Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN Latar Belakang Penyakit paru obstuktif kronik merupakan suatu penyakit sistemik yang dapat dicegah dan

diobati, yang ditandai oleh adanya hambatan aliran udara yang tidak reversibel sempurna, progresif, dan berhubungan dengan respon inflamasi terhadap berbagai partikel atau gas yang berbahaya. Penyakit paru obstruktif kronik merupakan penyebab morbiditas dan kematian ke 4 terbesar didunia. Insidensi penyakit PPOK di Indonesia meningkat akibat semakin banyaknya penduduk Indonesia yang mempunyai kebiasaan merokok. Selain itu, polusi udara dan keadaan lingkungan yang semakin buruk juga sangat mempengaruhi insidensi PPOK. Untuk mencegah timbulnya penyakit paru ini,satu-satunya intervensi yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko berkembangnya PPOK dan memperlambat progresivitas penyakit adalah dengan berhenti merokok. Selain itu, hal penting yang perlu dilakukan pada pasien PPOK adalah dengan memonitor gejala klinis dan fungsi paru. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk lebih mengetahui gejala klinis, faktor risiko, patogenesis, pemeriksaan fisik, dan diagnosis banding PPOK. Diharapkan dengan mengetahuinya, PPOK dapat dicegah dan mendapatkan pentalaksanaan yang tepat. DEFINISI Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit paru yang dapat diobati dan dapat dicegah dengan beberapa efek ekstrapulmonal yang memberi konstribusi terhadap keparahan penyakit, ditandai dengan adanya hambatan aliran udara yang tidak reversibel sempurna, progresif, dan berhubungan dengan respon inflamasi terhadap berbagai partikel atau gas yang berbahaya (GOLD, 2009) INSIDENSI Prevalensi PPOK cenderung meningkat. Menurut the Latin American Project for the Investigation of Obstructive Lung Disease (PLATINO) prevalensi PPOK stadium I dan yang lebih parah pada umur > 60 tahun antara 18,4% - 32,1%. Global initiative for chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) memperkirakan PPOK sebagai penyebab kematian ke 6 pada tahun 1990 dan akan meningkat menjadi penyebab ke 3 pada tahun 2020 diseluruh dunia (Daniel, 2010). PPOK sering menyerang laki-laki daripada perempuan. FAKTOR RISIKO Genetic (defisiensi alfa 1 antitripsin)

Paparan : asap rokok (perokok aktif & pasif),polusi udara (indoor, outdoor, tempat kerja). Infeksi saluran napas berulang Sosial ekonomi yang rendah Faktor pekerjaan (PDPI, 2010)

KLASIFIKASI Derajat Derajat I: PPOK ringan Derajat II : PPOK sedang Derajat III : PPOK berat Klinis Batuk kronik Produksi sputum ada tetapi tidak sering Fungsi paru mulai menurun, tetapi sering tidak disadari Sesak mulai dirasakan saat aktivitas Batuk dan produksi sputum ditemukan kadang-kadang Sesak dirasakan lebih berat Penurunan aktivitas, rasa lelah dan serangan eksaserbasi semakin sering Kualitas hidup pasien menurun Didapatkan adanya tanda-tanda gagal napas atau gagal jantung kanan. Kualitas hidup pasien memburuk. Jika eksaserbasi dapat mengancam jiwa. Faal Paru VEP1/ KVP < 70% VEP1 80% prediksi

VEP1/ KVP < 70% 50% < VEP1 < 80%


prediksi VEP1/ KVP < 70% 30% < VEP1< 50% prediksi

Derajat IV: PPOK sangat berat

VEP1/ KVP < 70% VEP1< 30% prediksi atau VEP1 < 50%
prediksi disertai gagal napas kronik

(GOLD, 2009)

Daniel. 2010. Penyakit Paru Obstruktif Kronik dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Departemen Ilmu Penyakit Paru FK UNAIR RSUD Dr. Soetomo Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2010. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Global initiative for chronic obstructive lung disease. Global strategy for the diagnosis, management and prevention of COPD. www.goldcopd.com.Update 2009.