Anda di halaman 1dari 6

Cultural Anthropology

PENCAHARIAN BAHTERA NABI NUH

Created By:

Name : Leonardo Pieky. R


Nim : 2008121099
Class : Marketing 12-7C

STIKOM The London School of Public Relations


Jakarta
Tahun 2010
A. Pendahuluan

Kisah Bahtera Nuh, menurut Kitab Kejadian pasal 6-9, dimulai ketika Allah
mengamati perilaku jahat manusia dan memutuskan untuk mengirimkan banjir ke bumi dan
menghancurkan seluruh kehidupan. Akan tetapi, Allah menemukan satu manusia yang baik,
yaitu Nuh, "seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sesamannya," dan
memutuskan bahwa ia akan melanjutkan garis keturunan manusia. Allah menyuruh Nuh
untuk membangun sebuah bahtera, dan membawa sertanya istrinya dan ketiga anak
lelakinya Sem, Ham, dan Yafet, beserta istri mereka. Selain itu, ia disuruh untuk membawa
contoh dari semua binatang dan burung-burung di udara, jantan dan betina. Untuk
menyediakan makanannya, ia diperintahkan membawa makanan dan menyimpannya di
bahteranya.

Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang itu masuk ke dalam Bahtera, dan
"pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah
tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat
puluh malam lamanya." Banjir menutupi bahkan gunung-gunung yang tertinggi sekalipun
hingga kedalamannya lebih dari 20 kaki, dan segala makhluk di muka Bumi pun mati. Hanya
Nuh dan mereka yang ada bersamanya di dalam Bahtera yang selamat dan hidup.

Setelah 150 hari, Bahtera akhirnya berhenti di pegunungan Ararat. Air terus
menyurut, dan setelah sekitar 70 hari lagi puncak-puncak bukit pun muncul. Nuh melepaskan
seekor burung gagak yang "terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas
bumi." Berikutnya, Nuh melepaskan seekor merpati, tetapi ia kembali karena tidak
menemukan tempat untuk mendarat. Setelah tujuh hari lagi, Nuh kembali mengeluarkan
burung merpati, dan burung itu kembali dengan sehelai daun zaitun di paruhnya, dan Nuh
pun tahu bahwa air telah surut. Nuh menunggu tujuh hari lagi dan mengeluarkan burung
merpati itu sekali lagi. Kali ini burung itu tidak kembali. Lalu ia dan keluarganya serta semua
binatang meninggalkan Bahtera, dan Nuh memberikan kurban kepada Allah. Allah
memutuskan bahwa Ia tidak akan mengutuki bumi lagi karena manusia, dan tidak akan
pernah lagi menghancurkan semua kehidupan dengan cara seperti ini.

Untuk mengingat janji ini, Allah menempatkan pelangi di awan-awan, sambil berkata,
"Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku
akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk
yang hidup."
B. Objektif

Sejumlah studi dan penelitian tentang peristiwa air bah dan bahtera Nuh
membimbing berbagai temuan arkeologi yang luar biasa. Kisah tentang air bah dan bahtera
Nuh memang menyebar dalam banyak budaya. Tak hanya di Timur Tengah dan Asia kecil,
tapi juga sampai ke suku-suku Indian kuno di Amerika dan legenda tua orang-orang Hawai.

Namun naskah yang paling banyak ditemukan adalah dari dokumen mitologi Assyro-
Babilonia, mitologi Mesopotamian (bertahun abad ketiga Masehi). Juga dokumen-dokumen
beraksara kuno dengan berbahasa asli Sumeria, Akkadian dan Assyria.

Temuan lainnya yang merujuk pada peristiwa pencatatan tahun 1646–1626 SM


adalah artefak tablet tanah liat kuno yang memuat epik Atrahasis pada kurun masa cicit
Hammurabi yakni Ammi-Saduqa. Kisahnya adalah bahtera Nuh versi Akkadian (bahasa asli
Babilon kuno). Inilah yang menjadi versi cerita bangsa Assyrian. Sementara, versi Jahudi dan
Kristen dalam bahasa Ibrani serta versi Islam dalam bahasa Arab memang merujuk pada
kisah bahtera Nuh yang sama.

Studi literatur memang memancing ilmuwan untuk menemukan lebih banyak bukti
yang bisa memberi bukti orisinil bahwa peristiwa itu memang terjadi. Bukan semata dokumen
literatur kuno semata. Maka pencarian bukti berupa bahtera Nuh pun dilakukan.

Dalam penelitian ini muncul berbagai opini antara lain:


• Kisah Nuh adalah sejarah
• Kisah Nuh hanyalah legenda semata
• Banjir besar memang ada, namun bahtera Nuh hanya dongeng semata

Jadi tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mencari bahtera Nuh unutk mencari
kebenaran akan tiga opini diatas.

C. Perburuan Bahtera Nuh

Berdasarkan ribuan literatur Kuno yang terpisah-pisah, obyek pencarian diarahkan


pada wilayah Pegunungan Ararat seperti yang tersurat. Sementara itu, masyarakat Turki
yang tinggal turun temurun di kaki pegunungan bersalju itu selama ribuan tahun telah
memuja puncak Gunung Ararat yang dianggap menjadi gunung suci. Mereka yakin dan
percaya dari generasi ke generasi bahwa di puncak tersebut terdapat bahtera Nuh. Mereka
melarang keras pendakian gunung tersebut!
Namun pada pertengahan abad ke-19, pendakian gunung tersebut pun dilakukan
untuk pertama kali. Pendaki gunung yang berhasil menginjak puncak tertinggi pegunungan
Ararat adalah Dr Friedrich Parrot, Khachatur Abovian, Alexei Sdrovenko, Matvei Chalpanof,
Ovannes Aivassian and Murat Pogossian pada 1829. Anggota ekspedisi pendakian gunung
ini melaporkan bahwa mereka kemungkinan telah menemukan bahtera Nuh di sebuah lereng
puncak.

Tahun 1876, penjelajah Inggris James Bryce mendaki puncak Ararat dan menemukan
potongan fosil kayu selebar 4 kaki di ketinggian 13.000 kaki.

Tim komisi survei Turki melakukan pencatatan geologi tahun 1883 di pegunungan Ararat.
Mereka menemukan potongan fosil kayu berbentuk bahtera dibekas longsoran gunung es
yang terkubur sekitar 20-30 kaki di bawah lapisan salju dan es abadi.

Tahun 1916, penerbang Rusia Valdimir Roskovitsky dan rekannya melihat obyek menyerupai
bahtera terdampar di tepi pantai danau di pegunungan Ararat. Ekspedisi darat mencapai
lokasi tersebut sebulan kemudian. Sejumlah foto dibuat dan dilaporkan kepada Czar Rusia.
Namun penggulingan kekuasaan terjadi beberapa hari kemudian dan bukti-bukti foto dan
laporan tim ekspedisi itu hilang.

Sejumlah laporan penampakan lainnya dilaporkan pada tahun 1938-1948. Semua


menuturkan tentang fenomena bahtera Nuh di pegunungan Ararat. Lantas sebuah foto udara
tahun 1949 memperlihatkan wilayah Barat dataran pegunungan Ararat. Dalam citra foto
terlihat obyek persegi panjang yang besar yang diyakini sebagai puing-puing bahtera Nuh.

Sementara, laporan tahun 1960, dalam sebuah pemeriksaan rutin dan pemotretan udara
untuk kepentingan militer, seorang kapten Angkatan Bersenjata Turki mendadak terkejut
melihat hasil pemotretannya. Ia melihat penampakan obyek persegi empat mirip bahtera Nuh
pada gambar potret pegunungan Ararat. Lokasinya kira-kira 20 mil arah Selatan puncak
Ararat. Ia meneliti serius foto tersebut dan mencari perbandingan ukuran dengan skala.
Ternyata obyek tersebut berukuran panjang kira-kira 135 meter dengan lebar 22 meter.
Persis seperti ukuran bahtera Nuh. Ia kemudian melaporkan temuan dan analisanya pada
markas besar Angkatan Bersenjata Turki.

Laporan sang kapten sangat menggemparkan dan pada 1962, dilakukan pemeriksaan oleh
militer bersama tim sains Amerika ke lokasi tersebut. Ekspedisi ini menemukan puing kayu di
ketingian 14.000 kaki.

Hal ini diangkat lagi oleh Taylor pada 1999. namun langsung dibantah oleh ahli penelitian
satelit. Itu bukanlah buatan tangan manusia, namun lebih merupakan proses alamiah.
D. Misteri Bahtera Nuh

Para peneliti mencoba untuk membuat kapal yang sama dengan Bahtera Nuh. Kapal
itu dikerjakan oleh 10orang dan dengan peralatan yang modern. Pembuatan kapal ini
membutuhkan waktu 1 tahun dan dikerjakan tanpa istirahat. Kalau dilihat dari cerita Nabi
Nuh, ia membuat kapal hanya dengan palu nya dan hanya membutuhkan waktu beberapa
hari. Disini menimbulkan banyak misteri yg tidak bisa diungkap. Di samping itu, Bahtera Nuh
juga tidak memenuhi hukum kubikal perahu. Hal ini meyakinkan para peneliti bahwa kapal itu
tak akan kuat melawan banjir yg super dasyat itu.

E. Asal Air

Pertanyaan berikutnya adalah sumber air yg membuat banjir dasyat tersebut. Berikut adalah
beberapa teori yg terkenal:
• Air berasal dari perut bumi yang pada waktu itu entah bagaimana menyembur ke
daratan dan membuat bumi tenggelam.
Seperti kita tahu, kita telah menggali berbagai kekayaan bumi, namun kita tidak pernah
menemukan air di dalamnya. Jadi teori ini tidak mungkin terjadi.

• Pada waktu itu, bumi di lapisi oleh tudung uap air yang entah bagaimana runtuh dan
membanjiri bumi.
Tudung uap air membuat manusia tidak akan bisa bertahan hidup lama karena
kandungan udara yg berbahaya.

• Benda luar angkasa yang menabrak bumi dan jatuh di perairan luas yg memicu
terjadinya tsunami besar dan menenggelamkan bumi.
Teori ini merupakan teori yg paling masuk logika. Ini dapat ditemui di cerita-cerita
masyarakat jaman dahulu.

• Mencairnya es di kutub karena pemanasan global.


Pada zaman itu, lapisan ozon dibumi masih bagus dan belum terkontaminasi.
F. Kesimpulan

Kemungkinan yang ada adalah kisah Nuh merupakan penyerapan dari cerita jaman
pembebasan. Pada waktu itu memang terjadi banjir besar di daerah mesir. Para imigran yang
menyebar tersebut telah membuat berbagai legenda muncul dimana-mana dengan nama
berbeda, namun cerita yang sama. Cerita inilah yg dimasukan kedalam perjanjian lama
dengan perubahan-perubahan independen.

Namun, semua ini masihlah sebuah misteri yang belum bisa terungkap. Semoga
dengan bertambah majunya teknologi, kita dapat mengetahui sejarah yang sebenarnya.