Anda di halaman 1dari 7

Kasus Gereja Liar di Perum Taman Yasmin, Bogor

MEMBENDUNG GEREJA LIAR KRISTENISASI

MENJAMURNYA DAN MELAWAN

Setelah hampir sembilan tahun berjuang membendung pendirian gereja liar di Perum Taman Yasmin, Kelurahan Curug, Bogor, Jawa Barat. Namun perjuangan panjang warga Perum Taman Yasmin belum berakhir. Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin kembali membuat ulah. Meski sudah diimbau agar menggelar peribadatan di Gedung Harmoni Bogor, jemaat GKI Yasmin tetap menggelar peribadatan di trotoar Jalan KH. Abdullah bin Nuh, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Ahad (10/7/2011). Warga menilai aktivitas keagamaan yang dilakukan jemaat GKI Bogor di trotoar selama dua tahun terakhir ini telah mengganggu ketertiban umum. "Ini kan fasilitas umum, bukan tempat ibadah," kata salah seorang warga, yang tidak mau disebutkan namanya pada Ahad (10/7/2011). Hal senada juga disampaikan koordinator wanita Forum Komunitas Muslim Indonesia (Forkami) Ayu Agustina kepada Suara Islam. Warga merasa kesal karena aktivitas ibadah mereka mengganggu aktivitas warga lainnya, Hampir sebagian warga Curug Mekar mengais rezeki di sekitar lingkungan Perum Yasmin. Namun dengan adanya aktivitas ibadah di trotoar, penghasilan warga yang berdagang dan mengojek turun drastis, ujarnya. Sebelumnya melalui surat Nomor 452.2/1613-PEM, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah mengimbau Jemaat GKI Yasmin untuk segera melaksanakan ibadah di gedung Harmoni. Surat dikeluarkan menindaklanjuti hasil pertemuan yang dilaksanakan antara Pemkot dengan GKI dalam rangka membahas kegiatan mediasi dan relokasi Gereja. Dalam surat tersebut, relokasi ibadah ke gedung Harmoni harus segera dilaksanakan untuk menjaga situasi kondusif di wilayah Kota Bogor. Selama ini, kegiatan jemaat yang melakukan ibadah di trotoar dianggap sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Penipuan IMB GKI Yasmin

Kasus ini bermula pada 2006 lalu, GKI Bogor telah melakukan pelanggaran terhadap Instruksi Gubenur Jawabarat No. 28 tahun 1990 tentang syaratsyarat penerbitan IMB tempat ibadah yang benar. GKI Bogor juga diduga telah manipulasi atau melakukan penipuan syarat-syarat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah terhadap warga. Pertama, mengatasnamakan pembagian dana pembangunan wilayah dan membagikan transport. Dalam pembagian dana itu warga disuruh mendatangani tanda terima bantuan keuangan tersebut. Namun tanda tangan warga sebagai bukti telah menerima uang itu dimanipulasi oleh pihak GKI Bogor dengan cara memotong daftar warga yang telah hadir dan menerima uang tersebut lalu ditempelkan pada kertas yang kop suratnya berisi pernyataan warga tidak keberatan atas pembangunan gereja. Kedua, tidak memiliki pendapat tertulis dari Kepala Kantor Departemen Agama setempat. Ketiga, tidak memiliki dan tidak memenuhi minimal pengguna sejumlah 40 Kepala Keluarga yang berdomisili diwilayah setempat. Keempat, tidak mendapatkan izin dari warga setempat. Kelima, tidak mendapatkan rekomendasi tertulis dari MUI, DGI, Parisada Hindu Dharma, MAWI, WALUBI, Ulama/Kerohanian. Kecurangan pembangunan gereja ternyata juga diamini oleh Tim Advokasi GKI Yasmin, Thomas Wadudara yang pernyataannya Suara Islam kutip dari pledoi Hari Djunaedi warga sekitar yang menjadi korban pihak GKI Yasmin. mana ada Gereja yang didirikan tidak dengan memanipulasi data ujar Thomas Wadudara. Selain itu pihak GKI Yasmin juga tidak dapat memenuhi ketentuan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006, tentang pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian Rumah Ibadah yang memerlukan dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh Lurah atau Kepala Desa. Atas dasar penyimpangan yang dilakukan oleh pihak GKI Yasmin dan desakan warga sekitar itulah, akhirnya Pemkot melalui Dinas Tata Kota dan Pertamanan (DTKP) mengeluarkan surat pembekuan IMB pembangunan gereja. Namun keputusan DTKP digugat oleh GKI Bogor melalui Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) dan Pemkot dinyatakan kalah secara administrasi karena yang membekukan bukan pihak berwenang (DTKP-red).

Untuk menindaklanjuti putusan PTUN dan putusan Mahkamah Agung (MA) akhirnya Pemkot mencabut surat pembekuan IMB yang telah dikeluarkan oleh Pemkot melalui DTKP pada 8 Maret 2011. Belajar dari kesalahan, beberapa hari kemudian Pemkot segera memperbaiki kesalahan administrasi tersebut dengan kembali melakukan pembekuan IMB GKI Yasmin. Melalui Surat Keputusan (SK) Walikota Bogor No. 645.45-137 tahun 2011 yang dikeluarkan pada 11 Maret 2011 Walikota Bogor mencabut IMB GKI Yasmin yang terletak di Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Taman Yasmin, Bogor. Terakhir pihak GKI Yasmin mengajukan permohonan ke Ombudsman Republik Indonesia agar mencabut pembekuan IMB sesuai dengan putusan PTUN dan MA. Akhirnya, Ombudsman memberikan rekomendasi kepada Walikota Bogor, agar membatalkan surat pencabutan IMB GKI. Rekomendasi kedua untuk Gubernur Jabar dan Walikota Bogor untuk berkoordinasi untuk penyelesaian masalah GKI. Ketiga, untuk Mendagri agar melaksanakan pengawasan. Sayangnya rekomendasi tersebut tidak mengubah apapun, putusan PTUN dan MA sudah dilaksanakan jauh hari sebelum rekomendasi Ombudsman dikeluarkan. Kini yang berlaku adalah Surat Keputusan (SK) Walikota Bogor No. 645.45-137 tahun 2011 yang dikeluarkan pada 11 Maret 2011 tentang pencabutan IMB GKI Yasmin. Melawan Kristenisasi Indonesia Kisruh gereja liar GKI Yasmin menambah deretan kasus betapa negeri yang mayoritas Islam ini dikepung oleh menjamurnya pembangunan gereja liar. Sebut saja kasus Gereja Huria Kristen Batak Protesten (HKBP) Ciketing, Bekasi yang menghebohkan. Dan kasus Gereja HKBP Cinere, Depok. Konflik horizontal yang terjadi akibat gereja liar ini dimanfaatkan untuk mengais belas kasih donor dari pihak asing. Mengutip laporan majalah Crescent International, terbitan Toronto, Canada edisi 16-30 November 1988 hal 8 dan Media Dakwah No.192,Zulqa'idah 1410/Juni 1990 tentang Program Jangka Panjang Kristenisasi di Indonesia. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa, program Kristenisasi diatur hampir diseluruh dunia terutama dinegara-negara muslim. Dunia ini akan damai apabila seluruh dunia berhasil dikristenkan. Inilah yang menjadi tujuan umat Kristen. Untuk tujuan tersebut umat Kristen Indonesia harus bersatu. Usaha mengkristenkan orang Islam di Indonesia didukung dan dengan mudah

mendapatkan dana dari negara-negara yang kuat seperti Amerika, Inggeris dan lain-lain. Konsep, tujuan dan kegiatan kristenisasi di Indonesia hampir mencakup seluruh aspek kehidupan. Mulai dari aspek kesehatan, mereka berupaya mengeliminasi populasi umat Islam dengan program Keluarga Berencana (KB), membangun banyak Rumah Sakit mahal dan memperbanyak jumlah Dokter dan Perawat dari kalangan Kristen untuk mengurangi populasi umat Islam. Propaganda pembatasan kelahiran dan keluarga berencana bagi orang Islam sangat intensif dilakukan dan didorong dengan berbagai cara. Di wilayah muslim billboard berisi slogan dan nasehat untuk KB dan pembatasan kelahiran harus ditempel dimana-mana untuk mengingatkan orang Islam dan mempraktekkan hal tersebut. Tapi diwilayah Kristen propaganda ini harus secara ketat dilarang. Dalam dokumen tersebut mereka mentargetkan 75 persen dokter dan perawat diseluruh rumah sakit di Indonesia harus orang Kristen, dengan demikian mereka dapat memberi saran dan kuasa untuk mengelola alat kontrasepsi bagi orang muslim. Di bidang ekonomi, orang-orang Kristen yang kaya diharuskan membantu misi-misi kristenisasi yang dilakukan oleh Dewan Gereja Indonesia di Jakarta. Masyarakat etnis Cina adalah menjadi target. Orang-orang Cina harus dilindungi sebaik mungkin karena pengaruhnya di Indonesia menguntungkan orang-orang Kristen. Orang Kristen yang menjabat dikantor-kantor pemerintah untuk berhubungan baik dengan orang Cina dan orang-orang Kristen secara ketat dilarang mempunyai hubungan dengan orang Islam kecuali menguntungkan orang Kristen. Bidang pendidikan, sistem yang diterapkan dari taman kanak-kanak sampai universitas harus dibawah kontrol orang Kristen. Ujian masuk harus dibuat mudah bagi orang Kristen dan dipersulit bagi orang Islam. Semua tempattempat pendidikan harus diisi oleh orang Kristen sehingga murid-muridnya mayoritas Kristen. Pendaftaran harus dilakukan sampai perbandingan Kristen-Islam adalah 5:1. Orang orang Kristen harus membantu pemerintah untuk mengurangi dan membatasi pengadaan akademi-akdemi Islam dan universitas-universitas Islam untuk mengurangi dihasilkannya intelektual muslim di Indonesia. Kristenisasi dibidang politik, orang Kristen harus bisa menjamin bahwa kebijaksanaan pemerintah selalu berorientasi ke Barat terutama orientasi ke Amerika.

Dalam bidang teknologi informasi, informasi harus dikontrol paling tidak 75 persen oleh orang Kristen, karena informasi merupakan persenjataan yang paling tajam untuk mengontrol umat Islam. Dengan propaganda/informasi, Kristen dapat meremehkan atau menganggap kecil umat Islam dan menggiringnya agar menjadi tidak berarti dalam kancah nasional. Surat kabar, radio, dan TV selalu menulis, menyiarkan kejadian-kejadian sedemikian rupa untuk memberi kesan buruk tentang Islam dan ummatnya serta untuk menciptakan pertikaian diantara mereka. Slogannya adalah "Bikin orang Islam berkelahi satu sama lain dan pecah satu sama lain, kontrol dan kendalikan kehidupan mereka". Semua koran dan media cetak di Indonesia ada dipihak kita dan harus digunakan sebaik-baiknya untuk menyebarkan propaganda agar persatuan umat Islam terpecah belah. Dibidang hukum, Umat Kristen tentu saja diperkenankan untuk bertingkah melawan hukum dengan dalih mendukung kepentingan negara. Semua orang Kristen sekarang mengisi menduduki mayoritas hakim, jaksa dan sidang perorangan di Indonesia. Dengan ini dianjurkan agar memutuskan orang Kristen benar dan orang Islam selalu dipersalahkan. Kalau perlu dihukum yang lebih berat, walaupun orang Kristen sebagai tertuduh. Dan dalam sektor kemanan, sektor-sektor keamanan (ABRI) harus selalu dimanuver untuk selalu bermusuhan dengan Islam dan Kristen mendapat keuntungan dari keadaan yang demikian. Pemuda Kristen sebanyak mungkin harus masuk ke profesi militer. Agar 75 persen kepala dari departemendepartemen yang ada dipemerintahan harus disusun oleh pejabat ex militer yang beragama Kristen. Kristenisasi Memicu Konflik Inilah cermin betapa kristenisasi benar-benar terjadi, bahkan dilakukan secara terang-terangan. Laporan terbaru dari International Crisis Group (ICG) 24 November 2010, dengan judul, Indonesia: Christianisation and Intolerance menjadi bukti yang sangat telanjang bahwa sekali lagi umat Islam berada dalam cengkraman kristenisasi. ICG adalah lembaga nirlaba berpusat di Brussels, Belgia. Institusi itu kini dipimpin Louise Arbour, wanita berusia 63 tahun, bekas Hakim Agung Kanada dan bekas Komisi Tinggi PBB Urusan HAM (United Nations High Commissioner for Human Rights). Tentu jangan bandingkan ICG dengan Maarif Institute, Setara Institute, Wahid Institute, atau Moderate Muslim Society (MMS), dan organisasi semodel lainnya. ICG terlalu berwibawa dan rekomendasinya tentang

masalah pertikaian, konflik, atau peperangan, diterima banyak negara, termasuk lembaga internasional semacam Uni Eropa, Bank Dunia, atau PBB. Dalam laporan 20 halaman itu, ICG menyimpulkan salah satu penyebab meningkatnya ketegangan Islam dengan Kristen di Indonesia adalah Kristenisasi yang agresif dilakukan Kristen Evangelical, kelompok Protestan fundamentalis yang dianut banyak penduduk Amerika Serikat. Kristen Evangelical yang mencampurkan agama dan politik itu mulai berkibar sebagai pendukung Partai Republik di zaman Presiden Ronald Reagan, tapi betul-betul dominan di dalam percaturan politik Amerika Serikat di dua priode pemerintahan Presiden George Bush. Bush sendiri berteman dekat dengan para pendeta aliran itu seperti Pat Robertson, Jerry Palwell (meninggal dunia beberapa tahun lalu), James Dobson, atau Franklin Graham. Di zaman Bush, negeri Islam seperti Afghanistan diserang dan diduduki, Iraq dijajah. Lantas para pendeta Evangelical membenarkan langkah-langkah Presiden Bush itu kepada rakyat Amerika Serikat. Belum cukup. Para pendeta diikut-sertakan (embeddet) bersama militer Amerika Serikat di Iraq dan Afghanistan guna menyebarkan ajarannya ke tengah masyarakat setempat yang Muslim. Kembali ke Indonesia, dalam laporannya itu, ICG menempatkan Kristenisasi dalam perhatian khusus. Isu Kristenisasi bisa mempersatukan kelompok anti-kekerasan dengan kelompok ekstrim pro-kekerasan, tulis laporan itu. Isu Kristenisasi telah berkembang di Indonesia sejak 1960-an. Menurut Kepala Badan Litbang Departemen Agama, Atho Mudzhar, sejak 1977 hingga 2004, pertumbuhan rumah ibadah Kristen memang mengaami pertumbuhan yang sangat pesat dibandingkan dengan masjid. Rumah ibadah umat Islam, pada periode itu meningkat 64,22 persen, Kristen Protestan 131,38 persen, Kristen Katolik meningkat hingga 152 persen (Republika, 18/2/06). ICG mengungkapkan bahwa Kristen Evangelical aktif melakukan Kristenisasi di Banten dan Jawa Barat, dua provinsi yang mengelilingi Ibukota Jakarta. Bila sukses, kelompok agama ini akan bisa mendapatkan tempat berpijak yang kuat di Ibu Kota. Dari catatan ICG diketahui sejumlah organisasi Kristen dari Amerika Serikat memiliki kegiatan di berbagai daerah di Indonesia, tapi terutama aktif di Jawa Barat. Ada The Joshua Project yang aktif di kalangan etnis Sunda, Lampstand (Beja Kabungahan) digerakkan misionaris Amerika Serikat sejak

1969, Patners International berbasis di Spokane, Washington, memiliki belasan group di Jawa Barat sebagai patner lokal, Frontiers dari Arizona, dan Campus Crusade for Christ berbasis di Orlando, Florida, dan memiliki cabang di Indonesia dengan nama Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI). Pada Desember 2006, LPMI membuat masalah di Batu, Malang, Jawa Timur. Ketika itu, LPMI mengadakan pelatihan. Dalam acara doa, pendetanya meletakkan Al-Quran di lantai dan menyuruh para peserta latihan mengelilinginya untuk upacara mengusir setan. Sang Pendeta dan para peserta doa kemudian ditangkap pihak berwajib karena tindakan menghina Al-Quran (blasphemy). (Jaka Setiawan)