Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

Kegiatan yang dilaksanakan oleh unit pelaksana eselon II kecuali Unit


Pengelola Teknis mandiri dan Pusat Pengelolaan Ekoregion menghasilkan kategorikategori output yang secara garis besar dapat dirangkum sebagai berikut :
1)

Penyusunan rekomendasi kebijakan, peraturan, regulasi, metodologi, konsep,


dan kajian;

2)

Pelayanan publik (perijinan, pengaduan, penyelesaian kasus, pengembangan


dan pelayanan informasi);

3)

Pembinaan (pengawasan, pembinaan, insentif/disinsentif, asistensi terhadap


pemerintah daerah atau masyarakat) dan monitoring-evaluasi (monev).
Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan Unit Pengelola Teknis mandiri dan

Pusat Pengelolaan Ekoregion menghasilkan kategori output yang secara garis besar
dapat dirangkum sebagai berikut :
1) Penyusunan rekomendasi kebijakan, inventarisasi data (dilakukan melalui
monev), konsep, dan kajian;
2) Pelayanan publik;
3) Pembinaan dan peningkatan kapasitas;
4) Layanan perkantoran.
2.4.2. Program Generik : Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas
Teknis Lainnya KLH
Program ini bertujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan tata kelola
pemerintahan yang baik melalui pelaksanaan dukungan manajemen dan tugas
teknis lainnya di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup.
Sasaran Strategis (Outcomes) Program Generik ini adalah :
1) Pengelolaan keuangan kementerian, hingga memperoleh opini wajar tanpa
pengecualian (WTP);
2) Percepatan implementasi reformasi birokrasi (RB).
Berdasarkan sasaran strategis program generik ini, fungsi Eselon 1 KLH
dikelompokkan sebagai berikut :
22

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

Tabel 2.2. Pengelompokan Fungsi Eselon I dalam Program Generik


berdasarkan Sasaran Strategis
Pengelompokan Fungsi Eselon I dalam Program Generik berdasarkan Sasaran Strategis
Program
Program Dukungan
Manajemen

Sasaran Strategis
Pengelolaan keuangan
kementerian
Percepatan implementasi
reformasi birokrasi

Kelompok Kegiatan
Menurut Fungsi
Pemberian dukungan
manajemen dan penyediaan
sarana dan prasarana

Eselon I Pelaksana
Sekretariat Kementerian
LH
DNPI

Indikator capaian sasaran strategis dari program generik ini adalah :


1) Pelaksanaan RB merupakan komponen dari sistem penilaian kinerja unit kerja,
maupun kinerja para pejabat/pimpinan unit kerja, pegawai;
2) Peningkatan kualitas pelayanan publik sesuai dengan standar pelayanan
minimal;
3) Pengelolaan anggaran berbasis kinerja secara akuntabel dengan menaati
perundangan : Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Sistem Pengendalian
Internal Pemerintahan (SPIP), Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah;
4) Peningkatan efektivitas perencanaan dan pelaksanaan program, pendanaan dan
akuntabilitas kinerja.
Kegiatan yang termasuk dalam program ini adalah sebagai berikut :
1) Pengembangan perencanaan dan kerjasama luar negeri;
2) Peningkatan kinerja Dewan Nasional Perubahan Iklim;
3) Pengendalian internal;
4) Pengelolaan dan pelayanan administrasi umum, rumah tangga, keuangan dan
kepegawaian;
5) Pengembangan telaahan kebijakan;
6) Pengembangan perundang-undangan dan hubungan masyarakat.
2.5.

Rencana Kinerja Tahunan (RKT) 2014

Dalam menyusun rencana kinerja tahunan, KLH membagi kinerja teknis para
eselon 1 ke dalam klaster yang dikaitkan dengan prioritas nasional yang merupakan
kontrak kinerja Menteri dengan Presiden. Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi para
eselon I diterjemahkan dalam berbagai rangkaian kegiatan, sehingga pengukuran
23

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

kinerja para eselon I menggunakan indikator-indikator pengukuran pada tingkat


kegiatan. Penjumlahan dan sinergi hasil kegiatan menurut klaster tersebut secara
keseluruhan menggambarkan pencapaian setiap sasaran strategis.

Penurunan tingkat
pencemaran LH

Peningkatan Upaya
Pengendalian
Kerusakan LH

Peningkatan kapasitas
pengelolaan SDA dan LH

INDIKATOR
pengawasan industri dan jasa

kebijakan pengelolaan gambut


rehabilitasi hutan dan lahan
penghentian kerusakan DAS

penurunan jumlah hotspot (titik

peningkatan kapasitas SDM dan


aparatur
peningkatan kapasitas sarana dan
prasarana

panas) kebakaran hutan

INDIKATOR KINERJA
pengawasan industri dan jasa
penurunan beban pencemaran air,
udara, sampah dan limbah B3

pemetaan gambut
pengawasan dan evaluasi
pemanfaatan ruang
penetapan kelas air
penyediaan data hotspot
rehabilitasi hutan dan konservasi
kehati
tersedianya kebijakan
perlindungan atmosfir

peningkatan kapasitas SDM dan


aparatur
peningkatan kapasitas
kelembagaan
harmonisnya kerangka regulasi
penyelesaian konflik dan
kepastian hukum
tersedianya data & informasi

INDIKATOR

indikator kegiatan terkait

indikator kegiatan terkait

indikator kegiatan terkait

INDIKATOR

Gambar 2.4. Keterkaitan Indikator dalam Berbagai Tingkatan Implementasi

Rencana kinerja KLH pada tahun 2014 kemudian disusun dengan mengacu
pada sasaran strategis yang ingin dicapai dikaitkan dengan prioritas nasional dan
indikator-indikator kinerja pada tingkat eselon I. Gambaran rencana kinerja tersebut
disajikan pada tabel di bawah ini :

24

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

Tabel 2.3. Rencana Kinerja Kementerian Lingkungan Hidup Tahun 2014


dikaitkan dengan Prioritas Nasional

SASARAN
STRATEGIS
Menurunnya
tingkat pencemaran
lingkungan

PRIORITAS NASIONAL

INDIKATOR KINERJA

Penurunan beban
pencemaran lingkungan
melalui pengawasan di
680 kegiatan industri
dan jasa pada 2010 dan
terus berlanjut

Prosentase penurunan
pencemar yang dibuang ke
lingkungan oleh industri

Penurunan tingkat
polusi keseluruhan
sebesar 50% pada 2014

Jumlah kota metropolitan dan


kota besar dengan kualitas
udara membaik

Prosentase industry yang taat


terhadap peraturan
perundangan di bidang
pengendalian pencemaran
lingkungan
Prosentase peningkatan kinerja
industry dari tidak taat ke
taat

ESSELON I
PENANGGUNGJAWAB
1. Deputi Bidang
Pengendalian
Pencemaran
Lingkungan
2. Deputi Bidang
Pengelolaan B3 ,
Limbah B3 dan
Sampah

Prosentase jumlah penurunan


timbulan sampah
Jumlah timbulan limbah B3
terkelola dari industry yang
terinventarisir
Jumlah limbah B3 di media
yang terkelola dari kegiatan
pemulihan lahan
terkontaminasi yang
terinventarisir
Meningkatnya
usaha pengendalian
perusakan
lingkungan

Penurunan jumlah
hotspot kebakaran
hutan sebesar 20%
pertahun

Jumlah kabupaten yang


meningkatkan dan atau
mempertahankan tutupan
vegetasi di wilayahnya (profil
kabupaten hijau)

Peningkatan
keberdayaan
pengelolaan gambut,
peningkatan hasil
rehabilitasi 500.000 ha
per tahun, dan
penekanan laju
deforestasi
Penghentian kerusakan
lingkungan di 11 DAS
yang rawan bencana
mulai 2010 dan
seterusnya

Jumlah provinsi yang


menerapkan pengelolaan
gambut berkelanjutan

1. Deputi Bidang Tata


Lingkungan
2. Deputi Bidang
Pengendalian
Kerusakan
Lingkungan dan
Perubahan Iklim

Jumlah sungai prioritas yang


disepakati kelas airnya dengan
pendekatan ekoregion
Jumlah danau prioritas yang
telah dilakukan penyusunan
rencana aksi penyelamatan
danau (Germadan)

25

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

SASARAN
STRATEGIS
Meningkatnya
kapasitas PSDA dan
LH

Pengelolaan
Keuangan
Kementerian

Percepatan
Implementasi
Reformasi Birokrasi
(RB)

2.6

PRIORITAS NASIONAL
Peningkatan kapasitas
aparatur pemerintah
dan masyarakat dalam
pengurangan resiko,
mitigasi dan
penanganan bencana
dan bahaya kebakaran
hutan di 33 propinsi

Pengelolaan keuangan
kementerian, hingga
memperoleh opini
Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP)
Percepatan
Implementasi Reformasi
Birokrasi (RB)

INDIKATOR KINERJA
Jumlah kasus lingkungan yang
tertangani
Jumlah kelompok masyarakat
yang berpartisipasi/berperan
aktif dalam perlindungan dan
pengelolaan lingkungan
Prosentase laboratorium
pengujian parameter kualitas
lingkungan yang dipersiapkan
untuk proses akreditasi
Prosentase peningkatan
kapasitas pejabat fungsional
pedal
Pengelolaan keuangan
kementerian, hingga
memperoleh opini Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP)

ESSELON I
PENANGGUNGJAWAB
1.

Deputi Bidang
Penaatan Hukum
Lingkungan

2.

Deputi Bidang
Komunikasi
Lingkungan dan
Pemberdayaan
Masyarakat

3.

Deputi Bidang
Pembinaan Sarana
Teknis Lingkungan
dan Peningkatan
Kapasitas
Sekretaris Menteri

Peningkatan kinerja KLH


berdasarkan nilai LAKIP

Penetapan Kinerja (PK) Tahun 2014


Setelah menetapkan RKT 2014 dan menerima DIPA 2014, Kementerian

Lingkungan Hidup menetapkan Penetapan Kinerja (PK) tahun 2014, yang


mengemukakan program utama, sasaran strategis, indikator kinerja keluaran
(output), indikator kinerja hasil (outcome) beserta targetnya.
Dokumen penetapan kinerja (PK) merupakan suatu dokumen pernyataan
kinerja/kesepakatan kinerja atau perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk
mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumberdaya yang dimiliki oleh
instansi. Adapun fungsi dokumen Penetapan Kinerja (PK) selain digunakan sebagai
alat komunikasi antara atasan dan bawahan yang bersifat top-down, juga djadikan
sebagai alat untuk menggabungkan pengukuran kinerja dengan strategi organisasi.
Penyusunan dan pemanfaatan dokumen penetapan kinerja atau perjanjian
kinerja atau kontrak kinerja merupakan salah satu cara dan mekanisme dalam
menerapkan manajemen kinerja secara baik. Dengan menggunakan penetapan atau
26

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

perjanjian kinerja diharapkan KLH secara berjenjang dapat mengerahkan sumber


daya yang dimiliki guna mencapai target kinerja yang telah disepakati.
KLH telah menyusun penetapan kinerja Tahun 2014 secara berjenjang sesuai
dengan kedudukan, tugas dan fungsi yang diembannya. Penetapan Kinerja (PK) ini
merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada akhir tahun 2014.
Penetapan Kinerja KLH tahun 2014, dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.4. Penetapan Kinerja Kementerian Lingkungan Hidup Tahun 2014


Lembaga
: Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)
Tahun Anggaran : 2014
Sasaran
Strategis
(1)
Menurunnya
tingkat
pencemaran
lingkungan

Meningkatnya
usaha
pengendalian
perusakan
lingkungan
hidup

Indikator Kinerja

Target

Program

Anggaran

(2)
Prosentase penurunan
pencemar yang dibuang ke
lingkungan oleh industri

(3)
10%

(4)

(5)

Prosentase industri yang


taat terhadap peraturan
perundangan di bidang
pengendalian pencemaran
lingkungan
Prosentase peningkatan
kinerja industri dari "tidak
taat" ke "taat"
Jumlah kota metropolitan
dan kota besar dengan
kualitas udara membaik
Prosentase jumlah
penurunan timbulan
sampah
Jumlah limbah B3 terkelola
dari industri yang
terinventarisir
Jumlah limbah B3 di media
yang terkelola dari kegiatan
pemulihan lahan
terkontaminasi yang
terinventarisir
Jumlah kabupaten
meningkatkan dan atau
mempertahankan tutupan
vegetasi di wilayahnya
(profil kabupaten hijau)
Jumlah provinsi yang
menerapkan pengelolaan
gambut berkelanjutan

65%

Pengeloaan
SDA dan LH

Rp. 676.565.559.000

30%

45 Kota

20%

10.005.500 Ton

62.400 Ton

200 Kabupaten

3 Provinsi

27

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

Meningkatnya
kapasitas
pengelolaan
SDA dan LH

Pengelolaan
Keuangan
Kementerian
Percepatan
Implementasi
Reformasi
Birokrasi (RB)

Jumlah sungai prioritas yang


disepakati kelas airnya
dengan pendekatan
ekoregion
Jumlah danau prioritas yang
telah dilakukan penyusunan
rencana aksi penyelamatan
danau (Germadan)
Jumlah kasus lingkungan
hidup yang tertangani
Jumlah Kelompok
Masyarakat yang
berpartisipasi/berperan
aktif dalam perlindungan
dan pengelolaan LH
Prosentase laboratorium
pengujian parameter
kualitas lingkungan yang
dipersiapkan untuk proses
akreditasi
Prosentase peningkatan
kapasitas pejabat fungsional
pedal
Pengelolaan keuangan
kementerian, hingga
memperoleh opini Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP)
Peningkatan kinerja KLH
berdasarkan nilai LAKIP

13 sungai

5 Danau Prioritas

47 Kasus
2.340 komunitas
pendidikan dan
1.018 organisasi
Kemasyarakatan
yang
berpartisipasi
29%

20%

Opini WTP

LAKIP B

Dukungan
Managemen
dan
Pelaksanaan
Tugas
Tenis
Lainnya KLH

Rp. 372.772.551.000

Jumlah Total Anggaran KLH : Rp.1.040.338.110.000,Jakarta,

Januari 2014

Menteri Lingkungan Hidup,


ttd
Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA

28

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

Bab III
Akuntabilitas Kinerja
3.1.

Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk

menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program


yang ditetapkan dalam mewujudkan tujuan dan visi instansi pemerintah. Proses ini
dilakukan dengan menilai pencapaian setiap target kinerja guna memberikan
gambaran tentang keberhasilan dan kegagalan KLH dalam pencapaian tujuan.
Pengukuran kinerja merupakan salah satu alat untuk mendorong terciptanya
akuntabilitas kinerja. Pengukuran kinerja akan menunjukkan seberapa besar kinerja
manajerial yang dicapai, seberapa bagus kinerja financial organisasi, dan kinerja
lainnya yang menjadi dasar penilaian akuntabilitas. Pengukuran tingkat capaian
kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi kinerja dengan
target kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun rumusannya adalah
sebagai berikut:
Prosentase Capaian = Realisasi x 100%
Kinerja
Target

Dengan membandingkan antara realisasi dan target kegiatan, maka dapat


dilihat jumlah prosentase capaian pada masing-masing indikator kinerja kegiatan.
Dengan diketahui capaian kinerja, maka dapat dianalisis faktor penyebab
keberhasilan dan ketidakberhasilan, yang selanjutnya dapat dipetakan kekurangan
dan kelemahan realisasi dan target kegiatan, kemudian ditetapkan strategi untuk
meningkatkan kinerja di masa yang akan datang.
3.2.

Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)

Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Lingkungan Hidup


merupakan tolok ukur capaian tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) yang menjadi
tanggungjawabnya. Indikator-indikator ini ditetapkan agar memudahkan para

29

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

pemangku

kepentingan

mengukur

dan

menganalisa

keberhasilan

kinerja

Kementerian Lingkungan Hidup.


Pemilihan indikator yang ditetapkan untuk mencapai sasaran strategis
Kementerian Lingkungan Hidup mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka dan
berpedoman pada kriteria SMART (specific, Measurable, Achievable, Relevant and
Time-Bond). Adapun indikator-indikator tersebut adalah :
a. Prosentase penurunan pencemar yang dibuang ke lingkungan oleh industri
b. Prosentase industri yang taat terhadap peraturan perundangan di bidang
pengendalian pencemaran lingkungan
c. Prosentase peningkatan kinerja industri dari "tidak taat" ke "taat"
d. Jumlah kota metropolitan dan kota besar dengan kualitas udara membaik
e. Prosentase jumlah penurunan timbulan sampah
f. Jumlah limbah B3 terkelola dari industri yang terinventarisir
g. Jumlah limbah B3 di media yang terkelola dari kegiatan pemulihan lahan
terkontaminasi yang terinventarisir
h. Jumlah kabupaten meningkatkan dan atau mempertahankan tutupan vegetasi di
wilayahnya (profil kabupaten hijau)
i. Jumlah provinsi yang menerapkan pengelolaan gambut berkelanjutan
j. Jumlah sungai prioritas yang disepakati kelas airnya dengan pendekatan
ekoregion
k. Jumlah danau prioritas yang telah dilakukan penyusunan rencana aksi
penyelamatan danau (Germadan)
l. Jumlah kasus lingkungan hidup yang tertangani
m. Jumlah

Kelompok

Masyarakat

yang

berpartisipasi/berperan

aktif

dalam

perlindungan dan pengelolaan LH


n. Prosentase

laboratorium

pengujian

parameter

kualitas

lingkungan

dipersiapkan untuk proses akreditasi


o. Prosentase peningkatan kapasitas pejabat fungsional pedal
p. Pengelolaan keuangan kementerian, hingga memperoleh opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP)
q. Peningkatan kinerja KLH berdasarkan nilai LAKIP

30

yang

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

Dari masing-masing indikator kinerja di atas telah ditetapkan target-target


yang hendak dicapai pada tahun 2014 (tertuang dalam penetapan kinerja) dan
realisasi pencapaiannya seperti yang tertuang pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama KLH Tahun 2014
Sasaran
Strategis
(1)
Menurunnya
tingkat
pencemaran
lingkungan
hidup

Meningkatnya
usaha
pengendalian
perusakan
lingkungan
hidup

Indikator Kinerja Utama

Satuan

Target

Realisasi

(2)
Prosentase penurunan
pencemar yang dibuang
ke lingkungan oleh
industri
Prosentase industri yang
taat terhadap peraturan
perundangan di bidang
pengendalian
pencemaran lingkungan
Prosentase peningkatan
kinerja industri dari
"tidak taat" ke "taat"
Jumlah kota
metropolitan dan kota
besar dengan kualitas
udara membaik
Prosentase jumlah
penurunan timbulan
sampah
Jumlah limbah B3
terkelola dari industri
yang terinventarisir
Jumlah limbah B3 di
media yang terkelola
dari kegiatan pemulihan
lahan terkontaminasi
yang terinventarisir
Jumlah kabupaten
meningkatkan dan atau
mempertahankan
tutupan vegetasi di
wilayahnya (profil
kabupaten hijau)
Jumlah provinsi yang
menerapkan
pengelolaan gambut
berkelanjutan
Jumlah sungai prioritas
yang disepakati kelas
airnya dengan
pendekatan ekoregion

(3)

(4)

(5)

(6)

Prosentase

10

80,56

805,6

Prosentase

65

72

110,7

Prosentase

30

41

136,7

Kota

45

45

100

Prosentase

20

20

100

Ton

10.005.500

19.089.566,53

190,8

Ton

62.400

1.088.411,3

1.744,2

Kabupaten

200

316

158

Provinsi

100

Sungai

13

13

100

Danau Prioritas

100

Jumlah danau prioritas


yang telah dilakukan
penyusunan rencana aksi
penyelamatan danau

31

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

Meningkatnya
kapasitas
pengelolaan
SDA dan LH

Pengelolaan
Keuangan
Kementerian

Percepatan
Implementasi
Reformasi
Birokrasi (RB)

3.3

Jumlah kasus lingkungan


hidup yang tertangani
Jumlah Kelompok
Masyarakat yang
berpartisipasi/berperan
aktif dalam perlindungan
dan pengelolaan LH
Prosentase laboratorium
pengujian parameter
kualitas lingkungan yang
dipersiapkan untuk
proses akreditasi
Prosentase peningkatan
kapasitas pejabat
fungsional pedal
Pengelolaan keuangan
kementerian, hingga
memperoleh opini Wajar
Tanpa Pengecualian
(WTP)
Peningkatan kinerja KLH
berdasarkan nilai LAKIP

Kasus

47

201

438,3

komunitas
pendidikan dan
organisasi
Kemasyarakatan
yang
berpartisipasi

2.340 dan
1.018

2.905 dan
1.018

124 dan
100

Prosentase

29

29

100

Prosentase

20

25

Opini

WTP

WTP

LAKIP

CC

Analisis Capaian Kinerja

Secara lebih detil dari masing-masing sasaran telah ditetapkan indikator


kinerja utama yang hendak dicapai. Capaian indikator kinerja dijelaskan dalam
analisis capaian kinerja sebagai berikut:

Menurunnya Tingkat Pencemaran Lingkungan Hidup

Perbaikan kualitas lingkungan dalam beberapa tahun kedepan masih akan


menghadapi permasalahan yang cukup kompleks meskipun mulai dirasakan adanya
peningkatan kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap buruknya kualitas
lingkungan. Oleh karena itu, untuk memastikan terjadinya penurunan beban
pencemaran melalui pengendalian pencemaran lingkungan harus dilakukan secara
terintegrasi dan terukur dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan
kualitas lingkungan yang lebih baik.
Sasaran KLH dalam menurunkan tingkat pencemaran lingkungan hidup
dicapai melalui indikator kinerja yang mencerminkan membaiknya kualitas air dan
32

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

udara, pengelolaan sampah serta limbah B3, serta terkendalinya pencemaran


lingkungan melalui pemantauan industri. Indikator kinerja, target dan realisasinya
pada tahun 2014 digambarkan pada Tabel 3.2 sebagai berikut:
Tabel 3.2. Capaian Kinerja Sasaran Strategis
1: Menurunnya Tingkat Pencemaran Lingkungan

NO.
a.

b.

c.

d.

e.
f.

g.

a.

INDIKATOR KINERJA
1
Prosentase penurunan
pencemar yang ddibuang ke
lingkungan oleh industri
Prosentase industri yang taat
terhadap peraturan
perundangan di bidang
pengendalian pencemaran
lingkungan
Prosentase peningkatan
kinerja industry dari tidak
taat ke taat
Jumlah kota metropolitan
dan kota besar dengan
kualitas udara membaik
Prosentase jumlah
penurunan timbulan sampah
Jumlah limbah B3 terkelola
dari industry yang
terinventarisir
Jumlah Limbah B3 di media
yang terkelola dari kegiatan
pemulihan lahan
terkontaminasi yang
terinventarisir

TARGET

REALISASI

10

80,56

805,6

65

72

110,7

30

41

136,7

45

Kota

45

Kota

100

20

20

100

10.005.500

Ton

19.089.566,53

Ton

190,8

62.400

Ton

1.088.411,3

Ton

1.744,2

%
%
%

Penurunan pencemar yang dibuang ke lingkungan oleh industri


Beban

pencemar

merupakan

variabel

yang

mempengaruhi

kualitas

lingkungan baik untuk kualitas air maupun udara. Dengan kondisi media penerima
yang sama maka semakin kecil beban pencemar yang dibuang ke lingkungan, maka
kualitas lingkungan akan semakin baik.
Patut diperhatikan bahwa untuk menghasilkan kualitas lingkungan yang baik,
selain penurunan beban pencemaran maka perlu juga dilakukan upaya-upaya
lainnya agar variabel-variabel yang mempengaruhi kualitas lingkungan juga
33

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

mendukung, dapat menetralkan polutan yang masuk sehingga tetap memenuhi baku
mutu lingkungan.
Beban pencemar air untuk industri dihitung dari peserta penilaian mandiri
PROPER. Nilai beban pencemar air yang dibuang ke sumber air, dalam hal ini
sungai, dipengaruhi oleh efisiensi instalasi pengolah air limbah (IPAL). Semakin baik
kinerja IPAL maka beban pencemaran air yang dibuang ke sumber air akan semakin
kecil. Dengan demikian diasumsikan bahwa penurunan beban pencemar air
diperoleh dari selisih antara besaran/nilai beban pencemar air sebelum masuk ke
IPAL (inlet) serta nilai beban pencemaran air setelah diolah di IPAL (outlet).
Data penghitungan beban pencemaran air limbah industri didasarkan data
dari 598 industri peserta PROPER yang dievaluasi melalui penilaian mandiri. Pada
penilaian mandiri, perusahaan tidak diawasi secara langsung oleh pengawas, namun
diberikan kesempatan untuk menyampaikan seluruh data penaatan dalam
pengelolaan lingkungan yang dilakukan.
Target penurunan beban pencemar dari kegiatan industri adalah 10%.
Realisasi penurunan beban pencemar air limbah adalah 80,56% sehingga capaian
kinerja untuk penurunan beban pencemar air adalah 805,6% (lihat Tabel 3.3).
Sementara capaian untuk beban pencemar air bervariasi tergantung parameter,
mulai 21,72% untuk NO2 sampai 58,91% untuk partikulat.
Tabel. 3.3 Data Beban Pencemar Air Limbah Industri Tahun 2014 (ton)

Parameter

Inlet

Outlet

Reduksi

% Reduksi

Organik

1.316.354.957,00

367.402.874,34

948.927.581,43

72,09%

Anorganik

8.290.180.255,87

1.498.356.336,33

6.790.125.386,76

81,91%

Total

9.606.535.212,87

1.865.759.210,67

7.739.052.968,19

80,56%

Beban pencemar yang direduksi adalah selisih antara beban pencemar air
limbah sebelum diolah dengan air limbah setelah diolah. Parameter-parameter
34

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

pencemar dikelompokan dalam dua kelompok besar, yaitu organik dan anorganik.
Berdasarkan pendekatan tersebut, data kumulatif yang diperoleh dapat dilihat pada
tabel 3.4 sebagai berikut:
Tabel 3.4 Reduksi Beban Pencemaran Air dari Setiap Sektor
Inlet (ton/tahun)
No

Outlet

(ton/tahun)

Reduksi (ton/tahun)

Sektor
Manufaktur,
Prasarana dan
Jasa
Pertambanga,
Energi, dan
Migas

Organik

Anorganik

Organik

Anorganik

Organik

Anorganik

15.282.165,08

5.541.883,69

1.215.500,66

1.240.001,89

14.066.664,42

4.301.881,80

10.823.595,00

4.466.074.529,00

34.605,00

1.484.992.813,00

10.788.990,00

2.981.081.716,00

Agroindustri

1.290.249.196,92 3.818.563.843,18

366.152.768,68

12.123.521,44

924.096.428,24

3.804.717.287,74

Jumlah

1.316.354.957,00

367.402.874,34

1.498.356.336,33

948.927.581,43

6.790.125.386,76

8.290.180.255,87

Pencemaran terjadi akibat tingginya beban pencemar dalam suatu media


lingkungan sehingga proses asimilasi atau pemurnian yang dilakukan oleh media
lingkungan tersebut tidak dapat berjalan. Oleh karena itu, penurunan beban
pencemar

merupakan

variabel

yang

dapat

mendorong

perbaikan

kualitas

lingkungan. Penurunan beban pencemar hanya dapat diharapkan dapat terjadi atau
dilakukan oleh kegiatan-kegiatan yang mampu memenuhi ketentuan peraturan.
Namun demikian, perlu dipastikan bahwa ketentuan yang diberlakukan sudah
dengan mempertimbangkan seluruh faktor yang dapat mempengaruhi kualitas suatu
media lingkungan.
Penurunan beban pencemar dapat terjadi apabila sumber pencemar mampu
mereduksi kuantitas pencemar yang dihasilkan menjadi lebih rendah ketika harus
dibuang ke lingkungan, melalui suatu sistem pengolahan air limbah atau
pengendalian emisi. Untuk mengetahui besaran pencemar yang direduksi, maka
perlu dilakukan penghitungan atau pengukuran beban pencemar awal dan beban
pencemar setelah proses pengendalian.

35

LAPORAN KINERJA KLHK BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2014

b.

Industri

yang

taat

terhadap

peraturan

perundangan

di

bidang

pengendalian pencemaran lingkungan


Ketaatan

industri

terhadap

peraturan

pengelolaan

lingkungan

hidup

merupakan aspek dasar dalam penilain PROPER. Sifat pembinaan PROPER, selain
bentuk pengawasan, memberi peluang bagi perusahaan untuk dapat memahami dan
menjalankan peraturan lingkungan yang berkaitan atau menjadi kewajibannya.
Persentase ketaatan dalam PROPER merupakan hal yang krusial karena
ditargetkan maksimal, namun rentan karena setiap tahun jumlah industri peserta
PROPER

selalu

bertambah.

Pertambahan

industri

baru

tentunya

akan

mempengaruhi keseluruhan peringkat ketaatan PROPER. Selama periode 20102014 target tahunan prosentase jumlah ketaatan industri terhadap peraturan
lingkungan adalah 65%.
Hasil penilaian PROPER 2014 menunjukkan bahwa prosentase industri yang
mampu taat terhadap peraturan mencapai 72%. Dengan demikian capaian ketaatan
industry

PROPER

pada

kegiatan

tahun

2014

mencapai

110,7%.

Hasil

pemeringkatan PROPER 2014 menunjukkan bahwa proses pra-PROPER atau


persiapan PROPER lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan
prosentase penaatan industri PROPER yang lebih tinggi dibanding pencapaian
tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 65% dari total 1.812 industri yang diawasi.
Bahkan persentase pencapaian 2013 tersebut juga masih lebih rendah dibanding
pencapaian 2012 yang mencapai 69% dari 1311 industri, atau 2011 yang mencapai
66% dari 1.005 industri. Prosentase Tingkat Ketaatan Industri yang diawasi dan
memenuhi baku mutu dari tahun 2010 s/d 2014 dapat dilihat pada tabel 3.5 di bawah
ini:
Tabel 3.5. Prosentase Tingkat Ketaatan Industri yang Diawasi dan Memenuhi Baku Mutu

36

Tahun

Target

Pencapaian

Realisasi

2013-2014

65%

72%

110,7%

Jumlah
Industri
1.914

2012-2013

65%

65%

100%

1.812

2011-2012

65%

69%

106,2%

1.311

2010-2011

65%

66%

101,54%

1.005