Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar belakang Plankton adalah makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) yang hidupnya mengapung, mengambang atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya (kalau pun ada) sangat terbatas sehingga selalu terbawa hanyut oleh arus. Secara fungsional, plankton digolongkan menjadi empat golongan utama yaitu, fitoplankton, zooplankton, bakterioplanton, virioplankton. Kehadiran plankton sangat penting dalam ekosistem perairan karena perannya sebagai produsen primer dalam rantai makanan, dengan kemampuannya mensintesis senyawa organik dari senyawa anorganik melalui proses fotosintesis. Komposisi plankton berbeda antara satu habitat perairan dengan habitat perairan lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal dan juga dari musim ke musim. Variasi ini juga bergantung pada berbagai faktor fisika dan kimia diantaranya : kedalaman, suhu, pH, turbiditas, dan ketersediaan sumber nutrisi. Selain berperan sebagai produsen primer, beberapa plankton dapat dijadikan bioindikator lingkungan seperti, pyrodinium bahamanse Alexandrium tamarense yang menghasilkan racun saxitoxin dan dapat menimbulkan gejala PSP (Paralytic shellfish poisoning) sehingga mengakibatkan kejang-kejang sampai kelumpuhan setelah memakan kerang, Pengkajian plankton mencakup koleksi dan pendataan jenis. Kajian komunitas plankton meliputi kelimpahan, nilai penting, indeks dominansi, dan keanekaragaman. 1.2. Tujuan praktikum Tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Mempelajari teknik pengambilan data faktor fisik, kimia, biologi suatu perairan dan profil tepi 2. Menghitung dan mengidentifikasi plankton 3. Mempelajari indeks diversitas plankton 4. Mempelajari kolerasi faktor lingkungan dengan populasi plankton

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup melayang di perairan, mempunyai gerak sedikit sehingga mudah terbawa arus, artinya biota ini tidak dapat melawan arus. Mikroorganisme ini baik dari segi jumlah dan jenisnya sangat banyak dan sangat beranekaragam serta sangat padat. Selanjutnya diketahui bahwa plankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem mata rantai makanan (food chain) dan jaringan makanan (food web). Mereka menjadi pakan bagi sejumlah konsumen dalam sistem rantai makanan dan jaring makanan tersebut (Ferianti, 2007). Berdasarkan habitatnya plankton ditemui hidup di perairan, baik di sungai, danau, waduk, maupun di perairan payau dan laut. Plankton ini ada yang bergerak aktif sendiri seperti hewan yang disebut dengan zooplankton (plankton hewan), dan ada juga plankton yang dapat berfotosintesis seperti tumbuhan di darat, kelompok ini disebut dengan fitoplankton (plankton nabati) (Ferianti, 2007). Ukuran plankton sangat beraneka ragam dari yang terkecil yang disebut ultraplankton ukurannya < 0.005 mm atau 5 mikron, seperti bakteri dan diatom kecil, sampai nanoplankton yang berukuran 60-70 mikron. Nanoplankton terlalu kecil untuk dikumpulkan dengan jaring plankton biasa dan hanya dapat dikumpulkan dengan cara mengambil jumlah besar air laut (Kasijan dkk, 2004). Plankton umumnya berukuran sangat kecil dan jumlahnya banyak, oleh karena itu pengambilan sample plankton harus dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menyaring air sedemikian rupa sehingga plankton yang tersaring cukup jumlahnya untuk dianalisis. Untuk keperluan ini alat khusus yang biasa digunakan adalah jaring plankton atau plankton net. Setiap mata jaring yang digunakan ukurannya (mesh-size) harus berbeda, tergantung dari plankton yang akan dikumpulkan, apakah itu fitoplankton atau zooplankton. Jika yang diinginkan fitoplankton, maka ukuran mata jaring harus kecil, demikian sebaliknya untuk zooplankton. Sample plankton yang didapat dapat diawetkan dengan menggunakan formalin dan disimpan didalam suhu yang rendah (Kasijan dkk, 2004). Fitoplankton adalah mikroorganisme nabati yang hidup melayang di dalam air, relatif tidak memiliki daya gerak sehingga keberadaanya dipengaruhi oleh gerakan air, serta mampu berfotosintesis. Kemampuan fitoplankton melakukan fotosintesis karena sel tubuhnya mengandung klorofil. Klorofil berfungsi untuk mengubah zat anorganik menjadi zat organik dengan bantuan sinar matahari. Zat anorganik yang dihasilkan dipergunakan untuk kebutuhan dirinya sendiri dan untuk kebutuhan organisme air lainnya (Kasijan dkk, 2004). Salah satu sifat khas fitoplankton adalah dapat berkembang secara berlipat ganda dalam jangka waktu yang relatif singkat, tumbuh dengan kerapatan tinggi, melimpah dan terhampar luas. Kelimpahan fitoplankton yang terkandung didalam air akan menentukan kesuburan suatu perairan. Oleh karena itu, fitoplankton dapat digunakan sebagai jenis bio-indikator dari kondisi lingkungan perairan (Juwana, 2004). Zooplankton yang hidup di laut sangat beraneka ragam, yang terdiri atas berbagai bentuk larva dan bentuk dewasa yang dimiliki hampir seluruh filum

hewan. Namun yang paling menonjol adalah Crustacea planktonik. Apabila ditinjau dari aspek ekologis, anggota crustacean yang paling penting adalah copepoda (Juwana, 2004). Ekologi Plankton Kehadiran fitoplankton di ekosistem perairan sangat penting, karena fungsinya sebagai produsen primer dalam perairan atau karena kemampuan dalam mensintesis senyawa organik dari senyawa anorganik melalui proses fotosintesis (Heddy dan Kurniati, 1996). Dalam ekosistem air, proses fotosintesis dilakukan oleh fitoplankton bersama dengan tumbuhan air lainnya disebut sebagai produktivitas primer. Fitoplankton hidup terutama pada lapisan perairan yang mendapat cahaya matahari yang dibutuhkan untuk melakukan proses fotosintesis. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kepadatan fitoplankton di suatu perairan lentik adalah kecepatan arus air. Selain itu kekeruhan air juga sangat mempengaruhi mendominasi perairan tawar umumnya terdiri dari diatom dan ganggang hijau serta dari kelompok ganggang biru. Pada perairan yang tercemar, seperti di sungai Daplim George, Amerika Serikat, fitoplankton yang dominan adalah fitoflagellata dan ganggang biru, selanjutnya pada daerah hilir banyak di temukan ganggang biru dan diatom (Effendi, 2003). Kepadatan fitoplankton dapat dipengaruhi oleh musim, terjadi fluktuasi kepadatan fitoplankton yang bervariasi antara musim panas dan musim dingin. Kelompok zooplankton yang terdapat pada ekosistem perairan adalah dari jenis Crustaceae/Copepoda dan Cladocera, serta Rotifera. Kepadatan zooplankton di suatu daerah lentik jauh lebih sedikit dibandingkan dengan fitoplankton. Sebagian besar zooplankton menggantungkan sumber nutrisinya pada materi organik, baik berupa fitoplankton maupun detritus. Berhubung karena bentuk dan ukuran tubuh yang bervariasi maka terdapat berbagai tipe makanan zooplankton dalam memanfaatkan materi. Plankton Sebagai Bioindikator Kualitas suatu perairan terutama perairan menggenang dapat ditentukan berdasarkan fluktuasi populasi plankton yang mempengaruhi tingkat tropik perairan tersebut. Fluktuasi dari populasi plankton sendiri dipengaruhi terutama perubahan berbagai faktor lingkungan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi populasi plankton adalah ketersediaan nutrisi disuatu perairan. Unsur nutrisi berupa nitrogen dan fosfor yang terakumulasi dalam suatu perairan akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi fioplankton dan proses ini akan menyebabkan terjadinya eutrofikasi yang dapat menurunkan kualitas perairan (Fahrul et al, 2007). Yang perlu diperhatikan dalam memilih indikator biologi adalah tiap spesies mempunyai respon terhadap pencemaran yang spesifik. Alga hijau biru (Mycroytis sp.) meningkat bila perairan subur/pencemaran pupuk nitrogen, pencemaran pupuk fosfat dapat dilihat dengan meningkatnya kehadiran alga hijau biru.

BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1. Waktu dan tempat praktikum dilaksanaka pada hari Senin tanggal 2 April 2012. Pengambilan sample dan pengukuran faktor fisik dilakukan di situ bungur. Selanjtunya identifikasi dan analisis plankton dilakukan pada hari senin tanggal 9 April 2012 di laboratorium ekologi. 3.2. Alat dan bahan Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah termometer, pH meter, secchi disk, DO-meter, turbidimeter, konduktimeter, plankton net, botol film, Haemocytometer, mikroskop, kaca objek, cover glass, pipet, kamera,. Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu air sampel dari situ bungur, betadin sebagai pengawet, minyak imersi, alakohol 70%. 3.3. Cara kerja a. Profil tepi Situ Untuk membuat profil tepi, pertama yang dilakukan adalah daerah situ yang akan diteliti ditentukan, kemudian kedalamn Situ diukur dalam interval 20cm. selanjutnya data fisika dan kimia perairan tersebut diukur meliputi kekeruhan air, suhu, PH air Situ, oksigen terlarut dan konduktivitas. Selanjutnya, hewan dan tumbuhan yang ada disekitar lokasi pengambilan sampel dicatat, dan kemudian dibuat profil tepi Situ. b. Teknik sampling, pengawetan, identifikasi dan analisis plankton 1. Teknik sampling Yang pertama dilakukan adalah semua faktor fisika dan kimia dicatat, selanjutnya sampling air dilakukan sebanyak 5L kemudian disaring menggunakan plankton net ke dalam botol film. Kemudian sampling yang didapatkan diawetkan menggunakan betadin sebanyak kurang lebih 1 ml 2. Identifikasi Sampel diambil sebanyak 1 tetes dan diletakkan diatas kaca objek selanjutnya ditutup perlahan dengan kaca objek. Kemudian sampel diletakkan dibawah mikroskop dengan perbesaran terendah 40x, dan dinaikkan hingga perbesaran 1000X. Selanjutnya setiap jenis yang ditemukan dicatat. 3. Analisis Untuk mengetahui kerapatan plankton dilakukan pencacahan menggunakan bantuan mikroskop dan haemocytometer. Sampel dimasukkan ke sela-sela cover glass dan haemocytometer menggunakan pipet tetes. Lalu diamati dibawah mikroskop hingga perbesaran 1000x. Perhitungan kerapatan sel menggunakan kotak besar yang ada pada haemocytometer. 3.4. Analisis data a. Kerapatan sel dihitung dengan rumus:
K = n x P x 2500

Keterangan :

K n P 2500

= kerapatan sel = jumlah total sel dalam 4 kotak kamar hitung = faktor pengenceran yang digunakan = Luas bidang pandang

b. Indeks keaanekaragaman (H) H = - ( ) Keterangan : Ni N H = jumlah individu tiap jenis = jumlah individu seluruh jenis = indeks diversitas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil pengamatan Berdasarkan praktikum pengamatan dan analisis plankton, didapatkan data-data faktor fisik, profil tepi, kerapatan, jenis-jenis dan keanekaragaman plankton sebagai berikut. 4.1.1. Faktor fisik
Termometer air raksa : 31,5oC DO-meter : 27,3oC pH 7 Kecerahan 11,5 cm DO (disolved oksigen) 3,4 mg/L Konduktivitas 0,15 mS Tabel 1. hasil pengukuran faktor abiotik lingkungan akuatik Suhu

4.1.2. pengukuran kedalaman air tepi Situ Bungur sepanjang 180 dengan interval 20 cm
No Interval (cm) Kedalaman (cm) 1 20-40 50 2 40-60 80 3 60-80 4 80-100 5 100-120 6 120-140 7 140-160 8 160-180 Table 2. Hasil pengukuran kedalaman air tepi situ

4.1.3. Jenis tumbuhan yang terdapat di luar/sekitar Situ Bungur


No Nama tumbuhan Jumlah 1 Pohon bambu 1 2 Pohon pisang 1 3 Pohon mangga 1 4 Rerumputan 1 5 Alang-alang 1 6 Putri malu 1 Tabel 3. Jenis tumbuhan yang ada di sekitas situ

4.1.4. Profil tepi


20 20 20 20 20 20 20

50

80

gambar 1. profil tepi situ bungur

4.1.5. kerapatan plankton


No Kelompok 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 Rata-rata Tabel 4. Nilai kerapatan plankton Hasil 365.000 sel/ml 995.000 sel/ml 42.500 sel/ml 3.672.500 sel/ml 187.500 sel/ml 1.052.500 sel/ml

4.1.6. keanekaragaman plankton


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 spesies oscillatoria Sphaerocystis Aphdnothece Kirchneriella Coelas Phaerium Aphano Capsa Cosmarium Phacus Paramecium Chroococcus Rhizosolenia sp. Spesies 2 ni 4 2 1 2 70 4 1 6 1 24 1 8 4/124= 0,032 2/124 = 0,015 1/124 = 0,008 2/124 = 0,016 70/124 = 0,56 4/124 = 0,032 1/124 = 0,008 6/124 = 0,048 1/124 = 0,008 24/124 = 0,19 1/124= 0,008 8/124 = 0,064 -3,442 -4,199 -4,828 -4,135 -0,579 -3,442 -4,828 -3,036 -4,828 -1,660 -4,828 -2,748 -0,11 -0,063 -0,038 -0,066 -0,324 -0,11 -0,038 -0,145 -0,038 -0,315 -0,038 -0,175 H = - (-1,17) = 1,17

Tabel 5. Nilai keanekaragaman plankton

4.2. Pembahasan Praktikum analisis dan identifikasi plankton dilakukan di situ bungur, lokasi ini dipilih untuk praktikum analisis plankton karena kondisi dan profil air Situ Bungur yang sangat hijau, sehingga diindikasikan di perairan tersebut populasi planktonnya cukup tinggi. Banyaknya populasi plankton dibuktikan dengan banyaknya jenis-jenis plankton dan tingginya kerapatan palnkton yang dapat diidentifikasi dari sampel air yang diambil. Kondisi air yang minim penetrasi cahaya matahari dengan tingkat kecerahan hanya 11,5 cm mengakibatkan kadar oksigen terlarut sangat sedikit yaitu 3,4 mg/L, dan suasana perairannya yang basa dengan pH 8. Penyebab utama berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air disebabkan karena adanya zat pencemar yang dapat mengkonsumsi oksigen. Zat pencemar tersebut terutama terdiri dari bahan-bahan organik dan anorganik yang berasal dari barbagai sumber, seperti kotoran (hewan dan manusia), sampah organik, bahan-bahan buangan dari industri dan rumah tangga. Selain itu, kondisi faktor fisik tersebut juga diakibatkan oleh banyaknya partikel-partikel dan plankton yang tersuspensi didalam air, selain itu sirkulasi inlet dan outlet-nya yang tidak seimbang dengan banyaknya limbah-limbah rumah tangga yang masuk ke badan perairan namun tidak seimbang dengan aliran outlet, mengakibatkan buruknya kondisi perairan tersebut. Dengan kondisi perairan yang seperti itu organisme produsen seperti tumbuhan tidak ditemukan di dalam perairan Situ Bungur, karena ikan tidak dapat hidup di perairan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah. Ketika dilakukan pengamatan profil tepi tidak ditemukan adanya tumbuhan air, namun yang banyak ditemukan disekitar tepi badan perairan hanya hewan-hewan bentos seperti keong. Dari identifikasi plankton yang dilakukan pada sampel air situ bingur, terdapat banyak jenis plankton yang ditemukan dengan jumlah individu yang bervariasi pada masing-masing jenis. Jenis-jenis plankton tersebut diantaranya adalah Oscillatoria, Sphaerocystis, Aphdnothece, Kirchneriella, Coelas Phaerium, Aphano Capsa, Cosmarium, Phacus, Paramecium, Chroococcus, Rhizosolenia sp., Spesies 2. Jumlah individu yang paling banyak ditemukan adalah plankton jenis Coelas Phaerium dengan jumlah 70 individu. Terbenyak kedua adalah plankton jenis Chroococcus dengan jumlah individu 24 individu. Selanjutnya spesies 2 berjumlah 8 individu, Phacus 6 individu, Aphano Capsa dan Osillaotria 4 individu, Sphaerocystis 2 individu, dan Aphdnothece, Cosmarium, Paramecium dan Rhizosolenia sp. Yang masing-masing terdapat 1 individu. Keanekaragaman suatu spesies dapat dijadikan sebagai indikator kualitas air. Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman suatu spesies yang tinggi bila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masing-masing spesies relatif merata, namun bila suatu komunitas hanya terdiri dari sedikit spesies dengan jumlah individu yang tidak merata maka komunitas tersebut mempunyai keanekaragaman yang rendah dan itu menjadi indikasi bahwa suatu perairan telah tercemar (Barus, 2004). Nilai keanekaragaman plankton yaitu 1,17. Nilai tersebut berdasarkan klasifikasi kualitas perairan berdasarkan indeks diversitas ShannonWiener perairan tersebut tergolong dalam kategori buruk, dan tingkat penecemarannya berdasarkan indeks diversitas Shannon-Wiener sudah tergolong dalam kategori tercemar ringan.

Komunitas dari perairan Situ Bungur didominasi oleh plankton, sedangkan organisme lainnya seperti ikan, dan tumbuhan air tergolong sangat sedikit dan jarang ditemukan di perairan Situ bungur. Namun selain plankton yang sangat melimpah, juga ditemukan banyak sekali bentos jenis keong. karena hanya dua spesies yang jumlah individu sangat banyak maka standar skala kualitas lingkungan biotik untuk fauna dan flora di perairan tersebut tergolong dalam kategori sangat jelek. Kerapatan dari populasi plankton yang di ambil dari sampel air Situ Bungur dapat dikatakan kerapatannya cukup tinggi yaitu dengan rata-rata kerapatannya sebesar 1.052.500 sel/ml. Kerapatan plankton yang sangat tinggi mengindikasikan lingkungan perairan yang tercemar, hal ini dibuktikan dengan pengukuran faktor fisik yang dilakukan. Diantaranya yaitu kadar oksigen yang terlarut sangat rendah yaitu hanya 3,4 mg/L. Suhu Bloomingnya populasi plankton menyebabkan oksigen telarut dalam air banyak diambil oleh plankton, sehingga dengan berkurangnya kadar oksigen, organisme lain seperti ikan dan tumbuhan air tida dapat hidup/eksis di peairan situ bungur. Padatnya populasi plankton yang tersuspensi, selain memengaruhi kadar oksigen terlarut, juga mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dalam air, dengan nilai kecerahannya hanya 11,5 cm. Akibatnya tumbuhan air sebagai organisme produsen tidak dapat melakukan fotosintesis secara maksimal.

BAB V KESIMPULAN 1. Dari hasil identifikasi jenis-jenis plankton yang ditemukan cukup banyak 2. Nilai dari keanekaragaman plankton berdasarkan indeks Shannon-Wiener mengindikasikan kualitas perairan yang buruk dan tercemar ringan 3. Tingginya kerapatan populasi plankton menandakan kondisi lingkungan perairan yang buruk dan tercemar 4. Dari pengamatan profil tepi tidak ditemukan adanya tumbuhan air di dalam perairan situ bungur

DAFTAR PUSTAKA Barus, T.A, 2004. Pengantar Limnologi: Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. USU Press. Medan. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. Fachrul, M. F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta. Ferianti Fachrul,M. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta. Heddy, S. S., & Kurniati. 1996. Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi Suatu Bhasan Tentang Kaidah Ekologi dan Penerapannya. PT. Raja Grafindo Persada . Jakarta. Juwana.2007.Perkembangan Komunitas Fitoplankton sebagai indikator Perubahan Tingkat kesuburan Kualitas Perairan. Bogor : IPB. Kasijan. dkk. 2004. Biologi laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta.

Lampiran Nilai kerapatan: Kelompok 1 : n x P x 2500 146 x 1 x 2500 = 365.000 sel/ml Kelompok 2 : n x P x 2500 398 x 1 x 2500 = 995.000 sel/ml Kelompok 3 : n x P x 2500 17 x 1 2500 = 42.500 sel/ml Kelompok 4 : n x P x 2500 1469 x 1 x 2500 = 3.672.500 sel/ml Kelompok 5 : n x P x 2500 75 x 1 x 2500 = 187.500 sel/ml