurut teori Leopold, yaitu:


a. Leopold I
Kedua tangan pemeriksa menelusuri bagian kiri dan kanan abdomen ke arah
fundus dengan kedua telapak tangan. Pemeriksaan ini untuk menentukan TFU
(Tinggi Fundus Uteri) dan bagian janin dalam fundus uteri.
Tabel 2.1 TFU untuk menentukan usia kehamilan
TFU
(berdasarkan perabaan) Usia Kehamilan
1-2 jari atas symphysis 12 minggu
Pertengahan symphysis pusat 16 minggu
3 jari bawah pusat 20 minggu
Setinngi pusat 24 minggu
3 jari atas pusat 28 minggu
Pertengahan Px pusat 32 minggu
3 jari bawah Px 36 minggu
Pertengahan antara Px pusat 40 minggu
Sumber : (Wiknjosatro, 2007).
Tabel 2.2 TFU untuk memantau tumbuh kembang janin
Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri
dalam cm menggunakan penunjuk-penunjuk badan
12 minggu - Teraba di atas simfisis
16 minggu - Ditengah antara simfisis pubis dan umbilicus
20 minggu 20 cm (2 cm) Pada umbilicus
22-27 minggu Usia kehamilan dalam minggu =26 cm (2 cm)
28 minggu 28 cm (2 cm) Ditengah antara umbilikus dan prosesus sifoideus
29-35 minggu Usia kehamilan dalam minggu = (2 cm)
36 minggu 36 cm (2 cm) Pada prosesus sifoideus
Sumber : (Saifuddin, 2006)

b. Leopold II
Kedua tangan pemeriksa diturunkan menelusuri tepi uterus. Tentukan batas
samping uterus kiri-kanan dan bagian-bagian janin.
c. Leopold III
Tangan kanan pemeriksa memegang bagian bawah abdomen. Ini untuk
menentukan bagian terbawah janin dan memastikan apakah bagian tersebut sudah
masuk ke panggul atau belum.
d. Leopold IV
Pemeriksa menghadap kearah kaki pasien. Hal ini untuk menentukan seberapa
jauh janin sudah masuk Pintu Atas Panggul (PAP).
Tabel 2.3 Penurunan kepala janin menurut sistem perlimaan
Periksa luar Periksa dalam Keterangan

=5/5

- Kepala di atas PAP mudah digerakan

= 4/5

H I II Sulit digerakan bagian terbesar kepala belum masuk panggul

= 3/5

H II III Bagian terbesar kepala belum masuk panggul

= 2/5

H III+ Bagian terbesar kepala sudah masuk PAP

= 1/5
H III IV Kepala di dasar panggul

= 0/5 HIV Di perineum

Sumber : (Saifuddin, 2006)


Cara menghitung TBJ
Digunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan
1) Bila kepala belum masuk PAP, maka TFU dikurang 13
2) Bila kepala sebagian masuk PAP, maka TFU dikurang 12
3) Bila kepala sudah masuk PAP, maka TFU dikurang 11
6. Petunjuk menjaga kehamilan
Petunjuk hendaknya diberikan mengenai cara hidup, istirahat, diet dalam
kehamilan, koitus, kebersihan dan pakaian, pengawasan berat badan, perawatan
gigi, imunisai, merokok, pemberian obat, dan aktipitas yang ringan. Penting pula
memberi suaminya pengetahuan tentang keadan isterinya yang hamil, segala
sesuatu hendaknya diarahkan hingga diperoleh kepercayaan sepenuhnya dari ibu.
Kunjungan berikutnya dianjurkan tiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28
minggu, tiap 2 minggu sampai usia 36 minggu, dan tiap 1 minggu setelah
kehamilan 36 minggu.

2.2 Persalinan
2.2.1 Pengertian
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke
dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses di mana janin dan ketuban didorong
keluar melalui jalan lahir. (Saifuddin, 2006)
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari
uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan
cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai danya penyulit. Persalinan dimulai
(inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks
(membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap.
(JNPK-KR, 2008).
Persalinan adalah kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup
bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dari selaput
janin dari tubuh ibu. (Sujiatini, dkk, 2011)
Menurut Ujiningtyas (2009), yang mengutip pendapat Farer (2001), persalinan
normal adalah persalinan yang memiliki karakteristik berikut ini:
1. Terjadi pada kehamilan aterm, bukan prematur ataupun postmatur.
2. Mempunyai onset (permulaan) yang spontan, bukan karena induksi.
3. Selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jan sejak saat onset (permulaan), bukan
partus presipitatus ataupun partus lama.
4. Janin tunggal dengan presentasi puncak kepala dan oksiput pada bagian anterior
pelvis
5. Terlaksana tanpa bantuan artificial
6. Tidak terdapat komplikasi
7. Mencakup kelahiran plasenta yang normal

2.2.2 Sebab-Sebab yang Menimbulkan Persalinan


Menurut Sujiatini (2011), ada beberapa teori yang menyatakan sebab-sebab yang
menimbulkan persalinan, yaitu:

1. Teori Penurunan Hormonal


1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan
progesteron bekerja sebagai penenang otot otot polos rahim dan akan
menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar
progesteron turun.

2. Teori Plasenta menjadi lebih tua


Yang akan menyebabkan turunnya kadar oksigen dan progesteron sehingga
menyebabkan kekejangan pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan kontraksi
rahim.
3. Teori Distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang akan menyebabkan iskemia otot otot
sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenta.
4. Teori Iritasi Mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (Frankerhauser). Bila ganglion ini
digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
5. Induksi Partus (Induction of labour)
Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan rangsang laminaria, amniotomi, dan
oksitosin drips.

2.2.3 Tanda dan Gejala Persalinan


1. Menurut Ujiningtyas (2009) yang mengutip pendapat Mochtar (1994), tanda
dan gejala permulaan persalinan adalah:
Sebelum terjadinya persalinan yang sebenarnya, beberapa minggu sebelum wanita
memasuki hari perkiraan kelahiran yang disebut kala pendahuluan (preparatory
stage of labor) dengan tanda sebagai berikut:
a. Lightening atau settling atau dropping, yaitu kepala turun memasuki pintu atas

panggul. Pada primigravida terjadi menjelang minggu ke 36. Lightening


disebabkan oleh:
1. Kontraksi Braxton Hicks
2. Ketegangan dinding perut
3. Ketegangan ligamentum rotundum
4. Gaya berat janin
Saat kepala masuk pintu atas panggul (PAP), ibu akan merasa rasa sesak pada
perut bagian atas berkurang dan pada bagian bawah tersa sesak.
b. Perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri turun
c. Sering miksi atau sulit berkemih
d. Sakit di pinggang dan di perut
e. Serviks mulai lembek dan mendatar
f. Terjadinya his permulaan atau his palsu
2. Tanda tanda inpartu
Tanda- tanda persalinan inpartu adalah sebagai berikut:
a. Terjadi his persalinan, dengan karakteristik:
Pinggang terasa sakit yang menjalar ke depan
1) Sifat sakitnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatannya makin besar
2) Berpengaruh terhadap perubahan serviks
3) Dengan beraktivitas kekuatan makin bertambah
b. Pengeluaran lendir bercampur darah
c. Kadang kadang ketuban pecah dengan sendirinya

d. Hasil pemeriksaan dalam (PD) menunjukkan terjadinya perlunakkan,


pendataran dan pembukaan serviks

2.2.4 Faktor -faktor yang Mempengaruhi Persalinan


Menurut Sujiyatini (2011) yang ada beberapa faktor yang mempengaruhi
persalinan, antara lain:
1. Power/ kekuatan HIS dan mengejan:
a. His (kontraksi otot rahim)
b. Kontraksi
c. Kontraksi difragma pelvis atau kekuatan mengejan
d. Ketegangan dan kontraksi ligamentum rotundum
2. Passege atau jalan lahir (panggul) : jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang
3. Passeger (fetus) : janin dan plasenta

4. Psikis : psikologis ibu


5. Penolong : Bidan atau Dokter

2.2.5 Tahapan/Proses Persalinan


2.2.5.1 Kala I (pembukaan)
Inpartu ditandai dengan keluarnya lender darah, karena serviks mulai membuka
(dilatasi) dan mendatar (Effacement) kala dimulai dari pembukaan nol sampai
pembukaan lengkap (10 cm) lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12
jam, sedangkan pada multi gravid sekitar 8 jam. Berdasarkan kurva friedman
pembukaan primi 1 cm/jam, sedangkan pada multi 2 cm/jam. (JNPK-KR, 2008)
Kala pembukaan dibagi dua fase :

1. Fase laten : pembukaan serviks, sampai ukuran 3 cm, berlangsung dalam 7-8
jam.
2. Fase Aktif : berlangsung 6 jam, di bagi atas 3 sub fase yaitu :
a. Periode akselerasi berlangsung dua jam, pembukaan menjadi 4 cm
b. Periode dilatasi maksimal selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi
9 cm
c. Periode deselerasi berlangsung lambat, selama 2 Jam pembukaan menjadi 10
cm atau lengkap
2.2.5.2 Kala II (kala pengeluaran janin)
Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir
dengan lahirnya bayi. Kala II juga disebut kala pengeluaran bayi. (JNPK-KR,
2008)
Gejala dan tanda kala II persalinan (JNPK-KR, 2008) :
1. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
2. Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum / pada vaginanya
3. Perineum menonjol
4. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka
5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.

Pada kala ini his terkoordinir, cepat dan lebh lama, kira-kira 2-3 menit sekali
kepala janin telah masuk keruangan panggul sehingga terjadi tekanan pada otot
dasar panggul yang menimbulkan rasa ingin mengedan, karena tekanan pada
rectum, ibu ingin seperti mau buang air besar, dengan tanda anus membuka. Pada
saat his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perineum meregang,.
Dengan kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi
kepala, membuka pintu, dahi, hidung, mulut dan muka dan seluruhnya, diikuti
oleh putaran paksi luar yaitu penyesuaian kepala dengan punggung. Setelah itu
sisa air ketuban. Lamanya kala II untuk primigravida 60 menit dan multigraviada
30 menit. (Sijiyanti, dkk, 2011)

2.2.5.3 Kala III (kala uri)


Kala III adalah waktu dari keluarnya bayi hingga pelepasan dan pengeluaran uri
(plasenta) yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit (JNPK-KR, 2008).
1. Tanda-tanda lepasnya plasenta yaitu:
a. Adanya perubahan bentuk dan tinggi fundus
Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk
bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat setelah uterus berkontraksi
dan plasenta terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear
atau alpukat dan fundus berada di atas pusat (seringkali mengarah ke sisi kanan).
b. Tali pusat memanjang.
Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld).
c. Semburan darah mendadak dan singkat.
Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu mendorong plasenta
keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplasenta
pooling) dalam ruang diantara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta
melebihi kapasitas tampungannya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta
yang terlepas. Kemudian melakukan manajemen aktif kala III yaitu pemberian
suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama bayi lahir, melakukan peregangan tali
pusat, dan masase fundus uteri. Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala III
persalinan lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, mengurangi
kejadian retensio plasenta. (JNPK-KR, 2008)
2. Manajemen aktif kala III, yaitu:
a. Pemberian suntikan oksitosin
b. Melakukan peregangan tali pusat terkendali
c. Massase fundus uteri
2.2.5.4 Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk

memantau kondisi ibu. Harus diperiksa setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan
setiap 30 menit pada jam kedua. (Wiknjosastro, 2007)
Asuhan dan pemantauan kala IV (JNPK-KR, 2008) :
1. Lakukan rangsangan taktil (masase) uterus untuk merangsang uterus
berkontraksi baik dan kuat
2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakan jari tangan secara melintang dengan
pusat sebagai patokan
3. Perkiraan kehilangan darah secara keseluruhan
4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi)
perineum
5. Evaluasi keadaan umum ibu
6. Dokumentasi semua semua asuhan selama persalinan kala IV dibagian
belakang partograf, segera setelah asuhan dan penilaian dilakukan
2.2.6 Partograf
Partograf adalah suatu alat untuk mencatat hasil observasi dan pemeriksaan fisik
ibu dalam proses persalinan serta merupakan alat utama dalam mengambil
keputusan klinik khususnya pada persalinan kala I. (Sumarah,dkk,2008)
Partograf adalah catatan grafik kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu
dan janin. Partograf dapat dianggap sebagai sistem peringatan awal yang akan
membantu pengambilan keputusan lebih awal kapan seorang ibu harus dirujuk,
dipercepat, atau diakhiri persalinannya. (Ujiningtyas, 2009)
1. Tujuan partograf
Menurut Sumarah, dkk (2008), tujuan partograf adalah:
a. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan memeriksa
pembukaan serviks berdasarkan pemeriksaan dalam.
b. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal, dengan demikian
dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.
2. Komponen Partograf
a. Catatan janin
b. Catatan kemajuan persalinan

c. Catatan ibu (Ujiningtyas, 2009)


3. Pengamatan yang dicatat pada partograf
a. Kemajuan persalinan
Pembukaan serviks, turunnya kepala (dengan palpasi perut, seperlimaan, kepala
janin yang teraba), his (frekuensi /10 menit, lamanya).
b. Keadaan janin
Frekuensi denyut jantung janin, warna, jumlah dan lamanya ketuban pecah,
molase kepala janin.
c. Keadaan Ibu
Nadi, tekanan darah dan suhu, urine (volume, protein, dan aseton), obat-obatan
dan cairan intravena, pemberian oksitosin.
1) Denyut jantung janin
Denyut jantung janin dicatat setiap 30 menit.
2) Warna dan adanya air ketuban
Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan nilai warna air
ketuban jika selaput ketuban pecah. Gunakan lambang berikut :
U - Selaput ketuban utuh (belum pecah)
J - Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M - Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium
D - Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
K - Selaput ketuban sudah pecah tapi air tidak mengalir lagi
(kering). (JNPK-KR, 2008)
3) Molase (penyusunan kepala janin)

Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam :


0 = tulang-tulang kepala janin teripsah, sufura dengan mudah
dapat dipalpasi
1 = tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2 = tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tetapi
masih dapat dipisahkan
3 = tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak bisa
dipisahkan
4) Pembukaan serviks
Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam. Beri tanda untuk temuan-temuan
dan pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan
di garis waspada.
5) Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), diberi tanda O pada
garis waktu yang sesuai.
6) Jam dan waktu
Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan.
7) Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan
kontraksi per 10 menit, disebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi, setiap 30 menit raba dan catat jumlah kontraksi dalam
10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik, nyatakan kontraksi dengan :
Beri titik-titik dikotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang kurang dari
20 detik.
Beri garis-garis dikotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya 20
40 detik.
Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yag lebih dari 40 detik.

6) Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit
jumlah unit oksitosin yang diberikan pervolume cairan iv dan dalam satuan
tetesan per menit.
7) Obat-obatan lain
Catat obat yang diberikan
8) Nadi
Nadi Ibu dicatat setiap 30 menit
9) Tekanan darah
Tekanan darah Ibu dicatat setiap 4 jam
10) Suhu
Temperatur tubuh Ibu dicatat setiap 2 jam
11) Volume urine, protein, dan aseton
Ukur dan catat jumlah produksi urine Ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali Ibu
berkemih)
2.3 Nifas
2.3.1 Pengertian
Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung
selama kira-kira 6 minggu. (Saifuddin, 2006)
Masa puerperium atau masa nifas adalah mulai setelah partus selesai, dan berakhir
setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali
sperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Wiknjosatro, 2007)
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau
waktu sejak bayi dilahirkan dan palsenta keluar dari rahim, sampai enam minggu
berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan

kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya


berkaitan dengan melahirkan. (Suherni, 2009)

2.3.2 Diagnosis
Masa nifas normal jika involusi uterus, pengeluaran lochea, pengeluaran ASI dan
perubahan sistem tubuh, termasuk keadaan psikologis normal. (Saifuddin, 2004)
a. Keadan gawat darurat pada ibu seperti perdarahan, kejang dan pana
b. Adanya penyulit/masalah ibu yang memerlukan rujukan seperti abses payudara
2.3.3 Tahapan Masa Nifas
Adapun tahapan tahapan masa nifas (post partum/puerperium) menurut
(Suherni,dkk,2009) yaitu :
1. Puerperium dini
Masa kepulihan, yakni saat-saat ibu dibolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2. Puerperium intermedial
Masa kepulihan menyeluruh dari organ organ genital, kira kira antara 6 8
minggu.
3. Remot puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu
selama hamil atau persalinan mempunyai komplikas.

2.3.4 Perubahan fisiologi pada masa nifas


2.3.4.1 Perubahan sistem Reproduksi
1. Perubahan Uterus
Terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal ini menyebabkan
iskemia pada lokasi perlekatan plasenta (plasenta site) sehingga jaringan
perlekatan antara plasenta dan dinding uterus, mengalami nekrosis dan lepas.
Uterus akan mengalami pengecilan (involusi secara berangsur-angsur sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil. (Suherni,2008)
Mengenai tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi sebagai
berikut:

Tabel 2.4 TFU dan Berat Uterus menurut masa involusi


Involusi Tinggi fundus uteri Berat uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
Sumber : (Suherni, 2008).
Segera setelah persalinan bekas implantasi plasenta berupa luka kasar dan
menonjol kedalam kavum uteri, penonjolan tersebut diameternya kira-kira 7,5 cm.
Sesudah 2 minggu diameternya berkurang menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam
mengecil lagi sampai 2,4 cm, dan akhirnya akan pulih kembali.
Disamping itu, dari kavum uteri keluar cairan sekret disebut lochia. Ada beberapa
jenis lochia, yaitu:
a. Lochia rubra (cruenta): ini berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, selsel desidua (decidua, yakni selaput lendir rahim dalam keadaan hamil, verniks
caseosa (yakni palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau semacam noda dan
sel-sel epitel, yang menyelimuti kulit janin), lanugo (yakni bulu halus pada anak
yang baru lahir), meconium (yakni isi usus janin cukup bulan yang terdiri atas
getah kelenjar usus dan air ketuban, berwarna hijau kehitaman) selama 2 hari
pasca persalinan.
b. Lochia sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir. Ini
terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
c. lochia serosa: berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ke 714 pasca persalinan.
d. Lochia alba; cairan putih yang terjadinya pada hari setelah 2 minggu.
e. Lochia purulenta; ini karena terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau

busuk.
f. Lochiotosis: Lochia tidak lancar keluarnya.
2. Perubahan vagina dan perineum
a. Vagina
Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-lipatan atau
kerutan-kerutan) kembali.
b. Perlukaan vagina
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering
dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi
sebagai akibat ekstraksi cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar.
Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan
spekulum.
c. Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan berikutnya. Bila ada
laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi (penyayatan mulut serambi
kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) bukanlah penjahitan dan
perawatan dengan baik. (Suherni, 2008)
2.3.4.2 Perubahan pada sistem pencernaan
Selama persalinan, motilitas lambung berkurang terutama akibat nyeri, rasa takut
dan obat narkotika. Hal ini akan kembali normal pada fase 6 minggu setelah
melahirkan. Namun, pada nifas dini, penurunan tonus otot dan motilitas saluran
cerna dapat mengakibatkan relaksasi abdomen, peningkatan distensi gas, dan
konstipasi segera setelah melahirkan.
Defekasi pertama biasanya terjadi dalam 2 atau 3 hari postpartum. Bila ada
obstipasi mungkin akan terjadi demam. Jika terjadi hal demikian dapat dilakukan
klisma atau diberi obat laksantia dan diadakan mobilisasi sedini-dininya.
(Wiknjosatro, 2007)
2.3.4.3 Perubahan sistem perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu, tergantung
pada:
a. Keadaan/ status sebelum persalinan

b. Lamanya partus kala 2 dilalui


c. Besarnya tekanan kepala yang menkan saat persalinan.
Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistoscopie (sistoskopik) segera setelah
persalinan tidak menunjukkan adanya edema dan hiperemia dinding vesika
urinaria, akan tetapi sering terjadi extravasi (extravasation, artinya keluarnya
darah dari pembuluh-pembuluh darah di dalam badan kemukosa).
2.3.4.4 Perubahan sistem muskuloskeletal atau diatesis rectie abdominis
1. Setiap wanita nifas memiliki derajat diathesis/konstitusi (yakni keadaan tubuh
yang membuat jaringan-jaringan tubuh bereaksi secara luar biasa terhadap
rangsangan-rangsangan luar tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka
terhadap penyakit-penyakit tetentu). Kemudian demikian juga adanya rectie/
muskulus rektus yang terpisah dari abdomen. Seberapa diastesis terpisah ini
tergantung dan beberapa faktor termasuk ambulasi (bisa berjalan) 4-8 jam post
partum. Ambulasi dini dianjurkan untuk menghindari komplikasi, meningkatkan
involusi dan meningkatkan cara pandang emosional relaksasi dan mobilisasi
artikulasi pelvic terjadi dalam 6 minggu setelah melahirkan. Motilisasi (gerakan)
dan tonus otot gastrointestinal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 2
minggu setelah melahirkan. Konstipasi terjadi umumnya selama periode
postpartum awal karena penurunan tonus otot usus, rasa tidak nyaman pada
perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim pada periode
postpartum awal karena tekanan pada dasar panggul dan mengejan selama
persalinan. Jumlah sel-sel otot tidak berkurang banyak, namun sel-selnya sendiri
jelas berkurang ukurannya.
2. Abdominis dan peritoneum
Akibat peritonium berkontraksi dan beretraksi pasca persalinan dan juga beberapa
hari setelah itu, peritonium yang membungkus sebagian besar dan uterus,
membentuk lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum
sangat lebih kendor untuk sementara waktu. Hal ini disebabkan karena sebagai
konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung
lama akibat pembesaran uterus selama hamil. Pemulihannya harus dibantu dengan
cara berlatih. Pasca persalinan dinding perut menjadi longgar, disebabkan karena
teregang begitu lama. Namun demikian umumnya akan pulih dalam waktu 6
minggu. (Suherni, 2008)
2.3.4.5 Perubahan tanda-tanda vital pada masa nifas

1. Suhu badan
Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu ibu mungkin naik sedikit, antara 37,2 oC
37,5oC. Kemungkinan disebabkan dari aktivitas payudara.
Bila kenaikan mencapai 38oC pada hari kedua sampai hari-hari berikutnya, harus
diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.

2. Denyut Nadi
Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 x/mnt, yakni pada waktu habis
persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat penuh. Ini terjadi utamanya pada
minggu pertama post partum.
Pada ibu yang nervus nadinya bisa cepat, kira-kira 110x/mnt. Bisa juga terjadi
gejala shock karena infeksi khususnya bila disertai peningkatan suhu tubuh.
3. Tekanan darah
a. Tekanan darah < 140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa meningkat dari pra
persalinan pada 1-3 hari pos partum.
b. Bila tekanan darah menjadi rendah menunjukkan adanya perdarahan post
partum. Sebaliknya bila tekanan darah tinggi, merupakan petunjuk kemungkinan
adanya pre-eklampsi yang bisa timbul pada masa nifas. Namun hal ini seperti itu
jarang terjadi.
4. Respirasi
a. Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa demikian, tidak
lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat
b. Bila ada respirasi cepat pospartum (> 30 x/mnt) mungkin karena adanya ikutan
tanda-tanda syok. (Suherni, 2008)

2.3.5 Tujuan Asuhan Masa Nifas


Menurut Siti (2009) Tujuan dari pemberian asuhan kebidanan pada masa nifas
adalah:
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi
2. Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu
dan bayinya
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi,

KB, cara, manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi sehari-hari


4. Memberikan pelayanan KB
5. Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali. Kunjungan ini
bertujuan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga untuk mencegah,
mendeteksi, serta menangani masalah-masalah yang terjadi

2.3.6 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas


Menurut Suherni, dkk (2009), frekuensi kunjungan, waktu kunjungan dan tujuan
kunjungan masa nifas yaitu :
1. Kunjungan pertama, waktu 6 8 jam setelah post partum
Tujuan :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan yaitu atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan
berlanjut
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
d. Pemberian ASI awal
e. Memberi supervisi kepada ibu bagaimana teknik melakukan hubungan antara
ibu dan bayi baru lahir
f. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. Bila ada bidan
atau petugas lain yang membantu melahirkan, maka petugas atau bidan itu harus
tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama
2. Kunjungan kedua, waktu 6 hari post partum
Tujuan :
a. Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal
b. Evaluasi adanya tanda tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
c. Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat
d. Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda tanda adanya
penyulit

e. Memberikan konseling pada ibu mengenai hal hal berkaitan dengan asuhan
pada bayi
3. Kunjungan ketiga, waktu 2 minggu post partum
Tujuan :
Sama kunjungan seperti hari ke 6
4. Kunjungan keempat, waktu 6 minggu post partum
a. Menanyakan penyulit penyulit yang ada
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini

2.3.7 Perawatan Masa Nifas


1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang 8 jam pasca
persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan kiri untuk mencegah
terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari
ke-3 jalan-jalan dan hari ke-4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi
diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan nifas dan
sembuhnya luka-luka.
2. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan
yang mengandung protein, banyak cairan, sayur sayuran dan buah-buahan.
3. Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita
mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin, juga
oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan.
4. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang
air besar dan terjadi obstipasi apalagi gerak keras dapat diberikan obat pencahar
per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
5. Perawatan payudara (mamma)

Perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas,
tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila payudara
bengkak, maka penatalaksanaannya yaitu :
a. Keluarkan ASI secara manual/ASI tetap diberikan kepada bayi
b. Menyanggapayudara dengan bra yang dapat menyokong payudara dari bawah
c. Kompres dengan kantong es (jika perlu)
d. Pemberian analgetik
e. Pantau suhu tubuh
f. Ikuti perkembangan 3 hari setelah pengobatan
6. Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sesak dari kehamilan telah terjadi
perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu :
a. Proliferasi jaring pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak bertambah
b. Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum
c. Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena
berdilatasi sehingga tampak jelas
d. Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesterone hilang. Maka
timbul pengaruh hormone laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang
air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu
berkontraksi sehingga air susu keluar produksi akan banyak sesudah 2-3 hari
pasca persalinan
7. Cuti hamil dan bersalin
Menurut undang-undang bagi wanita bekerja berhak mengambil cuti hamil dan
bersalin selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin ditambah 2 bulan setelah
bersalin.
2.3.8 Kebutuhan dasar ibu nifas
Menurut Suherni (2008), kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan pada masa
nifas, yaitu:

1. Gizi
Ibu nifas dianjurkan untuk:
a. Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat
b. Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6 bulan
pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua 400 kalori.mengonsumsi
tablet zat besi 1 tablet tiap hari selama 40 hari
c. Mengkonsumsi vitamin A 200.000 IU. Pemberian vitamin A dalam bentuk
suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh
dan meningkatkan kelangsungan hidup anak
2. Kebersihan diri
Ibu nifas dianjurkan untuk:
a. Menjaga kebersihan seluruh tubuh
b. Menganjurkan ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
c. Menyarankan ibu mengganti pembalut setiap kali mandi, BAB/ BAK, paling
tidak dalam waktu 3-4 jam supaya ganti pembalut
d. Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum
menyentuh daerah kelamin
e. Anjurkan ibu untuk sering menyentuh luka episiotomi dan laserasi
3. Istirahat dan tidur
a. Istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan
b. Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur
c. Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan
d. Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan waktu untuk
istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam
Kurang istirahat ibu nifas dapat berakibat:

1) Mengurangi jumlah ASI


2) Memperlambat involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan
3) Depresi
4. Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami perubahan fisik seperti
dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang senggama dan otot dasar panggul.
Untuk mengembalikan kepada keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap
prima, senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu tidak
perlu takut untuk bergerak, karena dengan ambulasi dini (bangun dan bergerak
setelah beberapa jam melahirkan) dapat membantu rahim untuk kembali kebentuk
semula.
5. Hubungan Seks dan Keluarga berencana
a. Hubungan Seks
b. Aman setelah darah merah berhenti, dan ibu dapat memasukkan satu atau dua
jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri
c. Ada kepercayaan/ budaya yang memperbolehkan melakukan hubungan seks
stelah 40 hari atau 6 minngu, oleh karena itu perlu dikompromi antara suami dan
istri
6. Keluarga Berencana
a. Pada dasarnya ibu tidak mengalami ovulasi selama menyusui eksklusif atau
penuh 6 bulan dan ibu belum mendapatkan haid (metode amenore laktasi)
b. Meskipun setiap metode kontrasepsi beresiko, tetapi menggunakan kontrasepsi
lebih aman
c. Metode hormonal, khusunya kombinasi oral (estrogen-progesteron) bukanlah
pilihan pertama bagi ibu yang menyusui, karena dapat mempersingkat pemberian
ASI.
7. Eliminasi :
a. Buang air kecil (BAK)
1) Dalam 6 jam ibu nifas harus sudah bisa BAK spontan, kebanyakan ibu bisa
berkemih spontan dalam waktu 8 jam

2) Urine dalam jumlah yang banyak akan diproduksi dalam waktu 12-36 jam
setelah melahirkan
3) Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam waktu 6 minggu.
b. Buang air besar (BAB)
1) BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena diet cairan, obat-obatan
analgetik, dan perineum yang sangat sakit
2) Bila lebih 3 hari belum BAB bisa diberi obat laksantia
3) Ambulasi secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi BAB
4) Asupan cairan yang adekuat dan diet tinggi serat sangat dianjurkan
8. Pemberian ASI/ LAKTASI
Hal-hal yang perlu diberitahukan:
a. Menyusui bayi segera setelah lahir minimal 30 menit bayi telah disusukan
b. Memberikan ASI eksklusif selam 6 bulan
c. Menyusui bayi sesering mungkin

9. Kebiasaan yang tidak bermanfaat dan bahkan membahayakan


a. Menghindari makanan yang berprotein seperti telur, ikan arena ibu ,menyusui
membutuhkan tambahan protein
b. Penggunaan bebat perut setelah melahirkan
c. Memisahkan ibu dan bayi dalam masa yang lama satu jam post partum
2.4 Bayi Baru Lahir
2.4.1 Pengertian
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram. (Depkes, 2005)
Menurut (Lia, 2005), Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dengan presentasi

belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat pada usia kehamilan genap 37
minggu, sampai dengan 42 minggu dengan berat badan 2500-4000 gram, nilai
apgar 7 dan tanpa cacat bawaan.

2.4.2 Penanganan Bayi Baru Lahir


Tujuan utama perawatan bayi segera stelah lahir adalah :
1. Pencegahan Infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau
kontaminasi mikroganisme selama proses persalinan berlangsung maupun
beberapa saat setelah lahir. Sebelum menangani bayi baru lahir penolong harus
melakukan upaya pencegahan sebagai berikut :
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi.
b. Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi dan apabila
memandikan bayi.
c. Pastikan semua alat yang bersentuhan dengan bayi sterill dan bersih.
(Prawirohardjo, 2008)
2. Penilaian Awal
Begitu bayi lahir segera dilakukan inisiasi pernapasan spontan dengan melakukan
penilaian awal, sebagai berikut:
a. Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat (0-30
detik).
b. Evaluasi data yang terkumpul, buat diagnosis dan tentukan rencana untuk
asuhan bayi baru lahir.
c. Nilai kondisi bayi baru lahir secara cepat dengan mempertimbangkan atau
menanyakan 5 pertanyaan sebagai berikut:
1) Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
2) Apakah bayi bernapas spontan?
3) Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?

4) Apakah tonus/kekuatan otot bayi cukup?


5) Apakah ini kehainilan cukup bulan?
d. Bila kelima pertanyaan tersebut jawabannya Ya, maka bayi dapat diberikan
kepada ibunya untuk segera menciptakan hubungan emosional, kemudian di
lakukan asuhan bayi baru lahir normal sebagai berikut:
1) Keringkan bayi dengan kain/handuk yang bersih, kering dan hangat, kemudian
lingkupi tubuh bayi dengan kain/handuk kering dan hangat yang lain.
2) Bersihkan mulut dan hidung bayi secukupnya. Tidak perlu dilakukan
penghisapan lendir.
3) Hangatkan tubuh bayi (selimuti dengan kain yang kering dan hangat, beri tutup
kepala).
4) Berikan bayi pada ibunya untuk membangun hubungan emosional dan
pemberian ASI secara dini.
(JNPK-KR, 2008)
3. Memotong dan merawat tali pusat
Klem dan potong tali pusat dengan cara:
a. Klem tali pusat dengan kedua klem, pada titik kira-kira 2 cm dan 3 cm dari
pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara klem-klem tersebut.
b. Potonglah tali pusat diantara klem sambil melindungi bayi dan gunting dengan
tangan kiri anda.
c. Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Ganti sarung tangan
anda bila ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusatnya dengan gunting yang steril
atau DTT.
d. Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi perdarahan lakukan
pengikatan ulang yang lebih ketat. (Wiknjosastro, 2005)
4. Mempertahankan suhu tubuh bayi
a. Gantilah handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan selimut dan
jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindungi dengan baik untuk
mencegah keluarnya panas tubuh.

b. Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15 menit
c. Apabila telapak bayi terasa dingin, periksalah suhu aksila bayi
d. Apabila suhu tubuh bayi kurang dari 36,50c, segera hangatkan bayi tersebut
5. Kontak dini dengan ibu
Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin, kontak dini antara ibu dan bayi
penting untuk :
a. Kehangatan mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir
b. Ikatan batin pemberian ASI
c. Anjurkan ibu menyusui bayinya, apabila bayi telah Siap (dengan menujukkan
refleks rooting). Jangan paksakan bayu untuk menyusu.
d. Memberi vitamin K
Semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberrikan vitamin K peroral
1 mg/ hari selama 3 hari, sedangkan bayi yang risiko tinggi diberikan vitamin K
parental dengan dosis 0,5-1 mg/hari.
e. Memberi obat tetes/salep mata
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan
penyakit mata karena klamida (PMS). Obat mata perlu diberikan pada jam
pertama setelah persalinan yang lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atu
Neosporin dan pangsung diteteskan apada mata bayi segera setelah bayi lahir.
f. Identifikasi bayi
Apabila bayi dilahirkan ditempat bersalin yang persalinannya mungkin lebih dari
satu persalinan, maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada
setiap bayi baru lahir dan harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus
tetap ditempatkannya sampai bayi dipulangkan . (Saifuddin, 2002)

2.4.3 Pemeriksaan Bayi Baru Lahir

1. Pemeriksaan tanda tanda vital


Laju jantung bayi baru lahir normal yaitu 110 - 180 x/mnt, Suhu normal yaitu 36,5
c -37,5 c, dan Pernafasan yaitu 40 60 x/mnt.
2. Pemeriksaan antropometri
Panjang badan : panjang badan normal yaitu 48 cm 52 cm
Lingkar kepala : ukuran normalnya 32 35 cm
- Circumferentia suboccsipito-bregmatica = 32 cm
- Circumperentia fronto-occipitalis = 34 cm
- Circumperentia mento-occipitalis = 35 cm
Lingkar dada : ukuran normal yaitu 30cm 33cm
Lingkar lengan atas : ukuran normalnya yaitu 11 14 cm
Berat badan : berat badan normal yaitu 2500 gr 4000 gr
3. Pemeriksaan fisik
Lakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap, dan saat melakukan pemeriksaan
gunakan tempat yang hangat dan bersih, cuci tangan sebelum dan sesudah
pemeriksaan.
Pemeriksaan pertama yaitu kepala, menilai apakah adanya molage, benjolan,
perdarahan, caput, ubun ubun (cekung, cembung atau datar). Mata, menilai
adanya perdarahan, pus, konjungtiva, sklera, letak simetris/tidak, starbismus/tidak
dan tanda tanda infeksi, refleks mengedip (glabellar) bayi akan mengedipkan
mata saat jari mengetuk daerah pangkal hidung. Telinga, menilai adanya
cairan/tidak, daun telinga, dan hubungan letak antara mata dan kepala. Hidung,
menilai kebersihan, polip, dan cuping hidung. Mulut, menilai bibir simetris/tidak,
apakah ada labioskizis/labio palatoskhizis, langit langit terdapat/tidak, refleks
hisap (sucking) dinilai dengan mengamati bayi saat menyusu, refleks menelan
(swalow) yaitu apakah bayi menelan saat menyusu, dan refleks mencari (rooting)
bayi menoleh ke arah benda yang menyentuh pipi. Leher, dinilai apakah ada
pembengkakan, gumpalan. Dada, menilai bentuk, bunyi jantung, bunyi nafas,
pergerakan/retraksi, dan puting susu, bahu, lengan dan tangan, yaitu menilai

gerakan dan jumlah jari apakah sindaktili, polidaktili, atau andaktil dan refleks
menggenggam (grashping) yaitu lakukan dengan meletakan jari ditelapak tangan
bayi apkah bayi menggenggam/tidak, refleks moro lakukan dengan rangsangan
suara keras/bertepuk tangan. Perut, menilai bentuk, penonjolan sekitar tali pusat
saat menangis, perdarahan tali pusat, tiga pembuluh darah, lembek (pada saat
tidak menangis), dan warna. Kelamin laki laki, testis berada dalam skrotum,
penis berlubang dan lubang berada pada ujungnya. Kelamin perempuan, vagina
berlubang / tidak, uretra berlubang/tidak, klitoris, labia mayora dan labia minor.
Tungkai dan kaki, gerakan, simetris/tidak, jumlah jari, refleks (babinsky) bayi
akan meregangkan jarinya saat telapak kaki digores. Punggung, adakah
pembengkakan, ada cekungan/ spina bipida. Anus berlubang/tidak. Kulit, menilai
verniks (tidak perlu dibersihkan karena menjaga kehangatan tubuh bayi), warna,
pembengkakan atau bercak bercak hitam, tanda tanda lahir.
4. Konseling
Jaga kehangatan bayi, pemberian ASI, perawatan tali pusat, awasi tanda tanda
bahaya.
2.4.4 Pemantauan Bayi Baru Lahir
Menurut Saifudin ( 2006), tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk
mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan
bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan
serta tindak lanjut petugas kesehatan.
1. 2 jam pertama sesudah kelahiran
Hal-hal yang perlu dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah
kelahiran, meliputi :
a. kemampuan menghisap kuat atau lemah
b. bayi tampak aktif atau lunglai
c. bayi kemerahan atau biru
2. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayi
Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya
masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut, seperti :

a. bayi kecil untuk masa kehamilan atau kurang bulan


b. gangguan pernafasan
c. hipotermia
d. infeksi
e. cacat bawaan atau trauma lahir
Menurut WHO expert commite (1970) adalah tindakan yang membantu individu
atau pasangan suami isteri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari
kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan,
mengontrol waktu saat kelahiran antara hubungan dengan suami isteri dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

2.4.5 Inisiasi Menyusui Dini dan ASI Eksklusif


2.4.5.1 Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
1. Pengertian
Inisiasi menyusu dini adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di
mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke
puting susu).
Inisiasi menyusu dini akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian
ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui. Dengan demikian, bayi akan
terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.
2. Tahap-tahap dalam Inisiasi Menyusu Dini
a. Dalam proses melahirkan, ibu disarankan untuk mengurangi/tidak
menggunakan obat kimiawi. Jika ibu menggunakan obat kimiawi terlalu banyak,
dikhawatirkan akan terbawa ASI ke bayi yang nantinya akan menyusu dalam
proses inisiasi menyusu dini.
b. Para petugas kesehatan yang membantu Ibu menjalani proses melahirkan, akan
melakukan kegiatan penanganan kelahiran seperti biasanya. Begitu pula jika ibu
harus menjalani operasi caesar.

c. Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa menghilangkan


vernix (kulit putih). Vernix (kulit putih) menyamankan kulit bayi.
d. Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi
melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi dapat
dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu diselimuti.
e. Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari
sendiri puting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu). Pada dasarnya,
bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya.
f. Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, Ibu perlu didukung dan
dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum menyusu. Posisi ibu yang
berbaring mungkin tidak dapat mengamati dengan jelas apa yang dilakukan oleh
bayi.
g. Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai
proses menyusu pertama selesai
h. Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur,
dicap, diberi vitamin K dan tetes mata
i. Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat-gabung. Rawat-gabung memungkinkan
ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi menginginkannya, karena kegiatan
menyusu tidak boleh dijadwal. Rawat-gabung juga akan meningkatkan ikatan
batin antara ibu dengan bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa
dekat dengan ibu, dan selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan
menyusui.

3. Manfaat IMD
a. Manfaat IMD bagi bayi yaitu :
1) Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat, kulit ibu akan menyesuaikan
suhunya dengan kebutuhan bayi. Kehangatan saat menyusu menurunkan risiko
kematian karena hypothermia (kedinginan).
2) Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan dan detak
jantung bayi lebih stabil. Dengan demikian, bayi akan lebih jarang rewel sehingga
mengurangi pemakaian energi.
3) Bayi memperoleh bakteri tak berbahaya (bakteri baik) yang ada antinya di ASI

ibu. Bakteri baik ini akan membuat koloni di usus dan kulit bayi untuk menyaingi
bakteri yang lebih ganas dari lingkungan.
4) Bayi mendapatkan kolostrum (ASI pertama), cairan berharga yang kaya akan
antibodi (zat kekebalan tubuh) dan zat penting lainnya yang penting untuk
pertumbuhan usus. Usus bayi ketika dilahirkan masih sangat muda, tidak siap
untuk mengolah asupan makanan.
5) Antibodi dalam ASI penting demi ketahanan terhadap infeksi, sehingga
menjamin kelangsungan hidup sang bayi.
6) Bayi memperoleh ASI (makanan awal) yang tidak mengganggu pertumbuhan,
fungsi usus, dan alergi. Makanan lain selain ASI mengandung protein yang bukan
protein manusia (misalnya susu hewan), yang tidak dapat dicerna dengan baik
oleh usus bayi.
7) Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil menyusu ASI
eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah 6 bulan.

b. Manfaat IMD bagi ibu


Sentuhan, kuluman/emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang
keluarnya oksitosin yang penting karena:
1) Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan
mengurangi perdarahan ibu
2) Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan
mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri (karena hormon meningkatkan
ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita/bahagia.
3) Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang
berwarna putih) dapat lebih cepat keluar
2.4.5.2 ASI Eksklusif
1. Manfaat utama ASI eksklusif bagi bayi
a. Sebagai nutrisi terbaik
b. Meningkatkan daya tahan tubuh

c. Menigkatkan kecerdasan
d. Meningkatkan jalinan kasih saying
2. Manfaat pemberian ASI
a. Bagi bayi :
1) Mengandung antibodi untuk mencegah infeksi
2) Mudah dicerna oleh bayi
3) ASI yang pertama adalah colostrum yang merupakan imunisasi pertama untuk
bayi.
4) Mengandung vitamin yang cukup (mineral dan zat besi)
5) Menghindarkan bayi dari alergi
b. Bagi ibu :
1) Membantu ibu memulihkan dari proses persalinannya
2) Membantu membuat rahim berkontaksi dengan cepat dan memperlambat
perdarahan
3) Lebih murah dan ekonomis
4) Merupakan KB alami
5) Mencurahkan kasih sayang pada bayi dan membuat bayi merasa nyaman
2.4.5 Tanda-tanda Bahaya Bayi Baru Lahir
Menurut Pinem (2009), tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai pada bayi baru
lahir adalah sebagai berikut:
1. Sulit menyusu
2. Letargi (tidur terus sehingga tidak menyusu)
3. Demam (suhu tubuh >38 0C atau hipotermi <36 0C)

4. Tidak BAB atau tidak berkemih setelah 3 hari lahir (kemungkinan bayi
mengalami atresia ani), tinja lembek, hijau tua, terdapat lendir atau darah pada
tinja
5. Sianosis (biru) atau pucat pada kulit atau bibir, adanya memar, warna kulit
kuning (ikterus) terutama dalam 24 jam pertama
6. Muntah terus-menerus dan perut membesar
7. Kesulitan bernafas atau nafas lebih dari 60 kali per menit
8. Mata bengkak dan bernanah atau berair
9. Mekonium cair berwarna hijau gelap dengan lendir atau darah
10. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk dan berdarah
2.5 Manajemen Kebidanan
2.5.1 Pengetian Manajemen Kebidanan Manajemen kebidanan adalah proses
pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan
pikiran dan tindakan bardasarkan teori ilmiah temuan, keterampilan dalam
rangkaian atau tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang
terfokus pada klien. (Salmah, 2006)
2.5.2 Proses Manajemen Kebidanan Manajemen kabidanan yang dilakukan dalam
asuhan kebidanan yaitu dengan tujuh langkah varney:
1. Pengumpulan Data Dasar Menurut Simatupang (2006), pada langkah pertama
dilakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data yang diperlukan untuk
mengevaluasi keadaan klien secara lengkap yaitu:
a. Riwayat kesehatan
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya
c. Meninjau cacatan terbaru atau catatan sebelumnya
d. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi Pada
langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari sumber yang
berkaitan dengan kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang
lengkap.
4. Interpretasi Data Dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar
terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang
benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data-data yang sudah dikumpulkan
diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa secara spesifik
masalah dan diagnosa keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat
diselesaikan seperti diagnosa tetapi sesungguhnya membutuhkan penanganan
yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah sering
berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh
bidan sesuai dengan hasil pengkajian, masalah juga sering menyertai diagnosa.
5. Mengidentifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial dan Mengantisipasi
Penanganannya Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa
potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah
diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan
dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-

siap bila doagnosa/ masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini
penting sekali melakukan asuhan yang aman.
6. Menetapkan Kebutuhan akan Tindakan Segera Langkah ke empat ini
mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi
manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal
saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya
pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.
7. Menyusun Rencana yang Menyeluruh Pada langkah ini direncanakan akan
asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah
ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah
diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi atau data dasar yang
tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya
meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah
yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita
tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, oleh karena itu
pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan
pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama
sebelum melaksanakannya.
8. Pelaksanaan Langsung Asuahan dengan Efisiensi dan Aman Pada langkah ke
enam ini rencanakan asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada
langkah ke 5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa
dilakukan seluruhnya oleh bidan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim
kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul
tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya memastikan
langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana). Dalam situasi dimana bidan
dalam manajemen asuahn bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen
yang efisien akan meningkatkan mutu dari asuhan klien.
9. Mengevaluasi Pada langkah ke 7 ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan
yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benarbenar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di
dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika
memang benar efektif pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian
rencana tersebut telah sedang sebagian belum efektif.
2.5.3 Dokumentasi SOAP Menurut Simatupang (2006) yang mengutip pernyataan
Varney pendokumentasian dalam bentuk SOAP yaitu :
S (Subjektif)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui
anamnesa sebagai langkah I Varney.
O (Objektif) Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien
hasil laboratorium dan test diagnostik lain dirumuskan dalam data fokus untuk
mendukung asuhan senagai langkah I Varney.

A (Assasment) Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi


data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi:
1. Diagnosa masalah
2. Anitisipasi Diagnosa / Masalah Potensial
3. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/ kolaborasi dan atau
rujukan sebagai langkah 2, 3 dan 4 Varney
P (Planning) Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan,
Implementasi (I) dan
Evaluasi (E) berdasarkan Assasment sebagai langkah 5,6 dan 7 Varney.