Anda di halaman 1dari 35

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

Laporan Kasus

GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH

oleh: ISTI SUNDARI NIM. 0708015034

Pembimbing dr. Denny Jeffry Rotinsulu, Sp.KJ

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 2011

LAPORAN KASUS PSIKIATRI

Dipresentasikan pada Kegiatan Kepaniteraan Klinik Madya Lab. Kesehatan Jiwa Pemeriksaan dilakukan pada Hari Kamis, 29 Desember 2011 pukul 10.30 WITA di Poliklinik RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda. Sumber Anamnesa Autoanamnesa.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Agama :Tn. D : 30 tahun : Laki-laki : Islam

Status perkawinan : Belum menikah Pendidikan Pekerjaan Suku Alamat : SMA : Swasta (Teknisi Pertanian) : Banjar : Jl. Gunung Lingai Rt. 02 Lempake Tepian Samarinda

Pasien datang sendiri berobat ke Poliklinik Atma Husada Mahakam Samarinda.

ANAMNESIS Keluhan Utama : Gugup Riwayat perjalanan penyakit sekarang: Autoanamnesis: Pasien mulai menyadari kalau dirinya mudah gugup sejak + 5 tahun yang lalu. Awalnya pasien mengalami mudah gugup saat ia berada di sebuah acara pertemuan bersama rekan kerjanya padahal ia bukan sebagai pembicara. Rasa gugup tersebut tidak hanya timbul saat pasien berada di keramaian tetapi juga bisa timbul saat pasien hanya seorang diri seperti saat sholat. Rasa gugup itu muncul secara tiba-tiba. Saat rasa gugup itu muncul pasien selalu merasa dadanya berdebar-debar, tangannya basah dan gemetaran, serta badannya mengeluarkan keringat yang berlebihan hingga bajunya basah semua sehingga
1

pasien merasa tidak percaya diri ketika berada di tempat umum.Selain itu, pasien juga merasa tidak nyaman dan gelisah saat gejala itu timbul. Gejalagejala tersebut tiba-tiba saja muncul dengan cepat. Pasien baru membawa dirinya berobat karena disarankan oleh temannya yang berkata takutnya semakin lama pasien bisa menjadi gangguam jiwa. Dan ketika pasien ke poliklinik kemudian diperiksa pasien juga menyatakan kalau sekarang rasa gugupnya sedang timbul dan selalu bertanya Apakah saya bisa sembuh? dan Apakah saya ini mengalami gangguan jiwa?. Selain itu, selama 3 bulan terakhir rasa gugup itu semakin sering dirasakan yaitu hampir setiap hari. Rasa gugup itu sampai mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Pasien menjadi kurang bersemangat dalam melakukan pekerjaannya bahkan karena rasa gugup yang sering muncul itu ia dipindah bekerja dari bagian lapangan sebagai teknisi ke bagian jaga piket saja. Karena saat rasa gugup itu timbul bisa membuat pasien sulit untuk berkonsentrasi. Keluhan itu juga sampai meyebabkan pasien mengalami gangguan tidur baik sulit memulit tidur atau mudah terbangun saat tidur namun masih bisa tidur kembali saat terbangun sehingga pasien merasa lesu dikeesokan harinya. Namun, makan dan minum pasien masih seperti biasanya. Pasien menyatakan kalau ia dulu juga pernah seperti ini ketika duduk di bangku SMA. Hal ini berawal dari suatu kejadian yang menyakitkan hatinya dan tidak dapat ia lupakan sampai sekarang. Saat ia duduk di bangku SMA, guru dan teman-temannya mengejek namanya karena nama Darwin terkenal suka membuat teori yang aneh-aneh, salah satu teori tersebut menyatakan kalau nenek moyang manusia adalah kera. Namun, rasa gugup itu kemudian hilang dan sejak lima tahun yang lalu timbul kembali. Riwayat Medis dan Psikiatrik Lain o Gangguan Mental dan Emosi Pasien tidak memiliki riwayat gangguan mental dan emosi o Gangguan Psikosomatik Pasien tidak memiliki riwayat gangguan psikosomatik.

o Kondisi Medis Pasien tidak memiliki riwayat malaria, thypoid, dan trauma kepala. Pasien juga tidak memiliki riwayat epilepsi. Pasien juga tidak pernah memiliki riwayat operasi. o Gangguan Neurologi Pasien tidak memiliki riwayat gangguan neurologi.

Riwayat Kebiasaan o Riwayat konsumsi alkohol (-) dan Napza (-) o Riwayat merokok (+) 1,5 bungkus/hari sejak + 10 tahun yang lalu o Riwayat mengkonsumsi kopi 1 gelas/hari sejak + 5 tahun yang lalu

Gambaran kepribadian Merupakan pribadi yang ramah dan cukup pintar bergaul namun sedikit tertutup. Pasien juga merupakan pribadi yang mudah tersinggung dan pendendam.

Faktor Pencetus Tidak terbatas pada kondisi lingkungan tertentu.

Riwayat perkawinan Belum menikah

Riwayat sosial ekonomi Berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup.

Riwayat penyakit keluarga Tidak ada keluarga pasien yang memiliki riwayat gangguan jiwa.

Riwayat religius Pasien cukup rajin beribadah.

Hubungan dengan keluarga dan lingkungan Pasien memiliki hubungan yang baik dengan anggota keluarga dan lingkungannya.

Genogram Pasien merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Keterangan :

: laki- laki tanpa gangguan jiwa

: laki-laki dengan gangguan jiwa

: Perempuan dengan gangguan jiwa

: Perempuan tanpa gangguan jiwa

Riwayat Pribadi 1. Masa Anak-anak Awal (0-3 tahun) i. Riwayat prenatal, kehamilan Ibu dan kelahiran Pasien dilahirkan dengan direncanakan oleh kedua orang tua. Selama kehamilan dan persalinan berjalan normal tidak ada gangguan. Pasien dilahirkan per vaginam di rumah sakit. ii. Kebiasaan makan dan minum
4

Sejak kecil pasien dibiasakan makan teratur. Terkadang pasien diberikan ASI melalui botol.

iii.

Perkembangan awal Pasien diasuh oleh baby sitter karena kedua orang tua pasien bekerja. Tidak ada keterlambatan dalam tumbuh kembang.

iv.

Toilet training Pasien diajarkan menggunakan pispot sejak umur 2 tahun.

v.

Gejala-gejala dari masalah prilaku Seperti anak kebanyakan, tidak ada kelainan.

vi.

Kepribadian dan temperamen sebagai anak Pasien sejak kecil sudah cukup pandai bergaul dan akrab dengan teman-teman sepermainannya.

vii.

Mimpi-mimpi awal dan fantasi Tidak ada night terror.

2. Masa Anak-anak Pertengahan (3-11 tahun) i. ii. iii. iv. v. Pasien sudah mampu mengidentifikasi gender mulai usia 3 tahun. Kesehatan pasien tidak ada gangguan yang berarti Tumbuh kembang dalam batas normal Pasien senang bermain dengan teman sebayanya dan sedikit tertutup Tidak pernah tinggal kelas. Prestasi di sekolah cukup memuaskan.

3. Masa Anak-anak Akhir (Pubertas sampai Remaja) i. Hubungan dengan teman sebaya Mulai tidak harmonis sejak guru dan teman satu kelasnya mengejek namanya. ii. Riwayat sekolah Saat ia duduk di bangku SMA, guru dan teman-temannya mengejek namanya karena nama Darwin terkenal membuat teori yang menyatakan kalau nenek moyang manusia adalah kera dan teori itu aneh sekali bagi mereka.
5

iii.

Perkembangan kognitif dan motorik Tidak ada kemunduran kognitif.

iv.

Masalah fisik dan emosi remaja yang utama Tidak ada masalah fisik.

v.

Riwayat psikoseksual Tidak diketahui.

vi.

Latar belakang agama Pasien cukup taat beribadah sejak dewasa.

4. Masa Dewasa i. Riwayat pekerjaan Bekerja. ii. Aktivitas sosial Kurang terlibat dengan lingkungan social kemasyarakatan. iii. Seksualitas Dewasa Orientasi seksual normal. iv. Riwayat Militer Tidak pernah ikut pendidikan militer dan tidak pernah terlibat kasus pidana maupun dipenjara. v. Sistem penghargaan/nilai Pasien tidak merasa rendah diri dan tidak dihargai oleh orang lain.

STATUS PRAESENS a. Status Internus Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi pernafasan Suhu Keadaan Gizi Kulit : : 150/100 mmHg : 104 x/menit : 24 x/menit : 36,50C : Baik : Sedikit gelisah : Compos Mentis

Anhidrosis (-)

Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Tenggorokan: Leher Toraks Jantung Paru Abdomen Hepar Lien Ruang Traube Bising Usus Ekstremitas

: : : :

Alopesia (-) Trauma (-) Anemis (-) Ikterik (-) Pupil isokor Deviasi septum (-) Rhinorrhea (-) Sekret (-) Pendengaran normal Higien baik, Hiperemi faring (-)

: : : : : : : : :

Pembesaran KGB (-) Deviasi trakea (-) Simetris Cor dalam batas normal Pulmo dalam batas normal Distensi (-) Soefl Pembesaran (-) Timpani Normal, Metallic sound (-) Akral hangat, edema (-)

b. Status Neurologikus Pancaindera Refleks fisiologi Lateralisasi Refleks Patologis Tanda meningeal : Tidak didapatkan kelainan : Normal : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Tekanan intrakranial : Tidak didapatkan tanda-tanda peningkatan TIK. Mata Gerakan Persepsi Pupil Diplopia Visus : Normal : Normal : Isokor : Tidak didapatkan kelainan : Tidak dilakukan pemeriksaan

c. Status Psikiatrikus A. Penampilan

1. Identifikasi Pribadi: Cukup pandai bergaul, sedikit tertutup, kooperatif. 2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor: Psikomotor dbn. 3. Gambaran Umum: Sedikit gelisah, kooperatif, terdapat kontak mata. B. Bicara: Cukup banyak bicara, intonasi sesuai. C. Mood dan Afek 1. Mood: Stabil 2. Afek: Sesuai D. Fikiran dan Persepsi 1. Bentuk Fikiran i. Produktivitas: Normal ii. Kelancaran berfikir/ide: Cepat iii. Gangguan bahasa: (-) 2. Isi Fikiran: Tidak ada gangguan, berpikir tentang kesembuhan penyakitnya 3. Gangguan Berpikir i. Waham: (-) ii. Flight of Ideas: (-) 4. Gangguan Persepsi i. Halusinasi: Auditorik (-) Visual (-) ii. Depersonalisasi dan Derealisasi: (-) 5. Mimpi dan Fantasi (-) E. Sensorik 1. Kesadaran: Composmentis 2. Orientasi i. Waktu (+) ii. Orang (+) iii. Tempat (+) 3. Konsentrasi dan Berhitung (+) 4. Ingatan i. Masa dahulu: (+) ii. Masa kini: (+) iii. Segera: (+)
8

5. Pengetahuan (+) 6. Kemampuan berpikir abstrak (+) 7. Tilikan diri: Derajat VI 8. Penilaian i. Penilaian sosial (+) ii. Penilaian terhadap test (+)

IKHTISAR DAN KESIMPULAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

A. Keadaan Umum o Kesadaran o Sikap o Tingkah laku o Perhatian o Inisiatif o Ekspresi wajah o Verbalisasi B. Pemeriksaan Fisik Takikardi Takipnea Hipertensi Hiperhidrosis Tremor C. Pemeriksaan Psikis Keadaan afektif o Afek o Arus emosi o Daya ingat o Konsentrasi o Orientasi o Insight : Afek sesuai : Stabil : Composmentis : Kooperatif : Sedikit gelisah : Baik : Baik : Cemas : Koheren (+)

Keadaan dan fungsi intelek : Baik : Baik : Baik : Baik

Keadaan sensasi dan persepsi


9

o Ilusi o Halusinasi Keadaan proses berfikir o Kecepatan o Mutu o Isi

: (-) : auditorik (-), visual (-)

: Cepat : Koheren :Waham (-)

Kelainan intelektual dan perbuatan o Kegaduhan umum : (-) o Deviasi seksual o Mannerisme o Anxietas o Psikomotor o Kemauan : (-) : (-) : (+) : dbn : ADL mandiri

Hubungan dengan realita : Baik

D. Diagnosis Formulasi diagnosis Seorang laki-laki, usia 30 tahun, beragama Islam, status belum menikah, pendidikan SMA, pekerjan swasta, tinggal di Samarinda. Datang berobat sendiri ke Poliklinik RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda, pada hari Kamis, 29 Desember 2011 pukul 10.30 WITA. Pasien mulai menyadari kalau dirinya mudah gugup sejak + 5 tahun yang lalu tetapi selama 3 bulan terakhir hampir setiap hari pasien merasa gugup. Rasa gugup tersebut timbul tidak hanya saat pasien berada di keramaian tetapi juga bias timbul saat pasien hanya seorang diri seperti saat sholat. Rasa gugup itu muncul tibatiba saja. Saat rasa gugup itu muncul pasien selalu merasa dadanya berdebar-debar, tangannya basah dan gemetaran, serta badannya mengeluarkan keringat yang berlebihan hingga bajunya basah semua sehingga pasien merasa tidak percaya diri berada di tempat umum. Selain itu, pasien juga merasa tidak nyaman dan gelisah
10

saat gejala itu timbul. Gejala-gejala tersebut tiba-tiba saja muncul dengan cepat. Akibat rasa gugup itu pasien sampai merasa aktivitasnya terganggu karena saat rasa gugup itu timbul bisa membuat pasien sulit untuk berkonsentrasi dan mengalami gangguan tidur. Riwayat trauma (-), kejang (-), penyakit infeksi (-) Riwayat konsumsi alkohol (-) dan Napza (-) Riwayat merokok dan mengkonsumsi kopi (+) Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah 150/100 mmHg, Nadi 104x/menit, Frekuensi Nafas 24x/menit, Suhu 36,5oC. Pada pemeriksaan kardiovaskuler, respiratorik, gastrointestinal, urogenital dan neurologikus tidak didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan psikiatri didapatkan kesadaran composmentis, penampilan rapi, sikap saat pemeriksaan kooperatif, orientasi baik, emosi stabil, afek sesuai, proses fikir cepat, koheren, waham (-), kehilangan minat (-), konsentrasi baik (+),halusinasi auditorik (-), visual (-), ilusi (-), kemauan baik, psikomotor dbn.

Diagnosis Multiaksial:

Aksis I

: F41.1 Gangguan Anxietas Menyeluruh

Aksis II : Tidak ada diagnosis pada aksis ini Aksis III : Tidak ada diagnosis pada aksis ini Aksis IV : Tidak ada diagnosis pada aksis ini Aksis V : GAF 80-71

E. Pengobatan Psikofarmakologi: - Clobazam 0-0-10 mg Psikoterapi

F. Prognosis Bonam
11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a. Epidemiologi Gangguan kecemasan umum adalah suatu kondisi yang sering ditemukan; tetapi dengan kriuteria ketat dari DSM-III R dan DSM-IV, gangguan kecemasan umum sekarang mungkin lebih jarang ditemukan dibandingkan jika digunakan kriterai DSM-III. Perkiraan yang diterima untuk prevalensi gangguan kecemasan umum satu tahun terentang dari 3 sampai 8 persen. Gangguan kecemasan umum kemungkinan merupakan gangguan yang paling sering ditemukan dengan gangguan mental penyerta, biasanya gangguan kecemasan atau gangguan mood lainnya. Kemungkinan 50 persen pasien dengan gangguan kecemasan umum memiliki gangguan mental lainnya. Rasio wanita dan laki-laki adalah kira-kira 2 berbanding 1, tetapi rasio wanota berbanding laki-laki yang mendapatkan perawatan rawat inap untuk gangguan tersebut kira-kira adalah 1 berbanding 1. Usia onset adalah sukar untuk ditentukan, karena sebagian besar pasien melaporkan bahwa mereka mengalami kecemasan selama yang dapat mereka ingat. Pasien biasanya datang untuk mendapatkan perawatan dokter pada usia 20 tahunan, walaupun kontak pertama dengan klinisi dapat terjadi hamper setiap usia. Hanya sewpertiga pasien yang menderita gangguan kecemasan umum mencari pengobatan psikiatrik. Banyak pasien pergi ke dokter umum, dokter penyakit dalam, dokter spesialis kardiologi , spesialisw paru-paru, atau dokter spesialis gastroenterology, untuk mencari pengobatan atas komponen spesifik gangguan.

b. Etiologi Sepertiga pada sebagian besar gangguan mental, penyebab gangguan cemas umum adalah tidak diketahui. Seperti yang sekarang didefinisikan, gangguan kecemasan umum kemungkinan mempengaruhi kelompok pasien yang heterogen. Kemungkinan karena derajat kecemasan tertentu adalah normal dan adaptif, membedakan kecemasan norm,al dari kecemasan
12

patologis dan membedakan factor penyebab biologis dari factor psikososial adalah sulit. Faktor biologis dan psikologis kemungkinan bekerja sama. Faktor Biologis Manfaat terapeutik benzodiazepine dan azapirone sebagai contoh, buspirone (BuSpar) telah memusatkan usaha pewnelitian biologis pada system neurotransmitter gamma-aminobutyric acid (GABA) dan serotonin (5hydroxytryptamine [5-HT]). Benzodiazepine (yang merupakan agonis reseptor benzodiazepin) diketahui menurunkan kecemasan, sedangkan flumazenil (Mazicon) (suatu antagonis reseptor benzodiazepine) dan beta-carboline (agonis kebalikan reseptor benzodiazepin) diketahui menginduksi kecemasan. Walaupun tidak ada data yang meyakinkan dan menyatakan bahwa reseptor benzodiazepine adalah abnormal pada pasien gangguan kecemasan umum, beberapa penelitian telah memusatkan pada lobus osipitalis, yang memiliki konsentrasi benzodiazepin tertinggi di otak. Daerah otak lain yang telah dihipotesiskan terlibat didalam gangguan kecemasan umum, adalah ganglia basalis, system limbic, dan korteks frontalis. Karena buspirone adalah suatu agonis reseptor 5-HT1A, beberapa kelompok penelitian memusatkan pada hipotesis bahwa regulasi system serotogenik pada gangguan kecemasan umum adalah abnormal. Sistem neurotransmitter lainnya merupakan sasaran penelitian pada gangguan kecemasan umum adalah system neurotransmitter norepinefrin, glutamat, dan kolesistokinin. Beberapa bukti menyatakan bahwa pasien dengan gangguan kecemasan umum mungkin memiliki subsentivitas pada reseptor adrenergic-alfa2, seperti yang dinyatakan oleh penumpulan pelepasan hormon pertumbuhan setelah infuse clonidine (Catapres). Hanya sejumlah terbatas penelitian pencitraan otak pada pasien dengan gangguan kecemasan umum telah dilakukan. Satu penelitian tomografi emisi positron (PET; positron emission tomography) melaporkan suatu penurunan kecepatan metabolic di ganglion basal is dan substansia putih pada pasien gangguan kecemasan umum disbanding control normal. Sejumlah penelitian genetika telah juga dilakukan dalam bidang ini. Satu penelitian menemukan bahwa hubungan genetika mungkin terjadi antara gangguan kecemasan umum dan gangguan depresif berat pada wanita. Penelitian lain menemukan adanya komponen genetic yang terpisah tetapi sulit untuk
13

ditentukan pada gangguan kecemasan umum. Kira-kira 25% sanak saudara derajat pertama dari pasien dengan gangguan kecemasan umum juga terkena gangguan. Sanak saudara laki-laki lebih sering menderita suatu gangguan penggunaan alcohol. Beberapa laporan penelitian pada anak kembar menyatakan suatu angka kesesuaian 50% pada kembar monozigotik dan 15% pada kembar dizigotik. Berbagai kelainan elektroensefalogram (EEG) telah ditemukan dalam irama alfa dan potensial cetusa. Potensial EEG tidur telah melaporkan peningkatan diskontinuitas tidur, penurunan tidur delta, penurunan tidur stadium I, dan penurunan tidur REM (rapid eye movement). Perubahan pada arsitektur tidur adalah berbeda dari perubahan yang ditemukan pada gangguan depresif.

Faktor Psikososial Dua bidang pikiran utama pada factor psikososial yang

menyebabkan perkembangan gangguan kecemasan umum adalah bidang kognitif-perilaku dan bidang psikoanalitik. Bidang kognitif-perilaku

menghipotesiskan bahwa pasien dengan gangguan kecemasan umum adalah berespon secara tidak tepat dan tidak aklurat terhadap bahaya yang dihadapi. Ketidakakuratan tertsebut disebabkan oleh perhatrian selektif terhadap perincian negative di dalam lingkungan, oleh distorsi pemrosesan informasi, dan oleh pandangan ysng terlalu negative tentang kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Bidang psikoanalitik menghipotesiskan bahwa

kecemasan adalah suatu gejala konflik bawah sadar yang tidak terpecahkan. Teori psikologis tentang kecemasan tersebut pertama kali diajukan oleh Sigmund Freud pada tahun 1909 dengan penjelasannya tentang Little Hans; sebelumnya, Freud telah memandang kecemasan sebagai memiliki dasar fisiologis. Suatu hierarki kecemasan aadalah berhubungan dengan berbagai tingkat perkembangan. Pada tingkat yang paling primitive, kecemasan mungkin berhubungan dengan ketakutan akan penghancuran atau fusi orang lain. Pada tingkat perkembangan yang lebih matur, kecemasann adalah
14

berhubungan dengan perpisahan dari objek yang dicintai. Pada tingkat yang masih lebih matur, kecemasan adalah berhubungan dengan hilangnya cinta dari objek yang penti. Kecemasan kastrasi adalah berhubungan dengan fase oedipal dari perkembangan dan dianggap merupakan satu tingkat tertinggi kecemasan. Kecemasan superego, ketakutan mengecewakan gagasan dan nilai sendiri (didapatkan dari orang tua yang diinternalisasikan), adalah bentuk kecemasan yang paling matur. c. Diagnosis Kriteria Diagnostik DSM-IV memasukkan beberapa modifikasi dari criteria DSM-III-R untuk membuatnya lebih mudah digunakan dan membantu klinisi membedakan gangguan kecemasan umumm, kecemasan normal, dan gangguan mental lainnya. Perbedaan antara gangguan kecemasan umum dan kecemasan normal adalah ditekankan dengan penggunaan kata berlebihan dan sulit untuk mengendalikan di dalam kritteria dan dengan menyebutkan bahwa gejala menyebabkan gangguan atau penderitaan yang bermakna. Pembedaan antara gangguan kecemasan umum dan gangguan mental lain dibantu dalam DSM-IV dengan contoh cirri yang membedakan dikriteria D. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Kecemasan Umum A. Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan (harapan yang

mengkhawatirkan), yang lebih banyak terjadi dibandingkan tidak terjadi selama sekurangnya 6 bulan, tentang sejumlah kejadian atau aktivitas (seperti pekerjaan, prestasi sekolah) B. Orang merasa sulit mengendalikan ketakutan C. Kecemasan dan kekhawatiran adalah disertai oleh tiga (atau lebih) dari enam gejala berikut ini (dengan sekurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi dibandingkan tidak terjadi selama enam bulan terakhir). Catatan: hanya satu nomor yang diperlukan pada anak-anak. 1. Kegelisahan atau perasaan bersemangat atau gelisah 2. Merasa mudah lelah 3. Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
15

4. Iritabilitas 5. Ketegangan otot 6. Gangguan tidur (sulit tertidur atau tetap tertidur, atau tidur gelisah, dan tidak memuaskan) D. Fokus kecemasan dan kekhawatiran tidak terbatas pada gangguan aksis I, misalnya, kecemasan atau ketakutan adalah bukan menderita suatu gangguan panic (seperti pada gangguan panic), merasa malu pada situasi umum (seperti pada fobia social, terkontaminasi (seperti pada gangguan obsesif-kompulsif), merasa jauh dari rumah atau sanak saudara dekat (seperti gangguan cemas perpisahan), penambahan berat badan (seperti pada anoreksia nervosa), menderita keluhan fisik berganda (seperti pada gangguan somatisasi), atau menderita penyakit serius (seperti pada hipokondriasis) serta kecemasan dan kekhawatiran tidak terjadi sematamata selama gangguan stress pascatraumatik. E. Kecemasan, kekhawatiran, atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis, atau gangguan pada fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting lain. F. Gangguan yang terjadi adalah bukan karena efek langsung dari suatu zat (misalnya penyalahgunaan zat, medikasi) atau kondisi medis umum (misalnya hipertiroidisme), dan tidak terjadi semata-mata selama suatu gangguan mood, gangguan psikotik, atau gangguan perkembangan pervasive. Pedoman Diagnostik Gangguan Anxietas Menyeluruh berdasarkan PPDGJ-III: Penderita harus menunjukkan gejala primer anxietas yang

berlangsung hamper setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut: (a) Kecemasan tentang masa depan (khawatir akan nasib buruk, perasaan gelisah seperti di ujung tanduk, sulit berkonsentrasi, dsb); (b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat sanati); dan

16

(c) Overaktivitas otonomik (kepala tearsa rinagn, berkeringat, takikardi, takipne, keluhan epigastrika, pusing kepala, mulut kering, dsb). d. Gambaran Klinis Gejala utama dari gangguan kecemasan umum adalah kecemasan, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonomik, dan kewaspadaan kognitif. Kecemasan adalah berlebihan dan mengganggu aspek lain kehidupan pasien. Ketegangan motorik paling sering dimanifestasikan sebagai kegemataran, kegelisahan, dan nyeri kepala. Hiperaktivitas sering kali dimanifestasikan oleh sesak nafas, keringat berlebihan, palpitasi, dan berbagai gejala gastrointestinal. Kewaspadaan kognitif ditandai oleh sifat lekas tersinggung dan mudahnya pasien dikejutkan. Sering sekali, pasien dengan gangguan kecemasan umum

mendatangi dokter umum atau dokter penyakit dalam untuk membantu beberapa gejala somatic. Selain itu, pasien pergi ke dokter spesialis untuk gejala spesifik sebagai contoh, diare kronis. Gangguan medis nonpsikiatrik spesifik jarang ditremukan, dan pasien adalah bervariasi dalam perilaku mencari dokter. Beberapa pasien menerima suatu diagnosis gangguan kecemasan umum dan pengobatan yang sesuai; yang lainnya mencari konsultasi medis tambahna untuk masalah mereka. e. Diagnosis banding Diagnosis banding gangguan kecemasan umum adalah semua kondisi yang menyebabkan kecemasan. Pemeriksaan medis harus termasuk tes kimia darah standar, elektokardiogram, dan tes fungsi tiroid. Klinisi harus menyingkirkan intoksikasi kafein, penyalahgunaan stimulant, putus alcohol, dan putus sedative, hipnotik, atau ansiolitik. Pemeriksaan status mental dan riwayat penyakit menggali kemungkinan diagnosis panic, fobia, dan gangguan obsesif-kompulsif. Pada umumnya pasien dengan gangguan panic mencari pengobatan lebih awal, lebih terganggu karena penyakitnya, memiliki onset gejala tiba-tiba, dan kurang terganggu oleh gejala somatic dibandingkan pasien dengan gangguan kecemasan umum. Membedakan gangguan
17

kecemasan umum dari gangguan depresif berat dan gangguan distimik adalah sukar; pada kenyatannya gangguan-gangguan tersebut seringkali terdapat bersama-sama. penyesuaian Kemungkinan dengan diagnostic lainnya adalah gangguan ganggguan

kecemasan,

hipokondriasis,

hiperaktivitas/deficit-atensi, gangguansomatisasi, dan gangguan kepribadian. f. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Karena tingginya insidensi gangguan mental komorbid pada pasien dengan gangguan kecemasn umum, perjalan klinis dan prognosis gangguan adalah sukar untuk diperkirakan. Namun demikian, beberapa data menyatakan bahwa peristiwa kehidupan adalah berhubungan onset ganngguan kecemasan umum; terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negative secara jelas meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan. Menurut definisinya, gangguan kecemasan umum adalah suatu keadaan kronis yang mungkin seumur hidup. Sebanyak 25 persen pasien akhirnya mengalami gangguan panic. Sejumlah besar pasien kemungkinan memiliki ganggguan depresif berat. g. Terapi Pengobatan yang paling efektif untuk pasien dengan gangguan kecemasan umum adalah kemungkinan pengobatan yang mengkombinasikan psikoterapeutik, farmakoterapeutik, dan pendekatan suportif. Pengobatan mungkin memerlukan cukup banyak waktu bagi klinis yang terlibat, dan pendekatan supportif. Pengobatan mungkin memerlukan cukup banyak waktu bagi klinisi yang terlibat, terlepas apakah klinisi seorang dokter psikiatrik, seorang dokter keluarga, atau spesialis lainnya. Psikoterapi Pendekatan psikoterapi utama untuk gangguan kecemasan umum adalah kognitif-perilaku, suportif, dan berorientasi-tilikan. Data masih terbatas tentang manfaat relative dari pendekatan-pendekatan tersebut, walaupun penelitian vyang paling canggih telah dilakukan dengan teknik kognitif18

perilaku, yang tampaknya memiliki kemanjuran jangka panjang dan jangka pendek. Pendekatan kognitif secara langsung menjawab distorsi kognitif pasien yang dihipotesiskan, terbatas tentang manfaatdan pendekatan perilaku menjawab keluhan somatic secara langsung. Teknik utama yang digunakan dalam pendekatan perilaku badalah relaksasi dan biofeedback. Beberapa data awal menyatakan bahwa kombinasi pendekatan kognitif dan perilaku adalah lebih efektif dibandingkan teknik tersebut jika digunakan sendiri-sendiri. Terapi suportif menawarkan ketentraman dan kenyamanan bagi pasien, walaupun manfaat jangka panjangnya adalah meragukan. Psikoterapi berorientasi-tilikan memusatkan untuk mengungkapkan konflik bawah sadar dan mengenali kekuatan ego. Manfaat psikoterapi berorientasi-tilikan untuk gangguan kecemasan umum dilaporkan pada banyak kasus anecdotal, tetapi tidak terdapat penelitian besar yang terkendali. Sebagian besar pasien mengalami kekenduran kecemasan yang jelas jika diberikan kesempatan untuk membicarakan kesulitannya dengan dokter yan prihatin dan simaptik. Jika klinisi menemukan situasi eksternal yang menyebabkan kecemasan, klinisi mungin mampu sendirian atau dengan bantuan pasien atau keluarganya untuk mengubah lingkungan dan dengan demikian menurunkan tekanan yang penuh ketegangan. Penurunan gejala sering kali memungkinkan pasien untuk berfungsi secara efektif dalam pekerjaan dan hubungannya sehari-hari, yang memberikan kesenanangan dan pemuasan baru yang dengan sendirinya bersifat terapeutik. Pandangan psikoanalitik adalah bahwa dalam kasus tertentu kecemasan adalah suatu sinyal dari kekacauan bawah sadar yang memerlukan pemeriksaan. Kecemasan dapat normal, adaptif, maladaptive, terlalu kuat, atau terlalu ringan, tergantung pada keadaan. Kecemasan tampak dalam berbagai situasi selama perjalanan siklus hidup seseorang; pada banyak kasus,

pengurangan gejala bukan merupakan tujuan tindakan yang paling tepat. Bagi pasien yang secara psikologis bermaksud dan termotivasi untuk mengerti sumber kecemasannya, psikoterapi mungkin merupakan pengobatan terpilih. Terapi psikodinamika bekerja dengan anggapan bahwa kecemasan
19

mungkin meningkat pada pengobatan yang efektif. Tujuan pengobatan dinamika adalah untuk mening katkan toleransi kecemasan pasien (didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengalami kecemasan tanpa harus melampiaskannya), bukannya untuk menghilangkan kecemasan. Penelitian empiris menyatakan bahwa banyak pasien yang menjalani psikoterapetik

secara berhasil mungkin terus mengalami kecemasan setelah dihentikannya psikoterapi. Tetapi, peningkatan penguasaann ego memungkinkan mereka untunk menggunakan gejala kecemasan sebagai sinyal untuk mencerminkan perjuangan hidu untuk meluaskan tilikan dan pengertian mereka. Suatu pendekatan psikodinamikapada pasien dengan gangguan kecemasan umum melibatkan pencarian rasa takut pasien yang mendasarinya. Farmakoterapi Keputusan untuk meresepkan suatu ansiolitik pada pasien dengan gangguan kecemasan umum harus jarang dilakukan pada kunjungan pertama. Karena sifat gangguan yang berlamgsung lama, suatu rencana pengobatan harus dengan cermat dijelaskan. Dua obat utama yang harus dipertimbangkan dalam pengobatan gangguan kecemasan umum adalah buspirone dan benzodiazepine. Obat lain yang mungkin berguna adalah obat trisiklik sebagai contoh, imipramine (Tofranil), anti histamine, dan antagonis adrenergic-beta sebagai contoh, propanolol (Indreal). Walaupun terapi obat untuk gangguan kecemasan sering kali dipandang sebagai pengobatan selama 6 sampai 12 bulan, beberapa bukti menyatakan bahwa pengobatan harus jangka panjang, kemungkinan seumur hidup. Kira-kira 25% pasien mengalami kekambuhan dalam bulan pertama setelah dihentikan terapi, dan 60 sampai 80% kambuh selama perjalanan tahun selanjutnya. Walaupun beberapa pasien tergantung pada benzodiazepine, tidak ada toleransi yang berkembang untuk efek terapeutik dari benzodiazepin atau buspirone.

20

Benzodiazepine Benzodiazepine telah merupakan obat terpilih untuk gangguan kecemasan umum. Pada gangguan benzodiazepine dapat diresepkan atas dasar jika diperlukan, sehingga pasien menggunakan benzodiazepine kerja cepat jika mereka merasakan kecemasan tertentu. Pendekatan alternative adalah dengan meresepkan benzodiazepine untuk suatu periode terbatas, selama mana pendekatan terapeutik psikososial diterapkan. Beberapa masalah adalah berhubungan dengan pemakaian

benzodiazepine dalam gangguan kecemasan umum. KIra-kira 25 sampai 30% dari semua pasien tidak berespons, dan dapat terjadi toleransi dan ketergantungan. Beberapa pasien juga mengalami gangguan kesadaran saat menggunakan obat dan, dengan demikian, adalah berada dalam risiko untuk mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau mesin. Keputusan klinis untuk memulai terapi dengan benzodiazepine harus dipertimbangkan dan spesifik. Diagnosis pasien, gejala sasaran spesifik, dan lamanya pengobatan semuanya harus ditentukan dan harus diberikan informasi kepada pasien. Pengobatan untuk sebagian besar keadaan kecemasan berlangsung selama dua sampai enam minggu, diikiuti oleh satu atau dua minggu menurunkan obat perlahan-lahan (tapering) sebelum akhirnya obat dihentikan. Kekelituan klinis yang sering dengan terapi benzodiazepine adalah dengan memutuskan secara pasif untuk melanjutkan pengobatan atas dasar tanpa batas. Untuk pengoabatan kecemasan, biasanya memulai pengobatan pada rentang rendah terapeutiknya dan meningkatkan dosis untuk mencapai respon terapeutik. Penggunaan benzodiazepine dengan paruh waktu sedang (8 sampai 15 jam) kemungkinan menghindari beberapa efek merugikan yang berhubungan dengan penggunaan benzodiazepine dengan waktu paruh panjang. Pemakaian dosis terbagi mencegah perkembangan efek merugikan yang berhubungan dengan kadar plasma puncak yang tinggi. Perbaikan yang didapatkan dengan benzodiazepine mungkin lebih dari sekedar efek
21

antikecemasan. Sebagai contoh, obat dapat menyebabkan pasien memandang berbagai kejadian dalam pandangan yang positif. Obat juga dapat memiliki kerja disinhibisi ringan, serupa dengan yang dilihat setelah sejumlah kecil alcohol. Buspirone Buspirone kemungkinan besar efektif pada 60 sampai 80% pasieen dengan gangguan kecemasan umum. Data menyatakan bahwa buspirone adalah lebih efektif dalam menurunkan gejala kognitif dari gangguan kecemasan umum dibandingkan dengan menurunkan gejala somatik. Buktibukti juga menyatakan bahwa pasien yang sebelumnya telah diobati dengan benzodiazepine kemungkinan tidak berespon dengan pengobatan buspiron. Tidak adanya respon tersebut mungkin disebabkan oleh tidak adanya efek non-ansiolitik dari benzodiazepine (seperti relaksasi otot dan rasa kesehatan tambahan), yang terjadi pada terapi buspirone. Namun demikian, rasio manfaat-risiko yang lebih baik, tidak adanya efek kognitif dan psikomotor, dan tidak adanya gejala putus obat menyebabkan buspirone merupakan obat lini pertama dalam pengobatan gangguan ceams umum. Kerugian utama dari buspirone adalah bahwa efeknya memerlukan dua sampai tiga minggu sebelum terlihat, berbeda denagn efek ansiolitik benzodiazepine yang hamper segera terlihat. Busppiron bukan merupakan terapi efektif untuk putus benzodiazepine. Obat lain Jika pengobatan dengan bbuspirone atau benzodiazepine adal ah tidak efektif atau tidak sepenuhnya efektif, pengobatan dengan suatu obat trisiklik atau antagonis adrenergic-beta dapat dipertimbangkan. Obat trisiklik telah terbukti efektif dalam pengobatan kecemasan. Obat adrenergic beta adalah terbatas dalam efektivitasnya untuk mengobati gejala perifer dari kecemasan (sebagai contoh, palpitasi dan tremor). Alternatif lainadalah menggunakan obat kombinasi, seperti benzodiazepine dan buspirone atau

22

salah satu dari obat tersebut dengan suatu obat trisiklik atau suatu antagonis adrenergic-beta.

23

BAB III PEMBAHASAN

a. Anamnesis

Teori Gangguan cemas menyeluruh

Fakta kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional

ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistic terhadap berbagai

peristiwa kehidupan sehari-hari Dialami hampir sepanjang hari, berlangsung sekurangnya selama 6 bulan Kecemasan sulit untuk dikendalikan disertai gejala somatic: Ketegangan Motorik: Kedutan otot/rasa gemetar Otot tegang/kaku/pegel linu Tidak bias diam Mudah menjadi lelah Dialami hampir sepanjang hari,

berlangsung sekurangnya selama 6 bulan Kecemasan sulit untuk dikendalikan, disertai gejala somatic: Ketegangan Motorik: Rasa gemetar (+) Otot tegang (+) Tidak bias diam (+) Mudah menjadi lelah (+)

Hiperaktivitas Otonomik: Nafas pendek/terasa berat Jantung berdebar-debar Telapak tangan basah-dingin Mulut kering Kepala pusing/rasa melayang Mual, mencret, perut tak enak Muka panas/badan menggigil Buang air kecil lebih sering Sukar menelan/rasa tersumbat

Hiperaktivitas Otonomik: Nafas pendek/terasa berat (+) Jantung berdebar-debar (+) Telapak tangan basah-dingin (+) Mulut kering (-) Kepala pusing/rasa melayang (-) Mual, mencret, perut tak enak (-) Muka panas/badan menggigil (-) Buang air kecil lebih sering (-) Sukar menelan/rasa tersumbat (-)

24

Kewaspadaan

berlebihan

dan

Kewaspadaan

berlebihan

dan

Penangkapan berkurang hari: Penurunan kemampuan Perasaan ngilu Mudah terkejut/kaget Sulit konsentrasi pikiran Sukar tidur Mudah tersinggung jadi peka/mudah

Penangkapan berkurang Perasaan jadi peka/mudah ngilu

Mudah terkejut/kaget (+) Sulit konsentrasi pikiran (+) Sukar tidur (+) Mudah tersinggung (+)

Hendaya dalam kehidupan sehari-

Hendaya dalam kehidupan sehari-hari: Penurunan kemampuan bekerja (+)

bekerja, hubungan social, dan melakukan kegiatan rutin Menyebabkan gangguan yang Dipindahkan kerja ke bagian lain dan merasa tidak percaya diri

bermakna dalam fungsi social dan pekerjaan

Berdasarkan anamnesa yang diperoleh secara autoanamnesa, gejala yang dialami pasien mencakup sebagian besar gejala-gejala gangguan kecemasan menyeluruh. Hal ini sesuai dengan literature yang menyatakan bahwa gejala utama dari gangguan kecemasan umum adalah kecemasan, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonomik, dan kewaspadaan kognitif. Kecemasan adalah berlebihan dan mengganggu aspek lain kehidupan pasien. Ketegangan motorik paling sering dimanifestasikan sebagai kegemataran, kegelisahan, dan nyeri kepala. Hiperaktivitas sering kali dimanifestasikan oleh sesak nafas, keringat berlebihan, palpitasi, dan berbagai gejala gastrointestinal. Kewaspadaan kognitif ditandai oleh sifat lekas tersinggung dan mudahnya pasien dikejutkan.

25

2. Pemeriksaan Fisik Teori Takikardi Takipnea Hipertensi Tremor Hiperhidrosis Fakta takikardi (+) 104x kali/menit Takipnea (+) RR= 24 kali/menit Hipertensi (+) TD= 150/100 mmHg Tremor (+) Hiperhidrosis (+)

Seperti pada anamnesa, tanda-tanda yang diperoleh dari pemeriksaan fisik pada pasien ini juga semakin mengarahkan diagnosis pasien ini pada gangguan kecemasan menyeluruh. Berdasarkan teori hasil pemeriksaan fisik yang sering ditemukan pada pasien gangguan kecemasan menyeluruh yakni takikardi, takipnea, hipertensi, tremor, dan hiperhidrosis sebagai manifestasi dari gejala somatic akibat hiperaktivitas otonomik.

3. Diagnosis Teori Kriteria Diagnostik Gangguan Cemas Menyeluruh menurut DSM-IV TR A. Kecemasan yang atau kekhawatiran Memenuhi yang timbul Fakta

berlebihan

hamper setiap hari, sepanjang hari, terjadi selama sekurangnya 6

bulan, tentang sejumlah aktivitas atau kejadian (seperti pekerjaan atau aktivitas sekolah) B. Penderita merasa sulit Memenuhi

mengendalikan kekhawatirannya C. Kecemasan dan kekhawatiran Memenuhi

disertai tiga atau lebih dari enam gejala berikut ini (denagn

26

sekurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi dibandingkan tidak terjadi selama 6 bulan terakhir). Catatan: hanya satu nomor yang diperlukan pada anak 1. Kegelisahan 2. Merasa mudah lelah 3. Sulit berkonsentrasi atau

pikiran menjadi kosong 4. Iritabilitas 5. Ketegangan otot 6. Gangguan tidur (sulit tertidur atau tetap tertidur, atau tidur gelisah, dan tidak memuaskan) D. Fokus kecemasan dan Memenuhi

kekhawatiran tidak terbatas pada gangguan aksis I, misalnya,

kecemasan atau ketakutan adalah bukan menderita suatu gangguan panic (seperti pada gangguan

panic), merasa malu pada situasi umum (seperti pada fobia social, terkontaminasi gangguan (seperti pada

obsesif-kompulsif),

merasa jauh dari rumah atau sanak saudara dekat (seperti gangguan cemas perpisahan), penambahan berat badan (seperti pada

anoreksia

nervosa),

menderita

keluhan fisik berganda (seperti pada gangguan somatisasi), atau menderita penyakit serius (seperti pada hipokondriasis) serta
27

kecemasan dan kekhawatiran tidak terjadi semata-mata selama

gangguan stress pasca trauma. E. Kecemasan, kekhawatiran, atau Memenuhi gejala fisik menyebabkan

penderitaan yang bermakna secara klinis, atau gangguan pada fungsi social, pekerjaan, atau fungsi

penting lain F. Gangguan yang terjadi adalah Memenuhi bukan karena efek langsung dari suatu zat zat, medis (misalnya medikasi) umum

penyalahgunaan atau kondisi

(misalnya hipertiroidisme), dan tidak terjadi semata-mata selama suatu gangguan mood, gangguan psikotik, atau gangguan

perkembangan pervasive

Pada pasien ini memenuhi semua criteria diagnostic untuk gangguan kecemasan umum berdasarkan DSM-IV. Kriteria Diagnostik DSM-IV memasukkan beberapa modifikasi dari criteria DSM-III-R untuk membuatnya lebih mudah digunakan dan membantu klinisi membedakan gangguan kecemasan umum, kecemasan normal, dan gangguan mental lainnya. Perbedaan antara gangguan kecemasan umum dan kecemasan normal adalah ditekankan dengan penggunaan kata berlebihan dan sulit untuk mengendalikan di dalam kritteria dan dengan menyebutkan bahwa gejala menyebabkan gangguan atau penderitaan yang bermakna. Pembedaan antara gangguan kecemasan umum dan gangguan mental lain dibantu dalam DSMIV dengan contoh ciri yang membedakan di kriteria D.

28

Pengukuran Derajat Kecemasan (Hamilton Anxiety Rating Scales) No. 1. Perasaan Cemas (ansietas): (Cemas, Firasat buruk, Takut akan fikiran sendiri, Mudah tersinggung) 2. Ketegangan: (Merasa tegang, Lesu, Tidak bisa istirahat tenang, Mudah terkejut, Mudah menangis, Gemetar, Gelisah) 3. Ketakutan: (Pada gelap, Pada orang asing, Ditinggal sendiri, Pada binatang besar, Pada keramaian lalulintas, Pada kerumunan orang banyak) 4. Gangguan tidur: (Sukar masuk tidur, Terbangun malam hari, Tidur tidak nyenyak, Bangun dengan lesu, Banyak mimpi-mimpi, Mimpi buruk, Mimpi menakutkan) 5. Gangguan kecerdasan: (Sukar konsentrasi, Daya ingat menurun, Daya ingat buruk) 6. Perasaan depresi (murung): (Hilangnya minat, Berkurangnya kesenangan pada hobi, Sedih, Bangun dini hari, Perasaan berubah-ubah 2 2 4 0 2 Nilai 0

sepanjang hari) 7. Gejala somatic/fisik (otot): (Sakit dan nyeri otototot, Kaku, Kedutan otot, Gigi gemerutuk, Suara tidak stabil) 8. Gejala somatic/fisik (sensorik): (Tinnitus (telinga berdenging), Penglihatan kabur, Muka merah atau pucat, Merasa lemas, Perasaan ditusuk-tusuk) 9. Gejala kardiovaskuler (jantung dan 2 0 1

Pembuluh darah ): (Takikardia ( denyut jantung cepat), berdebar-debar, Nyeri di dada, Denyut nadi

29

mengeras, Rasa lesu/lemas seperti mau pingsan, Detak jantung menghilang ( berhenti sekejap )) 10. Gejala respiratori ( pernafasan): (Rasa tertekan atau sempit di dada, Rasa tercekik, Sering menarik nafas, Napas pendek/sesak) 11. Gejala gastrointestinal (pencernaan ): (Sulit 0 0

menelan, Perut melilit, Gangguan pencernaan, Nyeri sebelum dan sesudah makan, Perasaan terbakar diperut, Rasa penuh atau kembung, Mual, Muntah, Buang air besar lembek, Sukar buang air besar (konstipasi), Kehilangan berat badan 12. Gejala urogenital ( perkemihan dan kelamin): (Sering buang air kecil, Tidak dapat menahan air seni, Tidak datang bulan (tidak ada haid), Darah haid berlebihan, Darah haid amat sedikit, Masa haid berkepanjangan, Masa haid amat pendek, Haid beberapa kali dalam sebulan, Menjadi dingin (frigid), Ejakulasi dini, Ereksi ilmiah, Ereksi hilang, Impotensi 13. Gejala autonom: (Mulut kering, Muka merah, Mudah berkeringat, Kepala pusing, Kepala terasa berat, Kepala terasa sakit, Bulu-bulu berdiri) 14. Tingkah laku (sikap) pada wawancara: (Gelisah, Tidak tenang, Jari gemetar, Kerut kening, Muka tegang, Otot tegang / mengeras, Nafas pendek dan cepat, Muka merah) 4 0 1

Tabel HARS No 1. 2. 3. Aspek-Aspek HARS Perasaan Ansietas Ketegangan Ketakutan NILAI 0 2 0

30

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Gangguan tidur Gangguan kecerdasan Perasaan depresi Gejala somatic (otot) Gejala somatic (sensorik) Gejala kardiovaskuler Gejala Respiratori Gejala Gastrointestinal Gejala Urogenital Gejala Otonom Tingkah laku pada wawancara

4 3 2 1 0 1 0 0 1 2 4 20

TOTAL Interpretasi total nilai HARS = kecemasan ringan

4. Penatalaksanaan Teori b. Farmakoterapi Benzodiazepin Buspiron SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) c. Psikoterapi Terapi kognitif-perilaku Terapi suportif b. Psikoterapi Fakta a. Farmakoterapi Clobazam 0-0-10mg

Farmakoterapi yang diberikan pada pasien ini kurang sesuai dengan yang ada diliteratur. Berdasarkan teori buspirone merupakan obat lini pertama dalam pengobatan gangguan cemas umum dikarenakan rasio manfaat-risiko yang lebih baik, tidak adanya efek kognitif dan psikomotor, dan tidak adanya gejala putus obat. Tetapi, kerugian utama dari buspirone adalah bahwa efeknya memerlukan dua sampai tiga minggu, berbeda dengan efek ansiolitik benzodiazepine yang hampir segera terlihat.

31

Golongan benzodiazepine sebagai obat anti-anxietas mempunyai ratio terapeutik lebih tinggi dan lebih kurang menimbulkan adiksi dengan toksisitas yang rendah, dibandingkan meprobamate atau Phenobarbital. Disamping itu Phenobarbital menginduksi ensim mikrosomal di hepar sedangkan golongan benzodiazepine tidak. Golongan benzodiazephine = drug of choice dari semua obat yang memiliki efek anti anxietas, disebabkan spesifitas, potensi, dan keamanannya. Spektrum klinis Benzodiazepine meliputi efek anti anxietas, antikonvulsa, anti-insomnia, premedikasi tindakan operatif. Clobazam yang merupakan salah satu dari golongan Benzodiazepin memiliki dosis anti-anxietas dan anti-insomnia berjauhan (dose related, lebih efektif sebagai anti-anxietas. Clobazam juga psychomotor performancenya paling kurang terpengaruh, sehingga sesuai untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang ingin tetap aktif. Waktu paruh clobazampun panjang sehingga sangat minimal dalam menimbulkan gejala putus obat.

5. Prognosis Teori Gangguan cemas Fakta menyeluruh Bonam

merupakan suatu keadaan kronis yang mungkin berlangsung seumur hidup. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami gangguan panic, juga dapat mengalami gangguan depresi mayor

Prognosis pada pasien ini bonam jika pasien meminum obatnya secara teratur dan berusaha melupakan kejadian saat ia duduk dibangku SMA. Sebab beberapa data menyatakan bahwa peristiwa kehidupan adalah berhubungan onset ganngguan kecemasan umum; terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negative secara jelas meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan. Sehingga meskipun pada akhirnya gangguan kecemasan umum adalah suatu keadaan kronis yang mungkin seumur hidup tetapi tidak sampai mengalami gangguan panic dan ganggguan depresif berat.
32

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Anxietas merupakan pengalaman yang bersifat subjektif,tidak

menyenangkan. tidak menentu, menakutkan dan mengkhawatirkan akan adanya kemungkuna bahaya atau ancaman bahaya, dan seringkali disertai oleh gejalagejala atau reaksi fisik tertentu akibat peningkatan aktifitas otonomik. Menurut DSM-IV yang dimaksud gangguan cemas menyeluruh adalah suatu keadaan ketakutan atau kecemasan yang berlebih-lebihan, dan menetap sekurang kurangnya selama enam bulan mengenai sejumlah kejadian atau aktivitas disertai oleh berbagai gejala somatik yang menyebabkan gangguan bermakna pada fungsi sosial, pekerjaan, dan fungsi - fungsi lainnya Sedangkan menurut ICD-10 gangguan ini merupakan bentuk kecemasan yang sifatnya menyeluruh dan menatap selama beberapa minggu atau bulan yang ditandai oleh adanya kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, dan aktivitas otonomik yang berlebihan.

33

DAFTAR PUSTAKA

Willy F.Maramis. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press. Maslim, R. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa , Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta : PT Nuh Jaya. Maslim, R. 2002. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi Ketiga. Jakarta : PT Nuh Jaya.

34