Anda di halaman 1dari 34

l

Disusun Oleh :
Yusnidar Naimah
Ira Nusyanti NilaWati
Suriani Murniati
Erlina Farida
Yetta Susana Yusraina




AKADEMI KEBIDANAN HARAPAN IBU LANGSA
TAHUN 2011

Maka|ah
Gangguan na|d
ll


KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat dan hidayah -Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
'Gangguan Haid penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari
kesempurnaan oleh karena itu, maka kritik dan saran yang bersiIat membangun
sangat penulis harapkan guna kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
Dalam penyusunan makalah ini penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis ucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada : dr. Bukhari, SpOG selaku dosen pengajar yang
mana teah memberi masukan dan bimbingan sehingga makalah ini dapat bermanIaat
bagi penulis
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini bermanIaat bagi kita semua,
khususnya kepada pembaca. Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah-
Nya kepada kita semua.
Amin......ya Rabbal alamin.
Langsa, 17 Oktober 2011

penulis



lll

DAFTAR ISI

HALAMAN 1UDUL ................................................................................................ i
KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii

BAB I SIKLUS HAID
1.1DeIenisi Siklus Haid ........................................................................... 1
1.2Siklus Menstruasi ............................................................................... 1
1.3Proses Terjadinya Menstruasi ............................................................. 3

BAB II GANGGUAN HAID
2.1Gangguan Mengenai Banyaknya Jumlah Darah ................................... 6
1. Hipermenorea ............................................................................... 6
2. Hipomenorea ................................................................................ 8
3. Spooting ...................................................................................... 9
2.2Gangguan Mengenai Lamanya Perdarahan .......................................... 11
1. Menoragia .................................................................................... 11
2. Premenstrual Spooting.................................................................. 14
3. Postmenstrual Spooting ................................................................ 14
2.3Gangguan Mengenai Ritmis Siklus Haid ............................................. 14
1. Polimenorea .................................................................................. 14
2. Oligomenorea ............................................................................... 16

BAB III PERDARAHAN DILUAR SIKLUS HAID
3.1Amenorea ......................................................................................... 18
3.2 Metroragia ........................................................................................ 19
3.3 Perdarahan Uterus DisIungsional ..................................................... 21

BAB IV PENUTUP
4.1esimpulan ........................................................................................ 29
4.2Saran ................................................................................................... 30







lv























BAB I
SIKLUS HAID
v

1.1Defenisi siklus haid
Perdarahan secara periodic dan siklik dari uterus akibat terlepasnya
jaringan Iungsional endometrium. Pada wanita dewasa setiap bulannya
terjadi perubahan siklik pada alat kandungan sebagai persiapan kehamilan
Menstruasi atau haid adalah peristiwa alamiah yang dialami setiap
perempuan. Seorang perempuan yang pertama kali mendapat haid adalah
pertanda bahwa ia siap bereproduksi atau menghasilkan keturunan.
Umumnya datangnya haid pertama kali sekitar umur 10-12 tahun. Haid ini
kemudian akan berhenti sama sekali, biasanya sekitar umur 40-50 tahun atau
yang disebut menopause.( Zieltra, 2010)
1.2Siklus Menstruasi
Pada saat seorang bayi perempuan dilahirkan ovariumnya
mengandung ratusan ribu sel telur tetapi belum berIungsi. etika seorang
perempuan memasuki usia pubertas baru ovariumnya mulai berIungsi dan
terjadi proses yang disebut siklus menstruasi ( Zieltra, 2010)
Siklus menstruasi adalah lamanya atau jarak waktu mulainya
menstruasi sampai mulai menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi pada
setiap wanita berbeda-beda. Biasanya, siklus menstruasi umumnya
berlangsung 28 hari namun masih dikatakan normal bila berada dalam
rentang 21-35 hari. Siklus ini tidak selalu sama tiap bulannya. Hal ini dapat
disebabkan oleh beberapa Iaktor seperti gizi, usia dan stres yang kesemuanya
dapat menyebabkan cepat atau tertundanya menstruasi (Zieltra, 2010)
Siklus menstruasi yang terjadi tiap bulannya, terdiri dari 4 tahap yaitu:
vl

1) Stadium menstruasi atau desquamasi
Pada masa ini endometrium meluruh disertai dengan perdarahan,
hanya tersisa lapisan tipis yang disebut stratum basale, stadium ini
berlangsung 4 hari.jadi darah saat haid merupakan campuran dari
potongan-potongan endometrium dan lender dari cerviks.Darah tersebut
tidak membeku sebab adanya Iermen yang mencegah pembekuan darah
dan mencairkan potongan-potongan mukosa. Hanya jika darah terlalu
banyak keluar maka Iermen tersebut tidak mencukupi hingga timbul
bekuan-bekuan darah dalam darah haid. Banyaknya perdarahan selama
haid normalnya sekitar 50 cc (Zieltra, 2010)
2) Stadium post menstruum atau stadium regenerasi
Stadium ini sudah mulai saat stadium menstruasi dan berlangsung
kurang lebih 4 hari.luka pada endometrium berangsur-angsur ditutupi
oleh selaput lendir yang baru.
) Stadium intermensturum atau stadium proliferasi
Endometrium tumbuh menjadi tebal kurang lebih 3,5 cm. kelenjar-
kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari jaringan lain yang berkelok. Stadium
proliIerasi berlngsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari hari pertama
haid.


) Stadium pramensturum atau stadium sekresi
vll

Pada stadium ini endometrium kira-kira tetap tebalnya tapi bentuk
kelenjar berubah menjadi panjang, berliku dan mengeluarkan getah.
Dalam endometrium sudah tertimbun glikogen dan kapur yang kelak
diperlukan sebagai makanan untuk telur. Pada endometrium sudah dapat
dibedakan lapisan atas yang padat (sratum kompaktum) yang hanya
ditembus oleh saluran-saluran keluar dari kelenjar-kelenjar, lapisan
mampung (stratum spongiosum), yang banyak berlubang-lubang karena
disini terdapat rongga dari kelenjar dan lapisan bawah yang disebut
stratum basale. Stadium sekresi ini berlangsung dari hari ke-14-28. jika
tidak terjadi kehamilan maka endometrium dilepaskan dengan perdarahan
dan berulang lagi siklus menstruasi. Pada tahun-tahun pertama datangnya
haid dan pada masa remaja biasanya siklus haid belum teratur, bisa maju
atau mundur beberapa hari. Pada masa remaja, hormon-hormon
seksualnya belum stabil. Semakin dewasa biasanya siklus menstruasi
menjadi lebih teratur, walaupun tetap saja bisa maju atau mundur karena
Iaktor stres atau kelelahan.
1.Proses Terjadinya Menstruasi
Perempuan mengalami menstruasi saat dalam keadaan tidak hamil.
Dalam satu siklus terjadi perubahan pada dinding rahim sebagai akibat dari
produksi hormon-hormon oleh ovarium. Dinding rahim akan makin
menebal sebagai persiapan jika terjadi kehamilan. etika ada sel telur yang
matang akan mempunyai potensi untuk dibuahi oleh sperma hanya dalam
24 jam. Bila ternyata tidak terjadi pembuahan maka sel telur akan mati dan
vlll

terjadilah perubahan pada komposisi kadar hormon yang akhirnya
membuat dinding rahim tadi akan meluruh disertai perdarahan yang akan
dikeluarkan melalui vagina, inilah yang disebut proses terjadinya
menstruasi.
Perempuan tidak mengalami menstruasi pada saat kehamilan.
Biasanya, setelah bayi lahir, haid tidak muncul selama beberapa bulan
karena masa menyusi menunda kedatangan haid.
Seorang wanita memiliki 2 ovarium dimana masing-masing
menyimpan sekitar 200,000 hingga 400,000 telur yang belum
matang/Iolikel (Iollicles). Normalnya, hanya satu atau beberapa sel telur
yang tumbuh setiap periode menstruasi dan sekitar hari ke 14 sebelum
menstruasi berikutnya, ketika sel telur tersebut telah matang maka sel telur
tersebut akan dilepaskan dari ovarium dan kemudian berjalan menuju tuba
Ialopi untuk kemudian dibuahi. Proses pelepasan ini disebut dengan
ovulasi.
Pada permulaan siklus, hipotalamus melepaskan hormon yang
disebut Follicle Stimulating Hormone (FSH) kedalam aliran darah sehingga
membuat sel-sel telur (ovum) tumbuh didalam ovarium. Salah satu atau
beberapa sel telur kemudian tumbuh lebih cepat daripada sel telur lainnya
dan menjadi dominant hingga kemudian mulai memproduksi hormon yang
disebut estrogen yang dilepaskan kedalam aliran darah. Hormone estrogen
bekerjasama dengan hormone FSH membantu sel telur yang dominan
tersebut tumbuh dan kemudian memberi signal kepada rahim agar
lx

mempersiapkan diri untuk menerima sel telur tersebut. Hormone estrogen
tersebut juga menghasilkan lendir yang lebih banyak di vagina untuk
membantu kelangsungan hidup sperma setelah berhubungan intim.
etika sel telur telah matang, sebuah hormon dilepaskan dari dalam otak
yang disebut dengan Luteinizing Hormone (LH). Hormone ini dilepas
dalam jumlah banyak dan memicu terjadinya pelepasan sel telur yang telah
matang dari dalam ovarium menuju tuba Ialopi. Jika pada saat ini, sperma
yang sehat masuk kedalam tuba Ialopi tersebut, maka sel telur tersebut
memiliki kesempatan yang besar untuk dibuahi.
Sel telur yang telah dibuahi memerlukan beberapa hari untuk
berjalan menuju tuba Ialopi, mencapai rahim dan pada akhirnya
'menanamkan diri didalam rahim. emudian, sel telur tersebut akan
membelah diri dan memproduksi hormon Human Chorionic
Gonadotrophin (HCG) yang dapat dideteksi dengan. Hormone tersebut
membantu pertumbuhan embrio didalam rahim.Jika sel telur yang telah
dilepaskan tersebut tidak dibuahi, maka endometrium akan meluruh dan
terjadinya proses menstruasi berikutnya.



BAB II
GANGGUAN HAID
2.1.Defenisi
x

Gangguan haid dapat terjadi akibat adanya system endokrin ataupun
gangguan organic secara umum terdapat 3 macam bentuk gangguan haid
yaitu :
2.1.1 Gangguan mengenai banyaknya jumlah darah
Menstruasi normal adalah sekitar 3-5 kali ganti pembalut/ hari,
gangguannya dapat terjadi :
1. Hipermenorea
Definisi
Perdarahan haid lebih banyak dari normal atau lebih lama dari
normal (lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan darah
sewaktu menstruasi.
Sebab-sebab
1) Hipoplasia uteri, dapat mengakibatkan amenorea,
hipomenorea, menoragia. Terapi : uterotonika
2) Asthenia, terjadi karena tonus otot kurang. Terapi :
uterotonika, roborantia.
3) Myoma uteri, disebabkan oleh : kontraksi otot rahim kurang,
cavum uteri luas, bendungan pembuluh darah balik.
4) Hipertensi
5) Dekompensio cordis ( kegagalan jantung dalam upaya untuk
mempertahankan peredaran darah sesuai dengan kebutuhan
tubuh yang berakibat pada penurunan Iungsi pompa jantung
(Tabrani, 1998; Price, 1995).
xl

6) nIeksi, misalnya : endometritis, salpingitis.
7) RetoIleksi uteri, dikarenakan bendungan pembuluh darah balik.
8) Penyakit darah, misalnya WerlhoII/ hemoIili
Diagnosis Hipermenorea
1) Didapatkan dari keterangan pasien tentang keluhan banyaknya
haid
2) Pada setiap wanita usia ~ 35 tahun, harus dilakukan kuretase,
diagnostic untuk menyingkirkan keganansan
3) Perlu pemeriksaan darah dan Iactor pembekuan darah untuk
menyingkirkan kelainan darah
Pengobatan Hipermenorea
1) Bila dijumpai kelainan organic, perlu diobati kelainannya
2) Pada kelainan hormonal dapat diberikan peparat turunan
progesterone seperti : MPA 10-20 mg/hari, selama 10 hari,
kemudian perlu pengaturan haid selama 3 bulan dengan
pemberian peparat diatas, pada hari ke 16-25 haid dapat
diberikan pil B yang mengandung hormone progesterone
yang tinggi
3) Bila ditemukan adanya kelainan pembekuan darah, maka perlu
diobati kelainannya
2. Hipomenorea
xll

Defenisi
Hipomenore adalah perdarahan haid yang jumlahnya sedikit, ganti
pembalut 1-2 kali per hari, dan lamanya 1-2 hari ( arieI Mansjoer,
1999)
Sebab-sebab
Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan endometrium
kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun maupun
gangguan hormonal stenosis himen, stenosis serviks uteri, sinekia
uteri (sindrom Asherman). Sinekia uteri didiagnosis dengan
histerogram atau histeroskopi.
Tanda dan gejala
1) Waktu haid singkat
2) Perdarahan haid sedikit
Tindakan pengobatan
1) Meningkatkan rasa aman dan kecemasan pasien
2) Bila dijumpai kelainan organic, perlu diobati kelainannya

. Spooting
Defenisi
Spotting adalah bercak darah diluar haid ( Moehtar, 1999)
Mekanisme spoting
xlll

Siklus ditandai dengan Iase proliIeratiI dimana FSH terus
dilepas, kadar FSH menurun 24 jam sebelum ovulasi, LH dilepas,
terdapat sekresi LH yang berlebihan menyebabkan Iolikel terus
menjadi masak. Folikel de GraII menghasilkan estrogen dan
sejumlah progesteron. Folikel de GraII tumbuh sehingga
menimbulkan distensi kapsula ovarii dan kemudian terjadi Iase
sekretorik, dimana LH terus dilepaskan selama beberapa hari dan
kemudian kadarnya menurun dengan cepat, sehingga pada
ovarium, korpus ovarii dan kemudian kadarnya menurun dengan
cepat, sehingga pada ovarium, korpus luteum berkembang dari
Iolikel yang ruptur dan menghasilkan progesteron serta sejumlah
estrogen, progesteron ini mempunyai pengaruh terhadap
endometrium sehingga menjadi lebih tebal dan mengandung
sangat banyak pembuluh darah, selanjutnya masih Iase regresiI
dimana kadar estrogen yang rendah menstimulasi produk FSH
sehingga pertumbuhan dan sekresi endometrium berhenti
iskemia lapisan permukaan sel-sel mati perdarahan dibawah
permukaan pengelupasan secara berangsur-angsur spotting.
(Farrer, 1999)
Penatalaksanaan
Penanganan pada perdarahan bercak / spotting antara lain
menginIormasikan bahwa perdarahan ringan sering dijumpai,
xlv

tetapi hal ini bukanlah masalah yang serius dan biasanya tidak
memerlukan pengobatan. Bila klien tidak dapat menerima
perdarahan tersebut dan ingin melanjutkan suntikan, maka dapat
disarankan pilihan pengobatan, yaitu : siklus pil kontrasepsi
kombinasi (30-35 mg etinilestradiol), ibu proIilin (sampai 800 mg
3 x sehari untuk 5 hari) atau obat sejenis lain. Jelaslah bahwa
selesai pemberian pil kontrasepsi kombinasi dapat terjadi
perdarahan. Bila terjadi perdarahan banyak selama pemberian,
ditangani dengan pemberian 2 tablet Pil kontrasesi perhari selama
3-7hari dilanjutkan dengan 1 siklus pil kombinasi hormonal atau
diberi 50 mg etinilestradiol), ibu proIilin (sampai 800 mg 3 x
sehari untuk 5 hari) atau obat sejenis lain. Jelaskan bahwa selesai
pemberian Pil kontrasepsi kombinsi dapat terjadi perdarahan. Bila
terjadi perdarahan banyak selama pemberian, ditangani dengan
pemberian 2 tablet pil kontrasepsi kombinasi per hari selama 3-7
hari dilanjutkan dengan 1 siklus pil kombinasi hormonal atau
diberi 50 mg etinilestradiol / 1,25 estrogen konjugasi 14 21 hari
(SaiIuddin, 2003).


2.1.2 Gangguan mengenai lamanya perdarahan
xv

Lama perdarahan haid normal adalah 3-7 hari, gangguannya adalah
berupa
1. Menoragia
Defenisi
adalah jumlah perdarahan haid yang berlebihan (lebih dari 80 ml )
pada siklus yang normal. Menstruasi yang berlangsung
berkepanjangan dengan jumlah darah yang terlalu banyak untuk
dikeluarkan setiap harinya dapat menyebabkan tubuh kehilangan
terlalu banyak darah sehingga memicu terjadinya anemia. Gejala-
gejala yang timbul akibat anemia diantaranya adalah napas
menjadi lebih pendek, mudah lelah, jari tangan dan kaki menjadi
kebas, sakit kepala, depresi, konsentrasi menurun, dll ( ndra
Setiawan, 2010)
Tanda Dan Gejala
Penderita menoragia dapat mengalami beberapa gejala seperti:
1) pasien perlu mengganti pembalut hampir setiap jam selama
beberapa hari berturut-turut
2) perlunya mengganti pembalut di malam hari atau pembalut
ganda di malam hari
3) menstruasi berlangsung lebih dari 7 hari
4) darah menstruasi dapat berupa gumpalan-gumpalan darah
5) terdapat tanda-tanda anemia, seperti napas lebih pendek,
mudah lelah, pucat, kurang konsentrasi, dll.( ndra, 2010)
xvl

Penyebab
Timbulnya perdarahan yang berlebihan saat terjadinya
menstruasi (menorragia) dapat terjadi akibat beberapa hal,
diantaranya:
1) adanya kelainan organik :
inIeksi saluran reporduksi, kelainan koagulasi, misal : akibat von
willebrand disease, kekurangan protrombin, idiopatik
trombositopenia purpura (TP),DisIungsi organ yang
menyebabkan terjadinya menoragia seperti gagal hepar atau gagal
ginjal. Penyakit hati kronik dapat menyebabkan gangguan dalam
menghasilkan Iaktor pembekuan darah dan menurunkan hormon
estrogen ( ndra, 2010)
2) elainan hormon endokrin misal akibat kelainan kelenjar tiroid
dan kelenjar adrenal, tumor pituitari, siklus anovulasi, Sindrome
Polikistik Ovarium (PCOS), kegemukan, dll
3) elainan anatomi rahim seperti adanya mioma uteri, polip
endometrium, hiperplasia endometrium, kanker dinding rahim
dan lain sebagainya.
4) atrogenik : misal akibat pemakaian UD, hormon steroid, obat-
obatan kemoterapi, obat-obatan anti-inIlamasidan obat-obatan
antikoagulan ( ndra, 2010)
xvll

Pengobatan
Menorrhagia sangat tergantung kepada penyebabnya. Untuk
memastikan penyebabnya, dokter akan melakukan beberapa
pemeriksaan seperti pemeriksaan darah, tes pap smear, biopsi dinding
rahim, pemeriksaan USG, dan lain sebagainya. Jika menoragia diikuti
oleh adanya anemia, maka zat besi perlu diberikan untuk
menormalkan jumlah hemoglobin darah. Terapi zat besi perlu
diberikan untuk periode waktu tertentu untuk menggantikan cadangan
zat besi dalam tubuh.
Selain itu, menorrhagia juga dapat diterapi dengan pemberian
hormon dari luar, terutama untuk menorrhagia yang disebabkan oleh
gangguan keseimbangan hormonal. Terapi hormonal yang diberikan
iasanya berupa obat kontrasepsi kombinasi atau pill kontrasepsi yang
hanya mengandung progesteron.
Menorrhagia yang terjadi akibat adanya mioma dapat diterapi
dengan melakukan terapi hormonal atau dengan pengangkatan mioma
dalam rahim baik dengan kuretase ataupun dengan tindakan operasi

2. Premenstrual Spooting ( Bercak diawal menstruasi)
3. Postmenstruan Spooting ( Bercak diakhir menstruasi)
2.1.Gangguan mengenai ritmis siklus haid
xvlll

Ritmis siklus normal adalah sekitar 25-31 hari( eumenorea).
Ganguan nya berupa
1. Polimenorea
Defenisi
panjang siklus haid kurang dari 21 hari (normal 21-35).
eadaan polimenore bisanya terjadi pada siklus ovulatoar maupun
pada siklus anovulatoar ( Lusa, 2010)
WanlLa dengan pollmenorea akan mengalaml hald hlngga dua kall
aLau leblh dalam sebulan dengan pola yang LeraLur dan [umlah
perdarahan yang relaLlf sama aLau leblh banyak darl blasanya ( shoflya
2011)
Penyebab
Timbulnya haid yang lebih sering ini tentunya akan
menimbulkan kekhawatiran pada wanita yang mengalaminya.
Polimenorea dapat terjadi akibat adanya ketidakseimbangan sistem
hormonal pada aksis hipotalamus-hipoIisis-ovarium. etidak
seimbangan hormon tersebut dapat mengakibatkan gangguan pada
proses ovulasi (pelepasan sel telur) atau memendeknya waktu yang
dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu siklus haid normal sehingga
didapatkan haid yang lebih sering. Gangguan keseimbangan hormon
dapat terjadi pada:
1) 3-5 tahun pertama setelah haid pertama
2) Beberapa tahun menjelang menopause
xlx

3) Gangguan indung telur
4) Stress dan depresi
5) Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa,
bulimia)
6) Penurunan berat badan berlebihan
7) Obesitas
8) Olahraga berlebihan, misal atlit
9) Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antikoagulan, aspirin,
NSAD, dll
Penatalaksanaan
Pada umumnya, polimenorea bersiIat sementara dan dapat
sembuh dengan sendirinya. Penderita polimenorea harus segera
dibawa ke dokter jika polimenorea berlangsung terus menerus.
Polimenorea yang berlangsung terus menerus dapat menimbulkan
gangguan hemodinamik tubuh akibat darah yang keluar terus
menerus. Disamping itu, polimenorea dapat juga akan menimbulkan
keluhan berupa gangguan kesuburan karena gangguan hormonal pada
polimenorea mengakibatkan gangguan ovulasi (proses pelepasan sel
telur). Wanita dengan gangguan ovulasi seringkali mengalami
kesulitan mendapatkan keturunan (ShoIiya, 2011)
2. Oligomenorea
xx

Definisi
Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus haid
memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap
sama. Wanita yang mengalami oligomenorea akan mengalami haid
yang lebih jarang daripada biasanya. Namun, jika berhentinya siklus
haid berlangsung lebih dari 3 bulan, maka kondisi tersebut dikenal
sebagai amenorea sekunder.
Penyebab
Oligomenorea biasanya terjadi akibat adanya gangguan
keseimbangan hormonal pada aksis hipotalamus-hipoIisis-ovarium.
Gangguan hormon tersebut menyebabkan lamanya siklus haid normal
menjadi memanjang, sehingga haid menjadi lebih jarang terjadi.
Oligomenorea sering terjadi pada 3-5 tahun pertama setelah haid
pertama ataupun beberapa tahun menjelang terjadinya menopause.
Oligomenorea yang terjadi pada masa-masa itu merupakan variasi
normal yang terjadi karena kurang baiknya koordinasi antara
hipotalamus, hipoIisis dan ovarium pada awal terjadinya haid pertama
dan menjelang terjadinya menopause, sehingga timbul gangguan
keseimbangan hormon dalam tubuh. Disamping itu, oligomenorea
dapat juga terjadi pada:
1) Gangguan indung telur, misal : Sindrome Polikistik Ovarium
(PCOS)
2) Stres dan depresi
xxl

3) Sakit kronik
4) Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa,
bulimia)
5) Penurunan berat badan berlebihan
6) Olahraga berlebihan, misal atlit
7) Adanya tumor yang melepaskan estrogen
8) Adanya kelainan pada struktur rahim atau serviks yang
menghambat pengeluaran darah haid
9) Penggunaan obat-obatan tertentu
Penatalaksanaan
Umumnya oligomenorea tidak menyebabkan masalah, namun pada
beberapa kasus, dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Pemeriksaan
ke dokter kandungan harus dilakukan ketika oligomenorea berlangsung
lebih dari 3 bulan dan mulai menimbulkan gangguan kesuburan
( shoIiya, 2011)

BAB III
PERDARAHAN DILUAR SIKLUS HAID
.1Amenorea
.1.1Defenisi
xxll

Adalah suatu keadaan dimana tidak adanya haid paling sedikit 3 bulan.
Amenorea primer adalah tidak mendapatnya haid pada seseorang wanita
yang sudah berubur 18 tahun.
Amenorea skunder adalah seorang wanita yang mendapat haid, kemudian
tidak mendapat haid selama 3 bulan
Amenorea Iisiologis dapat terjadi :
1. Sebelum puberitas
2. ehamilan
3. Dalam masa laktasi
4. Dalam masa menopause
.1.2 Klasifikasi Amenorea
1. DisIungsi Hipotalamus
Disebabkan oleh psikogen berupa kesedihan, pindah lingkungan,
kehamilan palsu, anoreksia nervosa, pertambahan berat badan, kelainan
organic seperti : tumor, trauma, inIeksi, proses degenerative
2. DisIungsi HipoIise
nsuIiensi adenohipoIise, tumor seperti akromegali, basophil adenema,
radang, proses degenerative seperti TBC dan LUES
3. DisIungsi ovarium
elainan kongenital seperti hypoplasia ovary, ovarium polikistik( stein
levental, Tumor ovarium, radiasi
4. PeriIer yang tidak bereaksi
Endometrium yang tidak bereaksi pada asherman syndrome atau TBC
xxlll

5. Penyakit lain
TBC, penyakit metabolic seperti : thyroid pancreas, kelainan gizi,
kelainan hepar dan ginjal
.1.Pengobatan
TeraIi amenora tergantung pada etiologinya secara umum adalah :
1. Diberikan hormone untuk merangsang ovulasi
2. Merangsang hypothalamus (Clomiphen Sitrat)
3. Gonadotropin sebagai subsitusi teraIi
4. Pemberian progesterone atau pil B
5. radiasi dari ovarium
6. Thyroid bila ada hypoIungsi kelenjar teroid
7. Prolactin bila ada gangguan dengan produksi hormone prolactin
8. esehatan umum harus diperbaiki
9. Amenorea karena TBC susah diobati
.2Metroragia

.2.1 Defenisi
Metroragia adalah perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada
hubungannya dengan haid. Metroragia merupakan suatu perdarahan
iregular yang terjadi di antara dua waktu haid. Pada metroragia, haid terjadi
dalam waktu yang lebih singkat dengan darah yang dikeluarkan lebih
sedikit. Metroragia tidak ada hubungannya dengan haid, namun keadaan ini
sering dianggap oleh wanita sebagai haid walaupun hanya berupa bercak
.2.2Klasifikasi
xxlv

1. Metroragia oleh karena adanya kehamilan, seperti abortus, kehamilan
ektopik.
2. Metroragia diluar kehamilan
.2.Penyebab
Metroragia diluar kehamilan dapat disebabkan oleh luka yang tidak
sembuh, carcinoma corpus uteri, carcinoma cervicitis, peradangan dari
haemorrhagis (seperti kolpitis haemorrhagia, endometritis haemorrhagia),
hormonal.
Perdarahan Iungsional:
1) Perdarahan Anovulatoar, disebabkan oleh psikis, neurogen, hypoIiser,
ovarial (tumor atau ovarium yang polikistik) dan kelainan gizi,
metabolik, penyakit akut maupun kronis.
2) Perdarahan Ovulatoar, akibat korpus luteum persisten, kelainan
pelepasan endometrium, hipertensi, kelainan darah dan penyakit akut
ataupun kronis.( Avie, 2011)

.Perdarahan Uterus Disfungsional
..1Definisi & Incidensi
PUD adalah perdarahan uterus abnormal (jumlah, Irekuensi, dan
lamanya), yang terjadi baik di dalam maupun di luar siklus haid, yang
xxv

semata-mata disebabkan hanya oleh gangguan Iungsional mekanisme
kerja hipotalamus-hipoIisis-ovarium-endometrium tanpa ada kelainan
organik alat reproduksi (tumor, inIeksi, atau kehamilan).
PUD paling banyak dijumpai pada usia perimenars dan usia
menopause, Sekitar 20 kasus PUD terjadi pada usia adolescents dan
40 pada wanita usia lebih dari 40 tahun, Obesitas, olahraga yang
berlebihan, dan stress emocional dapat menjadi Iactor resiko terjadinya
PUD, PUD sering terjadi pada wanita dengan polycystic ovary syndrome
(PCOS), juga pada wanita yang menggunakan UD, PUD sering overlaps
dengan gangguan haid : Menorrargia, Metrorrhagia, dan Polymenorrhea
..2Penyebab Dan Gejala
PUD terjadi saat endometrium dirangsang pertumbuhannya oleh hormon
estrogen. etika estrogen mendominasi dibandingkan progesterone, maka
endometrium terus tumbuh dan meningkatkan jumlah perdarahan saat
mengelupas, yang akhirnya menyebabkan perdarahan tidak teratur.
Perdarahan di luar siklus menstruasi dapat disebut PUD, jika menunjukkan
gejala: Perdarahan pervagina diantara siklus menstruasi, Siklus menstruasi
yang abnormal, siklus menstruasi yang bervariasi (biasanya kurang dari 28
hari diantara siklus menstruasi), Variable menstrual Ilow ranging Irom
scanty to proIuse ,nIertil, Mood yang berIluktuasi, Hot Ilashes ,
ekeringan vagina Hirsutism ,Jika perdarahan berlangsung lama dan
dalam jumlah yang banyak, maka akan menyebabkan anemia,
xxvl

.. Patologi
1. PUD terjadi sekunder karena gagalnya pematangan Iolikel ovarium
hingga mencapai ovulasi dan pembentukan korpus luteum
(anovulasi). ni akan mengakibatkan produksi estrogen yang terus
menerus oleh Iolikel, dan tanpa adanya korpus luteum berarti
progesterone tidak diproduksi.
2. Perubahan keadaan hormonal ini akan mengakibatkan periode
perdarahan anovulatoir yang bergantian dan biasanya sangat berat,
serta amenore.
3. eadaan ini disebabkan oleh perangsangan estrogen dalam derajat
yang berbeda-beda terhadap endometrium, serta juga oleh penurunan
estrogen.
4. Frekuensi episode perdarahan periodic tergantung dari variasi
jumlah Iolikel yang berIungsi. Beberapa dapat menjadi aktiI pada
waktu yang bersamaan, mengakibatkan produksi estrogen dalam
kadar yang tinggi.
5. Tingginya kadar estrogen dan tidak adanya progesteron
mempengaruhi endometrium sehingga terjadi proliIerasi selama
beberapa minggu atau bulan.
6. Terjadinya penurunan estrogen, dapat disebabkan oleh degenerasi
beberapa Iolikel, atau semakin meningkatnya kebutuhan akan
estrogen dengan makin membesarnya jaringan endometrium
sehingga produksinya tidak mencukupi.
xxvll

7. edua keadaan ini mengakibatkan perdarahan karena penurunan
estrogen, yang berbeda dalam hal saat terjadinya, lamanya, dan
jumlahnya.
8. Pada usia perimenars, perdarahan yang berlebihan, tidak teratur, dan
berkepanjangan, biasanya berkaitan dengan belum matangnya
sumbu hipotalamus-hipoIisis- ovarium, sehingga mengakibatkan
siklus anovulatoir pada 20 kasus.
9. Pada 2 tahun pertama setelah menarke, insidens siklus anovulatoir
sebesar 75 atau lebih, dan hamper 50 pada 2 tahun berikutnya.
10.Jika perdarahan sangat berat, dapat terjadi keadaan akut yang
membutuhkan penanganan yang tepat, karena timbul hipovolemia
dan anemia sekunder akibat kehilangan darah.
..Pengobatan
1. Cukup pemberian progesteron secara siklik dari hari ke-16-25
siklus haid selama 3 bulan.
2. Setelah itu dilihat apakah perdarahan berulang lagi dan kalau
mungkin dilihat pula apakah telah terjadi ovulasi.
3. Progesteron yang paling banyak dianjurkan penggunannya pada
usia perimenars adalah progesteron turunan lamiah seperti
Medroksi Progesteron Asetat (MPA).
4. Jenis hormon tersebut tidak begitu kuat merangsang pusat panas di
hipotalamus.
xxvlll

5. Bila setelah 6 bulan pengobatan tetap juga tidak terjadi ovulasi,
maka dipikirkan pemberian obat-obat pemicu ovulasi seperti
klomiIen sitrat, epimestrol, ataupun hormon gonadotropin.
6. PUD pada usia menopause
1) Perimenopause adalah usia anatara masa pramenopause dan
pascamenopause, yaitu sekitar menopause (umur 40 52
tahun).
2) Setiap perdarahan/gangguan haid yang terjadi pada usia
perimenopause harus dipikirkan terhadap adanya keganasan
uterus.
3) Oleh karena itu harus dilakukan tindakan dilatasi dan kuretase
terlebih dahulu.
4) Bila hasil pemeriksaan patologi anatomic menunjukkan adanya
suatu hyperplasia endometrium (kistik/adenometosa), maka
dapat dicoba terlebih dahulu dengan pemberian progesterone.
5) Pengobatan pada umumnya berlangsung sampai 6 bulan.
Setiap 3 bulan harus dilakukan mikrokuret.
6) Bila hasil mikrokuret tidak menunjukkan adanya perubahan
terhadap pengobatan dengan progesterone, maka lebih baik
dianjurkan untuk melakukan histerektomi.
7) Jenis progesterone yang sering dipakai, murah dan mudah
didapat adalah DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)
yaitu dengan cara stner.
xxlx

8) Cara pemberiannya adalah sebagai berikut, 100 mg DMPA
setiap 2 minggu selama 4 kali pemberian. Dua minggu setelah
pemberian yang ke-4, dosis dinaikkan menjadi 200 mg selama
1 kali pemberian saja dan sesudah itu 200 mg setiap 4 minggu
selama 5 kali pemberian lagi.
9) Jumlah total pemberian DMPA adalah 10 kali. Dapat pula
digunakan progesterone jenis lain yang ada di pasaran.
7. PUD Berat
1) Diberikan Estrogen konjugasi dosis tinggi 25 mg i.v. yang
dapat diulang setiap 3-4 jam.
2) Obat ini hanya boleh diberikan paling banyak4 kali suntikan.
3) eberhasilan pengobatan adalah 22 setelah suntikan
pertama, dan 64 setelah suntikan kedua, kegagalannya
14,7.
4) Bila terdapat kontraindikasi penggunaan estrogen, maka
dapat diberikan progesterone 100 mg i.v.
5) Sediaan progesteron yang dapat dipakai untuk menghentikan
perdarahan adalah DMPA (Depo Medroksi Progesteron
Asetat)
6) atau etinodiol diasetat.
..5Prinsip Dasar Penanganan PUD
Ada beberapa prinsip dasar pengobatan :
1. Singkirkan dahulu kelainan organik/darah.
xxx

2. Bila terjadi perdarahan banyak/keadaan umum wanita jelek atau
anemia, hentikan perdarahan segera dengan injeksi estrogen atau
dengan progesteron.
3. Perdarahan yang tidak sampai mengganggu keadaan umum pasien,
pengobatannya cukup dengan estrogen dan/atau progesteron oral
saja.
4. Setelah perdarahan dapat dihentikan/gangguan haid dapat diatasi,
maka tindakan selanjutnya hadala mengatur siklus haid penderita
tersebut 3 bulan berturut-turut.
5. Setelah 3 bulan pengaturan siklus haid keadaan kembali lagi seperti
semula, maka harus dicari penyebab lain (analisis hormonal).
6. Untuk mengehentikan perdarahan/gangguan haid pada wanita PUD
dapat diberikan tablet kombinasi estrogen dan progesteron 2
kali/hari, selama 3 hari berturut-turut.
7. Contoh sedian estrogen yang dapat digunakan adalah estrogen
konjugasi 0,625-1,25 mg atau estradiol valerianat 2 mg, sedangkan
contoh sedian progesteron adalah medroksi progesteron asetat 5-10
mg, didrogesteron 5-10 mg/hari atau linestrenol 5 mg.
8. Biasanya kalau perdarahan yang terjadi benar-benar disebabkan
oleh kelainan hormonal, bukan kelainan organik, maka perdarahan
akan berhenti dan 3 hari kemudian akan terjadi perdarahan lucut
yang lamanya 4-6 hari.
xxxl

9. alau ada kelainan organik perdarahan tidak akan berhenti, atau
kalupun berhenti beberapa hari kemudian pasti akan terjadi
perdarahan banyak lagi.
10.Penanganan Penanganan PUD tergantung pada penyebab dari
perdarahan dan usia pasien.
11.Pada umumnya langkah awal untuk penanganan PUD adalah
dengan menggunakan kontrasepsi oral untuk menyeimbangkan
hormone estrogen dan progesterone.
12. ontrasepsi oral sangat eIektiI pada wanita adolescence. NSADs
(nonsteroidal anti-inIlammatory drugs), seperti Naprosyn dan
Motrin, juga digunakan untuk pengobatan PUD
13.Selain terapi hormonal, pembedahan dapat dilakukan.
14.uretase dan dilatasi dapat mengurangi gejala dari PUD.
15.Hysterectomy dapat dilakukan dengan syarat pasien sudah
mendapatkan anak yang cukup.
16.Pemberian besi yang cukup sangat dibutuhkan untuk mengurangi
resiko anemia.
..6Komplikasi
1. nIertilitas akibat tidak adanya ovulasi
2. Anemia berat akibat perdarahan yang berlebihan dan lama
3. Pertumbuhan endometrium yang berlebihan akibat
ketikseimbangan hormonal merupakan Iaktor penyebab kanker
endometrium.
xxxll
















BAB IV
PENUTUP
.1 Kesimpulan
Gangguan Haid adalah perdarahan haid yang tidak normal dalam hal :
panjang siklus haid, lama haid, dan jumlah darah haid. Melibatkan hipotalamus,
hipoIisis, ovarium dan endometrium
xxxlll

Plpermenorea adalah Perdarahan haid lebih banyak dari normal atau
lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan darah
sewaktu menstruasi.
Menoragia adalah jumlah perdarahan haid yang berlebihan (lebih dari 80
ml ) pada siklus yang normal.
Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus haid memanjang
lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap sama.
Adalah suatu keadaan dimana tidak adanya haid paling sedikit 3 bulan.
Metroragia adalah perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya
dengan haid.
PUD adalah perdarahan uterus abnormal (jumlah, Irekuensi, dan
lamanya), yang terjadi baik di dalam maupun di luar siklus haid, yang semata-
mata disebabkan hanya oleh gangguan Iungsional mekanisme




.2Saran
1. Pasangan Usia Subur
Penulis memberikan saran kepada ibu pasangan usia subur agar lebih
memperhatikan siklus haid setiap bulannya sehingga tidak menimbulkan
masalah baru
2. Instansi Kesehatan
xxxlv

Agar lebih memperhatikan ibu dengan pasangan usia subur dan memberikan
inIormasi tentang pentingnya memperhatikan siklus haid setiap bulannya,
sehingga tidak timbul masalah baru dalam kesehatan reproduksi