Anda di halaman 1dari 3

Nama : Risky Apriliansyah Putra Kelas : X-6

Kenanganku Di Ponorogo
(Gambar 1) Sudah 5 tahun aku tidak ke sini, kota Ponorogo yang indah dan cantik ini. Namun sekarang, aku menginjakan kaki di kota ini lagi. Memang aku bukanlah anak desa, aku adalah anak betawi yang lahir dan besar di Jakarta. Tapi aku memiliki banyak kenangankenangan indah di kota ini. Dulu aku sering ke sini bersama-sama keluargaku, karena aku memiliki saudara di kota ini. Saat ini aku sedang melamun mengingat masa-masa indahku di kota ini. Aku lupa kapan aku pertama kali ke kota ini dengan keluargaku. Yang pasti itu sudah lama sekali. Aku pernah melihat fotoku di pinggir sawah di kota ini kira-kira saat usia 2 tahun, ya berarti itu sekitar tahun 1996. Di foto itu terlihat aku sedang jongkok adan di sampingku ada ayahku yang sedang menjagaku. Aku ingat disuatu pagi saat ku kecil, aku bermain di pinggir sawah dengan kakakkakak dan adikku, berlari-larian dengan asyiknya. Main air di sungai, bermain lumpur, berkejar-kejaran hingga aku tercebur ke dalam sawah. Siang harinya, aku dan saudaraku memancing belut di pinggir-pingir sawah. Setelah banyak belut yang terpancing, aku pulang dan menyiapkan belut itu untuk dimakan. Sungguh sebuah kepuasan sendiri dapat merasakan belut yang dicari sendiri. Aku sedang melamun di depan bukit yang juga pernah memberiku pengalaman yang indah bersama ayahku yang sangat aku cintai. Disuatu pagi yang cerah, ayahku mengajakku berjalan-jalan untuk mendaki bukit ini walau tidak terlalu jauh. Udara yang sejuk, pepohonan yang rindang, membuat hati terasa tentram dan damai. Aku pun dapat merasakan begitu indahnya hidup yang Allah berikan kepadaku. Ditambah lagi, ayahyku memberitahukan aku tentang tumbuhan-tumbuhan yang ada di sini. Mulai dari nama hingga kegunaannya. Lalu kami pun pulang untuk sarapan. Beberapa tahun yang lalu, aku pergi ke kota ini dengan keluargaku dan keluargau ayahku. Tante, om, serta sepupu-sepupuku ikut bersamaku. Lalu kami bejalan-jalan di pinggir rel kereta api yang telah lama tidak digunakan oleh PT. KAI, di sana kami berfoto-foto, bercengkrama dan melepas penat dan lelah. Kemudian kami menyusiri lembah dan sungai sambil bertafakur. Tak terasa, kini aku telah dewasa, bertahun-tahun hidup ini telah ku jalani. Kebaikan dan keburukan yang pernah aku lakukan akan ku pertanggung jawabkan di akhirat nanti. Memang hidupku masing panjang, jika Allah menghendaki, tapi tidak ada

salahnya merenungkan apa yang telah kita perbuat selama hidup di dunia ini. Semoga aku dapat melakukan yang terbaik untuk diriku, dan orang lain terutama keluargaku.

Tugas Cerpen Bahasa Indonesia

Salah Sangka
(Gambar 2)

Jumat sore itu aku pulang ke rumah dengan sangat lelah, badanku pegal-pegal dan tubuh terasa masuk angin. Saat di perjalanan pulang ban motorku bocor dan lalu aku harus menggantinya di bengkel di pinggir jalan. Istriku menyambutku dengan segelas teh madu hangat kesukaanku. Anak bungsuku sudah tertidur pulas di kamarnya, setelah aku habiskan tehnya istriku seperti ingin mengatakan sesuatu. Lalu istriku mengatakan perihal tentang uang sekolah Ahmad yang sudah dua bulan belum dibayar. Aku sudah mengira akan hal itu. Keesokannya aku pun pergi ke rumah temanku Firman, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalku. Setelah beberapa lama aku memberitahukan perihal kedatanganku ke rumahnya. Aku mengatakan bahwa aku butuh uang untuk biaya sekolah Ahmad dan untuk beberapa keperluan lain. Aku ingat aku pernah meminjamkan uang kepadanya, dan aku berharap dia pun dapat membantuku kali ini. Lalu dia pun meminjamkanku uang. Aku kembali ke rumah dan menemui istriku, lalu aku memberikan uang yang akan digunakan untuk membayar uang sekolah Ahmad. Lalu aku melakukan kebiasaanku diakhir pekan, merapikan rumah. Saat aku merapikan seisi rumah, aku melihat banyak bagian rumah yang harus aku perbaiki. Aku pun membeli berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk memperbaiki rumah dengan sisa uang pinjaman dari Firman. Disiang hari saat aku ingin bersih-bersih dan wudhu untuk solat zuhur, keran di kamar mandi tidak keluar. Lalu aku memeriksa mesin air dan ternyata mesin airnya tidak dapat menyala. Aku tidak tahu apa penyebabnya, mungkin memang sudah waktunya mesin air yang 10 tahun aku beli itu harus diganti. Aku baru ingat kalau hari ini adalah akhir bulan. Aku pun segera pergi ke ATM yang terdekat dari rumahku untuk memastikan bahwa uang gajianku sudah masuk ke rekeningku. Alhamdulillah, uangnya sudah masuk. Lalu aku membeli mesin air yang baru dan menyuruh tukang yang ahli dalam hal itu untuk menggantinya. Tidak ku sangka, uang gajian yang seharusnya dapat dipakai satu bulan dan untuk membayar hutang hanya tersisa kurang dari 20% nya. Beberapa minggu kemudian Firman datang ke rumahku, aku yakin ia ingin menagih hutang. Tapi ada yang aneh, mukanya terlihat kesal saat datang kepadaku. Dia tidak seperti Firman yang jika bertamu biasa menggunakan adab dan tata karma. Dia membentakku dan langsung menuduhku bahwa aku yang menghipnotisnya untuk memberikan uang dalam jumlah yang sangat besar. Aku pun mencoba menenengkannya dan menjelaskan bahwa beberapa mingggu kemarin aku hanya meminjam uang Rp 200.000 kepadanya. Lalu akhirnya dia menceritakan bahwa ia telah kehilangan uang sebesar Rp 20.000.000 setelah menerima seorang tamu yang tidak ia kenal. Lalu aku pun mengajaknya untuk melaporkan hal ini ke pada polisi.

Tugas Cerpen Bahasa Indonesia

Tengkorak Di Goa Jatijajar


(Gambar 3)

Hari ini adalah hari jumat, aku sangat senang karena besok aku akan pergi ke Kebumen untuk berkemah dan menjelajah goa yang diadakan oleh gugus depan pramukaku. Goa Jatijajar namanya. Setelah solat jumat aku melakukan rutinitasku sebagai anggota rohis, mentoring. Seusai mentoring dan solat asar, aku bergegas pulang karena tidak sabar menunggu esok hari untuk pergi ke Kebumen. Aku pun sampai di rumah, lalu aku mandi dan beristirahat setelah seminggu lelah bersekolah. Sekaligus aku mengisi tenaga untuk persiapan liburanku besok. Seusai solat isya, aku merapikan barang-barang yang akan aku bawa besok hari. Lalu aku bergegas tidur karena tidak sabar menunggu hari esok. Solat subuh telah aku laksanakan di masjid, aku pun sarapan dan bersiap-siap untuk pergi berkumpul di SMP ku. Rencananya sahabatku Ilman juga akan ikut. Lalu aku berpamitan kepada kedua orangtuaku. Kami pun berangkat pukul 6.30 WIB dan tiba di Kebumen pukul 16.00. Setelah sampai kami mendirikan tenda dan pada malam harinya kami menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Lalu kami pun tidur untuk menyiapkan tenaga untuk menjelajah goa esok pagi. Pada pagi hari kami pun langsung menjelajahi Goa Jatijajar yang dipimpin oleh anggota Penegak yang telah biasa menjelajah Goa Jatijajar. Kami pun berjalan menyusuri goa yang becek dengan perlahan. Di dalam goa terlihat ada sungai dan kami pun harus melewatinya. Untunglah semua peralatan kedap air. Setelah beberapa jam berjaln, kami beristirahat. Saat beristirahat Ilman duduk di dekat bebatuan besar. Dan tidak sengaja ia menemukan sebuah tengkorak manusia. Para penjelajah pun kaget karena tengkorak itu. Lalu salah seorang dari kami menjelaskan bahwa goa ini memang dipakai oleh penduduk setempat untuk menyimpan tengkorak. Kami pun keluar dari goa tersebut, lalu kami santap siang, solat zuhur dan beristirahat. Setelah itu kami pergi ke pasar yang menjual oleh-oleh khas Kebumen untuk berbelanja. Setelah puas berbelanja kami pun pulang menuju Jakarta. Sungguh pengalaman yang tak akan aku lupakan. Sesampainya di rumah, aku menceritakan pengalamanku itu kepada orangtuaku. Terutama tentang pengalaman menemukan tengkorak manusia di dalam Goa Kebumen.

Tugas Cerpen Bahasa Indonesia