Anda di halaman 1dari 11

PENGUKURAN LAJU METABOLISME IKAN

Oleh: Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Ratna Dwi Hirma Windriyati : B1J006019 : III :6 : Amallia Fadlila

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2008

I. PENDAHULUAN A. DASAR TEORI Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu. Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen. Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan C6H12O6 + 6O2 6 CO2 + 6H2O + ATP. Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Terdapat tiga metode untuk mengukur laju metabolisme pada hewan, yaitu menghitung selisih antara nilai energi dari semua makanan yang masuk dalam tubuh hewan dan semua ekskreta terutama urin dan feces; menghitung produksi panas total pada organisme; menghitung jumlah oksigen yang digunakan oleh organisme untuk proses oksidasi atai konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju metabolisme antara lain umur, jenis kelamin, status reproduksi, makanan dalam usus, stress fisiologis, aktivitas, musim, ukuran tubuh, dan temperatur lingkungan. Dalam percobaan menggunakan ikan, peneliti harus menuggu cukup lama setelah ikan terakhir kali makan agar metabolisme yang berkaitan dengan pencernaan (pertambahan panas) tidak mengecohkan dalam pengukuran laju metabolisme baku. Laju metabolisme baku sendiri merupakan laju metabolisme hewan manakala hewan tersebut beristirahat atau sedang tidak ada makanan dalam ususnya.

B. TUJUAN

Tujuan percobaan ini adalah mengukur konsumsi oksigen hewan air, dan dapat mengevaluasi keterkaitan bobot tubuh atau perubahan faktor lingkungan dengan laju metabolisme hewan air.

II. MATERI DAN METODE A. MATERI

Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan air tawar (ikan nilem), timbangan teknikal, gelas ukur besar, alat pengukur konsumsi oksigen, aerator, botol sample, tabung erlenmeyer, buret beserta statif, dan reagen untuk titrasi kandungan oksigen air.

B. METODE 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Alat respirometer dihidupkan. Lakukan pengukur bobot tubuh ikan yang akan dipakai. Lakukan pengukuran volume ikan dengan menggunakan gelas ukur besar. Masukkan ikan ke tabung II dan usahakan tidak ada udara terperangkap, biarkan ikan didalam selama beberapa menit. Lakukan pengambilan sampel air I (awal) menggunakan botol Winkler (volume 125 ml) dari tabung II melalui selang air keluar pada tabung II. Matikan sistem sirkulasi dan tutup selang air masuk dan keluar pada tabung II dan biarkan selama kurang lebih satu jam. Lakukan pengukuran kandungan oksigen terlarut pada sampel air I menggunakan metode mikro Winkler. Lakukan pengambilan sampel air II (akhir) menggunakan tabung Winkler (volume 125 ml) dari taung II melalui selang air keluar dari tabung II. Ditambahkan 1 ml MnSO4, 1 ml KOHK, dan H2SO4. 10. Dipindahkan ke gelas ukur sebanyak 100 ml, warna berubah menjadi kuning. 11. Ditambahkan tiga tetes amilum dan berubah warna menjadi hitam pekat. 12. Dititrasi dengan N2S2O3 hingga larutan bewarna bening. 13. Ulang langkah ketujuh dengan perlakuan yang sama. 14. Hitung konsumsi oksigen ikan dengan rumus : Laju Metabolisme (KO2 ) KO 2 = BWHA

( DO II DO I ) ( Vol T Vol HA )
WP : konsumsi oksigen (mg/g/jam) : oksigen terlarut I (awal) : oksigen terlarut II (akhir) : volume tabung II (diukur)

Keterangan: KO2 DOI DOII Vol T

Vol HA BWHA WP

: volume hewan air (lt) : bobot tubuh hewan air : lama percobaan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Laju Metabolisme (KO2 ) KO 2 = BWHA

( DO II DO I ) ( Vol T Vol HA )
WP

Bobot air + baskom = 742,4 gram Bobot air + baskom + ikan = 823 gram

Bobot ikan= 823742,4 = 80,6 gram Vol. tabung = 3,542 L Vol. ikan = 590-500= 90 ml= 0,09 L DOII = = DOI Wp
1000 p q 8 100
1000 2,6 0,025 8 = 5,2 ppm 100

= 6 ppm = 0,5

Vol T = 3,5421 L Vol HA= 0,09 L BWHA = 80,6 gram Perhitungan: KO2 =

( 6 5,2 ) ( 3,542 1L - 0,09 L )


80 ,6 0,5
0,8 3,5121 = 0,0099 6,9042 = 0,0683515 mg/g/jam

= 80 ,6 0,5

B. PEMBAHASAN Kebutuhan oksigen ikan untuk melakukan metabolisme aerobik dan untuk melangsungkan hidupnya yaitu dengan mengkonsumsi udara atau oksigen terlarut dalam air. Oksigen yang di konsumsi secepatnya diolah dan didistribusikan ke seluruh sel secepat mungkin untuk memenuhi kebutuhan metabolisme seluler dan mencegah penumpukan laktat. Ikan tidak langsung mengambil oksigen bebas dari udara tetapi mengambilnya dari air dengan menggunakan alat respirasi utamanya yaitu insang. Menurut Afrianto (1992), Oksigen merupakan salah satu faktor

pembatas dalam budidaya ikan. Beberapa jenis ikan mampu bertahan hidup pada

perairan dengan konsentrasi oksigen 3 ppm, namun konsntrasi minimum yang masih dapat diterima oleh sebagian besar spesies ikan untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm. Ikan masih mampu bertahan hidup dengan konsentrasi oksigen dibawah 4 ppm, akan tetapi nafsu makannya rendah sehingga pertumbuhan menjadi terhambat. Metabolisme ikan sangat tergantung pada oksigen terlarut. Metabolisme yang tinggi menyebabkan konsumsi oksigen tinggi dan sebaliknya, metabolisme yang rendah membutuhkan oksigen yang sedikit. Hal ini mendasari bahwa

parameter konsumsi oksigen dapat digunakan untuk menilai laju metabolisme ikan karena sebagian berasal dari metabolisme aerobik (Ville, 1988). Metabolisme hewan poikiloterm dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan. Saat suhu rendah

metabolisme turun dan akan meningkat ketika suhu lingkungan meningkat. Laju metabolisme berbanding terbalik dengan konsentrasi oksigen terlarut dan berkolerasi dengan konsumsi oksigen dan sintesa haemoglobin darah. Saat konsentrasi oksigen rendah dan temperatur meningkat maka laju metabolisme meningkat sedangkan bila konsentrasi oksigen tinggi dan temperatur rendah maka laju metabolisme juga rendah (Graham dalam Sabandiah, 1998). Organisme dalam air memperoleh oksigen jauh lebih sedikit dibandingkan organisme darat. Ikan mendapatkan oksigen dari oksigen terlarut dalam air. Pengambilan oksigen pada ikan dilakukan oleh organ repirasi utama yaitu insang. Besarnya pengambilan oksigen melalui insang dapat diukur dengan metode air statis atau metode air mengalir. Praktikum kali ini mengukur konsumsi oksigen ikan dan mengevaluasi keterkaitan bobot tubuh atau perubahan faktor lingkungan dengan laju metabolisme hewan air. Kadar oksigen terlarut ditentukan melalui titrasi sampel air dengan menggunakan metode Winkler. Langkah pertama sampel air dicampur

dengan 1ml larutan KOH. KI dan 1 ml MnSO4, kemudian dikocok dan didiamkan

sehingga terbentuk endapan putih (koloid). Larutan H2SO4 1 ml ditambahkan dan dihomogenkan sehingga endapan menghilang dan larutan berubah warna menjadi orange. Amilum diteteskan sebanyak 0,5 ml sehingga menghasilkan warna biru tua. Amilum berfungsi sebagai indikator yang dapat mengikat oksigen terlarut dalam air dalam reaksi. Larutan dititrasi dengan Na2S2O3 hingga warna biru tua hilang dan larutan tidak berwarna (bening). Besarnya volume Na2S2O3 akan diketahui dari

titrasi ini dan dapat digunakan untuk menghitung besarnya oksigen terlarut awal dan oksigen terlarut akhir sehingga konsumsi oksigen ikan dapat ditentukan (Hall, T.W, 1980). Jumlah volume Na2S2O3 yang digunakan untuk titrasi larutan setelah lima menit sebanyak 4,1 ml dan setelah 15 menit dibutuhkan 2,9 ml. Metode Winkler untuk menentukan kadar oksigen terlarut pada awal percobaan dilakukan dengan cara sampel yang telah diambil dicampur dengan larutan MnSO4 1 ml, larutan KOH dan larutan KI dengan reaksinya adalah KOH + KI + MnSO4 kemudian dikocok kembali sampai berwarna kuning. Kemudian diambil 100 ml sampel ke dalam erlenmeyer dan ditambah 10 tetes amilum sebagai indikator sehingga berwarna biru. Larutan sampel dititrasi dengan Na2S2O3 pada biuret sampai warna birunya hilang (Quinqurand, 1983). Reaksi kimia yang terjadi pada metode Wingkler adalah sebagai berikut (Seager, 1987) : MnSO4 + 2 OH Mn(OH)2 + SO42Mn(OH)2 + O2 2 MnO (OH)2 2Mn(OH)2 + 2I + H2O Mn(OH)2 + I2 + 2 OH 2 I + 2S2O32- 2 S4O62- + 2IMenurut Sabandiah (1998), laju respirasi atau konsumsi oksigen dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal diantaranya adalah O2 terlarut, temperatur, salinitas, cahaya, status makanan dan

CO2. Faktor internal yang mempengaruhi diantaranya adalah jenis spesies, ukuran, aktifitas, jenis kelamin, saat reproduksi dan molting dan jumlah individu ikan. Semakin banyak jumlah ikan yang terdapat pada lingkungan yang sama, semakin banyak pula oksigen yang dibutuhkan oleh masing-masing ikan yang terdapat pada lingkungan tersebut (Zonneveld and Boon, 1991).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Besarnya konsumsi oksigen ikan nilem dari hasil percobaan dengan bobot 28,9 gram adalah sebesar 1,166 mg/g/jam. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen meliputi ukuran tubuh, volume tubuh, aktivitas, suhu, nutrisi, jumlah ikan dan laju metabolisme. 3. Konsumsi oksigen dapat digunakan untuk mengetahui laju metabolisme ikan.

DAFTAR PUSTAKA Afrianto, E dan Evi L. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Jogjakarta Hall, T.W. 1980. Analitical Chemistry. John Willey Sons Inc. New York. Quinqurand, M. 1983. Experiment of Fish Reseination. C:R Ac Scl 75 Seager, S.L. 1987. Laboratori Experimen In Introductori Chemistry. Publishing Company. St. Paul. West

Sabandiah, E. 1998. Pengaruh Temperatur Lingkungan Terhadap Kehidupan dan Konsumsi Oksigen Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Skripsi. Tidak dipublikasikan. Fakultas Biologi. UNSOED. Purwokerto Ville, C. A, F. W. Walter. 1988. Zoologi Umum. Erlangga. Jakarta Zonneveld, N. E. A and Boon J. H. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. Gramedia. Jakarta