Anda di halaman 1dari 35

KASUS 3

Anda bekerja sebagai dokter di IGD sebuah rumah sakit. Pada suatu sore hari datang
seorang laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun
menyatakan bahwa anaknya tersebut baru saja pulang “dibawa lari” oleh teman laki-laki
yang berusia 18 tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi
sesuatu pada diri sang putrinya. Ia juga bimbang apa akan diperbuatnya bila sang anak
telah “disetubuhi” laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat
menjelaskan berbagai hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya.

BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu praktek seks yang dinilai menyimpang adalah bentuk kekerasan seksual.
Artinya praktek hubungan seksual yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan,
bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai agama serta melanggar hukum yang berlaku.
Kekerasan ditunjukkan untuk membuktikan bahwa pelakunya memiliki kekuatan, baik
fisik maupun nonfisik. Dan kekuatannya dapat dijadikan alat untuk melakukan usaha-
usaha jahatnya itu.

Untuk mengenali bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak sesungguhnya tidaklah jauh


dari sekitar kita. Realitas kekerasan seksual yang dialami anak–anak sampai saat ini
masih menjadi masalah yang cukup besar di Indonesia. Lihat saja pemberitaan media
cetak dan elektronik mengenai kekerasan seksual pada anak dapat dijumpai setiap hari.
Bentuk dan modus operandinya pun juga cukup beragam. Berdasarkan ketentuan
Konvensi Hak Anak (1989) dan protokol tambahannya KHA (option protocol
Convention on the Rights of the Child) bentuk-bentuk kekerasan dibagi dalam empat
bentuk. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual komersial termasuk penjualan
anak (sale children) untuk tujuan prostitusi (child prostitution) dan pornografi (child
phornografy). Kekerasan seksual terhadap atau dengan sebutan lain perlakuan salah
secara seksual bisa berupa hubungan seks, baik melalui vagina, penis, oral, dengan
menggunakan alat, sampai dengan memperlihatkan alat kelaminnya, pemaksaan seksual,
sodomi, oral seks, onani, pelecehan seksual, bahkan perbuatan incest. Bentuk lainnya,
menyentuh alat kelamin korban atau memaksa korban untuk menyentuh alat kelaminnya;
melibatkan anak-anak dalam pornografi, misalnya memperlihatkan gambar atau tulisan
erotis dengan tujuan membangkitkan nafsu birahi, termasuk juga memperlihatkan kepada
anak-anak alat-alat seperti kondom, gambar orang tanpa busana dan sebagainya.

Menurut Resna dan Darmawan, tindakan penganiayaan seksual dapat dibagi atas tiga
kategori yaitu perkosaan, incest, dan eksploitasi. Pada eksploitasi termasuk prostitusi dan
pornografi. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut. (a) Perkosaan Pelaku
tindakan perkosaan biasanya pria. Perkosaan biasanya terjadi pada suatu saat dimana
pelaku (biasanya) lebih dulu mengancam dengan memperlihatkan kekuatannya kepada
anak. Jika anak diperiksa dengan segera setelah perkosaan, maka bukti fisik dapat
ditemukan seperti air mata, darah, dan luka memar yang merupakan penemuan yang
mengejutkan dari penemuan suatu akibat penganiayaan. Apabila terdapat kasus
pemerkosaan dengan kekerasan pada anak, akan merupakan suatu resiko terbesar karena
penganiayaan sering berdampak emosi tidak stabil. Khusus untuk anak ini dilindungi dan
tidak dikembalikan kepada situasi di mana terjadi tempat perkosaan, pemerkosa harus
dijauhkan dari anak. (b) Incest, didefinisikan sebagai hubungan seksual atau aktivitas
seksual lainnya antara individu yang mempunyai hubungan dekat, yang perkawinan di
antara mereka dilarang oleh hukum maupun kultur. Incest biasnya terjadi dalam waktu
yang lama dan sering menyangkut suatu proses terkondisi. (c)Eksploitasi, Eksploitasi
seksual meliputi prostitusi dan pornografi, dan hal ini cukup unik karena sering meliputi
suatu kelompok secara berpartisipasi. Hal ini dapat terjadi sebagai sebuah keluarga atau
di luar rumah bersama beberapa orang dewasa dan tidak berhubungan dengan anak-anak
dan merupakan suatu lingkungan seksual. Pada beberapa kasus ini meliputi keluarga-
keluarga, seluruh keluarga ibu, ayah, dan anak-anak dapat terlibat dan anak-anak harus
dilindungi dan dipindahkan dari situasi rumah. Hal ini merupakan situasi patologi di
mana kedua orangtua sering terlibat kegiatan seksual dengan anak-anaknya dan
mempergunakan anak-anak untuk prostitusi atau untuk pornografi. Eksploitasi anak-anak
membutuhkan intervensi dan penanganan yang banyak secara psikiatri.
BAB II

2.1 ASPEK HUKUM KUHP

Pasal KUHP yang mengatur mengenai pencabulan ada dalam pasal 289-296.

Pasal 289 KUHP

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang


untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, diancam karena
melakukan perbuatan yang menyerang kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9
tahun.

Pasal 290 KUHP

Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun:

• Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahui


bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya;
• Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahui atau
sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau
umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin
• Barangsiapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga
bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa
belum mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul atau
bersetubuh diluar perkawinan dengan orang lain

Pasal 292 KUHP

Orang yang cukup umur yang melakukan perbuatan cabul dengan ornag lain sama
kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa belum cukup umur,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
Pasal 293 KUHP

• Barangsiapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang,


menyelahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaaan, atau dengan
menyesatkan sengaja menggerakkan seseorang belum cukup umur dan baik
tingkah-lakunya, untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan
cabul dengan dia, padahal tentang belum cukup umurnya itu diketahui atau
selayaknya harus diduga, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
• Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya
dilakukan kejahatan itu.
• Tenggang tersebut dalam pasal 74, bagi pengaduan ini adalah masing-masing 9
bulan dan 12 bulan.

UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Pada UU Perlindungan Anak yang mengatur mengenai pencabulan terdapat pada pasal 82
dan 88.

Pasal 82

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan,
memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan penjara paling
lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak 300 juta rupiah dan
paling sedikit 60 juta rupiah.

Pasal 88

Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk
menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipindana dengan pidana penjara paling lama
10 tahun dan atau denda paling banyak 200 juta rupiah.
Dapat terlihat disini perbedaan antara hukuman yang diberikan oleh KUHP, UU
Perlindungan anak dan UU anti KDRT. Undang-undang Perlindungan Anak dapat
memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan KUHP. Misalnya, ada
sanksi cukup tinggi berupa hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun dan minimal 3
tahun dengan denda maksimal Rp 300 juta dan minimal 60 juta tindakan yang
berhubungan dengan perkosaan dan pencabulan terhadap anak yang diatur di dalam
KUHP.

Sebenarnya sejak tahun 1979 pemerintah telah menetapkan sebuah peraturan untuk
meletakkan anak-anak dalam sebuah lembaga proteksi yang cukup aman, yaitu UU No 4
tentang Kesejahteraan Anak yang dengan tegas merumuskan, setiap anak berhak atas
pemeliharaan dan perlindungan sejak dalam kandungan sampai dengan sesudah
dilahirkan. Dalam koridor tersebut, terhadap anak tidak dibenarkan adanya perbuatan
yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Seorang anak yang tidak dapat
diasuh dengan baik oleh orang tuanya dapat mengakibatkan pembatalan hak asuh orang
tua. Langkah pemerintah selanjutnya adalah menetapkan UU Pengadilan Anak (UU No 3
Tahun 1997) yang diharapkan dapat membantu anak yang berada dalam proses hukum
tetap untuk mendapatkan hak-haknya.Terakhir, pemerintah menetapkan pula UU No 23
Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak yang secara tegas pula menggariskan bahwa
anak adalah penerus generasi bangsa yang harus dijamin perlindungannya dari segala
bentuk kekerasan dan diskriminasi

Contoh lain kasus anak yang dapat menggambarkan bahwa betapa KUHP dinilai kurang
adekuat dalam memberikan hukuman adalah dalam kasus perdagangan anak-anak, yang
tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan besar di Indonesia.

Pasal 297 KUHP yang mengatur masalah ini hanya mengancam dengan vonis maksimal
4 tahun. Padahal di sejumlah negara termasuk Amerika Serikat kasus seperti ini dianggap
sebagai sebuah kejahatan besar dimana pelakunya bisa mendapat vonis penjara di atas 15
tahun. Bahkan berfantasi seksual dengan anak-anak pun dianggap sebagai sebuah
kejahatan.

2.2 PROSEDUR MEDIKOLEGAL


Prosedur medikolegal adalah tatacara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek
yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar
prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika
kedokteran.

Lingkup prosedur medikolegal


• Pengadaan visum et repertum
• Tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka
• Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian
keterangan ahli di dalam persidangan
• Kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran
• Tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan
Medik
• Tentang fitness / kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan
penyidik.

1. Dasar pengadaan visum et repertum


Pasal 133 KUHP
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan atau mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainya.
(2) Permintaan keterangan ahli seperti yang dimaksudkan dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan pada mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi
cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Permintaan Visum et Repertum Menurut Pasal 133 KUHP :


- Wewenang penyidik
- Tertulis (RESMI)
- Terhadap korban, bukan tersangka
- Ada dugaan akibt peristiwa pidana
- Bila mayat:
i. Identitas pada label
ii. Jenis pemeriksaan yang diminta
iii. Ditujukan kepada SpF dan Dokter RS

2. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter


Pasal 216 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut UU oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut
atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja
mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan
ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau
denda paling banyak Rp 9.000,00.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka
pidananya dapat ditambah sepertiga.

Pasal 222 KUHP


Barang siapa sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
9 bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500,00.

3. Permintaan sebagai Saksi Ahli (masa persidangan)


Pasal 179 KUHAP
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Pasal 224 KUHAP


Barang siapa dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau
juru bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut UU
ia harus melakukannya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9
bulan
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6
bulan.

4. Pemeriksaan Tersangka
Pasal 66 KUHAP
Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian
Pasal 37 KUHAP
(2) Pada waktu menangkap tersangka atau dalam hal tersangka sebagaimana
dimaksudkan dalam pasal (1) dibawa kepada penyidik, penyidik berwenang
menggeledah pakain dan atau menggeledah badan tersangka.
Pasal 53 UU Kesehatan
(3) Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan
medis terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan
yang bersangkutan
5. Pembuat Visum et Repertum bagi Tersangka (misal: VeR Psikis)
Pasal 120 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus

Pasal 180 KUHAP


(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat meminta keterangan ahli dan dapat
pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.

6. Keterangan Ahli
Pasal 1 Butir 28 KUHAP
Keterangan Ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki
keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara
pidana guna kepentingan pemeriksaan agar dapat diajukan ke sidang pengadilan
sebagai upaya pembuktian, harus dikemas dalam bentuk ‘ALAT BUKTI SAH’

7. Alat Bukti Sah


Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperolah keyakinan bahwa
suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.

Pasal 184 KUHAP


(1) Alat bukti sah adalah :
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
8. Keterangan Ahli Diberikan secara Lisan
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan disidang pengadilan.

Penjelasan Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli ini dapat juga diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik
atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat
dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

9. Keterangan Ahli Diberikan Secara Bertulis


Pasal 187 KUHAP
(1) Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas smpah
jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :
c. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai suatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi
daripadanya  alat bukti sah surat

10. Pejabat Yang Berwewenang Meminta visum et Repertum


Pasal 133 KUHAP  penyidik

Pasal 6 (1) KUHAP


 Penyidik :
- Pejabat POLRI
- Pejabat PNS tertentu yang diberi wewenang khusus oleh UU
Yang membutuhkan Visum et Repertum  kasus pidana Umum  penyidik harus
Polisi
Penyidik PNS tidak berwenang meminta Visum et Repertum

Pasal 2 PP No 27 Thn 1983


(2) Penyidik adalah pejabat polisi NKRI tertentu yang sekurang-kurangnya
berpangkat pembantu letnan dua polisi (Ajun inspektur dua)

Pasal 2 PP No 27 Thn 1983


Penyidik pembantu adalah
• Pejabat polisi NRI tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat sersan
dua polisi
• Pejabat PNS tertentu yang berpangkat pengatur muda (gol II/a) atau yang
disamakan dengan itu

Pasal 2 (2) PP No 27 Thn 1983


Dalam hal disuatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka komandan kepolisian yang berpangkat
bintara dibawah pembantu letnan dua polisi, karena jabatannya adalah penyidik.

Artinya :
• Tidak semua polisi berpangkat pelda keatas adalah penyidik
• Tidak semua polisi berpangkat sersan adalah penyidik pembantu
• Setiap kapolsek adalah penyidik 1

2.3 PROSEDUR HUKUM


Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan
1. Memiliki permintaan tertulis dari penyidik
Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang berguna untuk peradilan, dokter harus
melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang.
Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti.
Apabila korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi,
korban jangan diperiksa dahulu tetapi diminta untuk kembali kepada polisi dan
datang bersama polisi.
Visum et repertum dibuat hanya berdasarkan atas keadaan yang didapatkan pada
tubuh korban saat permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Jika dokter
telah memeriksa korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek atas
inisiatif korban sendiri tanpa permintaan polisi, lalu beberapa waktu kemudian
polisi mengajukan permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum, maka hasil
pemeriksaan sebelumnya tidak boleh dicantumkan dalam Visum et Repertum
karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada
permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran
yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322).
Dalam hal demikian, korban harus dibawa kembali untuk diperiksa dan Visum et
Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan
diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak dicantumkan dalam Visum et
Repertum, tetapi dalam bentuk surat keterangan.
2. Informed Consent
Sebelum memeriksa, dokter harus mendapatkan surat ijin terlebih dahulu dari pihak
korban, karena meskipun sudah ada surat permintaan dari polisi, belum tentu
korban menyetujui dilakukannya pemeriksaan ke atas dirinya. Selain itu, bagian
yang akan diperiksa meliputi daerah yang bersifat pribadi. Jika korban sudah
dewasa dan tidak ada gangguan jiwa, maka dia berhak memberi persetujuan.
Sedangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu, maka persetujuan
diberikan oleh orang tuanya atau saudara terdekatnya, atau walinya.
Dalam melakukan pemeriksaan, tempat yang digunakan sebaiknya tenang dan dapat
memberikan rasa nyaman bagi korban. Oleh karena itu, perlu dibatasi jumlah orang
yang berada dalam kamar pemeriksaan, hanya dokter, perawat, korban, dan
keluarga atau teman korban apabila korban menghendakinya. Pada saat memeriksa,
dokter harus didampingi oleh seorang perawat atau bidan.
3. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secepat mungkin
Korban sebaiknya tidak dibiarkan menunggu dengan perasaan was-was dan cemas
di kamar periksa. Pemeriksa harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan tindakan
yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke
pengadilan. Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin agar perkara dapat
cepat diselesaikan.
4. Kadang-kadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh
seorang ayah/ibu untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi
apakah anaknya masih perawan, atau karena ia merasa curiga kalau-kalau atas diri
anaknya baru terjadi persetubuhan.
Dalam hal ini, sebaiknya ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekesar
ingin mengetahui saja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila
dimaksudkan akan melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan
memeriksa anak itu. Katakana bahwa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan
permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Mungkin ada baiknya
dokter memberikan penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika umur anaknya sudah
15 tahun, dan jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan maka menurut
undang-undang, laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan
mungkin hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik lagi jika orang tua itu
dianjurkan untuk minta nasehat dari seorang pengacara.
Jika orang tua hanya sekedar ingin mengetahui saja maka dokter dapat melakukan
pemeriksaan. Tetapi jelaskan lebih dahulu bahwa hasil pemeriksaan tidak akan
dibuat dalam bentuk surat keterangan, karena kita tidak mengetahui untuk apa surat
keterangan itu. Mungkin untuk melakukan penuntutan atau untuk menuduh
seseorang yang tidak bersalah. Dalam keadaan sedemikian umumnya anak tidak
mau diperiksa, sebaliknya orang tua malah mendesaknya. Sebaiknya dokter
meminta ijin tertulis untuk memeriksa dan memberitahukan hasil pemeriksaan
kepada orang tuanya.

2.4 PEMERIKSAAN MEDIK


Pemeriksaan secara medis pada korban kejahatan seksual, baik pada anak-anak maupun
dewasa pada dasarnya sama dengan pada pasien lain, yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang:
1. Ambil data-data polisi, korban dokter dan perawat terkait.
2. Anamnesis:
• Umur
• Status perkawinan
• Haid: haid, terakhir
• Penyakit kelamin dan kandungan
• Penyakit lain seperti ayan dll
• Pernah bersetubuh? Waktu persetubuhan terakhir? Menggunakan
kondom?
• Waktu kejadian
• Tempat kejadian
• Apakah korban melawan?
• Apakah korban pingsan?
• Apakah terjadi penetrasi?
• Apakah terjadi ejakulasi?
3. Periksa pakaian:
• Robekan lama / baru / memanjang / melintang
• Kancing putus
• Bercak darah, sperma, Lumpur, dll
• Pakaian dalam rapih atau tidak
• Benda-benda yang menempel sebagai trace evidence
4. Pemeriksaan badan:
Umum:
• Rambut / wajah rapi atau kusut
• Emosi tenang atau gelisah
• Tanda bekas pingsan, alkohol, narkotik. Ambil contoh darah
• Tanda kekerasan: mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha
• Trace evidence yang menempel pada tubuh
• Perkembangan seks sekunder
• Tinggi dan berat badan
• Pemeriksaan rutin lainnya.
Genitalia:
Pada pemeriksaan fisik anak, temuan tidak spesifik yaitu temuan yang mungkin
sebagai akibat seksual abuse, tergantung pada jarak saat pemeriksaan dan saat
abuse, tetapi mungkin juga akibat sebab lain atau merupakan varian yang normal.
• Eritema (kemerahan) vestibulum atau jaringan sekitar anus (dapat akibat
zat iritan, infeksi atau iritan)
• Adesi labia (mungkin terdapat iritasi atau rabaan)
• Friabilitas (retak) daerah posterior fourchette (akibat iritasi, infeksi atau
karena traksi labia mayor pada pemeriksaan)
• Penebalan selaput dara (mungkin akibat estrogen, terlipatnya tepi selaput,
bengkak karena infeksi ataupun trauma)
• Kulit genital semu (mungkin jumbai kulit atau kulit bukan genital
mungkin condyloma acuminata yang didapat bukan dari seksual)
• Fisura ani (biasanya akibat konstipasi atau iritasi perianal)
• Pendataran lipat anus (akibat relaksasi sfingter eksterna)
• Pelebaran anus dengan adanya tinja (refleks normal)
• Kongesti vena atau pooling vena (biasanya akibat posisi anak, juga
ditemukan pada konstipasi)
• Perdarahan pervaginam (mungkin berasal dari sumber lain seperti uretra
atau mungkin akibat infeksi vagina, benda asing atau trauma yang
eksidental
5. Deskripsikan mengenai adanya robekan, iregularitas, keadaan fissura.
Apabila terjadi hubungan seksual secara anal, maka dapat terjadi perlukaan pada
anus.
6. Pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan seperti:
• Pemeriksaan darah
• Pemeriksaan cairan mani (semen)
• Pemeriksaan kehamilan
• Pemeriksaan VDRL
• Pemeriksaan serologis Hepatitis
• Pemeriksaan Gonorrhea
• Pemeriksaan HIV
• Pemeriksaan rambut, air liur, dan pemeriksaan pria tersangka

2.5 PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Pemeriksaan cairan mani (semen)
Cairan mani merupakan cairan agak kental, berwarna putih kekuningan, keruh dan
berbau khas. Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudian akibat enzim proteolitik
menjadi cair dalam waktu yang singkat (10-20 menit). Dalam keadaan normal, volume
cairan mani 3-5ml pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7.2 – 7.6. Cairan mani mengandung
spermatozoa, sel-sel epitel dan sel-sel lain yang tersuspensi dalam cairan disebut plasma
seminal yang mengandung spermin dan beberapa enzim seperti fosfatase asam.
Spermatozoa mempunyai bentuk khas untuk spesies tertentu dengan jumlah yang
bervariasi, biasanya antara 60 sampai 120 juta per ml.
Untuk menentukan adanya cairan mani dalam vagina guna membuktikan adanya suatu
persetubuhan, perlu diambil bahan dari forniks posterior vagina dan dilakukan
pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sebagai berikut:

 Pemeriksaan spermatozoa (mikroskopis)


Tanpa pewarnaan
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang bergerak.
Pemeriksaan motilitas spermatozoa ini paling bermakna untuk memperkirakan saat
terjadinya persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa dalam 2-3 jam setelah
persetubuhan masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid
akan memperpanjang waktu ini menjadi 3-4 jam. Setelah itu spermatozoa tidak bergerak
lagi dan akhirnya ekornya akan menghilang (lisis), sehingga harus dilakukan
pemeriksaan dengan pewarnaan.

Cara pemeriksaan: satu tetes lender vagina diletakkan pada kaca obyek, dilihat dengan
pembesaran 500x serta kondensor diturunkan. Perhatikan pergerakan sperma.
Bila sperma tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat mengingat
kemungkinan azoospermia atau pasca vasektomi sehingga perlu dilakukan penentuan
cairan mani dalan cairan vagina.

Dengan pewarnaan
Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada
nyala api. Pulas dengan HE, Methylene Blue atau Malachite green. Cara pewarnaan yang
mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah dengan pulasan malachite green
dengan prosedur sebagai berikut:
Warnai dengan larutan Malachite green 1% selama 10-15 menit, lalu cuci dengan
air mengalir dan setelah itu lakukan counter stain dengan larutan Eosin Yellowish
1% selama 1 menit, terakhir cuci lagi dengan air.

 Penentuan cairan mani (kimiawi)


Untuk membuktikan adanya cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-
zat yang banyak terdapat dalam cairan mani dengan pemeriksaan laboratorium berikut:

Reaksi fosfatase asam


Dasar reaksi: adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh
kelenjar prostate. Aktifitas enzim fosfatase asam rata-rata adalah sebesar 2500 U.K.A.
(kaye). Dalam sekret vagina setelah 3 hari abstinensi seksualis ditemukan aktifitas 0-6
Unit (Risfeld).

Dengan menentukan secara kuantitatif aktifitas fosfatase asam per 2 cm2 bercak, dapat
ditentukan apakah bercak tersebut adalah bercak mani atau bukan. Aktifitas 25 U.K.A.
per 1 cc ekstrak yang diperoleh dari 1cm2 bercak dianggap spesifik sebagai bercak mani.
Reagens untuk pemeriksaan ini adalah:
Larutan A: Brentamin Fast Blue B 1 g (1)
Natrium acetat trihyrate 20 g (2)
Glacial acetat acid 10 ml (3)
Aquadest 100 ml (4)
(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga dengan pH 5,
kemudian (1) dilarutkan dalam larutan peyangga tersebut.

Larutan B : Natrium alfa naftil fosfat 800 mg + aquades 10 ml.

89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B, lalu saring cepat ke dalam botol yang


berwarna gelap. Jika disimpan dilemari es, reagen ini dapat bertahan berminggu-minggu
dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi.

Cara pemeriksaan :

Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang terlebih dahulu dibasahi
dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring diangkat dan
disemprotkan / diteteskan dengan reagen. Ditentukan waktu reaksi dari saat
penyemprotan sampai timbul warna ungu, karena intensitas warna maksimal tercapai
secara berangsur-angsur.

Hasil :
Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan warna serentak dengan
intensitas tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim tersebut memberikan
intensitas warna secara berangsur-angsur.

Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat adanya cairan mani. Bila 30 – 65 detik,
masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforesis. Waktu reaksi > 65 detik,
belum dapat menyatakan sepenuhnya tidak terdapat cairan mani karena pernah ditemukan
waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa positif. Enzim fosfatase asam yang terdapat di
dalam vagina memberikan waktu reaksi rata-rata 90 – 100 detik. Kehamilan, adanya
bakteri-bakteri dan jamur, dapat mempercepat waktu reaksi.
Reaksi Berberio
Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa.
Dasar reaksi :Menentukan adanya spermin dalam semen.
Reagen : Larutan asam pikrat jenuh.
Cara pemeriksaan (sama seperti pada reaksi Florence) :
Bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Ekstrak diletakkan pada kaca objek, biarkan
mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan dengan pipet dibawah kaca
penutup.

Hasil :
Hasil positif bila, didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk jarum dengan
ujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal. Kristal
mungkin pula berbentuk ovoid.

Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani


Pada individu yang termasuk golongan sekretor (85% dari populasi), substansi golongan
darah dapat dideteksi dalam cairan tubuhnya seperti air liur, sekret vagina, cairan mani,
dan lain-lain. Substansi golongan darah dalam cairan mani jauh lebih banyak dari pada
air liur (2 – 100 kali). Hanya golongan sekretor saja yang golongan darahnya dapat
ditentukan dalam semen yaitu dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi.

Tabel 1. Gambaran substansi golongan darah dalam bahan pemeriksaan yang berasal dari
forniks posterior vagina.
Golongan Darah Wanita
O A B AB
Substansi ”sendiri”
A B
dalam sekret H A+B
A+H B+H
vagina
A
Substansi “asing” B A H*
B
berasal dari semen H* H* A+H
A+B
Hasil :
Adanya substansi ‘asing’ menunjukkan di dalam vagina wanita tersebut terdapat cairan
mani.

Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian


a. Secara visual
Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Bercak yang
sudah agak tua berwarna kekuningan.
• Pada bahan sutera / nilon, batas sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap
daripada sekitarnya.
• Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar menunjukkan permukaan
mengkilat dan translusen kemudian mengering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan
akan berwarna kuning sampai coklat.
• Pada tekstil yang menyerap, bercak segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang
berangsur-angsurmenguning sampai coklat dalam waktu 1 bulan.
• Dibawah sinar ultraviolet, bercak semen menunjukkan flouresensi putih. Bercak
pada sutera buatan atau nilon mungkin tidak berflouresensi. Flouresensi terlihat
jelas pada bercak mani pada bahan yang terbuat dari serabut katun. Bahan
makanan, urin, sekret vagina, dan serbuk deterjen yang tersisa pada pakaian
sering berflouresensi juga.
b. Secara taktil (perabaan)
Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak menyerap, bila tidak teraba
kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar.
c. Skrining awal (dengan Reagen fosfatase asam)
Cara pemeriksaan :
Sehelai kertas saring yang telah dibasahi akuades ditempelkan pada bercak yang
dicurigai selama 5 – 10 menit. Keringkan lalu semprotkan / teteskan dengan
reagen. Bila terlihat bercak ungu, kertas saring diletakkan kembali pada pakaian
sesuai dengan letaknya semula untuk mengetahui letak bercak pada kain.
Pemeriksaan Pria Tersangka
Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan persetubuhan dengan
seseorang wanita.

Cara lugol
Kaca objek ditempelkan dan ditekan pada glans penis, terutama pada bagian kolum,
korona serta frenulum, kemudian letakkan dengan spesimen menghadap kebawah diatas
tempat yang berisi larutan ligol dengan tujuan agar uap yodium akan mewarnai sediaan
tersebut. Hasil akan menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna
coklat karena mengandung banyak glikogen.

Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita, perlu ditentukan adanya
kromatin seks (barr bodies) pada inti. Dengan pembesaran besar, perhatikan inti sel epitel
yang ditemukan dan cari barr bodies. Ciri-cirinya adalah menempel erat pada permukaan
membran inti dengan diameter kira-kira 1 µ yang berbatas jelas dengan tepi tajam dan
terletak pada satu dataran fokus dengan inti.

Kelemahan pemeriksaan ini adalah bila persetubuhan tersebut telah berlangsung lama
atau telah dilakukan pencucian pada alat kelamin pria, maka pemeriksaan ini tidak akan
berguna lagi.

Pada dasarnya pemeriksaan laboratorium forensik pada korban wanita dewasa dan anak-
anak adalah sama, yang membedakan adalah pendekatan terhadap korban. Pengumpulan
barang bukti harus dilakukan jika hubungan seksual terjadi dalam 72 jam sebelum
pemeriksaan fisik.

2.6 INTERPRETASI HASIL


1. Tanda-tanda seks sekunder

Pada pemerikasaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran
maka umur korban yang pasti tidak diketahui. Dokter perlu menyimpulkan
apakah wajah dan bentuk badan korban sesuai dengan umur yang dikatakannya.
Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu
dikemukakan.

Tanner membagi tahapan yang terjadi selama pubertas. Tahapan ini dibagi
menjadi dari T1 sampai T5, di mana T1 identik dengan perkembangan masa anak-
anak dan T5 identik dengan maturitas penuh.

Beberapa istilah yang sering digunakan dalam tanda-tanda seks sekunder pada
wanita antara lain :
i. telarche, yaitu pembesaran payudara,
ii. pubarche, yaitu tumbuhnya rambut pubis,
iii. menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali terjadi, dan
iv. adrenarche, yaitu tumbuhnya rambut aksila sebagai akibat peningkatan
androgen dari adrenal.
Untuk mempermudah pemahaman mengenai perubahan fisik yang terjadi selama
pubertas pada wanita, Tanner menggolongkannya menjadi beberapa tahapan yang
ditandai dengan dari T1 (Tanner 1) sampai T5.

Tabel 2. Penggolongan Oleh Tanner


Tanner Perkiraan Telarche Pubarche Kecepatan Lain-lain
(T) usia pertumbuhan
tinggi
badan/tahun
1 10 tahun atau Elevasi puting Tidak ada 5-6 cm Adrenarche
kurang susu, areola masih rambut, atau ada
sejajar dengan rambut namun
permukaan dada bentuknya seperti
vilus
2 10-11,5 Tunas payudara Rambut jarang, 7-8 cm Pembesaran
tahun bisa teraba, areola sedikit klitoris,
membesar berpigmentasi pigmentasi
labia
3 11,5-13 Payudara melebar Menjadi lebih 8 cm Acne vulgaris,
tahun melebihi batas kasar, gelap, dan rambut aksila
areola keriting
4 13-15 tahun Putting susu berada Tipe dewasa, <7cm Menarche
di atas bukit areola namun
penyebarannya
sebatas pubis
5 15 tahun atau Integrasi puting Tipe dewasa dan Mencapai Organ genital
lebih susu penyebarannya tinggi dewasa
hingga ke paha maksimal pada
sebelah dalam usia 16 tahun

2. Tanda-tanda persetubuhan

 Robekan Hymen

Variasi anatomi dari keadaan yang hymen imperforata sampai keadaan dimana
hampir tidak terdapat hymen dapat ditemukan, tetapi pemeriksaan yang dilakukan
secara hati-hati akan selalu memperlihatkan unsur-unsur dari hymen. Laserasi
vaginal biasa timbul pada coitus normal ataupaun pada perkosaan. Biasanya
laserasi vaginal disebabkan karena coitus namun dapat juga disebabkan oleh
masturbasi, dengan memasukkan benda asing seperti tampon . Perlukaan vaginal
bukanlah hal yang jarang, dan derajatnya bervariasi dari perlukaan minor akibat
koitus normal hingga introital mayor atau minor dan robekan vaginal, dan
robekan dinding vagina. Trauma minor pada vagina biasanya disebabkan oleh
koitus normal. Hymen dan introitus ditahan pada bagian anterior dimana daerah
ini jarang terkena luka. Hymen yang kresentik merupakan penampakan yang
sering ditemukan pada wanita yang masih perawan. Trauma atau luka sering
diharapkan terjadi pada bagian posterior dimana pada bagian ini terdapat daerah
jaringan tanpa penyokong yang luas. Trauma vaginal pada saat koitus biasanya
terdapat pada bagian bawah, posterior , bagian dari introitus, termasuk bagian
bawah hymen dan fourchette posterior. Robekan hymen biasanya terdapat pada
bagian posterior (63% antara posisi jam 5 dan jam 7, dengan posisi pasien
supinasi). Robekan yang lebih parah lagi terdapat pada perluasan laserasi hymen
ke dinding vagina atau corpus penineum dan rektum dan disertai dengan
perdarahan nyata.
 Cairan semen

Cairan seminal ditambahkan kedalam saluran vagina ketika ejakulasi terjadi


selama koitus. Ketika penis ditarik, maka saluran vagina akan meluas sejauh
panjang vagina. Kelemahan dari bagian-bagian atau perubahan dari postur lubang
vagina perempuan akan menyebabkan kebocoran, yang akan membuat cairan
semen tertinggal dan menetap di rambut pubis, perineum, dan paha bagian atas
dan tentu juga pada sprei atau pakaian dalam pada waktu kejadian. Maka pada
korban dilakukan pemeriksaan cairan semen dari swab atau bilasan forniks
posterior dan pada bercak pakaian. Apabila ditemukan spermatozoa dan cairan
mani pada pemeriksaan ini, ini menunjukkan persetubuhan telah terjadi.

3. Tanda-tanda kekerasan

Cedera Akibat Kekerasan Fisik atau Perlawanan

• Menampar, memukul, menendang, dan menjatuhkan semuanya


merupakan tindakan yang dilakukan pada saat terjadi perlawanan. Bukti-bukti
dari kekerasan ini sering kali terlihat sebagai kontusio disekitar mata, pipi, bibir
tetapi bukti ini juga ditemukan tersebar hampir di seluruh bagian tubuh.

• Bagian belakang dari kepala biasanya dibenturkan ke tanah. Jika


benturannya cukup berat, hentakan yang mengenai bagian tulang akan
menyebabkan laserasi, hidung mungkin dapat patah; gigi-geligi tanggal; rahang
mungkin akan mengalami fraktur.

• Goresan berbentuk garis pada perut dan lengan bawah memberikan kesan
bahwa korban terseret pada permukaan yang kasar. Partikel-partikel dari kotoran
mungkin membantu dalam mengidentifikasi tempat penyerangan.
• Luka-luka lainnya yang masih berhubungan dengan penyerangan
termasuk memar pada daerah ruas jari, daerah perbatasan ulnar pada sikut atau
pada daerah betis.

• Kuku jari korban terkadang patah jika ia mencakar penyerangnya. Bahan-


bahan di bawah kuku seperti jaringan epitel dan darah dapat dikumpulkan dan
sangat membantu dalam mengidentifikasi sang pelaku.

Cedera pada Bagian Genital Ekxterna dan Anal

Pelebaran anus (notch atau cleft) selaput dara di daerah posterior, mencapai dekat dasar
(sering merupakan artefak pada posisi pemeriksaan tertentu, tetapi bila konsisten pada
beberapa posisi, maka mungkin akibat kekerasan tumpul atau penetrasi sebelumnya)
• Lecet akut, laserasi atau memar labia, jaringan sekitar selaput dara atau perineum
• Jejak gigitan atau hisapan di genitalia atau paha bagian dalam
• Jaringan parut atau laserasi baru daerah posterior fourchette tanpa mengenai
selaput dara
• Jaringan parut perianal (jarang, mungkin akibat keadaan medis lain seperti
chron’s disease atau akibat tindakan medis sebelumnya)
• Eritema (kemerahan/memar) vestibulum atau jaringan sekitar anus (dapat akibat
zat iritan, infeksi atau iritan)
• Adesi labia (mungkin akibat iritasi atau rabaan)
• Friabilitas (retak) daerah posterior fourchette (akibat iritasi, infeksi atau traksi
labia mayor pada pemeriksaan)
• Penebalan selaput dara (mungkin akibat estrogen, terlipatnya tepi selaput,
bengkak karena infeksi atau trauma)
• Kulit genital semu
• Fisura ani (biasanya iritasi perianal)
• Pendataran lipat anus (akibat relaksasi sfingter aksterna)
• Pelebaran anus dengan adanya tinja (refleks normal)
• Perdarahan pervaginam (mungkin berasal dari sumber lain, seperti uretra, atau
mungkin akibat infeksi vagina, benda asing atau trauma yang aksidental

Cedera akibat gigitan

Gigitan agresif ini dapat menyebabkan kerusakan dari jaringan. Goresan-goresan


yang tertinggal sebagai goresan dari gigi disepanjang kulit yang tergigit memiliki
bentuk yang beragam dengan bentuk dari ujung insisi, dan sekali lagi hal ini dapat
berharga dalam proses identifikasi. Tekanan dari gigi itu sendiri, biasanya jika
dilakukan secara perlahan oleh gigi seri, akan meninggalkan sebuah area berbentuk
bulan sabit yang berwarna pucat, masing-masing dikelilingi oleh sebuah gambaran
leher yang livid, keseluruhan dari lesi mencerminkan sebuah lengkungan dari gigi-
geligi. Dimensi dan bentuknya akan menolong untuk mengindikasi apakah si
penggigit itu adalah seorang manusia atau bukan, dan dapat memperkirakan usia
dari sang penggigit. Cairan saliva yang ada dan imunologi mungkin dapat
membantu untuk penyelidikan dari sang pelaku. Dokter harus mengingat bahwa
swabdilakukan sebelum sang korban mencuci badannya..

Cedera Seksual Orogenital

a. Sindroma Fellatio Cedera oral akibat fellatio diduga disebabkan oleh


kombinasi dari tekanan negatif intraoral dan dampak langsung dari penis pada
daerah palatum. Lesi patologis yang terjadi biasanya berupa perdarahan
submukosa, dengan temuan klinis meliputi eritema, petekie, atau ekimosis pada
sambungan antara palatum durum dan mole. Lesi dapat unilateral atau bilateral,
dapat terpisah atau membentuk gabungan, dan biasanya tidak melibatkan uvula
atau dinding faring. Lesi yang timbul tersebut biasanya tidak nyeri dan rata
(datar).

b. Sindroma Cunnilingus Saat melakukan cunnilingus, lidah terjulur jauh ke


luar, dan bergerak-gerak, secara tidak disadari akan menggesek frenulum
lingual pada gigi insisivus mandibular. Temuan klinis menunjukkanlesi ulseratif
kecil dengan eksudat fibrin berwarna keputihan dengan tepi eritem pada bagian
tengah dari frenulum lingual. Pada aktivitas cunnilingus berulang dapat
menyebabkan fibroma traumatik kecil. Gejala meliputi nyeri pada lidah dan
tenggorokan.

2.7 VISUM ET REPERTUM


Visum et repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter, berisi temuan dan
pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil pemeriksaan medis terhadap manusia
atau bagian dari tubuh manusia, baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis (resmi)
dan penyidik yang berwenang (atau hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang
dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah, untuk kepentingan peradilan.
Visum et repertum adalah bukti yang sah berupa surat (pasal 184 jo pasal 187 butir c
KUHAP)

Ketentuan umum pembuatan visum et repertum adalah:


1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa.
2. Bernomor, bertanggal di bagian kiri atasnya dicantumkan kata “Pro Justitia”
3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak
menggunakan istilah asing
4. Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatnya serta dibubuhi stempel instansi
tersebut
Visum et repertum dibuat sesegera mungkin dan diberikan kepada (instansi) penyidik
pemintanya, dengan memperhatikan ketentuan tentang rahsia jabatan bagi dokter serta
ketentuan kearsipan.

VISUM ET REPERTUM KORBAN KEJAHATAN SUSILA


Pada umumnya, korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya kepada
dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukum oleh KUHP.
Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHP meliputi pemerkosaan, persetubuhan
pada wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur.

Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya


persetubuhan, adanya kekerasan (termasuk pemberian racun/obat/zat agar menjadi tidak
berdaya) serta usia korban. Selain itu dokter juga diharapkan memeriksa adanya penyakit
hubungan seksual, kehamilan dan kelainan psikiatrik/kejiwaan sebagai akibat dari tindak
pidana tersebut. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah
pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan.

Untuk dapat memeriksa korban wanita tersebut, selain adanya surat permintaan visum et
repertum, dokter sebaiknya juga mempersiapkan si korban atau orang tuanya bila ia
masih belum cukup umur, agar dapat dilakukan pemeriksaan serta saksi atau pendamping
perawat wanita dan pemeriksaan sebaiknya dilakukan dalam ruang tertutup yang tenang.

Dalam kesimpulan visum et repertum korban kejahatan susila diharapkan tercantum


perkiraan tentang usia korban, ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin,
menyebutkan kapan perkiraan terjadinya, dan ada tidaknya tanda kekerasan.

2.8 ASPEK PSIKOSOSIAL


Pelaku merupakan pelaksana utama dalam hal terjadinya perkosaan tetapi bukan berarti
terjadinya perkosaan tersebut semata-mata disebakan oleh perilaku menyimpang dari
pelaku, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang berada di luar diri si pelaku.
Namun secara umum dapat disebutkan bahwa faktor-faktor penyebab timbulnya
kejahatan dibagi dalam 2 bagian yaitu: faktor intern, dan faktor ekstern.

FAKTOR INTERN
Faktor intern adalah faktor-faktor yang terdapat pada diri individu. Faktor ini khusus
dilihat dari individu serta dicari hal-hal yang mempunyai hubungan dengan kejahatan
perkosaan. Hal ini dapat ditinjau dari:
(a) Faktor Kejiwaan, yakni kondisi kejiwaan atau keadaan diri yang tidak normal dari
seseorang dapat juga mendorong seseorang melakukan kejahatan. Misalnya, nafsu seks
yang abnormal, sehingga melakukan perkosaan terhadap korban wanita yang tidak
menyadari keadaan diri si penjahat, yakni sakit jiwa, psycho patologi dan aspek
psikologis dari instink-seksuil.

Dalam keadaan sakit jiwa, si penderita memiliki kelainan mental yang didapat baik
dari faktor keturunan maupun dari sikap kelebihan dalam pribadi orang tersebut, sehingga
pada akhirnya ia sulit menetralisir rangsangan seksual yang tumbuh dalam dirinya dan
rangsangan seksual sebagai energi psikis tersebut bila tidak diarahkan akan menimbulkan
hubungan-hubungan yang menyimpang dan dapat menimbulkan korban pada pihak lain.

Dalam keadaan seperti ini sering dijumpai dalam perbuatan manusia itu terdapat
kesilapan-kesilapan tanpa disadari. Jika terdapatnya perbuatan-perbuatan tidak sadar
yang muncul dapat menimbulkan perbuatan yang menyimpang maupun cenderung pada
perbuatan kejahatan.

Sedangkan aspek psikologis sebagai salah satu aspek dari hubungan seksual adalah
aspek yang mendasari puas atau tidak puasnya dalam melakukan hubungan seksual
dengan segala eksesnya. Jadi bukanlah berarti dalam mengadakan setiap hubungan
seksual dapat memberikan kepuasan, oleh karena itu pula kemungkinan ekses-ekses
tertentu yang merupakan aspek psikologis tersebut akan muncul akibat ketidakpuasan
dalam melakukan hubungan seks. Dan aspek inilah yang dapat merupakan penyimpangan
hubungan seksual terhadap pihak lain yang menjadi korbannya. Orang yang mengidap
kelainan jiwa, dalam hal melakukan perkosaan cenderung melakukan dengan sadis,
sadisme ini terkadang juga termasuk misalnya melakukan di hadapan orang lain atau
melakukan bersama-sama dengan orang lain. Kemudian disamping itu, zat-zat tertentu
seperti alkohol dan penggunaan narkotika dapat juga membuat seseorang yang normal
melakukan perbuatan yang tidak normal. Seseorang yang sudah mabuk akibat meminum
minuman keras akan berani melakukan tindakan yang brutal. Dalam kondisi jiwanya
yang tidak stabil ia akan mudah terangsang oleh hal-hal yang buruk termasuk kejahatan
seksual.

(b) Faktor Moral. Moral merupakan faktor penting untuk menentukan timbulnya
kejahatan. Moral sering disebut sebagai filter terhadap munculnya perilaku yang
menyimpang, sebab moral itu adalah ajaran tingkah laku tentang kebaikan-kebaikan dan
merupakan hal yang vital dalam menentukan tingkah laku. Dengan bermoralnya
seseorang maka dengan sendirinya dia akan terhindar dari segala perbuatan yang tercela.
Sedangkan orang yang tidak bermoral cenderung untuk melakukan kejahatan.

Pada kenyataannya, moral bukan sesuatu yang tidak bisa berubah, melainkan ada
pasang surutnya, baik dalam diri individu maupun masyarakat. Timbulnya kasus-kasus
perkosaan, disebabkan moral pelakunya yang sangat rendah. Dari kasus-kasus tersebut
banyak diantaranya terjadi, korbannya bukanlah orang asing lagi baginya bahkan saudara
dan anak kandung sendiri. Kasus-kasus tersebut memberi kesan kepada kita bahwa
pelakunya adalah orang-orang yang tidak bermoral sehingga dengan teganya melakukan
perbuatan yang terkutuk itu terhadap putri kandungnya sendiri. Di lain kasus melakukan
perbuatan yang tidak manusiawi itu secara bersama-sama dan di hadapan teman-
temannya tanpa adanya rasa malu.

Salah satu hal yang mempengaruhi merosotnya moral seseorang dipengaruhi oleh
kurangnya pendidikan agama. Agama merupakan unsur pokok dalam kehidupan manusia
yang merupakan kebutuhan spiritual yang sama. Norma-norma yang terdapat di
dalamnya mempunyai nilai yang tertinggi dalam hidup manusia. Sebab norma-norma
tersebut adalah norma-norma ketuhanan dan segala sesuatu yang digariskan oleh agama
adalah baik dan membimbing ke arah yang jalan yang baik dan benar, sehingga bila
manusia benar-benar mendalami dan mengerti isi agama, pastilah ia akan menjadi
manusia yang baik dan tidak akan berbuat hal-hal yang merugikan atau kejahatan
walaupun menghadapi banyak godaan.

FAKTOR EKSTERN
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berada di luar diri si pelaku. Faktor ekstern ini
berpangkal pokok pada individu. Dicari hal-hal yang mempunyai hubungan dengan
kejahatan kesusilaan. Hal ini dapat ditinjau dari:
(a) Faktor Sosial Budaya, meningkatnya kasus-kasus kejahatan kesusilaan atau perkosaan
terkait erat dengan aspek sosial budaya. Karena aspek sosial budaya yang berkembang di
tengah-tengah masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi naik turunnya moralitas
seseorang. Suatu kenyataan yang terjadi dewasa ini, sebagai akibat pesatnya kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dihindarkan timbulnya dampak negatif
terhadap kehidupan manusia. Akibat modernisasi tersebut, berkembanglah budaya yang
semakin terbuka pergaulan yang semakin bebas, cara berpakaian kaum hawa yang
semakin merangsang, dan kadang-kadang dan berbagai perhiasan yang mahal, kebiasaan
bepergian jauh sendirian, adalah faktorfaktor dominan yang mempengaruhi tingginya
frekuensi kasus perkosaan.

Aspek sosial budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dapat


mempengaruhi tinggi rendahnya moralitas masyarakat. Bagi orang yang mempunyai
moralitas tinggi atau iman yang kuat dapat mengatasi diri sehingga tidak diperbudak oleh
hasil peradaban tersebut, melainkan dapat menyaringnya dengan menyerap hal-hal yang
positif. Salah satu contoh faktor sosial budaya yang dapat mendukung timbulnya
perkosaan adalah remaja yang berpacaran sambil menonton film porno tanpa adanya rasa
malu. Kebiasaan yang demikian pada tahap selanjutnya akan mempengaruhi pikiran si
pelaku. Sehingga dapat mendorongnya untuk menirukan adegan yang dilihatnya, maka
timbul kejahatan kesusilaan dengan berbagai bentuknya dan salah satu diantaranya adalah
kejahatan perkosaan.
2.9 PERAN LSM
Dalam bidang perlindungan anak adanya eskalasi kriminalis terhadap anak belum banyak
menunjukkan perlindungan yang maksimal. Data dari Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) menunjukkan selama tahun 2007 terdapat 455 kasus kekerasan
terhadap anak. Di samping itu, data dari Kejaksaan Agung selama tahun 2006 terdapat
600 kasus kekerasan terhadap anak yang telah diputus oleh peradilan. Anak masih
dijadikan objek sasaran perlakuan yang tidak seharusnya atau menjurus ke bentuk
kriminalitas oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, dan oleh oknum pelaku
anak. Hal itu banyak dipengaruhi oleh lingkungan yang sarat dengan informasi dan
teknologi, pornografi, dan lain-lain memicu kegiatan yang bersifat kriminal, seperti
pencabulan, pelecehan seksual, perkosaan, perdagangan anak, penganiayaan sampai
dengan pembunuhan. Bentuk kekerasan lain seperti perdagangan anak (trafficking),
berdasarkan catatan Komnas Perlindungan Anak, jumlah yang terperangkap dalam
perdagangan anak pada tahun 2006 adalah 42.771 oreang meningkat menjadi 745.817
orang pada tahun 2007 dan pada akhir Juni 2008 jumlahnya mencapai 400.000 orang. Di
lingkungan pendidikan yang diharapkan sebagai wadah mendidik anak sebagai tunas
bangsa pun tidak terlepas dari adanya bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak. Sebagai
contoh, masih ada kekerasan di antara murid sekolah dalam bentuk bullying atau dengan
dalih orientasi masa pendidikan sekolah, sampai kekerasan yang dilakukan oleh guru
sekolah. Dalam bidang hukum, perlindungan terhadap anak juga menjadi fokus penting
karenaperlindungan terhadap anak yang terlibat dalam kasus hukum masih kurang
mendapatkan penanganan yang semestinya. Perlindungan terhadap hak anak perlu
dilakukan sejak tahap penyelidikan, penuntutan, persidangan bahkan sampai proses
penghukuman. Bentuk penghukuman terhadap narapidana anak juga harus
dipertimbangkan dengan baik. Pengaruh lingkungan penjara akan banyak mempengaruhi
jiwa anak. Oleh karena itu, hukuman dapat diganti, misalnya dalam bentuk kerja sosial
dan lain sebagainya. Di bidang kesehatan dan pendidikan, masih banyak anak Indonesia
yang belum mendapatkan hak tersebut. Mengingat jumlah anak Indonesia sebesar 30%
dari 243 juta jiwa penduduk Indonesia, anak merupakan potensi strategis dari sebuah
bangsa yang perlu diberikan perlindungan semestinya.
Dalam UU Perlindungan Anak, kebijakan penangulangan kekerasan
pada anak, dapat diidentifaksi pada bagian upaya perlindungan anak,
yaitu mencakup: (1) Diwajibkannya ijin penelitian kesehatan yang
menggunakan anak sebagai objek penelitian kepada orang tua dan
harus mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak (Pasal 47);
(2) Diwajibkannya bagi pihak sekolah (lembaga pendidikan) untuk
memberikan perlindungan terhadap anak di dalam dan di lingkungan
sekolah dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola
sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang
bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya (Pasal 54); (3)
Diwajibkannya bagi pemerinyah untuk menyelenggarakan
pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, baik dalam lembaga
maupun di luar lembaga (Pasal 55); (4) penyebarluasan dan/atau
sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau
seksual, dan pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan,
serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam
penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan/atau
seksual (Pasal 66); (5) penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan
peraturan perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak
kekerasan (Pasal 69).
BAB III
KESIMPULAN

Forensik Klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup
pemeriksaan forensik terhadap korban hidup dan investigasinya, kemudian aspek
medikolegal, juga psikopatologinya, dengan kata lain forensik klinik merupakan area
praktek medis yang mengintegrasikan antara peranan medis dan hukum terutama dalam
kasus-kasus berkaitan kejahatan susila. Namun, Untuk menyelesaikan permasalahan
kasus kejahatan seksual, tidak hanya membutuhkan intervensi medis semata-mata tapi,
menuntut diambilnya langkah penanganan yang holistik dan komprehensif termasuk
dukungan psikososial yang secara otomatis membutuhkan dukungan optimal dari
keluarga dan masyarakat. Tugas dokter tidak hanya menjalankan fungsi maksimal dalam
bidang kesehatan, namun dokter tersebut dituntut untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan
kedokteran seoptimal mungkin dan mematuhi tuntutan undang-undang terhadapnya
terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan proses hukum.
DAFTAR PUSTAKA
1. Pengantar Medikolegal. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/40442614/01-
Pengantar-medikolegal
2. Aspek Hukum Bagi Pedofilia di Indonesia. Diunduh dari
http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/2009/05/28/aspek-hukum-bagi-
pedofilia-di-indonesia/, 28 Mei 2009
3. http://eprints.undip.ac.id/17750/1/Ira_Dwiati_Tesis.pdf
4. Peranan Forensik Klinik Dalam Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan.
Diunduh dari http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/12/peranan-forensik-
klinik-dalam-kasus.html, 25 Disember 2009 (pemeriksaan medik)
5. Dampak Sosial Psikologis Perkosaan. Diunduh dari
http://fatur.staff.ugm.ac.id/file/JURNAL%20-%20Dampak%20Sosial-Psikologis
%20Perkosaan.pdf, Juni 2002 (dampak psikososial)
6. Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Bawah Umur. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18417/1/equ-feb2008-
13%20(2).pdf, 1 Ferbruari 2008 (faktor psikososial)
7. Kekerasan Pada Anak. Diunduh dari
http://eprints.ums.ac.id/337/1/6._SUDARYONO.pdf, 1 Maret 2007 (peran LSM)