Anda di halaman 1dari 11

Pendekatan Sosial Dalam Kesehatan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam kehidupan yang sifatnya dinamis ini, manusia sebagai makhluk sosial tidak akan
pernah bisa lepas dari individu-individu yang lain. Sehingga mereka akan selalu bersentuhan
dengan indvidu lainnya, dengan kelompok individu, bahkan antara kelompok individu dengan
kelompok individu yang lain, atau dalam dunia sosial lebih dikenal dengan istilah Interaksi
Sosial. Interaksi sosial yang terbangun melahirkan gejala-gejala sosial (fakta sosial) dalam
kehidupan masyarakat. Ilmu sosial hadir dengan tujuan untuk membangun pemahaman atas
setiap fakta sosial yang terjadi ditengah masyarakat. Pemahaman tersebut dapat ditempuh
melalui pengamatan sosial. Pengamatan sosial tidak hanya dilakukan dengan satu cara dan dari
satu sudut pandang sosial saja, sehingga hal ini kemudian melahirkan banyak metodologi yang
dapat dipergunakan dalam melakukan pengamatan sosial. Diantara metodologi yang ada salah
satunya adalah Etnometodologi.
Pengamatan atas fakta sosial yang dilakukan oleh ahli ilmu sosial dewasa ini masih
terklasifikasi dalam dua wilayah objek kajian, yakni pengamatan yang dititikberatkan pada
persoalan-persoalan makro, dan pengamatan yang tertuju pada persoalan-persoalan mikro. Emile
Durkheim misalnya, adalah salah satu tokoh sosiologi yang menempatkan pengamatannya pada
persoalan makrososiologi (struktur sosial dan pranata sosial). Durkheim berangkat dari
pemahaman bahwa fakta sosial berada diluar dan bersifat memaksa individu untuk mengikuti
struktur dan peranata sosial yang ada. Kemudian adalah Max Weber salah satu tokoh termasyhur
dalam dunia sosiologi yang meletakkan pengamatan pada wilayah mikrososiologi seperti
Tindakan Sosial. Weber berangkat dari pemahaman bahwa individulah yang membangun struktur
sosial, sehingga mengamati persoalan sosial tidak bisa langsung tertuju pada struktur sosial
(makrososiologi) yang ada namun harus diawali dengan mengamati tindakan sosial individu
(mikrososiologi).

Berbeda dengan kedua tokoh ahli sosiologi diatas, Harold Garfinkel sebagai pencetus
teori Etnometodologi melihat fakta sosial sebagai sesuatu yang fundamental dalam kehidupan
sosial. Sehingga dalam penggunaannya Etnometodologi tidak terpaku pada hal-hal yang sifatnya
makro maupun mikro, namun memusatkan pengamatannya pada interaksi sosial yang dilakukan
manusia dalam kesehariannya, salah satunya melalui pengamatan Etnometodologi atas
percakapan sehari-sehari yang dilakukan manusia.
Etnometodologi meletakkan studi mengenai kegiatan manusia sehari-hari atas dasar
common sense. Realitas common sense dan eksisitensi sehari-hari manusia merupakan
kepentingan praktis dalam kehidupan sosial. kepentingan praktis kemudian dilawankan dengan
kepentingan ilmiah (teoritis). Teori ilmiah membangun pemahaman atas realitas sosial melalui
penelitian yang sisitematis dan teoritis. Bagi Alferd Schutzs (tokoh sosial yang mempengaruhi
Garfinkel dalam melahirkan teori Etnometodologi) manusia bergerak bukan berdasarkan teori
ilmiah melainkan atas dasar common sense atau kepentingan praktis. Pada wilayah inilah
(kepentingan praktis) etnometodologi hadir sebagai alat pengamatan pergerakan keseharian
manusia untuk membangun pemahaman utuh atas fakta sosial yang tengah tertebar di
masyarakat.
Diakui secara luas bahwa ketidakseimbangan dalam masyarakat sebagai masalah utama
perselisihan sosial yang mengenai sebuah aspek kehidupan sosial. Hal ini tidak mengurangi
masalah dalam hal kesehatan negara dan bentuk-bentuk cara penggunaan pelayanan kesehatan.
Oleh karena itu penulis akan membahas tentang bagaimana pendekatan teori sosial dalam dunia
kesehatan khususnya.
B.
1.
2.
3.

Rumusan masalah
Gaya hidup dan kesehatan
Teori sosial dalam kesehatan
Pendekatan untuk mengubah perilaku

C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tujuan
Menjelaskan Gaya hidup dan kesehatan
Menjelaskan Teori sosial dalam kesehatan
Teori Perilaku Individu
Teori Sosial Kognitif
Teori perilaku interpersonal
Teori motivasi untuk proteksi
Menjelaskan pendekatan untuk mengubah perilaku

BAB II
PEMBAHASAN
A. Gaya Hidup
Gaya hidup menurut Kotler (2002, p. 192) adalah pola hidup seseorang di dunia yang
diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan
diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup menggambarkan seluruh
pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Menurut Assael (1984, p. 252), Gaya
hidup adalah A mode of living that is identified by how people spend their time (activities),
what they consider important in their environment (interest), and what they think of themselves
and the world around them (opinions).
Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini
khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup
merupakan frame of reference yang dipakai sesorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya
akan membentuk pola perilaku tertentu.
B. Kesehatan
Sehat adalah suatu keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi
seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Menurut
WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara
fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Definisi WHO
tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang
positif (Edelman dan Mandle. 1994):
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal

3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.


UU No.23, 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari
unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral
kesehatan.
pengertian yang paling luas, sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana
individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis,
Intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (Iingkungan fisik, social dan ekonomi) dalam
mempertahankan kesehatannya
C. Pola Hidup Kesehatan
Pengertian pola hidup sehat adalah suatu gaya hidup dengan memperhatikan faktor-faktor
tertentu yang memengaruhi kesehatan, antara lain makanan dan olahraga. Selain itu, gaya hidup
seseorang juga mempengaruhi tingkat kesehatannya. Misalnya, seorang perokok atau sering
minum-minuman keras, tentu saja itu bukan pola hidup sehat.
D. Gaya Hidup Menentukan Kesehatan
a. Merokok: ada 4000 macam racun yang terkandung dalam sebatang rokok. Racun-racun yang
b.

utama adalah zat kimia, nikotin, tar, timah hitam, dan gas karbonmonoksida.
Minum-minuman keras: Menurut WHO, mengonsumsi minuman keras dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Dampak negatif minuman beralkohol bahkan mengalahkan dampak
negatif narkoba (opium,

kokain,

dan

lain-lain). Dalam

majalah Medicine

Internasional,

disebutkan segudang efek buruk mengonsumsi minuman keras, berupa gangguan tenggorokan
dari mulai radang, pendarahan, hingga yang terburuk adalah kanker tenggorokan.Selain itu,
minuman beralkohol juga mengakibatkan radang pankreas, wasir, liver, gangguan pencernaan,
gangguan pernafasan, serta berbagai penyakit lain yang berujung pada kematian.
c. Terlalu banyak mengkonsumsi obat kimia: Sesungguhnya, obat bukanlah solusi untuk sehat.
Obat kimia dalam resep dokter maupun obat-obatan yang dijual bebas di warung sejatinya hanya
meredakan gejala, namun tidak mengobati penyakit. Jika dikonsumsi terus-menerus, obat-obatan
kimia dalam jangka panjang akan menimbulkan sejumlah efek samping seperti gangguan
hati, ginjal, dan jantung. Komplikasi berbagai penyakit ini dapat berujung pada kematian.

E. Teori Sosial dalam Kesehatan


a. Teori Perilaku Individu
Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yang
disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu. Perilaku
individu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat adanya rangsangan (stimulus) baik
dari dalam dirinya sendiri (internal) maupun dari luar individu (eksternal). Pada hakekatnya
perilaku individu mencakup perilaku yang tampak (covert behaviour) dan perilaku yang tidak
tampak (inert behavior atau covert behavior). Perilaku yang tampak adalah perilaku yang dapat
diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat bantu, sedangkan perilaku yang tidak tampak
adalah perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan alat atau metode tertentu,
misalnya berpikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut.
Tiap individu adalah unik, dimana mengandung arti bahwa manusia yang satu berbeda
dengan manusia yang lain dan tidak ada dua manusia yang sama persis di muka bumi ini,
walaupun ia dilahirkan kembar. Manusia mempunyai ciri-ciri, sifat, watak, tabiat, kepribadian,
dan motivasi tersendiri yang membedakannya dari manusia lainnya. Perbedaan pengalaman yang
dialami individu pada masa silam dan cita-citanya kelak dikemudian hari, menentukan perilaku
individu di masa kini yang berbeda-beda pula.

Perilaku manusia terbentuk karena adanya

kebutuhan. Menurut Maslow, manusia memiliki 5 kebutuhan dasar, yaitu: kebutuhan fisiologis/
biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, dan
kebutuhan aktualisasi diri.
(a) Faktor-faktor mempengaruhi Perilaku
Menurut Green (2000), perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: faktor predisposisi (
predisposing factor), faktor pemungkin (enabling factor), dan faktor penguat (reinforcing factor)
(Notoatmodjo, 2003; Green, 2000)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensori khususnya mata dan
telinga terhadap obyek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbetuknya perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku yang didasari pengetahuan umumnya
bersifat langgeng
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek, baik yang bersifat
intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat
ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Sikap secara realitas
menunjukkan adanya kesesuaian respon terhadap stimulus tertentu ( Sunaryo, 2004; Purwanto,
1999 )

Tingkatan respon adalah menerima (receiving), merespon (responding), enghargai (valuing), dan
bertanggung jawab (responsible) (Sunaryo, 2004; Purwanto, 1999 )
Nilai-nilai atau norma yang berlaku akan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai atau
norma yang telah melekat pada diri seseorang ( Green, 2000 )
Kepercayaan: Seseorang yang mempunyai atau meyakini suatu kepercayaan tertentu aka
mempengaruhi perilakunya dalam menghadapi suatu penyakit yang akan berpengaruh terhadap
kesehatannya
(b) Persepsi
Persepsi merupakan proses yang menyatu dalam diri individu terhadap stimulus yang
diterimanya. Persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang
yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan
merupakan respon yang menyeluruh dalam diri individu. Oleh karena itu dalam penginderaan
orang akan mengaitkan dengan stimulus, sedangkan dalam persepsi orang akan mengaitkan
dengan obyek. Persepsi pada individu akan menyadari tentang keadaan sekitarnya dan juga
keadaan dirinya. Orang yang mempunyai persepsi yang baik tentang sesuatu cenderung akan
berperilaku sesuai dengan persepsi yang dimilikinya
Motivasi mempunyai arti dorongan, berasal dari bahasa latin movere, yang berarti mendorong
atau menggerakkan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk berperilaku, beraktifitas
dalam pencapaian tujuan. Motivasi itu bersifat alami dan kebutuhan, motivasi itu timbul karena
adanya kebutuhan seseorang yang harus segera dipenuhi untuk segera mencapai tujuan. Motivasi
sebagai motor penggerak, maka bahan bakarnya adalah kebutuhan
b. Teori Sosial Kognitif
Asumsi dasar dari Social cognitive theory adalah perilaku terjadi karena proses kognitif
dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan disekitarnya. Menurut Piaget,
perkembangan kognitif mempunyai empat aspek:

Kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan saraf


Pengalaman, yaitu berhubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya
Interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan

lingkungan sosial
Ekulibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu
mamu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya

System yang mengatur dari dalam mempunyai dua faktor, yaitu skema dan adaptasi, Skema
berhubungan dengan pola tingkah laku yang teratur yang diperhatikan oleh organisme yang
merupakan akumulasi dari tingkah laku yang sederhana hingga yang kompleks sedangkan
Adaptasi adalah fungsi penyesuaian terhadap lingkungan yang terdiri atas proses asimilasi dan
akomodasi . Ada beberapa konsep yang perlu dimengerti agar lebih mudah memahami teori
kognitif:

Intelegensi: suatu bentuk ekuilibriun kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi,

kebiasaan dan mekanisme sensiomotor diarahkan


Organisasi adalah tendensi yang umum untuk semua bentuk kehidupan guna nmengintegrasikan

struktur, baik yang psikis ataupun fisiologis dalam suatu sistem yang lebih tinggi
Skema, suatu struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengan

lingkungan sekitarnya
Asimilasi, proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya

c.

Teori Perilaku Interpersonal


Triandis (1980) mengembangkan teori perilaku interpersonal. Teori ini mengusulkan bahwa
minat perilaku ditentukan oleh perasaan yang dimiliki manusia terhadap perilaku, apa yang
mereka pikirkan tentang yang seharusnya dilakukan,dan konsekuensi ekpektasian dari perilaku
kemudian akan dipengaruhi oleh kebiasaan dan juga kondisi pemfasilitasi.
J.W dalam memahami konsep keperawatan, terkenal dengan teori pengetahuan manusia dan
merawat manusia. Tolak ukur pandangan JW ini didasari pada unsur teori kemanusiaan. Teori
JW ini memahami bahwa manusia memiliki Empat cabang kebutuhan yang saling berhubungan,
diantaranya :

Kebutuhan Dasar Biofisikal (Kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan Makan dan

Cairan, Kebutuhan Eliminasi, dan Kebutuhan Ventilasi


Kebutuhan Dasar Psikofisikal (Kebutuhan Funsional) yang meliputi Kebutuhan Aktifitas dan

Istirahat, serta Kebutuhan Sexualitas.


Kebutuhan dasar Psikososial (Kebutuhan untuk Integrasi) yang meliputi Kebutuhan untuk

Berprestasi dan Berorganisas


Kebutuhan dasar Intrapersonal dan Interpersonal (Kebutuhan untuk Pengembangan) yaitu
Kebutuhan Aktualisasi Diri.

Berdasarkan empat kebutuhan tersebut, JW memahami bahwa manusia adalah mahluk yang
sempurna, yang memiliki berbagai macam ragam perbedaan. Sehingga dalam upaya mencapai
kesehatan, manusia seharusnya dalam keadaan sejahtera, baik fisik, mental dan spiritual. Karena
sejahtera merupakan keharmonisan antara pikiran, badan dan jiwa. Sehingga untuk mencapai
keadaan tersebut, keperawatan harus berperan aktif dalam upaya meningkatkan status kesehatan,
mencegah terjadinya penyakit, mengobati berbagai penyakit dan upaya penyembuhannya, yang
fokusnya terdapat pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
d. Teori Motivasi untuk Proteksi
Teori Motivasi Perlindungan mengusulkan bahwa kita melindungi diri kita sendiri didasarkan
pada empat faktor: keseriusan dengan peristiwa yang mengancam, kemungkinan dirasakan
kejadian, atau kerentanan, efektivitas perilaku pencegahan yang disarankan, dan yang
dirasakan self efficacy.
Perlindungan motivasi berasal dari kedua penilaian ancaman dan penilaian coping. Penilaian
ancaman menilai keparahan situasi dan meneliti bagaimana seriusnya situasi ini. Penilaian
mengatasi adalah bagaimana seseorang merespons situasi. Penilaian mengatasi terdiri dari
kedua keberhasilan
melaksanakan

dan

efektivitas

rekomendasi

dapat

diri. Keberhasilan
menghapus

adalah

ancaman

harapan

individu

tersebut. Self-efficacy

yang
adalah

kepercayaan dalam kemampuan seseorang untuk menjalankan program yang direkomendasikan


tindakan sukses seperti Pencegahan primer yaitu mengambil tindakan untuk memerangi risiko
mengembangkan

masalah

kesehatan. (Misalnya,

mengendalikan

berat

badan

untuk

mencegah tekanan darah tinggi) dan pencegahan sekunder yaitu mengambil langkah untuk
mencegah kondisi menjadi lebih buruk. (Misalnya, mengingat untuk mengambil obat setiap hari
untuk mengontrol tekanan darah)
(a) Mengatasi-Penilaian Proses
Penilaian mengatasi terdiri

dari

efektivitas

tanggapan,

self-efficacy,

dan

biaya

respon. Kemanjuran Respon adalah efektivitas dari perilaku yang dianjurkan dalam
menghilangkan atau mencegah bahaya yang mungkin. Self-efficacy adalah keyakinan bahwa
salah satu berhasil dapat menetapkan perilaku yang direkomendasikan. Biaya respon adalah
biaya yang berkaitan dengan perilaku yang direkomendasikan. Jumlah mengatasi kemampuan
yang satu pengalaman adalah kombinasi khasiat respon dan efektivitas diri, minus biaya

respon. Proses penilaian koping berfokus pada respon adaptif dan kemampuan seseorang untuk
mengatasi dan menangkal ancaman tersebut. Penilaian mengatasi adalah jumlah dari penilaian
dari efektivitas tanggapan dan self-efficacy, dikurangi fisik atau psikologis "biaya" mengadopsi
respon pencegahan yang direkomendasikan. Mengatasi Penilaian melibatkan penilaian individu
terhadap efektivitas respon perilaku yang direkomendasikan (yaitu dianggap efektivitas tabir
surya dalam mencegah penuaan dini) serta satu yang dirasakan self-efficacy dalam melaksanakan
tindakan yang direkomendasikan. (Yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat menggunakan tabir
surya secara konsisten).
Ancaman dan variabel penilaian mengatasi menggabungkan dengan cara yang cukup mudah,
meskipun penekanan relatif dapat bervariasi dari satu topik ke topic yang lain dan dengan
populasi target. Dalam bukunya, "Stres, Penilaian, dan Coping," Richard Lazarus menyatakan
bahwa, "menyarankan studi untuk mengatasi bahwa gaya yang berbeda untuk mengatasi terkait
dengan hasil kesehatan tertentu; kontrol kemarahan, misalnya, telah terlibat dalam hipertensi
Tiga rute. Mengatasi dapat mempengaruhi kesehatan meliputi frekuensi, intensitas, durasi, dan
pola reaksi stres neurokimia; menggunakan zat berbahaya atau melakukan kegiatan yang
menempatkan orang pada risiko, dan menghambat kesehatan adaptif / penyakit yang
berhubungan dengan perilaku
(b) Khasiat Respon
Kemanjuran Respon menyangkut keyakinan yang mengadopsi respons perilaku tertentu akan
efektif dalam mengurangi ancaman penyakit', dan self-efficacy adalah keyakinan bahwa salah
satu berhasil dapat melakukan respon coping. Sejalan dengan cara tradisional untuk mengukur
konsekuensi dari perilaku, keberhasilan respon yang dioperasionalkan dengan menghubungkan
konsekuensi dengan perilaku yang dianjurkan serta apakah subjek dianggap sebagai konsekuensi

kemungkinan hasil dari perilaku yang dianjurkan


Kotter (1996) berpendapat bahwa proses perubahan dilakukan melalui tahapan berikut:
Menentukan rasa urgensi, yaitu mengidentifikasi dan mempelajari situasi internal dan eksternal

yang dihadapi
Menciptakan koalisi pengerahan, membentuk kelompok kerja sebagai tim.
Membangun visi dan strategi, yaitu menciptakan visi untuk mengarahkan usaha perubahan dan

mengembangkan strategi untuk mencapai visi.


Mengkomunikasikan visi yang telah berubah. Agar dipahami dan mendapatkan dukungan
Pemberdayaan aksi secara luas, yaitu struktur, sistem dan mekanisme perlu diubah, disesuaikan
dengan visi

Membangkitkan kemenangan jangka pendek, yaitu perlu segera memberikan bukti keberhasilan

dan kemenangan.
Mengkonsolidasikan keuntungan dan menghasilkan perubahan lebih lanjut, dengan
menggunakan peningkatan-peningkatan kredibilitas-kredibilitas merubah semua sistem, struktur,

dan kebijakan yang tidak sesuai dengan perubahan


Menancapkan pendekatan baru ke dalam budaya, dengan menciptakan kinerja lebih baik melalui
pelayanan dan orientasi produktifitas

F. Pendekatan untuk Mengubah Perilaku


Dua cara pendekatan yang secara tradisional dilakukan oleh pemerintah adalah
(a) pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan meliputi pemberian informasi secara sederhana tentang risiko kesehatan,
pemberian label pada makanan dan rokok
(b) Peraturan perundangan walaupun kurang populer, apalagi dilakukan dengan memberikan
larangan yang ternyata efektif menurunkan kejadian cirrhosis liver
G. Faktor Psikososial mempengaruhi Perilaku Kesehatan
Selain perilaku individu berpengaruh terhadap status kesehatan seseorang, banyak faktor lain
yg berpengaruh, seperti lingkungan sosial, faktor demografi (ras, gender, status perkawinan), dan
yg paling penting sbg prediktor adalah status sosial ekonomi (income, pendidikan, dan status
pekerjaan)
Teori perilaku kesehatan meliputi the health belief model dan theory of self efficacy atau
locus of control, fokus pada sikap dan kepercayaan individual sebagai penentu perilaku mereka.
Perspektif lebih luas adalah the ecological model of health behavior, yg memperhitungkan
semua tingkatan pengaruh terhadap sikap dan kepercayaan meliputi hubungan inter-personal,
institutional, dan public policy seperti Peraturan dan Undang-Undang
H. Program Intervensi Paling Efektif
Program intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif adalah mempengaruhi
kepercayaan masyarakat pada berbagai tingkatan dengan sasaran menciptakan lingkungan sosial
yang nyaman untuk berperilaku sehat. The San Francisco AIDS prevention program adalah
contoh program yg berhasil menurunkan secara signifikan penularan penyakit HIV, namun

memang diperlukan pemeliharaan dari sukses program ini untuk mencegah kambuhnya lagi
perilaku yang tidak sehat.
Peningkatan public health advocacy disadari menjadi cara yg paling paling efektif
meningkatkan perilaku sehat dengan cara melibatkan seluruh masyarakat dalam meningkatkan
lingkungan sosial dan fisik yg kondusif untuk berperilaku sehat

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di era moderenisasi Teori pendekatan social dalam masyarakat bermanfaat sekali untuk di
pelajari untuk bersosialisasi dengan masyarakat luas, dan dapat bermanfaat dalam kehidupan
sehari-hari . Terlebih lagi sebagai seorang perawat yang professional kita di tuntut agar bias
melakukan pendekatan bersosialisai dengan individu itu sendiri , dan masyarakat yang luas agar
dapat mewujudkan pola hidup sehat.
B. Saran
Semoga wacana yang kami sajikan ini dapat diimplementasikan sebagaimana mestinya
mengingat kita adalah calon-calon tenaga kesehatan

Daftar pustaka
http://resosialita.blogspot.com/2012/05/makalah-teori-sosial-etnometodologi.html
http://faisalahmadfani.blogspot.com/2012/10/mengenal-sosiologi-kesehatan.html
http://muhammadsyamsuddin.blogspot.com/2012/10/makalah-teori-sosial-historis.html
http://e-medis.blogspot.com/2013/01/sub-bidang-keilmuan-dalampendidikan.html#.UaqjQ9hCYbs