Anda di halaman 1dari 23

AUGUSTE COMTE

Teori Sosiologi Klasik

Riwayat Hidup

Lahir di Montpellier,Prancis 1778 1857


Keluarga Katolik, bangsawan,tetapi Comte tak perlihatkan loyalitasnya. Pendidikan di Ecole Polytechnique di Paris dan alami pergolakan sosial,intelektual & politik. Berminat masalah sosial setelah menjadi asisten/sekretaris dari Saint Simon

Riwayat Hidup
Karya : Course of Positive Philosophy, System of Positive Philosophy Karya keduanya itu merupakan suatu bentuk pernyataan menyeluruh mengenai strategi pelaksanaan praktis pemikirannya mengenai filsafat positif yang sudah dikemukaannya terlebih dahulu dalam Course of Positive Philosophy

Perspektif Positivis Comte tentang Masyarakat


Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang kenyataannya lebih daripada sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung, tetapi untuk mengerti kenyataan ini, metode penelitian empiris harus digunakan Dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik.

Perspektif Positivis Comte tentang Masyarakat


Comte Perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah ini sebagai puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis di mana semua ilmu-ilmu lainnya sudah melewatinya (tiga tahap masyarakat) Bidang sosiologi (fisika sosial) adalah yang paling akhir melewati tahap ini, karena pokok masalahnya lebih kompleks daripada yang terdapat dalam ilmu fisika dan biologi.

Perspektif Positivis Comte tentang Masyarakat


Mengatasi cara-cara berpikir mutlak yang terdapat dalam tahaptahap pra positif, menerima kenisbian pengetahuan kita serta terusmenerus terbuka terhadap kenyataan-kenyataan baru Sesudah menentukan sifat epsitimologi umum (seperangkat gagasan) dari pendekatan positif, Comte lalu tunjukkan metodemetode khusus penelitian empiris yang sama untuk semua ilmu : pengamatan, eksperimen, dan perbandingan. Namun Comte mengakui bahwa tak mungkin untuk menunggu sampai semua fakta tersedia sebelum merumuskan suatu hukum teoritis, sekurang-kurangnya untuk sementara. Pun pengamatan suatu metode yang paling kurang canggih tak hanya sekadar mencakup pendaftaran semua fakta itu; sebaliknya, pengamatan diarahkan oleh semacam teori implisit yang memberikan arah kepada si pengamat gejala empiris yang mana yang patut dicatat.

Gagasan menggunakan metode penelitian empiris yang sama seperti yang digunakan dalam ilmu fisika & biologi untuk menganalisa gejala sosial sejalan dengan pandangan Comte mengenai kesatuan filosofis semua ilmu. Salah satu tujuan utama dari buku Course of Positive Philosophy adalah untuk menunjukkan kesatuan ini dengan menganalisa dasar-dasar filosofis dari semua ilmu, dari matematika,astronomi,sampai sosiologi Semua ilmu itu memperlihatkan hukum perkembangan intelektual yang sama, seperti tampak dalam perkembangan melalui 3 tahap pemikiran teologis, metafisik, positivis.

Bukunya The Course of Positive Philosophy merupakan ensiklopedi tentang evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis tentang filsafat positif, yang semua itu terwujud dalam tahap terakhir perkembangan.

HUKUM TIGA TAHAP


Hukum 3 tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitif sampai ke peradaban Prancis abad 19 yang sangat maju. Bahwa masyarakat berkembang melalui tiga tahap utama yang ditentukan oleh cara berpikir yang dominan : teologis,metafisik,dan positif

Fase teologis
Akal budi manusia, yang mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama & sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat singkatnya, pengetahuan absolut mengandaikan bahwa semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supernatural. Tahap terlama dalam sejarah manusia. Dibagi dalam Fetisisme, Politeisme, dan Monoteisme. Misal Menjelaskan tentang perilaku seseorang yang kejam/bengis, maka dihubungkan dengan roh jahat yg dimilikinya atau merupakan hasil dosa asal

Fase metafisik
Hanya merupakan suatu bentuk lain dari yang pertama, akal budi mengandaikan bukan hal supernatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan), dan yg mampu menghasilkan semua gejala. Transisi antara tahap teologis & positif. Ditandai oleh satu kepercayaan akan hukum-hukum alam yg asasi yg dapat ditemukan dg akal budi. Protestantisme & Deisme merupakan penyesuaian berturut-turut dari semangat teologis ke munculnya semangat metafisik yang mantap. Menjelaskan tentang perilaku sesorang yang kejam/bengis dijelaskan mungkin sebagai hasil dari suatu pelanggaran hukum alam

Fase Positif
Akal budi sudah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian absolut,asal & tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala & memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya yakni hubungan-hubungan urutan & persamaannya yang tak berubah. Penalaran & pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini. Ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir. Tetapi pengetahuan selalu sementara sifatnya, tidak mutlak. Menjelaskan tentang perilaku sesorang yang kejam/bengis dijelaskan dalam hubungannya dengan pengaruh yang ditentukan oleh lingkungan dalam mengukuhkan atau menghilangkan pelbagai pola-pola perilaku.

HUBUNGAN ANTARA TAHAP-TAHAP INTELEKTUAL DAN ORGANISASI SOSIAL


Selain sumbangan tahap-tahap sebelumnya terhadap evolusi sosial, masing-masing tahap juga memiliki hubungan afinitas yang khas dengan jenis organisasi sosial di mana cara berpikir itu dominan. Dengan kata lain, dalam setiap tahap itu, pola organisasi sosial yang dominan mencerminkan pengaruh kepercayaan masing-masing serta gaya intelektualnya

Tahap Intelektual & Organisasi Sosial


Tahap teologis mendukung tipe organisasi sosial militer,sedangkan tahap positif yang terakhir mendukung tipe keteraturan sosial yang bersifat industrial. Tahap metafisik peralihan berhubungan dengan dominasi sosial dari ahli hukum (istilah Comte untuk menunjukkan mereka yang berusaha menarik doktrin-doktrin sosial & politik dari pemahaman tentang hukum-hukum alam).

Tahap Intelektual & Organisasi Sosial


Selama periode teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan meskipun ada kelompok yang lebih besar yang didirikan untuk kegiatan militer, atau sebagai hasil dari penguasaan militer. Dalam periode metafisik negara-bangsa menjadi suatu organisasi yang dominan. Comte optimis dengan munculnya tahap positif, nasionalisme akan digantikan dengan keteraturan sosial yang meliputi humanitas seluruhnya

Tahap Intelektual & Organisasi Sosial


Comte mengakui bahwa perubahan dari satu tahap ke tahap berikutnya tak pernah terjadi secara tiba-tiba,sehingga memperlihatkan suatu garis pemisah yang jelas dengan sebelumnya, serta memperlihatkan suatu awal tahap yang baru sama sekali. Sebaliknya dalam semua periode sejarah, semua ketiga cara berpikir itu sekarang ini ada dalam suatu derajat tertentu.

Stabilitas Sosial
Sejalan dengan perspektif organiknya, Comte sangat menerima saling ketergantungan yang harmonis antara bagian-bagian masyarakat, & sumbangannya terhadap bertahannya stabilitas sosial. Meskipun keteraturan sosial dapat terancam oleh anarki sosial, moral & intelektual, selalu akan diperkuat kembali.

Analisa Keteraturan Sosial


Analisa Comte tentang keteraturan sosial dapat dibagi dua fase : A. Usaha untuk menjelaskan keteraturan sosial secara empiris dengan menggunkaan metode positif B. Usaha untuk meningkatkan keteraturan sosial sebagai suatu cita-cita yang normatif dengan menggunakan metode-metode yang bukan tak sesuai dengan positivisme ,tetapi yang menyangkut perasaan dan juga intelek.

Keluarga sebagai Satuan Masyarakat


Sesungguhnya dalam pandangan Comte, individu sedemikian besarnya dipengaruhi & dibentuk oleh lingkungan sosial, sehingga satuan masyarakat yang asasi adalah bukan individu-individu,melainkan keluarga-keluarga Dalam keluargalah individu itu diperkenalkan kepada masyarakat. Keluarga dalam bentuk mikrokosmik memberikan pengalaman akan dominasi & ketaatan, kerjasama, serta munculnya perasaan-perasaan altruistik.

Agama Humanitas
Bagaimana keteraturan sosial itu dapat dipertahankan dalam masyarakat positif di masa akan datang, dengan satu dasar tradisi pokok tentang keteraturan sosial yang digali oleh positivisme Mendirikan satu agama baru : agama Humanitas, dan mengangkat dirinya sebagai imam agung.

Agama Humanitas
Agama humanitas Comte merupakan gagasan utopis untuk mereorganisasi masyarakat secara sempurna. Sosiologi akan menjadi ratu ilmu pengetahuan (seperti teologi di abad-abad pertengahan) Ini aspek kedua (meliputi usaha meningkatkan keteraturan sosial dengan agama Humanitas sebagai cita-cita normatifnya), sedangkan fase pertama seperti terlihat di depan (meliputi analisa obyektif tentang sumber-sumber stabilitas dalam masyarakat). Ini merupakan pokok permasalahan utama dalam bukunya System of Positive Politics

Agama Humanitas
Ahli-ahli sosiologi akan menjadi penjaga moral & intelektual dalam tata baru itu & peranannya akan mencakup bimbingan bagi industriawan serta pemimpinpemimpin pemerintahan untuk meyakinkan bahwa tindakan mereka dibimbing oleh pengetahuan ilmiah & prinsip-prinsip moral. Singkatnya, para ahli sosiologi akan menjadi imam-imam spiritual dalam tata sosial yang baru itu; di bawah pimpinannya yang bijaksana itu, anggota masyarakat akan belajar bahwa kebahagiaan serta kesejahteraan mereka & kemajuan sosial yang mantap tergantung pada perkembangan perasaan altruistik serta pelaksanaan tugas dalam meningkatkan kemanusiaan.