Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa RS Ghrasia Pakem Yogyakarta

Diajukan Kepada: dr. Sulasmi, Sp.KJ

Disusun Oleh : Wenita Permanasari 20070310053 RA Aditya

SMF ILMU PENYAKIT KEDOKTERAN JIWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FK UMY RS GRHASIA PAKEM YOGYAKARTA
Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 1

2012

LEMBAR PENGESAHAN PRESENTASI KASUS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa RS Grhasia Pakem Yogyakarta

Disusun Oleh : Wenita Permanasari 20070310053

Telah dipresentasikan pada tanggal :

Pembimbing :

dr. Sulasmi, Sp. KJ

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 2

A. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Status Bangsa/ Suku Alamat No. RM Bangsal : Bpk. M : Laki-laki : 30 tahun : Islam : SD : Buruh : Belum menikah : Indonesia/Jawa : Jejeran : : Nakula

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 14 April 2012 B. ALOANAMNESIS I. Waktu dan Tempat Wawancara 1. Tanggal 29 April 2012, diperoleh dari ibu,dan kedua adik kandung pasien dirumahnya.

II.

Sumber Anamnesis
Nara Sumber Nama Alamat Pendidikan Perkerjaan Umur Hubungan Lama kenal Sifat kenal Akrab, satu rumah Akrab , beda rumah Akrab,satu rumah Akrab Ny. I Jejeran SD Buruh 27 Adik 1 Tn. M Jejeran SD 22 Adik Ibu Tetangga 2 Ny.S Jejeran 3 Ny.N Jejeran SD 4

III. Sebab di bawa ke Rumah Sakit

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 3

Pasien dibawa ke Rumah Sakit Ghrasia oleh petugas puskesmas pada tanggal 14 April 2012 untuk yang kesekian kalinya karena sering marah-marah ( memukul

ibunya),bersholawat da meresahkan masyarakat sekitar.

IV. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang) Dari kecil Bpk M dikenal oleh saudara-saudaranya sebagai pribadi yang pendiam dan kurang bergaul dengan teman-temannya dan lingkungan sekitar karena Bp.M merasa kurang dapat menangkap pembicaraan dari teman-temannya.Pasien merupakan pribadi yang sangat rajin beribadah, Menurut keluarga, pasien lebih sering menghabiskan waktu di rumah dan sering mendengarkan kajian agama. Sejak lulus SD pasien bekerja sebagai buruh bangunan dan pekerjaan lainnya. Pasien menderita sakit sejak kelas 3 SD. Pasien mengalami perubahan perilaku semenjak lulus SD, Setiap kali ditanyakan oleh keluarga pasien selalu diam dan tidak mau berbicara. Pasien selalu meminta lauk yang enak kepada ibunya, tetapi karena ekonomi ibunya tidak dapat memberikannya,dan akhirnya pasien marah,pasien juga sempat marah dan memukul ibunya karena pasien merasa kesal ketika disuruh minum obat secara terus-menerus Sejak pulang dari rumah sakit, menurut keluarga gejala dan perilaku pasien menjadi lebih baik, namun karena pasien merasa jenuh dan merasa tidak bisa bekerja karena ketakutannya apabila penyakitnya kambuh. Alloanamnesis Sistem (Keluhan Fisik dan Dampak terhadap Fungsi Sosial dan Kemandirian) i. Sistem Saraf Pusat ii. Sistem Kardiovaskuler iii. Sistem Respirasi iv. Sistem Gastrointestinal ) v. Sistem Urogenital vi. Sistem Muskuloskeletal vii. Sistem Integumentum : BAK normal, anyang-anyangan (-) : gerakan bebas, pegal-pegal (-), kesemutan (-). : pucat (-), kebiruan (-), kuning (-), kulit kemerahan (-). : demam (-), penurunan kesadaran (-), kejang (-), pusing (-) : kebiruan (-), berdebar-debar (-), mimisan (-) : sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-), bunyi mengi (-). : mual (-), muntah (-), kembung (-), diare (-), nyeri perut (-

V.

Grafik Perjalanan Penyakit

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 4

Gejala Klinis

2006 Fungsi Peran

2009

2012

Mental Health Line/Time

VI. Hal-hal yang Mendahului Penyakit i. Faktor Organik Trauma kepala (-) Kejang (+) Demam tinggi (-) Riwayat penyakit tertentu (-) ii. Faktor Psikososial Dari aloanamnesis dengan pihak keluarga,pencetus timbulnya gejala yaitu berupa hilangnya kendali emosi adalah ketika pasien diperingatkan minum obat oleh ibunya,pasien merasa jenuh dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh dan merasa pesimis dan ingin bekerja,pasien juga sering mengeluh bahwa tidak bisa mengerti pembicaraan dari teman-temannya. iii. Faktor Predisposisi - Riwayat perkembangan awal: menurut keterangan ibu pasien pertumbuhan dan perkembangan pasien tidak berbeda dengan kedua saudara kandungnya,namun pada masa-masa sekolah pasien memang sering marah-marah. - Faktor ekonomi:keluarga pasien termasuk keluarga dengan penghasilan yang kurang, orangtua pasien sebagai buruh dan terkadang bekerja serabutan,pasien sendiri kadang bekerja pada saudaranya dengan penghasilan yang sangat minimal. - Hubungan dengan lawan jenis : Pasien belum pernah memiliki seorang teman dekat wanita.
Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 5

- Hubungan antar keluarga: Pasien cenderung tertutup untuk masalah pribadi dengan keluarga. Pasien kadang marah-marah ketika berdiskusi agama dengan ayahnya dan seringkali marah dengan ibunya ketika diingatkan untuk minum obat. Tetapi hubungan dengan keluarga baik-baik saja. iv. Hubungan dengan lingkungan sekitar: Pasien termasuk pribadi yang kooperatif dan sering bersosialisasi dengan masyarakat sekitar v. Faktor Presipitasi Tidak diketahui dengan jelas, namun keluarga berpendapat karena pasien memikirkan tidak bisa bekerja karena penyakitnya dan keinginan yang kuat untuk menjalankan perintah agama sesuai penjelasan tokoh agama yang menjadi panutan,yang kadang disalah artikan. Pasien juga sering marah saat diingatkan minum obat dan diingatkan untuk tidak pergi malam-malam.

VII.

Riwayat Penyakit Dahulu i. Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya Pasien sudah dirawat dirumah sakit Grhasia lebih dari sepuluh kali dengan riwayat epilepsi semenjak kelas 3 SD. ii. Riwayat Sakit Berat/ Opname

Epilepsi dan penyakit saraf lainnya positif Penyakit jantung/hati/ginjal/alergi disangkal Riwayat mondok dan operasi disangkal

VIII.

Riwayat Keluarga i. Pola Asuh Keluarga Pasien merupakan anak ke 1 dari 4 bersaudara. Anak ketiga sudah meninggal ketika ia masih kecil. Sejak kecil pasien tinggal dirumah bersama ayah, ibu, dan adiknya. Sejak lahir pasien diasuh oleh orang tuanya sendiri. Pola asuh keluarga dirasa baik, dan diasuh dengan pola asuh yang diakui demokratis. ii. Riwayat Penyakit Keluarga Bapak pasien mengalami keluhan serupa dengan pasien

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 6

iii. Silsilah Keluarga (Genogram)

Keterangan :

: Penderita Gangguan Mental Organik

: Penunjuk pasien

: Laki-laki normal : Perempuan normal

: Penderita Epilepsi

: Penderita Gangguan Jiwa ( Tidak Terinci)

IX. Riwayat Pribadi i. Riwayat Kelahiran Riwayat kehamilan dan persalinan pasien tidak ada kelainan. Riwayat kehamilan dikehendaki dan ibu tidak pernah mengalami sakit selama hamil. Riwayat persalinan normal dan cukup bulan (kurang lebih 9 bulan) dan ditolong oleh dukun di desa. Berat tidak diketahui, namun dari penjelasan ibu pasien, tidak terdapat kelainan paska kelahiran.
Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 7

ii. Latar Belakang Perkembangan Mental Pasien tidak mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya. Pasien diasuh oleh orang tuanya sendiri. Dari kecil pasien tinggal bersama kedua orangtua dan saudara-saudaranya kandung lainnya. Jika ada masalah pasien cenderung tertutup kepada keluarga. Pasien sebenarnya dapat bersosialisasi di masyarakat namun karena latar belakangnya,tetangga cenderung menjauh. iii. Perkembangan Awal Pertumbuhan dan perkembangan pasien termasuk baik dan tidak mengalami ketertinggalan dalam pertumbuhan dan perkembangan dari saudara maupun anakanak lainnya. iv. Riwayat Pendidikan Pasien menjalani pendidikan hanya sampai SD dengan prestasi biasa-biasa saja dan tidak pernah tinggal kelas. Kemudian dia tidak melanjutkan pendidikannya. v. Riwayat Pekerjaan Pasien bekerja sebagai buruh bangunan dan terkadang bekerja serabutan tetapi berhenti setelah penyakitnya sering kambuh dan sering marah-marah sendiri. vi. Riwayat Perkembangan Seksual Tidak ditemukan kelainan perkembangan seksual. Cara berpakaian biasa seperti laki-laki. Cara berteman dan ketertarikan terhadap lawan jenis terkesan normal. Pasien belum pernah mempunyai seorang teman dekat wanita. vii. Sifat dan Kegiatan Moral Spiritual Pasien beragama Islam, rajin solat dan sering adzan di mushola serta mengikuti kegiatan keagamaan seperti pengajian.Pasien fanatik terhadap agamanya. viii. Riwayat Perkawinan Belum pernah menikah. ix. Riwayat Kehidupan Emosional (Riwayat Kepribadian Premorbid) Pasien adalah orang yang cenderung tertutup. Jika memiliki permasalahan jarang menceritakannya kepada siapapun termasuk ibu bapaknya maupun saudarasaudaranya. Pasien juga cenderung pendiam, sehingga bila ada masalah lebih suka memendam masalahnya sendirian. Pasien sering marah tanpa sebab yang jelas. x. Hubungan Sosial Pasien mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga, namun jarang memiliki teman dan sering bersosialisasi dengan lingkungan. xi. Kebiasaan
Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 8

Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok, tidak pernah mengkonsumsi minumminuman keras, dan obat-obatan terlarang. xii. Status Sosial Ekonomi Pasien dibesarkan dengan sosial ekonomi rendah, pasien hidup dengan orang tuanya yang bekerja sebagai buruh. xiii. Riwayat Khusus Tidak ada riwayat khusus,pernah berhubungan dan berurusan dengan pihak kepolisian karena membuka pintu balai desa saat malam hari.

X. Tingkat Kepercayaan Aloanamnesis


Aloanamnesis secara umum cukup dapat dipercaya karena diperoleh dari anggota keluarga yang tinggal serumah dan tetangganya.

XI.

Kesimpulan Alloanamnesa / Resume Anamnesis Dihadapkan seorang pasien laki-laki dengan usia 30 tahun, dengan alamat Jejeran, Bantul. Pasien beragama Islam, anak pertama dari 4 bersaudara. Status pasien belum menikah, pendidikan terakhir SD, pasien sudah tidak bekerja. Pasien diantar ke RS oleh petugas puskesmas karena marah-marah, mengamuk dan memukul ibunya. Pasien dibesarkan dalam keluarga dengan ekonomi rendah. Pasien dirasa mengalami perubahan perilaku sejak 6 tahun yang lalu. pasien cenderung tertutup dan pendiam. Pada tahun 2008 menjalani rawat inap di RS Grhasia. Setelah keluhan berkurang, pasien kembali ke rumah pasien namun selama kurang dari 1 bulan di rumah pasien sering mengamuk lagi. Menurut orang-orang terdekat, stresor yang paling kuat dalam mempengaruhi perubahan perilakunya adalah rasa pesimis akan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh.

XII.

PEMERIKSAAN FISIK I. Status Internus Keluhan utama : Autoanamnesis II dilakukan pada tanggal 5 September 2011. No 1. 2. 3. Pemeriksaan Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign Hasil Baik Compos Mentis TD : 120/70 mmHg

Respirasi : 20 x/menit

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 9

4. 5. 6 7 8. 9.

Kepala Mata Lidah Gigi Leher Thorax

10. Abdomen

11. Genitalia 12. Ekstremitas 13. Sistem Integumentum II. Status Neurologis

Nadi : 76 x/menit Suhu : Afebris Mesocephal, rambut hitam mulai. Conjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-) Hiperemis (-) lidah kotor (-) Caries dentis (-) Limfonodi teraba (-), nyeri tekan (-), sikatrik (-) Paru : Inspeksi : Simetris, ketinggalan gerak (-) Palpasi : Vokal fremitus Kanan = Kiri Perkusi : Sonor diseluruh lapang paru Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-) Jantung : Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak di SIC IV midclavicula sinistra Palpasi : Iktus cordis teraba di SIC IV midclavicula sinistra Perkusi : Redup Auskultasi : S1>S2 reguler, bising (-) Inspeksi : Dinding perut lebih tinggi daripada dinding dada Auskultasi : Peristaltik usus (+), normal Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba Perkusi : Timpani Tidak dilakukan pemeriksaan akral hangat, nadi kuat, udem (-) Tak ada kelainan

Tungkai Gerakan Tonus Trofi Edema Refleks fisiologis Refleks patologis Sensibilitas Kanan Bebas Normal Eutrofi (-) Patella (+) Achilles (+) Babinski (-) Openheim () Chadok (-) (+) Kiri Bebas Normal Eutrofi (-) Patella (+) Achilles (+) Babinski (-) Openheim (-) Chadok (-) (+)

Lengan Kanan Bebas Normal Eutrofi (-) Biceps (+) Triceps (+) Hoffman (-) Kiri Bebas Normal Eutrofi (-) Biceps (+) Triceps (+) Hoffman (-)

(+)

(+)

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 10

Tremor

(-)

(-)

Tremor halus (-)

Tremor halus (-)

XIII.

HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG (9-1-2012)


Hb AL AE : 16,1 gr/dl : 9300 /mmk : 5,51 juta/mmk

Hematokrit: 47,9 % Trombosit : 187 ribu/mmk Eosinofil/Basofil/Batang/Segmen/Limfosit/ Monosit: 0/0/2/68/30/1

XIV.

STATUS PSIKIATRI Autoanamnesa dilakukan pada tanggal 26 April 2012 (12 hari perawatan) Pasien dapat berbicara dengan baik, dapat menyebutkan identitas dirinya seperti nama, umur, alamat. Selain itu, pasien dapat diajak berbicara dengan baik,panjang lebar dan berkepanjangan, jawaban sesuai pertanyaan, kata-kata berlebihan, kadang pembicaraan melompat dari satu ide ke ide yang lain. Sikap dan tingkah laku biasa, baik, tidak menunjukkan sikap marah-marah. Pasien mengaku tidak mengalami gangguan tidur. Kepribadian pasien cenderung memiliki kepribadian religiousitas. No Status Psikiatri 1. Kesadaran 2. Orientasi Hasil GCS 15 (E4M6V5) Compos Mentis O : baik W : baik T : baik S : baik 3. Sikap / Tingkah Kooperatif, laku normoaktif Keterangan Sadar penuh tanpa rangsang apapun dapat berkomunikasi Mengetahui dirinya sendiri, orang lain dan pemeriksa Dapat membedakan waktu pagi, siang dan sore. Dapat menyebutkan alamat rumah; mengetahui dimana dirinya sekarang. Dapat membedakan situasi yang ramai dan sepi Saat diwawancarai pasien tampak kooperatif (dapat di ajak bicara) dan memperlihatkan sikap dan tingkah laku seperti pada umumnya. Menunjukkan ekspresi wajah yang berlebihan saat bercerita. Saat diwawancarai pasien menunjukkan ekspresi perasaan senang,
Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 11

4. 5.

Roman Muka Afek

hipermimik meningkat/meluas

6.

Proses Pikir 1. Bentuk Pikir 2. Isi Pikir

realistik Waham (+) Waham kebesaran (+), riwayat waham sisip pikir (-). Waham kendali pikir (-) Nb : Jika pasien berbicara dengan temannya pasien merasa,lawan bicaranya selalu kalah. Progresi Pikir : - Kuantitatif: Logorhea Kualitatif: koheren+relev an Pasien ditanya menjawab semua pertanyaan yang diberikan dan pembicaraanya panjang susah dihentikan. Dapat dipahami bicaranya

9.

Persepsi

10. Hubungan Jiwa 11. Perhatian 12. Insight XV.

Halusinasi (-) Riwayat bisikan (-) Ilusi (-) Mudah Mudah dibina dengan pemeriksa. Mudah ditarik mudah Pasien mudah diajak bicara dan mudah dicantum difokuskan pada pembicaraan Jelek Pasien merasa tidak sedang sakit

RANGKUMAN DATA YANG DIPEROLEH PADA PENDERITA Sign Kesadaran Afek Sikap/tingkah laku Roman muka Simptom Bentuk pikir Progresi pikir Hubungan jiwa Insight Isi pikir Persepsi : Realistik : relevan, koheren : Mudah : jelek : Waham bizare (+), kendali pikir (-),dan waham sisip pikir (-), : Riwayat halusinasi auditorik (+) : Compos mentis : meluas / meningkat : Kooperatif/normoaktif : hipermimik

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 12

Sindrom

Sindrom skizofren: -

Riwayat waham curiga Waham kebesaran Riwayat Halusinasi auditorik

Sindrom Paranoid : Riwayat waham curiga

Differential Diagnosis :
1. Gangguan Suasana Perasaan Organik ( F.06) Gangguan Mental Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit Fisik Lain. ( F06.8 ) 2. Gangguan Suasana perasaan ( Mood / Afektif ) F.06.3 :Memenuhi Kriteria diagnosa F.06 dan ditandai dengan perubahan suasana perasaan (mood) atau afek biasanya disertai perubahan pada segala tingkat kegiatan.

XVI.

PEDOMAN DIAGNOSA
Tabel 1. Gangguan Mental Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit

Fisik . Gangguan Suasana Perasaan Mood ( Afektif) Organik F06.3

No

Pedoman Diagnostik

Gejala pada Pasien

Kesimpulan

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 13

Adanya peyakit,kerusakan atau disfungsi otak berhubungan dengan salah satu sindrom yang tercantum - Adanya

(+)

Memenuhi

2.

hubungan

waktu

antara yang

(+)

Memenuhi

perkembangan

penyakit

mendasarinya dengan timbulnya sindrom mental

3.
Kesembuhan gangguan jiwa setelah perbaikan atau dihilangkannya penyebab yang diduga mendasarinya

(+)

Memenuhi

4.

perubahan suasana perasaan (mood) ataxu afek biasanya disertai perubahan pada segala tingkat kegiatan

(-)

Tidak Memenuhi

Kesimpulan : Diagnosa F06.3 Tidak memenuhi

Tabel 2 Gangguan Mental Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit Fisik Lain YDT NO Kriteria Diagnosa KRITERIA PADA PASIEN
disfungsi otak

1.

Adanya

peyakit,kerusakan

atau

Memenuhi

berhubungan dengan salah satu sindrom yang tercantum

2.

- Adanya hubungan waktu antara perkembangan penyakit Memenuhi yang mendasarinya dengan timbulnya sindrom mental

3.

Kesembuhan gangguan jiwa setelah perbaikan atau Memenuhi dihilangkannya penyebab yang diduga mendasarinya

4.

Keadaan suasana perasaan / mood abnormal yang

Memenuhi

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 14

terjadi ketika dalam pengobatan dengan steroid/antidepresiv Termasuk : Psikosis epileptik YTT Kesimpulan : Diagnosa F06.8 Memenuhi

XVII.

KESIMPULAN Dari hasil pembahasan di atas menunjukkan bahwa pasien memenuhi kriteria untuk diagnosis Gangguan Mental Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit Fisik Lain YDT (F06.8)

XVIII.

DIAGNOSA KERJA Axis I : Gangguan Mental Akibat Kerusakan dan Disfungsi Otak dan Penyakit

Fisik Lain YDT (F06.8) Axis II Axis III Axis IV Axis V : : : :

XIX.

PERMASALAHAN i. Gangguan Psikotik (adanya waham) ii. Tipe kepribadian cenderung iii. Pasien tidak rutin minum obat

XX.

TERAPI / PENATALAKSANAAN Prinsip umum : 1. Pendekatan per individu 2. Farmakoterapi (antipsikotik dan anti epileptik) harus ditunjang oleh psikoterapi i. Terapi Farmaka 1. Haloperidol 2 x 5 mg ( 1/2 0 1/2 ) Merupakan obat anti psikosis dengan potensi tinggi, afek sedasi rendah dan memberikan efek extrapiramidal yang besar. Obat dengan dosis tersebut diberikan untuk menekan gejala psikosik. Adapun Efek samping antipsikosis Long Term yaitu Extra Pyramidal Symptom (EPS) dengan gejala : a. Tremor
Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 15

b. Rigiditas ( kaku kuduk, kaku gerak dll) c. Bradikinesia d. Hipersalivasi e. Distonia akut ( mata melirik keatas, lidah menjulur ke luar ) f. Tardive diskinesia ( gerakan berulang involunter pada lidah, wajah, mulut/rahang, pada waktu tidur gejala tersebut menghilang ). Untuk penanganan efek samping dari Haloperidol ini dapat diberikan tablet Trihexyphenidyl. 2. Trihexyphenidyl (THP) 2 x 2 mg ( 1 0 1 ) Merupakan antidotum untuk efek samping dari penggunaan haloperidol berupa gejala ekstrapiramidal seperti tremor, sindrom parkinson, dll. Digunakan sesuai kebutuhan bersamaan dengan pemberian haloperidol. Dosis untuk pagi dan malam hari 3. Phenitoin 3 x 50 mg ( 1-1-1 ) Fenitoin merupakan obat golongan antiepilepsi. Mekanisme kerja utamanya pada korteks motoris yaitu menghambat penyebaran aktivitas kejang. Kemungkinan hal ini disebabkan peningkatan pengeluaran natrium dari neuron dan fenitoin cenderung menstabilkan ambang rangsang terhadap hipereksitabilitas yang disebabkan perangsangan berlebihan atau kemampuan perubahan lingkungan di mana terjadi penurunan bertahap ion natrium melalui membran. Ini termasuk penurunan potensiasi paska tetanik pada sinaps. Fenitoin menurunkan aktivitas maksimal pusat batang otak yang berhubungan dengan fase tonik dari kejang tonik-klonik (grand mal). Waktu paruh plasma setelah pemberian oral rata-rata adalah 22 jam (antara 7-42 jam). Oral : dosis awal 3-4 mg/kg/hari atau 150-300 mg/hari, dosis tunggal atau terbagi 2 kali sehari. Dapat dinaikkan bertahap. Dosis lazim : 300 - 400 mg/hari, maksimal 600 mg/hari. 4.Phenobarbital 3x 50mg ( 1-1-1) Phenobarbital merupakan obat antiepilepsi atau antikonvulsi yang efektif. Toksisitasnya relatif rendah, murah, efektif, dan banyak dipakai. Dosis

antikonvulsinya berada di bawah dosis untuk hipnotis. Ia merupakan antikonvulsan yang non-selektive. Manfaat terapeutik pada serangan tonik-klonik generalisata (grand mall) dan serangan fokal kortikal. Mekanisme kerja menghambat kejang kemungkinan melibatkan potensiasi penghambatan sinaps melalui suatu kerja pada reseptor GABAA, rekaman intrasel
Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 16

neuron korteks atau spinalis kordata mencit menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan respons terhadap GABA yang diberikan secara iontoforetik. Efek ini telah teramati pada konsentrasi fenobarbital yang sesuai secara terapeutik. Analisis saluran tunggal pada out patch bagian luar yang diisolasi dari neuron spinalis kordata mencit menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan arus yang diperantarai reseptor GABA dengan meningkatkan durasi ledakan arus yang diperantarai reseptor GABA tanpa merubah frekuensi ledakan. Pada kadar yang melebihi konsentrasi terapeutik, fenobarbital juga membatasi perangsangan berulang terus menerus; ini mendasari beberapa efek kejang fenobarbital pada konsentrasi yang lebih tinggi yang tercapai selama terapi status epileptikus.

ii. Psikoterapi Tujuan psikoterapi adalah untuk menguatkan daya tahan mental yang ada, mempertahankan kontrol diri, mengembalikan keseimbangan adaptif supaya dapat menyesuaikan diri. Cara-cara psikoterapi suportif antara lain melalui bimbingan dan penyuluhan. Cara-cara psikoterapi suportif antara lain terutama : - Ventilasi : pasien dibimbing untuk menceritakan segala permasalahan sehingga dapat diberikan memberikan problem solving yang baik. Pasien juga dibimbing untuk terbuka terhadap orang lain yang dapat dipercaya oleh pasien untuk mengetahui masalah utama yang membuat pasien merasa sangat terganggu. Dengan demikian diharapkan pikiran dan wacana pasien dapat terbuka lebar dalam menanggapi masalahnya. Sampai saat ini keterbukaan pasien mengenai masalah yang dialaminya masih sulit untuk digali. Diusulkan untuk melakukan terapi suportif dengan orang yang dekat dengan pasien dalam hal ini ibu pasien. - Persuasi : Membujuk pasien agar kooperatif dalam terapi seperti minum obat dan rutin kontrol. Serta melibatkan keluarga sehingga keluarga berperan sebagai pengawas minum obat. - Insight Psikoterapi : Memberi informasi yang masuk akal kepada pasien tentang timbulnya gejala-gejala sehingga dapat membebaskan pasien dari impuls-impuls yang sangat mengganggu. Memberikan pengarahan kepada pasien atas masalahnya. - Sugesti : Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh (penyakit terkontrol), apabila pasien kontrol secara rutin dan rajin meminum obat. Memberikan

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 17

masukan kepada pasien dalam membina kembali hubungan yang baik dengan orangorang disekitarnya. iii. Terapi Sosiokultural Edukasi dan Modifikasi Keluarga Keluarga pasien diinformasikan dan diajarkan cara merawat, memperlakukan, pasien dengan benar, karena pasien gangguan jiwa memerlukan perhatian khusus. Keluarga dianjurkan mengawasi pasien saat minum obat dan memastikan pasien meminum obat dengan rutin di rumah (untuk mengatasi ketidakdisiplinan minum obat), dan rutin kontrol. Terapi Spiritual Terapi spiritual dapat dilakukan dengan mengikut sertakan pasien pada kegiatankegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah atau mendengarkan ceramah yang sesuai dengan ajaran agama serta memberikan pengertian tentang pemikiran dan paham religiusisme yang sangat berlebihan. Terapi ini dimaksudkan agar pasien tetap mengingat dan menjalankan perintah dari ajaran/kepercayaannya sesuai dengan kebutuhannya dan tidak menyalah artikan arti dan makna sesungguhnya ajaran agama sehingga dapat membuatnya lebih merasa tenang, aman dan nyaman dalam hati dan batin. iv. Terapi Rehabilitatif Terapi ini dilakukan untuk mempersiapkan pasien untuk dapat kembali pada masyarakat dengan fungsi pekerjaan dan sosial. Terapi kerja dilakakukan dengan memberikan bekal ketrampilan kepada pasien sehingga pada saat keluar nanti mempunyai bekal ketrampilan yang disesuaikan dengan kemampuan pasien. Terapi kerja ditujukan untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Juga ditujukan pada kemampuan dan kekurangan pasien. Mengajak pasien melakukan aktivitas kegiatan positif. Pemberian okupasi terapi atas dasar kesadaran bukan paksaan. Memberikan keterampilan pada pasien untuk bekal dibawa pulang. Dengan memiliki bekal keterampilan berdasarkan kemampuan pasien, maka diharapkan pasien setelah pulang dari rumah sakit dapat mengembangkan keterampilannya itu sehingga menjadi sesuatu yang dapat menghasilkan, sehingga dapat menambah penghasilan. Dengan demikian diharapkan dapat meringankan beban ekonomi yang selama ini dirasakan menjadi faktor penyebab utama.

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 18

XXI.

PROGNOSIS Indikator Premorbid 1. Riwayat Pendidikan 2. Faktor Genetik 3. Pola asuh keluarga 4. Ciri kepribadian 5. Stressor Psikososial 6. Sosial Ekonomi 7. Status Perkawinan 8. Kegiatan Spiritual Indikator Pada pasien SD Ada Demokratis Terbuka Pesimis akan penyakit dan Pekerjaan Ekonomi menengah ke bawah Belum menikah Sering melakukan ibadah Pada pasien Prognosis jelek jelek baik baik jelek jelek baik Prognosis Jelek Jelek Jelek jelek Baik baik Jelek Jelek

Morbid 1. Onset Usia dewasa 2. Jenis penyakit Gangguan Mental Organik 3. Kronologis perjalanan Kronis penyakit 4. Faktor organik Ada 5. Respon terapi Baik 6. Beraktivitas sosial terbuka 7. Dukungan keluarga Kurang 8. Kedisiplinan minum obat Kurang Kesimpulan : prognosis dubia at malam.

Presentasi Kasus Ilmu Kedokteran Jiwa | 19