Anda di halaman 1dari 3

KENAPA JADI FEMININ?

AAAAARGHHH The world is becoming feminine satu pernyataan dari dosen kita sekaligus yang punya group gender dalam politik dunia ini, yakni ibu nita. Pernyataan yang menarik dan memang disertai fakta-fakta yang aktual. Mengesampingkan wanita didalam pembahasan mengenai politik internasional berarti mengabadikan pemikiran lama yang dibentuk oleh konstruksi sosial yang kolot. Apabila kita melihat dunia dari kacamata kaum Post-modernis yang kita dapat pertanyakan adalah apakah semua yang ada pada saat ini, melekat, tradisi atau biologis adalah bahwa pada faktanya telah dibuat demikian. Dengan mempertanyakan bagaimana sesuatu telah dibuat demikian maka ini mengimplikasikan bahwa ini telah dibuat oleh seseorang. Jika kita memandang keadaan wanita saat ini telah dikonstruk, pertanyaan lain seperti apabila akan menjadi sebuah pertanyaan yang radikal. Secara konvensional baik maskulinitas maupun femininitas dianggap adalah alami, bukan dibentuk. Saat ini, bagaimanapun juga, sudah banyak bukti-bukti bahwa keadaan yang ada saat ini adalah keputusan spesifik yang dibuat oleh orang-orang spesifik. Sehingga akhirnya kita menyadari bahwa pemikiran tradisional tentang maskulinitas dan femininitas sulit untuk tetap dipegang. Karena sebenarnya ini adalah konstruksi sosial yang dibentuk oleh lingkungan. Sehingga pada akhirnya muncul lah konsepsi tradisional ini. Beberapa decade lalu, para analis feminis memiliki dampak yang cukup kecil didalam politik internasional. Para kritisi politik luar negeri, dan pembuat keputusan terlihat sangat percaya diri didalam mengesampingkan ide-ide feminis. Peran wanita didalam keberlangsungan politik internasional telah dianggap bagaikan sesuatu yang alami dan tidak penting untuk dibahas lebih lanjut. Sebagai konsekuensinya, Perilaku dari politik dunia yang didalamnya terdapat kontrol kaum pria terhadap wanita telah ditinggalkan tanpa dikaji. Ini mengindikasikan bahwa influens pemanfaatan pada kebijakan luar negeri ini telah menghindari tanggung jawab untuk bagaimana wanita telah dipengaruhi oleh politik internasional. Tapi coba kita pinjam sedikit pemikiran kaum feminis tentang bagaimana dominasi kaum maskulin dan membawa kemaskulinitasannya didalam plotikk dunia telah menimbulkan kondisi chaos akibat kecenderungan maskulin untuk berkonflik. Namun jika kita lihat sekarang, ketika wanita sudah mampu berada didalam tatanan politik dunia. Memang kecenderungan konflik mulai berkurang, serta sifat-sifat femininitas yang mereka miliki telah membawa Politik dunia kearah kebijakan yang bersifat low politik seperti kesejahteraan, human security, HAM dan Lingkungan. Isu-isu

yang saat ini hadir kedalam ranah politik membuat sifat dari politik dunia layaknya reputasi seorang ibu yang senantiasa melindungi dan menyayangi anaknya. Ini kah Reputasi Femininitas? Jika dapat saya katakan ini adalah sebuah implementasi dari mitos-mitos tentang sifat feminine. Yakni tentang bagaimana sifat feminine dibawa oleh para wanita kedalam ranah politik dengan hadirnya mereka. Kenapa bisa demikian? Sedikit saya meminjam lagi pemikiran Foucault tentang bagaimana dominasi ilmu pengetahuan yang menjadi miliki kelompok tertentu kemudian dipaksakan untuk diterima kelompok lainnya. Jawabannya menjadi sederhana, yakni karena karena muncul feminisme maka dunia menjadi feminim. Hal ini tidak terlepas dari protes serta pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh feminisme sejak abad ke 19. Jika dulu politik dunia memiliki Reputasi Maskulinitas karena adanya patriarki, maka sekarang menjadi bereputasi cenderung feminim karena feminisme memaksakan hal tersebut. Dengan pemaksaan yang dilakukan kaum feminim maka reputasi yang berusaha dibentuk aktor-aktor yang dulunya cenderung maskulin menjadi feminim. Contoh dulu Negara lebih mengedepankan kekuatan militernya (Reputasi Maskulinitas) untuk cenderung ingin memimpin, tapi sekarang mereka mengedepankan sifat lemah-lembut gemar bekerjasama, Politik pencitraan, memandang HAM yang notabene adalah sifat atau citra yang membentuk Reputasi Femininitas didalam pergaulan internasionalnya. Arrrghhh kok sifat maskulinitas luntur? Bagaimana dengan kami kaum lelaki yang ingin menunjukan Reputasi Maskulinitas kami, apa iya sudah tidak laku lagi? Hahahaha, pertanyaan ini Nampak sangat skeptis memang. Tapi jika dibiarkan memang Reputasi Feminimitas ini akan menggerus kita kaum Maskulin untuk berubah mencari Reputasi Feminim ketimbang mengedepankan Reputasi Maskulinitas kita. Tapi tenang saja gejala ini tidak merebak diseluruh aspek sosial kok, tatanan pergaulan pada level individu masih akan berjalan dengan Reputasi Maskulinitas sebagai hirarki bagi kaum maskulin didalam tatanan sosial tetap akan ada walau pada tatanan yang lebih tinggi seperti Negara Reputasi Maskulinitas menjadi kurang laku. Citra pembentuk Reputasi Maskulinitas seperti Kepemimpinan dan mengayomi mungkin masih akan laku, tetapi sifat gemar kekerasan, sifat ingin mendominasi kekuasaan akan luntur. Ya, gimana bu nita? Saya masih bingung karena menurut saya Reputasi Femininitas terlihat sengaja dikonstruk dan dipaksakan oleh para pemikir feminisme dan para pemilik reputasi maskulinitas menjadi seperti tidak punya otonomi individualnya karena terpaksa mengikuti konstruksi teks yang ada.