Anda di halaman 1dari 6

Plastik dan gabus sama-sama praktis sebagai kemasan makanan.

Tetapi keduanya juga


mengandung zat-zat yang amat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kanker salah satu
ancamannya.
Ingat iklan tentang pipa plastik dari bahan polyvinyl chlorida (PVC) yang tak hancur meski
diinjak-injak gajah? Sekarang, bayangkan bila unsur-unsur zat itu masuk ke tubuh melalui
kemasan makanan dari bahan plastik maupun styroIoam (gabus). Tentu saja sistem
pencernaan kita sulit mencernanya.
Tanpa memikirkan atau sekedar mau tahu mengenai risikonya terhadap kesehatan, kemasan
makanan dari bahan plastik maupun styroIoam sudah pasti menjadi pilihan utama karena
praktis, ringan, dan bisa digunakan berulang kali. Tetapi pada kedua jenis bahan ini justru
ditemukan kandungan dioctyl phthalate (DOP) yang menyimpan zat benzen, suatu larutan
kimia yang sulit dilumat oleh sistem percernaan.
Benzen ini juga tidak bisa dikeluarkan melalui Ieses (kotoran) atau urine (air kencing).
Akibatnya, zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut lemak. Inilah yang bisa
memicu munculnya penyakit kanker.
Dr. Eng. Agus Haryono, peneliti bidang teknologi proses dan katalisis Puslit Kimia LIPI
menjelaskan, banyak kandungan berbahaya dari kantong plastik (kresek) bisa
mengontaminasi makanan. Bila terkena suhu tinggi, pigmen warna kantong plastik akan
bermigrasi ke makanan.
Agus yang khusus meneliti plastik dan styroIoam hingga meraih gelar S3 ini menjelaskan,
bila makanan yang baru digoreng ditempatkan di kantong kresek, suhu minyak yang tinggi
akan menghasilkan kolesterol atau lemak jenuh yang tinggi pula. Belum lagi, kantong kresek
ini mengandung DOP serta logam berat Zn (seng) yang biasanya ditambahkan pabrik plastik
sebagai bahan stabilizer untuk plastik.
DOP memang populer digunakan dalam proses plastisasi. Konsumsi DOP pada industri PVC
mencapai 50-70 dari total produksi plasticizer (senyawa aditiI yang ditambahkan ke dalam
polimer untuk menambah Ileksibilitas dan daya kerjanya).
Selain eIisien, DOP juga memberikan viskositas yang stabil pada saat aplikasinya pada PVC.
Lebih dari itu, harga DOP paling murah di antara sekitar 300 plasticizer yang dikembangkan,
karena proses sintesanya sederhana dan bahan baku industri petrokimia ini juga melimpah.
Namun, ungkap Agus, pemakaian DOP, terutama aplikasinya pada Iood-drug packaging
(kemasan makanan dan obat-obatan) atau mainan anak-anak mulai dipermasalahkan. Karena
migrasi senyawa aromatik dari PVC yang masuk ke dalam tubuh amat membahayakan
kesehatan manusia.
Ancaman terhadap kesehatan lainnya datang dari kantong plastik berwarna-warni. Menurut
Agus, masalahnya adalah seringkali tidak diketahui bahan pewarna yang digunakan.
"Memang ada pewarna Iood grade untuk kantong plastik yang aman untuk makanan. Tetapi
di Indonesia jarang ditemukan hal yang demikian. Biasanya produsen di sini menggunakan
pewarna nonIood grade. Akan tetapi menurut ilmu kimia, yang perlu diwaspadai adalah
plastik yang tidak berwarna ini. Semakin jernih, bening, dan bersih plastik tersebut, semakin
sering terdapat kandungan zat kimia yang berbahaya dan tidak aman bagi kesehatan
manusia," terang Agus.
StyroIoam yang masih tergolong keluarga plastik ternyata juga memiliki bahaya yang sama.
Sebagaimana plastik, styroIoam bersiIat reaktiI terhadap suhu tinggi. Padahal salah satu
kelebihan styroIoam adalah kemampuannya menahan panas (lihat Tabel).
Tidak hanya itu, styren, bahan dasar styroIoam, bersiIat larut lemak dan alkohol. Ini berarti,
kata ProI.Dr.Hj. Aisjah Girindra, ahli biokimia pada Lab Biokimia FMIPA IPB, wadah dari
jenis ini tidak cocok untuk tempat susu yang mengandung lemak tinggi. Begitu pun dengan
kopi yang dicampur krim. Padahal, tidak sedikit restoran cepat saji yang menyuguhkan kopi
panasnya dalam wadah ini. "Karena itu sewajarnya kita berhati-hati menggunakan styroIoam.
Kalau untuk makanan dingin tidak perlu khawatir, tapi bagaimana pun, penggunaannya
sebaiknya dihindari," kata Aisjah.
Ketika meminta konIirmasinya mengenai hal ini, ProI.Ir. Dedi Fardiaz, Deputi Bidang
Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM) meminta masalah ini dipandang pada tempatnya.
Di dalam styroIoam dan plastik memang ada ancaman bagi kesehatan akibat kemungkinan
imigrasi komponen-komponen dari plastik dan styroIoam ke barang yang kita konsumsi,
tuturnya. Tetapi kemungkinan ini tergantung dari jenis pangannya, lama kontaknya, luas
cakupan bahannya (plastik/styroIoam) dan sebagainya. "Karena itu kita harus Iair
membahasnya. Jangan sampai nantinya malah menimbulkan kepanikan di masyarakat akibat
adanya pembahasan bahwa styroIoam dan plastik berbahaya," tegasnya.
Penelitian yang dalam dan menyeluruh mengenai ancaman di balik kemasan dari bahan
styroIoam dan plastik memang belum dilakukan. Meski demikian, ketentuan Standar
Nasional Indonesia (SNI) yang memuat tentang kemasan sebenarnya sudah ada di Badan
Standardisasi Nasional (BSN). Contohnya saja, SNI tentang Iilm PVC untuk kemasan
kembang gula, SNI tentang botol plastik wadah obat, makanan, dan kosmetika, SNI tentang
etilen vinil asetat untuk laminasi pangan dan SNI tentang botol gelas minuman bertekanan
dipakai ulang.

Golongan : Keluarga plastik
SiIat : Lebih ringan, praktis, tahan bocor, bisa menjaga suhu makanan dengan baik
Ancaman Bahaya : Sama berbahayanya dengan plastik
http://Iorum.upi.edu/v3/index.php?topic1548.0

indosiar.com, 1akarta - Namun apakah kemudian makanan yang terbungkus plastik kresek
tadi terbebas dari ancaman kuman atau kontaminasi kotoran hal itu masih perlu menjadi
perhatian.
Baru baru ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyampaikan hasil
pengawasannya terhadap jenis jenis tas plastik kresek yang saat ini banyak beredar luas di
pasaran. Bahwa bahan yang digunakan untuk membuat plastik kresek berasal dari bahan daur
ulang yang tidak diketahui asal usulnya.
Terlebih jika masyarakat menemukan tas plastik kresek yang berwarna hitam pekat. Pada tas
plastik jenis ini banyak ditemukan kandungan karsinogen, yang bisa berinteraksi dengan
makanan saat bersinggungan.
Sebut saja, pestisida, logam berat, atau kotoran hewan maupun manusia mungkin saja sebagai
bahan campuran selain zat kimia sebagai bahan dasar tas plastik kresek yang juga berbahaya
bagi kesehatan manusia.
Menurut Kepala Badan POM Husniah Rubhiana Thamrin perederan kantung berbahan dasar
plastik saat ini sulit dipantau, karena sudah menjadi bagian kegiatan jual beli di pasar becek
hingga ke swalayan dan mall. Namun masyarakat diminta untuk lebih hati hati dan selektiI
terhadap pemakaian plastik kresek sebagai pembungkus makanan.
Misalnya tidak dulu mempergunakan tas berbahan dasar plastik untuk membungkus makanan
atau bahan baku makanan dan memilih untuk mempergunakan kantung lain atau melapisi
kantung plastik kresek dengan kertas. Dengan begitu, kontaminasi zat yang berada dalam
kandungan plastik ke makanan bawaan bisa di minimalisir.
Bahan dasar platik ternyata tidak seja dimanIaatkan oleh manusia pada satu macam produk
seperti kantung. Tetapi dapat ditemukan juga pada produk, plastik bening (tembus pandang)
kotak makanan, sedotan dan styroIoam yang banyak kita jumpai dalam bentuk kotak makan
berwarna putih.
Pada jenis plastik bening berbentuk kotak makanan dan bulat kue, BPOM menemukan
adanya kandungan Poly Venyl Chloride 8 part per million. Padahal batas maksimal
pemakaian Poly Venyl Chloride yang dikeluarkan oleh BPOM maksimal sebesar 0,5 part per
million.
Sementara kekhawatiran penggunaan kemasan styroIoam untuk pembungkus makanan
dikarenakan residu monomer stiren yang tidak ikut beraksi dapat terlepas ke dalam makanan
yang berminyak, berlemak atau mengandung alkohol, terlebih dalam keadaan panas.
Kekhawatiran terhadap penggunaan produk produk plastik yang berhubungan langsung
dengan makanan manusia menjadi beralasan untuk diperhatikan, mengingat bahaya
kandungan zat kimia pada produk plastik yang apabila terkonsumsi oleh tubuh bisa
menyebabkan kanker.
Selain berbahaya bagi makanan, penggunaan produk plastik seperti tas kresek, sedotan bagi
kehidupan manusia juga sangat merugikan. Karena kandungan dari bahan plastik tidak
mudah di urai oleh alam, atau butuh waktu selama 1000 tahun bagi alam untuk bisa
mengurainya. Sementara bagi manusia, penggunaanya menuntut lebih banyak produksinya
dibandingkan pemusnahannya. Setelah habis pakai, dengan mudah kita bisa singkirkan dari
hadapan kita bersama dengan sampah organik lainnya dalam tong sampah.
Hingga kini belum ada satu negara pun di dunia yang melarang penggunaan produk plasti dan
styroIoam atas dasar pertimbangan kesehatan. Larangan di sejumlah negara hanya berkaitan
dengan masalah pencemaran lingkungan.(07)
http://www.indosiar.com/ragam/81249/awas-produk-plastik-berbahaya

Pengaruh Aerasi
Aerasi mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan kapang Rhi:opus
oligosporus. Jamur ini tumbuh baik di satu tempat saja (tidak merata) bila aerasi
kurang. Sebaliknya, jika oksigen terlalu banyak akan memacu terjadinya sporulasi
yang mengakibatkan bercak hitam pada tempe.
Kapang merupakan bakteri yang memerlukan oksigen yang cukup untuk
pertumbuhannya. Selain itu uap air yang berlebih akan menghambat diIusi oksigen
ke dalam kedelai maupun jagung, pada saat pembungkusan sebaiknya aliran udara
diatur agar tidak telalu kedap yaitu memberi lubang pada pembungkus.
(ReII : www.iqbalali.com)

sporulation is asexual reproduction by the production and release oI spores
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid20090106063528AADI95X