Anda di halaman 1dari 17

PENGERTIAN AMDAL

Lingkungan hidup merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk ditelaah sebelum suatu investasi atau usaha dijalankan. Sudah barang tentu telaah yang dilakukan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan jika suatu investasi jadi dilakukan, baik dampak negatif maupun yang berdampak positif. Dampak yang timbul ada yang langsung mempengaruhi pada saat kegiatan usaha/proyek dilakukan sekarang atau baru terlihat beberapa waktu kemudian di masa akan dating. Dampak lingkungan yang terjadi adalah berubahnya suatu lingkungan dari bentuk aslinya seperti perubahan fisik kimia, biologi atau sosial. Perubahan lingkungan ini jika tidak diantisipasi dari awal akan merusak tatanan yang sudah ada, baik terhadap fauna, flora maupun manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum suatu usaha atau proyek dijalankan, maka sebaliknya dilakukan terlebih dahulu studi tentang dampak lingkungan yang bakal timbul, baik dampak yang bakal timbul, juga mencarikan jalan keluar untuk mengatasi dampak tersebut. Studi inilah yang kita kenal dengan nama Analisis Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Pengutamaan telaah AMDAL secara khusus adalah meliputi dampak lingkungan di sekitarnya, baik di dalam maupun di luar suatu usaha atau proyek, yang akan dijalankan. Arti keberadaan suatu usaha atau proyek akan mempengaruhi kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi, baik dampak rencana usaha dan atau kegiatan terhadap kegiatan yang sudah ada. Dewasa ini penelitian terhadap AMDAL suatu usaha sebelum dijalankan sangat penting. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya lingkungan yang sehat, baik terhadap manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pada akhirnya jika aspek lingkungan dinyatakan tidak layak untuk dijalankan, maka sebaiknya dibatalkan karena akan memperoleh kerugian lebih besar daripada manfaatnya. Bahkan analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan kegiatan yang harus dijalankan. Hasil studi kelayakan ini nantinya sangat berguna untuk para perencana, serta djuga bagi pengambilan keputusan. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) menurut PP Nomor 27 Tahun 1999 pasal 1 adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan kegiatan. Arti lain analisis dampak lingkungan adalah teknik untuk menganalisis apakah proyek yang akan dijalankan akan mencemarkan lingkungan atau tidak dan jika ya, maka diberikan jalan laternatif pencegahannya.

DAMPAK YANG DITIMBULKAN Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa AMDAL merupakan salah satu bagian dari aspek studi kelayakan bisnis. Artinya untuk melakukan suatu kegiatan usaha atau bisnis atau proyek, studi mengenai AMDAL merupakan salah satu syarat kelayakan tersebut. Perlunya dilakukan studi AMDAL sebelum usaha dilakukan mengingat kegiatan-kegiatan investasi pada umunya akan mengubah lingkungan hidup. Oleh karena itu menjadi penting untuk memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup sebelum investasi dilakukan. Adapun komponen lingkungan hidup yang harus dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya, antara lain: 1. Hutan lindung, Hutan konservasi, dan cagar biosfer. 2. Sumber daya manusia. 3. Keanekaragaman hayati. 4. Kualitas udara. 5. Warisan alam dan warisan budaya. 6. Kenyamanan lingkungan hidup 7. Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup. Kemudian komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan penting bagi masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan atau kegiatan, seperti antara lain: 1. Kepemilikan dan penguasaan lahan. 2. Kesempatan kerja dan usaha. 3. Taraf hidup masyarakat. 4. Kesehatan masyarakat. Dengan adanya kegiaatan investasi atau usaha, maka komponen lingkungan hidup di atas secara otomatis akan berubah dengan menimbulkan berbagai dampak terutama dampak negatif yang sangat tidak diinginkan. Berikut ini dampak negatif yang mungkin akan timbul, jika tidak dilakukan AMDAL secara baik dan benar adaladh sebagai berikut: 1. Terhadap Tanah dan Kehutanan a. Menjadi tidak subur, gersang atau tandus, sehingga sangat merugikan sektor pertanian

dan kehutanan. b. Berkurang jumlahnya, apabila terjadi pengerukan atau bahkan hilang, seperti untuk sektor pertambangan, yang pada akhirnya akan berbentuk danau-danau kecil. c. Terjadi erosi atau bahkan banjir apabila hutan yang ada disekitar proyek ditebang secara

tidak teratur.

d. Tailing bekas pembuangan hasil pertambangan akan merusak aliran sungai berikut hewan dan tanaman disekitarnya. e. Pembabatan hutan yang tidak terencana akan merusak lingkungan secara keseluruhan

dan rusaknya hutan sebagai sumber resapan air. f. Punahnya keanekaragaman hayati, baik fauna maupun flora, akibat rusaknya hutan alam

dan aliran sungai yang terkena dampak dengan adanya proyek / usaha. 2. Terhadap Air a. Berubah warna, dari yang semula bening dan jernih menjadi kuning, hitam, atau cokelat,

sehingga tidak dapat dipergunakan lagi untuk keperluan seperti air minum, mencuci dan keperluan lainnya. b. Berubah rasa, dalam arti bahwa mungkin warnanya tidak berubah, akan tetapi rasanya menjadi berubah, sehingga berbahaya untuk dijadikan air minum, karena mungkin mengandung zat-zat yang beracun. c. Berbau busuk atau menyengat, sehingga dapat mengganggu lingkungan disekitarnya.

d. Matinya binatang air dan tanaman di sekitar lokasi akibat dari air berubah warna dan rasa. 3. Terhadap Udara a. Udara di sekitar lokasi menjadi berdebu, untuk proyek-proyek tertentu, seperti proyek

batu kapur atau semen, sehingga udara di sekitarnya menjadi tidak sehat. b. Dapat menimbulkan radiasi-radiasi yang tidak dapat dilihat oleh mata, seperti proyek bahan kimia. c. Untuk proyek tertentu dapat menimbulkan suara yang bising, seperti proyek

perbengkelan. d. Menimbulkan aroma yang tidak sedap seperti berbau tajam, menyengat, busuk, seperti usaha peternakan atau industry makanan. e. Dapat menimbulkan suhu udara menjadi panas, akibat dari pada keluaran industri

tertentu. 4. Terhadap manusia a. Akan menimbulkan berbagai penyakit terhadap:

b. Berubahnya budaya dan perilaku masyarakat sekitar lokasi, akibat berubahnya struktur penduduk. c. Rusaknya adat-istiadat masyarakat setempat, seiring dengan perubahan perkembangan di

daerah tersebut.

Dampak yang akan timbul, seperti di atas perlu dicarikan alternatif penyelesaiannya. Penyelesaiannya ini harus dipenuhi atau dilengkapi oleh perusahaan yang dinilai kurang layak. Adapun alternatif penyelesaiannya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Terhadap tanah v Melakukan rehabilitasi terhadap lahan kritis melalui penghijauan (reboisasi) untuk menghindari dampak banjir, longsor atau mengatasi tanah gersang. v Melakukan pengerukan atau penimbunan terhadap berbagai penggalian yang menyebabkan tanah menjadi berlubang-lubang. 2. Terhadap air v Memasang filter / saringan air, sehingga air yang keluar dari pembuangan sudah bersih dan sehat tentunya. v Membuat saluran pembuangan yang teratur ke daerah tertentu sehingga tidak mengganggu aktifitas masyarakat. v Memberikan semacam obat untuk menetralisir air yang mencemar, seperti bahan-bahan kimia yang dapat mematikan makhluk yang mengkonsumsi atau hidup di dalam air tersebut. 3. Terhadap udara v Memasang filter / saringan udara untuk menghindari asap dan debu atau sumber polusi lainnya. v Memasang alat kedap suara untuk menghindari suara yang bising. 4. Terhadap karyawan v Menggunakan peralatan pengaman seperti masker, baju kerja yang aman atau alat pengamanan lainnya. v Diberikan asuransi jiwa dan kesehatan kepada setiap pekerja yang terlibat dalam perusahaan tersebut. v Menyediakan tempat kesehatan, untuk pegawai perusahaan yang terlibat dengan proyek. 5. Terhadap masyarakat sekitarnya v Menyediakan tempat kesehatan secara gratis kepada masyarakat v Memindahkan masyarakat ke lokasi yang lebih aman, dengan penggantian yang wajar, jika diperkirakan kondisi benar-benar membahayakan kesehatan.

TUJUAN DAN KEGUNAAN STUDI AMDAL Tujuan AMDAL adalah menduga kemungkinan terjadi damnpak dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan. Untuk mencapai tujuan ini penyusunan AMDAL harus berdasarkan atau sesuai dengan pedoman penyusunan studi AMDAL. Hal-hal yang harus dilakukan dalam rangka mencapai tujuan studi AMDAL adalah sebagai berikut: Mengidentifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang dilaksanakan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. Memperkirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan atau kegiatan usaha yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Merumuskan RKL dan RPL. Sedangkan kegunaan dilaksanakannya AMDAL adalah: 1. Sebagai bahan bagi perencana dan pengelola usaha dan pembangunan wilayah. 2. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan atau kegiatan. 3. Memberikan masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari rencana usaha dan atau kegiatan. 4. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan atau kegiatan. 5. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan.

RONA LINGKUNGAN HIDUP Sasaran utama dari AMDAL adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Atau dengan kata lain untuk menjaga lingkungan dari segala bentuk perusakan, pencemaran atau kegiatan yang merugikan kelestarian lingkungan hidup yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri. Dalam rangka menjaga dan menyelamatkan lingkungan hidup, maka perlu dilakukan studi AMDAL yang benar. Rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam bentuk, ukuran, tujuan, sasaran, dan sebagainya. Rona lingkungan hidup juga berbeda menurut letak geografi,

keanekaragaman faktor lingkungan hidup dan pengaruh manusia. Karena itu kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun berbeda-beda sesuai dengan rona lingkungan yang ada. Hal-hal yang perlu dicermati dalam rona lingkungan hidup adalah sebagai berikut: Wilayah studi rencana usaha dan atau kegiatan. Dengan mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan atai kegiatan. Kemudian komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekonomi dan erti ekologis perlu mendapat perhatian. Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan atau kegiatan baik yang sudah dan yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. Penyajian kondisi sumber daya ala mini perlu dikemukakan dalam peta dan atau dengan lanel dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram gambar, grafik atau foto.S Berikut ini beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam AMDAL. 1. Fisik Kimia Komponen fisik kimia yang penting untuk ditelaah diantaranya: a. Iklim, kualitas udara dan kebisingan

b. Fisiografi c. Hidrologi

d. Hidrooseanografi e. Ruang, lahan dan tanah

2. Biologi Komponen biologi yang penting untuk ditelaah diantaranya: a. Flora

b. Fauna 3. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: a. Demografi

b. Ekonomi c. Budaya

d. Kesehatan masyarakat

PRAKIRAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam melakukan AMDAL perlu dijelaskan dampak besar dan penting yang bakal timbul melalui perkiraan yang benar. Dampak besar dan terpenting dalam studi AMDAL menurut pediman penyusunan AMDAL hendaknya dimuat hal-hal sebagai berikut: 1. Prakiraan secara dampak usaha dan atau kegiatan pada saat prakonstruksi, konstruksi operasi dan pasca operasir terhadap lingkungan hidup. Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan atau kegiatan, dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. 2. Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diprakirakan bagin masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan atau kegiatan dan pemerintahan dengan mengacu pada pedoman penentuan dampak besar dan penting. 3. Dampak melakukan telaah butir 1 dan 2 tersebut diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan atau kegiatan, sedangkan dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan atau kegiatan primer oleh adanya rencana-rencana usaha dan atau kegiatan dalam kaitan ini, maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan sebagai berikut: a. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pad komponen sosial.

b. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisikkimia kemudian menimbulkan dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. c. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi

kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. d. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial e. f. Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri Dampak penting pada butir a, b, c, d, dan e yang telah diutarakan selanjutnya

menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan atau kegiatan. 4. Mengingat usaha dan atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi atau teknologi yang digunakan) sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan maka telaahan dilakukan untuk masing-masing

alternatif. 5. Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metode-metode formal secara matematis. Penggunaan metode non-formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis aatau hanya didekati dengan metode non-formal.

BELAJAR DARI KASUS MINAMATA DAN TRAGEDI TELUK BUYAT


Beberapa bulan terakhir ini masyarakat Sambas (khususnya Desa Lubuk Dagang, Desa Tanjung Bugis, Pasar Melayu, Durian, Dusun Lubuk Lagak dan Desa Sabong) disesalkan dengan keruhnya air sungai yang datang dari perairan Sungai Tebarau. Tidak hanya di Perairan Sambas, terdeteksi juga di daerah perairan Sebawi, Perairan Sungai Tebas dan Selakau mengalamai hal yang sama. Penyebab keruhnya perairan disebabkan oleh kegiatan penambangan emas tanpa izin (PETI) di perhuluan Sungai Tebarau. Seperti yang dimuat di koran ini tanggal 7 Mei 2008, didapati ada 30 mesin dong feng di sepanjang tepi sungai, di kawasan Dusun Karangan, Desa Madak, Kecamatan Subah. Kegiatan pertambangan termasuk PETI di perairan Sungai Tebarau merupakan pengambilan logam dari sumbernya termasuk logam berat dalam pengambilan emas. Biji primer yang terbungkus oleh mineral sulfida yang kaya akan logam-logam diekstraksi untuk memperoleh emas dan kemudian sulfida tersebut dibuang ke alam (Ginting dalam Alfian, 2006). Logam berat yang digunakan untuk penambangan emas ini adalah merkuri yang berfungsi untuk memisahkan biji emas dari pengotor-pengotornya. Limbah yang mengandung merkuri dibuang ke perairan sungai. Perairan yang telah tercemar merkuri bukan hanya membahayakan komunitas biota yang hidup dalam perairan tersebut, tetapi juga akan membahayakan kesehatan manusia. Hal ini karena sifat logam berat yang persisten pada lingkungan, bersifat toksik pada konsentrasi tinggi dan cendrung terakumulasi pada biota (Kennish dalam Masriani dan Eny E, 2003). Senyawa metil merkuri yang merupakan hasil dari limbah penambangan emas masuk ke dalam rantai makanan, terakumulasi pada ikan dan biota sungai. Merkuri, khususnya bentuk organik, pada umumnya meningkat sesuai tingkat trofik (Connell dan Miller, 2006:369). Manusia sebagai trofik tertinggi akan mengalami keracunan jika memakan ikan dan biota perairan yang tercemar logam tersebut. Semua bentuk merkuri baik dalam bentuk metil maupun dalam bentuk alkil yang masuk ke dalam tubuh manusia secara terus-menerus akan menyebabkan kerusakan permanen pada otak, hati dan ginjal (Roger, et al dalam Alfian, 2006). Ion merkuri menyebabkan pengaruh toksik, karena terjadinya proses presipitasi protein menghambat aktivitas enzim dan bertindak sebagai bahan yang korosif. Merkuri juga terikat oleh gugus sulfhidril, fosforil, karboksil, amida dan amina, di mana dalam gugus tersebut merkuri dapat menghambat fungsi enzim. Bentuk organik seperti metil-merkuri, sekitar 90% diabsorpsi oleh dinding usus, hal ini jauh

lebih besar daripada bentuk anorganik (HgCl2) yang hanya sekitar 10%. Akan tetapi bentuk merkuri anorganik ini kurang bersifat korosif daripada bentuk organik. Bentuk organik tersebut juga dapat menembus barrier darah dan plasenta sehingga dapat menimbulkan pengaruh teratogenik dan gangguan syaraf (Darmono dalam Alfian, 2006). Alkil merkuri merupakan komponen yang paling beracun karena mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 1) Alkil merkuri dengan mudah melakukan penetrasi dan terkumpul di dalam tenunan otak karena komponen ini mudah menembus membran biologi. 2) Alkil merkuri mempunyai waktu retensi yang lama di dalam tubuh sehingga konsentrasi di dalam tubuh semakin lama semakin tinggi, meskipun dosis yang masuk ke dalam tubuh makin rendah. Komponen ini diperkirakan mempunyai waktu paruh di dalam tubuh selama 70 hari. 3) Alkil merkuri dapat dibentuk dari merkuri anorganik oleh aktifitas mikroorganisme anaerobik tertentu (Novick dalam Fardiaz, 1992). Apa hubungannya dengan kasus Minamata dan tragedi Teluk Buyat? Kasus toksisitas metil merkuri pada manusia, baik anak maupun orang dewasa, diberitakan besar-besaran pasca Perang Dunia ke-2 di Jepang, yang disebut Minamata Disease. Tragedi yang dikenal dengan Penyakit Minamata, berdasarkan penelitian ditemukan penduduk di sekitar kawasan tersebut memakan ikan yang berasal dari laut sekitar Teluk Minamata yang mengandung merkuri yang berasal dari buangan sisa industri plastik (Pervaneh dalam Alfian, 2006). Tragedi ini telah memakan korban lebih kurang 100 orang pada tahun 1953 sampai 1960. Dari korban ini ada yang meninggal atau mengalami cacat seumur hidup (Hutabarat, 1985:198). Gejala keanehan mental dan cacat syaraf mulai tampak terutama pada anak-anak. Penyakit minamata adalah penyakit gangguan sistem syaraf pusat yang disebabkan oleh keracunan metil merkuri (Martono, 2005). Gejala yang timbul adalah sebagai berikut: 1) Gangguan syaraf sensori: paraesthesia, kepekaan menurun dan sulit menggerakkan jari tangan dan kaki, penglihatan menyempit, daya pendengaran menurun, serta rasa nyeri pada lengan dan paha. 2) Gangguan syaraf motorik: lemah, sulit berdiri, mudah jatuh, ataksia, tremor, gerakan lambat dan sulit bicara. 3) Gangguan lain: gangguan mental, sakit kepala dan hipersalivasi (Alfian, 2006). Di Indonesia, sejak tahun 1996 perairan Teluk Buyat Provinsi Sulawesi Utara telah dijadikan tempat pembuangan tailing (limbah hasil tambang emas) oleh PT Newmont Minahawa Raya (PT NMR). Efek dari efektivitas tersebut diduga bukan hanya terjadi pada teluk itu sendiri tetapi pada daerah sekitarnya (Teluk Totok dan Kotabunan). Kasus pencemaran merkuri di Teluk Buyat juga telah meminta korban, tragedi kemanusiaan yang dipicu ketidakadilan pembangunan ekonomi ini, telah meminta korban nyawa bocah lima bulan Andini Lenzun. Urairan tentang kasus minamata dan tragedi di Teluk Buyat dimaksudkan agar keteledoran

tidak terulang di daerah-daerah lain di Indonesia termasuk di bumi khatulistiwa ini. Saat ini merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap resiko lingkungan yang cenderung dapat menimbulkan bencana lingkungan. Hal ini semakin relevan karena dewasa ini tidak sedikit kegiatan industri dan pertambangan yang diduga berpotensi terjadinya pencemaran merkuri di lingkungan. Oleh karena itu diperlukan upaya pengawasan lingkungan yang efektif terhadap kegiatan industri yang membuang limbahnya ke lingkungan. Jika kasus seperti yang terjadi di Teluk Minamata dan Teluk Buyat terjadi di Kalimantan Barat, diperlukan biaya dan waktu yang sangat banyak untuk memulihkan dan menangani kasus pencemaran merkuri, terutama untuk upaya intervensi penyehatan lingkungan dan penanganan penderita.

Pembangunan di suatu daerah tidak hanya selalu mendatangkan dampak positif bagi daerah tersebut tetapi juga dampak negatif. Hal ini dapat di buktikan dengan beberapa contoh study kasus yang terjadi di Indonesia, khususnya pertambangan. Upaya eksploitasi yang berlebihan dan besar-besaran dalam upaya memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya seringkali membuat para penambang mengabaikan prosedur penambangan yang telah ditentukan bersama, misalnya ketentuan dalam Dokumen AMDAL, sehingga kegiatan penambangan tersebut menimbulkan kerusakan lingkungan, baik dari segi lokasi maupun limbah yang dibuang dengan sembarangan ke sungai atau laut tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu sehingga mencemari lingkungan. Contoh yang paling nyata adalah kasus pencemaran Teluk Buyat oleh Tambang Emas Minahasa. Tambang Emas Minahasa dioperasikan oleh PT Newmont Minahasa Raya, (dimiliki oleh Newmont Gold dari AS), dan berbasis di Sulawesi Utara. Tambang itu dibuka pada Maret 1996 dan pada 1998 telah memproduksi 8,3 ton emas. PEMBAHASAN Sejak 1986 2003, PT Newmont Minahasa Raya meninggalkan beban derita terhadap warga Teluk Buyat dan kerusakan lingkungan hidup yang tergolong berat. Hal ini diperkuat dalam Laporan Resmi Tim Teknis Penanganan Kasus Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Teluk Buyat Teluk Ratatotok (2004). Dalam laporan itu, disebutkan: 1. Berlawanan dengan klaim PT Newmont Minahasa Raya, lapisan pelindung termoklin tidak ditemukan pada kedalaman 82 meter. 2. Teluk Buyat TERCEMAR Arsen dan merkuri berdasarkan ASEAN Marine Water Quality Criteria 2004. 3. Sumber (pencemaran) Arsen dan Merkuri di Teluk Buyat adalah limbah tambang PT Newmont Minahasa Raya, BUKAN alamiah. 4. Keanekaragaman hayati kehidupan laut di Teluk Buyat MENURUN akibat pencemaran Arsen. 5. Terjadi akumulasi (penumpukan) Merkuri dalam makhluk dasar laut (benthos) di Teluk Buyat. 6. Kadar Merkuri dalam ikan beresiko (kesehatan) bagi penduduk Teluk Buyat. 7. Kadar Arsen dalam ikan beresiko (kesehatan) bagi penduduk Teluk Buyat. 8. Upaya PEMBERSIHAN (clean-up) di Teluk Buyat perlu dilakukan berdasarkan tingkat ancaman terhadap kesehatan manusia (human health hazard) 9. Kadar Arsen dalam air minum melampaui baku mutu PERMENKES

10. Kadar Logam Berat dalam udara di Dusun Buyat Pante secara keseluruhan paling tinggi dibandingkan desa lainnya. 11. Pembuangan limbah tambang PT Newmont Minahasa Raya MELANGGAR undang-undang pengelolaan limbah beracun. Deskripsi di atas, memperkokoh argumentasi bahwa PT Newmont Minahasa Raya telah mencemari Teluk Buyat. Karenanya, Tim Teknis Penanganan Kasus Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Teluk Buyat Teluk Ratatotok, merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Disarankan dilakukan pemantauan Teluk Buyat oleh pihak PT. Newmont Minahasa Raya dan juga pemerintah sampai dengan 30 tahun yang akan datang. 2. Masyarakat setempat yang terkena penyakit mempunyai gejala yang sama dengan gejala yang diakibatkan terpapar oleh Arsen. 3. Kondisi Teluk Buyat dikategorikan mempunyai resiko tinggi terhadap kesehatan manusia dengan adanya ikan yang mengandung Arsen dan Merkuri, maka disarankan untuk mengurangi konsumsi ikan yang berasal dari Teluk Buyat. 4. Perlu dipertimbangkan untuk merelokasi penduduk dusun Buyat Pante ke tempat lain. 5. Perlu dilakukan penegakan hukum terhadap pelanggaran peraturan perundangundangan Lingkungan Hidup yang dilakukan oleh PT. Newmont Minahasa Raya. 6. Kajian hukum tim teknis merekomendasikan pemerintah untuk selanjutnya melarang pembuangan limbah tambang (tailing) ke laut. Hal ini mendorong WALHI untuk menggugat PT Newmont Minahasa Raya dengan tuduhan merusak lingkungan dan meresahkan masyarakat. Adapun indikatornya adalah sebagai berikut: (1) Prosedur dan lokasi Sistem Pembuangan Tailing Dasar Laut (SPDTL) yang berada di lapisan awal zona termoklin yaitu pada kedalaman 82 (delapan puluh dua) meter, tidak berada dibawah lapisan termoklin (kedalaman 150 meter). Sehingga tailing terdispersi dan dapat ditemukan pada kedalaman 20 (dua puluh) meter serta sudah tersebar pada radius 3,5 km dari mulut pipa pembuangan tailing; (2) Pembuangan tailing yang salah, menyebabkan kerusakan ekosistem laut berupa: (a) kekeruhan yaitu pada zona euphotic, di mana pada zona tersebut terdapat lingkungan fitoplankton (produsen) yang butuh sinar matahari sebagai proses fotosintesis; (b) Penurunan jumlah dan kualitas keberadaan terumbu karang di Teluk Buyat; (c) Bioakumulasi (penumpukan terus menerus di dalam tubuh mahkluk hidup) dari sedimen pada biota laut di daerah euphotic; (d)Penurunan kandungan bentos dan plankton (fitoplankton dan zooplankton) akibat tingginya kadar Arsen (As) pada sedimen di Teluk Buyat; dan (e) Kematian ikan dalam jumlah lebih dari 100 (seratus) ekor di sekitar pipa pembuangan tailing di Teluk Buyat maupun terdampar di pantai; (3) Kesehatan masyarakat Buyat yang menurun dan berbagai macam penyakit menyerang tubuh mereka, akibat konsumsi air minum dan ikan yang mengandung logam berat (As dan Mn); (4) Tidak adanya surat ijin dari Kementerian Lingkungan HIdup dalam pembuangan limbah ke laut maupun pengolahan limbah (B3).

Dalam gugatan legal standing ini, WALHI menuduh PT Newmont Minahasa Raya telah melakukan perbuatan melawan hukum atas pasal 41 (1) junto pasal 45,46,47 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pencemaran Llingkungan, Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Uniknya, dalam proses persidangan, tepatnya pada tanggal 12 Juni 2007, PT Newmont Minahasa Raya menggugat balik WALHI senilai US$ 100.000 (setara Rp 9 Miliar, dengan asumsi 1 US$ = Rp 9.000). Menanggapi gugatan balik PT Newmont Minahasa Raya, WALHI menyatakan bahwa gugatan legal standing-nya merupakan ikhtiar konkret penegakan hukum demi melindungi warga dari kerusakan lingkungan. Kematian Andini (6 bln), Abdul Rizal Modeong (14 thn), Ny Fatma, dan penyakit yang diderita oleh warga lainnya di dusun Buyat Pante dan Kampung Buyat, adalah fakta yang tidak bisa disangkal, bahwa penderitaan mereka bukanlah penyakit biasa, dan terkait erat dengan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Newmont Minahasa Raya. Dari bukti-bukti yang ada, misalnya: Keanekaragaman hayati kehidupan laut di Teluk Buyat menurun, Kadar Merkuri dalam ikan yang sangat tinggi beresiko (kesehatan) bagi penduduk Teluk Buyat dan Masyarakat setempat yang terkena berbagai penyakit, sudah sangat jelas bahwa pencemaran Teluk Buyat adalah karena ulah dari PT. Newmont Minahasa Raya yang telah membuang limbahnya ke perairan Teluk Buyat dan sudah selayaknya pemerintah campur tangan secara tegas dalam mengatasi masalah ini.

PT. NEWMONT MINAHASA RAYA PENCEMAR TELUK BUYAT


PT. NEWMONT MINAHASA RAYA PENCEMAR TELUK BUYAT PT. Newmont Minahasa Raya merupakan perusahaan pertambangan yang berkerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka Penanaman Modal Asing. Markas Induk PT. NMR, selanjutnya dikenal dengan Newmont Gold Company (NGC) berada di Denver, Colorado, Amerika Serikat. NGC menempati posisi lima produsen emas dunia. Selain PT. NMR, di Indonesia perusahaan ini juga berkegiatan di Sumbawa, Nusa Tengara Barat dengan nama PT. Newmont Nusa Tenggara. Proyek Newmont antara lain tersebar di Kazakhtan, Kyryzstan, Uzbekistan, Peru, Brasilia, Myanmar dan Nevada. PT. NMR menandatangani kontrak karya dengan Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 6 November 1986 melalui surat persetujuan Presiden RI No. B-3/Pres/11/1986. Jenis bahan galian yang diijinkan untuk di olah adalah emas dan mineral lain kecuali migas, batubara, uranium, dan nikel dengan luas wilayah 527.448 hektar untuk masa pengolahan selama 30 tahun terhitung mulai 2 Desember 1986. Tahap produksi diawali pada Juli 1995 dan pengolahan bijih dimulai Maret 1996. Dalam tahap eksplorasi, PT. NMR menemukan deposit emas pada tahun 1988. Kemudian kegitan penambangan akan direncanakan dengan luas 26.805,30 hektar yang akan dilakukan di Messel, Ratatotok kecamatan Ratatotok kabupaten Minahasa yang berjarak 65 mil barat daya Manado atau 1.500 mil timur laut Jakarta.

Pencemaran dan Dampak akibat kegiatan penambangan PT. NMR terjadi mulai tahun 19961997 dengan 2000-5000 kubik ton limbah setiap hari di buang oleh PT. NMR ke perairan di teluk Buyat yang di mulai sejak Maret 1996. Menurut PT. NMR, buangan limbah tersebut, terbungkus lapisan termoklin pada kedalaman 82 meter. Nelayan setempat sangat memprotes buangan limbah tersebut. Apalagi diakhir Juli 1996, nelayan mendapati puluhan bangkai ikan mati mengapung dan terdampar di pantai. Kematian misterius ikan-ikan ini berlangsung sampai Oktober 1996. Kasus ini terulang pada bulan juli 1997. Kematian ikanikan yang mati misterius ini, oleh beberapa nelayan dan aktivis LSM di bawa ke laboratorium Universitas Sam Ratulangi Manado dan Laboratorium Balai Kesehatan Manado, tetapi kedua laboratorium tersebut menolak untuk meneliti penyebab kematian ikan-ikan tersebut. Hal yang sama PT. NMR berjanji untuk membawa contoh ikan mati tersebut ke Bogor dan Australia untuk diteliti tetapi dalam kenyataannya penyebab kematian dan terapungnya ratusan ikan tersebut belum pernah di sampaikan pada masyarakat. Padahal PT. NMR sendiri, mulai melakukan analisis dalam daging dan hati beberapa jenis ikan di Teluk Buyat sejak 1 November 1995. Ini rutin tercatat setiap bulannya. Kemudian pada tanggal 19 juni 2004, Yayasan Suara Nurani (YSN) dengan dr. Jane Pangemanan, Msi bersama-sama dengan 8 mahasiswa Pasca Sarjana Kedokteran jurusan Kesehatan Masyarakat melalui Program Perempuan, melaksanakan kegiatan program pengobatan gratis untuk warga korban tambang khususnya di Buyat pante (Lakban) Ratatotok Timur Kab. Minahasa Selatan, dan dari hasil pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa 93 orang yang diteliti menunjukkan keluhan atau penyakit yang diderita seperti sakit kepala, batuk, beringus, demam, gangguan daya ingat, sakit perut, sakit maag, sesak napas, gatal-gatal dan lain-lain. Diagnosa yang disimpulkan oleh dr Jane Pangemanan, adalah warga Buyat Pantai menderita keracunan logam berat. Keracunan yang di derita warga desa Buyat Pantai ini, ternyata sudah dibuktikan oleh penelitian seorang Dosen Fakultas Perikanan Ir. Markus Lasut MSc, dimana pada bulan Februari 2004, dari hasil penelitian terhadap 25 orang (dengan mengambil rambut warga) terbukti bahwa, 25 orang tersebut sudah ada kontaminasi merkuri dalam tubuh mereka. Polemik tentang Penyakit akibat limbah NMR ini berkembang menjadi tajam, karena pihak Pemerintah dan Dinas Kesehatan terang-terangan membela PT. NMR dengan mengatakan tidak ada pencemaran. Jangan jadikan kami musuh, jangan jadikan kami kelinci percobaan. Seperti batu kami adalah penonton atas perubahan yang tidak kami kehendaki. Kemudian pihak pemerintah didalamnya Menteri Negara Lingkungan Hidup menyelesaikan permasalahan ini memalui jalur non litigasi terhadap PT. NMR dengan meminta ganti kerugian sebesar 124 juta dolar AS sebagai ganti rugi akibat turunnya mutu lingkungan dan kehidupan warga Buyat yang menjadi korban akibat kegiatan tambang newmont. Pihak PT. NMR hanya sanggup membayar 30 juta dolar AS, dan penyelesaian melalui jalur non litigasi tersebut pun dianggap sebagai jalan keluar yang tepat. Namun pada tahun 2005 kasus ini masuk ke jalur pidana, dimana surat pelimpahan perkara dari Kejaksaan Negeri Tondano atas perkara No. Reg. B1436R112. TP207/2005 yang diterima oleh Panitera Pengadilan Negeri Manado pada tanggal 11 Juli 2005 dan hal ini telah sesuai berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI No. KMA033/SK04/2005 yang menyatakan bahwa kewenangan mengadili dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Manado. Selanjutnya persidangan kasus ini dimulai pada tanggal 5 Agustus 2005 dengan agenda pembacaan Surat Dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum dan berakhir pada tanggal 24 April 2007 dengan agenda pembacaan Putusan oleh Majelis Hakim. Kasus ini menarik perhatian

publik karena merupakan kasus dengan masa sidang terlama untuk kasus pencemaran lingkungan di Indonesia serta menghadirkan sekitar 61 orang saksi serta ahli, dengan perincian 34 saksi/ahli dihadirkan JPU dan 27 saksi/ahli dihadirkan oleh terdakwa. Selain saksi dihadirkan juga alat bukti berupa surat, ada 42 alat bukti surat dari JPU dan 107 alat bukti surat yang dihadirkan oleh kedua terdakwa. Dalam UU No. 23 Tahun 1997 dikenal dengan adanya pembuktian terbalik dimana terdakwalah yang dikenai beban untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah sebagaimana yang disangkakan oleh Jaksa Penuntut Umum. Walaupun demikian, di Indonesia pembuktian terbalik itu tidak murni sebagaimana terlihat dalam kasus ini, dimana Jaksa Penuntut Umum juga memberikan pembuktian dengan menghadirkan saksi ahli dan beberapa alat bukti surat berupa hasil penelitian yang dilakukan. Kemudian dalam Tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menuntut PT. NMR telah melanggar Pasal 41 Ayat 1 Junto Pasal 45, Pasal 46 Ayat 1, dan Pasal 47 UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam hukum pidana yang dianut oleh Indonesia, bukan hanya orang yang bisa didakwa tetapi juga badan, sehingga ini juga merupakan kasus kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan. Sementara pada Richard Bruce Ness, selaku Presiden Direktur yang bertanggung jawab terhadap setiap langkah yang dilakukan oleh PT. NMR, di tuntut dengan Pasal 41 Ayat 1 dan Pasal 42 Ayat 2 UU No. 23 Tahun 1997. Namum pada tanggal 24 April 2007 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Manado memvonis bebas murni Terdakwa I PT. Newmont Minahasa Raya dan Terdakwa II Richard B. Ness dari tuntutan pencemaran lingkungan. Dalam Amar Putusannya Majelis Hakim menyatakan bahwa Terdakwa I PT Newmont Minahasa Raya dan Terdakwa II, Richard Bruce Ness, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam dawaan primair, dakwaan subsidair, dakwaan lebih subsidair, dakwaan lebih subsidair lagi, dan tuntutan jaksa penuntut umum, menyatakan membebaskan terdakwa I PT. Newmont Minahasa Raya dan Terdakwa II Richard Bruce Ness dari seluruh dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum, menyatakan memulihkan hak Terdakwa I PT. Newmont Minahasa Raya dan terdakwa II Richard Bruce Ness dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta Martabatnya, dan membebankan biaya perkara kepada negara. Tinjauan kasus PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) dari instrumen hukum lingkungan. 1. Instrumen Hukum Administrasi Negara Hukum Administrasi Negara memandang bahwa penegakan hukum lingkungan berawal dari perijinan sebagai instrumen. Tolak ukur dari suatu perijinan adalah pendirian atau penyelenggaraan kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan harus disertai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dalam kasus ini permintaan ijin dilakukan secara simultan dalam artian permintaan ijin setelah dilakukannya persiapan pengoperasian PT. NMR sehingga informasi ijin tersebut tidak diketahui berdampak positif atau negatif terhadap lingkungan. Disini letak kelemahan instrumen Hukum Administrasi Negara yang memberikan ijin secara represif bukan secara preventif atau bersifat bukan hukuman melainkan suatu pengendalian. 2. Instrument Hukum Pidana Instrumen Hukum Lingkungan Pidana memandang telah terjadi tindak pidana pencemaran lingkungan apabila telah terjadi Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau

dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan Pasal 1 ayat 12 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun dalam bab VII Undang-undang ini diatur mengenai penyelesaian sengketa lingkungan hidup jadi berlaku asas subsidiaritas yang berarti penyelesaian hukum pidana dilakukan hanya apabila sanksi-sanksi lain tidak memadai untuk menangani masalah lingkunan hidup, namun dalam perkara ini belum cukup untuk masuk ke penyelesaian pidana sebagai upaya terakhir dari asas subsidiaritas. 3. Instrumen Hukum Perdata Pada prinsipnya penegakan melalui jalur litigasi yaitu melalui jalur hukum khususnya instrumen hukum perdata telah mengakomodir dalam penyelesaian masalah ini dengan membayar ganti kerugian dan pemulihan lingkungan, akan tetapi pemerintah lebih cenderung menyelesaikan permasalahan ini melalui jalur non litigasi.

TRAGEDI MINAMATA

Minamata adalah sebuah desa kecil yang menghadap ke laut Shiranui, bagian selatan Jepang sebagian besar penduduknya hidup sebagai nelayan, dan merupakan pengkonsumsi ikan cukup tinggi, yaitu 286-410gram/hari. Tahun 1908 berdiri PT Chisso dengan Motto dahulukan Keuntungan perkembangannya pada tahun 1932 Industri ini berkembang dan memproduksi berbagai jenis produk dari pewarna kuku sampai peledak, dengan dukungan militer industri ini merajai industri kimia, dan dengan leluasa membuang limbahnya ke teluk Minamata diperkirakan 200-600 ton Hg dibuang selama tahun 1932-1968, selain merkuri limbah PT Chisso juga berupa mangan. Thalium, dan Selenium. Bencana mulai nampak pada tahun 1949 ketika hasil tangkapan mulai menurun drastis ditandai dengan punahnya jenis karang yang menjadi habitat ikan yang menjadi andalan nelayan Minamata. Pada tahun 1953 beberapa ekor kucing yang memakan ikan dari teluk Minamata mengalami kejang, menari-nari, dan mengeluarkan air liur beberapa saat kemudian kucing ini mati. Tahun 1956 adanya laporan kasus gadis berusia 5 tahun yang menderita gejala kerusakan otak, gangguan bicara, dan hilangnya keseimbangan sehingga tidak dapat berjalan.Menyusul kemudian adalah adik dan empat orang tetangganya, penyakit ini kemudian oleh Dr. Hosokawa disebut sebagai Minamata desease. Pada tahun 1958 terdapat bukti bahwa penyakit Minamata disebabkan oleh keracunan Methyl-Hg, hal ini ditunjukkan dengan kucing yang mengalami kejang dan disusul kematian setelah diberi makan Methyl-Hg. Pada tahun 1960 bukti menyebutkan bahwa PT Chisso memiliki andil besar dalam tragedi Minamata, karena ditemukan Methyl-Hg dari ekstrak kerang dari teluk Minamata, sedimen habitat kerang tersebut mengandung 10-100 ppm Methyl-Hg, sedang di dasar kanal pembuangan pabrik Chisso mencapai 2000 ppm. pada tahun 1968 pemerintah secara resmi mengakui bahwa pencemaran dari pabrik Chisso sebagai sumber penyakit Minamata. Penyakit ini ternyata juga ditemukan pada janin bayi, penyakit ini ternyata menurun secara genetis sehingga keturunnya dipastikan akan menidap penyakit Minamata, sehingga orang-orang disana tidak mau mengakui bahwa mereka berasal dari Minamata karena takut tidak ada orang yang mau menjadi jodohnya.

Kenjeran Desease

Kekawatiran sebagian ilmuwan dan kelompok pemerhati lingkungan tentang bahaya Minamata di Surabaya rupanya belum menjadi peringatan bagi pemerintah untuk melakukan upaya-upaya prefentif pada daerah-daerah pantai yang rawan pencemaran logam berat. Padahal Saat ini tingkat pencemaran logam berat jenis Cadmium(Cd) dan Mercuri (Hg) diperairan Kenjeran Pantai Timur Surabaya terbukti melebihi negara industri besar seperti Inggris dan Amerika. Bahkan penelitian terakhir menyebutkan bahwa pencemaran kedua logam tersebut paling tinggi di dunia. Peringatan bahaya Minamata sebenarnya sudah ada sejak tahun 1991, DR. Suharno Pikir, SKM, Mkes (alm) Merekomendasikan dalam penelitiannya bahwa lumpur Pamurbaya tercemar logam berat Cu (Cuprumperak), Hg(Mercuri), Cd(Cadmium), Fe(Besi), Pb(Timah Hitam) sehingga satwa yang tinggal dalam lumpur (benthos) seperti kupang, dan kerang, rawan untuk dikonsumsi karena kandungan logam berat dalam dagingnya sangat tinggi. Pada tahun 1993, lebih detail menunjukkan kadar logam berat Cd di Keputih merupakan kandungan Cd dalam lumpur terbesar di dunia yakni sebesar 1,575 ppm. Kadar Hg pada lumpur Keputih 1,485 ppm dan Kenjeran sebesar 0,605 (angka ini lebih tinggi dibandingkan kadar Hg dalam lumpur diperairan Southamton Inggris sebesar 0,48 0,57 ppm dan Khusus untuk Keputih kadar Hg lebih tinggi dibanding Pantai California yang merupakan pusat industri berat tercatat hanya 0,02-1,0 ppm) Kemudian dampak pada manusia baru diketahui pada tahun 1996, oleh Daud Anwar SKM, Mkes. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa darah dari sampel warga Kenjeran/Sukolilo mengandung Cuprum (Cu) 2511,07 ppb dan Merkuri (Hg) 2,48 ppb.Kandungan Cuprum dalam darah warga Kenjeran ini telah melampaui ambang batas yang ditetapkan WHO/FAO yaitu 800-1200 ppb. Kondisi ini tidak membuat

Tambang emas, salah satu penyumbang limbah merkuri yang mencemari sungai

Pemerintah tergerak untuk melakukan upaya penanggulangan, namun instansi-instansi ini malah saling tuding dan lempar tanggung jawab sehingga akhirnya muncul penelitian terbaru A. Vera Hakim, Pusat Kajian Regional Gizi Masyarakat Universitas Indonesia dan Dr. R. Gross Deutsche Gesellschaft Fur Technische Zusammernarbeit Eschborn Jerman. Penelitian yang dilakukan menunjukkan adanya kandungan merkuri (Hg) pada darah ibu-ibu warga Kenjeran sebesar 2,8 miligram perliter yang melebihi ambang batas yang di tentukan WHO yaitu kurang dari satu miligram perliter. Penelitian tersebut juga menyebutkan adanya kandungan timah dalam darah ibu-ibu di Kenjeran yaitu sebesar 416 mg/l, padahal kadar normal dalam darah adalah 200 mg/l. Hasil tes terhadap air susu ibu juga menunjukkan adanya kandungan timbal sebesar 543,2 mg/l yang melebihi kadar normal yaitu lebih kecil dari 5 mg/l, dan terdapat pula kandungan kadmium sebesar 36,1 mg/l padahal kadar normal harus lebih kecil dari 20 mg/l. Hal ini tentunya sangat membahayakan kesehatan bayi-bayi yang mengkonsumsi ASI, karena bayi yang berusia 0-5 tahun sedang mengalami masa pertumbuhan dan sangat sensitif terhadap kontaminasi zat beracun seperti logam berat yang dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tubuh, bahkan menimbulkan cacat fisik dan penurunan kecerdasan. Untuk kedua kalinya pemerintah tidak berbuat apa-apa. Penyakit Minamata sangat menakutkan karena pengobatan untuk prnyakit ini untuk saat ini sulit dicari jalan keluarnya .Penyakit karena kontaminsai logam berat bisa meracuni secara sistematik, sehingga darah, ginjal,dan hati penderita berubah sama sekali. Sebagian pakar kesehatan memprediksikan Sepuluh tahun atau lima tahun lagi kenjeran akan dapat mungkin menjadi Minamata II sekarang tinggal bagaimana upaya pemerintah untuk dapat memberikan perlindungan pada masyarakat dengan melakukan upaya-upaya penanggulangan yang nyata bukan kegiatan bersih-bersih selokan dan pantai yang hanya bersifat formalitas dan jauh dari penyelesaian masalah.