Anda di halaman 1dari 23

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 02 Mei 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh:
Nama Peserta

: Desita Permatasari

Dengan judul/topik : Gangguan Mental dan Perilaku Ringan Yang Berhubungan Dengan Masa Nifas YTK
Nama Pendamping : dr.Siti Rahmaniah
Nama Wahana

No
.

: RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh / Kota Banjarmasin

Nama Peserta Presentasi

No
.

10

10

11

11

Tanda Tangan

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.
Pendamping

( dr. Siti Rahmaniah )

Borang Portofolio
Nama Presentan : dr. Desita Permatasari
Nama Wahana: RSUD Dr.H.Moch.Ansari Saleh, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Topik: Kasus Jiwa
Tanggal (kasus): 19 April 2016
Nama Pasien: Ny. RA

No. RM : -

Tanggal Presentasi: 02 Mei 2016

Nama Pendamping: dr.Siti Rahmaniah

Tempat Presentasi: Ruang Komite Medik


Obyektif Presentasi:
Keilmuan
Diagnostik
Neonatus

Keterampilan
Manajemen
Bayi

Penyegaran
Masalah
Anak

Tinjauan Pustaka
Istimewa
Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi: Seorang perempuan 20 tahun dengan keluhan sering menangis sendiri, tidak bisa tidur, murung sesudah melahirkan
Tujuan: Mengetahui diagnosis pasien dengan gangguan jiwa dan melakukan tatalaksana secara cepat dan tepat.

Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Cara membahas:

Diskusi

Data pasien:

Riset

Presentasi dan diskusi

Nama: Ny. NA

Nama Klinik: Poli Jiwa

Kasus

Audit

Email

Pos

Nomor Registrasi: Telp: -

Terdaftar sejak: 19 April 2016

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis/Gambaran Klinis : Seorang perempuan 20 tahun diantar suaminya dengan keluhan sering menangis, sulit tidur sesudah
melahirkan, pasien bahkan tidak dapat mengurus bayinya yang baru berusia 1 bulan
2. Riwayat Pengobatan : pasien belum pernah berobat untuk keluhan saat ini

3. Riwayat Penyakit Dahulu : pasien belum pernah mengalami hal seperti ini

4. Riwayat Keluarga : tidak ada riwayat keluarga yang seperti ini

5. Riwayat Pekerjaan : ibu rumah tangga

6. Riwayat kebiasaan dan psikososial: pasien tinggal bersama dengan suami. Pasien tidak bekerja dan sehari-hari berperan sebagai ibu rumah
tangga.
7. Riwayat imunisasi: tidak diketahui

RIWAYAT PSIKIATRI
Diperoleh dari alloanamnesa pada tanggal 19 April 2016 pada pukul 10.35 wita dan dengan suami os
Keluhan utama : Menangis tanpa sebab
Keluhan tambahan : Tidak bisa tidur, sering melamun dan merasa tidak berguna
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Alloanamnsesis dengan Tn BS / 25 tahun / Suami os
Suami os mengatakan os mengalami perubahan sikap sejak dua minggu yang lalu (awal bulan April 2016), pasien sering menangis tanpa sebab.Pasien juga
tidak mau bicara, os hanya mau mengangguk dan tidak mau menjawab jika diberi pertanyaan oleh keluarga dekat. Pasien tampak murung dengan tatapan mata
kosong dan hanya berdiam diri dirumah. Selain itu pasien juga tidak bisa tidur, tidak mau mandi dan makan sehingga harus dibantu bahkan dipaksa oleh
keluarga terutama oleh suami pasien yang tinggal serumah. Pasien tampak tidak bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari bahkan tidak dapat mengurus
bayinya yang baru berusia 1 bulan. Setiap kali melihat anak os, os merasa khawatir dan cemas.Os merasa dirinya tidak berguna sebagai ibu karena tidak dapat
mengurus anaknya. Waktu luang hanya digunakan untuk melamun dan menyendiri. Pasien baru saja menjadi seorang ibu dan memiliki anak pertama saat
masih berusia muda 20 tahun.
Pasien menikah dengan suami pada bulan Mei 2014. Mereka sempat tinggal dengan kedua orang tua pasien di kota Sampit, namun kemudian akhirnya pasien
pindah hingga beberapa kali dan terakhir tinggal di daerh Anjir Muara Lama dengan suaminya. Pada bulan Juli 2015 pasien akhirnya mengandung anak
pertama dari pernikahan dengan suaminya. Awalnya pasien sempat khawatir tidak bisa punya anak karena sudah 1 tahun menikah belum dikaruniai anak
sehingga anak yang pertama ini sangat diinginkan dan ditunggu kehadirannya. Selama kehamilan tidak ada masalah kesehatan yang serius pasien hanya
mengkonsumsi vitamin dari Puskesmas disekitar rumah.
Menurut cerita dari suami, os memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayah os. Saat os masih tinggal dengan keluarganya, os sering mendapat pukulan
dari ayah os. Hal itu terjadi karena pada saat kedua orang tuanya bertengkar, os selalu mencoba untuk melerai pertengkaran kedua orang tuanya tersebut. Os
juga merasa dipilih kasihkan oleh kedua orang tuanya dibanding dengan saudara os yang lain. Orang tua os juga sempat menentang pernikahan os dengan
suami yang sekarang karena hendak menjodohkan os dengan lelaki pilihan orangtuanya yang lebih kaya. Os merasa kecewa dengan keputusan kedua orang
tuanya sehingga mengancam tidak akan menikah selamanya jika tidak dinikahkan dengan suaminya yang sekarang. Dan akhirnya orang tua os merestui
pernikahan os. Pasien termasuk anak yang cukup periang dan bisa saja bergaul terutama pada teman-teman sekolah, namun tertutup terutama saat pasien
memiliki masalah pribadi. Pasien hanya menceritakan semua masalah yang dialaminya secara terbuka hanya pada suaminya.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Riwayat Psikiatri: pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya yang mengharuskan pasien dirawat di rumah sakit.
Riwayat Gangguan Medik: DM (-), HT (-) tidak pernah rawat inap
Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif: tidak ada riwayat menggunakan atau menyalahgunakan obat-obat terlarang maupun alkohol
RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
1. Riwayat Prenatal dan Antenatal: Data tidak akurat karena os tidak didampingi oleh keluarga os.
2. Riwayat Masa Bayi ( 0-1,5 tahun) (Infancy: Trust vs Mistrust): Data tidak akurat karena os tidak didampingi oleh keluarga os.
3. Riwayat Masa Batita (1,5-3 tahun) (Early childhood: Autonomy vs Shame,doubt): Data tidak akurat karena os tidak didampingi oleh keluarga os
4. Riwayat Masa Kanak-Kanak Awal (3-6 tahun) ( Preschool age: Initiative vs Guilt): Data tidak akurat karena os tidak didampingi oleh keluarga os.
5. Riwayat Masa Kanak-Kanak Pertengahan dan Akhir (6-12 tahun) (School age: Industry vs Inferiority: Pasien menempuh pendidikan hingga MAN.
Prestasi pasien cukup memuaskan, masuk dalam peringkat 5 besar dikelas.
6. Riwayat Masa Remaja (11-20 tahun) ( Adolescence: Identity vs Confusion): Pasien termasuk anak yag periang dan mudah bergaul dengan teman
sekolahnya, namun jika ada masalah suka dipendam sendiri, tidak terbuka atau berdiskusi dengan lainnya.
7. Riwayat pendidikan: Pasien bersekolah hingga lulus MAN, tidak melanjutkan kuliah, sebab memilih untuk menikah.
8. Riwayat pekerjaan: Os berperan sebagai ibu rumah tangga.
9. Riwayat perkawinan: Os menikah dengan suami os saat usia os 18 tahun dan dikaruniai anak 1 tahun kemudian.
10. Riwayat Hukum : Pasien sebelumnya dan saat ini sedang tidak berurusan dengan hukum.
11. Riwayat Aktivitas Sosial : Pasien jarang beraktivitas sosial bersama teman dan warga sekitar.

RIWAYAT KELUARGA

Herediter (-)
Keterangan :
= Pasien
= Laki-laki
= Wanita
= Meninggal
Didalam keluarga os tidak ada memiliki keluhan yang sama.
RIWAYAT SITUASI SEKARANG
Os tinggal bersama suaminya. Kehidupan sehari-hari pasien dibiayai oleh suami os. Setelah melahirkan, pasien tampak suka melamun, menyendiri,
menangis tanpa sebab, sulit diatur bahkan tidak bisa mengurus anaknya. Suami pasien setia menemani pasien berobat. Pasien hanya mengangguk apabila
diberi pertanyaan hingga berkali-kali oleh keluarganya. Pasien mendapat banyak motivasi terutama dari keluarga suami pasien melebihi dari kedua orang
tua pasien.

PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA


Sulit dinilai, sebab pasien tidak menjawab setiap pertanyaan yang diajukan
STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
Penampilan
Pasien datang ke poli jiwa RSUD DR. Moch Ansari Saleh Banjarmasin didampingi oleh suami dan keluarga suaminya. Pasien seorang ibu muda
berperawakan sedang. Pasien mengenakan baju terusan berwarna merah muda, memakai sendal dan jilbab hitam panjang. Pasien tampak terawat bersih
dan berpenampilan sesuai dengan usia. Pasien tampak berdiam diri. Mata pasien tidak dapat menatap mata pemeriksa. Selama diberi pertanyaan, pasien
tidak bisa menjawab dengan spontan dan lancar. Pasien lebih banyak menunduk. Cara berjalan pasien biasa, posisi tubuh agak bungkuk dan gerakan
tubuh terlihat hipoaktif.
Kesadaran
E4 V5 M6 jernih
Perilaku dan aktivitas psikomotor
Hipoaktif
Pembicaraan
Mutisme
Sikap terhadap pemeriksa
Non-Kooperatif
Kontak psikis
Kontak (+), wajar (+) dan tidak dapat dipertahankan

B. Hidup Emosi
Afek (mood)

: Hipotym

Reaksi emosi

a. Stabilitas

: Labil

b. Pengendalian

: tidak dapat mengendalikan

c. Kesungguhan

: sungguh-sungguh

d. kedalaman

: dangkal

e. Skala diferensiasi

: luas

f. Empati

: tidak dapat dirasakan

g. Arus Emosi

: lebih lambat

C. Fungsi Kognitif
Kesadaran

: kompos mentis

Intelegensi dan pengetahuan umum : sde


Daya konsentrasi

: sde

Orientasi

: sde

Daya Ingat

: Waktu
Tempat

: sde

Orang

: sde

Situasi

: sde

: Segera

: sde

Jangka Pendek
Jangka Panjang

: sde
: sde

Pikiran abstrak

: sde

Bakat kreatif

: sde

Kemampuan menolong diri sendiri: baik


Intelegensia dan Pengetahuan Umum : sde
D. Gangguan Persepsi
Halusinasi auditorik/visual/olfaktorik : sde
Depersonalisasi / derealisasi
E. Proses Pikir
Arus Pikir
Produktivitas

: Mutisme

Kontinuitas

: terganggu

Hendaya berbahasa: +
Isi Pikir
Preokupasi

: sde

Gangguan Isi Pikir : sde


F. Pengendalian Impuls
Baik

: sde

G. Daya Nilai
Daya nilai sosial : sde
Uji daya nilai

: sde

Penilaian realitas : sde


H. Tilikan
sde
I. Taraf dapat dipercaya
sde

STATUS FISIK
Status Interna
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Tanda vital
- Tekanan darah : 110/80 mmHg
- Nadi
: 82 kali/menit
- Pernapasan
: 18 kali/menit
- Suhu
: 36,6 o C
Kepala
: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata.
Mata
: CA (-/-). SI( -/-), pupil bulat isokor, RCL/RCTL(+/+)
Mulut
: Bibir tidak kering, sianosis (-)
THT
: Dalam batas normal
Leher
: Pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
Thorax
: Pulmo : vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Abdomen
: supel, nyeri tekan (-), hepatosplenomegali (-), BU (+)
Ekstremitas
: akral hangat, edema (-/-), RCT < 2 detik
Kulit
: lesi (-), petekie (-), scar (-), keloid (+)
Status Neurologis
Rangsang Meningeal
Nervus Cranial I XII
Reflek fisiologis
Reflek Patologis

: Tidak ada
: tidak ada kelainan
: normal
: tidak ada

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Alloanamnesis:
1. Afek depresif (Os sering melamun dan menangis).
2. Berkurangnya energi dan menurunnya aktivitas.
3. Sering menangis (os sering menangis tanpa sebab).
4. Berkurangnya konsentrasi dan perhatian.
5. Kehilangan minat dan kegembiraan (os merasa tidak mampu mengurus bayinya)
6. Tidur terganggu
7. Adanya gagasan mengenai rasa bersalah dan tidak berguna
Pemeriksaan Psikiatri :

Perilaku dan aktifitas psikomotor : Hipoaktif

Kontak psikis : ada dan sulit dipertahankan

Pembicaraan : Os tidak menjawab saat diajukan pertanyaan dan lebih banyak menunduk

Afek : hypotimia

Ekspresi afektif : tampak sedih

EVALUASI MULTIAKSIS
AKSIS I

: Gangguan Mental dan Perilaku Ringan yang Berhubungan dengan Masa Nifas YTK (F 53.0)

AKSIS II

: tidak ada diagnosis

AKSIS III

: tidak ada diagnosis

AKSIS IV

: Masalah dengan primary support group (keluarga)

AKSIS V

: GAF SCALE 80-71 (gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll).

DIAGNOSIS

: Gangguan Mental dan Perilaku Ringan yang Berhubungan dengan Masa Nifas YTK (F 53.0)

DIAGNOSIS BANDING : Gangguan Mental dan Perilaku Berat yang Berhubungan dengan Masa Nifas YTK (F 53.1)
DAFTAR MASALAH
1. Problem organobiologi
: status interna dan neurologis dalam batas normal
2. Problem psikologik dan perilaku : merasa sedih, penurunan dalam kegiatan, gangguan konsentrasi dalam kehidupan sehari-hari yakni sering melamun.
3. Problem sosial dan lingkungan

: adanya masalah pertengkaran antara kedua orang tua pasien

PROGNOSIS
Diagnosis penyakit
Stressor
Riwayat herediter
Pola keluarga
Aktivitas pekerjaan
Lingkungan sosial
Pengobatan psikiatri
Kesimpulan

: ad bonam
: dubia ad bonam
: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam
: dubia ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

RENCANA TERAPI

Perjalanan penyakit
Psikososial
Usia saat menderita
Pendidikan
Ekonomi
Organobiologi
Ketaatan berobat

: ad bonam
: ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: ad bonam

Farmakoterapi

Antidepresan

: Fluoxetine 1 x 20 mg
Vitamin B Kompleks 2x1

Psikoterapi
Support terhadap penderita terutama berasal dari suami
Orang tua pasien (ayah) memberikan kasih sayang yang penuh
Menjalin hubungan erat antara pasien dengan bayinya, namun tetap dipantau agar tidak mencelakakan bayinya
Mencoba lebih berpikir positif, bahwa kehamilan dan persalinan adalah hal wajar dan menyenangkan
Membawa istri rajin kontrol ulang, untuk meluruskan masalah
Sosioterapi
Menjelaskan kepada keluarga tentang keadaan pasien agar selalu mengerti dan memberikan dukungan kepada pasien
Religius
Bimbingan atau ceramah agama, shalat berjamaah dan pengajian
Daftar Pustaka :
Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan dari PPDGJ-III. Jakarta : PT Nuh Jaya, 2003
Mansur,Herawati. Psikologi Ibu dan Anak Untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika, 2010
Maryunani, Anik. Asuhan pada Ibu dalam Masa Nifas (post partum). Jakarta: Trans Info Media, 2010
Suherni, dkk. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya, 2010

Hasil Pembelajaran :
1. Penegakkan diagnosis depresi post partum
2. Mengetahui perbedaan gangguan psikologis pada masa nifas
3. Tatalaksana pasien dengan depresi post partum
4. Edukasi pada keluarga pasien dengan depresi post partum

Assessment
Pedoman diagnostik untuk episode depresi menurut PPDGJ III, antara lain:
Gejala Utama ( pada depresi derajat ringan, sedang, berat):
I - afek depresi,
I - kehilangan minat dan kegembiraan
I - berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah ( rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
Gejala lainnya :
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f. Tidur terganggu
g. Nafsu makan berkurang
Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosa, akan tetapi periode
lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
Secara umum sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi dan
psikosis. Gangguan emosional selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun
multipara. Ada 3 tipe gangguan jiwa pascapersalinan, diantaranya adalah postpartum blues, postpartum depression dan postpartum psikosis. Postpartum
blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression yaitu depresi pasca
persalinan yang berlangsung saat masa nifas, dimana para wanita yang mengalami hal ini kadang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya
merupakan penyakit. Postpartum psikosis, dalam kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat karena bisa menetap sampai setahun dan bisa
juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap pasca melahirkan.

Plan:

Karakteristik

Baby Blues Syndrome

Post Patum Depression

Insiden

30-75% pada ibu yang


melahirkan

10-15% pada ibu yang melahirkan

Onset

3-5 hari setelah melahirkan

2-6 bulan setelah melahirkan

Durasi

Hari sampai minggu

Minggu sampai bulanan jika tidak mendapat


perawatan

Stressor yang
berhubungan

Tidak ada hubungan

Ada terutama kurang nya dukungan

Riwayat Keluarga Mood


Disorder

Tidak ada hubungan

Ada beberapa hubungan

Rasa Sedih

Ya

Ya

Mood Lability

Ya

Anhedonia

Tidak

Sering pada awalnya kemudian depresi secara


bertahap
Sering

Gangguan Tidur

Kadang-kadang

Sering

Keinginan untuk Bunuh


Diri

Tidak ada

Kadang-kadang

Keinginan untuk
Menyakiti Bayi

Jarang

Sering

Adanya Perasaan bersalah


dan ketidakmampuan

Tidak ada dan jika ada


biasanya ringan

Sering dan biasanya berat

Diagnosis: Gangguan Mental dan Perilaku Ringan yang Berhubungan dengan Masa Nifas YTK (F 53.0)
Pengobatan: Fluoxatine 20 mg (1x1 caps), termasuk anti depresan golongan SSRI ( Selektif Serotonin Reuptake Inhibitor ) selektif menghambat
ambilan serotonin dan mengingat profil efek sampingnya untuk penggunaan pada sindrom depresi ringan dan sedang yang datang berobat jalan
sebaiknya pertama-tama menggunakan golongan SSRI yang efek sampingnya minimal (meningkatkan kepatuhan minum obat), spektrum efek anti
depresi luas dan gejala putus obat sangat minimal, serta lethal dose yang tinggi (> 6000mg) sehingga relatif aman.
Psikoterapi
a.

Suportif

Memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien dalam mengatasi masalahnya.

Memberikan semangat dan masukan positif bahwa kehamilan dan persalinan adalah anugerah dan hal wajar yang dialami oleh semua ibu, serta
mengarahkan pasien agar menjalin hubungan erat antara pasien dengan bayinya.

b. Keluarga

Menjelaskan kepada keluarga mengenai penyakit yang diderita oleh pasien, penyebabnya, faktor pencetus, dan rencana terapi. Menyarankan
keluarga untuk selalu memberikan dukungan dan perhatian lebih kepada pasien.

Memotivasi keluarga pasien untuk selalu mendorong pasien mengungkapkan perasaan dan berbagi tentang masalah yang sedang dihadapinya.

Memberikan nasihat kepada keluarga untuk bersama-sama membantu dan mendukung kesembuhan baik mental, jiwa, emosi, dan rohani pasien
dalam kesinambungannya dengan pemulihan kesembuhan yang seutuhnya.

Menghindarkan sikap tak acuh anggota keluarga terhadap masalah yang terjadi oleh pasien, karena perhatian dan kasih sayang anggota keluarga
sangat berarti

DISKUSI
A. Definisi
Berdasarkan hasil anamnesa alloanamnesa serta pemeriksaan status mental yang dilaksankan pada hari selasa tanggal 19 April 2016, dan merujuk
pada kriteria diagnostik dari PPDGJ III, diagnosis penderita dalam kasus ini mengarah pada Gangguan Mental dan Perilaku Ringan yang Berhubungan
dengan Masa Nifas YTK (F 53.0). Depresi postpartum adalah depresi pasca persalinan yang mulai terjadi pada hari ketiga setelah melahirkan dan
berlangsung sampai berminggu-minggu atau bulan yang dikategorikan sebagai sindrom gangguan mental ringan dengan menunjukkan kelelahan, perasaan
sedih, mudah marah, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan dengan suami). Menurut Pitt dkk
(2001), tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang
berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan baby blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut
psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat keadaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut
neurosa depresi atau depresi postpartum. Dapat disimpulkan bahwa depresi postpartum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi
pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus menerus sampai 6 bulan bahkan sampai satu tahun.
B. Etiologi
Penyebab depresi postpartum hampir sama penyebabnya dengan psikosis postpartum. Pitt dkk (2001), mengemukakan dua faktor penyebeb depresi
dan psikosis postpartum
sebagai berikut :
Diagnosis

Depresi sedang

Gangguan cemas menyeluruh

a. Biologis.
Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.
b. Karakteristik ibu, yang meliputi :
1.) Faktor umur.

2.) Faktor pengalaman.


estrogen
yang paling
di akui
adalah yang
interaksinya
dengan
dopamine
efek menghambat.
juga memberi efek
BeberapaEfek
penelitian
diantaranya
adalah
penelitian
dilakukan
oleh reseptor
Paykel dan
Inwoodterutama
(2001), mengatakan
bahwaEstrogen
depresi pascapersalinan
ini
terhadap
reseptor
norepinephrine,
adrenalin
dan serotonin.Penelitian
sebelumnya
menyatakan
dopamine
mungkin
berkurang
pasien
lebih
banyak
ditemukan
pada perempuan
primipara,
mengingat bahwa
peran seorang
ibu dan aktifitas
segala yang
berkaitan
dengan
bayinya pada
merupakan
depresi.
Hormon
ditemukan
memberi
perubahan
pada aktifitas
primernyayang
padadilakukan
nigrostriatal
mesolimbik.
Thompson
dkk
situasi
yang
sama ovarium
sekali baru
bagi dirinya
dan dapat
menimbulkan
stres. dopamine,
Selain itu penelitian
olehdan
Lejalur
Masters
yang melibatkan
suami
telahmuda
melakukkan
yang serial
menyatakan
estrogen
uptake
dopamine
pada
area kelahiran
ini, sehingga
mekanisma pasti masih
istri
dari kelaspenelitian
sosial menengah
mengajukan
hipotesis
bahwamenghambat
83% dari mereka
mengalami
krisis
setelah
bayi pertama.
ditelusuri. Ada bukti menyatakan perubahan aktifitas dopamine oleh estrogen akibat berubahnya protein G pada reseptor D2 dopamin.Norepinefrin
3.)
Faktor
pendidikan.
juga
dipercaya
berperanan sebagai faktor utama patofisiologi depresi. Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan antara regulasi reseptor Bandrenergic postsinaps dengan respons antidepresan, yang mana menunjukkan efektivitas antidepresan dengan efek norandrenergik. Selain itu, terjadi
Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan
peningkatan densitas reseptor a2-andrenergik dilaporkan pada pasien depresi dan cobaan bunuh diri. Peningkatan regulasi ini juga mungkin
untuk bekerja atau melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anakanak mereka.
disebabkan kekurangan relative norepinefrin di sinaps. Banyak dari penelitian gangguan mood, secara umumnya difokuskan ke system serotonergik,
yang
manaselama
system
ini mengalami
4.)
Faktor
proses
persalinan. efek pada korteks prefrontal, system limbic, aktifitas pituitary, dan perilaku seks. Sistem serotonergik telah
diketahui sensitive terhadap estrogen dan progestron. Bethea dkk melakukkan penelitian lanjut terhadap primate bukan manusia atas hormone
Hal
ini mencakup
lamanya
persalinan,
serta hasil
intervensi
yang digunakan
selama
proses
Diduga
semakin
besardalam
trauma
fisik yang
ovarian
dengan system
serotonergik,
dengan
terjadimedis
pada system
serotonergik,
akibat
efek persalinan.
perubahan dari
hormone
ovarium
susunan
saraf
ditimbulkan
saat persalinan,
maka
semakin besar
pula
trauma terhadap
psikis yang
kemungkinan
perempuan
yangdepresi.
bersangkutan
akan
pusat. Kadarpada
prolaktin
yang rendah
danakan
berkurangnya
respon
prolaktin
testmuncul
D-fenfldan
uramine
ditemukan
pada pasien
Ini mungkin
menghadapi
depresi
pascapersalinan.
hubungannya
dengan
depresi post partum yang mana kadar prolaktin rendah pada saat kelahiran. Abou Salah dkk menyatakan ibu postpartum yang
mengalami depresi menunjukkan penurunan kadar prolaktin plasma yang signifikan dibanding ibu yang tidak mengalami depresi. Dan pada ibu-ibu
5.) Faktor dukungan sosial.
yang melakukkan Inisiasi menyusu Dini mendapatkan skor mood yang lebih baik dan kadar prolaktin lebih tinggi
2) Banyaknya
Faktor Psikososial
kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak
Penelitian psikodinamik menunjukkan bahwa pada gangguan postpartum terdapat konflik antara sang ibu dengan tugasnya sebagai ibu yang
berkurang.
harus mengasuh anaknya, dengan kelahiran anaknya yang baru dengan suaminya. Konflik ini mempunyai peranan dalam menentukan identitas
C. Patogenesis
dirinya sebagai seorang ibu yang tak dapat berkomunikasi dengan bayinya, menghambat ibu ini menemukan jati dirinya dan ini merupakan hambatan
dini hubungan timbal balik antara ibu dan anak. Walaupun wanita ini mempunyai pengalaman dengan ibunya, tetapi pengalaman masa kanak-kanak
1) Faktor Hormon
memaksanya menolak figur ibunya untuk ditiru dan didentifikasi. Penolakan ini mengakibatkan seorang ibu kehilangan arah dan menjadi bingung.
Kadar hormon estrogen dan progesteron menurun drastis saat persalinan. Perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron pada saat
Gangguan identifikasi ini menyebabkan perasaan terganggu, mereka sebagai ibu yang tidak tahu bagaimana seharusnya bertindak, dan melahirkan
kehamilan memicu peningkatan ikatan pada reseptor dopamin dan penurunan kadar hormon saat persalinan menyebabkan terjadinya suatu
anak tetapi tidak tahu bagaimana merawatnya
supersensitivitas reseptor dopamin yang mencetuskan terjadinya psikotik postpartum.Tidak ada hubungan yang konsisten, kadar estrogen dan

D.

Manifestasi Klinik
Blues Syndrome
1. Kelelahan

Gejala depresi postpartum


1.

Gejala psikosis postpartum

Merasa tidak berharga,

1. Agitasi.

2. Perasaan sedih

merasa tidak mampu mengatasi

2. Gelisah.

3. Mudah menangis

kehidupannya.

3. Emosi yang labil.

4. Cemas
5. Labil

4. Kegembiraan yang
2.

tingkatan suasana hati dari sedih

6. Bingung

jadi marah

7. Sangat sensitive
8. Susah tidur

Mengalami perubahan cepat

3.

Tidur kurang baik atau


terlalu banyak tidur

berlebihan.
5. Insomnia.
6. Menangis.
7. Bingung.
8. Dan lama-kelamaan
akan timbul episode

4.

Selalu merasa lelah


sepanjang waktu

psikotik yang gawat


dengan gambaran mania
dan delirium.

5.

Hanya tertarik sedikit pada


bayi.

6.

Tidak menikmati hidup lagi

7.

Mengalami perubahan nafsu


makan (makan terlalu sedikit atau
terlalu banyak makan)

8.

Kesulitan untuk
berkonsentrasi

E.

Tatalaksana
Depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergic neurotransmitter salah satunya serotonin pada celah sinaps neuron di SSP

khususnya sistem limbic sehingga aktivitas reseptor serotonin menurun. Pada pasien depresi diberikan obat antidepresan yang dapat menghambat re-uptake
aminergic neurotransmiter dan menghmbat penghancuran oleh enzim Monoamine Oxidase sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter
pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin. Pada os diberikan obat Fluoxetin 20 mg (1 x 1 caps), yang termasuk
dalam obat anti-depressan golongan SSRI (Selektif Serotonin Reseptor Inhibitor). Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) merupakan grup kimia
antidepresan baru yang khas, hanya menghambat ambilan serotonin secara spesifik. Berbeda dengan antidepresan trisiklik yang menghambat tanpa seleksi
ambilan norepinefrin, serotonin, reseptor muskarinik. Dibandingkan dengan antidepresan trisiklik, SSRI menyebabkan efek antikolinergik lebih kecil dan
kordiotoksisitas lebih rendah. Mengingat os baru pertama kali berobat jalan dan mengingat profil efek sampingnya sebaiknya pertama-tama meggunakan
golongan SSRI tetapi apabila dalam jangka waktu yang cukup (sekitar 3 bulan) tidak efektif, dapat beralih ke golongan trisiklik dan jika pilihan kedua belum
berhasil dapat beralih dengan spektrum anti-depresan yang lebih sempit yaitu golongan tetrasiklik.
Efek samping obat anti-depresan dapat berupa sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif
menurun, dll), efek anti-kolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi, sinustakikardia, dll), efek anti-adrenergik alfa (perubahan EKG,
hipotensi) dan efek neurotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi).
Tambahan terapi lainnya adalah vitamin B kompleks yaitu suatu kelompok vitamin B, yang bermanfaat untuk fungsi hampir semua proses dalam tubuh.
Vitamin B kompleks berperan besar dalam pemecahan lemak dan protein yang membantu mempertahankan fungsi sistem saraf. Vitamin B5 meningkatkan
fungsi kelenjar adrenal. Kelenjar ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, membantu mengatur fungsi ginjal, serta membantu mengelola stres.
Vitamin ini juga diperlukandalam produksi hormon tertentu, serta zat pengatur saraf. Seluruh fungsi sistem saraf, termasuk otak diatur oleh vitamin B1,B6
dan B12. Kekurangan vitamin ini meyebabkan seseorang rentan terhadap stres kecemasan dan depresi.
Selain menggunakan psikofarmaka, terapi pada pasien ini dapat dilakukan dengan cara psikoterapi berupa terapi keluarga dan masyarakat agar bisa
menerima keadaan penderita dengan tidak menimbulkan stressor-stressor baru, melainkan dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk kesembuhan
penderita. Peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam membantu kesembuhan pasien.