Anda di halaman 1dari 26

Tulisan pendek ini hendak mengeksplanasikan

Tasawuf pengalaman sufistik Muhammad dengan


pendekatan normative maupun historis. Karena,
secara histories beliau sangat kental dengan
pengalaman sufistik yang dialaminya baik
sebelum maupun setelah penobatannya menjadi
nabi dan rasul. Predikat kenabian yang melekat
padanya justru menjadikan dia sebagai seorang
yang hampir separo hidupnya dipenuhi dengan
kualitas sufistik tertinggi. Pengalaman sufistik
Muhammad dalam sejarah hidupnya secara tidak
langsung memberikan pijakan tersendiri bagi
pengalaman sufistik yang dialami para sufi.
Pengalaman sufistik Muhammad yang paling
mencolok dalam sejarah hidupnya antara lain
adalah pengalaman sufistik di gua Hira, al-ru’yâ
as-sâdiqah, pewahyuhan, mushâdahah pada
malam mi’râj, dan kondisi fanâ’.

Pengalaman Sufistik
Muhammad Saw
Saw..
(Tinjauan Normatif-Historis)

Oleh Safrodin Halimi*

Kata Kunci: pengalaman sufistik, wahyu, ru’ya shadiqah, mushahadah, mi’raj,


khalwah, takhalli, tahalli dan tajalli

Pendahuluan
Dalam perbincangan mengenai spiritualitas Islam atau lazim disebut
tasawuf, kajian mendalam tentang pengalaman sufistik yang dialami Nabi
Muhammad merupakan kajian yang agak terlupakan, terlebih mengenai
proses spiritualitas Nabi yang radikal seperti yang pernah dialami para
sufi kontroversial semacam al-Bustami, al-Hallaj maupun Ibn al-Arabi.
Hal ini boleh jadi selain karena adanya keyakinan bahwa Nabi
Muhammad adalah sosok manusia sempurna yang tidak layak
dibandingkan dengan manusia lain, dominasi “tasawuf sunni” atau
“tasawuf ortodoks” sejak abad III Hijriyah dan munculnya gerakan
purifikasi (pemurnian) ajaran-ajaran Islam sejak abad VII Hijriyah
agaknya telah menempatkan kajian tentang pengalam sufistik
Muhammad saw. sebagai sesuatu yang tabu dibicarakan.
Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Padahal dalam sejarah Islam, Muhammad dikenal sebagai pioner yang


memiliki peran terpenting dalam proses tumbuh dan berkembangnya
khazanah sufisme Islam dari satu generasi ke generasi yang lain. Kaum
zuhâd atau kaum sufi sejak masa permulaan Islam dalam menjalani
aktivitas sufistik mereka selalu merujuk pada Muhammad sebagai mursyid
tertinggi dalam Islam. Bahkan, kaum sufi sendiri menganggap Nabi Saw.
sebagai sosok manusia sempurna (al-insân al-kâmil) sekaligus mursyid
tertinggi yang harus dijadikan teladan (uswah hasanah) dalam perjalanan
sufistik mereka menuju kepada Yang Haq (Allah). Itulah sebabnya, dalam
tulisan ini penulis tertarik memaparkan kajian seputar pengalaman sufistik
Muhammad saw dengan beragam macamnya itu dengan pendekatan
normative-historis.

Muhammad: Antara Kemanusiaan Dan Kenabian


Penegasan tentang kemanusian Muhammad sebagaimana manusia
pada umumnya telah dikemukakan dalam Al-Qur’an Surah al-Kahfi:
110. Muhammad diperintahkan Allah SWT untuk mengatakan kepada
orang-orang waktu itu bahwa dirinya adalah seorang manusia (bashar)
seperti halnya manusia pada umumnya, namun diberi wahyu
“Sesungguhnya Tuhan kalian hanyalah Tuhan yang Esa”. Tidak ada
perbedaan antara Muhammad dengan manusia lain dalam sifat-sifatnya
sebagai makhluk manusia, dan ia tidak mengetahui kecuali pengetahuan
yang telah diajarkan Allah SWT kepadanya. Hanya pewahyuan itulah
yang membedakannya sebagai seorang Nabi dari manusia lainnya.1
Nabi Muhammad, dalam konteks ini, telah memiliki kesempurnaan-
manusiawi (al-kamâl al-insân)2 dan kesempurnaan-kenabian (al-kamal al-
nabawi). Kesempurnaan-kemanusiaan berkaitan dengan sifat-sifatnya
yang luhur, sedangkan kesempurnaan kenabian berhubungan dengan
wahyu dan kerasulan.3
Kenabian dan kerasulan merupakan anugerah Allah SWT. Anugerah
itu tidak diberikan kecuali kepada orang yang telah mencapai
kesempurnaan—kemanusiaannya. Inilah salah satu karakteristik khusus
yang menjadi pembeda antara para nabi atau rasul dengan manusia-
manusia paripurna lainnya. Sebelum dinobatkan sebagai nabi, Muhammad
masih dalam taraf sebagai manusia paripurna yang memiliki sifat-sifat
kemanusiaan yang mulia, tetapi belum dianugerahi sifat-sifat
kesempurnaan kenabian. Yang diperlihatkan barulah keparipurnaan

414 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

kemanusiaan biasa.4 Inilah sebabnya sifat kemanusiaan (manusia biasa)


dapat juga ada pada diri Nabi.
Muhammad, yang kala itu telah memiliki keparipurnaan-
kemanusiaan, dipilih Allah SWT untuk mendapatkan derajat
kesempurnaan rohaniyah (al-kamâl ar-rûhi) yaitu derajat kenabian dan
kerasulan. Sedangkan Abu Bakar –misalnya—tetap menjadi manusia
paripurna biasa dalam sifat keparipurnaan-manusiawinya. Jadi,
Muhammad sebelum dinobatkan sebagai nabi adalah manusia paripurna
(al-insân al-kamil) yang seluruh kehidupannya merupakan kehidupan yang
utama dan paripurna. Ia adalah seorang jenius, saleh, agung, dan memiliki
sifat-sifat keutamaan manusia lainnya. Predikat tersebut berikut sifat-
sifatnya yang mulia bisa saja dimiliki oleh banyak orang berdasar fitrahnya
dengan tingkatan yang berbeda-beda. Adapun para Nabi atau rasul
adalah orang-orang yang telah mencapai derajat keparipurnaan yang
tertinggi melebihi manusia-manusia sempurna lainnya.
Demikian juga Muhammad, setelah dinobatkan menjadi nabi
merupakan individu paripurna yang memiliki keistimewaan-keistimewaan
spiritual-sufistik yang tidak dimiliki oleh mereka yang bukan nabi dan
rasul. Karena itu, wilayah spiritualnya tidak dapat diakses atau dijangkau
kecuali oleh mereka yang memiliki kapasitas keparipurnaan di atas
keparipurnaan fitri (manusia biasa) atau setingkat dengan kenabian.5
Keparipurnaannya sebagai seorang nabi telah tercermin melalui
beberapa sifat luhur dan keistimewaan spiritual yang terhimpun dalam
dirinya. Pertama, kehormatan nasabnya dari suku Quraisy yang merupakan
keturunan dari Isma’il ibn Ibrahim, tanda kenabian yang terdapat di
antara kedua pundaknya, penampakan wajah, dan bentuknya yang
memancarkan sinar kejujuran dan kenabiannya. Kedua, sifat dan
akhlaknya yang terpuji; seperti sifat kasih sayang, sabar, rendah hati,
dan jujur. Ketiga, tanda-tanda kenabian dan pengalaman sufistik tertinggi
yang telah dialirkan oleh Allah SWT kepadanya, seperti benda-benda
padat bisa berbicara kepadanya, dapat menambah makanan dan minuman,
membelah bulan; dan yang paling agung dan abadi adalah memperoleh
wahyu serta menjalani mi’raj untuk bertemu dan berdialog dengan Allah
SWT. Keempat, doanya dikabulkan setiap kali Nabi memohon untuk
seseorang atau umatnya.6
Dari sinilah, dapat dipahami bahwa betapa pun Muhammad adalah
manusia seperti halnya manusia yang lain, tetapi ia tidaklah sama persis,

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 415


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

karena beliau adalah salah satu hamba Allah SWT yang mulia. Ia bukan
pula jelmaan atau makhluk adikodrati, melainkan seorang manusia yang
telah dicintai-Nya sehingga Allah SWT menjadi pendengarannya,
penglihatannya, dan kekuatan yang selalu melingkupi setiap gerak anggota
badannya. Keistimewaannya tercermin dari hak istimewa yang
dianugerahkan secara khusus oleh Allah SWT seperti menikahi lebih
banyak istri daripada yang diizinkan oleh hukum Islam kepada para pria
muslim lainnya. Tentu saja hak istimewa ini sekaligus mengandung
tanggung jawab yang amat besar, sebagaimana yang dimaksudkan pepatah
Barat “no-blesse oblige”.7 Nabi Muhammad memikul tanggung jawab yang
tidak akan dapat dipahami oleh orang lain betapa pun luar biasanya ia.
Hak istimewa tersebut merupakan lambang keunggulannya dalam tatanan
manusia, tidak saja dari segi hak istimewa itu, tetapi juga dari segi
tanggung jawabnya yang sangat besar.
Keistimewaan lain yang ada pada Nabi Muhammad adalah proteksi
kenabian [‘ismah] yang melekat pada dirinya secara otomatis, sehingga
ia terjaga (ma’sum) dari kekeliruan manusiawi yang dilakukan berdasar
kesadaran antropologis. Setiap kali ia melakukan kekeliruan, wahyu selalu
datang untuk meluruskannya.
Misalnya Nabi Muhammad pernah ditegur oleh Allah SWT berkaitan
dengan sikapnya saat menyambut orang buta, Ibn Ummi Maktum yang
ingin diajari tentang Islam. Tatkala ia datang, Nabi sedang menemui
para pemuka kafir Quraisy. Nabi tidak menyambut dengan baik
kedatangan Ummi Maktum itu, tetapi justru beliau bermuka masam dan
berpaling darinya.8 Karena itu, turunlah surat ‘Abasa sebagai pelurusan
terhadap perilaku Nabi yang muncul dari kesadaran antropologis
(kesadaran manusia biasa) tersebut.
Pada kasus lain, Nabi Muhammad juga ditegur Allah SWT dengan
surat at-Tahrim berkaitan dengan keputusannya mengharamkan dirinya
menggauli salah satu budak perempuan demi keridaan istrinya yang
cemburu padanya. Suatu ketika salah satu istri Nabi menemukan Nabi
bersama budak perempuannya (jâriyah) di kamarnya, sehingga istri Nabi
tersebut memprotesnya. Menghadapi hal itu, Nabi meminta agar kejadian
tersebut tidak diceritakan kepada yang lain seraya Nabi mengharamkan
budak perempuan itu bagi dirinya untuk selamanya. Istri Nabi itu
tersentak dan kemudian bertanya, “Bagaimana engkau mengharamkan

416 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

sesuatu yang dihalalkan Allah SWT padamu?” Karena itu, Allah SWT
menurunkan surat at-Tahrim.9
Umar ibn al-Khaththab pernah mengusulkan untuk membunuh
(menghukum mati) para tawanan perang Badar. Tetapi setelah meminta
pendapat dari para sahabat, Nabi lebih memilih untuk melepaskan para
tawanan tersebut dengan imbalan tebusan atau memberikan pengajaran
kepada penduduk Madinah bagi tawanan yang pandai menulis dan
membaca. Tetapi tidak lama kemudian turunlah wahyu, surat al-Anfal
ayat 67 yang tidak membenarkan adanya tebusan dari tawanan. Demikian
juga, tatkala Nabi hendak mengabulkan permohonan seorang anak tokoh
munafik Abdullah bin Ubay bin Salul, Umar menentangnya. Tetapi, Nabi
tetap pada pendiriannya dan menshalatkan jenazah Abdullah. Tidak lama
kemudian turunlah wahyu surat at-Taubah ayat 84 yang melarang Nabi
menshalati orang-orang munafiq dan berdiri di atas kuburannya.10
Kasus-kasus tersebut di atas merupakan putusan-putusan Nabi yang
dilakukan atas kesadaran antropologis. Dengan demikian, dalam diri
Muhammad masih terdapat kesadaran antropologis yang mempengaruhi
perilaku-perilaku yang secara antropologis (dalam ukuran manusia
normal) dapat dibenarkan, tetapi secara nubuwwah (wahyu) belum tentu
benar. Di sinilah letak keistimewaan Nabi dari spiritualis lainnya. Nabi
selalu dilindungi Allah SWT dengan proteksi kenabian (wahyu) dalam
perjalanan mistiknya, sementara para spiritualis lainnya tidaklah demikian,
sekalipun mereka kadangkala memperoleh perlindungan Tuhan dalam
bentuk yang lain.

Pengalaman Sufistik Di Gua Hira


Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri
Muhammad kecenderungan untuk melakukan uzlah (menjauhi pergaulan
masyarakat ramai). Allah SWT menumbuhkan pada dirinya rasa senang
untuk melakukan penyendirian (ikhtilâ) di gua Hira, nama gunung yang
terletak di sebelah barat laut kota Mekkah. Ia dengan penuh kesadaran
beribadah di gua tersebut selama beberapa malam, kadang sampai sepuluh
malam, dan kadang lebih dari itu, sampai satu bulan. Ibadahnya ketika
itu hanyalah melakukan meditasi, ber-tafakkur mengenai Yang Maha
Pencipta untuk mencari jawaban terhadap masalah-masalah kehidupan.
Hal itu Nabi lakukan dalam masa satu tahun, dan bahkan-–menurut
sumber lain—selama tujuh tahun lamanya.11 Beliau hanya kembali ke

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 417


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

rumahnya sejenak sekedar mengambil bekal baru untuk melanjutkan


penyendirian di gua Hira. Dalam penyepian itu, Muhammad melakukan
perenungan, memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan
mendekatkan diri kepada-Nya, disertai sikap penuh pengharapan,
sehingga hati nuraninya menjadi benar-benar bersih dan jernih dipenuhi
cahaya ketuhanan.
Uzlah yang dilakukan Muhammad menjelang dinobatkan sebagai
rasul ini memiliki makna dan mengandung pelajaran yang sangat besar
dalam kehidupan kaum muslimin pada umumnya. Peristiwa ini
menjelaskan bahwa seorang muslim tidak akan sempurna keislamannya—
betapa pun ia memiliki akhlak-akhlak yang mulia dan melaksanakan
segala macam ibadah—sebelum menyempurnakannya dengan waktu-
waktu uzlah dan khalwah untuk mengadili diri sendiri, merasakan
pengawasan Tuhan dan merenungkan fenomena-fenomena atau gejala
alam semesta yang menjadi bukti keagungan-Nya. Dari aktivitas uzlah
Muhammad ini, dapat diambil suatu pelajaran bahwa setiap jiwa manusia
memiliki sejumlah penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali dengan
cara uzlah. Sifat sombong, ujub, hasud, riya, dan cinta dunia merupakan
penyakit yang dapat menguasai jiwa, merusak hati nurani, sekalipun secara
lahiriah seseorang terlihat melakukan amal-amal saleh. Di samping itu,
dengan khalwah seseorang dapat sampai pada mahabbah (mencintai)
kepada Allah SWT. Tafakkur, perenungan, banyak mengingat keagungan
Allah, nampaknya dapat diwujudkan melalui cara khalwah. Khalwah ini
sekaligus menjadi sarana untuk menciptakan dorongan-dorongan
spiritual di dalam hati; seperti rasa takut, cinta, dan penuh harap, yang
bisa menjadi motivasi kuat dalam keimanan maupun keislaman seseorang.
Tetapi khalwah di sini bukan dipahami sebagai tindakan meninggalkan
sama sekali pergaulan sesama manusia dengan hidup secara terasing.
Karena khalwah yang dilakukan Muhammad bersifat temporer, menurut
kadar tertentu, dan sebagai pencarian obat untuk memperbaiki keadaan.
Ketika Nabi berkhalwat atau bertahannuth di gua Hira, ia tiba-tiba
didatangi malaikat Jibril (an- Nâmûs) dan berkata “bacalah”. Nabi kontan
menjawab, “Saya bukanlah orang yang bisa membaca”. Seraya memegang
dan memeluk Nabi erat-erat sehingga beliau tidak berkutik, Jibril kembali
memerintahkan hal yang sama sampai tiga kali, lalu menyampaikan lima
ayat pertama dari surat al-’Alaq kepada Nabi. Setelah peristiwa tersebut,
Nabi pulang kepada istrinya Khadijah, dalam keadaan ketakutan,

418 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

kebingungan dan gemetaran yang luar biasa, sehingga ia meminta kepada


Khadijah untuk menyelimutinya.
Dalam pengalaman sufistik itu, ia melihat Malaikat Jibril tampil
menutupi keluasan cakrawala. Pengalaman sufistik ini dapat dilihat dan
didengar. Malaikat itu memerintahkan Muhammad untuk melafalkan
iqra’ yang dalam bahasa Arab adalah bentuk kalimat perintah dari kata
kerja qara’a yang artinya “membaca” (untuk meneliti). Oleh karena itu,
bab pertama (surah) dari Al-Qur’an adalah al-‘Alaq ayat 1-5 diwahyukan
kepada umat manusia.
Pengalaman pewahyuan tersebut begitu luar biasa sehingga
menggetarkan Nabi Muhammad baik secara psikologis maupun fisik.
Peristiwa pemberian wahyu tersebut juga disertai dengan kepastian bahwa
pengantar wahyu adalah malaikat dari surga dan bukan kekuatan psikis
atau jin yang sering mengilhami para penyair dan orang-orang Arab yang
waskita (punya kemampuan lebih). Wahyu ketika turun menggema ke
seluruh bumi serta langit dan mengubah suasana di sekitar Nabi. Gema
itu menimpa beliau seakan-akan suatu pukulan, dan beliau mendengar
kegaduhan keras dan bertalu seperti beribu suara genta. Selama duapuluh
tiga tahun sampai meninggal, kapan saja wahyu datang Nabi selalu
merasakan tekanan yang berat. Beliau akan berkeringat hebat dan
andaikan beliau sedang naik unta atau naik kuda, maka hewan-hewan
itu akan terbungkuk di bawah tekanan firman yang turun dari atas. Nabi
Muhammad pernah berkata, “Aku tidak pernah menerima wahyu dalam
kesadaran yang lengkap dengan rohku karena ia sedang dihilangkan
dariku”.12
Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad turun dari
gunung dengan sangat ketakutan dan hanya karena keberanian Khadijah
sajalah Nabi merasa tenteram dan aman. Rasa takut Nabi setelah
mengalami pengalaman sufistik ini merupakan sifat yang alami. Jabatan
kenabian merupakan jabatan yang penuh tanggung jawab. Dan
pengalaman sufistik tersebut merupakan pengalaman yang sangat
menggetarkan. Karena di situlah terjadi suatu hubungan komunikasi
antara manusia dengan Tuhan melalui kalam-Nya.

Pengalaman Sufistik Pada Ru’yâ Shâdiqah

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 419


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Dari aktivitas khalwah selama sebulan penuh pada setiap tahunnya,


hati Muhammad semakin jernih, dan cermin hatinya menjadi bersih serta
siap memperoleh pengalaman sufistik berupa mimpi yang benar (ar-ru’yâ
as-shâdiqah). Dan ar-ru’yâ as-shâdiqah pada Muhammad ini berbeda dengan
mimpi-mimpi yang dialami orang-orang Arab waktu itu.
Dalam karya Muhammad bin Yusuf as-Shami dikemukakan riwayat
dari Ubaid bin Umar yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad telah
bermimpi kedatangan Jibril menyampaikan wahyu surat al-‘Alaq 1-5
sebagaimana ayat yang diturunkan di gua Hira. Menurutnya, Nabi
Muhammad dalam mimpinya melihat Jibril membawa kulit dari sutra
yang berisi kitab, lalu ia berkata kepada Nabi, “bacalah”. Nabi menjawab,
“Saya tidak bisa membaca”. Jibril segera memeluknya erat-erat sehingga
Nabi mengira itu adalah kematian. Jibril kemudian melepas pelukannya
seraya berkata “bacalah”. Nabi bertanya apa yang saya baca? Jibril lalu
mengucapkan surah al-‘Alaq: 1-5. Nabi menirukannya hingga selesai.
Jibril pun pergi dan Nabi terbangun dari tidurnya. 13 Riwayat ini
menunjukkan pengertian bahwa Nabi Muhammad sebelum mendapatkan
wahyu pertama ketika sedang bertahannuth di gua Hira, telah
mendapatkan pendahuluan berupa wahyu yang sama dalam mimpi yang
benar (ar-ru’yâ as-shâdiqah). Dan, itu terjadi sebagai persiapan mental
baginya untuk menghadapi penerimaan wahyu dalam kondisi sadar.
Pengalaman sufistik berupa mimpi ini, secara psikologis, dapat
dipandang sebagai pemanasan atau persiapan bagi Nabi untuk menerima
wahyu dari Allah SWT dalam kondisi terjaga. Hal ini penting bagi psikis
(jiwa) Nabi Muhammad agar ia tidak terkejut tatkala malaikat datang
untuk memberikan wahyu kepadanya sebagai tanda kenabian, sehingga
jiwa kemanusiaannya benar-benar siap menerima wahyu Allah SWT
melalui malaikat Jibril.
Pengalaman sufistik ini sama halnya dengan pengalaman mimpi yang
dialami Nabi Ibrahim ketika ia mendapat perintah dari Allah SWT untuk
mengorbankan putranya, Ismail.14 Pengalaman sufistik ini merupakan
fenomena umum yang terjadi di kalangan para nabi terdahulu agar hatinya
tenang sebagai persiapan mental untuk mengalami pewahyuan dalam
kondisi sadar.
Nabi Muhammad—dalam suatu riwayat yang disebutkan dalam Dalâil
an-Nubuwwah, karya al-Baihaqi—pernah bermimpi pada suatu malam
bahwa dadanya dibedah. Mimpi itu ia sampaikan kepada Khadijah.

420 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Khadijah mempercayai kebenaran perihal mimpi tersebut seraya berkata


kepada Nabi, “Bahagialah, karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan
berbuat untukmu kecuali kebaikan”. Pada waktu lain, Nabi kembali
menceritakan bahwa ia bermimpi perutnya dibedah serta disucikan dan
dibersihkan, dan setelah itu kembali lagi seperti sediakala. Khadijah pun
berkata, “Ini demi Allah SWT adalah kebaikan, maka berbahagialah”.
Lalu, Jibril menampakkan dirinya di atas Mekkah. Ia mendekati Nabi
dan mendudukkannya di atas tempat duduk yang amat bagus dan
mengagumkan. Nabi menceritakan, “Jibril mendudukkanku di atas
semacam permadani yang di dalamnya terdapat mutiara. Kemudian Jibril
menyampaikan berita gembira tentang kerasulan kepadanya sehingga
hati Nabi menjadi tenteram. Dalam riwayat lain, dikemukakan bahwa
Nabi menuturkan sebuah mimpi kepada pamannya. Nabi berkata, “Wahai
paman, orang (malaikat) yang telah saya tuturkan kemarin kepadamu
memasukkan tangannya ke dalam perutku sehingga aku merasakan hawa
dinginnya”.15
Ibn Umar meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah bercerita,
“Suatu saat saya sedang tidur, tiba-tiba saya diberi satu gelas air susu,
lalu saya meminum sebagiannya, dan sisanya saya berikan kepada Umar
ibn al-Khaththab”. Para sahabat lalu bertanya, “Apakah yang kamu
tafsirkan wahai Rasul?” Nabi menjawab, “ilmu”.16
Dalam riwayat lain Nabi juga berkata, “Suatu saat tatkala sedang
tidur saya bermimpi orang-orang memperlihatkan kepadaku baju kemeja-
kurung (al-qamîs) yang mereka pakai, di antaranya terdapat baju kemeja
yang sampai pada lutut dan ada yang lebih ke bawah. Lalu Umar datang
kepadaku sedangkan ia memakai baju kemeja-kurung yang panjang hingga
terseret oleh kakinya”. Para sahabat bertanya, “Apakah yang kamu
tafsirkan wahai Rasul?” Ia menjawab, “agama”.17
Ibn Umar meriwayatkan bahwa Nabi dalam suatu mimpinya melihat
ada seorang wanita hitam yang rambutnya terurai tidak teratur keluar
dari Madinah hingga bermukim di Juhfah. Dengan mimpi itu, Nabi
menafsirkan bahwa wabah penyakit di Madinah akan pindah ke Juhfah.18
Ibn Umar, dalam riwayat lain, juga mengemukakan bahwa Nabi
Muhammad dalam mimpinya melihat orang-orang berkumpul, lalu Abu
Bakar mencabut satu timba atau dua timba kecil yang di dalamnya
terdapat kelemahan-–semoga Allah SWT mengampuninya—, kemudian
Umar mencabut timba kecil yang telah berubah menjadi timba besar.

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 421


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Nabi berkata, “Saya tidak melihat seorang tuan yang berbuat kebohongan
sehingga orang-orang memukul dengan kulit”.19
Dalam suatu riwayat Abu Hurairah, dituturkan bahwa Nabi pernah
bermimpi seakan di tangannya terdapat dua gelang emas. Dia merasa
gelisah dengannya sehingga ia diberi wahyu untuk menyebulnya.
Kemudian Nabi menyebulnya dan kedua gelang tersebut pun terbang.
Nabi menafsirkannya akan adanya dua orang pembohong yang muncul
setelahnya, yaitu Musailamah dan al-Ansy.20
Mimpi yang benar (ar-ru’yâ as-sâdiqah) juga dipandang oleh Nabi
sebagai suatu peristiwa yang dapat terjadi pada manusia muslim pada
umumnya. Bahkan, Nabi Muhammad sendiri memandang mimpi yang
benar merupakan bagian dari empat puluh juz kenabian. Sekaligus sebagai
nikmat dari Allah SWT kepada orang muslim yang menerimanya dan
juga pengganti dari sifat kenabian yang telah dicabut setelah Nabi
Muhammad.

Pengalaman Sufistik Pada Pewahyuan


Wahyu, secara semantik (bahasa), berarti isyarat yang cepat, termasuk
bisikan di dalam hati dan ilham, surat, tulisan, serta segala sesuatu yang
disampaikan kepada orang lain untuk diketahui. Di dalam Al-Qur’an
sendiri, wahyu dituturkan dalam beberapa makna, seperti “isyarat” (Q.S.
Maryam, 9: 11), “pemberitahuan secara rahasia” (Q.S. al-An’am, 6: 112),
“perundingan yang jahat dan bersifat rahasia” (Q.S. al-An’am, 6: 121),
“ilham yang diberikan kepada binatang” (Q.S. an-Nahl, 16: 68), dan
“ilham yang diberikan kepada manusia” (Q.S. al-Qashash, 28: 7).
Sedangkan pengertian wahyu, secara terminologis (istilah), adalah
pengetahuan yang didapat seseorang di dalam dirinya serta diyakininya
bahwa pengetahuan itu datang dari Allah SWT baik dengan perantaraan,
dengan suara atau tanpa suara maupun tanpa perantaraan.21
Dalam studi tasawuf, wahyu dipandang sebagai “’ilm mukâsyafah” atau
pengalaman sufistik tertinggi para nabi. Wahyu yang dikaruniakan kepada
para nabi,22 sebagaimana disinggung dalam salah satu ayat Al-Qur’an,
terdiri dari tiga macam, yaitu (1) pewahyuan (menurunkan wahyu), (2)
mendengarkan suara dari belakang tirai atau hijab, dan (3) dengan
perantaraan malaikat yang membawa wahyu (Jibril).23
Pewahyuan model pertama, sebagaimana disebutkan di atas, adalah
wahyu dalam pengertian secara bahasa yang asli, yaitu isyarat yang cepat.

422 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Dalam hal ini, wahyu merupakan suatu kebenaran yang disampaikan ke


dalam kalbu atau jiwa seseorang, tanpa terlebih dahulu timbul pikiran
atau pendahuluan-pendahuluan tertentu, dan kebenaran tersebut
menjadi sangat terang bagi yang bersangkutan. Wahyu, dalam pengertian
ini, tidak sama dengan ilham, dan juga berbeda dengan hasil meditasi,
karena ia merupakan kebenaran yang tidak mengandung keraguan.
Wahyu dalam pengertian ini pulalah agaknya yang dimaksudkan dengan
wahyu dalam kaitannya dengan para nabi. Sesudah menerima wahyu
itu, para nabi memiliki kepercayaan yang penuh bahwa yang mereka
terima itu benar-benar berasal dari Allah SWT. Sementara pewahyuan
macam kedua, wahyu yang disampaikan dari balik hijab adalah kalam
Allah SWT yang disampaikan kepada seorang Nabi dari belakang tirai.
Sedangkan pewahyuhan model ketiga merupakan pemberitahuan dari
Tuhan yang disampaikan kepada seseorang melalui utusan dan
disampaikan dengan kata-kata (kalimat) yang “diucapkan”. Model ini
merupakan bentuk wahyu yang paling tinggi. Pemberian wahyu dengan
model ini hanya terbatas pada para rasul. Berbeda dengan bentuk pertama,
wahyu model ketiga tidak sekedar berbentuk konsep, tetapi juga
dirumuskan dengan kata-kata. Dan, inilah yang disebut wahy matluw
(wahyu yang dibaca).24
Muhammad, dalam konteks ini, telah mengalami pengalaman
pewahyuan dari Allah SWT melalui dua bentuk; langsung dari Allah
SWT dan melalui perantara malaikat Jibril. Pada cara yang pertama,
Nabi SAW memperoleh pengalaman pewahyuan itu dari Tuhan secara
langsung, tidak melalui malaikat Jibril, di antaranya mimpi yang benar di
waktu tidur. Bentuk lain dari penyampaian wahyu model ini ialah kalam
Allah SWT yang diterima dari balik hijab tanpa melalui perantara dan
dalam keadaan terjaga. Wahyu model ini, menurut ulama Islam, terjadi
pada Nabi SAW di malam isrâ’-mi’râj.
Penyampaian wahyu kepada Nabi melalui perantara melaikat Jibril
biasanya terjadi pada salah satu dari dua kondisi. Pertama, Nabi SAW
melihat Jibril yang menyamar sebagai manusia biasa untuk bertanya dan
menyampaikan wahyu kepadanya. Hal ini terjadi tatkala Jibril datang
dalam kerumunan jamaah Nabi untuk bertanya kepadanya tentang Islam,
iman, dan ihsan. Ini merupakan cara yang dirasakan oleh Nabi SAW
paling ringan dalam proses penyampaian wahyu. Kedua, Nabi merasakan
kondisi yang cukup berat tatkala Jibril hendak menyampaikan wahyu

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 423


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

kepadanya. Suatu saat Jibril menampakkan wujud aslinya, atau


menunjukkan tanda-tanda seperti suara gemerincingnya lonceng, suara
maupun bunyi yang sangat keras seperti suara pohon kurma, yang
menimbulkan kondisi rohaniah (psikologis) yang luar biasa baginya.
Orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui kecuali hanya tanda-
tandanya saja, seperti badan terasa berat dan pada keningnya bercucuran
keringat. 25 Penjelasan tentang cara turunnya wahyu secara jelas
dikemukakan dalam hadis yang bersumber dari Nabi. Hadis itu
diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dari (akhbaranâ) Malik dari Hisyam
dari Urwah dari ayahnya dari Aisyah. Pada suatu hari al-Harits bin Hisyam
pernah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah wahyu
datang kepadamu?” Jawab Nabi “Suatu saat ia datang seperti suara
gemerincingnya lonceng, dan itu yang paling berat bagiku sehingga saya
roboh, tetapi kemudian tiba-tiba saya telah menghafal wahyu yang
diucapkannya. Pada saat yang lain malaikat yang menyamar sebagai
seorang lelaki datang kepadaku dan berbicara kepadaku sehingga saya
hafal kata yang diucapkan”. Aisyah berkata, “Sungguh saya pernah
melihat Nabi tatkala sedang turun wahyu padanya di suatu hari yang
sangat dingin, lalu ia roboh dan kerah bajunya penuh dengan keringat”.
Contoh wahyu Allah SWT yang diturunkan melalui malaikat Jibril dalam
bentuknya yang disebut terakhir ini adalah pewahyuan tatkala Nabi
sedang bertahanuth di gua Hira dan memperoleh wahyu Al-Qur’an yang
pertama kali.

Pengalaman Sufistik Pada Mi’raj Nabi Saw


Suatu pengalaman sufistik yang sangat penting terjadi pada tahun-
tahun terakhir Nabi Muhammad tinggal di Mekkah adalah isrâ’-mi’râj.26
Pada tahun ke-50 dari kelahiran Nabi, atau tahun kesepuluh dari
penobatannya sebagai rasul, ia diisrâ’-kan dari Masjid al-Haram ke Masjid
al-Aqsha dan di-mi’râj-kan ke hadapan Allah SWT. Pengalaman sufistik
ini merupakan suatu kejadian yang luar biasa yang pernah dikaruniakan
oleh Allah SWT kepada hamba-Nya, sebagai obat duka yang dialami
Muhammad dalam memperjuangkan penyebaran Islam.27
Pengalaman spiritual tersebut begitu pentingnya sehingga membekas
pada seluruh kehidupan Islam, akan tetapi begitu sulit dipahami oleh
mereka yang dunianya sudah terbatas hanya pada dimensi fisik realitas
yang bisa dilihat dan dibuktikan dengan akal. Peristiwa penting itu adalah

424 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

perjalanan Nabi pada malam hari naik ke langit untuk menghadap kepada
Allah SWT.
Pada salah satu malam yang ganjil bertepatan dengan sepuluh hari
akhir dari bulan ramadhan, Nabi Muhammad secara mukjizat dibawa
dari Mekkah ke Jerussalem dan dari sana melakukan mi’râj atau naik ke
seluruh tingkat sampai mencapai jagat yang paling ujung (as-sidrah al-
muntaha) bahkan jauh lagi di atas itu yaitu tiba pada hadirat Allah SWT,
yang digambarkan sebagai lingkungan “berjarak dua busur panah”. Dalam
perjalanan itu, ia menunggang kuda mistik; buraq dan didampingi oleh
malaikat Jibril. Al-Qur’an mengungkapkan perjalanan malam ini dengan
mengatakan “Maha suci Allah SWT, yang membawa perjalanan hamba-
Nya malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, yang Kami
berkati sekitarnya untuk memperlihatkan kepadanya beberapa tanda
(kebesaran) Kami. Sungguh Dia itu Maha Mendengar, yang Maha
Melihat.”28 Pengalaman sufistik Nabi Muhammad yang demikian penting
dan terpusat pada kedalaman spiritual merupakan contoh kualitas
spiritual tertinggi dan teladan bagi kedalaman kehidupan beragama.
“Malam kenaikan” disejawatkan dengan “malam kekuasaan”, karena Al-
Qur’an juga diwahyukan pada bagian penghujung akhir bulan suci
Ramadhan.
Cerita tradisi mi’râj, secara ringkas, dapat dikemukakan sebagai
berikut. Setelah menyelesaikan perjalanan dari Mekkah sampai
Jerussalem, Nabi Muhammad melakukan perjalanan spiritual ke langit
bersama Jibril. Pada langit pertama Nabi melihat Isma’il, malaikat, dan
meteor-meteor yang dengannya syaitan-syaitan ditolak untuk tinggal di
sana. Nabi Muhammad dan Isma’il bertemu, saling mengucapkan salam
dan saling mendoakan.29
Dengan cara ini Nabi melintas dari derajat makhluk yang satu ke
derajat makhluk yang lain, lewat dari keadaan neraka melalui berbagai
langit yang masing-masing dijaga oleh seorang Nabi dan sepasukan
malaikat sampai langit yang ketujuh, dan bayt al-ma’mûr, tempat Nabi
bersembahyang dua rakaat. Ia melihat pohon surga, shajarah at-tuba, lalu
terus ke ambang jagat paling ujung sidrah al-muntaha dan akhirnya sampai
ke hadirat Allah SWT.
Setelah itu, Nabi dibawa sampai singgasana (‘Arsy). Untuk menuju
singgasana, Nabi didekati sehelai raf-raf (permadani) hijau yang
diturunkan kepadanya. Jibril mendudukkan Nabi di atasnya, seraya

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 425


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

meninggalkan Nabi, sambil menutupkan tangan di matanya, khawatir


penglihatannya akan rusak oleh cahaya singgasana yang kemilau itu.
Dan, ia mulai menangis dengan keras, sambil mengucapkan tasbîh, tahmîd,
dan tahniyah (puji-pujian) bagi Allah SWT.
Raf-raf tersebut terbang mengantarkan Nabi ke hadirat singgasana
Allah, sebuah benda yang terlalu menakjubkan bagi lisan untuk
menceritakannya atau bagi citra penggambarannya. Penglihatan Nabi
pun begitu disilaukan oleh-Nya sehingga Nabi takut menjadi buta, lalu
ia menutup mata. Tatkala Nabi menutupi matanya, Allah menggeser
penglihatannya (dari mata) ke hati. Dengan mata hatinya, Nabi melihat
cahaya yang sangat terang. Nabi juga memohon tambahan kemurahan
Allah yang telah diberikan padanya, dan Allah pun menambahnya.
Sehingga ia dapat menatap-Nya dengan mata hati sampai mantap serta
memperoleh penglihatan yang tak goyah”.30
Nabi melihat Tuhan ketika selubung telah diangkat dari-Nya, duduk
di atas singgasana-Nya dalam kewibawaan-Nya, kekuasaan-Nya,
keperkasaan-Nya, serta kemuliaan-Nya. Lalu, Tuhan agak merendahkan
kewibawaan-Nya untuk Nabi dan mendekatkan kepada-Nya, sedang ia
berada duduk di ufuk tinggi. Dia mendekat, tambah mendekat, sampai
jarak dua busur panjang, atau lebih dekat lagi”.31
Kemudian Allah berkata kepada Nabi, “Wahai Muhammad, tahukah
apa yang dipertikaikan?” Nabi menjawab, “Wahai Allah! Engkaulah yang
paling mengetahui tentang itu sebagaimana Engkau telah mengetahui
segala-galanya, karena Engkau mengetahui segala yang tersembunyi”.
Allah menjelaskan, “Mereka sedang membicarakan tentang ketaqwaan
(derajat) dan keutamaan (hasanah). Tahukah kamu, wahai Muhammad,
apa itu ketaqwaan dan keutamaan?” Nabi menjawab, “Engkaulah wahai
Tuhan yang lebih mengetahui dan lebih bijaksana”. Allah kembali
memberi penjelasan, “Ketaqwaan itu adalah orang yang mengambil wudlu’
pada waktu ia bertengkar, orang yang berjalan kaki ke tempat tablîgh,
orang yang penuh harap menunggu datangnya saat salat berikutnya.
Sedangkan keutamaan adalah orang yang memberi makan kepada mereka
yang lapar, menyebarkan kedamaian, dan mendirikan salat tahajud di
malam hari sewaktu orang lain sedang nyenyak tidur”. Seketika itu, hati
Nabi merasa sangat sejuk, beliau belum pernah mendengar sesuatu yang
lebih indah daripada melodi suara Allah yang begitu merdu itu.32

426 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Nabi kemudian memohon kepada-Nya, “Wahai Tuhan, Engkau telah


mengambil Ibrahim sebagai kekasih (khalîl), Engkau telah berbicara
berhadapan muka dengan Musa, Engkau telah mengangkat Nuh ke
tempat yang tinggi, Engkau telah memberikan kepada Sulaiman suatu
kerajaan yang tidak akan ada orang setelah itu bisa mendapatkannya,
dan telah diberikan kepada Dawud kitab Zabur. Lalu apakah yang ada
bagiku ya Allah”. Allah berfirman, “Wahai Muhammad, engkau kuambil
sebagai kekasih (habîb) tak ubahnya seperti Aku telah mengambil Ibrahim.
Aku berbicara kepadamu sama seperti Aku berbicara berhadapan muka
dengan Musa. Aku berikan kepadamu Fatihah dan ayat-ayat penutup al-
Baqarah, yang keduanya berasal dari khazanah singgasana-Ku dan yang
tidak Kuberikan kepada nabi sebelum kamu. Aku mengirim kamu di
bumi sebagai nabi bagi bangsa berkulit putih, bangsa berkulit hitam, dan
bangsa berkulit merah, serta bagi jin, dan bagi orang-orang setelah itu,
walaupun sebelumnya Aku tidak pernah mengirimkan seorang nabi kepada
mereka semua. Aku menunjuk bumi bersama tanahnya yang kering dan
lautnya bagimu dan bagi umatmu sebagai tempat untuk penyucian dan
pemujaan. Aku berikan kepada umatmu hak untuk mendapatkan harta
rampasan perang secara halal yang tidak Aku berikan kepada umat
sebelum kamu. Aku akan membantumu dengan semacam (alat) yang
menakutkan yang akan membuat musuh-musuhmu melarikan diri dari
muka kamu, sedangkan kamu masih berada dalam jarak sejauh sebulan
perjalanan. Aku akan menurunkan kepadamu Al-Qur’an dan para
penjaganya yang telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur. Dan
Kami semarakkan namamu, bahkan sampai taraf menyertakannya dengan
nama-Ku, sehingga tidak akan ada agama-Ku akan disebut tanpa kamu
disebut beserta Aku.33
Sesudah itu, Nabi menengadah dan tertegun. Sesuatu lewat di antara
mereka dan suatu selubung cahaya ditarik di muka-Nya, berkilauan
sampai jarak yang tidak bisa diketahui orang kecuali Allah SWT. Begitu
hebatnya kilatan cahaya itu melintas, maka andaikan disobek di satu
titik, semua ciptaan Allah akan habis terbakar. Raf-raf hijau segera
mengawang, naik dan turun membawa Nabi dengan lembutnya dari ‘illiyûn
sampai kepada Jibril. Dan raf-raf kemudian kembali naik sampai hilang
dari penglihatan Nabi.34
Pengalaman sufistik Nabi berhadapan dan berdialog langsung dengan
Allah SWT ini memiliki arti yang sangat penting dan sangat agung dalam

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 427


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

kehidupan spiritualitas Nabi. Karena, pengalaman tersebut merupakan


peristiwa besar yang tidak akan pernah tertandingi hingga akhir zaman,
di mana Nabi menerima panggilan untuk bertemu dan berdialog langsung
dengan Allah SWT.
Pengalaman isrâ’-mi’râj itu, secara sufistik merupakan pengalaman
rohaniah tertinggi yang menunjukkan terpilihnya Muhammad oleh Allah
untuk mushâhadah dengan-Nya. Bagi para sufi, pengalaman itu merupakan
pengalaman mistik paling agung dari Nabi Muhammad dan sekaligus
sebagai inspirasi bagi mereka. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila
al-Qusyairi menulis suatu karya tersendiri mengenai tema ini, yang
merupakan himpunan beberapa versi tentang mirâj dan tafsiran-tafsiran
para tokoh sufi tentang tema itu.
Sedangkan ru’yah atau mushâhadah, dalam tradisi para sufi,
merupakan kondisi spiritual yang selalu dicari dan dapat terjadi pada
orang yang dikaruniai Allah predikat wali yang memperoleh cinta dan
keridaan-Nya. Tetapi, di kalangan ulama terdapat perbedaan pandangan
mengenai ar-ru’yah atau al-mushâhadah yang dialami Nabi dalam peristiwa
isrâ’ dan mi’râj tersebut, yakni dengan roh atau badan, dan dalam mimpi
atau secara sadar. Mayoritas ulama memandang bahwa Muhammad tidak
melihat Allah dengan mata kepala berdasarkan pernyataan Aisyah:
“Orang yang berpendapat bahwa Nabi melihat Allah SWT adalah
bohong”. Di antara kelompok ini ialah al-Junaidi, an-Nuri dan Abu Sa’id
al-Kharraj (para sufi Baghdad). Selain dasar itu, juga terdapat keterangan
di dalam firman Allah SWT pada surah al-An-am: 10 yang
mengemukakan bahwa tidak ada penglihatan makhluk yang mampu
melihat Allah. Pernyataan Aisyah ini memang hanya merupakan
pandangannya sendiri. Tetapi, hal itu secara teologis dapat dibenarkan.
Karena dalam teologi Islam dapat kita temukan suatu keyakinan bahwa
tidak ada orang yang akan dapat melihat Tuhan dengan matanya. Sebab,
Allah itu adalah Dzat yang transeden, tidak berbatas dan berlainan
dengan makhluk ciptaan-Nya. Dalam hal ini, Muhammad Abduh
mengemukakan pandangan yang senada. Menurutnya, karena Tuhan
bersifat rohani maka-–menurut akal—; Tuhan tidak dapat dilihat dengan
mata kepala. Orang yang meyakini tanzih (transedensi Tuhan), mesti
sepakat bahwa Tuhan tidak dapat digambarkan atau dijelaskan dengan
bahasa kata-kata. Kesanggupan melihat Tuhan hanya dianugerahkan
kepada orang-orang tertentu di akhirat. Namun, menurutnya, Tuhan

428 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

akan dapat terlihat bukan dengan mata kepala, tetapi dengan suatu daya
yang terdapat pada manusia atau daya baru yang akan diciptakan, yang
mungkin ditempatkan dalam hatinya. Jadi, dalam perspektif ini, Allah
SWT hanya dapat dilihat oleh manusia dengan mata hatinya (al-basîrah)
bukan dengan mata kepala. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa
Nabi Muhammad melihat atau menyaksikan Allah SWT sebagai suatu
kekhususan yang berlaku padanya, sebagaimana kekhususan yang terjadi
pada Nabi Musa sehingga bisa berbicara (takallama) dengan Allah.
Beberapa sufi menyatakan bahwa malam itu Nabi Muhammad benar-
benar melihat Allah SWT. Kelompok ini berpegangan pada salah satu
hadis mengenai pengakuan Nabi Muhammad bahwa beliau telah melihat
Tuhan. Hadis tersebut meriwayatkan pertanyaan Abu Dzar kepada Nabi
Muhammad, “Apakah engkau melihat Tuhan?” Rasulullah menjawab,
“Telah kulihat cahaya terang di mana aku melihat Dia, atau kulihat Dia
cahaya terang di mana aku melihat Dia”. Sementara kelompok ulama
lainnya memandang bahwa Nabi telah menyaksikan Allah SWT dengan
mata hatinya, bukan dengan mata kepalanya. Dalam hal ini, mereka
berargumentasi dengan sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya “tidaklah
hati itu berbohong terhadap apa yang ia lihat”. 35
Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, para sufi -atas dasar
peristiwa mistik mi’râj Nabi-menganggap ar-ru’yah dan al-mushâhadah telah
memperoleh pijakannya, baik itu dengan mata, hati, maupun roh. Hal
itu juga menjadi dasar bagi mereka untuk memasukkannya dalam
perbincangan sufistik sekitar mukâshafah, futûhât, mushâhadah dan kondisi
naiknya seorang sufi dari ‘âlam shahâdah ke ‘âlam malakût maupun jabarût.
Mereka juga menjadikan roh, hati, dan rahasia-rahasia rohaniah lainnya
sebagai media yang sesuai untuk memperoleh pengetahuan ma’rifah.
Di sisi lain, terdapat pula perbedaan pandangan mengenai
pengalaman isrâ’–mi’râj, apakah dilakukan dalam mimpi atau dalam
kondisi sadar. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Nabi melakukan
perjalanan isrâ’–mi’râj dalam kondisi sadar, bukan mimpi. Pandangan ini
berdasarkan riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Nabi dibangunkan
ketika hendak melakukan perjalanan isrâ’ –mi’râj itu, sehingga ia
mengalaminya dalam kondisi sadar yang sempurna, tidak dalam mimpi.
Sedangkan riwayat hadis yang menceritakan perjalanan isrâ’ –mi’râj dalam
mimpi oleh para ulama dianggap lemah, karena terdapat perawi yang
sering melakukan kesalahan dalam periwayatannya. Perawi tersebut

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 429


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

adalah Syarik bin Abdullah, yang oleh Imam Muslim dan Imam Nawawi
dinilai hafalannya agak kacau.
Para ulama juga berbeda pendapat mengenai isrâ’–mi’râj Nabi dengan
badan-roh atau roh saja. Mayoritas ulama baik salaf maupun khalaf telah
menyepakati bahwa pengalaman isrâ’ –mi’râj dilakukan dengan jasad dan
roh Nabi Muhammad. Imam Nawawi, dalam hal ini, menegaskan bahwa
pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum muslim; ulama salaf,
fuqaha’, ahli hadis, serta ahli ilmu kalam ialah bahwa Nabi melakukan
perjalanan isrâ’–mi’râj dengan jasad dan rohnya sekaligus. Karena semua
nash, secara tekstual menunjukkan pengertian tersebut.
Ibn Hajar dalam kitab sharh-nya terhadap Sahîh al-Bukhari
menyatakan hal serupa. Menurutnya, pengalaman isrâ’–mi’râj terjadi
dalam satu malam, dalam keadaan sadar, dengan jasad dan roh Nabi.
Karena semua makna tekstual dari hadis-hadis sahih menunjukkan
pengertian tersebut, dan tidak ada dasar atau dalil untuk memberi makna
yang lain. Pandangan ini antara lain didasarkan pada beberapa alasan.
Pertama, sesungguhnya pengalaman isrâ’–mi’râj dengan badan adalah
sesuatu yang masuk akal, dan hal itu telah ditunjukkan oleh teks wahyu
Al-Qur’an, “asrâ bi ‘abdihi”, bukannya; “birûhi ‘abdihi”. Kata “al-‘abd” di
sini berarti seorang hamba yang terdiri dari roh dan badan. Di antara
dasar-dasar agama yang telah ditetapkan dalam Islam adalah bahwa setiap
makna yang ditunjukkan oleh teks tertulis dari wahyu dan tidak
bertentangan dengan akal itu wajib diimani. Kedua, apabila isrâ’–mi’râj
itu dilakukan Nabi Muhammad hanya dengan roh saja, maka hal itu
bukanlah sesuatu yang menakjubkan. Padahal peristiwa tersebut
merupakan bagian dari Mu’jizat Nabi, sebagaimana tersirat dalam kalimat,
“subhâna al-ladzî bi ‘abdihi”. Makna tasbih dan ta’ajjub dari kalimat itu
hanya menunjukkan sesuatu yang besar dan luar biasa. Karenanya, bila
isrâ’–mi’râj itu dilakukan dengan roh saja atau dalam mimpi, maka hal
itu tidak istimewa atau biasa saja. Ketiga, sesungguhnya isrâ’–mi’râj dengan
roh dan badan sekaligus menunjukkan bahwa manusia itu harus beramal
untuk kehidupannya, baik yang bersifat materi maupun spiritual,
bukannya hanya salah satu dari keduanya. Keempat, pernyataan dalam
beragam hadis yang menyebutkan bahwa Nabi melakukan isrâ’–mi’râj
dengan menaiki Buraq merupakan petunjuk yang jelas bagi
ketidakmungkinan isrâ’–mi’râj dengan roh saja. Karena isrâ’–mi’râj
dengan roh saja tentu tidak memerlukan kendaraan seperti Buraq

430 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

tersebut. Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam tafsirnya menambah lagi dua


alasan lain, yaitu (1) bahwa peristiwa isrâ’–mi’râj yang super cepat dalam
satu malam dapat diterima akal apabila kita melihat kisah-kisah
menakjubkan dari Nabi Sulaiman yang dapat bepergian ke tempat yang
jauh dengan sangat singkat melalui bantuan angin dan seorang ‘âlim
yang mampu mendatangkan kerajaan Bulqis dari Yaman ke Syam dalam
sekejap mata; (2) bahwa kata ar-ru’yâ dalam ayat; “wa mâ ja’alnâ ar-ru’ya
al-latî arainâka illâ fitnah li an-nâs” bermakna penglihatan mata Nabi pada
malam isrâ’–mi’râj. Dan pengertian ini juga diperkuat oleh kenyataan
bahwa orang Arab terkadang menggunakan kata ar-ru’ya dalam arti
“penglihatan pancaindera” (al-mushâhadah al-hissiyyah).
Sebagian ulama lainnya berpandangan bahwa peristiwa isrâ’–mi’râj
Nabi Muhamad dilakukan hanya dengan roh. Pandangan ini didasarkan
atas beberapa alasan. Pertama, Mu’awiyah bin Abu Sufyan tatkala ditanya
tentang isrâ’–mi’râj Nabi Muhammad menjawab; “mimpi dari Allah SWT.
itu benar”. Kedua, Aisyah berkata; “Tidaklah hilang jasad Rasulullah
SAW, tetapi ia di-isra’-kan dengan rohnya”. Ketiga, al-Hasan berkata
mengenai kata ar-ru’yâ pada ayat tersebut yang berarti penglihatan dalam
mimpi”. Namun, alasan-alasan ini dibantah oleh para ulama yang
memandang isrâ’ –mi’râj Nabi dengan roh-badan sekaligus. Mereka
mengemukakan bahwa pandangan Mu’awiyah itu dianggap lemah karena
waktu peristiwa isrâ’ –mi’râj terjadi ia masih termasuk orang musyrik
karena belum memeluk agama Islam. Demikian juga, pandangan Aisyah
itu dianggap lemah karena waktu itu Aisyah masih kecil dan belum
menjadi istri Nabi Muhammad. Al-Qurtubi menambahkan adanya
pendapat golongan ketiga tentang masalah tersebut. Golongan ini
menyatakan bahwa perjalanan isrâ’ dilakukan Nabi Muhammad dari
Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa dengan jasadnya dan dalam keadaan
sadar, tetapi perjalanan mi’râj-nya ke langit dengan roh. Hal ini didasarkan
atas pengertian lahiriah teks yang terdapat pada surah al-Isrâ’ ayat pertama
sebagaimana juga telah dikemukakan di atas. Menurut mereka, Masjid
al-Aqsa adalah tujuan akhir dari perjalanan isrâ’. Karena apabila ada
tujuan lain dari perjalanan isrâ’, seperti tujuan dalam perjalanan mi’râj,
niscaya hal itu juga akan disebutkan dalam ayat tersebut. Dengan
demikian, hanyalah isrâ’ Nabi yang dilakukan secara fisik dalam kondisi
sadar.

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 431


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Pengalaman sufistik lain yang pernah dialami Nabi SAW menurut


sebuah sumber, ialah fanâ’. Diriwayatkan bahwa Nabi berada dalam suatu
kondisi kejiwaan atau rûhiyyah seperti seseorang kehilangan kesadaran
atas dirinya sendiri dan segala sesuatu yang melingkupinya, yaitu yang
lazim dalam tasawuf disebut disebut kondisi fanâ’. Suatu saat Aisyah istri
Nabi masuk menemui Nabi, sementara beliau sedang dalam kondisi
tersebut. Ketika Nabi melihat kedatangan Aisyah, ia bertanya, “Siapa
kamu?” Aisyah menjawab, “Puterinya al-Shiddiq”. Nabi bertanya lagi,
“Siapa al-Shiddiq?” Ia menjawab, “Ia itu mertua Muhammad”. Tatkala
Aisyah mendengar pertanyaan Nabi, “Siapakah Muhammad?” Ia diam,
sebab ia sadar bahwa Nabi tidak dalam kondisi seperti biasanya. Cerita
itu, menurut M. Jalal Sharaf, apabila benar bisa menjadi dalil untuk
menetapkan bahwa kondisi ghaibah, mabuk sufistik maupun fanâ’ yang
terdapat pada perjalanan spiritual para sufi, memiliki pijakannya pada
perjalanan spiritual Nabi SAW dalam sejarah kehidupannya.

Penutup
Muhammad merupakan orang yang sarat dengan pengalaman sufistik.
Pengalaman sufistik ini dialaminya baik sebelum maupun setelah
penobatannya menjadi nabi dan rasul. Predikat kenabian yang melekat
padanya justru menjadikan dia sebagai seorang yang hampir separo
hidupnya dipenuhinya dengan kualitas sufistik. Pengalaman sufistik
Muhammad dalam sejarah hidupnya secara tidak langsung memberikan
pijakan tersendiri bagi pengalaman sufistik yang dialami para sufi.
Pengalaman sufistik Muhammad yang paling mencolok dalam sejarah
hidupnya antara lain adalah pengalaman sufistik di gua Hira, al-ru’yâ as-
sâdiqah, pewahyuhan, mushâdahah pada malam isrâ’-mi’râj, dan kondisi
fanâ’.
Pengalaman-pengalaman sufistik Muhammad itu dapat dipandang
sebagai implementasi (pelaksanaan) tajalli yang ia alami setelah melalui
proses takhalli (pengosongan dari kesadaran nilai-nilai yang secara sosiologis
melingkupi) dan tahalli (pengisian). Pada proses takhalli, Muhammad telah
berupaya untuk kembali kepada Tuhan melalui khalwah (menyendiri,
bersemedi) yang secara terus menerus ia lakukan di gua Hira selama
kurang lebih tujuh tahun.
Sementara upaya Muhammad untuk menyempurnakan perilaku
hidupnya ini bisa kita sebut sebagai proses pengisian atau tahalli pada

432 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

dirinya. Pada proses tahalli itu, potensi-potensi berakhlak luhur yang ada
pada dirinya mengalami penyempurnaan. Penyempurnaan ini ditandai
dengan sifat keagungan, kemuliaan, kejujuran, serta kesadarannya yang
sampai pada tahap kesadaran spiritual yang amat tinggi. Dari situlah,
kemudian Muhammad dapat bertajalli (dirinya termanifestasi dalam
pengetahuan ketuhanan), suatu tingkatan di mana ia memperoleh
pengalaman-pengalaman sufistik bersama Allah.[]

Catatan Akhir:

*Penulis adalah dosen Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.


Alamat Honggowongso No. 5 Ngaliyan Semarang. Telp. 081326691275.
1
Lihat kelengkapannya pada: Al-Taba’taba’I, al-Mizan fi Tafsir al-
Qur’an, jilid.13 (Beirut-Libanon: Dar al-Fikr, 1991), h. 401; Wahbah al-
Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, Juz. 15-16 (Damaskus-Shuriyah: Dar al-Fikr,
1991), h. 43; Fakhr al-Din al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, Juz. 21-22 (Beirut-
Libanon Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990), h. 14
2
Kesempurnaan-manusiawi (al-kamal al-insani), secara terperinci,
dapat dipandang sebagai sifat-sifat maupun tabi’at Muhammad yang luhur
yang senantiasa melekat pada jiwanya. Di antaranya adalah kecerdasan,
keagungan budi pekerti, sifat pemaaf, , kerendahan hati, persaudaraan,
kelapangan hati, kesabaran, kemurahan, keberanian, kejujuran, sifat
pemalu, luhurnya dalam pergaulan dan sifat-sifat mulia lainnya yang
terdapat pada diri Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh banyak perawi
hadits tentang masalah tersebut. Bahkan –kata ‘Aisyah- apabila kita ingin
melihat akhlak Nabi saw, maka al-Qur’an adalah cerminan akhlak beliau
secara konsepsional.
3
Muhammad al-Sadiq ‘Arjun, Muhammad SAW. Min Nab’atih ila
Bi’statih (Ttp.: Silsilah al-Buhuts al-Islamiyah, 1971), h. 159
4
Ibid
5
M. al-Sadiq ‘Arjun, ibid., h. 160-161
6
Lihat penjelasan lebih lengkap pada: ‘Abd al-Wahhab ‘Abd al-Salam
Tawilah, Bisharat al-Anbiya’ li Muhammad (Ttp.: Dar al-Salam, 1990), h.
15-18; Khalid Muhammad Khalid, Kemanusiaan Muhammad,
diterjemahkan dari “Insaniyah Muhammad” (Surabaya: Pustaka Progressif,
1986)

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 433


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

7
Sayyed Hossein Nasr, op. cit., h. 11-12
8
Al-Tabari, Jami’ al-Bayan ‘An Ta’wil Ayi al-Qur’an, juz.29 (Mesir:
Matba’ah Mustafa al-Babi al-Halabi, tt.), h. 50-51
9
Al-Tabari, Ibid., juz. 26, h. 156
10
Munawir Sadzali, Ijtihad Kemanusiaan (Jakarta: Paramadina, 1997)
h. 42-43
11
Majid Ali Khan, Muhammad saw Rasul Terakhir (Bandung: Pustaka,
1980), h. 57.
12
Sayyed Hossein Nasr, op.cit., h. 14-15
13
Muhammad bin Yusuf as-Shâmi, Subul al-Hudâ wa ar-Rashâd fî Sîrah
Khair al-‘Ibâd, juz 2 (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993), h. 233
14
M. Abu Zahwu, al-Hadits wal-Muhaddithûn (Beirut: Dâr al-Kitâb al-
Arabi, tt.), h. 12
15
Muhammad bin Yusuf as-Shâmi, op.cit., h. 232
16
Muhammad bin Isa bin Surah at-Turmudhi, al-Jâmî’ as-Shahîh, juz 4
(Beirut-Libanon: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, tt.), h. 467
17
Ibid., Juz. 4, h. 467. Hadits di atas oleh Abu Isa dinilai sebagai hadits
yang berkualitas sahih
18
Ibid., Juz 4. h. 469. Hadits yang diriwayatkan Ibn Umar tersebut
oleh Abu Isa diniali sebagai hadits hasan-shâhih-gharîb.
19
Ibid.
20
Ibid., Juz. 4, h. 470. Hadits yang diriwayatkan Ibn Umar tersebut
oleh Abu Isa dinilai sebagai hadits shahih-hasan-gharib.
21
Muhammad Abduh, Risâlah at-Tawhîd (Beirut: Dâr as-Shurûq, 1994),
h. 101
22
Muhammad Abduh membagi wahyu dalam tiga bentuk. Pertama;
wahyu yang ditujukan baik untuk kaum khawash (kaum tertentu;
istimewa, seperti keleompok intelektual-filosof) maupun kaum awam.
Dan wahyu macam ini merupakan bagian besar dari ayat-ayat al-Qur’an.
Kedua, wahyu yang ditujukan hanya kepada kaum awam, dan jumlahnya
sedikit. Ketiga, wahyu yang ditujukan hanya kepada kaum khawash,
dan wahyu macam inilah yang paling sedikit jumlahnya. Pembagian wahyu
dalam pola ini oleh Muhammad Abduh, didasarkan atas analisisnya bahwa
wahyu itu sendiri berisikan ajaran-ajaran yang disampaikan dalam
beragam bahasa menurut tingkatan-tingkatan akal manusia baik dari
kalangan khawash, maupun ‘awam. Lihat mislanya pada: Harun Nasution,

434 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (Jakarta: UI Press,


1987), h. 37-38
23
Penjelasan tentang Model wahyu yang diturunkan Allah SWT.
kepada para Nabi terdapat dalam surah as-Syûara, 42: 51
24
Ibid., h. 49-50
25
Muhammad Abu Zahwu, op.cit., h. 13. Mana’ al-Qattan, op.cit., h.
39. Dalam beberapa hadits Nabi yang ditakhrij dalam Sahîh al-Bukhari,
terdapat gambaran yang sangat jelas berkenaan dengan proses turunnya
wahyu Allah, terutama wahyu al-Qur’an, seperti suara gemerincingnya
lonceng, suara pohon kurma, dan kondisi Nabi yang berkeringat di saat
musim dingin. Lihat misalnya pada: Imam al-Bukhari, op.cit., juz I, h. 3-
4
26
Isrâ’ dapat dipahami sebagai perjalanan Nabi dari masjid al-Harâm
di Mekkah ke masjid al-Aqsha. Sedangkan mi’râj adalah kenaikan
Muhammad menembus beberapa lapisan langit tertinggi sampai batas
yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, manusia, malaikat
dan jin. Semua itu ditempuh dalam waktu sehari semalam. Namun, dalam
kajian ini, penulis lebih menekankan pada peristiwa mi’râj daripada isrâ’,
karena di situlah terdapat peristiwa mistik yang sangat menarik yang
dialami Nabi Muhammad. Lihat misalnya pada: Muhammad Saîd
Ramadhan al-Butty, ibid., h. 191
27
Fazl Ahmad, Muhammad Rasul Terakhir (Jakarta: Hudaya, 1871), h.
84
28
Lihat misalnya pada: Ibn Hazm al-Andulisy, Jawâmi’ as-Sîrah al-
Nabawiyyah (Kairo:: Maktabah at-Tur âth al-Islâmi, t.th.), h. 54; Sayyed
Hossein Nasr, h. 18
29
Sayyed Hossein Nasr, Ibid, h. 20-21
30
Ibid., h. 22
31
Ibid., h. 23
32
Ibid., h. 24-25
33
Ibid., h. 25-26
34
Ibid., h.26
35
Lihat misalnya pada: Hadji A. Salim, Tjeritera Isra’ dan Mi’raj Nabi
Muhammad (Djakarta: Tintomos, 1996), h. 54-55; Harun Nasution,
Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, op. cit., h. 80; A.J. Arberry, op.
cit., h. 32; Muhammad Rida, op. cit., h. 145

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 435


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

DAFTAR PUSTAKA

‘Arjun Muhammad al-Sadiq, Muhammad SAW. Min Nab’atih ila Bi’statih,


Silsilah al-Buhuts al-Islamiyah, 1971
Abduh Muhammad, Risâlah at-Tawhîd, Beirut: Dâr as-Shurûq, , 1994
Afifi Abu al-Ala, at-Tasawuf; at-Thaurah ar-Rûhiyyah fi al-Islâm, cet. I,
Kairo: Dâr al-Ma’rifah, 1963
Ahmad Fazl, Muhammad Rasul Terakhir, Hudaya, Jakarta: tp., 1871
Al-Baihaqi, Dalâil al-Nubuwwah, cet. I, juz, I, Madinah: al-Maktabah
al-Slaafiyah, 1969,
Al-Butthy Muhammad Sa’id Ramadhan, Sirah Nabawiyah: Analisis
Manhajiyah terhadap Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah
SAW (terjemahan), Jakarta: Rabbani Press, 1977
Al-Maturidi Abu Manshur, Kitab at-Tawhîd, Beirut-Libanon: Dâr al-
Mashriq, 1986
Al-Nawawi Yahya bin Sharaf, Sahih Muslim: Sharh al-Nawawi, Beirut: Dâr
al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995
Al-Qattan Mana’, Mabâhith fi ‘Ulûm Al-Qur’an, Mesir: Manshurât al-
‘Asr al-Hadis, t.th.
Al-Razi Fakhr al-Din, al-Tafsir al-Kabir, Juz. 21-22, Beirut-Libanon: Dar
al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990,
Al-Sahmarani, al-Tasawuf: Mansha’uh wa Mustalahâtuh, Mesir: Dâr al-
Nafâis, 1987
Al-Shâmi Muhammad bin Yusuf, Subul al-Hudâ wa ar-Rashâd fî Sîrah Khair
al-‘Ibâd, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993
Al-Taba’taba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, jilid.13, Beirut-Libanon: Dar
al-Fikr, 1991,
Al-Tabari, Jami’ al-Bayan ‘An Ta’wil Ayi al-Qur’an, juz. 29, Mesir: Matba’ah
Mustafa al-Babi al-Halabi, t.th.
Al-Turmudzi Muhammad bin Isa bin Surah, al-Jâmî’ al-Shahîh, juz. 4,
Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, tt.

436 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

Al-Zuhaili Wahbah, al-Tafsir al-Munir, Juz. 15-16, Damaskus-Shuriyah:


Dar al-Fikr, 1991.
Arberry A.J., Pasang Surat Aliran Tasawuf, (terjemahan) Bandung: Mizan,
1979
—————, Sufism: AnAccount of The Mystics of Islam, London: Unwin
Paper Backs, 1979
Barakah Abd al-Fattah Abdullah, al-Hakim at-Turmudhi wa Nadhariyâtuh
fi al-Wilâyah, juz.II, Mesir: Matba’ah Majma’ al-Buthûth al-
Islâmiyyah, tt.
Hazm Ibn, Jawâmi’ as-Sîrah al-Nabawiyyah, Kairo: Maktabah at-Tur âth
al-Islâmi, tt.
Khan Majid Ali, Muhammad saw Rasul Terakhir, Bandung: Pustaka,
1980.
Mahmud Abd al-Halim, Al-Rasûl: Lamahât min Hayâth wa Nafahât min
Hadyih, Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.
Nasr Sayyed Hossein, Muhammad Hamba Allah (terjemahan), Jakarta:
Rajawali, 1986
Nasution Harun, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah,
Jakarta: UI Press, 1987
Nicholson Reynold A., Mistik dalam Islam (Terjemahan), Jakarta: Bumi
Aksara, 1998
Sadzali Munawir, Ijtihad Kemanusian, Jakarta: Paramadina, 1997
Salim Hadji A., Tjeritera Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad, Jakarta:
Tintamas, 1996
Sharaf M. Jalal, Dirâsât fi at-Tasawuf al-Islâmi, Beirut: Dâr al-Nahdhah
al-Arabiyah, 1984
Tawilah ‘Abd al-Wahhab, Bisharat al-Anbiya’ li Muhammad, Ttp.: Dar al-
Salam, 1990
Zahwu M. Abu, al-Hadits wal-Muhaddithûn, Beirut: Dâr al-Kitâb al-Arabi,
tt.

Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008 437


Pengalaman Sufistik...Oleh Safrodin Halimi

438 Teologia, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008