Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Hepar merupakan organ pertama yang sering menjadi sasaran perusakan oleh zat xenobiotik karena fungsi metabolisme zat kimia yang dimilikinya (Underwood, 2004). Hepar memiliki banyak fungsi, diantaranya detoksifikasi, metabolisme zat makanan, fagositosis, pembekuan darah dan fungsi hemodinamika. Berat hepar berkisar 1.100- 1.600 gram. Hepar merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia dan menerima darah 25% dari cardiac output, aliran darah hati yang normal 1500 ml/ menit atau 1000 1800 ml/ menit (Guyton, 2008). Kemampuan hepar untuk memetabolisme zat kimia,struktur histologis hepar yang terdiri dari sinusoid yang tersusun atas endotel berlapis, serta tingginya volume darah yang melalui hepar, menyebabkan hepar rentan terhadap perusakan oleh xenobiotik. (Junqueira,dkk 2007) Beberapa bagian hepar yang rentan akan perusakan oleh zat xenobiotik adalah endotel pada sinusoid dan vena sentralis hepar dan hepatosit. Kerusakan yang

disebabkan dapat berupa kerusakan endotel, pembengkakan sampai nekrosis hepatosit. Hal ini dapat terjadi karena stres oksidatif atau karena kontak dengan bahan toksik yang lama. (Price,2006) Gentamisin sebagai zat xenobiotik yang tidak dimetabolisme oleh hepar, dapat merusak hepar jika konsentrasinya di dalam darah tinggi. Hal ini disebabkan karena gentamisin dapat menambahkan produksi O2- anion dan radikal OH+ yang tidak stabil sehingga mengakibatkan radikal bebas yang mengindikasikan kerusakan oksidatif. Kerusakan oksidatif dapat dapat menimbulkan perubahan kimiawi dan merusak berbagai komponen sel hidup seperti protein, lipid, karbohidrat, dan asam nukleat. (Singh et al,2009). Adanya proses perusakan yang disebabkan zat xenobiotik menjadikan banyak penelitian dilakukan untuk mengurangi atau menghambat dampak akibat perusakan. Salah satu penelitian digunakan tumbuhan-tumbuhan herbal untuk mendapatkan efek tersebut. Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees atau sambiloto adalah tumbuhan herbal yang biasa dikenal sebagai king of bitters di dalam famili Acanthaceae dan dikembangkan secara luas di Asia Utara. Pada umumnya daun dan akarnya telah digunakan secara tradisional selama berabad-abad di Asia dan Eropa secara turun temurun untuk mengobati berbagai penyakit (Zhang, 2004). Uji khasiat sambiloto sudah banyak dilakukan pada hewan dan sebagian menggunakan darah manusia yang diuji secara in vitro. Khasiat sambiloto antara lain

sebagai analgetika, antipiretika, antiinflamasi, antispermatogenik dan anti diabetes. Sambiloto juga dapat menurunkan kontraktilitas usus, menambah nafsu makan, menurunkan tekanan darah, melindungi kerusakan hati dan jantung yang bersifat reversibel, dan memiliki aktifitas imunodulator (Nuratmi dkk, 1996). Efek khasiat sambiloto tersebut tidak terlepas dari kandungan utama yang dikandung oleh sambiloto. Kandungan utama sambiloto adalah diterpenoid laktone(andrographolid), paniculidis, farresols, dan flavonoid. Selain itu, daun sambiloto mengandung saponin, alkaloid dan fanin serta lakton panikulin. Sedangkan rasa pahit yang terdapat pada sambiloto berasal dari kandungan kalmegia dan hablur kuning (Dalimunthe, 2009). Pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Cui et al. (2004) pada komposisi sambiloto juga menunjukkan kaya akan kandungan diterpenoid dan 2-oxygenated flavonoid termasuk andrographolid, neuroandrographolid, 14-deoxy-11,12-didehydroandrohrapholid, 14deoxyandrographolid 19 -D-glucoside, homoandrographolid, andrographan, andrographosterin, dan stigmasterol. Kandungan sambiloto tersebut secara spesifik bekerja di dalam tubuh. Menurut De Padua et al. (1999) senyawa alkaloid bersifat detoksifikasi yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh, sedangkan flavonoid memiliki aktivitas farmakologik sebagai antiinflamasi, analgetik, antidiare, antitumor, antioksidan dan imunostimulan. Selain itu, menurut Jarumkomjorn et al. (2008), andrographolid pada sambiloto bekerja dengan mengurangi induksi TNF- molekul intra adhesi-1 (ICAM -1) berekspresi dan

juga menghambat adhesi monosit-endotel yang diinduksi TNF- , yang menjadi kunci tahapan dalam inflamasi. Penelitian lain yang membuktikan khasiat sambiloto juga dilakukan. Singh et al. (2009) membuktikan bahwa ekstrak daun sambiloto sebesar 200 mg/kgBB dapat menurunkan kadar serum kreatinin, serum urea, dan blood urea nitrogen (BUN) yang diinduksi gentamisin pada tikus dengan berat 130 gr yang diberikan sehari sekali selama 10 hari dan diberikan gentamisin dengan dosis 80 mg/kgBB selama 8 hari. Penelitian yang telah dilakukan tersebut meneliti efek sambiloto terhadap ginjal yang diinduksi gentamicin, namun belum mengkaji organ lain yang terpengaruh terhadap sambiloto dengan induksi gentamicin. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol sambiloto terhadapkerusakan hepar tikus yang diinduksi oleh gentamisin.

B.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah yaitu : 1. Apakah pemberian ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata Nees) memiliki pengaruh terhadap hepar pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang diinduksi gentamisin.

2. Apakah peningkatan dosis ektrak sambiloto (Andrographis paniculata Nees) memiliki hubungan kuat terhadap kerusakan tubulus proksimal ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang diinduksi gentamisin. C. Tujuan

1. Tujuan Umum Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata Nees) terhadap kerusakan hepar tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang diinduksi gentamisin. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui pengaruh ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata Nees) memiliki pengaruh terhadap kerusakan hepar tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang diinduksi gentamisin. b. Mengetahui hubungan peningkatan dosis sambiloto (Andrographis paniculata Nees) terhadap kerusakan hepar tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang diinduksi gentamisin.

D. Manfaat

1. Membuktikan bahwa ekstrak sambiloto memiliki pengaruh pada hepar yang diinduksi gentamisin.

2. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat dipublikasikan sehingga memberikan sumbangan informasi bagi ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. 3. Mendukung upaya pemeliharaan tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) sebagai salah satu tanaman berkhasiat obat (apotek hidup) yang memiliki zat aktif antioksidan dan antiinflamasi natural.

E. Kerangka Pemikiran

1.

Kerangka Teori Kandungan utama sambiloto adalah diterpenoid lactone (andrographolid), paniculidis, farresols, dan flavonoid. Disamping itu, daun sambiloto mengandung saponin, flavonoid, alkaloid dan fanin (Dalimunthe, 2009). Menurut Cui et al. (2004) sambiloto juga kaya akan kandungan diterpenoid dan 2-oxygenated flavonoid termasuk andrographolid, neuroandrographolid, 14deoxy-11,12-didehydroandrohrapholid, 14-deoxyandrographolid 19 -Dglucoside, homoandrographolid, andrographan, andrographosterin, dan stigmasterol. Retensi gentamisin sebagai bahan yang digunakan sebagai penginduksi meningkatnya O2- anion dan radikal OH+ yang tidak stabil sehingga mengakibatkan radikal bebas yang mengindikasikan kerusakan oksidatif pada endotel dan hepatosit (Price,2006); (Singh et al.,2009)..

Fungsi anti-inflamasi dari andrographolid melalui reduksi ekspresi sintesis protein inducible nitrit oxide syntase (iNOS) dan menurunkan stabilitas protein malalui jalur mekanisme post-transkripsi yang telah dipengaruhi. Selanjutnya, andrographolid mengekskresi efek anti-inflamasi dengan menghambat nuclear factor(NF)- B berikatan dengan DNA, dan kemudian mereduksi ekspresi proinflamasi seperti siklooksigenase-2 (COX-2). Flavonoid, polifenol, dan tanin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan karena ketiga senyawa tersebut adalah senyawa-senyawa fenol, yaitu senyawa dengan gugus-OH yang terikat pada karbon cincin aromatik. Senyawa tersebut berfungsi sebagai anti-oksidan yang efektif dan produk radikal bebas senyawa-senyawa ini menstabilkan secara resonansi sehingga tidak reaktif dibandingkan dengan kebanyakan radikal bebas lain (Fesenden dan Fesenden, 2002). Singh et al. (2009) telah membukikan bahwa ekstrak air daun sambiloto seberat 200 mg/kgBB dapat menurunkan kadar serum kreatinin, serum urea,dan blood urea nitrogen (BUN) pada tikus yang diinduksi gentamisin diberikan sehari sekali selama 10 hari dan diberikan gentamisin dengan dosis 80 mg/kgBB selama 8 hari.

Gentamisin
Anti-oksidan

Andrographolid Saponin Ekstrak etanol sambiloto

Oxygen radicals

Flavonoid

Stress oksidatif

Alkaloid

Anti-inflamasi

Kerusakan endotel dan hepatosit

Degenerasi sel tubulus ginjal

Menghambat Mengakibatkan Meningkatkan

Infiltrasi sel MN

Gambar 1. Kerangka Teori Induksi Gentamisin Pada Hepar yang Dipengaruhi oleh Ekstrak Sambiloto F.

F. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah : 1. Ada pengaruh pemberian ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata Nees) terhadap kerusakan hepar (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang mendapat diinduksi gentamisin 2. Ada hubungan antara peningkatan dosis sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dengan gambaran kerusakan hepar tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang diinduksi gentamisin.

Beri Nilai