Anda di halaman 1dari 99

Just another WordPress.

com site
Search...

freddypanjaitan

About

Kehamilan Lewat Waktu (Serotinus) 10 Jan

Pendahuluan Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan aterm adalah usia kandungan antara 38-42 minggu dan ini merupakan periode terjadinya persalinan normal. Namun, sekitar 3,4-14% atau rata-rata 10% kehamilan berlangsung sampai 42 minggu atau lebih. Angka ini bervariasi dari bebearpa penelitian bergantung pada kriteria yang dipakai. Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Neagle dengan siklus haid rata-rata 28 hari dan belum terjadi persalinan. Kehamilan lewat waktu merupakan salah satu kehamilan yang beresiko tinggi, di mana dapat terjadi komplikasi pada ibu dan janin. Diagnosis usia kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan dari perhitungan usia kehamilan, seperti rumus Naegele atau dengan tinggi fundus uteri serial. Kehamilan postterm mempunyai resiko lebih tinggi daripada kehamilan aterm, terutama terhadap kematian perinatal (antepartum, intrapartum, dan postpartum) berkaitan dengan aspirasi mekonium dan asfiksia. Kehamilan postterm terutama berpengaruh terhadap janin, meskipun hal ini masih banyak diperdebatkan dan sampai sekarang masih belum ada persesuaian paham. Dalam kenyataannya kehamilan postterm mempunyai pengaruh terhadap perkembangan janin sampai kematian janin. Ada janin yang dalam masa kehamilan 42 minggu atau lebih berat badannya meningkat terus, ada yang tidak bertambah, ada yang lahir dengan berat badan kurang dari semestinya, atau meninggal dalam kandungan karena kekurangan zat makanan dan oksigen. Kehamilan postterm mempunyai hubungan erat dengan mortalitas, morbiditas perinatal, atau makrosomia. Sementara itu, risiko bagi ibu dengan kehamilan postterm dapat berupa perdarahan pascapersalinan ataupun tindakan obstetrik yang meningkat. Berbeda dengan angka kematian ibu yang cenderung menurun, kematian perinatal tampaknya masih menunjukkan angka yang cukup tinggi, sehingga pemahaman dan penatalaksanaan yang tepat terhadap kehamilan postterm akan memberikan sumbangan besar dalam upaya menurunkan angka kematian, terutama kematian perinatal.

Definisi

Kehamilan serotinus adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari perkiraan yang dihitung dari HPHT, di mana usia kehamilannya melebihi 42 minggu dan belum terjadi persalinan.

Serotinus/postterm adalah kehamilan lebih dari 42 minggu dengan berdasarkan perhitungan kehamilan dengan HPHT dan belum terjadi persalinan Aterm adalah kehamilan 38-42 minggu (periode persalinan normal) Postmatur adalah penggambaran janin yang memperlihatkan adanya kelainan akibat kehamilan yang berlangsung lebih dari yang seharusnya (serotinus).

Insidens Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, di mana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 57%.

Etiologi Etiologi belum diketahui secara pasti namun faktor yang dikemukaan adalah hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter, karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu (Rustam, 1998). Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim (Manuaba, 1998). Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen pada kehamilan normal umumnya tinggi. Faktor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Factor lain adalah hereditas, karena post matur sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi, yaitu 30% prepartum, 55% intrapartum, dan 15% postpartum.

Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut :


Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering. Tidak diketahui. Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan. Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang jarang terjadi. Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi. Faktor genetik juga dapat memainkan peran.

Patofisiologi Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim (Manuaba, 1998). Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas, tubuh panjang dan kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang, tali pusat selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan postterm dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin. Bila keadaan plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat menyebabkan distosia bahu.

Sebab Terjadinya Kehamilan Postterm

Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab terjadinya kehamilan postterm sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori diajukan antara lain sebagai berikut : 1. Pengaruh Progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga beberapa penulis menduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesterone. 2. Teori Oksitosin Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil

yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab kehamilan postterm. 3. Teori Kortisol/ACTH Janin Dalam teori ini diajukan bahwa pemberi tanda untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anensefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan. 4. Saraf Uterus Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm. 5. Herediter Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya akan mengalami kehamilan postterm.

Resiko Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologik. Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum.

Manifestasi Klinis

Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali/20 menit atau secara obyektif dengan KTG kurang dari 10 kali/20 menit. Air ketuban berkurang dengan atau tanpa pengapuran (klasifikasi) plasenta diketahui dengan pemeriksaan USG. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi : Stadium I : kering, kulit kehilangan verniks kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit

rapuh, dan mudah mengelupas. Stadium II : Stadium III : dan tali pusat. seperti Stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) di kulit. seperti Stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit

Menurut Muchtar (1998), pengaruh dari serotinus adalah : 1. Terhadap Ibu : Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, maka akan sering dijumpai patus lama, inersia uteri, dan perdarahan postpartum. 2. Terhadap Bayi : Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi seperti berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang terjadi kematian janin dalam kandungan, kesalahan letak, distosia bahu, janin besar, moulage.

Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998), yaitu :


Biasanya lebih berat dari bayi matur (> 4000 gram) Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur Rambut lanugo hilang atau sangat kurang Verniks kaseosa di badan kurang Kuku-kuku panjang Rambut kepala agak tebal

Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

Diagnosis Tidak jarang seorang dokter mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis kehamilan postterm karena diagnosis ini ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi kehamilan. Beberapa kasus yang dinyatakan sebagai kehamilan postterm merupakan kesalahan dalam menentukan umur kehamilan. Kasus kehamilan postterm yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22%. Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan janin yang jarang. Dalam menentukan diagnosis kehamilan postterm di samping dari riwayat haid, sebaiknya dilihat pula hasil pemeriksaan antenatal.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilanlewat waktu, antara lain : 1. HPHT jelas. 2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu. 3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler, dan 19-20 minggu dengan fetoskop). 4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu. 5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.

Pemeriksaan Penunjang Menurut Sujiyatini dkk (2009), pemeriksaan penunjang yaitu USG untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta. KTG untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin. Menurut Mochtar (1998), pemeriksaan penunjang sangat penting dilakukan, seperti pemeriksaan berat badan ibu, diikuti kapan berkurangnya berat badan, lingkaran perut dan jumlah air ketuban. Pemeriksaan yang dilakukan seperti :

1. Bila wanita hamil tidak tahu atau lupa dengan haid terakhir setelah persalinan yang lalu, dan ibu menjadi hamil maka ibu harus memeriksakan kehamilannya dengan teratur, dapat diikuti dengan tinggi fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat membantu diagnosis. 2. Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan untuk memeriksa ukuran diameter biparietal, gerakan janin dan jumlah air ketuban. Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial terutama sejak trimester pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan. Pemeriksaan Ultrasonografi pada kehamilan postterm tidak akurat untuk menentukan umur kehamilan. Tetapi untuk menentukan volume cairan amnion (AFI), ukuran janin, malformasi janin dan tingkat kematangan plasenta. 3. Pemeriksaan berat badan ibu, dengan memantau kenaikan berat badan setiap kali periksa, terjadi penurunan atau kenaikan berat badan ibu. 4. Pemeriksaan Amnioskopi dilakukan untuk melihat derajat kekeruhan air ketuban menurut warnanya yaitu bila keruh dan kehitaman berarti air ketuban bercampur mekonium dan bisa mengakibatkan gawat janin (Prawirohardjo, 2005).

Kematangan serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan.

Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan : 1. Tes tanpa tekanan (non stress test). Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar janin baik. 2. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali/20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG (normal > 1 cm/bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata oligohidramnion, maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu. 3. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia.

Tatalaksana

Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga setiap persalinan kehamilan posterm harus dilakukan pengamatan ketat dan sebaiknya dilaksanakan di rumah sakit dengan pelayanan operatif dan perawatan neonatal yang memadai. Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score). Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain : 1. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley. 2. Induksi dengan oksitosin. 3. Bedah seksio sesaria.

The American College of Obstetricians and Gynecologist mempertimbangkan bahwa kehamilan postterm (42 minggu) adalah indikasi induksi persalinan. Penelitian menyarankan induksi persalinan antara umur kehamilan 41-42 minggu menurunkan angka kematian janin dan biaya monitoring janin lebih rendah. Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.

Table 1. Skor Bishop 1 2 3 Pendataran serviks 40-50% 60-70% 80% Pembukaan serviks 1-2 3-4 5-6 Penurunan kepala dari Hodge III -2 -1, 0 +1, +2 Konsistensi serviks Sedang Lunak Searah sumbu jalan Posisi serviks Posterior Anterior lahir Bila nilai pelvis (PS) > 8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil. Bila PS > 5, dapat dilakukan drip oksitosin. Bila PS < 5, dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu, kemudian lakukan pengukuran PS lagi. 0 0-30% 0 -3 Keras

Tatalaksana yang biasa dilakukan ialah induksi dengan Oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur

skor pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis > 5, maka induksi persalinan dapat dilakukan. Induksi persalinan dilakukan dengan Oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul his yang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan infus drip Oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul, dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria.

Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada : 1. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang 1. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau 2. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.

Pada kehamilan yang telah melewati 40 minggu dan belum menunjukkan tanda-tanda inpartu, biasanya langsung segera diterminasi agar resiko kehamilan dapat diminimalis.

Komplikasi 1. Menurut Mochtar (1998), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu : 1. Plasenta

Kalsifikasi Selaput vaskulosinsisial menebal dan jumlahnya berkurang Degenerasi jaringan plasenta Perubahan biokimia

1. Komplikasi pada Ibu Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus lama, inersia uteri, atonia uteri dan perdarahan postpartum. 2. Komplikasi pada Janin Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin bertambah besar, tetap atau berkurang, serta dapat terjadi kematian janin dalam kandungan. 1. Menurut Prawirohardjo (2006), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti gawat janin, gerakan janin berkurang, kematian janin, asfiksia neonaturum dan kelainan letak.

2. Menurut Achdiat (2004), komplikasi yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi seperti kelainan kongenital, sindroma aspirasi mekonium, gawat janin dalam persalinan, bayi besar (makrosomia) atau pertumbuhan janin terlambat, kelainan jangka panjang pada bayi.

Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7-8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A jatuh pada 2 Januari 1999. Saat ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7. Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.

yola alvionita Senin, 11 Juni 2012 post term

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar belakang Angka kematian ibu dan angka kematian bayi merupakan indikator yang paling penting untuk melakukan penilaian kemampuan suatu negara untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang obstetri. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinannya. Sedangkan angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 2-5 kali lebih tinggi mencapai

34 per 1000 kelahiran hidup atau 2 kali lebih besar dari target WHO yaitu sebesar 15% per kelahiran hidup (Suprayitno, 2007). Adapun penyebab kematian perinatal adalah kelainan kongenital, prematuritas, trauma persalinan, infeksi, gawat janin dan asfiksia neonatorum. Terjadinya gawat janin di sebabkan oleh induksi persalinan, infeksi pada ibu, perdarahan, insufisiensi plasenta, prolapsus tali pusat, kehamilan dan persalinan preterm dan postterm. Persalinan postterm menunjukkan bahwa kehamilan telah melampaui waktu perkiraan persalinan menurut hari pertama menstruasinya. Ballantyne 1902 seperti dikutip Manuaba, seorang bidan Scotlandia, untuk pertama kali menyatakan bahwa janin yang terlalu lama dalam kandungan dapat membahayakan dirinya dan ibunya saat persalinan berlangsung. Kemudian berturuturut 1950 Clifford mengemukakan tentang sindrom postterm baby, sedangkan 1960 Mc Clure menyatakan bahwa angka kematian bayi dengan kehamilan postdate semakin meningkat (Manuaba, 2007). Menurut WHO persalinan postterm adalah keadaan yang menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Defenisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa persalinan postterm dengan disertai gawat janin mempunyai kontribusi terhadap out come kesehatan yang buruk atau 10% dari persalinan adalah persalinan postterm (Hidayat, 2009). Faktor yang merupakan predisposisi terjadinya persalinan postterm diantaranya faktor ibu adalah karena hanya sebagian kecil ibu yang mengingat tanggal menstruasi pertamanya dengan baik dan adanya gangguan terhadap timbulnya persalinan seperti pengaruh esterogen, oksitosin dan saraf uterus. Banyaknya kasus persalinan postterm di Indonesia yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22% (Prawirohardjo, 2008). Beberapa ahli dapat menyatakan bahwa persalinan preterm akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postterm diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Jika taksiran persalinan telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan bidan harus tetap siaga pada reabilitas taksiran persalinan tersebut. Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu.

Penyebab kematian tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007). Bertolak dari pernyataan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu bersalin . Melalui pembinaan tersebut penulis dapat memahami berbagai proses yang terjadi selama ibu hamil dan bersalin, sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman.

2. a.

Tujuan Tujuan Khusus Tujuan dari makalah tentang posterm ini, yaitu untuk mengetahui dan mempelajari tentang posterm serta mempelajari penggunaan manajemen asuhan kebidanan varney pada kasus posterm.

b.

Tujuan Umum

Untuk mengetahui apa itu postterm. Untuk mempelajari manajemen asuhahan kebidanan vaney pada kasus postterm ini.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

1.

Defenisi Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007). Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007). Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008).

2.

Insiden

Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5 7 %. Variasi insiden postterm berkisar antara 2-31,37%. 3. Etiologi Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan, 2008) faktor penyebab kehamilan postterm adalah : Pengaruh Progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron. Teori Oksitosin Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya. Teori Kortisol/ACTH janin Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai pemberi tanda untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anansefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan. Saraf Uterus Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebabnya. Heriditer

Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya mengalami kehamilan postterm.

4.

Tanda Bayi Postmatur Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) : Stadium I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas.

Stadium II keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.

Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman, begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea. Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah:

Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram). Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang. Verniks kaseosa di badan berkurang. Kuku-kuku panjang. Rambut kepala agak tebal. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel.

5.

Patofisiologi Sindrom posmatur Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput, mengelupas lebar-lebar, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biaanya cukup panjang. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak. Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41, 42, dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas.

Disfungsi plasenta Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini, bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. Memang, pertumbuhan janin yang berlanjut, meskipun kecepatannya lebih lambat, adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu.

Gawat janin dan Oligohidramnion Alasan utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil, diukur dengan USG, bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum, terutama bila disertai dengan ologohidramnion. Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu, mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion

yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. Pertumbuhan janin terhambat Hingga kini, makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. Divon dkk,. (1998) dan Clausson., (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih, demikian juga untuk bayi lahir aterm. Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. Memang, seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini. Serviks yang tidak baik Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. Dilatasi serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan.

BAB III MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN VARNEY

1.

Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data,

mengelompokkan data dan menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dana keadaan klien. Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Data-data yang dikumpulkan yaitu: 1) a. Data Subjektif Identitas ibu dan suami Yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi. b. Keluhan utama Merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan dan apa-apa saja yang dirasakan klien. Kemungkinan yang ditemui pada kasus persalinan postterm ini adalah ibu mengeluhkan bahwa kehamilannya telah lewat dari taksiran persalinannya, tiadk datang haid lebih dari 10 bulan, dan gerakan janin berkurang dari biasanya. c. Riwayat Perkawinan Kemungkinan diketahui status perkawinan, umur waktu kawin, berapa lama kawin baru hamil. Yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko. d. Riwayat menstruasi Yang dikaji adalah HPHT,menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis persalinan post term dari siklus haidnya . e. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu Yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat persalinan

postterm, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang. f. Riwayat kehamilan sekarang Yang dikaji yaitu riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan muda maupun tua yang pernah dialami. Kemungkinan kapan merasakan gerakan janin pertama kali. Kemingkinan apakah ada pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesahatan, mendapatkan imunisasi TT, dan teblet Fe, Kemingkinan adanya tanda-tanda persalinan: keluarnya blood slem, keluar air-air, nyeri pinggang menjalar ari-ari. g. Riwayat Kesehatan Yang dikaji adalah apakah ibu ada menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa. h. Riwayat kesehatan keluarga Yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, riwayat keturunan kembar atau riwayat kehamilan postterm yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut. i. Riwayat kontrasepsi Kemungkinan ibu pernah menggunakan alat alat kontrasepsi atau tidak. j. Riwayat seksualitas Yang dikaji apakah aktifitasnya normal atau ada gangguan. k. Riwayat Sosial, ekonomi, dan budaya Yang dikaji hubungan klien dengan suami, keluarga, dan masyarakat baik. Kemungkinan ekonomi yang kurang mencukupi, adanya kebudayaan klien yang mempengaruhi kesehatan kehamilan dan persalinannya. l. Riwayat spiritual Yang dikaji apakah klien masih dapat melakukan ibadah agama dan kepercayaannya dengan baik.

m. Riwayat psikologis Yang dikaji apa tanggapan klien dan keluarga yang baik terhadap kehamilan dan persalinan ini. Kemungkinan klien dan suaminya mengharapkan dan senang dengan kehamilan ini. Atau kemungkinan klien cemas dan gelisah dengan kehamilannya. n. Kebutuhan dasar Kemungkinan pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan.BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung. 2) Data Objektif Data dikumpulkan melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus. a. Pemeriksaan umum Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tandatanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui keadaan gizi pasien. b. 1. Pemeriksaan khusus Inspeksi Yaitu periksa pandang yang dimulai dari kepala hingga kaki. Yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tandatanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS. 2. Dengan menggunakan cara leopold: Leopold I : Untuk menentukan TFU (tidak sesuai dengan TFU normal, > TFU normal) dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin. Palpasi

Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala. Leopold IV: Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP. 3. Auskultasi Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur. 4. Perkusi Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat. 5. Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi. 6. Pemeriksaan Panggul Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi, adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900). c. Pemeriksaan Penunjang Kadar lesitin/spinngomielin Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur kehamilan sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32 minggu, pada kehamilan

genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan. Aktivitas tromboplastin cairan amniom Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih.

Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. Perlu diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi.

Darah

Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %) Hb 11 gr% : tidak anemia Hb 9-10 gr% : anemia ringan Hb 7-8 gr% : anemia sedang Hb 7 gr% : anemia berat Urine Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine. Untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative. 2. Interprestasi Data

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik. Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tapi membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah ini sering menyertai diagnosa. Diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan harus memenuhi stadar nomenklatur diagnosa kebidanan, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Diakui dan telah disahkan oleh profesi Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan Memiliki ciri khas kebidanan Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan Didukung oleh Clinikal Judgement dalam lingkup praktek kebidanan Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu: Diagnosa Ibu hamil G P A H Post-term usia kehamilan 42 minggu, janin hidup, tunggal, letak kepala, intrauterine, keadaan jalan lahir normal, keadaan umum ibu dan janin baik. Dasar : Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya. a) Riwayat Haid Diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan apabila hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya, diperlukan beberapa kriteria antara lain, Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya Siklus 28 hari dan teratur Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. Berdasarkan riwayat haid, seseorang penderita yang ditetapkan sebagai kehamilan dan persalinan postterm kemungkinan adalah sebagai berikut:

Terjadi kesalahan dalam menetukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal. Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjadi kelambatan ovulasi. Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga kehamilan postterm). b) Tes Kehamilan Bila pasien melakukan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu. c) Gerak Janin Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18-20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multigravida. d) Denyut Jantung Janin (DJJ) Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada umur kehamilan 10-12 minggu. Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut: Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif. Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler. Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama kali. Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec. e) Tinggi Fundus Uteri Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. f) Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama, hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Pada trimester pertama pemeriksaan panjang kepala-tungging (crown-rump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari taksiran persalinan. g) Pemeriksaan Radiologi

Dapat dilakukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifiisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu. Dasar: Kehamilan ibu telah lewat waktu, dan gerakan janin berkurang dari yang dirasakan biasanya. Kebutuhan Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti: Berikan ibu dukungan psikologis. Dasar: Karena kehamilan sudah lewat waktu. Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu saat persalinan. Dasar : karena ibu merasa cemas dengan kehamilan posterm ini. Lakukan episiotomi untuk mempercepat kala II dan bila terjadi gawat janin. Dasar : ibu mengalami posterm, janin besar dan terjadinya gawat janin. Jahit laserasi akibat episiotomi. Dasar : karena akibat robekan perinium dari proses persalinan. Berikan ibu rasa nyaman dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu. Dasar : karena ibu dalam proses persalinan. Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. Dasar : Kebutuhan cairan teruma pada saat proses persalinan meningkat. Anjurkan ibu untuk istirahat. Dasar : Ibu lelah karena dalam proses persalinan. 3. Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah: a) Terhadap Ibu Potensial partus lama Masalah

Dasar : karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, moulding kepala kurang. (Prawirohardjo, 2006). Potensial trauma langsung persalinan pada jalan lahir Dasar : Robekan luas Fistula rekto-vasiko vaginal Ruptura perineum tingkat lanjut Potensial Infeksi Dasar : Karena terbukanya jalan halir secara luas senghingga mudah terjadi kontaminasi bacterial. Potensial Perdarahan Dasar : Trauma langsung jalan lahir dan kontraksi uterus yang tidak terkoordinir. b) Terhadap Janin Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia, hipoksia, hipovolemia, asidosis, hipoglikemia, hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim. Potensial gawat janin atau oligohidramnion Dasar: Karena diameter tali pusat yang mengecil dan penurunan volume cairan amnion,ena terlalu lama terjepit. Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini, bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. Potensial Kematian Janian Dasar : Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu, mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. 4. Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain yang sesuai dengan kondisi klien. Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah:

Untuk gawat janin. Tindakan yang dilakukan jika terjadi gawat janin adalah

Atur posisi ibu miring kekiri. Berikan oksigen 6 liter/menit. Lakukan episiotomi. Injeksikan dexamethason. Pemberian cairan oral atau parenteral ( infus Dextrose 10 % tetesan cepat) Pengotrolan BJJ diwaktu his dan diluar his. Lakukan resusitasi setelah janin lahir. Perdarahan postpartum.

Pasang infuse RL dan oksigen. Periksa laserasi. Jahit laserasi. Berikan uterotonika. Lakukan manual atau KBI dan KBE pada kasus atonia uteri. 5. Kolaborasi dengan tim medis untuk pengakhiran kehamilan. Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh Suatu rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif. Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tidak dilakukan. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: Rawat klien dikamar bersalin untuk memantau proses persalinan. Buat tanda persetujuan tertulis untuk perawatan dan tindakan klien dirumah sakit dan jelaskan tentang peraturan dikamar bersalin. Kala I Tindakan yang perlu dilakukan adalah: Melakukan pemeriksaan TTV setiap 2-3 jam. Pemeriksaan DJJ setiap jam dan setiap 5 menit jika terjadi gawat janin. Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong. Memperhatikan keadaan patologis.

Pasien tidak diperkenankan mengedan. Memberikan dukungan psikologis. Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,keluarga. Mengatur aktivitas dan posisi. Menjaga privasi. Penjelasan tentang kemajuan persalinan. Menjaga kebersihan diri. Mengatasi rasa panas Pemenuhan nutrisi dan hidrasi Kala II

Posisi ibu saat meneran (posisi duduk atau setengah duduk, posisi jongkok atau berdiri, posisi merangkak atau berbaring miring kekiri). Memberikan dukungan pada ibu. Memimpin mengedan. Pemantauan DJJ setiap selesai mengedan. Menolong kelahiran bayi (dengan melakukan episiotomi jika terjadi gawat janin). Periksa tali pusat. Melahirkan bahu. Melahirkan sisa tubuh bayi. Bayi dikeringkan dan dihangatkan seluruh tubuhnya. Melakukan rangsangan taktil. Lakukan resusitasi jika ditemukan bayi asfiksia. Kala III Manajemen aktif kala III (injeksi oksitosin 10 iu secara im, melakukan PTT, massase fundus uteri). Pelepasan plasenta Pemeriksaan plasenta dan selaputnya Pemeriksaan laserasi Kala IV

Lakukan massase uterus untuk merangsang kontraksi. Evaluasi TFU.

Jahit laserasi. Bersihkan ibu dang anti pakaian. Evaluasi KU ibu. Pantau TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua. Pantau suhu ibu selama dua jam pertama Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai kontraksi uterus yang normal Lakukan perawatan bayi dengan memberikan vitamin K dan salep mata Bersihkan peralatan. Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. Anjurkan ibu utuk istirahat. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan dihalaman belakang partograf.

BAB IV PENUTUP

1.

Kesimpulan Postmatur menunjukan atau menggambarkan kaadaan janin yang lahir telah melampauhi batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Belum ada penyebab pasti terjadinya postmatur ini dan sebagian besar bias diselesaikan dengan persalinan induksi maupun seksio sesaria dan bidan tidak berwenang menolong persalinan dengan kehamilan postmatur kecuali bidan di rumah sakit dengan kolaborasi dengan dokter. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat.. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A jatuh pada 2 Januari 1999. Saat ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7. Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu. Kehamilan lewat waktu merupakan salah satu kehamilan yang beresiko tinggi, dimana dapat terjadi komplikasi pada ibu dan janin. Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari Hari Pertama haid terakhir. Kehamilan lewat waktu juga biasa disebut serotinus atau postterm pregnancy, yaitu kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 42 minggu atau 294 hari. Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui. Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anenefal,

kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim sulfatase plasenta).

Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. 2. Saran

Sebaiknya persalinan dengan postmatur dilakukan di rumah sakit atas kolaborasi dengan dokter Kehamilan postmatur harus secepatnya dideteksi untuk menghindari komplikasi terutama pada janin Bidan sebaiknya dapat mendeteksi kehamilan postmatur untuk menghindari komplikasi dan mengambil tindakan yang tepat untuk menanganinya

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

II

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Postterm Makalah ini disusun guna memenuhi tugas ASKEB IV. Penyusun menyadari, makalah ini dapat terselesaikan bukan hanya karena kemampuan dan usaha penyusun sendiri tetapi juga bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada dosen pembimbing dan pengajar dalam mata kuliah psikologi. Penyusun juga menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan. Oleh karena itu, saran dan masukan dari berbagai pihak sangat penulis harapkan. Akhirnya, harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Padang, April 2012

Kelompok 13

DAFTAR ISI

Cover Makalah Postterm Kata Pengantar............................................................................................................... Daftar Isi ......................................................................................................................... BAB I Pendahuluan ........................................................................................................ Latar Belakang .................................................................................................. Tujuan ................................................................................................................ BAB II Tinjauan Teoritis ................................................................................................ Defenisi .............................................................................................................. Insiden ................................................................................................................ Etiologi................................................................................................................ Tanda Bayi Postterm.......................................................................................... Patofisiologi ........................................................................................................ BAB III Manajemen Asuhan Kebidanan Varney ........................................................... Pengumpulan Data Dasar.................................................................................... Interprestasi Data................................................................................................. Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial ........................................... Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera ......................... ii Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh ......................................................... 20 BAB IV Penutup ............................................................................................................. 23 Kesimpulan ........................................................................................................ Saran................................................................................................................... Daftar Pustaka 23 24 i ii 1 1 2 3 3 3 3 5 6 8 8 14 18 19

iii Jun 8

KEHAMILAN SEROTINUS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian ibu dan angka kematian bayi merupakan indikator yang paling penting untuk melakukan penilaian kemampuan suatu negara untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang obstetri. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinannya. Sedangkan angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 2-5 kali lebih tinggi mencapai 34 per 1000 kelahiran hidup atau 2 kali lebih besar dari target WHO yaitu sebesar 15% per kelahiran hidup (Suprayitno, 2007). Adapun penyebab kematian perinatal adalah kelainan kongenital, prematuritas, trauma persalinan, infeksi, gawat janin dan asfiksia neonatorum. Terjadinya gawat janin di sebabkan oleh induksi persalinan, infeksi pada ibu, perdarahan, insufisiensi plasenta, prolapsus tali pusat, kehamilan dan persalinan preterm dan postterm. Persalinan postterm menunjukkan bahwa kehamilan telah melampaui waktu perkiraan persalinan menurut hari pertama menstruasinya. Ballantyne 1902 seperti dikutip Manuaba, seorang bidan Scotlandia, untuk pertama kali menyatakan bahwa janin yang terlalu lama dalam kandungan dapat membahayakan dirinya dan ibunya saat persalinan berlangsung. Kemudian berturu-turut 1950 Clifford mengemukakan tentang sindrom postterm baby, sedangkan 1960 Mc Clure menyatakan bahwa angka kematian bayi dengan kehamilan postdate semakin meningkat (Manuaba, 2007). Menurut WHO persalinan postterm adalah keadaan yang menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Defenisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa persalinan postterm dengan disertai gawat janin mempunyai kontribusi terhadap out come kesehatan yang buruk atau 10% dari persalinan adalah persalinan postterm (Hidayat, 2009). Faktor yang merupakan predisposisi terjadinya persalinan postterm diantaranya faktor ibu adalah karena hanya sebagian kecil ibu yang mengingat tanggal menstruasi pertamanya dengan baik dan adanya gangguan terhadap timbulnya persalinan seperti pengaruh esterogen, oksitosin dan saraf uterus. Banyaknya kasus persalinan postterm di Indonesia yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22% (Prawirohardjo, 2008). Beberapa ahli dapat menyatakan bahwa persalinan preterm akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postterm diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Jika taksiran persalinan telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan bidan harus tetap siaga pada reabilitas taksiran persalinan tersebut. Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Penyebab kematian tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007). Bertolak dari pernyataan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu bersalin . Melalui pembinaan tersebut penulis dapat memahami berbagai proses yang terjadi selama ibu hamil dan bersalin, sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman.

B. Batasan Masalah Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. 2. Tujuan Khusus 1. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan pada pada kasus persalinan postterm. 2. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada kasus persalinan postterm. 3. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada kasus persalinan postterm. 4. Dapat menentukan tindakan segera pada kasus persalinan postterm. 5. Dapat membuat rencana asuhan pada kasus persalinan postterm sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan kebidanan. 6. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan efisien pada kasus persalinan postterm. 7. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada kasus persalinan postterm. 8. Dapat melakukan pendokumentasian pada kasus persalinan postterm. D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Penulis a. Menambah wawasan dan pengetahuan, serta agar penulis dapat melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. b. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada klien. c. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari pemecahan masalah tersebut BAB II LANDASAN TEORITIS A. Persalinan Postterm 1. Pengertian Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007). Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007). Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008). 2. Etiologi Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan, 2008) faktor penyebab kehamilan postterm adalah : a. Pengaruh Progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron. b. Teori Oksitosin

Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya. c. Teori Kortisol/ACTH janin Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai pemberi tanda untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anansefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan. d. Saraf Uterus Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebabnya. e. Heriditer Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya mengalami kehamilan postterm. 3. Diagnosa Tidak jarang seorang bidan mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis karena diagnosis ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi kehamilan. Diagnosis dapat ditentukan melalui (Prawirohardjo, 2008) : a. Riwayat Haid Diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan apabila hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya, diperlukan beberapa kriteria antara lain, 1) Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya 2) Siklus 28 hari dan teratur 3) Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. Berdasarkan riwayat haid, seseorang penderita yang ditetapkan sebagai kehamilan dan persalinan postterm kemungkinan adalah sebagai berikut: 1) Terjadi kesalahan dalam menetukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal. 2) Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjad kelambatan ovulasi. 3) Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga kehamilan postterm). b. Riwayat Pemerikasaan Antenatal 1) Tes Kehamilan Bila pasien melakukan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu. 2) Gerak Janin Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18-20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multigravida.

3) Denyut Jantung Janin (DJJ) Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada umur kehamilan 10-12 minggu. Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut: 1) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif. 2) Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler. 3) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama kali. 4) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec. c. Tinggi Fundus Uteri Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. d. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama,hamper dapat dipastikan usia kehamilan. Pada trimester pertamapemeriksaan panjang kepala-tungging (crown-rump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari taksiran persalinan. e. Pemeriksaan Radiologi Dapat dilakukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifiisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. f. Pemeriksaan Laboratorium 1) Kadar lesitin/spinngomielin Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur kehamilan sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32 minggu, pada kehamilan genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan. 2) Aktivitas tromboplastin cairan amniom Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. 3) Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. 4) Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. 4. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada persalinan postterm adalah: a. Terhadap Ibu Persalinan postterm dapat menyebabkan distosis karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai seperti partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, robekan luas jalan lahir, dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikkan angka mordibitas dan mortalitas (Prawirohardjo, 2006). b. Terhadap Janin

Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia, hipoksia, hipovolemia, asidosis, hipoglikemia, hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim (Saifuddin, 2002). 5. Tanda Bayi Postmatur Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) : a. Stadium I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. b. Stadium II Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. c. Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat. Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah: a. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram). b. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur. c. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang. d. Verniks kaseosa di badan berkurang. e. Kuku-kuku panjang. f. Rambut kepala agak tebal. g. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel. 6. Penatalaksanaan Tindakan yang penting dilakukan (Saifuddin, 2002) adalah: a. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaikbaiknya. b. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat. c. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi. d. Bila : 1) Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim. 2) Terdapat hipertensi, pre-eklampsia. 3) Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas. 4) Pada kehamilan > 40-42 minggu. Maka ibu dirawat di rumah sakit : e. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada. 1) Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang. 2) Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin. 3) Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin. f. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narkosa, jadi pakailah anestesi konduksi. 7. Pertimbangan Persalinan Anjuran Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat (Wiknjosastro, 2000): a. Merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan berlangsung. b. Membuktikan ketidakseimbangan antara kepala janin dengan jalan lahir bishop telah menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil seperti yang ditujukan pada tabel berikut : Tabel 1.1

Skor Bishop Keadaan Fisik Nilai Total Nilai Pembukaan serviks 0 cm perlunakan 0-30% Konsistensi serviks kaku Arah serviks ke belakang Kedudukan bagian terendah -3 0 0 Pembukaan 1-2 cm perlunakan serviks 40-50% Konsistensi serviks sedang Arah serviks ke tengah Kedudukan bagian terendah -2 1 1 Pembukaan 3-4 cm perlunakan 60-70% Konsistensi serviks lunak Kedudukan bagian terendah -1-0 2 2 Pembukaan di atas 5 cm perlunakan 80% + 3 3 Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode (Manuaba, 2007): a. Metode Stein Metode Steinsche merupakan metode lama, tetapi masih perlu diketahui, yaitu: a) Penderita diharapkan tenang pada malam harinya. b) Pada pagi harinya diberikan enema dengan caster oil atau sabun panas. c) Diberikan pil kinine sebesar 0,200 gr, setiap jam sampai mencapai dosis 1,200 gr. d) Satu jam setelah pemberian kinine pertama, disuntikkan oksitosin 0,2 unit/jam sampai tercapai his yang adekuat. Persalinan anjuran dengan metode ini di luar rumah sakit berbahaya karena dapat terjadi : 1) Kontraksi rahim yang kuat sehingga dapat mengancam : ketuban pecah saat pembukaan kecil, ruptura uteri membakat, gawat janin dalam rahim. 2) Kelambatan melakukan rujukan, dapat merugikan penderita. 3) Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon). b. Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%. Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan teknik maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam. c. Memecahkan ketuban Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin. d. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria). e. Pompa Payudara atau Stimulasi Putting Beberapa studi skala besar telah mengevaluasi keamanan dan keefektifitasaan stimulasi payudara sebagai metede induksi persalinan. Namun, efek komulatif dari banyak studi yang menggunakan pompa payudara atau stimulasi putting manual yang di kombinasi dengan landasan fisiologi perubahan serviks. Penanganan yang beragam termasuk pompa payudara listrik otomatis yang menstimulasi masing-masing payudara selama15 menit, diselingi periode istirahat selama15 menit, stimulasi payudara dengan pijatan lembut menggunakan

kompresan hangat dan lembab salama 1 jam sebanyak 3 kali sehari, stimulasi payudara selama 45 menit tiga kali sehari dan pijatan lembut pada kedua payudara secara bergantian selama waktu 3 jam sehari. Kelemahan penelitian ini meliputi kurangnya kepatuhan dalam melaksanakan intervensi yang di anjurkan, jumlah anggoata sedikit dalam kelompok, kontrol minim terhadap variabel penting, seperti usia gestasi, dan kriteria intervensi yang tidak dapat di andalkan. Wanita yang mencoba teknik ini sebaiknya di peringatkan membatasi kontak dengan puting sehingga tidak terlalu hiperstimulasi uterus. Tabel 1.2 Bagan Penanganan Kehamilan Postterm Kriteria Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang umur kehamilannya lebih dari 42 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir Kategori Kehamilan postterm tanpa kelainan Kehamilan postterm dengan kelainan Penilaian 1) Skor Bishop 2) Pemantauan janin 3) Letak janin 1) Skor Bishop >5 2) Baik 3) Normal 1) Skor Bishop 41 minggu (rujuk ) Puskesmas 1) Penilaian umur kehamilan HPHT 2) Riwayat obstetri yang lalu 3) Tinggi fundus uteri 4) Faktor risiko 5) Kehamilan > 41 minggu (rujuk ) Rumah Sakit 1) Penilaian ulang umur kehamilan 2) Penilaian Skor Bishop 3) Pemeriksaan fetal assessment 4) USG 5) NST (kalau perlu CST) Skor Bishop 5 Anak tidak besar NST reaktif Penempatan normal Lakukan induksi (sambil observasi) 8. Pengelolaan selama persalinan Selama proses persalinan yang penting di lakukan (Prawirohardjo, 2008) adalah : a. Pemantauan yang baik terhadap ibu (aktivitas uterus) dan kesejahteraan janin. Pemakaian continuous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat. b. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan. c. Awasi jalannya persalinan. d. Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi gawat janin. e. Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan mengusap wajah neonatus dan dilanjutkan resusitasi sesuai dengan prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium. f. Segera setelah lahir,bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hiovolemi, hipotermi dan polisitemi. g. Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda posmaturitas. h. Hati-hati kemungkinan terjadi distosia bahu. Sedangkan dalam buku acuan nasional pelayaan kesehatan maternal dan neonatal, pengelolaan intrapartum dapat dilakukan dengan :

a. Pasien tidur miring sebelah kiri. b. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin. c. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal. d. Perhatikan jalannya persalinan. e. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi. Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekoneum harus segera dilakukan resusitasi sebagai berikut : a. Penghisapan nasofaring dan orofaring posterior secara agresif sebelum dada janin lahir. b. Bila mekoneum tampak pada pita suara, pemberian ventilasi dengan tekanan positif dan tangguhkan dahulu sampai trakea telah di intubasi dan penghisapan yang cukup. c. Intubasi trakea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekoneum yang tebal. B. Gawat Janin 1. Pengertian Gawat janin adalah keadaan yang terjadi bila janin tidak menerima oksigen yang cukup sehingga janin mengalami hipoksia (APN, 2008). Gawat janin adalah keadaan hipoksia janin (Prawirohardjo, 2000). Indikator gawat janin yaitu: a. Bradikardi : DJJ 160 kali/menit. 2. Etiologi Janin yang beresiko tinggi terjadinya kegawatan (APN, 2008) : a. Janin yang pertumbuhannya terhambat. b. Janin dari ibu dengan diabetes. c. Janin preterm dan postterm. d. Janin dengan kelainan letak.. e. Janin dengan kelinan bawaan / infeksi. Gawat janin dalam persalinan dapat terjadi bila: a. Persalinan berlangsung lama. b. Induksi persalinan dengan oksitosin. c. Ada perdarahan / infeksi. d. Insufisiensi plasenta, pretem / eklampsia. 3. Tanda-tanda Gawat Janin DJJ abnormal (APN, 2008) : a. DJJ dalam persalinan bervariasi dan kembali normal setelah beberapa waktu, jika tidak kembali normal menunjukkan adanya hipoksia. b. Bradikardi terjadi diluar HIS dan tidak menghilang setelah HIS, ini menunjukkan gawat janin. c. Takikardi reaksi adanya demam pada ibu, obat-obatan, amnionitis. d. Bila ibu tidak mengalami takikardi, tapi DJJ > 160 kali / menit, hal ini menunjukkan hipoksia. 4. Penanganan Bila terjadi gawat janin dalam persalinan dapat dilakukan (APN, 2008) : a. Periksa pembukaan serviks. b. Jika pembukaan serviks masih kecil, segera lakukan rujukan dan apabila pembukaan serviks sudah lengkap, periksa penurunan kepala. c. Jika penurunan kepala kurang dari Hodge III, segera lakukan rujukan dan apabila penurunan kepala berada pada Hodge III-IV dapat dilakukan persalinan pervaginam dengan ibu diberikan oksigen dan mengatur posisi ibu dalam keadaan Mc Robert. d. Kala II dipercepat dengan melakukan episiotomi, vacuum ekstraksi, memberikan injeksi dexamethason dengan tujuan memperbaiki DJJ , serta mengatur posisi ibu dan kristeler.

e. Kontrol DJJ setiap 5 menit. f. Periksa tekanan darah,nadi,suhu ibu setiap 10 menit. g. Bradikardi terjadi pada kala II akibat kompresi tali pusat persalinan lancar, tidak perlu dilakukan tindakan. C. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Postterm a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar 1) Data Subjektif a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi. b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kasus persalinan postterm ini adalah ibu mengeluhkan bahwa kehamilannya telah lewat dari taksiran persalinannya. c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis persalinan postterm dari siklus haidnya . d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan muda maupun tua yang pernah dialami. e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa. f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut. g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko. h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat persalinan postterm, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang. i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat alat kontrasepsi atau tidak. j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan. k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung. 2) Data Objektif a) Pemeriksaan umum Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui

keadaan gizi pasien. b) Pemeriksaan khusus I. Inspeksi Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS. II. Palpasi Dengan menggunakan cara leopold: Leopold I : Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala. Leopold IV: Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP. III. Auskultasi Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur. IV. Perkusi Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat. V. Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi. VI. Pemeriksaan Dalam Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi, adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900). c) Pemeriksaan Penunjang I. Darah Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %) Hb 11 gr% : tidak anemia Hb 9-10 gr% : anemia ringan Hb 7-8 gr% : anemia sedang

Hb 7 gr% : anemia berat II. Urine Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative. III. Aktivitas tromboplastin cairan amniom Pemeriksaan ini membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. IV. Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. V. Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. b. Langkah II: Interprestasi Data Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu: 1) Diagnosa Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya. 2) Masalah Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk karena terjadi gawat janin, nyeri akibat luka episiotomi. 3) Kebutuhan Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti: a) Berikan ibu dukungan psikologis. b) Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu saat persalinan. c) Lakukan episiotomi untuk mempercepat kala II dan bila terjadi gawat janin. d) Jahit laserasi akibat episiotomi. e) Berikan ibu rasa nyaman dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu. f) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. g) Anjurkan ibu untuk istirahat. c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah: 1) Terjadinya gawat janin. 2) Distosia bahu. 3) Perdarahan postpartum. 4) Atonia uteri. 5) Anemia . d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera. Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah: 1) Untuk gawat janin. I. Atur posisi ibu miring kekiri. II. Berikan oksigen. III. Lakukan episiotomi.

IV. Injeksikan dexamethason. V. Pasang infuse RL jika diperlukan. VI. Lakukan resusitasi setelah janin lahir. 2) Distosia bahu. I. Atur posisi ibu dengan MC Robert. II. Lahirkan bahu janin dalam waktu 60 detik. III. Lakukan episiotomi luas. IV. Tarik kepala janin cunam kebawah dan berikan tekanan pada supra simfisis. 3) Perdarahan postpartum. I. Pasang infuse RL dan oksigen. II. Periksa laserasi. III. Jahit laserasi. IV. Berikan uterotonika. V. Lakukan manual atau KBI dan KBE pada kasus atonia uteri. e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: a) Kala I Tindakan yang perlu dilakukan adalah: 1) Melakukan pemeriksaan TTV setiap 2-3 jam. 2) Pemeriksaan DJJ setiap jam dan setiap 5 menit jika terjadi gawat janin. 3) Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong. 4) Memperhatikan keadaan patologis. 5) Pasien tidak diperkenankan mengedan. 6) Memberikan dukungan psikologis. 7) Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,keluarga. 8) Mengatur aktivitas dan posisi. 9) Menjaga privasi. 10) Penjelasan tentang kemajuan persalinan. 11) Menjaga kebersihan diri. 12) Mengatasi rasa panas 13) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi b) Kala II 1) Posisi ibu saat meneran (posisi duduk atau setengah duduk, posisi jongkok atau berdiri, posisi merangkak atau berbaring miring kekiri). 2) Memberikan dukungan pada ibu. 3) Memimpin mengedan. 4) Pemantauan DJJ setiap selesai mengedan. 5) Menolong kelahiran bayi (dengan melakukan episiotomi jika terjadi gawat janin). 6) Periksa tali pusat. 7) Melahirkan bahu. 8) Melahirkan sisa tubuh bayi. 9) Bayi dikeringkan dan dihangatkan seluruh tubuhnya. 10) Melakukan rangsangan taktil. 11) Lakukan resusitasi jika ditemukan bayi asfiksia. c) Kala III 1) Manajemen aktif kala III (injeksi oksitosin 10 iu secara im, melakukan PTT, massase fundus uteri) 2) Cara pelepasan plasenta adalah: I. Secara Schultze

Pelepasan plasenta dimulai dari pertengahan, sehingga plasenta lahir diikuti oleh pengeluaran darah. II. Secara Duncan Pelepasan plasenta dimulai dari daerah tepi, sehingga terjadi perdarahan dan diikuti oleh pelepasan plasenta. 3) Tanda-tanda pelepasan plasenta I. Rahim naik disebabkan karena plasenta yang telah lepas jatuh kedalam segmen bawah rahim atau bagian atas vagina dan mengangkat rahim. II. Bagian tali pusat yang lahir menjadi lebih panjang. III. Rahim menjadi lebih bundar bentuknya dan lebih keras. IV. Keluar darah dengan tiba-tiba. 4) Cara pemeriksaan plasenta sudah lepas, yaitu: I. Perasat kustner Dengan Perasat kustner tali pusat diregangkan dengan satu tangan dan tangan lainnya menekan perut atas symfisis, jika tali pusat masuk, maka plasenta belum lepas. II. Perasat klein Ibu disuruh mengejan, sehingga tali pusat ikut serta turun atau memanjang. Bila mengejan dihentikan dapat terjadi tali pusat tertarik kembali,maka plasenta belum terlepas ataupun sebaliknya. III. Perasat strassman Tali pusat diregangkan dan rahim diketok, bila getarannya sampai pada tali pusat berarti plasenta belum lepas. 5) Pemeriksaan plasenta dan selaputnya 6) Pemeriksaan laserasi d) Kala IV 1) Lakukan massase uterus untuk merangsang kontraksi. 2) Evaluasi TFU. 3) Jahit laserasi. 4) Bersihkan ibu dang anti pakaian. 5) Evaluasi KU ibu. 6) Pantau TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua. 7) Pantau suhu ibu selama dua jam pertama 8) Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua 9) Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai kontraksi uterus yang normal 10) Lakukan perawatan bayi dengan memberikan vitamin K dan salep mata 11) Bersihkan peralatan. 12) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. 13) Anjurkan ibu utuk istirahat. 14) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya. 15) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan dihalaman belakang partograf. e) Langkah V:Melaksanakan Perencanaan Perencanaan bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien bahkan anggota kesehatan lainnya yang mana bidan berkolaborasi. Bidan juga bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan. f) Langkah VII:Evaluasi Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan

perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera ditangani. g) Pendokumentasian Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney. DAFTAR PUSTAKA Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. _____. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. APN. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta: Institusi DEPKES RI Posted 8th June by chipyut mizz galau 0 Add a comment

bacaan midwife

Classic Flipcard Magazine Mosaic Sidebar Snapshot Timeslide

1. Jun 10

LAPSUS POST PARTUM

ASUHAN KEBIDANAN POST PARTUM PADA NY. N DENGAN ROBEKAN PERINEUM DERAJAT II

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1 Data Subjektif

1.

Identitas / Biodata Nama Umur Agama Kebangsaan Pendidikan Pekerjaan Alamat : Ny. N : 35 tahun : Islam : Indonesia : SMP : Tidak bekerja :

Nama Umur Agama

: Tn. A : 39 tahun : Islam

Kebangsaan Pendidikan Pekerjaan Alamat

: Indonesia : SMP : Wiraswasta :

2.

Anamnesa 1. 2. 3. Alasan Keluhan : Ibu mengatakan 1 hari setelah melahirkan : Ibu merasa masih nyeri luka jahitan

Riwayat Persalinan Tempat melahirkan di BPS Bidan Hj. Cicih Rukaesih, KepomponganSumber-Cirebon dengan diagnosa G1P0A0 kala I fase aktif di tolong oleh mahasiswa di dampingi bidan a. 1) 2) 3) 4) 5) Ibu Jenis Persalinan Komplikasi Plasenta : Spontan : Tidak ada : Spontan lengkap, tidak ada kelainan

Tali pusat panjang : Tidak ada kelainan, panjang +- 40 cm Perdarahan Kala II Kala III : Kala I : +- 50 ml : +- 100 ml : Tidak ada

Kala IV 6) 7) Perineum Tindakan lain

: +- 50 ml

: Laserasi derajat II : Terpasang infus RL

Catatan Waktu Kala I Kala II Kala III Ketuban pecah b. Bayi 1) 2) 3) 4) 5) 4. Lahir Keadaan bayi JK BB Cacat bawaan : 11 Februari : Bayi lahir spontan segera menangis : Laki-laki : 38 gram, PB 50 cm, A/S : 8/9 : Tidak ada : Pembukaan 7 cm 10 cm / lengkap : 30 menit : 15 menit : Amniotomi, banyaknya 100cc

Riwayat Penyakit Penyakit yang pernah diderita : Ibu mengatakan tidak ada menderita penyakit hipertensi, preeklampsia, DM, jantung, asma, dll.

5.

Riwayat Kesehatan Ibu mengatakan tidak ada yang menderita penyakit hipertensi,

preeklampsi, DM, jantung, asma, dll. 6. Perilaku Kesehatan

a.

Ibu mengatakan hanya mengkonsumsi obat-obatan dari Bidan/dokter Bidan Dokter

b.

Ibu mengatakan tidak pernah merokok dan minum-minuman keras serta obat-obatan terlarang

7. a. b. c.

Kebiasaan Sehari-hari Makan 3 x sehari dengan porsi sedang, jenis makanan sesuai diet Pola istirahat tidur siang +- 1-2 jam, tidur malam +- 8 jam / cukup Pola eliminasi BAB 1 x sehari konsistensi lunak BAK 6-7 x sehari

3.2 Data Objektif 1. Keadaan umum Keadaan emosional 2. Tanda-tanda vital Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu 3. Pemeriksaan fisik a. Kepala : rambut bersih, hitam dan tidak rontok : 120/80 mmHg : 84 x / menit : 20 x / menit : 36,9oC : baik : cemas

b. c.

Muka Mata

: tidak ada udema : kelopak mata tidak terdapat oedema Sklera putih Conjungtiva merah muda

d.

Leher kelenjar limfe,

: tidak ada pembesaran pada kelenjar thiroid dan serta vena jugularis

e.

Payudara : Bentuk Kebersihan Areola Puting susu Pengeluaran Benjolan : simetris : bersih : hyperpigmentasi : menonjol : colostrum (+) : tidak ada

f.

Abdomen : Linea nigra : ada

Striae albican : ada Bekas SC Uterus : Tinggi fundus uterus Kontraksi uterus Konsistensi uterus : tidak ada

g.

Pengeluaran lochea warna Bau : tidak bau, konsistensi encer

h.

Perineum Robekan perineum derajat II, jahitan dalam 3 luar 2 pada daerah otot perineum sampai ujung luka perineum.

i. j.

Kandung kemih : tidak ada Ekstremitas atas dan bawah Tidak oedema, tidak kemerahan, kuku tidak pucat, refleks patela +/+, tidak Varices, tidak ada kekuatan otot dan sendi.

4. Uji diagnotis Pemeriksaan laboratorium Hb 12 gr %, darah ibu : A, bayi : O, rhesus (+)

3.3 Assesment Tanggal Diagnosa : 25 April 2009 pukul : 09.35 WIB : P1A0 2 jam post partum dengan keadaan ibu baik, ibu dengan robekan

perineum derajat II. Masalah Kebutuhan : Ibu masih merasa nyeri luka jahitan. : Konseling pada ibu untuk menjaga kebersihan.

3.4 Planing

1.

Memberitahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan Ibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan.

2.

Mengobservasi TTV, keadaan umum, kesadaran, involusi kandung kemih, lochea dan TFU : a. b. c. Keadaan umum baik TFU 2 jari di bawah pusat TTV : 120/70 mmHg P: 84 x / menit d. e. R: 20 x / menit S : 37,5 oC

Pendarahan warna merah dan amis +- 50 cc Kandung kemih kosong

3.

Menganjurkan kepada ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Ibu bersedia memakan hidangan yang disajikan.

4.

Memberikan obat post partum dengan robekan perineum derajat II Amoxan Fe Paracetamol : 3 x 1 / oral : 3 x 1 / oral : 3 x 1 / oral

5.

Membantu dan menganjurkan ibu untuk membersihkan payudara ibu dengan menggunakan baby oil dan kapas serta dibilas dengan air hangat sebelum menyusui bayi Ibu mau membersihkan payudaranya.

6.

Memberikan konseling tentang cara menyusui yang benar Ibu dapat menyusui bayinya yang benar.

7.

Menganjurkan kepada ibu untuk merawat kebersihan diri dan merawat luka jahitan pada perineum Ibu bersedia dan dapat melakukannya.

8.

Memberikan konseling tentang tanda bahaya post partum adan bayi baru serta menganjurkan mencari tenaga kesehatan jika ada tanda tersebut ibu dapat menyebutkan tanda bahaya dan akan mengikuti saran petugas

Tanggal : 15 April 2009 : Pukul : 09.15 S : ibu mengatakan keadaannya baik

O : keadaan umum baik, kesadaran composmentis, TFU 2 jari dibawah pusat, pendarahan normal, kontraksi uterus baik TD : 120/70 N S: 36,8oC

: 80 x / menit R: 20 x / menit

A : Diagnosa : P1A0 post partum hari kedua dengan keadaan umum ibu baik dengan robekan perineum derajat II Masalah Kebutuhan : Luka masih terasa nyeri : Konseling

P : 1. Menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan ibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan. 2. Mengobservasi keadaan umum, TTV, TFU, kontraksi dan pengeluaran pervaginam.

a. b. c. d. e.

Keadaan umum ibu baik TFU 2 jari di bawah pusat T : 120/80 mmHg, N : 84 x / menit, S : 37oC, R : 20 x / menit Kontraksi uterus baik Pengeluaran pervaginam : pendarahan warna merah muda dinamis +- 50 cc.

3. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Ibu bersedia makan 3 x 1 sehari dengan gizi yang seimbang dengan manfaat nutrisi bagi kelancaran ASI-nya. 4. Mengajarkan ibu untuk menjaga kebersihan diri terutama daerah genetalia (bekas luka-luka jahitan) Ibu bersedia dan dapat melakukannya. 5. Mengajarkan ibu cara memandikan bayi

Ibu dapat melakukannya. Posted 10th June by chipyut mizz galau 0 Add a comment 2. Jun 8

KEHAMILAN SEROTINUS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kematian ibu dan angka kematian bayi merupakan indikator yang paling penting untuk melakukan penilaian kemampuan suatu negara untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang obstetri. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat Statistik (BPS) angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinannya. Sedangkan angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 2-5 kali lebih tinggi mencapai 34 per 1000 kelahiran hidup atau 2 kali lebih besar dari target WHO yaitu sebesar 15% per kelahiran hidup (Suprayitno, 2007). Adapun penyebab kematian perinatal adalah kelainan kongenital, prematuritas, trauma persalinan, infeksi, gawat janin dan asfiksia neonatorum. Terjadinya gawat janin di sebabkan oleh induksi persalinan, infeksi pada ibu, perdarahan, insufisiensi plasenta, prolapsus tali pusat, kehamilan dan persalinan preterm dan postterm. Persalinan postterm menunjukkan bahwa kehamilan telah melampaui waktu perkiraan persalinan menurut hari pertama menstruasinya. Ballantyne 1902 seperti dikutip Manuaba, seorang bidan Scotlandia, untuk pertama kali menyatakan bahwa janin yang terlalu lama dalam kandungan dapat membahayakan dirinya dan ibunya saat persalinan berlangsung. Kemudian berturu-turut 1950 Clifford mengemukakan tentang sindrom postterm baby, sedangkan 1960 Mc Clure menyatakan bahwa angka kematian bayi dengan kehamilan postdate semakin meningkat (Manuaba, 2007). Menurut WHO persalinan postterm adalah keadaan yang menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Defenisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa persalinan postterm dengan disertai gawat janin mempunyai kontribusi terhadap out come kesehatan yang buruk atau 10% dari persalinan adalah persalinan postterm (Hidayat, 2009). Faktor yang merupakan predisposisi terjadinya persalinan postterm diantaranya faktor ibu adalah karena hanya sebagian kecil ibu yang mengingat tanggal menstruasi pertamanya dengan baik dan adanya gangguan terhadap timbulnya persalinan seperti pengaruh esterogen, oksitosin dan saraf uterus. Banyaknya kasus persalinan postterm di Indonesia yang tidak dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sebesar 22% (Prawirohardjo, 2008). Beberapa ahli dapat menyatakan bahwa persalinan preterm akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postterm diperlukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Jika taksiran persalinan telah ditentukan pada trimester terakhir atau berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan bidan harus tetap siaga pada reabilitas taksiran persalinan tersebut. Data yang terkumpul sering menunjukkan peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40 minggu. Penyebab kematian tidak mudah dipahami dan juga tidak ada kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian tersebut. (Varney, Helen, 2007). Bertolak dari pernyataan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki keahlian

diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu bersalin . Melalui pembinaan tersebut penulis dapat memahami berbagai proses yang terjadi selama ibu hamil dan bersalin, sehingga dapat menerapkan asuhan kebidanan yang tepat dan aman. B. Batasan Masalah Dalam penulisan kasus ini penulis membatasi masalah yaitu penerapan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. 2. Tujuan Khusus 1. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan pada pada kasus persalinan postterm. 2. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada kasus persalinan postterm. 3. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada kasus persalinan postterm. 4. Dapat menentukan tindakan segera pada kasus persalinan postterm. 5. Dapat membuat rencana asuhan pada kasus persalinan postterm sebagai dasar untuk melaksanakan asuhan kebidanan. 6. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan efisien pada kasus persalinan postterm. 7. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada kasus persalinan postterm. 8. Dapat melakukan pendokumentasian pada kasus persalinan postterm. D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Penulis a. Menambah wawasan dan pengetahuan, serta agar penulis dapat melaksanakan manajemen asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm. b. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas pada klien. c. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam mencari pemecahan masalah tersebut BAB II LANDASAN TEORITIS A. Persalinan Postterm 1. Pengertian Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas (Manuaba, 2007). Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin ( Varney Helen, 2007).

Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Prawirohardjo, 2008). 2. Etiologi Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya (Ilmu Kebidanan, 2008) faktor penyebab kehamilan postterm adalah : a. Pengaruh Progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron. b. Teori Oksitosin Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya. c. Teori Kortisol/ACTH janin Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai pemberi tanda untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anansefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan. d. Saraf Uterus Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebabnya. e. Heriditer Beberapa penulis menyatakan bahwa seseorang ibu yang mengalami kehamilan postterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham, menyatakan bahwa bilamana seseorang ibu mengalami kehamilan postterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar kemungkinan anak perempuannya mengalami kehamilan postterm. 3. Diagnosa Tidak jarang seorang bidan mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis karena diagnosis ditegakkan berdasarkan umur kehamilan, bukan terhadap kondisi kehamilan. Diagnosis dapat ditentukan melalui (Prawirohardjo, 2008) : a. Riwayat Haid Diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan apabila hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya, diperlukan beberapa kriteria antara lain,

1) Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya 2) Siklus 28 hari dan teratur 3) Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. Berdasarkan riwayat haid, seseorang penderita yang ditetapkan sebagai kehamilan dan persalinan postterm kemungkinan adalah sebagai berikut: 1) Terjadi kesalahan dalam menetukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal. 2) Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjad kelambatan ovulasi. 3) Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga kehamilan postterm). b. Riwayat Pemerikasaan Antenatal 1) Tes Kehamilan Bila pasien melakukan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu. 2) Gerak Janin Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 1820 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multigravida. 3) Denyut Jantung Janin (DJJ) Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada umur kehamilan 10-12 minggu. Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut: 1) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif. 2) Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler. 3) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama kali. 4) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec. c. Tinggi Fundus Uteri Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. d. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama,hamper dapat dipastikan usia kehamilan. Pada trimester pertamapemeriksaan panjang kepala-tungging (crown-rump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari taksiran persalinan. e. Pemeriksaan Radiologi Dapat dilakukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifiisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. f. Pemeriksaan Laboratorium 1) Kadar lesitin/spinngomielin Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur kehamilan sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32 minggu,

pada kehamilan genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan. 2) Aktivitas tromboplastin cairan amniom Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. 3) Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. 4) Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. 4. Komplikasi Kemungkinan komplikasi pada persalinan postterm adalah: a. Terhadap Ibu Persalinan postterm dapat menyebabkan distosis karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai seperti partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, robekan luas jalan lahir, dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikkan angka mordibitas dan mortalitas (Prawirohardjo, 2006). b. Terhadap Janin Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia, hipoksia, hipovolemia, asidosis, hipoglikemia, hipofungsi adrenal sampai kematian dalam rahim (Saifuddin, 2002). 5. Tanda Bayi Postmatur Tanda postmatur dapat di bagi dalam 3 stadium (Prawirohardjo, 2008) : a. Stadium I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas. b. Stadium II Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit. c. Stadium III Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat. Menurut Manuaba 2007, tanda bayi postmatur adalah: a. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram). b. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur. c. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang. d. Verniks kaseosa di badan berkurang. e. Kuku-kuku panjang.

f. Rambut kepala agak tebal. g. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel. 6. Penatalaksanaan Tindakan yang penting dilakukan (Saifuddin, 2002) adalah: a. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya. b. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat. c. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi. d. Bila : 1) Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim. 2) Terdapat hipertensi, pre-eklampsia. 3) Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas. 4) Pada kehamilan > 40-42 minggu. Maka ibu dirawat di rumah sakit : e. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada. 1) Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang. 2) Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin. 3) Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin. f. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narkosa, jadi pakailah anestesi konduksi. 7. Pertimbangan Persalinan Anjuran Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat (Wiknjosastro, 2000): a. Merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan berlangsung. b. Membuktikan ketidakseimbangan antara kepala janin dengan jalan lahir bishop telah menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil seperti yang ditujukan pada tabel berikut : Tabel 1.1 Skor Bishop Keadaan Fisik Nilai Total Nilai Pembukaan serviks 0 cm perlunakan 0-30% Konsistensi serviks kaku Arah serviks ke belakang Kedudukan bagian terendah -3 0 0 Pembukaan 1-2 cm perlunakan serviks 40-50% Konsistensi serviks sedang Arah serviks ke tengah Kedudukan bagian terendah -2 1 1 Pembukaan 3-4 cm perlunakan 60-70% Konsistensi serviks lunak Kedudukan bagian terendah -1-0 2 2 Pembukaan di atas 5 cm perlunakan 80% + 3 3

Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode (Manuaba, 2007): a. Metode Stein Metode Steinsche merupakan metode lama, tetapi masih perlu diketahui, yaitu: a) Penderita diharapkan tenang pada malam harinya. b) Pada pagi harinya diberikan enema dengan caster oil atau sabun panas. c) Diberikan pil kinine sebesar 0,200 gr, setiap jam sampai mencapai dosis 1,200 gr. d) Satu jam setelah pemberian kinine pertama, disuntikkan oksitosin 0,2 unit/jam sampai tercapai his yang adekuat. Persalinan anjuran dengan metode ini di luar rumah sakit berbahaya karena dapat terjadi : 1) Kontraksi rahim yang kuat sehingga dapat mengancam : ketuban pecah saat pembukaan kecil, ruptura uteri membakat, gawat janin dalam rahim. 2) Kelambatan melakukan rujukan, dapat merugikan penderita. 3) Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon). b. Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin atau sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%. Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana, dan mulai dengan 8 tetes, dengan teknik maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam. c. Memecahkan ketuban Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin. d. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama dirangsang oleh prostaglandin. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria). e. Pompa Payudara atau Stimulasi Putting Beberapa studi skala besar telah mengevaluasi keamanan dan keefektifitasaan stimulasi payudara sebagai metede induksi persalinan. Namun, efek komulatif dari banyak studi yang menggunakan pompa payudara atau stimulasi putting manual yang di kombinasi dengan landasan fisiologi perubahan serviks. Penanganan yang beragam termasuk pompa payudara listrik otomatis yang menstimulasi masing-masing payudara selama15 menit, diselingi periode istirahat selama15 menit, stimulasi payudara dengan pijatan lembut menggunakan kompresan hangat dan lembab salama 1 jam sebanyak 3 kali sehari, stimulasi payudara selama 45 menit tiga kali sehari dan pijatan lembut pada kedua payudara secara bergantian selama waktu 3 jam sehari. Kelemahan penelitian ini meliputi kurangnya kepatuhan dalam melaksanakan intervensi yang di anjurkan, jumlah anggoata sedikit dalam kelompok, kontrol minim terhadap variabel penting, seperti usia gestasi, dan kriteria intervensi yang tidak dapat di andalkan. Wanita yang mencoba teknik ini sebaiknya di peringatkan membatasi kontak dengan puting sehingga tidak terlalu hiperstimulasi uterus. Tabel 1.2 Bagan Penanganan Kehamilan Postterm Kriteria Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang umur kehamilannya lebih dari

42 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir Kategori Kehamilan postterm tanpa kelainan Kehamilan postterm dengan kelainan Penilaian 1) Skor Bishop 2) Pemantauan janin 3) Letak janin 1) Skor Bishop >5 2) Baik 3) Normal 1) Skor Bishop 41 minggu (rujuk ) Puskesmas 1) Penilaian umur kehamilan HPHT 2) Riwayat obstetri yang lalu 3) Tinggi fundus uteri 4) Faktor risiko 5) Kehamilan > 41 minggu (rujuk ) Rumah Sakit 1) Penilaian ulang umur kehamilan 2) Penilaian Skor Bishop 3) Pemeriksaan fetal assessment 4) USG 5) NST (kalau perlu CST) Skor Bishop 5 Anak tidak besar NST reaktif Penempatan normal Lakukan induksi (sambil observasi) 8. Pengelolaan selama persalinan Selama proses persalinan yang penting di lakukan (Prawirohardjo, 2008) adalah : a. Pemantauan yang baik terhadap ibu (aktivitas uterus) dan kesejahteraan janin. Pemakaian continuous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat. b. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan. c. Awasi jalannya persalinan. d. Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi gawat janin. e. Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan mengusap wajah neonatus dan dilanjutkan resusitasi sesuai dengan prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium. f. Segera setelah lahir,bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hiovolemi, hipotermi dan polisitemi. g. Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda posmaturitas. h. Hati-hati kemungkinan terjadi distosia bahu. Sedangkan dalam buku acuan nasional pelayaan kesehatan maternal dan neonatal, pengelolaan intrapartum dapat dilakukan dengan : a. Pasien tidur miring sebelah kiri. b. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin. c. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal. d. Perhatikan jalannya persalinan. e. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi.

Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekoneum harus segera dilakukan resusitasi sebagai berikut : a. Penghisapan nasofaring dan orofaring posterior secara agresif sebelum dada janin lahir. b. Bila mekoneum tampak pada pita suara, pemberian ventilasi dengan tekanan positif dan tangguhkan dahulu sampai trakea telah di intubasi dan penghisapan yang cukup. c. Intubasi trakea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekoneum yang tebal. B. Gawat Janin 1. Pengertian Gawat janin adalah keadaan yang terjadi bila janin tidak menerima oksigen yang cukup sehingga janin mengalami hipoksia (APN, 2008). Gawat janin adalah keadaan hipoksia janin (Prawirohardjo, 2000). Indikator gawat janin yaitu: a. Bradikardi : DJJ 160 kali/menit. 2. Etiologi Janin yang beresiko tinggi terjadinya kegawatan (APN, 2008) : a. Janin yang pertumbuhannya terhambat. b. Janin dari ibu dengan diabetes. c. Janin preterm dan postterm. d. Janin dengan kelainan letak.. e. Janin dengan kelinan bawaan / infeksi. Gawat janin dalam persalinan dapat terjadi bila: a. Persalinan berlangsung lama. b. Induksi persalinan dengan oksitosin. c. Ada perdarahan / infeksi. d. Insufisiensi plasenta, pretem / eklampsia. 3. Tanda-tanda Gawat Janin DJJ abnormal (APN, 2008) : a. DJJ dalam persalinan bervariasi dan kembali normal setelah beberapa waktu, jika tidak kembali normal menunjukkan adanya hipoksia. b. Bradikardi terjadi diluar HIS dan tidak menghilang setelah HIS, ini menunjukkan gawat janin. c. Takikardi reaksi adanya demam pada ibu, obat-obatan, amnionitis. d. Bila ibu tidak mengalami takikardi, tapi DJJ > 160 kali / menit, hal ini menunjukkan hipoksia. 4. Penanganan Bila terjadi gawat janin dalam persalinan dapat dilakukan (APN, 2008) : a. Periksa pembukaan serviks. b. Jika pembukaan serviks masih kecil, segera lakukan rujukan dan apabila pembukaan serviks sudah lengkap, periksa penurunan kepala. c. Jika penurunan kepala kurang dari Hodge III, segera lakukan rujukan dan apabila penurunan kepala berada pada Hodge III-IV dapat dilakukan persalinan pervaginam dengan ibu diberikan oksigen dan mengatur posisi ibu dalam keadaan Mc Robert. d. Kala II dipercepat dengan melakukan episiotomi, vacuum ekstraksi, memberikan injeksi dexamethason dengan tujuan memperbaiki DJJ , serta mengatur posisi ibu dan

kristeler. e. Kontrol DJJ setiap 5 menit. f. Periksa tekanan darah,nadi,suhu ibu setiap 10 menit. g. Bradikardi terjadi pada kala II akibat kompresi tali pusat persalinan lancar, tidak perlu dilakukan tindakan. C. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Postterm a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar 1) Data Subjektif a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi. b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan. Kemungkinan yang ditemui pada kasus persalinan postterm ini adalah ibu mengeluhkan bahwa kehamilannya telah lewat dari taksiran persalinannya. c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis persalinan postterm dari siklus haidnya . d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua, frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan muda maupun tua yang pernah dialami. e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa. f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit tersebut. g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko. h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau apakah ibu ada mempunyai riwayat persalinan postterm, jenis persalinan yang bertujuan untuk menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak sekarang. i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat alat kontrasepsi atau tidak. j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan. k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses persalinan berlangsung. 2) Data Objektif a) Pemeriksaan umum

Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui keadaan gizi pasien. b) Pemeriksaan khusus I. Inspeksi Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan ekstremitas atas maupun bawah serta HIS. II. Palpasi Dengan menggunakan cara leopold: Leopold I : Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala. Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala. Leopold IV: Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP. III. Auskultasi Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur. IV. Perkusi Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat. V. Penghitungan TBBJ Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi. VI. Pemeriksaan Dalam Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi, adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul (bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica, coksigis dan arcus pubis > 900).

c) Pemeriksaan Penunjang I. Darah Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr % dan TM II 10,5 gr %) Hb 11 gr% : tidak anemia Hb 9-10 gr% : anemia ringan Hb 7-8 gr% : anemia sedang Hb 7 gr% : anemia berat II. Urine Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan persalinan normal protein dan glukosa urine negative. III. Aktivitas tromboplastin cairan amniom Pemeriksaan ini membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu. IV. Sitologi cairan amnion Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. V. Sitologi vagina Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas 75 %. b. Langkah II: Interprestasi Data Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya yaitu: 1) Diagnosa Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya. 2) Masalah Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk karena terjadi gawat janin, nyeri akibat luka episiotomi. 3) Kebutuhan Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti: a) Berikan ibu dukungan psikologis. b) Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu saat persalinan. c) Lakukan episiotomi untuk mempercepat kala II dan bila terjadi gawat janin. d) Jahit laserasi akibat episiotomi. e) Berikan ibu rasa nyaman dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu. f) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. g) Anjurkan ibu untuk istirahat. c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah: 1) Terjadinya gawat janin. 2) Distosia bahu. 3) Perdarahan postpartum.

4) Atonia uteri. 5) Anemia . d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera. Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah: 1) Untuk gawat janin. I. Atur posisi ibu miring kekiri. II. Berikan oksigen. III. Lakukan episiotomi. IV. Injeksikan dexamethason. V. Pasang infuse RL jika diperlukan. VI. Lakukan resusitasi setelah janin lahir. 2) Distosia bahu. I. Atur posisi ibu dengan MC Robert. II. Lahirkan bahu janin dalam waktu 60 detik. III. Lakukan episiotomi luas. IV. Tarik kepala janin cunam kebawah dan berikan tekanan pada supra simfisis. 3) Perdarahan postpartum. I. Pasang infuse RL dan oksigen. II. Periksa laserasi. III. Jahit laserasi. IV. Berikan uterotonika. V. Lakukan manual atau KBI dan KBE pada kasus atonia uteri. e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu: a) Kala I Tindakan yang perlu dilakukan adalah: 1) Melakukan pemeriksaan TTV setiap 2-3 jam. 2) Pemeriksaan DJJ setiap jam dan setiap 5 menit jika terjadi gawat janin. 3) Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong. 4) Memperhatikan keadaan patologis. 5) Pasien tidak diperkenankan mengedan. 6) Memberikan dukungan psikologis. 7) Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,keluarga. 8) Mengatur aktivitas dan posisi. 9) Menjaga privasi. 10) Penjelasan tentang kemajuan persalinan. 11) Menjaga kebersihan diri. 12) Mengatasi rasa panas 13) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi b) Kala II 1) Posisi ibu saat meneran (posisi duduk atau setengah duduk, posisi jongkok atau berdiri, posisi merangkak atau berbaring miring kekiri). 2) Memberikan dukungan pada ibu. 3) Memimpin mengedan. 4) Pemantauan DJJ setiap selesai mengedan. 5) Menolong kelahiran bayi (dengan melakukan episiotomi jika terjadi gawat janin). 6) Periksa tali pusat. 7) Melahirkan bahu. 8) Melahirkan sisa tubuh bayi.

9) Bayi dikeringkan dan dihangatkan seluruh tubuhnya. 10) Melakukan rangsangan taktil. 11) Lakukan resusitasi jika ditemukan bayi asfiksia. c) Kala III 1) Manajemen aktif kala III (injeksi oksitosin 10 iu secara im, melakukan PTT, massase fundus uteri) 2) Cara pelepasan plasenta adalah: I. Secara Schultze Pelepasan plasenta dimulai dari pertengahan, sehingga plasenta lahir diikuti oleh pengeluaran darah. II. Secara Duncan Pelepasan plasenta dimulai dari daerah tepi, sehingga terjadi perdarahan dan diikuti oleh pelepasan plasenta. 3) Tanda-tanda pelepasan plasenta I. Rahim naik disebabkan karena plasenta yang telah lepas jatuh kedalam segmen bawah rahim atau bagian atas vagina dan mengangkat rahim. II. Bagian tali pusat yang lahir menjadi lebih panjang. III. Rahim menjadi lebih bundar bentuknya dan lebih keras. IV. Keluar darah dengan tiba-tiba. 4) Cara pemeriksaan plasenta sudah lepas, yaitu: I. Perasat kustner Dengan Perasat kustner tali pusat diregangkan dengan satu tangan dan tangan lainnya menekan perut atas symfisis, jika tali pusat masuk, maka plasenta belum lepas. II. Perasat klein Ibu disuruh mengejan, sehingga tali pusat ikut serta turun atau memanjang. Bila mengejan dihentikan dapat terjadi tali pusat tertarik kembali,maka plasenta belum terlepas ataupun sebaliknya. III. Perasat strassman Tali pusat diregangkan dan rahim diketok, bila getarannya sampai pada tali pusat berarti plasenta belum lepas. 5) Pemeriksaan plasenta dan selaputnya 6) Pemeriksaan laserasi d) Kala IV 1) Lakukan massase uterus untuk merangsang kontraksi. 2) Evaluasi TFU. 3) Jahit laserasi. 4) Bersihkan ibu dang anti pakaian. 5) Evaluasi KU ibu. 6) Pantau TTV, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua. 7) Pantau suhu ibu selama dua jam pertama 8) Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua 9) Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai kontraksi uterus yang normal 10) Lakukan perawatan bayi dengan memberikan vitamin K dan salep mata 11) Bersihkan peralatan. 12) Penuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu. 13) Anjurkan ibu utuk istirahat. 14) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya. 15) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala empat persalinan

dihalaman belakang partograf. e) Langkah V:Melaksanakan Perencanaan Perencanaan bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien bahkan anggota kesehatan lainnya yang mana bidan berkolaborasi. Bidan juga bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan. f) Langkah VII:Evaluasi Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera ditangani. g) Pendokumentasian Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney. DAFTAR PUSTAKA Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran :EGC Prawiroharjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. _____. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Varney, Helen Dkk.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC Wiknjosastro. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. APN. 2008. Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta: Institusi DEPKES RI Posted 8th June by chipyut mizz galau 0 Add a comment

Loading Send feedback http://bacaanmidwifemizz.blogspot.com/2012/06/kehamilan-serotinus.html

Explore

MAKALAH ASUHAN PATOLOGI KEBIDANANKEHAMILAN LEWAT WAKTU(POSTERM) Dosen : Sari Hastuti, S.SiT.,MPH Disusun Oleh1. RETNO WAHYUNINGSIH (P07124110029)2. RIKA SEPTIA DEVYANTI (P07124110030)KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIAPOLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTAJURUSAN KEBIDANAN2011/ 2012

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang Kehamilan lewat bulan (posterm) ialah kehamilan yang berlangsunglebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari haripertama haid terakhir (HPHT). Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara 3,5 hingga14%. Data statistik menunjukkan,angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbangdalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewatwaktu mencapai 5 hingga 7 %.Variasi insiden postterm berkisar antara 2 hingga 31%. Penyebabpasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui. Didugapenyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anenefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik,kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; ataukekurangan enzim sulfatase plasenta).Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguanpertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim.Resiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampaihilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering sepertikertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketubanberkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akanmewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapatterjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspirationsyndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin.Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yangtidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologik. Kehamilanlewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosiakarena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage)kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak,inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum.Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosiskehamilan lewat waktu, antara lain HPHT jelas, Dirasakan gerakan janinpada umur kehamilan 16-18 minggu, Terdengar denyut jantung janin(normal 10-12 minggu dengan Doppler, dan 19-20 minggu denganfetoskop), Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USGpada umur kehamilan kurang dari atau

sama dengan 20 minggu, Teskehamilan (urine) sudah positif dalam 6 minggu pertama terlambatmenstruasi. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian Kehamilan lewat waktu atau postmatur?2. Apa etiologi atau penyebab Kehamilan lewat waktu ataupostmatur?3. Apa Manifestasi klinis Kehamilan lewat waktu atau postmatur?4. Bagaimana diagnosa Kehamilan lewat waktu atau postmatur ?5. Bagaimana penatalaksanaan Kehamilan lewat waktu ataupostmatur ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian kehamilan lewat waktu ataupostmatur.2. Untuk mengetahui etiologi atau penyebab kehamilan lewat waktuatau postmatur.3. Untuk mengetahui manifestasi klinis kehamilan lewat waktu ataupostmatur.4. Untuk mengetahui diagnosa kehamilan lewat waktu atau postmatur.5. Untuk mengetahui penatalaksanaan kehamilan lewat waktu ataupostmatur. D. Manfaat 1. Agar kita mengetahui pengertian Kehamilan lewat waktu ataupostmatur.2. Agar kita mengetahui etiologi atau penyebab Kehamilan lewatwaktu atau postmatur.3. Agar kita mengetahui manifestasi klinis Kehamilan lewat waktuatau postmatur.4. Agar kita mengetahui diagnosa Kehamilan lewat waktu ataupostmatur.5. Agar kita mengetahui penatalaksanaan Kehamilan lewat waktuatau postmatur. postmatur Tambahkan ke Koleksi 2.6K Reads 5 Readcasts 0 Embed Views

Published by Retno Wn

KIATTekanCtrl-F untuk mencari dengan cepat dibagian manapun dalam dokumen. Info dan Peringkat Kategori: Tidak ada kategori. Peringkat Tanggal diunggah: 03/28/2012 Hak Cipta: Attribution Non-commercial Tag: Dokumen ini tidak memiliki tag.

Tandai dokumen karena berisi materi yang tidak pantas Download and print this document

Read offline in your PDF viewer Edit this document in [Adobe Acrobat, Microsoft Word, Notepad] Keep a copy in case this version is deleted from Scribd Read and print without ads Email the file

Choose a format to download in

.PDF

.DOCX

.TXT

Lainnya Dari Pengguna Ini

4 p.

Rot Retno Wn 11 Reads

2 p. Be Rand A Retno Wn 39 Reads

2 p. Be Rand A Retno Wn 129 Reads Related

13 p. BAB I Yullie Harya 1482 Reads

43 p. Tekhnik Ekstraksi Vakum Mu2n A Lal Aqil Khair 1137 Reads

12 p. New Microsoft Office Word Document Rothmans Key-sa 290 Reads Tinggalkan Komentar

Kirim Karakter:400

Vitae Imotz LIKE THIS 04 / 16 / 2012 Tentang


Tentang Scribd Blog Bergabung dengan tim kami! Hubungi Kami

Beriklan dengan kami


Memulai AdChoices

Dukungan

Bantuan FAQ Tekan

Mitra

Penerbit Pengembang / API

Legal

Terms Privasi Hak cipta

Copyright 2012 Scribd Inc. Bahasa: Bahasa indonesia

Explore

terjadi preeklampsia/ eklampsia ibu dengan hipertensi ibu dengan diabetes mellitus ada gangguan tumbuh-kembang janin intrauterine factor kematangan serviks.Bahaya yang dikemukakan adalah : Kemungkinan bahaya kematian anak didalam rahim bertambah. Besarnya anak yang berlebihan dapat menimbulkann kesukaran pada persalinan.Sebaliknya anak kecil disebabkan penurunan fungsi plasenta. PENENTUANTAKSIRANPERSALINAN Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan : variasi siklus haid

kesalahan perhitungan oleh ibu, dan sebagainya.Perhitungan usia kehamilan umumnya memakai rumus Naegele, tetapi selain pengaruhfaktor diatas masih ada faktor siklus haid dan kesalahan perhitungan. Sebaliknya Boycemengatakan dapat terjadi kehamilan lewat waktu yang tidak diketahui akibat masa proliferasi yang pendek.Kini dengan adanya pelayanan USG maka usia kehamilan dapat ditentukan lebih tepatterutama bila dilakukan pemeriksaan pada usia kehamilan 6-11 minggu sehingga penyimpangan hanya 1 minggu.Tapi masih juga merupakan masalah pada kehamilan multipel / kembar, karena masing-masing janin akan berukuran lebih kecil daripada pada kehamilan tunggal yang normal.5 Kekhawatiran dalam menghadapi kehamilan lewat waktu ialah meningkatnya resikokematian dan kesakitan perinatal. Resiko kematian perinatal kehamilan lewat waktudapat menjadi 3 kali dibandingkan kehamilan aterm. Disamping itu ada pula komplikasiyang lebih sering menyertainya seperti letak defleksi, posisi oksiput posterior, distosia bahu dan perdarahan post partum. MASALAHPERINATAL Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Hal ini disebabkan oleh plasenta (uri) yangmemberikan asupan nutrisi dan oksigen pada janin akan menua mulai sekitar usiakehamilan 36 minggu, yang dapat dilihat dengan sonografi (USG) sebagai perkapuran plasenta. Makin banyak perkapuran plasenta, semakin sedikit makanan dan oksigenyang diberikan pada janin, sehingga suatu saat janin akan kekurangan makanan danoksigen.Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang,lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen.Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibatkekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janinlahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yangdapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration syndrome) . Keadaanini dapat menyebabkan kematian janin.Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulaimenurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan plasental laktogen. Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatankejadian gawat janin dengan resiko 3 kali. Akibat dari proses penuaan plasenta maka pemasokan makanan dan oksigen akan menurun disamping adanya spasme arterispiralis. Janin akan mengalami pertumbuhan terhambat dan penurunan berat, dalam hal6 ini dapat disebut sebagai dismatur. Sirkulasi uteroplasenter akan berkurang dengan 50% menjadi hanya 250 ml permenit. Jumlah air ketuban yang berkurang mengakibatkan perubahan abnormal jantung janin.Ke m a t i a n j a n in a kib at ke h ami lan l e w at wa kt u i al a h t e r j a d i p a d a 3 0 % s e b e lu m persalinan, 55 % dalam persalinan dan 15 % post natal. Penyebab utama kematian perinatal ialah hipoksia dan aspirasi mekonium. Komplikasi yang dapat dialami oleh bayi baru lahir adalah suhu yang tidak stabil, hipoglikemi, polisitemia dan kelainanneurologik. Partus serotinus sering terjadi pada pada anesefalus. MANIFESTASI KLINIS Keadaan klinis pada ibu yang dapat ditemukan ialah dirasakan gerakan janin yang jarang, yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali/menit atau secara obyektif dengan KTGkurang dari 10 kali/manit. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu. Tanda-tanda serotinitas

Tidak ada lanugo Kuku panjang Rambut kapala banyak Kulit berkeriput, mengelupas dan berwarna kekuningan Kadang-kadang anak agak kurus Air ketuban sedikit dan mengandung mekonium Biasanya lebih berat dari bayi matur. Tulang dan sutura kepala lebih keras bayi matur. Rambut kepala agak tebal. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel.Tanda post term dapat dibagi dalam 3 stadium :7 1 . S t a d i u m I Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulitkering, rapuh dan mudah mengelupas.2 . S t a d i u m I I Gejala diatas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit.3 . S t a d i u m I I I Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat. DIAGNOSIS Kadang sulit untuk menentukan post datisme karena : Siklus haid yang tidak teratur atau adanya variasi siklus haid. Dalam masa laktasi, pemakain komntrasepsi hormonal (pil KB, suntikan ataususuk) yang mengalami kehamilan. Pemeriksaan umur kehamilan : Anamnesa, dihitung dari hari pertama haid terakhir, d e n g a n menggunakan rumus Naegele (kalau perlu disesuaikan dengan lama daur haid, kalau kurang/lebih 28 hari) USG : DBP dan panjang femur, secara serial evaluasi air ketuban dankeadaan plasenta. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu.Diagnosa dibuat jika pasien diperiksa sejak permulaan persalinan.Pemeriksaan dan Diagnosis berdasarkan :8 Penentuan Taksiran Persalinan.

Penilaian Janin.Post term ialah kondisi bayi yang lahir akibat kehamilan lewat waktu dengan kelainanfisik akibat kekurangan makanan dan oksigen. Bila kasus telah mengalami insufisiensiyang berat maka akan lahir dengan kelainan seperti diatas.Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Naegele setelahmempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila terdapat keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uteri serial dengan sentimeter akan memberikan informasimengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan janin yang jarang.Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertamamaka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaatsetelah trimester 3 sukar untuk memastikan usia kehamilan. Pemeriksaan sitologi vagina(indeks karpikiknotik > 20 %) mempunyai sensitifitas 75 % dan test tanpa tekanandengan kardiotokografi mempunyai sensitifitas 100 % dalam menentukan adanyadisfungsi janin plasenta atau post term. Perlu diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi. PENCEGAHAN Pencegahan dapat dilakukan dengan : m e la ku ka n p e m e ri k sa a n ke h am i lan ya n g t e rat u r , min im a l 4 ka li se la m a kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu), 1 kali padatrimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekalisampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggusekali pada bulan terakhir.9 KEHAMILAN SEROTINUS Tambahkan ke Koleksi 1.4K Reads 4 Readcasts 0 Embed Views

Published by Anggri Septyan

KIATTekanCtrl-F untuk mencari dengan cepat dibagian manapun dalam dokumen. Info dan Peringkat Kategori: Tidak ada kategori.

Peringkat Tanggal diunggah: 04/16/2012 Hak Cipta: Attribution Non-commercial Tag: Dokumen ini tidak memiliki tag. Tandai dokumen karena berisi materi yang tidak pantas Download and print this document

Read offline in your PDF viewer Edit this document in [Adobe Acrobat, Microsoft Word, Notepad] Keep a copy in case this version is deleted from Scribd Read and print without ads Email the file

Choose a format to download in

.PDF

.DOC

.TXT

Lainnya Dari Pengguna Ini

10 p. Klasifikasi.docxhernia Inguinal Anggri Septyan 43 Reads

3 p. Hidrokel Anggri Septyan 17 Reads

13 p. Buerger Disease Anggri Septyan 12 Reads Related

12 p. ASUHAN KEBIDANAN Lina SiUtrytunggal Bae 990 Reads

5 p. Kematian Janin Dalam Kandungan Daniel Dale Ambo Sibarani 339 Reads

24 p. IUFD Ratna Putri Sari 5732 Reads Tinggalkan Komentar

Kirim Karakter:400 Tentang

Tentang Scribd Blog Bergabung dengan tim kami! Hubungi Kami

Beriklan dengan kami


Memulai AdChoices

Dukungan

Bantuan FAQ Tekan

Mitra

Penerbit Pengembang / API

Legal

Terms Privasi Hak cipta

Copyright 2012 Scribd Inc. Bahasa: Bahasa indonesia

Explore

2. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normalrata-rata 7 kali/ 20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normalrata-rata 10 kali/ 20 menit), dapat juga ditentukan dengan U SG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan U SG (normal >1 cm/ bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyataoligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.3.

Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkinkeadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandungmekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia. F. Penatalaksanaan Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhirankehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaankesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score=PS). Ada beberapacara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain:1. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley.2. Induksi dengan oksitosin.3. Bedah seksio sesaria.Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala,serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka).Tatalaksana yang biasa dilakukan ialah induksi dengan oksitosin 5 I U . Sebelumdilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya denganalat KTG, serta diukur skor pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis >5,maka induksi persalinan dapat dilakukan. Induksi persalinan dilakukan denganoksitosin 5 I U dalam infus Dextrose 5%. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul hisyang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikankarena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat,tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. N amun, jika infus pertama habisdan his adekuat belum muncul, dapat diberikan infus drip oksitosin 5 I U ulangan.Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul, dapat dipertimbangkan terminasidengan seksio sesaria. G. Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yangteratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu)dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggusekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. H alini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, danmencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandunganmerupakan perhitungan yang lebih tepat.. U ntuk itu perlu diketahui dengan tepattanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlahhari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalamseminggu).

A B IIIPEM B AHASAN Telah dilaporkan suatu kasus wanita 34 tahun dengan usia kehamilan 42+3minggu dengan diagnosa G2P1A0 . H serotinus 42+3minggu. Tinggi fundusuterus 33 cm, taksiran berat janin 3410 gram. Diagnosis terhadap pasien diperkuatoleh tanggal hari pertama haid terakhir ( H P H T), yaitu tanggal 3 september 2010.Taksiran persalinannya ialah 10 juni 2011. Berdasarkan H P H T pasien, usiakehamilannya ialah 42+3 minggu. Syarat kehamilan lewat bulan ialah kehamilanyang telah lewat 42 minggu. Maka diagnosa untuk pasien ini sudah tepat.Prinsip dari kehamilan lewat bulan adalah terminasi kehamilan segera. Pada kasusini terminasi secara induksi dilakukan, namun terjadi indikasi ancaman fetaldistress sehingga induksi persalinan di hentikan, dan di rencanakan sectio cesaria.Faktor penyebab dari kehamilan lewat bulan ialah kelainan janin (anensephalus,hipoplasia, kelainan kelenjar suprarenal janin, janin tidak memiliki hipofisa), tali pusar pendek, dan kelainan letak janin. Faktor lain ialah kesalahan dalam penanggalan, primigravida, riwayat serotinus, jenis kelamin laki-laki, dan genetik.Pada kasus ini belum dapat dipastikan penyebab pasti dari kehamilan lewat waktu. DAFTAR PUSTAKA Wiknjosastro H . Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Dalam Ilmu Kebidanan.Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2005.Cunningham FG et al. Postterm Pregnancy. Williams Obstetric, 22st ed. Mc.Graw H ill Publishing Division, N ew York, 2005.Mansjoer Arif, et al. Induksi persalinan. Dalam kapita selekta kedokteran ed.3cet.1. Media Aesculapius, Jakarta. 2000.Fouda Ashraf. Prolonged Pregnancy. Damietta specialized hospital. 2006.Chan, L.G. Post-Maturity. The Bulletin of H ongkong Chinese MedicalAssociation. Department of Obstetrics & Gynaecology, U niversity of H ongkong.Mochtar, Rustam. Postmatur. Dalam: Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi,Obstetri Patologi ed.2. EGC:Jakarta. 1998.Karkata, M. K., dkk. Kehamilan Postterm. Dalam: Pedoman

Diagnosis TerapiDan Bagan Alir Pelayanan Pasien. Smf obstetri dan ginekologi fk unud, RSSanglah, Denpasar. 2003.

Case Obsgyn Aji Tambahkan ke Koleksi 515 Reads 1 Readcasts 0 Embed Views

Published by Adtzjhiey Afpa Aji

KIATTekanCtrl-F untuk mencari dengan cepat dibagian manapun dalam dokumen. Info dan Peringkat Kategori: Tidak ada kategori. Peringkat Tanggal diunggah: 07/17/2011 Hak Cipta: Attribution Non-commercial Tag: Dokumen ini tidak memiliki tag. Tandai dokumen karena berisi materi yang tidak pantas Download and print this document

Read offline in your PDF viewer Edit this document in [Adobe Acrobat, Microsoft Word, Notepad] Keep a copy in case this version is deleted from Scribd Read and print without ads Email the file

Choose a format to download in

.PDF

.DOCX

.TXT

Lainnya Dari Pengguna Ini

5 p. Uji Kolmogorov Smirnov Adtzjhiey Afpa Aji 7 Reads

3 p. Penulisan Daftar Pustaka Menggunkait Sistem Havard Adtzjhiey Afpa Aji 19 Reads

1 p. Romantic Hero 35... Hadir Berlahan Bersama Waktu Adtzjhiey Afpa Aji 36 Reads Related

18 p. Kasus Kehamilan Lewat Waktu Taufik Abidin 80973 Reads

6 p. Asuhan Keperawatan Serotinus (Kehamilan Lewat Bulan ) adrianXdhewy 2379 Reads

10 p. Asuhan Kebidanan Kehamilan Lewat Waktu ivanchoirul 230 Reads Tinggalkan Komentar

Kirim Karakter:400 Tentang


Tentang Scribd Blog Bergabung dengan tim kami! Hubungi Kami

Beriklan dengan kami


Memulai AdChoices

Dukungan

Bantuan FAQ Tekan

Mitra

Penerbit Pengembang / API

Legal

Terms Privasi Hak cipta

Copyright 2012 Scribd Inc. Bahasa: Bahasa indonesia

Explore

K e l u h a n : t i d a k a d a T e r a p i : B C , V i t . C , F e Hasil tes kehamilan : tidak dilakukanImunisasi TT berapa kali : 2x, sebelum menikah, sebelum hamilPergerakan fetus dirasakan pertama kali pada usia kehamilan : 5 bulanPergerakan fetus dalam 24 jam terakhir : 20 kaliKeluhan selama hamil : tidak adaObatobatan selama hamil : BC, Vit. C, FePenyuluan yang di dapat : ANC rutin, istirahat, gizi6 . P O L A M A K A N A N D A N M I N U M A N M a k a n : 3 x s e h a r i p o r s i sedang, (nasi, sayur, lauk)M i n u m : 5 - 8 g e l a s / h a r i . Perubahan pola makan yang dialami (ngidam, nafsu makan, dll) : tidak ada7 .P OL A AKT IF I T A S SE HA RI - HA R II s t i r a h a t : n o n t o n T V T i d u r : s i a n g 2 j a m malam 6-7 jamS e k s u a l i t a s : 1 x / m i n g g u 8 . P O L A E L I M I N A S I B A B : 1 x / h a r i konsitensi lembek, warna kuning, bau khas.BAK: 5-6x /hr konsitensi cair, warna kuning, bau khas.9.RIWAYAT K B Kontrasepsi yang pernah digunakan : suntik 3 bulananRencana kontrasepsi yang akan digunakan : suntik 3 bulanan10.RIWAYAT KEHAMILAN, PERSLAINAN, NIFAS YANG LALU N O P E R S A L TMPTPERSALUK JENISPERSALPENOLONGANAK KETJ K B B P B 1 . I R u m a h 9 b l n N o r m a l D u k u n --2 . I I R u m a h 9 b l n N o r m a l D u k u n --3 . I I I B P S 9 b l n N o r m a l B i d a n

3000484 . H a m i l i n i 11.RIWAYAT SAKIT YANG SEDANG DIDERITAIbu mengatakan tidak pernah menderita penyakit apapun12. RIWAYAT PENYAKIT YANG LALU

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang serius13.RIWAYAT PENYAKIT KETURUNANIbu mengatakan tidak ada keluarga yang menderita DM, hipertensi, asma.14.PERILAKU KESEHATANM i n u m o b a t - o b a t a n / a l k o h o l : tidak pernahJamu yang sedang digunakan: tidak pernahMerokok, makan sirih, kopi: tidak pernahG a n t i p a k a i a n d a l a m : 2 x / h a r i 15.RIWAYAT SOSIALApakah kehamilan ini diinginkan: tidak J e n i s k e l a m i n y a n g d i i n g i n k a n : L / P s a m a sajaS t a t u s p e r k a w i n a n : s a h J u m l a h : 1 k a l i L a m a p e r k a w i n a n : 1 t a h u n Jumlah keluarga yang tinggal serumah : 5 orangSusunan keluarga yang tinggal serumah : N o J K U m u r / t h n H u b . k e l u a r g a P e n d i d i k a n P e k e r j a a n K e t . 1 . L 3 7 t h s u a m i S M P T a n i 2 . P 3 3 t h I s t r i S D 3 . L 1 2 t h A n a k 1 S D 4 . L 7 t h A n a k 2 S D -

5 . P 5 t h A n a k 3 16.Kepercayaan Yang Berhubungan Dengan Kehamilan, Persalinan Dan Nifas.Selamatan 3 bulanan, 7 bulanan, tingkepan17.Keadaan PsikososialHubungan ibu dengan keluarganya : baik H u b u n g a n i b u d e n g a n m a s y a r a k a t : b a i k B.DATA OBYEKTIF A.Pemeriksaan Umum1 . K e a d a a n u m u m : b a i k 2 . K e s a d a r a n : c o m p o s m e n t i s 3 . K e a d a a n e m o s i o n a l : s t a b i l

4 . T e k a n a n d a r a h : 110 / 70 mmhg5 . S u h u t u b u h : 3 6 50 C6 . D e n y u t n a d i : 7 6 x / m e n i t 7 . P e r n a p a s a n : 2 0 x / m e n i t 8 . T i n g g i b a d a n : 1 5 8 c m 9 . B B s e k a r a n g : 4 7 k g 10.BB sebelum hamil: 41 kg1 1 . L i l a : 2 2 c m B.Pemeriksaan Khusus1 . I n s p e k s i Kepala :rambut berwarna hitam, tidak rontok, k e t o m b e : s e d i k i t , benjolan tidak adaM u k a : c l o a s m a g r a v i d a r u m : t i d a k Mata: konjungtiva : merah muda +/+, k e l o p a k m a t a : t i d a k o e d e m a - / , sklera : putih keabuan +/+.Hid u n g: sim e t r is : y a + / + , se kre t : t id a k a d a - / - , p o l ip : t id a k ad a - / - .M u l u t : l i d a h : bersih, gigi : tidak ada caries, gusi : tidak epulis.T e l i n g a : serumen : tidak ada -/-L e h e r : T i d a k a d a p e m b e s a r a n k e l . t i r o i d Tidak ada pembesaran vena jugularis -/-A x i l l a : p e m b e s a r a n k e l e n j a r l i m f e : t i d a k a d a - / - Payudara: pembesaran : ada +/+, simetris : ya (ka/ki) +/+, papilla mamae :me n o n jo l + / + , b e n j o la n / t u mo r : t id a k a d a - / - , p e n g e lu ara n : colostrum +/+, strie : tidak ada -/-, kebersihan : bersih +/+.Abdomen: pembesaran : ada pembesaran sesuai UK, linea alba : ada,

lineanigra : ada, bekas luka operasi : tidak ada, strie livide : tidak ada, strie albican : ada.P u n ggu n g: p o si si t u l an g b e la kan g : lo rd o s i sEkstrimitas: oedema : tidak kanan -/- dan kiri -/-, varises : tidak kanan -/-dan kiri -/-, simetris : ya kanan +/+ dan kiri +/+Anogenital: Keadaan perineum : utuh, warna vulva : kebiruan, pengeluaran pervaginam : tidak ada, pembengkakan kelenjar bartolini : tidak ada, oedema : tidak ada.2 . P a l p a s i L I : p e r t e n g a h a n a n t a r a p x d a n p u s a t , t e r a b a bokong / TFU : 35 cmL I I : p u k i L III: bagian terendah teraba kepalaL IV: kepala sudah masuk PAP ( U )

TBJ : (35-11) x 155 = 3720 gram3 . A u s k u l t a s i D J J : - P u n c t u m m a x i m u m : kiri bawah pusatF r e k u e n s i : 1 1 - 1 0 - 1 1 ( 1 2 8 x / m n t ) - T e r a t u r / t i d a k : t e r a t u r 4 . P e r k u s i R e f l e k p a t e l l a : + / + C. Pemeriksaan DalamDistansia spinarum : 26 cm- Distansia cristarum : 28 cm- Konjugata eksterna : 21 cm- Lingkar panggul : 88 cmD. Pemeriksaan dalamTidak dilakukanE. Pemeriksaan LaboratoriumDarah : Hb = 10,8 gr%Urin : Protein = (-)Reduksi = (-)F. KesimpulanG IV P 3003 UK 42 1/7 mg, prematur, letak membujur, puka, kelapa U, intrauterine, pesan jalan lahir normal, KU baik.

INTERPRESTASI DATA T g l / j a m D a t a D a s a r D x / M s l h / K e b t 15-11-2008Pkl. 18.00WIB.DS :Ibu mengatakan hamil anak ke empat. Usiakehamilan 9,5 bulan.DO : 1 . K e a d a a n u m u m : baik 2 . K e s a d a r a n : composmentis3 . K e a d a a n e m o s i o n a l : stabil4 . T e k a n a n d a r a h : 110 / 70 mmhg5 . S u h u t u b u h : 3 6 50 C6 . D e n y u t n a d i : 76x /menit7 . P e r n a p a s a n : 20x /menit8 . T i n g g i

b a d a n : 158 cm9 . B B s e k a r a n g : 4 7 kg1 0 . B B s e b e l u m h a m i l : 4 1 kg1 1 . L i l a : 2 2 c m Konjungtiva : tidak pucat.Abdomen : pembesaran sesuai UK, ada lineaalba dan nigra, ada strie albican, tidak adastrie livide, tidak ada bekas luka operasi.Pengeluaran pervaginam : belum ada.Palpasi :L I : p e r t e n g a h a n a n t a r a p x d a n p u s a t , teraba bokong (TFU : 35 cm )L I I : p u k i L III: bagian terendah teraba kepalaL I V : ke p a la su d a h ma s u k P AP ( U )Auskultasi :Punctum maksimum : kiri bawah pusatDx : G IV P 3003 dengan serotinus