Anda di halaman 1dari 17

Number 1 Analisis PERPRES No.

54 Tahun 2010 tentang pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dengan menggunakan metode Economic Analysis Of Law dengan tujuan untuk mendorong kebijakan pengadaan barang yang menggunakan kayu bersertifikasi legalitas kayu.

Penenebangan liar sudah mencapai batas kewajaran dan sudah memasuki kawasan hutan lindung yang mana kawasan hutan ini merupakan hutan yang menyuplai oksigen di seleruh dunia,jika ini di biarkan terus menerus mungkin akan menyebabkan ketidak keseeimbangan kelangsungan hidup di bumi terutama di indonesia.misalnya saja kondisi musim yang sudah tidak bisa di prediksi lagi kapan musim hujan dan musim panas yang menyebabkan para petani juga kebingungan dalam melakukan kegiatan pertanian.Ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menghentikan para pelaku illegal logging.karena para pelaku illegal logging adalah penyebab utama penggundulan hutan di indonesia.penggudulan hutan di indonesia sudah mencapai 2.0-2.5 mungkin setara dengan 20x lapangan sepak bola.Pemerintah harus bisa menghentikan aktivitas illegal logging dan harus bisa mengelola hutan di indonesia karena kita tahu bahwa hutan di indonesia adalah hutan terbesar di dunia dan menyuplai 80% oksigen dan kebutuhan akan kayu di seluruh dunia.Tantangan baru bagi pemerintah bagaimana mengelolahnya dan bisa menjadikan provit bagi pemerintah dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dalam kebijakan Undang-undang tentang kehutanan yang dalam UUD 41 Tahun 1999 di sebutkan bahawa 1. Hutan sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara, memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal, serta dijaga kelestariannya untuk

sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.

2. Hutan sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat, cenderung menurun kondisinya, oleh karena itu

keberadaannya harus dipertahankan secara optimal, dijaga daya dukungnya secara lestari, dan diurus dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana,terbuka, profesional, serta bertanggung-gugat.

3. bahwa pengurusan hutan yang berkelanjutan dan berwawasan mendunia, harus menampung dinamika aspirasi dan peranserta masyarakat, adat dan budaya, serta tata nilai masyarakat yang berdasarkan pada norma hukum nasional.

Sebagaimana yang tertulis di atas bahwa hutan merupakan karunia Tuhan yang maha ESA dan dalam penguasaanya (dalam perlindungan) oleh pemerintah dan agar terciptanya keadilan dan kesejahteraan masyarakat.hutan di kelola dan di manfaatkan secara optimal, serta dijaga kelestariannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang sebaik-baiknya .Dan dalam pelaksanaannya atau yang mengelola hutan di indonesia adalah pihak yang berwenang yaitu pemerintah.Sesuai dengan UUD 41 Tahun 1999 dalam pasal 3 dan 4 tentang tujuan penyelenggaraan pengelolaan hutan dan penguasaan hutan. Pasal 3 Penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan:  menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional.  mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi, yang seimbang dan Lestari.  meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai.  meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal.

 menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan. Pasal 4 Penguasaan Hutan

1) Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 2) Penguasaan hutan oleh Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberi wewenang kepada pemerintah untuk: a) mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan,dan hasil hutan. b) menetapkan status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan atau kawasan hutan sebagai bukan kawasan hutan c) mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum antara orang dengan hutan,serta mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan. 3) Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.

Kebijakan pemerintah akan peratauran tentang kehutanan agar Serta mewujudkan dengan tindakan dan peraturan yang baik dan tidak berpihak( independen), serta menjamin terjadinya interaksi ekonomi dan sosial antara pihak terkait (Satkeholderes) secara adil,transparan, profesional dan akuntabel. Untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas penggunaan keuangan negara yang dibelanjakan melalui pengadaan barang/jasa pemerintah,diperlukan upaya menciptakan keterbukaan, transparasi, akuntabiltas serta perinsip persaingan/ kompetisi yang sehat dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dibiayai APBN/APBD, sehingga diperoleh barang dan jasa yang terjangkau dan berkualitas serta dapat dipertanggung jawabkan baik dari segi fisik,keuangan, maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas pemerintah dan pelayanan masyarakat.

Dan bukan hanya kekayaan kayu yang berada di hutan-hutan indonesia yang menjadi kewajiban pemerintah untuk menjaganya.Karena di dalam hutan juga ada banyak ekosistemekosistem yang berda di hutan-hutan indonesia yang harus juga di jaga karena di setiap ekosistem yang berada di hutan indonesia memiliki keragaman yang kaya dan salah satu ekosistem di indonesia terdapat hewan-hewan dan tumbuhan yang langka dan jika ini di biarkan dan tidak di lindungi maka akan terjadi kepunahan.Dan dalam pengelolaan ekosistem ini pemerintah harus membuat suatu sistem untuk menjaga kelangsungan hidup para hewan-hewan atau tumbuham yang berkembang biak dalam ekosistem di hutan-hutan indonesia bisa dengan mendirikan suaka marga satwa dan cagar alam. Ini bisa menjadi daya tarik asing untuk berinvestasi di indonesia.Dan dalam pengelolaanya Pemerintah sudah metetapkan dalam UUD 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan menimbang banyaknya keragaman hayati ekosistem di indonesia : 1. bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras, serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa depan. 2. bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. 3. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. 4. bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya, maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri. 5. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial, sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional.

6. bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 7. bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas, dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu undang-undang. Sehingga di tetapkan maksud dari Undang-undang di atas dalam pengelolaan ekosistem dan sumber daya hayati untuk kepentingan wisata yang menghasilkan provit bagi pemerintah ataupun yang harus di jaga kelangsungan hidupnya yaitu : 1. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur non hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. 2. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. 3. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. 4. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati, baik yang hidup di darat maupun di air. 5. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat, dan atau di air, dan atau di udara. 6. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan atau dipelihara, yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. 7. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air, dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. 8. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami.

9. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. 10. Cagar alam adalah kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tunbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. 11. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. 12. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli, ekosistem unik, dan atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. 13. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 14. Taman nasional adalah kawasan pelesatarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. 15. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya,pariwisata dan rekreasi. 16. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

Pengadaan barang/jasa adalah kegiatan untuk memperoleh barang atau jasa oleh kementrian/lembaga/satuan kerja perangkat kerja daerah/institusi lainnya yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannyaseluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa. Untuk menjaga sumber daya alam agar tetap baik, maka dalam pengadaan barang

harus ada pengawasan dari intern pemerintah yang bertugas melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap pelanggaran tugas/fungsi organisasi,kemudian adanya pernyataan yang berisi ikrar untuk mencegah agar tidak terjadi kolusi,korupsi dan nepotisme dalam pengadaan barang/jasa. Dan dalam pengadaan barang/jasa tercantum dalam Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 yang menjelaskan tentang pengadaan barang/jasa yaitu : a. bahwa Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang efisien, terbuka dan kompetitif sangat diperlukan bagi ketersediaan Barang/Jasa yang terjangkau dan berkualitas, sehingga akan berdampak pada peningkatan pelayanan publik. b. bahwa untuk mewujudkan Pengadaan pada huruf a, perlu Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana

dimaksud

pengaturan mengenai tata cara Pengadaan

Barang/Jasa yang sederhana, jelas dan komprehensif, sesuai dengan tata kelola yang baik, sehingga dapat menjadi pengaturan yang efektif bagi para pihak yang terkait dengan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Pengadaan Barang/Jasa

Pemerintah;

Dan kaitannya antara hutan dan pengadaan barang/jasa di indonesia adalah sebagai Produksi sebagaimana tercantum dalam UUD No 5 Tahun 1990 Pasal 6 huruf a dan pasal 3 huruf b.Dan dalam pengelolaannya juga harus sesuai dengan hukum yang berlaku dan juga melihat hak-hak dalam pengelolaan hutan seperti hutan apa saja yang boleh dimanfaatin dan di produksi dalam UUD No 5 Tahun 1990 Pasal 5 dalam bab status dan fungsi hutan.dan Peraturan Presiden tentang pengadaan barang/jasa di jelaskan tentang tata nilai pengadaan No 54 Tahun 2010: 1. Efisien. 2. Efektif. 3. Transparan. 4. Terbuka. 5. Bersaing.

6. adil/tidak diskriminatif. 7. akuntabel. Dan dalam kaitannya terhadap kebijakan pengadaan barang yang menggunakan kayu bersertifikasi legalitas kayu (green timber policy), Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 menjadi dasar hukum untuk mensinergikannya,sesuai peratuaran ini diantaranya :  Peningkatan penggunaan produksi barang dan jasa dalam negri yang sasaranya untuk memperluas lapangan kerja dan basis industri dalam negri dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi,dan daya saing nasional.  Perhatian terhadap aspek pemanfaatan Sumber Daya Alam dan pelestarian funsi lingkungan hidup secara arif untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan.  dalam hubungan dengan pasar internasional terkait produk kayu indonesia,dan pemerintah menjamin melalui verifikasi yang independen  Dan diatur tingkat komponen dalam negeri dan keberpihakan terhadap pengusaha nasional, penganturan kontrak payung , dan kontrak pembiayaan bersama ( Cofinancing ) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta peningkatan nilai yang diadakan untuk menumbuh kembangkan usaha mikro, kecil dan menengah.

Kekayaan hutan yang melimpah semakin membuat eksistensi masyarakat dan para pengusaha giat untuk mengelolahnya karena pendapatan dari kayu gelondongan saja sudah besar apalagi kalau sudah di proses hal ini dibuktikan dengan ruang lingkup perdagangan hasil hutan keluar negeri melalui hasil ekspor yang diperjualbelikan kenegara-negara yang sudah berkembang. Namun satu hal yang harus diperhatikan adalah mengenai ketentuan yang telah diatur dalam pasal 50 ayat (3) huruf e UU No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan, dinyatakan bahwa : Setiap orang dilarang menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan didalam hutan tanpa memiliki hak atau izin pejabat yang berwenang.Namun kurangnya informasi dan kerjasama antara kementrian kehutanan dan dinas penegakan hukum lain terus menghambat penegakan hukum untuk melawan pembalakan liar.

Dengan Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2007 diubah dengan PP No.3 Tahun 2008 tentang tata hutan dan penyusunan pengelolaan hutan, menjadikan penguat hukum akan

pengelolaan hutan baik jangka pendek maupun jangka panjang yang harus diperhatikan. Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, antara lain, melalui kegiatan usaha: Pasal 25 Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b dilakukan, antara lain, melalui kegiatan usaha: a. pemanfaatan aliran air. b. pemanfaatan air. c. wisata alam. d. perlindungan keanekaragaman hayati. e. penyelamatan dan perlindungan lingkungan. f. penyerapan dan / atau penyimpan karbon. Tantangan verifikasi kayu juga harus dilakukan untuk standar yang yang jelas tidak saling bertentangan karena akan menjadi persyaratan untuk perdagangan kredit. Untuk menciptakan dan mempertahankan yang kredibilatas, indonesia harus memastikan adanya setandar yang jelas,verifikasi independen,dan transparasi. Faktor yang sangat penting dalam menjalankan kebijakan pemerintah secara efektif adalah suatu mekanisme adanya kses yang cepat pada semua data yang dibutuhkan diantaranya Peratuaran yang berlaku harus menunjukan pemeilharaan dan pengelolaan ekosistem yang kedudukan dan perannya sangat penting bagi kehidupan yang merupakan karunia Tuhan Maha Esa. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.

Kekayaan di indonesia harus menjadi sebuah maslahat dan bukan mudharat bagi pendduduk yang bermukim di negara ini.Karena semua kekeyaan hutan yang ada di indonesia merupakan kekayaan hutan milik penduduk yang berada di indonesia dan setiap individu berhak mendapatkan kekayaan itu tinggal bagaimana para petinggi di negeri ini dan para pengusaha yang notabene para kaum yang berilmu.kekayaan ini bisa menjadi neraka di negeri sendiri jikalau para petinggi dan para pengusaha tidak saling berkerjasama dan hanya mementingkan urusan mereka sendiri.Para pengusaha banyak melakukan penebangan liar yang tidak terkendali dan melanggar hukum yang berlaku dan para Petinggi di negara ini hanya duduk menerima suap dari para pengusaha yang curang.Ini harus cepat di selesaikan dengan menggiatkan mesosialisasikan hukum tentang hutan yang berlaku dan pemerintah tidak pandang bulu dalam menghukum para pelanggar hukum.

Number 2 Analyze (economic analysis of law approach) of the opportunities presented by Government Regulation No. 28 of 2011 concerning Management of Convervation Areas, for private sector investment in nature reserve management, with measure/indicator of: a. The legal basis and legal rights available to a private sector investor (land tenure management rights, carbon sale rights); focusing on the long-term ssecuurity of these rights; b. Responsibilities incumbent on a private sector investor (resposibility to adhere to zoning or management plans, responsibility to employ/support existing staff and infrastructure) c. Legal basis or arrangements for revenue generation through private sector investment in the course of nature reserve management and/or restoration (including carbon, water, ecotourism, non-timber forest products) d. Application processes for abtaining management or revenue generating rights e. Any other aspects of Government No. 28/2011 relevant to private sector investment and management of nature coservation areas.

Pemerintah memeberikan kesempatan kepada para pengusaha suasta untuk melakukan pengelolahan Wilayah Convervation dalam Investasi sektor swasta dalam pengelolahan cagar alam.Di indonesia banyak sekali hutan lindung yang butuh pengelolahan secara spesifik dan berkelanjutan seperti di hutan-hutan kalimantan dan papua .Dan dalam Hukum yang berlaku di indonesia ada hak-hak pengelolaan yang di bolehkan untuk swasta yang tidak boleh di ubah dan tetap pada asalnya ini di atur di Peraturan Presiden Penggunaan Kawasan Hutan Lindung Untuk Penambangan Bawah Tanah no 28 Tahun 2011 Pasal 2 dan harus mendapat izin dari pemerintah setempat Peraturan Presiden Penggunaan Kawasan Hutan Lindung Untuk Penambangan Bawah Tanah no 28 Tahun 2011 Pasal 3 :

Pasal 2 1. Di dalam kawasan hutan lindung dapat dilakukan kegiatan penambangan

dengan metode penambangan bawah tanah. 2. Penggunaan bawah tanah kawasan dilakukan hutan tanpa linciung untuk kegiatan penambangan

mengubah peruntukan dan fungsi pekek kawasan

hutan lindung. Pasal 3 1. Penggunaan kawasan hutan lindung untuk kegiatan penambangan bawah

tanah harus mendapatkan izin dari Menteri. 2. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (I) diberikan melalui 2 (dua) tahap yaitu :

a. persetujuan prinsip. b. izin pinjam pakai kawasan hutan lindung. Di dalam pengelolahan hutan oleh pemerintah di bolehkan melakukan suatu kegiatan yang mendatangkan provit ataupun melakukan kegiatan produksi.Begitupun juga dengan penggunaan kawasan hutan dengan melakukan penambangan bawah tanah tetapi dalam kegiatannya tidak boleh melakukan kerusakan dan tidak boleh mengubah fungsi hutan.dan dalam pengelolaanya harus mendapatkan izin dari pemerintah yang berwenang hal ini dejelaskan di UUD no 28 Tahun 2011 Pasal dalam pelasanaannya para penegelola harus orang-orang yang profesional dan mempunyai kelayakan dalam menegelola hutan lindung Peraturan Presiden Penggunaan Kawasan Hutan Lindung Untuk Penambangan Bawah Tanah no 28 Tahun 2011 Pasal 5 1. Pennohonan izin penggunaan kawasan hutan lindung sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 4 diajukan secara tertulis oleh pemohon kepada Menteri dengan tembusan kepada : a. menteri yang bertanggung jawab di bidang energi dan sumber daya mineral b. menteri yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup. c. gubernur setempat.

d. bupati/walikota setempat.

2. Permohonan

izin sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1) harus dilengkapi

dengan persyaratan sebagai berikut : a. kelayakan usaha di bidang pertambangan yang dinyatakan di dalam Studi Kelayakan berdasarkan hasil eksplorasi yang telah disesuaikan dengan fungsi hutan linciung, yang disahkan oleh gubemur kewenangan teknis mineral. b. keputusan kelayakan lingkungan berdasarkan hasil penilaian AMDAL yang masing-masing setelah atau bupati/walikota mendapatkan sesuai

pertimbangan

dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang energi dan sumber daya

disesuaikan dengan fungsi pokok hutan lindung, yang diterbitkan oleh Menteri yang bertang,gung jawab di bidang lingkungan hidup. c. rekomendasi pada bupatilwalikota telmis dan gubernur dari instansi setempat yang didasarkan

pertimbangan

yang bertang,gung jawab di

bidang kehutanan. d. pertimbangan teknis dari badan usaha milik negara tugas dan wewenang untuk (BUMN) yang diberi pengelolaan

menyeleng,garakan kegiatan

hutan, apabila areal yang dimohon merupakan areal kerja BUMN tersebut

Dalam perizinan pengelolaan hutan lindung untuk di jadukan kawan penambangan bawah tanah para pengusaha swasta harus melalui alur perizinan yang sudah di tetapkan oleh pemerintah.mulai dari para menteri yang bersangkutan dengan hutan dan menteri yang ada sangkut pautnya dengan kelangsungann hidup dan pemerintah setempat yang bertanggung jawab dalam menjaga hutan.dan jiga salah satu tidak di tepati maka izin untuk melakukan pengelolahan hutan tersebut akan di cabut.dan menteri yang bersangkutan melakukan pengkajian

1. Menteri melakukan pengkajian teknis terhadap permohonan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. 2. Dalam hal permohonan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal Menteri menerbitkan 5 ditolak,

surat penolakan atas permohonan izin tersebut.

3. Dalam hal permohonan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 disetujui, Menteri menerbitkan surat persetujuan prinsip pinjam pakai kawasan hutan

lindung yang memuat kewajiban-kewajiban yang hams dipenuhi oleh pemohon. 4. Persetujuan prinsip diberikan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak ditetapkannya persetujuan prinsip, dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi oleh Menteri. 5. Kewajiban pemohon yang telah mendapatkan persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi : a. dalam pinjam hal pemohon pakai kawasan yang mendapat persetujuan pemasalahan

hutan

linciung dengan

kompensasi lahan

bagi pinjam pakai

kawasan

hutan pada provinsi yang luas kawasan

hutannya di bawah 30 % (tiga puluh per seratus) dari luas daerah aliran slUlgai danlatau pulau, menyediakan dan menyerahkan lahan dengan b. dalam hal ratio paling sedikit 1:2. pemohon yang mendapat persetujuan prmSlp kompensasi

pinjam pakai kawasan hutan lindung pada provinsi yang luas kawasan hutannya di atas 30 % aliran sungal (tiga puluh per seratus) dari luas danlatau membayar PNBP pulau, daerah

membuat pernyataan Hutan dalam

kesanggupan dan pernyataan

Pcnzgunaan Kawasan melakukan penanaman

kesanggupan

rangka 1.

rehabilitasi daerah

aliran sungai dengan ratio paling sedikit 1:

c. menanggung

biaya pengukuran, dan

pemetaan, penggantian

pemancangan tanda nilai tegakan atas

batas, inventarisasi tegakan

kawasan hutan !indung yang dipinjam pakai. d. membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana

Reboisasi (DR) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang Undangan.

e. membayar

penggantian

biaya

investasi hutan

pengelolaan

hutan

akibat penggunaan

kawasan

sesuai dengan luas areal

danjangka waktu pinjam pakai kawasan hutan. f. membuat pernyataan kesanggupan di hadapan notaris untuk

melaksanakan reklamasi dan reboisasi kawasan sudah dipergunakan, perlindungan perusakan memberikan monitoring hutan, erosi, tanah

hutan linciung yang:

hutan, pencegahan terjadinya longsor, kehakaran hutan,

kemudahan bagi dan evaluasi,

aparat kehutanan untuk melakukan menanggung: biaya pengukuhan

lahan kompensasi,

dan melaksanakan

reboisasi lahan kompensasi.

Dalam masa perizinan dalam mengelola hutan paling lama yaitu 20 tahun dan jika di perpanjang harus menggu tim dari tim penguji kelayakan yang di bentuk oleh menteri yang bersangkutan 1. Apabila seluruh kewajiban dalam persetujuan permasalahan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5) telah dipenuhi oleh pemohon, Menteri menerbitkan izin pinjam pakai kawasan hutan lindung. 2. Izin pinjam pakai kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dan

diberikan paling lama 20 (dua puluh) tahun sesuai dengan dapat diperpanjang pertambangan. 3. Perpanjangan hasil evaluasi izin pinjam yang pakai kawasan hutan

studi kelayakan

sesuai dengan jangka waktu perizinan atau perjanjian di bidang

lindung didasarkan

pada

dilakukan

oleh Tim Monitoring dan Evaluasi.

Jangka waktu dalam perizinan kawasan nhutan lindung paling lama adalah 20 tahun sesuai dengan studi kelayakan dan di perpanjang didasarkan hasil dari evaluasi oleh tim Mentoring dan Evaluasi

Hak dan kewajiban bagi para pengelola hutan swasta terdapat pada Pasal 8 Peraturan Presiden Penggunaan Kawasan Hutan Lindung Untuk Penambangan Bawah Tanah no 28 Tahun 2011 yaitu : Pemezang izin pinjam pakai kawasan hutan lindung berhak untuk : a. menempati berhubungan lindung. b. memanfaatkan kegiatan prasarana hasil dari kegiatan bawah yang tanah dilakukan sehubungan pelaksanaan sarana dan dan mengelola serta melakukan keziatan-kegiatan yang

dengan kegiatan penambangan bawah tanah dalam kawasan hutan

penambangan pendukung

serta membangun

pada kawasan hutan lindung.

Pemegang : izin pinjam pakai kawsan hutan lindung wajib untuk a. melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan Pengelolaan Hidup (RPL); b. melakukan kegiatan penambangan bawah tanah sesuai dengan perencanaan di Lingkungan Hidup sesuai Dokumen Rencana

(RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan

dalam dokumen studi kelayakan c. melakukan reklamasi dan/atau reboisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku hutan lindung yang dipinjam pakai Hutan dan melakukan penanaman

d. melakukan perlindungan hutan di kawasan e. membayar dalam rangka PNBP Penggunaan

Kawasan

rehabilitasi daerah aliran sungai bagi pemegang izin pada provinsi % (tiga puluh per seratus) dari luas

yang luas kawasan hutannya di atas 30 daerah

aliran sungai dan/atau pulau sesuai dengan ketentuan yang berlaku. biaya pengukuhan lahan kompensasi dan me1aksanakan

f. menanggung: reboisasi lahan

kompensasi

bagi pemegang

lzmpada provinsi yang luas

kawasan hutannya di bawah

30 % (tiga puluh per seratus) dari luas daerah

aliran sungai danlatau pulau sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

g. melaporkan pelaksanaan kegiatan seeara periodik kepada:  Menteri  Menteri yang bertanggung jawab di bidang energi dan sumber daya mineral.  Menteri yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dengan tembusan kepada gubemur dan bupati/walikota setempat.

Para pengusaha swasta yang mengelola hutan lindung hanya mempunyai dua hak yaitu menempati,mengelola dan menfatkannya dan dalam pemanfaatan yang menghasilkan prvoit tidak boleh merusak ataupun mengubah keadaan hutan dan hanya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan penambangan di bawah tanah.Dan dalam kewajiban para pengusaha swasta di wajibkan untuk mengelola kawasan hutan hutan dengan baik dan melakukan pemantuan terus menerus sesuai dengan hukum dan tata cara yang berlaku yang ada dalam peraturan pemerintah.dan melakukan laporan kegiatan periodik keoada pemerintah setempat.