Anda di halaman 1dari 4

Bagaimanakah Jika Pasar BBM Di Indonesia Bersifat Persaingan Atau Terbuka (Tidak Monopoli)?

Sejak berlakunya UU No 22 Tahun 2001 mengantikan UU No 8 Tahun 1971 yaitu tentang pencabutan kuasa pertambangan yang diberikan kepada Pertamina dan dikembalikan lagi ke pemerintah, dimana pemerintah membentuk Badan Pelaksana yang mengatur usaha migas ke sektor hulu (BP Migas) dan Badan Pengatur yang mengatur usaha migas ke sector hilir (Batur Migas). Dengan demikian Pertamina menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sama seperti halnya perusahaan asing sebagai KPS (Kontrak Psoduction Sharing). Hasil migas yang diperoleh dari hasil eksplorasi dan eksploitasi sudah bukan menjadi tanggungjawab Pertamina (satu pintu), melainkan langsung diserahkan pada kontraktor untuk menjual ke pasar luar negeri ataupun domestik. Keadaan yang terjadi di Indonesia tersebut mendorong berubahnya bentuk pasar BBM dari monopoli oleh Pertamina menjadi lebih persaingan. Dengan demikian, akan muncul dampak negative dan positif dalam kebijakan ini. Salah satu kelemahan UUM 22 Tahun 2001 ini yaitu dapat membahayakan pasokan migas di domestic yang pada akhirnya yang merasakan adalah rakyat. Pemecahan sektor hulu dan hilir akan menaikkan harga jual BBM karena setiap proses rantai bisnis akan mendapat balas jasa keuntungan sebagai cerminan risiko bisnis, di samping itu juga menimbulkan biaya transaksi di segmen usaha dan pajak. Berikut perbandingan struktur harga BBM yang dapat dilihat dalam table berikut: Tabel 1. Perbandingan Struktur Harga BBM (2001) Dalam Mekanisme Pasar Persaingan Dan Monopoli Alamiah
Patokan Penetapan Harga BBM HPP Pertamina Biaya Pengadaan Minyak Mentah (90%) + biaya Stabilit as Harga BBM stabil Asumsi: Harga Crude US$ 1 = Rp 9.000 HPP = Rp 1.500/lt (termasuk biaya impor BBM Rp 400/lt & crude prorate Struktur Pasar BBM Monopoli alamiah. Pemain tunggal dg AC rendah. (Pola UU B/1971) Distribusi Keuntungan/Kerugi an Harga Keppres (Hk) > HPP Seluruh keuntungan masuk APBN sebagai LBM Hk < HPP

operasi

minyak mentah 5%) MOPS + 15% = Rp 1.650/lt

Harga pasar fluktua Internasional + 15 % si

Pasar persainga n (Pola UU 22/2001) Sumber: Kurtubi. Diolah lagi oleh Bambang Eko A Keterangan: HPP: Harga Pokok Penjualan, MOPS = Mid Oil Platt Singapore

Seluruh kerugian menjadi beban APBN sebagai subsidi BBM HK = HE (hukum ekonomi) Seluruh keuntungan untuk pelaku usaha

Dari gambar 4.3.1 dan table 4.3 terlihat jelasperbedaan kedua system yang dilandasi oleh perundang undangan. UUM 22 tahun 2001 yang berorientasi pada pasar disbanding dengan UU No. 8 tahun 1971 nyang memberikan monopoli ( kuasa pertambangan ) pada pertamina yaitu menghasilkan harga BBM yang berbeda. Jadi, dengan sistem kompetisi atau pasar persaingan belum tentu memberikan harga BBM yang rendah, namun justru menghasilkan harga BBM yang lebih mahal. Karena itu, konsepsi bahwa pasar persaingan selalu mengalokasikannya adlah belum tentu benar. Penyebabnya adalah integrasi ( vertical maupun horizontal ) yang melibatkan banyak pasar,dan bukan hanya semata mata berlaku untuk satu pasar tertentu. Selain itu satu perusahaan yang melayani beberapa pasar menghadapi ketidakpastian yang lebih kecil daripada sejumlah peruahaan yang melayani pasar pasar tersebut sewcara independen ( Tirole, 1998 ). Lebih jauh dengan pasar kompetisi, maka keluaran atau produksi lebih didorong untuk ditingkatkan atau dengan kata lain produksi dilakukan sebanyak-banyaknya. Padahal BBM merupakan energi yang berasal dari fosil dan tergolong SDA yang tidak terbarukan dan bisa musnah sehingga pasar kompetesi akan mempercepat deplesi atau pengursannya. Pada akhirnya hal itu melanggar prinsip dasar konsumsi energy yaitu masyarakat tidak didorong untuk membeli banyak. Memang salah satu kelemahan monopoili adalah barrier entry bagi para pemain baru akibat rata-rata biaya yang rendah dan juga control terhadap kualitas barang menjadi lemah, termasuk pula kecenderungan korupsi. Tetapi untuk energy, pasar kompetitif belum tentu efisien karena factor sakala ekonomi. Secara teoritis monopoli memang menyebabkan tidak efisien. Namun sekali lagi mengingat kebutuhan BBM menyangkut hajat hidup orang banyak maka secara umum selama

sekitar satu abad sejarah penyediaan BBM di kebanyakan Negara, pengadaannya diberikan hak monopoli alamiah kepada suatu perusahaan tertentu, hanya saja diatur oleh pemerintah dengan regulasi tertentu untuk melindungi konsumen. Dengan monopoli dan terintergrasi secara vertical menyebabkan biaya semakin menurun (efisien) pada periode tertentu. Untuk menjaga agar tetap bekerja secara efisien, maka diperlukan regulator yang mengontrol harga sama dengan biaya rata-rata.
P Pm

Pr Ps LR-AC LR-MC AR = D Qm MR Dari Gambar 1. diatas dapat dilihat bahwa jika pasar monopoli tidak diatur maka bekerja pada keseimbangan di titik E (MR=MC) dengan harga Pm dan output sebanyak Qm. Untuk menghindari monolopis hanya mmepeorduksi sedkiti output, maka perlu diberikan regulasi. Dengan ditetapkan regulasi , maka monopolis akan bekerja pada LR-AC (Long Run Average Cost) sehingga menjadi Pr, dan putput sebnayak Qr. Pada jangka panjang monopolis bekerja dengan LR-MC (long run marginal cost) menurun. Secara teoritis kondisi yang terbaik yaitu harga (Ps) sana dengan LR-MC dengan keluaran Qs. Namun, jika harga ditetapkan sama dengan LRMC, maka monopoli tidak mampu menutup seluruh biaya sehingga mengalami kerugian. Untuk itu, harga yang masih wajar adalah jika ditetapkan sama dengan LR-AC, walaupun masih terdapat deadweight loss (DWL) dan monopolis memproduksi lebih sedkit. Dari kelemahan monopoli tersebut tetap saja kesejahteraan konsumen lebih bisa didapat melalui penerapan monopoli alamiah yang diregulasi. Yaitu konsumen akan mendapat harga BBM yang lebih murah karena jika ada produsen yang akan masuk yang tentunya memiliki AC yang lebih tinggi, akan kesulitan masuk pasar, sehingga harga yang berlaku tetaplah harga regulasi. Qr Qs Q(harga)

Akhirnya dapat dikatakan bahwa perubahan struktur pasar BBM yang berorientasi pasar kompetisi tidak selalu membawa keuntungan atau mnafaat bagi rakyat, yakni harga energy yang murah. Sebaliknya hal itu dapat berakibat fatal yaitu harga energy menjadi mahal akibat ketidakefisienan dengan menambah rantai bisnis. Ini buka sekedar berubah naik atau turun, yang terpenting bahwa BBM dapat mencerminkan nilai keekonomian dari energy sehingga harga tersebut menun jukkan keadilan, efisien, dan tentu saja harga energy tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat.