Anda di halaman 1dari 5

Teologi Pembebasan Sederhana

Sejarah Teologi, setidaknya selalu saja berputar antara dua kemungkinan yang

bertolak belakang, yakni penindasan sekaligus pembebasan. Sebuah variabel

ganda yang pada hakikatnya sangat berbeda, namun dalam proses, seringkali

seiring sejalan. Coba tengok kelahiran Reanisace. Abad ini diawalai

sebelumnya oleh sebuah tanda, bahwa agama sebagai sebuah sistem

penindasan yang sangat sistematis, telah dengan sangat terstruktur

melakukan penindasan. Adanya surat Al Aflat, atau surat pengampunan dosa

yang diperjual belikan, menjadikan agama saat itu tak lebih daripada sebuah

pranata yang tak jauh dari kepentingan perut dan kepentingan kantong

semata. Maka sebagai jawaban atas itu, muncul pula sebuah spirit perubahan

yang menjadi bukti terbalik, bahwa agama juga menjadi sebuah alat untuk

mebebasakan ketertindasan tersebut. Marthin Lutter, membuktikannya dengan

reformasi gereja.

Ketika kita menilik situasi terkini, kita dapat menyaksikan betapa agama masih

menjadi pranata yang kuat sebagai alat legitimasi kekuasaan dan legitimasi

ketertindasan. Adanya doktrin dan fanatisme yang kuat di dalam diri

mayarakat, telah menjadikan penindasan (mungkin pula kelak pembebasan)

menjadi sangat mudah diatur. Sebagai contoh, kita ambil saja di Lombok,

sebuah pulau kecil di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Barat, yang terkenal

dengan sbeutan pulau seribu satu masjid. Tidak ada (mungkin belum) harapan

bagi orang dengan identitas agama non-islam untuk menjadi bupati atau
gubernur, secerdas apapun ia, dan sebrilian apapun idenya. Masyarakat (yang

mayoritas islam) telah begitu terdoktrin bahwa selain agama yang mereka

anut, tidak ada agama yang baik, tidak ada agama yang toleran dan tidak ada

agama yang rela menjadikan sebuah agama hidup dan berkembang. Dengan

kata lain, semuanya penghasut, semuanya ingin mencelakakan mencelakakan

sebuah agama tertentu. Terang saja ini akibat banyaknya salah tafsir dan

adanya kebebalan yang barangkali (sengaja) dipupuk untuk diledakkan suatu

saat oleh sebagian orang.

Di Lombok, Kyai memegang kekuatan legitimasi pembenaran yang sangat

kuat. Jejaknya bisa terekam dengan jelas, bahwa ketika seorang Kyai besar di

sana menentukan partai mana yang akan menang dan kalah dalam pemilihan

umum. Seorang Kyai cukup berucap “mari bernaung di bawah pohon yang

rindang” untuk memenangkan Golkar, atau “kiblat kita adalah Ka’bah” untuk

memenangkan PPP, atau bisa dengan berkhutbah “kerbau adalah simbol

Qurban” untuk menjadikan PDI pemenang pemilu dalam era Orde Baru dulu.

Akibatnya, Kyai memegang kekuatan penting sebagai imam, sekaligus sebagai

tokoh politik (pemimpin). Lihat saja gubernur NTB saat ini, atau bupati Lombok

Timur, keduanya adalah keluarga besar Nahdatul Wathan (NW) sebuah

organisasi islam lokal terbesar di sana, mirip NU di Jawa Timur, atau

Muhammadiyah di Jawa Tengah. Hal ini terus berlangsung sejak lama, bahkan

pemimpin yang ingin maju pun, setidaknya harus mendapat restu atau

mengemis dukungan pada organisasi islam lokal. Bukan saja di tataran

Indonesia baik local atau nasinal, bahkan di Amerika Serikat yang (konon)

demokratis itu, seorang pemimpin masih dipandang dari penilaian apakah ia


katolik, kristen protestan atau yahudi.

Pristiwa 65 sebagai contoh sebuah ledakan ekstrim sebuah golongan agama

tertentu (dalam kasus ini islam) sebagai alat penghancur sebuah ideologi atau

sebuah gerakan. Hanya dengan isu komunis sama dengan tidak beragama,

sebuah lembaga agama tega menghabisi jutaan orang. Manusia-manusia yang

setiap harinya rajin beribadah, sopan santun dan murah senyum tiba-tiba

menjelma beringas, seolah hantu gentayangan bermata merah dan ingin

menjadi pembunuh sebagai upaya jihadnya. Mereka tiba tiba berteriak,

mengacungkan parang, membakar dan tiba-tiba menjadi pembunuh. Dari

beberapa data, penghasutnya adalah Kyai, pemuka agama yang secara politis

kalah akibat pengambilan tanah oleh petani yang mulai (diduga/dituduh)

beridiologi komunis. Maka sertamertalah para santri menjadi pembunuh,

menjadi pendekar-pendekar yang membasahi parang dan celurit mereka

dnegan darah sesamanya. Agama telah menjadikan mereka bringas,

memunculkan sebuah kekuatan asing yang tak terkendali dalam tubuh

mereka. Terang saja jika apa yang dikatakan Marx, bahwa agama adalah

candu masyarakat, bisa saja mendapat pembenaran pada kasus ini.

Namun, jika kita kembalikan pada konsep Teologi Pembebasan, maka kita bisa

melihat potensi konflik, potensi penindasan, bisa jadi sejalan dan berbanding

lurus dengan potensi pembebasan. Sejarah telah membuktikan bahwa abad

kegelapan yang ditandai dengan adanya penyelewengan agama, adanya

pengaburan ilmu alam dan adanya perselingkuhan agama dengan negara,

berhasil ditumbangkan dengan agama pembebasan pula. Rekonsiliasi berbagai


konflik, pun kadang selesai lewat jalur agama. Revolusi Iran, pencerahan kaum

jahiliah oleh Muhammad, juga Reanisance, adalah sebagian contoh yang nyata,

bahwa agama adalah spirit pembebasan dan seperti yang diungkapkan islam:

rahmatan lil alamin.

Kefanatikan kelompok agama tertentu, atau kekuatan mereka memegang

teguh agamannya bisa saja menajadi sebuah modal kuat gerakan masa yang

massif untuk melakukan perubahan. Bukankah konflik dengan pengerahan

masa besar-besaran seperti di Poso, Sambas, Ambon, Aceh, Lombok, begitu

gampang digerakkan hanya dengan isyu agama tertentu? Kenapa agama saat

ini susah dijadikan sebagai sebuah usaha atau gerakan pembebasan

ketertindasan? Melawan penggusuran misalnya, kenaikan BBM, korupsi, upah

buruh, buruh migran, dan kasus kemanusian lainnya. Agama, kan tidak hanya

berurusan dengan Tuhan, dan hanya ada saat terjadi crash, dengan agama

atau kelompok tertentu.

Tentu saja, hal ini bisa tercapai, kalau tokoh spiritual sebagai panutan dan

sebagai pemegang legitimasi kepercayaan ummatnya menjadi suri tauladan

yang baik menuju perubahan itu. Kalau saja di Indonesia Kyai, Pendeta atau

Pastor, Biksu dan pemuka agama lainnya berani tampil menyuarakan

penindasan, maka tentu saja akan banyak terjadi perubahan yang transdental.

Kalau saja mereka menjadi orator saat kenaikan BBM, saat hari buruh sedunia,

seperti Khomaini di Iran, Muhammad di Makkah, atau Marthin Lutter di eranya.

Namun, kondisi ini tidak akan pernah ada dan terjadi, jika Kyai sudah hanya

menjadikan pengajiannya sebuah momentum menina-bobo-kan kesadaran


rakyat. Barangkali kita tak perlu bercerita panjang lebar tentang Teologi

Pembebesan, karena hanya secara sederhana saja, harusnya agama sebagai

simbol pembebasan bisa menjadi manifestasi sebuah kerinduan manusia akan

kesejahteraan.

Tapi apa jadinya kalau Kyai sibuk menjadi dai musiman di bulan puasa, atau

menjadi iklan HP 3G dengan dalih silaturrohmi. Negara akan makin kacau, jika

pemuka agama makin rajin menyejajarkan diri dengan artis dan berbondong-

bondong minta diberitakan di infotainment. Maka jadilah kita orang-orang

beriman dengan kekerdilan hati, beriman dengan kepala dongol dan otak

pendek, bahwa semua datang dari Tuhan dan semua sudah diatur, semuanya

adalah yang terbaik dari-Nya. Jika kita berbicara demikian, maka habislah

perkara, maka tak perlulah kita berdebat, tak perlulah kita berjuang menuntut

perubahan. Maka sia-sialah saya menulis artikel ini. Bah!