Anda di halaman 1dari 6

MASALAH FUNGSI UANG DAN SISTEM PERBANKAN ISLAM Arul gitu Abstract: The problem of conventional bank is one

of the issues that have been discussed for a long time. The main problem is whether or not the interest of money is permissible. According to majority of Middle East ulama>, the interest is prohibited, because it is not the result of the productive effort, and money functions as a tool in transaction, not as a cause of interest. While, in the modern world, particularly in trading, the existence of bank is a must. As a solution, Muslims propose to establish Islamic bank. Many products offered by the bank, such as mud}a>rabah, qira>d} and musha>rakah. The main principle of Islamic bank is profit and lossharing. By applying this system, as pointed out by Muslim researcher, A. Mannan, Islamic countries will recover from economical problem which have been faced since a long time and will increase community prosperity. Kata Kunci: bank konvensional, bank Islam, sistem perbankan, bunga bank, shirkah, mud}a>rabah. Pendahuluan Islam sebagai agama yang rahmat lil a>lami>n tidak hanya memberikan perhatian kepada masalah ubu>di>yah, tetapi juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap masalah mua>malah. Banyaknya ayat al-Quran (lihat : Q.S. 3:174, 24:22, 62:10, 73:20) yang menjelaskan, bahkan memberikan nilai yang sangat tinggi dan positif secara hukum terhadap bidang tersebut, khususnya yang berkaitan dengan aktifitas ekonomi. Hal ini dikarenakan hasil aktifitas ekonomi dipandang, dalam ajaran Islam, mempunyai kaitan erat dengan rahmat Allah Swt. yang dilimpahkan kepada umat manusia. Secara shari@, seluruh aktifitas yang berkaitan ekonomi, menurut mayoritas ahli fiqh Muslim, di antaranya Ibn Taimi>yah, dibolehkan kecuali yang secara eksplisit dilarang oleh shari>at. 1 Sesuai dengan perkembangan zaman, kegiatan ekonomi dari masa ke masa juga mengalami banyak perubahan. Yang dulunya tidak ada, sekarang ada atau sebaliknya. Pada mulanya, barter merupakan sistem perdagangan yang diberlakukan sebelum diciptakan uang sebagai alat tukar. Perekonomian sistem barter adalah suatu kancah perekonomian yang dalam sistem transaksinya barang dipertukarkan dengan barang. Karena uang belum ditemukan, maka transaksi perdagangan dilakukan dengan saling mempertukarkan barang. Setiap barang pada dasarnya berfungsi sebagai "uang". Ketika pelaku ekonomi telah menemukan uang sebagai alat transaksi, maka uang telah disepakati sebagai alat tukar dalam dunia perekonomian. Menurut Dumairy, uang sebagai alat tukar itu harus memenuhi tiga syarat: pertama, bisa diterima secara umum; kedua, berfungsi sebagai alat pembayaran; dan ketiga, sah, dalam arti diakui oleh pemerintah. 2 Dalam perekonomian modern, peranan uang bertambah selaras dengan bertambah fungsinya. Uang kini tidak lagi sekedar berfungsi sebagai alat pertukaran, tetapi berfungsi juga sebagai satuan hitung atau pengukur nilai (unui of accounts), alat penimbun kekayaan (store of value), dan satuan atau standar pembayaran tundaan (standard of deferred payments), dan bahkan pada masa sekarang uang bisa berfungsi sebagai barang komoditi.3 Berkenaan dengan konteks keuangan, agar tuntutan obyektif manusia supaya hidup lebih efisiensi tercapai dan adanya keinginan untuk lebih praktis dalam menyimpan serta meminjam uang, maka muncullah lembaga keuangan yang didasari oleh prinsip efisiensi. Lembaga keuangan, yang dalam hal ini bank, menjalankan perantara keuangan. Ia mengambil "posisi tengah" di antara orang-orang yang punya uang lebih (menyimpan, menabung, deposan) dan orang-orang yang membutuhkan atau kekurangan dana (peminjam, debitur, investor), di antara kalangan pembeli dan penjual; di antara pihak pembayar dan pihak penerima. Instrumen keuangan yang muncul adalah giro, bilyet, tabungan, deposito, kredit, cek, saham penyertaan modal, bunga uang, dan lain-lain merupakan hasil dari penemuan tuntutan efisiensi. Namun, persoalan yang muncul dalam fiqh mua>malah adalah ketika masalah bunga uang dari bank dihadapkan pada arti riba yang dilarang dalam al-Qura>n. Di satu sisi, bunga bank terperangkap dalam kriteria riba, tetapi di sisi lain, bank mempunyai fungsi sosial yang sangat besar, bahkan dapat dikatakan tanpa bank satu negara akan hancur. Mengingat masalah tersebut di atas masih menjadi polemik yang berkepanjangan di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia, penulis mencoba untuk membahas fungsi uang dan fungsi bank serta fungsi bunga uang dari bank tersebut dalam perspektif ajaran Islam. Tulisan ini, setidaknya, memberikan gambaran yang komprehensif tentang masalah fungsi uang dan perbankan berkaitan dengan ajaran (hukum) Islam.

Fungsi Uang Para ahli ekonomi modern setuju bahwa penciptaan mata uang merupakan peristiwa sangat signifikan dalam sejarah ekonomi umat manusia. Hal ini berpijak pada landasan kepentingan pengembangan ekonomi, di antaranya memfasilitasi pendirian industri, pemasaran barang, jasa dan sebagainya. 4 Uang memiliki berbagai fungsi yang berbeda, seperti sebagai alat tukar nilai, media pertukaran, nilai simpanan dan standar pembayaran yang tertunda. Dalam pandangan para ahli ekonomi, fungsi uang sebagai alat pertukaran merupakan yang paling penting. Geoffrey Crowther berpendapat, "Uang harus difungsikan sebagai alat pengukur nilai, medium pertukaran dan simpanan alat pengukur nilai, medium pertukaran dan simpanan kekayaan." Salah satu dari tiga fungsi tersebut, fungsi yang kedua paling penting. 5 Day dalam bukunya The Economics of Money selain menekankan fungsi yang sama dengan Crowther, ia menambahkan bahwa salah satu fungsi uang adalah unuk menetapkan sejumlah besar transaksi antara individu-individu dan organisasi yang berbeda dalam perekonomian modern. 6 A. Mannan, salah seorang pakar ekonom Muslim, mengatakan bahwa Islam mengakui fungsi uang sebagai alat tukar, bukan suatu komoditi, demikian juga pendapat Ibn Taimi>yah. Diterimanya fungsi ini dengan maksud melenyapkan adanya ketidakadilan, ketidakjujuran, dan pengisapan dalam ekonomi tukar menukar (barter) karena ketidakjujuran ini digolongkan sebagai riba al-fazal yang dilarang agama. Karena itu, dalam Islam, ditandaskan Mannan, uang itu sendiri tidak menghasilkan sesuatu apapun. Dengan demikian, bunga (riba) pada uang yang dipinjamkan dan meminjam dilarang. 7 Oleh karena uang yang diakui sebagai alat tukar yang mempunyai nilai tukar, maka uang berfungsi juga sebagai pengukur nilai atau satuan hitung. Kalau fungsi uang tersebut demikian, maka teori nilai uang (value teory of money) dalam kaitannya dengan preferensi waktu (time preference) menyatakan bahwa uang sejumlah nilai yang sama berdaya beli lebih rendah di masa datang dibandingkan daya beli pada saat sekarang. Premis inilah yang menjadi dasar legitimasi praktek pembungaan uang. Premis ini telah mengajarkan manusia modern untuk menunjuk sejumlah nominal yang lebih besar di masa datang daripada menuntut jumlahnya pada saat sekarang, agar uang tersebut memiliki daya beli setara. 8 Dengan memperhatikan premis di atas dan dengan melihat pendapat Ibn Taimi>yah bahwa uang itu berfungsi sebagai alat tukar dan bahkan Mannan berpendapat bahwa fungsi uang itu hanya sebagai alat untuk melaksanakan fungsinya sebagai fungsi sosial, yaitu mempermudah pengukuran nilai barang yang ditukarkan dan fungsi religius, yaitu untuk mempermudah pengambilan zakat dan pembayarannya pada orang miskin, 9 penulis berpendapat bahwa uang tersebut berfungsi sebagai alat tukar dan sekaligus sebagai pengukur nilai. Dengan demikian, supaya fungsi yang dikehendaki oleh dua tokoh Islam tersebut beralasan, maka nilai tukar uang tersebut kapan saja dimanfaatkan, nilainya harus setara. Namun demikian, dalam hal ini penulis lebih condong adanya kemungkinan perubahan nominal di masa datang untuk menjaga nilai setara. Penulis juga berpendapat bahwa uang tidak dibolehkan sebagai komoditi, dan uang hanya sebagai alat tukar yang mempunyai nilai setara nominalnya. Hal ini untuk menjauhi kegiatan spekulasi dengan uang tersebut. Masalah Bunga Sebagaimana disebutkan di atas bahwa manusia, dalam menjalankan perekonomian, senantiasa berupaya untuk selalu lebih efisien. Tuntutan obyektif efisiensi tadi menimbulkan keinginan untuk serba dan lebih praktis dalam menyimpan serta meminjam uang, keinginan untuk lebih memperoleh kepastian dalam mendapatkan pinjaman dan mendapatkan imbalan atas jasa menyimpan atau meminjamkan uang, serta keinginan untuk cenderung mengurangi resiko serta usaha agar ongkos informasi dan ongkos transaksi dapat ditekan. Lembaga keuangan, khususnya bank, menjalankan fungsinya sebagai perantara keuangan. Ia mengambil "posisi tengah" di antara orang yang kelebihan uang (penyimpan, menabung, deposan) dan orang yang membutuhkan dana (pinjam, debitur, investor), di antara kalangan pembeli dan penjual, di antara pihak pembayar dan pihak penerima. Sebagai sarana perantara tersebut, bank menciptakan instrumen keuangan, antara lain giro, bilyet, tabungan, deposito, kredit, cek, kartu kredit, saham penyertaan modal, bunga-bunga uang untuk menuntut nilai setara di waktu mendatang dan lain-lain. Kesemuanya itu muncul dalam rangka memenuhi tuntutan efisiensi manusia. 10 Oleh karena itu, keberadaan lembaga keuangan, dalam hal ini bank, menjadi satu kebutuhan yang mendasar dalam menjalankan perekonomian.

Namun, banyak persoalan yang muncul dalam perekonomian bangsa Indonesia sekarang ini. Adanya krisis moneter disinyalir sebagai akibat penerapan bunga bank yang menyebabkan banyaknya orang yang bangkrut akibat menanggung bunga bank yang sangat tinggi. Demikian pula mengenai keberadaan bank yang menerapkan bunga baik bagi debitur dan kreditur belum bisa diterima oleh sebagaian umat Islam. Mereka masih memandang bahwa bunga bank tersebut, apabila dihadapkan pada hukum Islam (fiqh mua>malah), termasuk riba yang dilarang oleh al-Qura>n. Hasil survey yang dilakukan oleh Mannan di berbagai negara baik negara Islam dan negara Barat menyimpulkan bahwa bunga yang dipraktekkan oleh bank ternyata membawa kepada keadaan perekonomian yang memprihatinkan. Mannan menghimbau supaya seluruh negara yang rakyatnya mayoritas beragama Islam supaya sepakat mendirikan bank tanpa bunga, sebagaimana yang dikehendaki oleh al-Qur'a>n. Ia mencontohkan negara Pakistan yang telah melaksanakan konsep Islam tentang lembaga perbankan dan telah berhasil dengan baik, bahkan mampu membawa rakyatnya kepada kehidupan ekonomi yang sangat baik. Sistem perbankan yang diterapkan di Pakistan, tandasnya, seharusnya dicontoh oleh negara yang rakyatnya mayoritas Muslim. 11 Bunga Uang Klarifikasi mengenai hakikat riba sangat menentukan pandangan dan sikap umat Islam terhadap bunga bank yang selama ini dijalankan oleh lembaga keuangan atau perbankan konvensional. Apakah bunga bank pada akhirnya akan dapat diterima atau tidak diterima, begitu pula konsekwensinya apakah lembaga perbankan konvensional sekarang ini dapat diterima atau tidak, sangat tergantung pada klarifikasi mengenai hakikat riba. Apabila kita berpendapat bahwa bunga tidak sama dengan riba, sehingga dinilai tidak haram, padahal (karena kemiskinan acuan kita terhadap riba) sesungguhnya hal ini sama saja, maka kita menanggung dosa umat karena telah menjerumuskan ke lembah keharaman. Sebaliknya, jika kita menyimpulkan bahwa bunga uang identik dengan riba sehingga dinilai haram, padahal (sekali lagi, karena kemiskinan acuan kita) sesungguhnya berbeda, maka berdosa pula karena membuat umat tertinggal dalam derap laju kehidupan. Oleh karena itu, klarifikasi mengenai hakikat riba ini sangat signifikan. Pro dan kontra sekitar hukum bunga bank bukan saja terjadi di kalangan orang Muslim, bahkan hal ini sudah muncul pada masa filosof, seperti Plato, Charles Gide dan lain-lain. Mereka telah mengharamkannya.12 Di Indonesia, masalah bunga bank ada beberapa pendapat. NU membolehkannya karena dalam keadaan darurat. Muhammadiyah mengatakan bahwa bunga bank hukumnya shubhat. Sekelompok ahli yang lain membolehkan bagi bunga produktif, dan yang konsumtif dilarang. Namun, ada juga ulama> yang membolehkannya, baik bunga produktif maupun konsumtif.13 Mannan, dalam bukunya Teori dan Praktek Ekonomi Islam, berpendapat bahwa bunga bank adalah termasuk riba yang dilarang oleh al-Qura>n, walaupun bunga tersebut untuk peminjaman produktif. Hal dikarenakan ketika diharamkannya riba oleh al-Qura>n, pada waktu itu sudah berjalan juga pinjam meminjam untuk tujuan produktif yang dilakukan oleh orang Yahudi. 14 Terlepas dari pendapat para pakar yang pro dan kontra terhadap hukum bank tersebut, kenyataan menunjukkan bahwa umat Islam pada umumnya merasa ragu dan bersikap mendua. Di satu pihak, sesuai dengan ketentuan perkembangan kebutuhan ekonomi, mereka harus berhubungan dengan bank, tetapi di pihak lain di dalam sanubari mereka masih sangat khawatir akan ribanya bunga bank yang dilarang oleh agama. Namun, apabila disepakati bahwa bunga sama dengan riba (hipotesis ini masih perlu dibuktikan), maka upaya penyingkiran praktek pembungaan uang rasanya tidak cukup hanya dengan menjalankan model bank tanpa bunga. Dumairy berpendapat bahwa lembaga perbankan konvensional dengan segala prakteknya selama ini bukanlah penyebab utama timbulnya bunga uang. Bunga uang adalah ibarat "asap" bukan "api"nya, dan lembaga perbankan agaknya bukanlah "api" tersebut. Dengan demikian, kita sebaiknya berintrospeksi dengan lebih jernih lagi. Jangan-jangan reaksi umat Islam mendirikan bank Shari>ah dalam upaya menghindarkan praktek pembungaan uang, hanya sekedar tindakan menghalau asap. Api penimbul asap itu sendiri tidak dipadamkan, bahkan cenderung lebih marak menproduksi asapasap baru dengan berbagai macamnya, karena asap pertamanya "dicekal," kalau ini betul, maka causa prima timbulnya bunga uang itulah justru yang seharusnya perlu disingkirkan. 15 Penulis sendiri cenderung berpendapat bahwa bunga uang itu tidak riba, sebab bunga uang hanya menutup nilai tukar setara di waktu mendatang, dan yang diharamkan adalah bunga uang yang

menimbulkan eksploitasi dan menimbulkan aniaya pada orang lain. Hal ini didasarkan pada proses awal diharamkannya riba dan adanya premis yang telah penulis kemukakan di muka. Praktek bank Islam di Indonesia yang didasarkan atas bagi hasil inipun perlu diteliti. Apakah hasil uang yang dibagi itu bukan berupa tuntutan nilai tukar setara di masa mendatang atau yang lain. Namun, penulis yakin bahwa praktek bagi hasil dari pembungaan uang di BMI atau lembaga perbankan Islam yang lain adalah Islami, sebab paling tidak, pembungaan uang tersebut tidak sampai menimbulkan eksploitasi dan aniaya pada orang lain. Konsep Perbankan Islami Dasar Pemikiran Bunga bank, menurut Mannan adalah riba, karena dalam Islam uang itu sendiri tidak menghasilkan bunga atau laba dan tidak dipandang sebagai komoditi. Dengan demikian, uang hanya sebagai alat transaksi, tidak lebih dari itu. Untuk itu, konsep perbankan Islami harus mengacu pada konsep Islam tentang uang tersebut. Konsep dasar bank Islam adalah bahwa kedudukan bank Islam dalam hubungannya dengan para kliennya adalah sebagai mitra investor dan pedagang. Sedangkan dalam hal bank konvensional, hubungannya adalah sebagai kreditor atau debitor.16 Dengan demikian, bank Islam ini dapat dikatakan sebagai bank dengan ciri tanpa bunga, atau lazim disebut bank "bagi hasil". Lembaga yang menjadi pelopornya adalah Islamic Development Bank (IDB). Gagasan didirikannya IDB dibahas pertama kali di Karachi ketika ada konferensi Menteri Luar Negeri OKI pada bulan Desember 1970.17 IDB baru resmi didirikan pada tanggal 20 Oktober 1975 dengan 22 negara Islam menyatakan diri sebagai anggota (termasuk Indonesia). Munculnya pemikiran untuk mendirikan lembaga ini didasarkan atas pemahaman bahwa bunga bank yang ditimbulkan dari transaksi simpan pinjam di bank konvensional adalah riba, sebagaimana yang dilarang dalam Islam. Beberapa keberatan adanya pranata bunga uang dikemukakan oleh para pendukung bank Islam. Dari segi fungsi uang sebagai alat tukar, sehingga adanya sistem bunga dapat menyebabkan likuiditas uang. Jika bunga dibasmi maka premi likuiditas akan hilang dan motif untung-untungan untuk menyimpan uang akan lenyap. Di pihak lain, elastisitas substitusi uang adalah nol, sehingga suatu peningkatan dalam permintaan pasti meningkatkan nilai bunga, demikian pandangan Mahmud Ahmad. Kalau tidak dikatakan bahwa inflasi adalah konsekwensi bunga uang, tetapi bunga uang dinilai mempunyai andil dalam lajunya inflansi. 19 Padahal ciri stabilitas ekonomi adalah terkendalinya inflasi. Dengan demikian, transaksi peminjaman "bebas bunga" ikut mengendalikan laju inflasi berdasarkan teori ini. Bank dengan sistem bunga menetapkan bunga berdasarkan suku bunga yang sedang berjalan. Agar peminjaman memperoleh keuntungan dari usahanya, ia dalam memperhitungkan ongkos produksi harus memasukkan bunga pinjaman di dalamnya, di samping ongkos lainnya. Ia akan mengalami kesulitan manakala harga harus ditekan, misalnya bila harga tidak ditekan, maka barang produksi tidak berlaku atau kalah bersaing bersamaan dengan tingginya bunga yang harus dibayar. Sebaliknya, dengan bank tanpa bunga wiraswasta dalam memperhitungkan labanya tidak "dikejar-kejar" oleh suku bunga. Dengan perkataan lain, melalui bantuan bank dengan sistem bunga, keuntungan wiraswasta ditentukan oleh besar kecilnya bunga, sedangkan melalui bank tanpa bunga, keuntunganlah yang menentukan jumlah "keuntungan" yang diterima oleh bank dari wiraswastawan, yang dalam bank konvensional disebut bunga. Pendukung bank tanpa bunga mempunyai prinsip bahwa manusia tidak dapat memastikan terlebih dahulu keberhasilan bagi suatu yang sedang diusahakan. Hanya Allah yang mengetahui. 20 Aktivitas Bank Islam Menurut Solihin Hasan,21 seorang pejabat pada bank Islam di Jeddah, kegiatan usaha perbankan Islam meliputi semua kegiatan perbankan konvensional, kecuali pinjaman dengan bunga. Ia menerima simpanan dan memberi pinjaman, tetapi tidak menerima dan membayar bunga. Sebagai sumber dana, bank Islam dapat melaksanakan dua jenis usaha. Pertama, memberi modal sepenuhnya atau sebagian kepada kaum usahawan pencari modal dengan perjanjian berbagi modal keuntungan. Kedua, menawarkan jasa tertentu dengan memungut biaya administrasi dan komisi. Jenis usaha yang pertama dapat diklasifikasi menjadi: pertama, pemberi modal penuh, dan kedua, penyertaan modal, apabila usahawan sudah mempunyai sebagian modal. Dalam hal bank berperan sebagai pemodal sepenuhnya, konsep mud}a>rabah diterapkan. Dalam praktek mud}a>rabah, pemilik harta menyerahkan harta kepada pekerja untuk diperdagangkan, labanya dibagi antara mereka sesuai

dengan perjanjian. Transaksi ini sudah dikenal sebelum Islam. Contoh yang biasa diambil untuk kasus ini adalah "kerjasama" antara Nabi Muhammad dengan Khadijah dalam usaha dagang, di mana Nabi sebagai pekerja, sedangkan Khadijah sebagai pemodal, beberapa waktu sebelum perkawinan mereka.22 Istilah mud}a>rabah dikenal di kalangan Madhhab H{anafi>yah, Hanbali>yah dan Zaidi>yah. Sedangkan di kalangan Sha>fii>yah dan Ma>liki>yah, transaksi ini dikenal dengan qirad. 23 Kerugian yang timbul dari usaha mud}a>rabah ditanggung oleh pemilik modal. Dengan demikian, karena bank sebagai pihak pemberi modal sepenuhnya, maka berdasarkan prinsip ini, ia akan menanggung kerugian apabila terjadi, sedang pihak pengelola dana (mud}a>rib) hanya rugi karena tidak mendapat upah. Dalam hal terjadi kerugian, menurut prakteknya, bank akan menutupi kerugian tersebut dari nasabah lain yang mendapatkan untung. 24 Disamping sebagai pemodal penuh, bank Islam juga dapat menjadi pemberi pinjaman sebagian dari modal yang diperlukan perusahaan wiraswastawan, karena sebagian modal sudah tersedia, atau bahkan perusahaan sudah berjalan tetapi masih kekurangan modal. Di sini, bank bertindak sebagai pemegang saham. Untuk ini berlaku prinsip shirkah. Ada beberapa definisi shirkah yang dikemukakan para ulama> dalam fiqh Mua>malah25 Dari berbagai definisi tersebut dapat diambil pengertian bahwa shirkah adalah perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih pemilik modal untuk membiayai suatu usaha. Keuntungan dari usaha tersebut dibagi sesuai dengan perjanjian pihak-pihak yang berkongsi. Dengan demikian, mud}a>rabah dan musha>rakah adalah hampir sama dan bedanya kalau mud}a>rabah dipakai untuk pemodalan sepenuhnya sedang musha>rakah adalah untuk penyertaan modal. Prinsip shirkah ini adalah profit and loss sharing (untung dinikmati bersama dan rugi ditanggung bersama). Adapun yang dijadikan perjanjian adalah prosentase laba, bukan modal sebagaimana di bank konvensional. Di samping bank Islam menyediakan jasa untuk kepentingan produksi dalam, bentuk bentuk mud}a>rabah dan musha>rakah, ia juga menyediakan jasa untuk kepentingan non produksi, seperti jasa pemilikan barang. 26 Seseorang yang ingin memiliki sebuah rumah, misalnya, tetapi belum punya dana, bank Islam menyediakan dana tersebut dengan cara melunasi pembelian rumah tersebut. Nasabah mempunyai kewajiban untuk membayarnya dengan cara mengangsur pada bank. Bank, dalam hal ini, tidak mengambil bunga dari angsuran tersebut, akan tetapi ketika proses perjanjian tersebut bank memark up harga rumah tersebut. Harga yang sudah di-mark up ini yang akan dilunasi oleh nasabah dengan cara mengangsur. Model atau sistem semacam ini disebut al-ba>i bi thaman a>jil. Kalau dilunasi dengan cara tenggang waktu tertentu, cara seperti ini disebut al-Mura>bah}ah. 27 Konsep jenis-jenis produk bank Islam yang disiapkan oleh LPPBS adalah sebagai berikut :

Nama Prinsip Jenis-jenis Produk Bank Shari>ah : 1. Simpanan al-Wad}i>ah, 2. Bagi Hasil al-Mud}a>rabah, al-Musha>rakah al-Muzaraah, al-Musaqa>t 3. Pengambilan Keuntungan Ba>i al-Mura>bah}ah, Ba>i Bithaman a>jil, Ba>i al-Takiri, Ba>i al-Sala>m Ba>i alIstithna> 4. Sewa Ija>rah, Ba>i al-Takiri, Musha>rakah Mutana>qis}ah 5. Pengambilan fee al-Kafa>lah, al-Khiwalah, al-Ji>a>lah al-Waka>lah 6. Biaya Administrasi al-Qird} al-H{asan (Lihat LPPBS). 28 Segi keunggulan bank Islam terletak pada penghimpunan dana. Di mana bank Islam disamping menerima dana dari masyarakat lewat Giro, Tabungan, dan Deposito berjangka panjang, juga menerima dana dari masyarakat lewat dana ZIS. Kesimpulan Dilihat dari segi peranan dalam kegiatan ekonomi, bank Islam dan bank konvensional mempunyai kesamaan, yakni sebagai lembaga penghimpun dan penyalur dana. Dengan perannya sebagai penerima simpanan, ada kesan bank menjadi tempat penumpukan uang. Tetapi sebenarnya tidak demikian, sebab uang yang masuk di bank tidak akan ditahan begitu saja, tetapi dana tersebut diusahakan dapat

disalurkan ke berbagai usaha perekonomian. Bahkan, bank akan gelisah bila terjadi kelesuhan dalam penyaluran dana. Bunga yang ditimbulkan akibat penyaluran dana merupakan sumber keuntungan bank. Ia disebut keuntungan kotor, karena keuntungan tersebut akan dipakai untuk keperluan administrasi, biaya karyawan dan lain-lain. Di samping itu, adanya teori Time Value of Money menuntut adanya nilai nominal uang setara di masa akan datang. Inilah yang mengharuskan adanya uang tersebut berbunga atau berkembang secara nominal. Kedua lembaga keuangan, baik bank konvensional maupun bank Islam, membutuhkan biaya operasional dan juga selalu memperhatikan nilai nominal uang yang setara di waktu mendatang. Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar kalau dalam bank Islam ada istilah mark up, ketika melakukan perjanjian jual beli dengan sistem mura>bah}ah. Dalam hal pemberian keuntungan, istilah yang dipakai bank konvensional adalah pemberian bunga dari uang yang telah dioperasionalkan lewat berbagai cara. Sedang, dalam bank Islam pemberian keuntungan memakai istilah bagi hasil dari keuntungan uang yang juga telah dioperasionalkan. Bank Islam dalam memberikan jasa pada nasabah memakai istilah bagi hasil. Hal ini untuk menghindari hukum dilarangnya riba. Sementara jasa dari bunga uang dalam dunia perbankan masih diperdebatkan. Para pemikir Islam dari Timur Tengah kebanyakan berpendapat bahwa bunga bank adalah riba. Hal ini bisa dimaklumi sebab di negara Timur Tengah nilai uang hampir tidak mengalami inflasi. Berbeda dengan di Indonesia, nilai nominal uang hampir setiap tahun mengalami inflasi sepuluh persen. Kondisi yang demikian ini kalau tidak memperhatikan tuntutan nilai uang setara di waktu mendatang, berarti akan merugikan bagi orang. Hal inilah yang melatarbelakangi pemikir Islam Indonesia yang membolehkan bunga bank, dengan syarat asal tidak sampai mengekploitasi pada orang lain atau tidak sampai mendatangkan aniaya. Jelasnya pemberian uang jasa atau bunga dalam bank konvensional dan ketidakjelasan pemberian uang jasa atau laba pada bank Islam menyebabkan umat Islam tidak terdorong untuk menjadi nasabah di bank Islam. Namun demikian, bank Islam mempunyai keunggulan yang tidak dipunyai oleh bank konvensional, yaitu adanya sumber dana dari ZIS dan dana wad}i>ah dari umat Islam yang tidak membutuhkan keuntungan dari bank. Dana-dana dari sumber tersebut merupakan potensi bagi bank Islam untuk mengangkat harkat ekonomi lemah orang Islam di Indonesia.2