Anda di halaman 1dari 7

c 

 

? Daerah pantai merupakan daerah perbatasan antara ekosistem


laut dan ekosistem darat. Karena hempasan gelombang dan
hembusan angin maka pasir dari pantai membentuk gundukan
ke arah darat. Setelah gundukan pasir itu biasanya terdapat
hutan yang dinamakan hutan pantai.

Tumbahan pada hutan pantai cukup beragam. Tumbuhan


tersebut bergerombol membentuk unit-unit tertentu sesuai
dengan habitatnya. Suatu unit vegetasi yang terbentuk karena
habitatnya disebut formasi. Setiap formasi diberi nama sesuai
dengan spesies tumbuhan yang paling dominan.

? Di daerah pasang surut sendiri dapat terbentak hutan, yaitu


hutan bakau. Hutan bakau biasanya sangat sukar ditempuh
manusia karena banyaknya akar dan dasarnya terdiri atas
lumpur.
? Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut
laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi
struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras.

Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik


tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang,
moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan
burung pantai.

Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang


rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon
laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting,
landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil.

Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut.


Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta
rumput laut.
? Komunitas tumbuhan berturut-turut dari daerah pasang surut ke
arah darat dibedakan sebagai berikut.

1.? Formasi pes caprae

Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh


di gundukan pasir adalah tumbuhan M   caprae
yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin;
tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan
lainnya adalah   
    (rumput angin), Vigna,
  atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah
darat lagi ditumbuhi   (bakung),   
 (pandan), dan    (babakoan).

? Formasi    

Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di


dalamnya   pesia,      dan
  

EKOSISTEM BAKAU

î  c

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang
tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis
pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.

Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi


pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk
yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara
sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang
dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya


pelumpuran tadi --yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah;
salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur
penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis
tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-
jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena
telahmelewati proses adaptasi dan evolusi.

Ciri-ciri
1. Kadar garam air dan tanah tinggi.

2. Kadar O2 dalam air dan tanah rendah.

3. Saat air pasang, lingkungan banjir, saat air surut lingkungan


becek dan berlumpur

Lu 

 

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di


dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan
sedikit di subtropika.

Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar,
merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3
juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk,
1997 dalam Noor dkk, 1999). Di Indonesia, hutan-hutan mangrove
yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang
dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di
pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di
pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh
kebutuhan penduduknya terhadap lahan. Di bagian timur
Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang
masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di
sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta
ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.


L
 u

 



Pandangan di atas dan di bawah air, dekat perakaran pohon

bakau, Rhizophora sp.

Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian


terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata
dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau
R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir
berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api
hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.
Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi,
biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis
kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-
lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya,
biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia
caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.). Pada bagian yang lebih
kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.),
teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan
kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).


u 
u   

Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau, tetumbuhan


beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan
vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan
hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun.
Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.
Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. Perhatikan akar napas yang
muncul ke atas lumpur pantai. Pohon-pohon bakau (Rhizophora
spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan
akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang.
Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.)
menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari
pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon
kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root),
sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan
yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang
tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara
bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis
vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan
untuk bernapas.

 


Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang
dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti
arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat
vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum
buahnya gugur dari pohon.

Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan


buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka
(Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan
mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih
bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah
ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau
terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari
hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke
tempat-tempat jauh.

Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara


masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa
(Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula
berkecambah di pohon, meski tak nampak dari sebelah luarnya.
Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan
keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak
semai semacam ini disebut dengan istilah propagul.
Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak
laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin
menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah
laut lainnya. Propagul dapat ¶tidur· (dormant) berhari-hari bahkan
berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika
akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah
perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian
akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air.
Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air
dangkal yang berlumpur.

Hutan ini dapat hidup dengan subur klau wilayah pesisir tersebut
memenuhi syarat-syarat berikut:

a. Terlindung dari gemuran ombak dan arus pasang surut air


lautyang kuat

b.Daerahnya datar

c. Memilki muara sungai yang besar

d.Kadar garam air laut antara 10-30 per mil

îu
u

Pohon-pohonnya tahan dari kekeringan dan termasuk tumbuhan


tropofit, artinya mampu beradaptasi terhadap keadaan kering dan
keadaan basah pada saat musim kemarau (kering), daunnya
meranggas, sebaliknya saat musim hujan, daunnya lebat. Hutan musim
biasa diberi nama sesuai dengan tumbuhan yang dominan, misalnya:
hutan jati, hutan angsana. Di Indonesia, hutan musim dapat ditemukan di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdiri dari :

1.? hutan musim bawah terdapat pada ketinggian 2 - 1000 m dpl.


Dengan luas + 17.000 hektar; dan
2.? hutan musim tengah atas pada ketinggian 1000 - 4000 m dpl.
3.? Di daerah tropis, selain hutan tropis terdapat pula hutan musim.
4.?      
  !
5.? Pohon-pohonnya tahan dari kekeringan dan termasuk tumbuhan
tropofit, artinya mampu beradaptasi terhadap keadaan kering dan
keadaan basah pada saat musim kemarau (kering), daunnya
meranggas, sebaliknya saat musim hujan, daunnya lebat. Hutan
musim biasa diberi nama sesuai dengan tumbuhan yang dominan,
misalnya: hutan jati, hutan angsana. Di Indonesia, hutan musim
dapat ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Fauna
yang banyak ditemukan rusa, babi hutan, harimau.
6.? î  "#"   $
7.? Ciri-ciri : Dipengaruhi iklim musim. terdapat banyak jenis
tumbuhan yang menggugurkan daun, hanya ada satu ketinggian
tajuk ± 25 - 30m, terdapat pada dataran rendah. rata-rata berbukit-
bukit sampai dataran tinggi kering dengan bermacam-macam
jenis tanaman terdapat secara mozaik didataran hutan seperti di
Karawang. Cirebon. Jawa tengah. Jawa timur dan Nusa tenggara.
Dapat dibedakan menjadi 2 zone menurut ketinggiannya Hutan
Musim Bawah (2 - 1000 mdpl) Hutan Musim Tengah - Atas (1000 -
4000 rndpl). stepa.
8.? Yang dimaksud dengan stepa adalah suatu daerah merupakan
daerah peralihan antara/dari hutan tropis berdekatan/semakin
dekat sekitar hutan tumbuh.
9.? Daerah savana mempunyai temperatur sepanjang tahun.