P. 1
kasus prita

kasus prita

|Views: 43|Likes:
Dipublikasikan oleh hansten04

More info:

Published by: hansten04 on Sep 05, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2012

pdf

text

original

Prita adalah karyawati di bagian call center sebuah bank swasta.

Perempuan kelahiran 1977 di Solo, Jawa Tengah, itu mendekam di Penjara Wanita Tangerang pada 13 Mei lalu selama tiga pekan. Ia dituduh mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni International Alam Sutra, Tangerang Selatan, lewat internet. Ancaman hukuman pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik itu maksimal 6 tahun penjara atau denda Rp 1 miliar. Prita mengeluhkan pelayanan rumah sakit ketika dia dirawat pada awal Agustus 2008 lewat surat elektronik. Awalnya, ia divonis terjangkit demam berdarah sehingga mesti rawat inap. Belakangan dokter menyatakan Prita terkena virus udara. Merasa keluhannya tak ditanggapi, Prita menuliskan pengalamannya via e-mail pada 15 Agustus 2008. Pihak rumah sakit menjawab keluhan lewat mailing list dan dua koran nasional. Browse: Home / Berita

RS OMNI Internasional VS Prita Mulyasari, Si Sombong VS SI LEMAH
/ RS OMNI Internasional VS Prita Mulyasari, Si Sombong VS SI LEMAH By Abi on June 3, 2009Aneh bin ajaib masa orang mengadu dan mengekspose kebobrokan layanan rumah sakit malah masuk penjara sih? Hal ini terjadi pada ibu Prita Mulyasari (31), karena pengaduannya ke customer care (customer_care@banksinarmas.com) bahwa RS OMNI Internasional telah melakukan penipuan, malah di tuduh telah melakukan pencemaran nama baik.Lucu kan? Jika RS OMNI Internasional yakin bahwa pengaduan ibu Prita tidak benar, harusnya ia membantahnya dengan mengklarifikasi di media bahwa tuduhan bu Prita tidak benar, walaupun RS OMNI sudah menggunakan media koran untuk itu, tapi tetap saja mereka menuntut permintaan maaf pada ibu Prita dan akhirnya bu Prita di jebloskan kedalam penjara, lucu bener kasus ini.Bukannya sekarang jamannya reformasi? Dimana setiap warga dijamin kebebesannya untuk mengungkapkan pendapatnya asal bertanggung jawab?Saya menganggap pihak RS OMNI sangat arogan sekali, bayangkan Presiden pun bisa kita kritik di jaman reformasi ini, loh kok hanya sebuah RS saja malah menjebloskan si pengkritik ke penjara? Ini jadi mengingatkan kita pada era ORBA.Bukannya dengan kejadian ini membuat masyarakat menjadi tidak simpati pada RS OMNI dan berita ini menjadi besar?Saya menarik kesimpulan bahwa RS OMNI sangat arogan dan bodoh karena dengan begini boroknya semakin ketahuan.
eMail Curhat Prita Mulyasari Yang Kecewa atas Pelayanan RS Omni InternationalRS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB Prita Mulyasari ± suaraPembaca jakarta ± Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang

saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif. Lalu referensi dr I adalah dr H. Tapi. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Namun. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.000. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27. dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja. suntikan. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita.000 dengan kondisi normalnya adalah 200. Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat.dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.000 bukan 27. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap.Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus.Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.bagus.Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Namun.000 tapi 181. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya.000 tersebut tidak dicetak dan yang .000.Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah.Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Tapi. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obatobatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali. hasil lab awal yang 27. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan. Keesokan pagi. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal. saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan. dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam.Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.000 menjadi revisi 181.000.Tangan kiri saya mulai membengkak. dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Bukan 27.Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja. janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Tapi. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya.dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H.Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami.Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja.

dan dr H.Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27. Manajemen.000.Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.Terutama dr G dan Og.000 bukan 181. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal .Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kistaSaya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular.Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Saya minta duduk bareng antara lab. tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak.Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer.000 dan dilakukan revisi 181. Namun. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Namun. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.000 saya masih bisa rawat jalan. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama.tercetak adalah 181. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marahmarah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah.000 tersebut ada di Manajemen Omni.Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya.000.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.Saya bilang ke dr G.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.aya dirugikan secara kesehatan. sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya.Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut. akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.

Ibu dua anak balita itu digugat oleh Rumah Sakit Internasional Omni. Tapi saya maklum. Ia. saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. Fenomena negara hukum yang tragis! Dan rakyat Indonesia bertanggung-jawab sepenuhnya untuk bangkit melawan kesewenang-wenangan hukum di tanah airnya sendiri. Tidak hanya itu.´ kata Mat Bloger. yang akan digelar pada Rabu. Lain waktu.Vonis kedua lembaga pengadilan di atas benar-benar telah mengusik rasa keadilan publik di seantero negeri ini. Tolong sampaikan ke dr G. kini Prita harus menghadapi tuntutan pidana di pengadilan yang sama. orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Prita Mulyasari. Tapi. Baru kali ini dia mengerti semua aktivitasnya di ranah Internet berpotensi menuai tuntutan hukum. misalnya. Mas. Namun. Saya informasikan juga dr H raktek di RSCM juga. Benar. meski hanya sebentar. yang kemudian ditunggangi oleh kepentingan politik sesaat dari para politikus oportunis negara ini.Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. telah diputus bersalah oleh hakim Pengadilan Negeri Tangerang yang dikuatkan oleh putusan banding Pengadilan Tinggi Banten dengan vonis perdata membayar denda Rp. Mat Bloger memang kerap membuat posting panas di blognya. vonis bebas yang dikeluarkan pada putusan sela kasus Prita Mulyasari oleh Hakim Pengadilan Negeri Tangerang beberapa waktu lalu akibat derasnya desakan publik untuk pembebasannya saat itu. Tapi.Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). misalnya. dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Mas. Warga Tangerang ini bahkan sempat mendekam di penjara wanita selama 20 hari. RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) menilai bahwa fenomena tersebut jelas merupakan persoalan hukum yang amat serius bukan hanya bagi Prita Mulyasari.Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga. ia mengeluhkan buruknya layanan modem . apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan. Tak mengherankan bila Mat Bloger jadi takut kasus Prita juga bakal menimpa dirinya. pernah mempublikasikan foto wajah wakil rakyat yang sedang tidur di ruang sidang.Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Setiap orang bisa dilaporkan ke polisi atau digugat karena tulisan yang dipublikasikan di Internet. 204 juta. baru tahu bahwa sebuah e-mail ternyata bisa mengirim seseorang ke meja hijau. kalau harus masuk bui hanya karena tulisan di blog dianggap mencemarkan nama baik seseorang. korban pelayanan publik yang buruk dari Rumah Sakit Omni Internasional ± Tangerang. bahkan ke penjara. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini. Apalagi saya memang sering mengkritik.mungkin. dr M. untuk kemudian membangun hukum yang lebih beradab. tapi juga bagi seluruh rakyat yang perlu disikapi secara bersama-sama oleh semua komponen bangsa Indonesia.Mat Bloger. Saya agak geli sekaligus prihatin melihat wajah Mat Bloger yang memelas seperti itu. ³Ngeri juga kan.ewarta-Indonesia.Kasus Prita Mulyasari telah membuka mata sekaligus membangkitkan rasa jeri di kalangan blogger. Bagaimana tidak. yang adalah konsumennya sendiri. 9 Desember 2009 mendatang. anak. Tangerang.Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan. karena dianggap mencemarkan nama baik lewat surat elektronik. dr H. akhirnya harus kandas juga oleh arogansi pihak-pihak tertentu yang coba memanfaatkan jerat hukum sebagai alat penguasaan terhadap orang lain. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

kekisruhan telah terjadi. masih dalam bentuk rancangan. eh. prita mulyasari. Apalagi bukan dia sendiri yang menyebarluaskan e-mail ke milis-milis. dan situs berita. Nah.Tapi Mat Bloger tak sendirian. Ya. hak dan kewajiban sampean pun diatur oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. menurut saya. Banyak blogger yang juga kerap menulis kritik terhadap sebuah produk atau layanan. agar tak kejeblos di lubang yang sama. Peraturan ini belum selesai dibuat.bergerak sebuah operator seluler. sampean sebaiknya mulai dari sekarang mempelajari berbagai undang-undang yang mengatur aktivitas di ranah Internet. Mat?´³Tapi kan. uuite . Ibu Prita itu. Niatnya mau curhat. Mas.´ kasus. apa kata dunia. tapi mewanti-wanti agar sampean berhati-hati dan terhindar dari jerat hukum. Sampean mungkin juga perlu memahami etika berinternet agar tak melanggar hak orang lain. Seandainya semua orang takut mengabarkan adanya kesalahan atau ketidaknyamanan sebuah layanan. malah digugat. selama hanya disebarluaskan dalam ruang lingkup pribadi. Bacalah hak dan kewajiban sampean sebagai warga negara maupun konsumen. Setiap informasi yang disampaikan melalui Internet. Tapi rupanya polisi dan jaksa malah memanfaatkan celah ini untuk menjerat Prita. Mereka kini dibayang-bayangi ketakutan yang sama: bakal masuk penjara hanya lantaran tulisan yang membuat seseorang tak nyaman. melainkan orang lain. Padahal semestinya mereka tak perlu khawatir secara berlebihan³Karena konstitusi menjamin setiap hak warga negara menyampaikan pendapat secara lisan maupun tulisan.´³Dalam kasus ini. Ibu itu tak seharusnya dipidanakan surat elektronik. Ia mengirimkan e-mail tentang Omni itu ke sepuluh teman saja± dalam ruang lingkup pribadi. seharusnya tidak bisa dituntut. Batasan ruang lingkup pribadi hingga kini masih abu-abu dan harus dijabarkan lebih terperinci dalam peraturan pemerintah. Ia bahkan pernah meledek mahalnya harga merek sebuah telepon seluler pintar yang sedang laris. Sebagai konsumen. contohnya sudah ada. omni. Saya bukan menakut-nakuti. forum.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->