Anda di halaman 1dari 2

STRUKTUR DAN BENTUK KUTA

Struktur dan bentuk suatu kota tidak terlepas dari pertumbuhan dan perkembangan
kota. Pertumbuhan kota dapat dilihat dari bertambahnya area terbangun, jumlah penduduk,
maupun luas areanya. Pertumbuhan ini terjadi karena adanya competitive advantages yang
meliputi ketersediaan modal, sumber daya manusia, sumber daya alam, dan infrastuktur
yang memadai. Pertumbuhan kota dicirikan dengan makin tingginya jumlah penduduk yang
dibarengi dengan tingginya intensitas kegiatan social dan ekonomi, kepadatan bangunan
tinggi, dan keterbatasan lahan yang berlawanan dengan pembangunan yang tinggi.
Sedangkan perkembangan kota ditandai dengan semakin luas area terbangun, pemekaran
kota ke arah pinggiran. Adanya pertumbuhan dan perkembangan kota inilah menyebabkan
perubahan bentuk dan struktur kota.
Bentuk dan struktur ruang kota dapat dipahami dalam berbagai persepsi mengenai
unsure-unsur pembentuk kota.
Menurut Kevin Lynch: Path, Edge, District, Node, dan Landmark.
Menurut Doxiadis: Alam (Nature, ndividu manusia (Antropos, Masyarakat (Society,
Ruang kehidupan (Shells, dan Jaringan (Network.
Menurut Kus Hadinoto (1970-an: yaitu Wisma (tempat tinggal, Karya(tempat
bekerja, Marga (jaringan pergerakan/jalan, Suka(tempat rekreasi/hiburan, dan
Penyempurna (prasarana sarana.
Menurut Patrick Geddes: Place (tempat tinggal, Work (tempat kerja, dan Folk
(tempat bermasyarakat
Tinjauan terhadap struktur tata ruang internal kota dapat dilakukan dengan berbagai
pendekatan antara lain:
pendekatan ekologikal, yaitu meninjau kota sebagai suatu objek studi yang di
dalamnya terdapat masyarakat yang kompleks, telah mengalami proses interrelasi
antar manusia dan antara manusia dengan lingkungannya.
pendekatan ekonomi, yaitu bahwa struktur tata ruang kota didasarkan pada
pemahaman bahwa nilai lahan, rent dan cost mempunyai kaitan yang erat dengan
pola penggunaan lahan.
pendekatan morfologi kota, yaitu melihat bahwa keruangan kota dapat dilihat dari
pola fisik atau susunan elemen fisik kota seperti bangunan dan lingkungan, sehingga
bentuk kota dapat dibedakan antara bentuk kota yang kompak dan bentuk kota yang
tidak kompak.
pendekatan sistem kegiatan, yaitu melihat bahwa struktur kota terbentuk sebagai
intervensi terhadap wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang yang berkembang
secara alamiah berdasarkan kecenderungan.
Struktur tata ruang kota memiliki berbagai peranan antara lain yaitu: sebagai titik
pusat pertumbuhan baru, sebagai kawasan pendukung industri, pendidikan, perdagangan
dan jasa serta sebagai pengarah jaringan infrastruktur.
Struktur ruang sendiri berbeda dengan bentuk kota. Bentuk kota dipengaruhii
bentukan alam, sesuai pertumbuhan karakteristik sosial dan ekonomi serta mengakomodasi
kegiatan penduduk dg efisien. Contohnya yaitu bentuk linier, kipas, grid iron, octopus, dan
sebagainya. Sedangkan struktur kota merupakan bentuk yang mapan, tidak berubah dalam
jangka waktu pendek, dan dapat diprediksi dalam jangka panjang. Contohnya yaitu
konsentris, sektoral, dan multiple nuclei.
Bentuk kota-kota di Eropa memiliki bentuk kota kompak dengan adanya efisiensi
perjalanan, investasi jaringan infrastruktur terpadu. Sedangkan di ndonesia bentuk dan
struktur kota berupa permukiman kampung dengan pekarangan, diantara lahan pertanian,
hutan, sungai sehingga rawan urban sprawl.
Beberapa upaya untuk mengubah struktur dan bentuk kota di ndonesia anatra lain
upaya urban renewal, resettlement, alih fungsi penggunaan lahan permukiman menjadi non
permukiman dan sebaliknya, perubahan jaringan infrastruktur, desentralisasi, dekonsentrasi
planologis, dll. Dalam melakukan upaya tersebuta terdapat beberapa permasalahan antara
lain bagaiman mengubah bentuk urban sprawl menjadi kota kompak, bagaimana mendidik
masyarakat agar mengarah pada pembangunan berkelanjutan, bagaimana pelibatan aktor
pengembang, pengambil kebijakan, konsumen dalam membentuk struktur ruang dan
pembentukan kota yg berkelanjutan.