Anda di halaman 1dari 5

B-Lovers

Buat BL sejati

“Indonesia!!!” dung dung dung dung. “Indonesia!!! Simon!!! Libas aja tuh si Lin Dan!
Yeah!” dung dung dung
“E…e…e… Monik! Hayo, jangan gitu deh, ah! Ayo cepet turun! Nggak sopan tauk.”
Kata mama keheranan melihat puteri semata wayangnya berdiri diatas meja sambil memukul
stoples bekas kerupuk bawang dan mengibas-ngibaskan bendera merah-putih hasil curiannya dari
lemari pakaian milik sang mama. Maklum, bendera merah-putih memeng hanya mama keluarkan
saat menjelang HUT RI atau tanggal 30 September saat mengenang keganasan G 30 S/ PKI. Yang
paling aneh adalah ia mengoleskan cat air merah-putih bekas praktek seni rupanya di kedua pipinya
yang merona merah saat melihat idolanya itu.
“Hehehe maaf, ma… Abis Monik semangat banget ni ngedukung tim Indonesia!
Apalagi itu tuh… ada calon mantu mama! Hehehe” Kata Monik sambil nyengir kuda dibuat se-
innocent mungkin.
“Mana, mana?” goda sang mama.
“Itu loh, ma… yang pake kaos merah putih itu!” tunjuknya bersemangat.
“Oh, itu ya?” Kata mama sambil sengaja mengedipkan sebelah matanya.
“Iya. Kya!!! Keluar deh! Come on, beibh!” Monik pun kembali larut dalam keasyikan
pertandingan itu. Mama pun hanya bisa geleng-geleng melihat polah anaknya itu.
Sekilas tentang Monik, Monik adalah salah satu pecinta olah raga pukul-pukul bulu,
alias Badminton. Mungkin pertama kali melihat Monik, orang-orang menilainya sebagai pribadi
yang kalem, luwes, dan agak pendiam. Namun waspadalah… jika anda sudah mengenalnya lebih
dekat, bersiaplah meminum obat depresan sepuluh butir perhari karena anda bisa tertular penyakit
gokilnya! Salah satu orang terdekat Monik yang sudah tertular penyaki gokilnya tak lain dan tak
bukan adalah sahabatnya sediri, Marissa.
Yang paling nge-khas dari Monik adalah dia SBL sejati, SBL kependekan dari Simon
Badminton Lovers. Yah, ia adalah penggemar berat atlet Bulutangkis kebanggaan Indonesia,
Simon Santoso!
Berawal dari empat tahun yang lalu saat ia tak sengaja memindah-mindahkan channel
televisinya dan terhenti pada salah satu stasiun televisi yang sedng menyiarkan perhelatan akbar
bulu tangkis internasional, Sudirman Cup. Awalnya ia tak begitu mengerti tentang badminton.
Yang ia tahu adalah badminton merupakan permainan pukul-memukul bulu angsa pake
penthungan. Namun setelah melihat hero-nya bertanding yang tak lain adalah Simon Santoso, ia
jadi tahu tentang seluk-beluk badminton dan akhirnya ia tahu bahwa bulu-bulu angsa yang dipukul
pake penthungan itu adalah shuttlecock dan penthungan yang dipakai untuk memukul shuttlecock
dinamakan raket.
Tahun demi tahun pun berlalu, pengetahuan akan dunia bulutangkis pun semakin
bertambah dan tentu ia semakin kagum pada Simon, hero-nya. Bahkan ia pun selalu uptodate
dengan berita-berita bulutangkis, berawal dari perkenalannya dengan salah satu teman friendster-
nya yang ternyata sama-sama BL (Badminton Lovers).
Ia tak menyangka kalau ternyata banyak juga yang fanatic of Badminton seperti-nya
disaat teman-temannya menyenangi cabang olah raga lain, seperti sepak bola, basket, tennis, dan
volley.
“Waduh… ruberset! C’mon Simon! Kamu jangan nyerah, ya! Simooooonnnnn!”
teriaknya histeris bak menonton langsung dari Guangzhou, China.
“Yah… kalah de… nggak papa, Simon! Tetep semangat ya! Tar kan Indonesia masih
punya kesempatan di semi final!” katanya bersemangat.
Yeah, melawan China bukanlah perkara gampang. Secara, di atas kertas pemain China
memang lebih unggul dari Indonesia. Tapi pemain Indonesia selalu tenang saat main, dan olah raga
bulu tangkis adalah olah raga yang cinta damai. Hal ini-lah yang menyebabkan Monik selalu betah
di depan layar kaca hingga hampir jam sebelas malam.
“Mon, bobo’ gih… besok kamu sekolah, kan?” ucap mama yang setia mengontrol
puterinya hingga pertandingan berakhir. Soalnya mama takut kalau-kalau Indonesia kalah, Monik
bakal ngebanting tuh tivi. Tapi nggak lah… Monik bukan anak semacam itu.
“Hoahm… iya dech, ma.” Kata Monik setengah melek.
“Eits cuci muka dulu, lihat tuh muka kamu masih ada cat-nya.”
“Iya deh, mah… bentar.”
***
“Giling! Indonesia kalah!” kata Marissa histeris. “Gue ampe emosi banget! Gue lempar
ruh tipi pake sandal gue!” kata Marissa ngakak.
“Lebay lo! Kan masih ada harapan di semi final ntar kale!”
“Iya sih… hehe” kata Marissa nyengir.
“Hey Mon! gi ngapain nih?” sapa Peter ramah.
Monik terbelalak. “Eh, yah apah? Oh… eh… gi ngobrol aja ama Maris.”
“Haha kug mlotot gitu sih? Ati-ati, tar biji mata lo keluar loh! Hehe.. But wait… mata lo
indah juga.”
Pipi Monik merah, benar-benar merah! Bahkan ia tak sanggup menatap cowok itu.
“Mon, gue ke kelas dulu yah? Bye…” kata marissa seraya meninggalkan mereka berdua.
“Mon, tar sore ada acara nggak? Jalan yuk?” ajak Peter.
“Hah? Jalan?” Monik tersentak seperti ia baru mendengar kata ‘jalan’ untuk pertama
kalinya. Jalan? Jalan sama cowok? Monik tak percaya, orang yang mengajaknya jalan adalah Peter,
sang kapten basket.
Bagi Monik, anak-anak basket biasanya sok keren dan sombong. Namun lain halnya
dengan Peter, ia begitu lembut dan tidak sombong. Dari segi fisik, ia sangat mirip dengn Simon,
hero-nya. Perawakannya jangkung dan rambutnya jabrik lengkap dengan jambulnya. Ekspresi
kemenangannya pun hampir sama dengan Simon, yaitu telunjuknya selalu menunjuk keatas, seraya
mengucap syukur pada Tuhan. So cool!
Saat mengalami kegagalan pun ia tetap stay cool. Cewek mana sih yang nggak
kesengsem dibuatnya? Namun ia kembali berpikir. Ini nyata nggak sih? Kalo nggak nyata kok ia
masih berpijak di bumi pertiwi ini? Yeah, but it’s reality. Wua… It’s so amazing! Jangankan diajak
jalan, Peter mengenalnya-pun ia tak pernah berani bermimpi.
“Um… maaf, kayaknya gue nggak bisa deh…” kata Monik masih tak berani menatap
wajah Peter.
“Kenapa emang? Pasti lo mau nonton semi final badminton, kan?” katanya menyelidik.
Lagi. Kok dia tahu sih kalau dirinya BL? “Iya, kok kamu tahu?”
“Iya dong… ato kalo nggak kita nonton bareng aja di rumah lo. Gimana?” Peter
berharap.
“Hah? Gimana yah?” bingung, bingung, bingung. Kalau ia bisa kabur tentu ia sudah
kabur dari tadi. Tapi kabur bukanlah perkara mudah saat berhadapan dengan Peter. Tatapan
matanya itu loh… kayak nge-hipnotist.
“Eh… gue ngerti. Tar di rumah Marissa aja, yah? Gue tunggu jam setengah lima. Oke?
See you there” ucapnya sambil berlalu. Tanpa berkata sepatah kata-pun Monik langsung
menyetujuinya. Bagaimanapun ia tak enak hati jika harus menolak ajakan Peter.
***
Jam empat lebih empat puluh lima menit…
“Mon, duduk sini, gih! Gue bikin minum dulu yah? Lo ngobrol-ngobrol dulu ama Peter,
gian pertandingan juga belom tayang.” Kata Marissa sambil berlalu meninggalkan Monik dan Peter
di teras rumahnya.
Hening sesaat, tidak ada yang berani membuka pembicaraan, sampai akhirnya…
“Eh… gue mo nanya nih, seberapa besar sih minat lo ke badminton?” kata Peter
mengawali pembicaraan.
Mendengar kata badminton, Monik pun bersemangat dan menceritakannya panjang
lebar termasuk ceritanya tentang Simon. Saking semangatnya Monik bahkan sampai
mengguncang-guncang bahu Peter. Sadar akan tingkah lakunya, Monik pun segera meminta maaf
pada Peter.
“Sori ya… abis gue semangat banget ni.” Katanya menahan malu.
“Santai aja kali” kata Peter sambil mengelus-elus rambut sebahu Monik yang lembut.
Tentu saja hal ini membuat jantungnya berdegup kencang. Bak suara genderang yang berpalu-palu
dari supporter BL saat pertandingan antara Simon Santoso melawan Lee Chong Wei dalam
kedudukan 20-19! Benar-benar menegangkan!
“Mon, em… em… lo mau nggak jadi cewek gue?” kata Peter sambil menatap mata
Monik yang indah.
“Apa!!!???” Tanya Monik seperti membentak. “Sori, sori…” kata Monik cepat-cepat.
Tak disangka, Peter yang baru dikenalnya tadi pagi menembaknya.
“Gue tahu kita emang beda. Lo suka badminton, sedangkan gue suka basket. Tapi gue
nggak bakal maksa lo buat suka ama basket. Gue bakal berusaha nyatuin perbedaan kita. Lo mau
kan jadi cewek gue?” jelas Peter.
Monik bingung harus menjawab apa.
“Em… okey. Tapi lo jangan cemburu ama Simon yah?” jawab Monik.
“Eh, maksud lo?” Peter bingung.
“Ea, lo tahu kan gua ngefans banget ama Simon? Dan tadi lo juga bilang nggak bakal
ngerubah kesukaan gue. So gue boleh tetep ngefans ama Simon walaupun kita udah jadian, kan?”
Terang Monik dengan wajah innocent.
“Huahaha… lo tuh ya, masih sempet-sempetnya bercanda.” Kata Peter masih terkekeh.
“Iya, lo masih boleh ngefans ama Simon, kok. Tapi gue juga boleh ngefans ama pemain badminton
cewek, kan? Hehe” candanya.
“Iya deh boleh. Weits… tapi tunggu, gua nggak maksa lo suka ama badminton, kan?”
Tanya Monik.
“Nggak lah, ini tanpa paksaan en dari hati sanubari gue. Lagian gue kan juga pengen
banget jadi BL kayak elu!” Jawab Peter serius.
“Hey guys! Masuk noh, pertandingannya udah mulai!” kata Marissa yang keluar sambil
membawa balon tepuk dan mukanya yang coreng moreng dengan cat air merah-putih.
“Udah mulai? C’mon Peter!!!” ajak Monik pada Peter sambil merangkul bahu Marissa.
Bagaimanapun sahabatnya itu secara tidak langsung telah menyomblangkannya dengan Peter.
***
Esok harinya di sekolah…
“Mon, tunggu!” kata Peter setengah berteriak memanggil ceweknya itu.
“Eh, Peter…” katanya setelah membalikkan badan. “ Huaaaaa!!!! Name tage lo?! Name
tage lo???!!!” kata Monik tergagap-gagap melihat sebaris nama pada name tage cowoknya.
Ia benar-benar tak menyangka. Amazing banget! Pada name tage Peter jelas tertulis:
SIMON PETER SANTOSO Wua!!! Kini ada dua Simon dalam hidupnya!
“Besok Indonesia Open Super Series kita nonton bareng yah di Istora?” ajak Peter.
“Hah? Beneran lo? Gue bisa ketemu Simon, dong?! Wua…” kata Monik sedikit lebay.
“Iah… makanya kita nabung dari sekarang biar kita bisa dapet bangku VIP di Indonesia
Open ntar, okey?”
“Okey, okey…!!!” kata Monik sambil menjingkrak-jingkrak.
***

Sebulan kemudian di Istora Senayan…


“Indonesia!” dung dung dung dung “Indonesia!” dung dung dung dung “SIMON!!!
SIMON!!!” Teriakan supporter BL diiringi suara balon tepuk.
Salah satu dari supporter itu adalah Monik yang berteriak-teriak bagai seekor macan yang
kelaparan.
“Wua…!!! Gue seneng banget bisa nonton pertandingan ini!!!” Seru Monik pada Peter
ditengah suara para supporter yang membahana. Cowoknya itu hanya membalasnya dengan
senyuman. Melihat senyum Peter, Monik berpikir sejenak, kini benar-benar ada dua Simon dalam
hidupnya. Simon Santoso sang hero, dan Simon Peter Santoso sang belahan jiwa.
*****