Anda di halaman 1dari 12

EKSTRAKSI KARAGINAN

Oleh Nama NIM Kelompok Rombongan Asisten : Saefullah Habibi Z.A : B1J008010 :7 : II : Nita Wahyu Suwardani

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan mempunyai potensi yang besar sebagai negara penghasil rumput laut. Seiring kebutuhan pasar dalam negeri maupun luar negeri terhadap rumput laut yang semakin meningkat, usaha pembudidayaan rumput laut harus disikapi dengan serius. Eucheuma cottonii merupakan jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomis penting di dunia industri karena kandungan kimianya berupa agar. Jenis rumput laut ini banyak dibudidayakan karena hasil pengolahannya banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri. Dalam dunia perindustrian, agar ini banyak digunakan sebagai bahan pemantap, pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan pembuat gel. Rumput laut telah digunakan sejak zaman kuno sebagai makanan, makanan ternak, pupuk dan sebagai sumber obat. Rumput laut mengandung sejumlah protein, lemak, mineral dan vitamin. Rumput laut juga digunakan sebagai bahan baku bagi banyak industri produksi seperti agar-agar, dan karaginan. Karaginan merupakan kelompok polisakarida galaktosa yang diekstraksi dari rumput laut. Sebagian besar karaginan mengandung natrium, magnesium, dan kalsium yang dapat terikat pada gugus ester sulfat dari galaktosa dan kopolimer 3,6-anhydro-galaktosa. Karaginan banyak digunakan pada sediaan makanan, sediaan farmasi dan kosmetik sebagai bahan pembuat gel, pengental atau penstabil. Larutan karaginan memiliki kekentalan tinggi. Hal ini disebabkan karena tekstur linier atau percabangan makromolekulnya. Selain itu kekentalan juga dipengaruhi adanya polielektrolit alami. Nilai viskositas akan meningkat sebanding dengan konsentrasi dan berat molekul, namun berbanding terbalik dengan suhu. Produk karaginan yang diperjualbelikan memiliki viskositas 5-800 mPa.s ketika diukur pada suhu 75C dengan 1,5% berat per volume pelarut (Rahayu et al., 2004). Rumput laut untuk dapat diklasifikasikan sebagai karaginan, polisakarida dalam rumput laut tersebut harus mengandung 18-40 % asam sulfat berdasarkan berat kering. Karaginan dibedakan menjadi tiga kelompok utama yaitu kappa, iota, dan lambda. Kappa karaginan tersusun dari 1,3-D-galaktosa-4-sulfat dan (1,4) 3,6-anhydro-D-galaktosa. Karaginan ditandai dengan adanya 4-sulfat ester

pada setiap residu D-galaktosa dan 2-sulfat ester pada setiap 3,6 anhydro-Dgalaktosa. Lambda karaginan memiliki ikatan (1,3)-D-galaktosa 2 sulfat dan (1,4)D-galaktosa-2,6-disulfat.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ekstraksi karaginan ini adalah untuk mengetahui proses ekstraksi karaginan dan perubahan-perubahan yang terjadi dari setiap tahapan dalam ekstraksi.

C. Tinjauan Pustaka

Menurut Atmadja et al. (1996) rumput laut merupakan salah satu komoditas ekspor dari sub perikanan sebagai penghasil devisa di Indonesia terdapat 555 jenis rumput laut dan empat jenis dikenal sebagai komoditas ekspor yaitu Eucheuma sp, Gracillaria sp., Gelidium sp., dan Sargassum sp. Beberapa jenis rumput laut penting dalam dinia perdagangan internasional sebagai penghasil ekstrak karaginan. Rumput laut penghasil karaginaan yaitu Eucheuma cottonii, E. isiforme, E. spinosum, Gigartina, dan Gymnogongrus sp. (Poncomulyo et al., 2006). Karaginan merupakan suatu filakoid yang berupa polisakarida. Selain itu juga merupakan sumber hidrokoloid penting sehingga hasil ekstraksinya dapat digunakan sebagai penebal, pengemulsi, penstabil, pengental, dan pengikat substansi pada industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, keramik, dan karet. Karaginan di pasaran merupakan tepung berwarna kekuning-kuningan. Karaginan mudah larut dalam air membentuk larutan kental atau jel yang tergantung dari proporsi fraksi kappa atau iota (Setyowati et al., 1998). Afrianto et al (1993) menyatakan bahwa jika fotosintesis berjalan efektif, maka kandungan karaginan juga bias meningkat disamping peningkatan pertumbuhan. Hasil fotosintesis yang berupa polisakarida ini dapat digunakan untuk meningkatkan kandungan hara. Permintaan karaginan di Indonesia semakin hari semakin meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini dikarenakan karaginan semakin banyak digunakan sebagai bahan pengental, pengemulsi, maupun pembentuk gel.

D. MATERI DAN METODE

A. Materi Bahan yang digunakan dalam proses pembuatan karaginan adalah rumput laut Eucheuma cottonii, KOH 10%, alkohol 96%, NaCl 0,05%, dan aquades. Alat yang digunakan yaitu termometer, timbangan analitik, kertas pH, pengaduk, kain saring 40-100 mesh, blender, pressure coocker, oven, gelas ukur, cawan, pipet, dan erlenmeyer 2000ml.

B. Metode

1. Rumput laut Eucheuma cottonii kering di timbang sebanyak 60 gram. 2. Rumput laut direbus dalam pressure coocker pada suhu 120C selama 15
menit dengan perbandingan 1:15 (15 ml air ditambahkan ke dalam 1 gram rumput laut kering). 3. Ekstraksi dilakukan dengan memblender rumput laut kemudian direbus kembali selama 6 jam dengan perbandingan 1: 30. Nilai pH air ekstraksi diatur dengan menambahkan larutan KOH 10% sehingga diperoleh pH 8-9. 4. Hasil yang didapatkan kemudian disaring menggunakan kain kassa dalam keadaan panas untuk menghindari pembentukan gel. 5. Ditambahkan NaCL 0,05% sebanyak 50 ml kemudian dipanaskan lagi selama 15 menit.

6. Pengendapan karaginan dilakukan dengan cara menuangkan filtrat ke dalam


alkohol 95% dengan perbandingan 1:2 sedikit demi sedikit sambil diaduk selama 15 menit, sehingga terbentuk serat karaginan. 7. Serat basah karaginan yang diperoleh kemudian direndam kembali dengan alkohol 95% selama 30 menit sehingga diperoleh serat karaginan yang lebih kaku, kemudian diperas lagi.

8. Endapan dikeringkan di dalam oven dengan suhu 60C sampai kering


selama 15-20 jam, kemudian ditimbang dan dihitung nilai rendemen karaginan. Rendemen karaginan (%) =

produk akhir x 100% bobot bahan baku

Rumput laut ditimbang sebanyak 60 gram

Direbus selama 15 menit dengan perbandingan 1 : 15

Dihaluskan dengan blender

Direbus kembali selama 6 jam dengan perbandingan 1:30

Nilai pH diatur dengan menambahkan larutan KOH 10% sehingga diperoleh pH 8-9

Disaring dalam keadaan panas

Ditambah NaCl 0,05%

Filtrat dituang ke dalam alkohol 96%, kemudian diaduk dan dibiarkan hingga mengendap

Serat basah karaginan disaring kembali dan direndam kembali dalam alkohol 96% selama 30 menit

Serat basah karaginan yang lebih kaku disaring dan diperas lagi

Dituang ke dalam loyang yang sudah dilapisi aluminium foil

Dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 600C, ditunggu sampai kering selama 15 20 jam

Nilai rendemen karaginan dihitung E. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Rendemen karaginan (%) =

produk akhir x 100% bobot bahan baku 6,67 x 100 % 60

= 11,12 %

B. Pembahasan Hasil bobot karaginan adalah 6,67 gram. Setelah dilakukan perhitungan, didapat bobot rendemen karaginan sebanyak 11,12%. Karaginan yang dihitung bobot rendemennya berupa tepung, hal tersebut kurang sesuai dengan pustaka yang di dapat. Menurut Setyowati (2000) lama proses ekstraksi juga mempengaruhi karaginan yang dihasilkan, randemen terbesar yaitu 67,77% diperoleh untuk jenis Eucheuma cotonii dengan lama ekstraksi optimal 2 jam. Menurut Rumajar dkk (1997) bahwa randemen tertinggi yaitu 50% didapat dengan lama ekstraksi 90 menit. Menurut Bawa et al.,(2007) hasil rendemen ekstraksi karaginan pada pH 8 yaitu sebesar 34,5%. Proses pembuatan tepung karaginan dari rumput laut melalui beberapa tahapan, yaitu : 1. Ekstraksi Suhu optimum ekstraksi rumput laut adalah 90C. Ekstraksi dapat dilakukan selama 2-24 jam dengan suhu 90-95C. Proses ekstraksi dibutuhkan suasana basa dengan menambahkan KOH 10% sehingga diperoleh pH 8-9. 2. Pengendapan Metode yang dapat digunakan untuk mengendapkan adalah penambahan alkohol dengan volume 1,5-4 kali dari volume ekstrak karaginan. 3. Pengeringan Setelah pengendapan, karaginan dikeringkan sampai dicapai berat konstan.

4. Penepungan
Karaginan yang telah kering dihancurkan dengan blender untuk mendapatkan tepung karaginan (Aslan, 1998). Pembuatan karaginan ini menggunakan metode ekstraksi dimana pengertian ekstraksi adalah metode pemisahan suatu komponen solute (cair) dari

campurannya menggunakan sejumlah massa solven sebagai tenaga pemisah. Proses ekstraksi terdiri dari tiga langkah besar, yaitu proses pencampuran, proses pembentukan fasa setimbang, dan proses pemisahan fasa setimbang (Yasita dan Rachmawati, 2008). Mutu karaginan dapat ditentukan oleh jenis rumput laut, daerah budidaya, cara ekstraksi dan metode pemisahan karaginan. Standar mutu karaginan dapat dilihat dari tabel di bawah ini : Tabel1. Standar mutu karaginan Spesifikasi Zat volatil Asam sulfat Kandungan abu Viskositas (1,5 %; suhu 75C) Logam berat Pb (Basmal et al, 2003) Standar mutu Maksimal 12 % 18-40 % 15-40 % Minimal 5 cps Maksimal 10 ppm

Alga dapat dibedakan berdasarkan pigmentasinya. Selain berklorofil, alga juga mengandung zat warna lainnya seperti biru, keemasan, pirang, dan merah (Afrianto, et al., 1993). Menurut Bold dan Wyne (1985) dan Luning (1990), berdasarkan pigmentasinya rumput laut Eucheuma cottonii dapat diklasifikasikan sebagai: Phylum: Rhodophyta Class : Rhodophyceae Ordo : Gigartinales Famili : Solieriaceae Genus : Eucheuma Spesies : Eucheuma cottonii Eucheuma cottonii dibudidayakan secara luas, baik untuk tujuan dikonsumsi atau sebagai sumber carrageenophyte untuk industry dan tidak hanya sebagai sumber karaginan tetapi juga sebagai sumber protein biokimia yang cukup berharga dan dapat digunakan sebagai obat. Selain itu, budidaya Eucheuma cottonii juga mulai populer di negara-negara berkembang sebagai sumber devisa dan sarana untuk memperluas mata pencaharian masyarakat pesisir (Hung et al.,2008) Eucheuma cottonii mempunyai ciri-ciri yang berwarna hijau, hijaukuning, abu-abu, dan merah. Penampakan thalus bervariasi mulai dari bentuk sederhana sampai kompleks, duri-duri pada thalus tidak bersusun melingkari

thalus. Percabangan ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan di daerah basal (pangkal), cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri-ciri khusus mengarah ke arah datangnya cahaya matahari, cabang-cabang tersebut tampak ada yang memanjang atau melengkung seperti tanduk (Atmadja, et al., 1996). Karaginan secara luas digunakan dalam industri makanan yaitu untuk tujuan gelasi, pengentalan, stabilizer dan emulsi, suspensi dan buih serta untuk mengendalikan pertumbuhan kristal. Hal ini karena sifat karaginan yang dapat berfungsi sebagai gelling agen, thikche agen, stabilizer, dan emulsifier. Karaginan juga dimanfaatkan dalam industri farmasi dan kosmetik adalah sebagai bodying agen dan pensuspensi dalam industri cat, pertamina, dan keramik (Rahayu et al, 2004). Menurut Basmal et al., (2003) Adapun fungsi beberapa larutan yang dipakai dalam ekstraksi karaginan. Diantaranya adalah KOH berfungsi sebagai pemberi suasana basa, alkohol untuk pengendapan, dan kaporit untuk pemucatan. Akuades juga dibutuhkan dalam proses ini yaitu sebagai pelarut. Selain fungsi larutan, beberapa perlakuan juga memiliki tujuan masingmasing. Berikut adalah fungsi perendaman : 1. Membuat rumput laut menjadi lunak dan komponen karaginan yang larut dalam air dapat larut dalam bahan perendam sehingga menyebabkan hasil baik jumlah rata-rata berat kering, tekstur, maupun warna. 2. Menarik protein dan bahan lain seperti NaCl, kalium, yodium, dan tidak menutup kemungkinan sama halnya dengan zat warna. 3. Rumput laut menjadi elastis dan tidak mudah pecah.

4. Menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisiko kimia yang mengarah pada


denaturasi dinding sel dari rumput laut tersebut. Perubahan komponen internal dalam proses perendaman menyebabkan rendemen karaginan yang diekstrak meningkat (Rahayu et al, 2004).

F.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Tahapan ekstraksi karaginan adalah pencucian dan pembersihan, pendinginan,

pengeringan,

pemasakan

(ekstraksi),

pengepresan,

pengeringan, dan perhitungan rendemen karaginan. 2. Karaginan dapat dimanfaatkan dalam bidang industri makanan, farmasi, kosmetik, dan keramik.

3. Bobot rendemen karaginan sebanyak 11,12%.

DAFTAR REFERENSI Afrianto, E. 1993. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya. Bhrathara, Jakarta. Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Jakarta. Atmadja, W. S. , A. Kadi, Sulistijo, dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenisjenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi, LIPI, Jakarta. Basmal, J. Syarifudin dan W. F. Maruf. 2003. Pengaruh Konsentrasi Larutan Potasium Hidroksida Terhadap Mutu Kappa-Karaginan yang Diekstraksi dari Eucheuma cottonii. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Vol. 9 No. 5 : 95-103. Bawa, I G. A. G, B. Putra, dan I. R. Laila. 2007. Penentuan pH Optimum Isolasi Karaginan dari Rumput Laut Jenis Eucheuma cottonii. Jurnal Kimia, Vol.1 No.1: 15-20.

Bold, H. C. and Wynne, M. J. 1985. Introduction to The Algae. Prentice-Hall Inc., New Jersey. Dody, M. S. 1973. Physical Factor in the Production of Tropical Benthic Marine Algae. Florida Sea Grandt Programs, Washington DC. Hung, L. D, Hori, K, Nang, H.Q, Khan, T, Hoa, L.T. 2008. Seasonal Changes In Growth Rate, Carrageenan Yield and Lectin Content The Red Alga Kappahycus alvarezzi Cultived In Camranh Bay, Vietnam. J Appl Phycol (2009) 21:265272. DOI 10.1007/s10811-008-9360-2 Lobban, C. S. dan J. W. Michael. 1981. The Biology of Seaweeds. Blackweel Scientific Publication, London. Luning, K. 1990. Seaweeds : Their Environment, Biogeography Ecophysiology. John Willey and Sons. Inc. , Canada. and

Manivannan. K, G. Thirumaran, G. Karthikai Devi, A. Hemalatha, and P. Anantharaman. 2008. Biochemical Composition of Seaweeds from Mandapam Coastal Regions along Southeast Coast of India. AmericanEurasian Journal of Botany, Vol. 1 No. 2: 32-37. Poncomulyo, T.H. Maryani dan L. Kristiana. 2006. Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. Agro Media Pustaka, Jakarta. Rahayu, U. H. Manik dan N. Dolaria. 2004. Pembuatan Karaginan Kering dari Rumput Laut Eucheuma cottonii. Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, Vol. 3 No. 2 : 37-39. Rumajar, H ; Fetty Indriaty ; Judith H. Mandei; Frans J. Rompas; Olly V. Wowor; Kembuan Eddy F. 1997. Penelitian Pemanfaatan Rumput Laut untuk Pembuatan Karaginan. BPPI. Sulawesi Utara. Setyowati, D; B.B. Sasmita; H. Nursyam. 2000. Pengaruh Jenis Rumput Laut dan Lama Ekstraksi tehadap Peningkatan Kualitas Karaginan. Penelitian, fakultas Perikanan Bogor. Yasita, D. dan Rachmawati I. D. 2008. Optimasi Proses Ekstrasi pada Pembuatan Karaginan dari Rumput Laut Eucheuma cottonii Untuk Mencapai Foodgrade. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.