Anda di halaman 1dari 35

Bab 1.

Helmintologi

73

CESTODA

ng pita termasuk subkelas :^toda, kelas Cestoidea, filum Platy-:-JS. Cacing dewasanya menempati ..>us vertebrata dan larvanya hidup .in vertebrata dan invertebrata. :uk badan cacing dewasa me-_ menyerupai pita, biasanya pipih "tral, tidak mempunyai alat cerna ..ran vaskular dan biasanya terbagi -egmcn-segmen yang disebut i yang bila dewasa berisi alat .M jantan dan betina. - j bagian anterior berubah men--.ih alat pelekat, disebut skoleks, jngkapi dengan alat isap dan Spesies penting yang dapat -".kan kelainan pada manusia .i adalah: Taenia saginata dan Diphyllobothrium latum, Hvme-\:>ia. Echinococcus granulosus, ularis, . _-ia merupakan hospes Cestoda " --entuk: " _ dewasa, untuk spesies D.latum, . ~Jta, T.solium, H.nana, H.dimi-pvlidium

caninum. Larva, untuk spesies Diphyllohothrium sp, T.solium, H.nana, E.granulosus, Multiceps. Sifat-Sifat Umum Badan cacing dewasa terdiri atas: 1. Skoleks, yaitu kepala yang merupakan alat untuk melekat, dilengkapi dengan batil isap atau dengan lekuk isap. 2. Leher, yaitu tempat pertumbuhan badan. 3. Strobila, yaitu badan yang terdiri atas segmensegmen yang disebut proglotid. Tiap proglotid dewasa mempunyai susunan alat kelamin jantan dan betina yang lengkap; keadaan ini disebut hermafrodit. Telur dilepaskan bersama proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus. Embrio di dalam telur disebut onkosfer berupa embrio heksakan yang tumbuh menjadi bentuk infektif dalam hospes perantara. Infeksi terjadi dengan menelan larva bentuk infektif atau menelan telur. Pada Cestoda dikenal dua ordo: /. Pseudo-phyllidea, dan 2. Cyclophyllidea.

Parasitologi Kedoktemn

Pseudophyllidea Pseudophyllidea mempunyai skoleks dengan 2 lekuk isap (bothrium suctorial groove). Lubang genital dan lubang uterus terletak di tengah-tengah proglottid. Telur mempunyai operkulum, berisi sel telur dan dikeluarkan bersama tinja. Dalam air, sel telur tumbuh menjadi onkosfer. Telur menetas dan keluarlah korasidium, yaitu embrio yang mempunyai banyak silia. Korasidium dimakan olch hospes perantara I yang tergolong Copepoda (Cyclops, Diaptomus) dan tumbuh menjadi proscrkoid. Cyclops yang mengandung parasit dimakan oleh hospes perantara 11 (ikan, kodok). Dalam hospes perantara II larva tumbuh menjadi pleroserkoid (spar-ganum) yang merupakan bentuk infektif. Cacing yang termasuk Pseudophyllidae adalah cacing Diphyllobothrium latum dan D.mansoni (Diphyllabothrium binatang). Diphyllobothrium latum (Taenia lata, Dibothriocephalus latus, broad tapeworm, fish tapeworm)

Kasus autokton digambarkan d: Filipina pada tahun 1935 dan dilaporkar. 2 kasus dari 141 penduduk asli di Formosa pada tahun 1963. Selain itu ada keadaar endemik di Papua Niugini. Hospes dan INama Penyakit Manusia adalah hospes definilif. hospes reservoarnya adalah anjing, kucinL' dan lebih jarang 22 mamalia lainnya. antara lain walrus, singa laut, beruang. babi dan serigala. Parasit ini menyebabkar penyakit yang disebut difilobotriasis. Distribusi Geografik Parasit ini ditemukan di Amerika. Kanada, Fropa, daerah danau di Swiss. Rumania, Turkestan, Israel, Mancuria. Jepang, Afrika, Malagasi dan Siberia. Morfologi dan Daur Hidup Cacing dewasa yang keluar dari usib manusia berwarna gading, panjangnya dapat sampai 10 m dan terdiri atas 300( 1 - 4000 buah proglotid; tiap proglotid mempunyai alat kelamin jantan dan betina yang lengkap. Telur mempunyai operkulum. berukuran 70 x 45 mikron, dikeluarkan melalui lubang uterus proglotid gravid dan ditemukan dalam tinja. Telur meneta>

Sejarah Cacing pita ikan {fish tapeworm) di-kcnal sebagai spesies yang berbeda sejak tahun 1602 oleh Plater di Switzerland. Dengan adanya deskripsi skoleks yang jelas pada tahun 1977 Bonnet dapat membedakan cacing ini dari cacing pita babi T.solium. Cacing ini pertama kali diperiksa di Amerika oleh Wemland pada tahun 1858 dan selanjutnya oleh Leid;. pada tahun 1879 pada penderita yan_ mendapat infeksi di Eropa. Pcrkcmbangar fokus endemik di Amerika Utara olel imigran yang terinfeksi pertama ka! dilaporkan pada tahun 1906. Hal tersebu: menggambarkan transplantasi parasit dan Old World ke lingkungan baru.

Bab 1. Helmintologi

-.1111 air. Larva disebut koradisium dan :~iakan oleh hospes perantara pertama, : tu binatang yang termasuk Copepoda .rvrti Cyclops dan Diaptomus. Dalam -pes ini larva tumbuh menjadi -erkoid, kcmudian Cyclops dimakan -pes perantara kcdua yaitu ikan salem dan proserkoid berubah menjadi larva pleroserkoid atau disebut sparganum. Bila ikan tersebut dimakan hospes definitif, misalnya manusia, sedangkan ikan itu tidak dimasak dengan baik, maka sparganum di rongga usus halus tumbuh menjadi cacing dewasa (Gambar 12).

Bab 1. Helmintologi

acing dewasa -us halus manusia Telur yang belum -ivoleks dari plero-jrkoid mclekat pada ".ukosa usus, berkem bang menjadi cacing "armakan oleh manusia elalui ikan air tawar icntah atau yang amasak kurang

berkembang keluar bersama tinja masuk dalam air tawar Korasidium, larva

bersilia menetas dari telur, berenang bebas dalam air .ijwasa Kopepoda (Cyclops. Diaptomus) memakan korasidium baik Korasidium menembus alat ccnia kopepoda, masuk ke rongga badan

Bab 1. Helmintologi Proserkoid berkembang di rongga badan kopepoda

Proserkoid berkembang menjadi Pleroserkoid dalam otot ikan -> Kopepoda yang

Bab 1. Helmintologi 6 infektif dimakan ikan air tawar

Bab 1. Helmintologi

Bagan 2. Daur Hidup Diphyllobothrium latum

Bab I . Helmintologi :ologi dan Gejala Klinis Penyakit ini biasanya tidak menim-an gejala berat, mungkin hanya gejala "in cerna seperti diarc, tidak nafsu :ii dan tidak enak di pcrut. Bila cacing hidup di permukaan usus .-. dapat timbul anemia hiperkrom-ositer, karena cacing itu banyak me~.-.p vitamin B sehingga timbul gejala -:ensi vitamin tersebut. Bila jumlah j banyak, mungkin terjadi sumbatan >ecara mekanik atau terjadi obstruksi karena cacing-cacing itu menjadi .".i benang kusut. gnosis . ara menegakkan diagnosis penyakit -aalah dengan menemukan telur atau j'.otid yang dikeluarkan dalam tinja. ^obatan ^andcrita diberikan obat Atabrin keadaan perut kosong, disertai - arian Na-bikarbonas, dosis 0,5 g dua -etelah makan obat diberikan sebagai . .aiar magnesium sulfat 15 g. .'bat pilihan adalah niclosamid ~".esan), diberikan 4 tablet (2 gram) di- .:H sekaligus setelah makan hidangan Obat lain yang juga efektif adalah "omisin, yang diberikan dengan 1 gram setiap 4 jam sebanyak 4 - Selain itu dapat dipakai prazikuantel - : anggal 10 mg/kg berat badan. Prognosis

Prognosis difilobotriasis baik, walaupun dengan anemia berat, karena setelah cacing dikeluarkan anemianya akan sembuh. Epidemiologi Penyakit ini di Indonesia tidak ditemukan tetapi banyak dijumpai di negara yang banyak makan ikan salcm mentah atau kurang matang. Banyak binatang seperti anjing, kucing dan babi bcrperan sebagai hospes reservoar dan perlu diperhatikan. Untuk mencegah terjadinya infeksi, ikan air tawar yang tersangka mcngandung bibit penyakit harus terlebih dahulu di-masak dengan sempurna sebelum dihidang-kan. Anjing sebagai hospes reservoar sebaiknya diberi obat cacing.

Sparganosis Tahun 1882 Manson mendapatkan sparganosis jaringan dari penduduk asli yang diautopsi di Amoy - RRC. Larva pleroserkoid dari beberapa spesies cacing pita golongan Diphyllobothrium telah ditemukan pada manusia dan diketahui sebagai sparganum dan penyakitnya disebut sparganosis Diphyllobothrium binatang misalnya D.mansoni memerlukan anjing, kucing dan binatang lainnya sebagai hospes definitif. Manusia dapat bertindak sebagai hospes perantara kedua bila mengandung

Bab I . Helmintologi sparganum (pleroserkoid).

10

Paras!tologi Kedokteran

Daur Hidup Dalam tubuh manusia sparganum dapat mengembara di otot dan fasia, akan tctapi larva ini tidak dapat menjadi dewasa. Daur hidupnya sama seperti D.latum. Dalam hospes perantara pertama, yaitu Cyclops, dibentuk proserkoid dan dalam hospes perantara kcdua yaitu hewan pengerat kccil, ular dan kodok, ditcmu-kan pleroserkoid atau sparganum. Patologi dan Gejala Minis Pada manusia, larva ditemukan di seluruh bagian badan, tcrutama di mata, juga di kulit, jaringan otot, toraks, perut, paha, daerah inguinal dan dada bagian dalam. Sparganum dapat menyebar kc seluruh jaringan. Perentangan dan penge-rutan larva menyebabkan pcradangan dan edema jaringan sekitarnya yang nyeri. Larva yang rusak menyebabkan pcradangan lokal yang dapat menjadi nekrosis Penderita dapat menunjukkan sakit lokal, urtikaria raksasa yang timbul secara periodik, edema dan kemerahan yang disertai dengan menggigil, demam dan hipereosinofilia. Infeksi pada bola mata yang relatif sering terjadi di Asia Tenggara, menyebabkan konjungtivitis disertai bengkak dengan lakrimasi dan ptosis. Diagnosis Diagnosis dibuat dengan menemukan larva di tempat kelainan. Untuk identi-fikasi diperlukan binatang percobaan. Pengobatan Untuk pengobatan dilakukan pem-bedahan dan pengangkatan larva. Prognosis Prognosis tergantung pada lokaparasit dan pembedahan yang berhasil.

Epidemiologi Parasit ini ditemukan di Asia Timir dan Asia Tenggara, Jcpang, Indo Cina Afrika, Eropa, Australia, Amerika Utara-Selatan dan Indonesia Manusia menderita sparganosis karena : 4. minurn air yang mengandung Cyclop* yang infektif 5. makan kodok, ular atau binatang pengerat yang mengandung pleroserkoid 6. menggunakan daging kodok yang infektif untuk obat Di daerah cndemi, air minum perk, dimasak atau disaring dan daging hospc-perantara dimasak dengan scmpurna. Cara yang dipakai untuk pengobatan dengan menggunakan daging kodok d: daerah mukosakutan yang meradang. sebaiknya dicegah.

Cyclophyllidea Cylophyllidea mempunyai skoleks (kepala) dengan 4 batil isap dan dilengkapi rostelum dengan atau tanpa kait-kait, lubang kelamin terdapat di pinggir proglotid. dapat unilateral atau bilateral selangseling. Rostelum adalah penonjolan di skoleks. Lubang uterus {uterine pore) tidak ada. Proglotid gravid merupakan kantong telur yang keluarbersama tinja. Telur yang

Bab 11. Helmintologi

79

M onkosfer tumbuh dalam hospes .-.ntara dan menjadi bentuk infektif. ()rdo Cyclophyllidea tcrmasuk kelas :.Mdea. Cacing tersebut dikenal dengan a umum cacing pita.

Morfologi dan Daur Hidup Taenia saginata adalah salah satu cacing pita yang berukuran besar dan panjang; terdiri atas kcpala yang disebut skoleks, leher dan strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid, scbanyak 1000 - 2000 buah. Panjang cacing 4 - 1 2 meter atau lebih. Skoleks hanya berukuran 1-2 milimeter, mempunyai empat batil isap dengan otot-otot yang kuat, tanpa kait-kait. Bentuk leher sempit, ruas-ruas tidak jelas dan di dalamnya tidak tcrlihat struktur tertentu. Strobila terdiri atas rangkaian proglotid yang belum dewasa (imatur) yang dewasa (matur) dan yang mengandung telur atau disebut gravid. Pada proglotid yang belum dewasa, belum terlihat struktur alat kelamin yang jelas. Pada proglotid yang dewasa terlihat struktur alat kelamin seperti folikcl testis yang berjumlah 300-400 buah, tersebar di bidang dorsal. Vasa eferensnya bergabung untuk masuk kc rongga kelamin (genital atrium), yang berakhir di lubang kelamin (genitalpore). Lubang kelamin letaknya selang-seling pada sisi kanan atau kiri strobila. Di bagian posterior lubang kelamin, dekat vas deferens, terdapat tabung vagina yang berpangkal pada ootip (Gambar 13). Ovarium terdiri atas 2 lobus, berbentuk kipas, besarnya hampir sama. Letak ovarium di sepertiga bagian posterior proglotid. Vitelaria letaknya di belakang ovarium dan merupakan kumpulan folikel yang eliptik. Uterus tumbuh dari bagian anterior ootip dan menjulur ke bagian anterior pro-

Taenia saginata arah Cacing pita dari sapi, telah dikenal dahulu; akan tetapi identifikasi cacing .'~>ut baru menjadi jelas setelah tahun 1. karena karya Goeze dan Leuckart. itu, dikctahui adanya hubungan antara . -.^i cacing Taenia saginata dengan larva -erkus bovis, yang ditemukan pada a sapi. Bila seckor anak sapi diberi ai proglotid gravid cacing Taenia \ita, maka pada dagingnya akan "akan sistiserkus bovis. >pes dan Nama Penyakit Hospes definitif cacing pita Taenia \;ta adalah manusia. sedangkan hewan amah biak dari keluarga Bovidae, ."*.i sapi, kerbau dan lainnya adalah perantaranya. Nama penyakitnya teniasis saginata. ribusi Geografik ::enyebaran cacing adalah kosmoJidapatkan di Eropa, Timur Tengah, Asia, Amerika Utara, Amerika -. Rusia dan juga Indonesia, yaitu Jakarta dan lainlain.

Bab 12. Helmintologi

79

J. Setclah uterus ini penuh dengan ". maka cabang-cabangnya akan tumbuh, berjumlah 15-30 buah pada satu \ a dan tidak memiliki lubang uterus us uterinus). Proglotid yang sudah :d letaknya terminal dan sering ter-- dari strobila. Proglotid ini dapat .erak aktif, keluar dengan tinja atau _:r sendiri dari lubang dubur (spontan). ::p harinya kira-kira 9 buah proglotid rus. Proglotid bcntuknya lebih j.ng daripada lebar. Telur dibungkus -lofor, yang bergaris-garis radial, -siiran 30-40 x 20-30 mikron, berisi -,o heksakan atau onkosfer. Telur _ baru keluar dari uterus masih rati selaput tipis yang disebut lapisan :elur. Sebuah proglotid gravid berisi - N i r a 100.000 buah telur. Waktu pro-i terlepas dari rangkaiannya dan men-\oyak ; cairan putih susu yang mealing banyak telur mengalir keluar -isi anterior proglotid tersebut, ter-.-. bila proglotid berkontraksi waktu Telur mclekat di rumput bersama bila orang berdefekasi di padang -.u: atau karena tinja yang hanyut -angai di waktu banjir. Ternak yang y.\ rumput yang terkontaminasi ~_gapi cacing gelembung, oleh karena ;. ang tertelan dicerna dan embrio ..Nan menetas. Embrio heksakan di \-.n pencernaan ternak menembus ::g usus, masuk ke saluran getah _ r atau darah dan ikut dengan aliran ke jaringan ikat di sela-sela otot :umbuh menjadi cacing gelembung, "..: sistiserkus bovis, yaitu larva Taenia saginata. Peristiwa ini terjadi

setelah 12-15 minggu. Bagian tubuh ternak yang sering dihinggapi larva tersebut adalah otot maseter, paha belakang dan punggung. Otot di bagian lain juga dapat dihinggapi. Setclah 1 tahun cacing gelembung ini biasanya mcngaiami dcgcnerasi. walaupun ada yang dapat hidup sampai 3 tahun. Bila cacing gelembung yang terdapat di daging sapi yang dimasak kurang matang termakan oleh manusia, skoleks-nya keluar dari cacing gelembung dengan cara evaginasi dan melckat pada mukosa usus halus, biasanya yeyunum. Cacing gelembung tersebut dalam waktu 8-10 minggu menjadi dewasa. Biasanya di rongga usus hospes terdapat seekor cacing. Patologi dan Gejala Klinis Cacing dewasa Taenia saginata, biasanya menyebabkan gejala klinis yang ringan, seperti sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, mual, muntah, diare, pusing atau gugup. Gejala tersebut disertai dengan ditemukannya proglotid cacing yang ber-gerak-gerak lewat dubur bersama dengan atau tanpa tinja. Gejala yang lebih berat dapat terjadi, yaitu apabila proglotid masuk apendiks, terjadi ileus yang disebabkan obstruksi usus oleh strobila cacing. Berat badan tidak jelas menurun. Eosinofilia dapat ditemukan di darah tepi. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya proglotid yang aktif bergerak

13

Parasitologi Kedokteran

dalam tinja, ataukeluarspontamjuga dengan ditemukannya telur dalam tinja atau usap anus. Proglotid kemudian diidentifikasi dengan merendamnya dalam cairan laktofcnol sampai jernih. Setelah uterus dengan cabang-cabangnya terlihat jelas, jumlah cabang-eabang dapat dihitung. Pengobatan Obat yang dapat digunakan untuk mengobati teniasis saginata, secara singkat dibagi dalam: Obat lama : kuinakrin, amodiakuin, niklosamid Obat baru : pra/ikuantel dan albendazol Prognosis Prognosis umutnnya baik; kadang-kadang sulit untuk menemukan skoleksnya dalam tinja setelah pengobatan. Epidemiologi T. saginata sering ditemukan di negara yang penduduknya banyak makan daging sapi/kerbau. Cara pcnduduk me-makan daging tersebut yaitu matang (well clone), setengah matang (medium) atau mentah (rare); dan cara memelihara ternak memainkan peranan. Temak yang dilepas di padang rumput lebih mudah dihinggapi cacing gelembung, daripada ternak yang dipelihara dan dirawat dengan baik di kandang. Pencegahan dapat dilakukan antara lain dengan mendinginkan daging sampai -lO'C, iradiasi dan memasak daging sampai matang. Taenia solium Sejarah Cacing pita dari daging babi, diketahui sejak Hippocrates, atau mungkir sudah sejak Nabi Musa

walaupun pada waktu itu belum dapat dibedakan antara cacing pita daging sapi dengan cacing pit.: daging babi, sampai pada karya Goez*. (1782). Aristophane dan Aristoteles melukis-kan stadium larva atau sistiserkus selulos^ pada lidah babi hutan. Gessner (155S dan Rumler (1588), melaporkan stadiuir larva pada manusia. Kuchenmeister (1855 dan Leuckart (1856), adalah sarjanasarjan,: yang pertama kali mengadakan peneliliar daur hidup cacing tersebut dan mem-buktikan bahwa cacing gelembung yaiK didapatkan pada daging babi, adala: stadium larva cacing Taenia solium. Hospes dan Nama Penyakit Hospes deiinitif T. solium adala: manusia, sedangkan hospes perantaram.. adalah babi. Manusia yang dihinggap cacing dewasa Taenia solium, juga menjac hospes perantara cacing ini. Nama penyak yang disebabkan oleh cacing dewa^ adalah teniasis solium dan yang disebabka: stadium larva adalah sistiserkosis. Distribusi Geografik Taenia solium adalah kosmopolr akan tetapi jarang ditemukan di negar. Islam. Cacing tersebut banyak ditemuka-

Bab 14. Helmintologi

83

-.egara yang mempunyai banyak -nakan babi dan di tempat daging bagi ak disantap seperti di Eropa, (Czech, akia, Kroatia, Serbia), Amerika Latin, ... India, Amerika Utara dan juga di .apa daerah di Indonesia antara lain di .... Bali dan Sumatcra Utara. rfologi dan Daur Hidup T.icnia solium, berukuran panjang 2-4 dan kadang-kadang sampai 8 meter, "g ini seperti cacing Taenia saginata, - dari skoleks, lehcr dan strobila, . '.crdiri atas 800-1000 ruas proglotid. ;-ks yang bulat berukuran kirakira 1 - cter, mempunyai 4 buah batil isap :.-.n rostelum yang mempunyai 2 baris -.ait. masing-masing sebanyak 25~..ah. Strobila terdiri atas rangkaian . uid yang belum dewasa (imatur), -a (matur) dan mengandung telur .J). Gambaran alat kclamin pada . >tid dewasa sama dengan Taenia ;/</. kecuali jumlah folikel testisnya -edikit, yaitu 150-200 buah. Bentuk . 'lid gravid mempunyai ukuran ..".g hampir sama dengan lebarnya. :i cabang uterus pada proglotid _ adalah 712 buah pada satu sisi. .v.g kelamin letaknya bergantian :-seling pada sisi kanan atau kiri - .i sccara tidak beraturan. - >glotid gravid berisi 30.00050.000 clur. Telurnya keluar melalui celah . pada proglotid. Telur tersebut ennakan

oleh hospes perantara . -esuai, maka dindingnya dicema . nbrio heksakan keluar dari telur, .-'Pus dinding usus dan masuk ke saluran getah bening atau darah. Embrio heksakan kemudian ikut aliran darah dan menyangkut di jaringan otot babi. Embrio heksakan cacing gelembung (sistiserkus) babi, dapat dibedakan dari cacing gelembung sapi. dengan adanya kaitkait di skoleks yang tunggal. Cacing gelembung yang disebut sistiserkus selulose biasanya ditemukan pada otot lidah, punggung dan pundak babi. Hospes perantara lain kecuali babi, adalah monyet, unta, anjing, babi hutan, domba, kucing, tikus dan manusia. Larva tersebut berukuran 0,6-1,8 cm. Bila daging babi yang mengandung larva sistiserkus dimakan setengah matang atau mcntah oleh manusia, dinding kista dicema, skoleks mcngaiami evaginasi untuk kemudian mclekat pada dinding usus halus seperti yeyunum. Dalam waktu 3 bulan cacing tersebut menjadi dewasa dan melepaskan proglotid dengan telur. Patologi dan Gejala Klinis Cacing dewasa, yang biasanya ber-jumlah seekor, tidak menyebabkan gejala klinis yang berarti. Bila ada, dapat bcrupa nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala. Darah tepi dapat menunjuk-an eosinofilia. Gejala klinis yang lebih berarti dan sering diderita, disebabkan oleh larva yang disebut sistiserkosis. Infeksi ringan biasanya tidak menun-jukkan gejala, kecuali bila alat yang dihinggapi adalah alat

Bab 15. Helmintologi

83

tubuh yang penting. Pada manusia, sistiserkus atau larva Taenia solium sering menghinggapi jaringan .utis, mata, jaringan otak, otot, otot ..:ig. hati, paru dan rongga perut. ;upun sering dijumpai, kalsifikasi apuran) pada sistiserkus tidak me-~'jIkan gejala, akan tetapi sewaktu-:.i terdapat pseudohipcrtrofi otot, di-: gejala miositis, demam tinggi dan .ohlia. Dada jaringan otak atau medula spinalis, -erkus jarang mengalami kalsifi-Keadaan ini sering menimbulkan v jaringan dan dapat mengakibat--erangan ayan (cpilepsi), meningo-. -ilitis, gejala yang disebabkan oleh an intrakranial yang tinggi seperti kepala dan kadang-kadang kelainan - Hidrosefalus internus dapat terjadi, timbul sumbatan aliran cairan "ospinal. Sebuah sistiserkus tunggal . Jitemukan dalam ventrikel IV otak, menyebabkan kematian. gnosis diagnosis teniasis solium dilakukan _-n menemukan telur dan proglotid. - sukar dibcdakan dengan telur .. saginata. T agnosis sistiserkosis dapat dilakukan .cara: : v>tirpasi benjolan yang kemudian ; ^eriksa secara histopatologi - .: Jiologis dengan CT scan atau

'.:luetic Resonance Imaging (MRI) .:eksi antibodi dengan teknik ELISA, . - icrn Blot (EIBT), uji hemaglutinasi, <nter lmmuno Electrophoresis (C1E) .aeksi coproantigen pada tinja ,:eksi DNA dengan teknik PCR. Pengobatan Untuk pengobatan penyakit teniasis solium digunakan prazikuantel. Untuk sistiserkosis digunakan prazikuantel, albendazol atau dilakukan pembedahan. Prognosis Prognosis untuk teniasis solium cukup baik, dapat disembuhkan dengan pengobatan. Pada sistiserkosis, prognosis tergantung berat ringannya infeksi dan alat tubuh yang dihinggapi. Bila yang dihinggapi alat penting, prognosis kurang baik. Epidemiologi Walaupun cacing ini kosmopolit, ke-biasaan hidup penduduk yang dipengaruhi tradisi kebudayaan dan agama, memain-kan pcranan penting. Biasanya penyakit ini ditemukan pada orang yang bukan beragama Islam. Cara menyantap daging tersebut, yaitu matang, setengah matang, atau mentah dan pengertian akan kebersihan atau higiene, memainkan peranan penting dalam penularan cacing Taenia solium maupun sistiserkus selulose. Pengobatan perorangan maupun pengobatan masal harus dilaksanakan agar penderita tidak menjadi sumber infeksi bagi diri sendiri maupun babi dan hewan lain seperti anjing.

Bab 16. Helmintologi

83

Pendidikan mengenai kesehatan harus dirintis. Caracara ternak babi harus diperbaiki, agar tidak ada kontak dengan tinja manusia. Sebaiknya untuk ternak babi harus digunakan kandang yang bersih dan makanan ternak yang sesuai. Pencegahan dapat dilakukan seperti pada teniasis saginata. Sistiserkosis Pendahuluan Sistiserkosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kista stadium larvacacing pita Taenia solium. Sistiserkosis dapat mengenai otot dan sistem saraf pusat (SSP) sebagai neurosistiscrkosis, atau berupa kista multipel atau keduanya. 1: Penyakit ini juga dinyatakan sebagai penyakit parasit yangpalingbanyakmenyerangSSP. Keber-adaan siklus hidup parasit ini baru dikenal pada abad ke-19 dan manifestasi klinisnya baru banyak teridcntifikasi di pcrtengahan abad ke-20. Sejak dua puluh tahun terakhir ini berbagai konsep mengenai prcvalensi infeksi, morbiditas dan mortalitas, terapi dan epidemiologi berkembang pesat. 1 '' Hal tersebut juga termasuk kecurigaan terhadap Asian Taenia sebagai penyebab sistiserkosis. Perhatian terhadap sistiserkosis juga meningkat karena peningkatan jumlah imigran dari negara berkembang, serta berkembangnya teknik diagnostik yang dapat mendeteksi neurosistiscrkosis. Per-

kembangan teknik diagnostik tersebut antara lain pencitraan persarafan yang ter-komputerisasi (CT dan MRI) yang lebih sensitif dan non invasif. Semakin banyak variasi manifestasi klinis infeksi dan teknik serologi yang spesifik dan akurat juga mendukung pendataan epidemiologic Sistiserkosis juga menjadi perhatian karena potensi kerugian ekonomi di negara berkembang. Sayangnya, sampai sekarang belum ada program eradikasi yang berhasil total. Epidemiologi Sebelum tahun 1990-an, data epidemiologi tentang prcvalensi neurosistiscrkosis yang memadai masih terbatas. Hal itu disebabkan masih terbatasnya mctode diagnosis termasuk kualitas spesifisita-dan keakuratannya. Tahun 1989, Tsang et al melaporkan penggunaan enzymelinked immunotransfer blot (EITB) yang mcmanfaatkan glikoprotein parasit. EITB adalah pemeriksaan spesifik pertama untuk infeksi T. solium yang dapat digunakan untuk penelitian lapangan yang luas. N4
10 ,4(

Berdasarkan pemeriksaan tinja saja. diperkirakan terdapat 4 juta orang d' seluruh dunia yang mendcrita cacing pita babi dan dari setiap orang yang ditemukar menderita cacing pita diperkirakan lebih dari 10 orang yang terinfeksi stadiuir kista. Saat ini diperkirakan lebih dar: 50 juta orang pengandung kista, namur. jumlah inipun diyakini masih jauh dar: jumlah yang sebenarnya. , Diperkirakar hanya benua Antartika dan Australia yang bebas dari sistiserkosis."

Bab 17. Helmintologi

83

Distribusi geografis sistiserkosis d: dunia sangat luas, dengan wilayah yang memiliki prcvalensi tinggi, seperti: Meksiko. Amerika tengah dan Selatan, India, dar Afrika sub Sahara. Di Meksiko, ditemukar bahwa pada orang dewasa yang menderit kejang, setengahnya menderita neurosistiscrkosis. Keadaan serupa ditemukan jug.. di Afrika, India dan Cina bahwa sebagiar besar penyakit parasit otak disebabkar 3 neurosistiscrkosis. Indonesia memiliki keragaman pen-duduk, dengan mayoritas penduduk muslin dan tidak mengkonsumsi daging bab;

Bab 1. Helmmtologi

QJ

-:nun, ada beberapa daerah seperti :j dan Papua (dahulu Irian Jaya) yang . .yak mengkonsumsi daging babi. Per- J kali terjadinya kejadian luar biasa . ang adalah di daerah Paniai. Papua, _:a awal 1970-an dan kejang tersebut -o'nabkan oleh neurosistiserkosis. Kejadian -apa dilaporkan terulang dekat perbatasan _raa New Guinea, dan sampai sekarang _-aa masih menjadi daerah endemik -"'lasis/sistiserkosis.' x6 2 " itogenesis dan Patofisiologi Larva T. solium hidup dalam jaringan ." :aai kista yang berisi cairan atau meta-. xla. Kista tersebut memiliki dinding "ransparan yang tipis. Skoleks terletak -;;u sisi kista, terinvaginasi dan terlihat . ".:gai nodul opak dengan diameter :nm. Ukuran dan bentuk kista ber-.~.:>i sesuai jaringan sekitarnya. Di otak, '.: berbentuk bundar dengan diameter ..apai 1 em. Dapat pula ditemukan -~-al dengan ketebalan bervariasi yang -. ~. atas astrosit dan serat kolagen, tetapi ."-..1 di SSP dan mata kurang tebal. _ a:ng kantong terdiri atas tiga lapis: a ,ai kutikula yang terdiri microtrich.es .i ^isi oleh glikokaliks karbohidrat), epiiel dan muskularis, jaringan peng-" . "a longgar dan jaringan kanalikuli. mural terdiri atas skoleks terinva- - v dan kanal spiral terasosiasi yang .- terdiri atas membran trilaminar. . ...::i pori ekskretori kecil dekat akhir . . spiral terhubung dengan kanal .. >:: f terhadap jaringan

sekitar. - ^tiserkus hidup menimbulkan sedikit -.aangan jaringan sekitar dan hanya sedikit mononuklear serta jumlah eosinofil yang bervariasi. Untuk melengkapi siklus hidupnya, sistiserkus harus mampu hidup di dalam otot babi selama bermingguminggu sampai bulanan. Oleh karena itu kista telah mengembangkan mckanisme untuk mengatasi respon imun pejamu. Hewan yang telah terinfeksi aktif atau telah terinfeksi sebelumnya dengan stadium kista kebal terhadap reinfeksi onkosfer. Imunitas ini dimediasi oleh antibodi dan komplemcn. Mcskipun begitu dalam infeksi alami, respons antibodi dibangun hanya setelah parasit berubah menjadi bentuk metacestoda yang lebih resisten.'Metacestoda sudah membangun mekanisme untuk menghadang destruksi yang dimediasi komplemcn. Paramiosin dari parasit mengikat Clq dan menghambat jalur klasik aktivasi komplemcn. Parasit juga mensekresi inhibitor protease serin yang disebut taeniestatin, meng-hambat jalur aktivasi klasik atau alter-natif, berinteiferasi dengan kemotaksis leukosit, dan menghambat produksi sitokin. Polisakarida sulfa, yang melapisi dinding kista, mengaktivasi komplemcn menjauhi parasit, menurunkan deposisi komplemcn, dan membatasi jumlah sel radang yang ke parasit. Antibodi tidak dapat mem-bunuh metacestoda matang. Kista hidup sebenarnya juga menstimulasi produksi sitokin yang dibutuhkan untuk produksi imunoglobulin yang kemudian diambil oleh kista, diperkirakan

Bab 1. Helmmtologi

QJ

sebagai sumber protein.'Sebaliknya respons imun selular ditekan. Taeniestatin dan molekul parasit

20

Paraskologi Kedokteran

yang lain berinterferasi dengan prolife-rasi limfosit dan fungsi makrofag. Gejala neurosistiscrkosis berhubungan dengan respons granulomatosa yang terjadi ketika kista tidak lagi dapat mcmodulasi respons pejamu. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis sistiserkosis ter-gantung lokasi dan jumlah kista, serta respons pejamu. Bila hanya terdapat se-dikit lesi dan terletak di lokasi yang tidak strategis misalnya di otot, atau beberapa daerah di otak, infeksi tersebut dapat terjadi tanpa gejala, namun tetap bisa menjadi salah satu alasan diagnosis sistiserkosis. Pada kasus penyakit neurologis, terdapat periode tanpa gejala sebelum gejala pertama timbul. Masa inkubasi ini diperkirakan berdasarkan masa hidup kista jaringan. Hal ini didukung penemuan histopatologi kista yang ditemukan pada manusia yang tanpa gejala sistiserkosis dan tclah meninggal akibat penyebab lain. Scbaliknya, kebanyakan kista dari pasien dengan gejala, berhubungan dengan respons peradangan termasuk di dalamnya limfosit, cosinofil, granulosis dan sel plasma. Oleh karcnanya, gejala sistiserkosis parenkimal timbul akibat peradangan ketika kista kehilangan kemampuan me-modulasi respons pejamu. Perubahan yang terjadi berhubungan dengan stadium peradangan. Dalam stadium koloidal, kista terlihat sama dengan kista koloid dengan materi gelatin dalam cairan kista dan degenerasi hialin dari larva. Dalam stadium granularnodular, kista mulai berkontraksi dan dindingnya digantikan dengan nodul fokal limfoid serta nekrosi-Akhirnya, pada stadium kalsifikasi nodular, jaringan granulasi digantikan oleh struktur kolagen dan kalsifikasi.Manifestasi utama neurosistiserkosb adalah kejang (7090%). Gejala lain adalah sakit kepala,

peningkatan tekanar intrakranial (mual dan muntah), dan gang-guan status mental (termasuk psikosisi Hanya sedikit pasien yang menunjukkar kelumpuhan saraf kranial maupun gejala fokal lainnya. 14
6 3 31415

7.

'Bentuk manifestasi klinis:Infeksi inaktif, ditandai dengan penemuan residu infeksi aktif se-belumnya (kalsifikasi intraparenkimal \ Gejala yang timbul: sakit kepala, kejang. psikosis, 8. Infeksi aktif, terdiri atas neurosisti-serkosis parenkimal aktif dan ense-falitis sistiserkal. 9. Neurosistiserkosis ekstraparenkima yang memiliki bentuk neurosistiserkosis ventrikular. 10. Bentuk lain: sistiserkosis spinal, sistiserkosis oftalmika, penyakit serebro-vaskular, sistiserkosis, sakit kepah migren, defek neurokognitif, sistiserkosis ekstraneural.
3

Diagnosis Del Brutto et al, mengusulkan kritem diagnostik yang dapat dilakukan berdasarkan pencitraan, tes serologi, presentas klinis, dan riwayat pajanan. 61215
34

Pencitraar merupakan metode utama untuk neurosistiserkosis. Computerized Tomography CT adalah metode terbaik untuk mendetek> kalsifikasi yang menunjukkan infeks:
6

Bab I . Helmintologi

21

--ktif. CT lebih unggul daripada MR1, _?aliknya MRI lebih sensitif untuk me-emukan kista di parenkim dan ekstra-a'enkim otak, termasuk dalam men:::eksi reaksi peradangan.Tes serologi memiliki penggunaan .is dan juga sangat bervariasi. Sayangnya :-?anyakan tes menggunakan antigen -~.g tidak terfraksi yang menyebabkan - - tif dan negatif palsu. Hal itu diper--akan karena aviditas kista dengan ~ -noglobulin yang menyebabkan positif " - -u. selain itu high cutoffs menyebabkan ..atif palsu. 315 3 Salah satu yang dikem-.-gkan adalah dengan pemeriksaan _"".gen onkosfer. 16 Pemeriksaan EITB . a- terbukti spesifik untuk pemeriksaan . - . M T.solium. EITB sensitif pada a parenkim aktif multipel atau neuro-\>erkosis ekstraparenkim. Meskipun . .~".kian sensitivitasnya rendah pada - en dengan kista parenkimal atau . - nkasi sehingga pada infeksi inaktif -:-.eriksaan serologi seringkali negatif. ~eriksaan EITB lebih baik ketika - ."ggunakan serum dibanding liquor "rospinalis. 3 - 6 Di daerah yang belum . ~".liki fasilitas CT dan MRI, serologi -.-an penting untuk diagnosis.' 31 ' Vntuk menyatakan seseorang men- "a sistiserkosis, diperlukan beberapa " ."".aan positif. Kriteria mayor pertama ih penemuan berdasarkan pemeriksaan ~ . :raan, dimana

ditemukan sistiserkus - berukuran 0,5-2 cm. Kedua ditemu--"">a antibodi spesifik antisistiserkal -;~ ggunakan EITB. Kriteria minor ..." -"a lain: kejang, peningkatan tekanan --::anial, kalsifikasi intraserebral - g:ata. nodul subkutan, atau hilangnya lesi setelah pengobatan anti parasit. Kombinasi dua kriteria mayor, atau satu kriteria mayor dan dua kriteria minor, ditambah riwayat pajanan, digunakan untuk menegakkan diagnosis. Terapi Terapi sistiserkosis berbeda pada setiap individu berdasarkan patogenesis penyakitnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah lokasi kista, gejala seperti kejang atau hidrosefalus, viabilitas kista (termasuk stadium degenerasi kista) dan derajat respons peradangan pejamu. 614 3 6 4 5 ' ' ' Untuk mencegah transmisi perlu dilakukan peningkatan sanitasi lingkungan, memasak daging babi sampai matang, menekan jumlah ekskresi telur taenia, edukasi terhadap masyarakat termasuk kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah ke kamar mandi, serta memasak air minum hingga matang. 6912 ' 6 Upaya yang juga dapat dilakukan adalah melakukan pencegahan infeksi sistiserkosis di babi dengan vaksinasi.'Pada infeksi inaktif, pasien dapat diterapi untuk mengatasi gejala seperti kejang. Apabila terdapat hidrosefalus, maka dapat dibantu dengan prosedur tambahan, misalnya dengan operasi pem-buatan shunt ventrikuloperitoneal. Pengobatan

Bab I . Helmintologi

22

antiparasit tidak diperlukan karena tidak ada parasit hidup pada pasien. 7 314 Penderita neurosistiserkosis aktif, memerlukan berbagai pengobatan tambahan untuk mengatasi kista hidup, gejala, dan reaksi akibat pengobatannya sendiri. Obat yang digunakan adalah praziquantel (50100 mg/kg dalam 3 dosis

23

Parasitologi Kedokreran

terbagi) selama 14 hari. albendazol (15 mg/kg dalam 2-3 dosis terbagi) selama 8 hari, kortikosteroid (10-30 mg deksametason per hari, atau 60 mg prednison, dilanjutkan dengan tappering off saat ingin menghentikan pemberian) dan juga obat antikonvulsan seperti fenitoin atau fenobarbital. Pemberian kortikosteroid adalah untuk mengatasi reaksi peradangan yang terutama terjadi setelah pengobatan praziquantel. Tujuannya untuk mencegah peradangan yang dapat mengancam nyawa pada enscfalitis sistiserkal, neurosistiser-kosis subarakhnoid, dan neurosistiserkosis intramedular spinal. 34 - 614 Prednison lebih baik dibandingkan deksametason untuk penggunaan jangka panjang. Selain itu dapat digunakan manitol (2 g/kg per hari) untuk hipertensi sekunder akut akibat neurosistiserkosis.Pemakaian praziquantel bersama antikonvulsan dapat menyebabkan induksi mctabolisme. Oleh karena itu diperlukan simctidin (400 mg tiga kali per hari) untuk menghambat metabolisme praziquantel tersebut. Interaksi obat ini relatif tidak terjadi pada penggunaan albendazol. 14 6 Hal lain yang perlu diperhatikan saat pengobatan adalah reaksi peradangan yang akan menyebabkan demam, mual, muntah dan sakit kepala, bahkan dapat menjadi edema serebral. Selain itu, bila sistiserkosis terdapat di otot, maka dapat terjadi miositis akibat pengobatan. 1 - 4 Neurosistiserkosis Parenkim. Pengobatan yang dianjurkan adalah albendazol (15 mg/kg/hari oral, selama 7 hari atau lebih). Bertujuan untuk menghancurkan seluruh kista dan meringankan kejang sampai 45%. Diberikan secara simultan dengan deksametason (0,1 mg/kg/han minimal selama minggu pertama terapi Pilihan lain adalah praziquantel (25 mg/kg 3 kali sehari, oral, dengan interval 2 jam atau dosis standar (50-100 mg/kg/har: selama 15 hari). Eflkasi dosis tungga. lebih baik pada penderita dengan kista tunggal atau kista sedikit, namun

kurang bennanfaat bila jumlah kistanya banyak. 613 1 ' Neurosistiserkosis Subarakhnoid Dosis optimal dan durasi terapi anti parasitik jenis ini belum ada. Penggunaan albendazol pada sistiserki raksasa (15 mg kg/'hari selama 4 minggu) menunjukkan hasil yang baik. Mcskipun bcgitu, diperlukan beberapa kali pengulangan pengobatan (satu kali siklus tidak eukup). Dosis anti radang yang digunakan juga belum di-tetapkan, dapat digunakan prednison (60 1 (mg/hari selama 10 hari) dan tappering op 5 mg/hari setiap 5 hari." Komplikasi Serebrovaskular. Untuk komplikasi serebrovaskular, belum di-tetapkan standar penatalaksanaan. Saat ini pengobatan diberikan bersama kortikosteroid untuk mengurangi peradangan (deksametason 16-24 mg/hari pada kondisi akut, dan prednison oral 1 mg/kg/hari untuk jangka panjang). Evaluasi dilakukan dengan pemeriksaan doppler transkranial untuk memantau terapi kortikosteroid. Semen-tara itu, penggunaan obat neuroprotektif belum jelas manfaatnya.'" Pengobatan Taeniasis. Pengobatan yang adekuat terhadap cacing pita penting untuk menghentikan transmisi sistiserkosis. Taenia solium dapat diobati dengan niklosamid dosis tunggal (2 gram) atau praziquantel (5 mg/kg). Niklosamid merupakan obat pilihan karena tidak diabsorbsi

Bab 1. Helmintologi

24

ifciit -__ r a dapat menghindarkan dari .< a ncurologi bila pasien juga in,. - _. _ :a neurosistiscrkosis. Terapi kedua. .niliki efektifitas lebih dari 95%, . - ,.n belum ada penelitian lebih lanjut. ".rikasi kesembuhan adalah dengan . . "ukannya skoleks setelah pengobatan, -"."ia skoleks yang tersisa dapat tumbuh "'->ali dalam jangka waktu 2 bulan. Hal aapat dilakukan dengan penggunaan :.itive osmotik sebclum dan sesudah -. - eobatan.' Cacing Pita ^ane Kurang Penting di Indonesia Hymenolepis Nana (dwarf tapeworm) vjarah Spesies ini ditemukan oleh Bilharz - - L i tahun 1851 dalam usus halus seorang asli di Kairo. Grasee dan Rovcll 5 v> 7 '" . 1892), pertama kali memperkenal-daur hidup yang tidak mempunyai oes perantara. H >spes dan Nama Penyakit Hospesnya adalah manusia dan tikus. -.:ng ini menyebabkan penyakit hime--jpiasis. J stribusi Geografik Penyebarannya kosmopolit, lebih ak didapat di daerah dengan iklim _r.as daripada iklim dingin dan juga . .:nukan di Indonesia. Morfologi dan Daur Hidup

Dari golongan Cestoda yang ditemukan pada manusia, cacing ini mempunyai ukuran terkecil. Panjangnya 25-40 mm dan lebarnya 1 mm. Ukuran strobila biasanya berbanding terbalik dengan jumlah cacing yang ada dalam hospes. Skoleks berbentuk bulat kecil, mempunyai 4 buah batil isap dan rostelum yang pendek dan berkaitkait. Bagian leher panjang dan halus. Strobila dimulai dengan proglotid imatur yang sangat pendek dan sempit, lebih ke distal menjadi lebih lebar dan luas. Pada ujung distal strobila membulat. Telur keluar dari proglotid paling distal yang hancur. Bentuknya lonjong, ukurannya 30-47 mikron, mempunyai lapisan yang jernih dan lapisan dalam yang mengelilingi sebuah onkosfer dengan penebalan pada kedua kutub. Dari masingmasing kutub keluar 4-8 filamen. Dalam onkosfer terdapat 3 pasang duri (kait) yang berbentuk lanset. Cacing dewasa hidup dalam usus halus untuk beberapa minggu. Proglotid gravid melepaskan diri dari badan, telurnya dapat ditemukan dalam tinja. Cacing ini tidak memerlukan hospes perantara. Bila telur tertelan kembali oleh manusia atau tikus, maka di rongga usus halus telur menetas. larva keluar dan masuk ke selaput lendir usus halus dan membentuk larva sistiserkoid, kemudian keluar ke rongga usus dan menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu atau lebih. Pada infeksi percobaan, berbagai pinjal dan kutu beras dapat menularkan murine strain.

25

Parasitologi Kedoktera.ii

Orang dewasa kurang rentan diban-dingkan dengan anak. Kadangkadang telur dapat menetas di rongga usus halus se-belum dilepaskan bersama tinja. Keadaan ini disebut autoinfeksi interna. Hal ini memberi kemungkinan terjadi infeksi berat sekali yang disebut hiperinfeksi, sehingga cacing dewasa dapat mencapai 2000 ekor pada seorang penderita. Cacing dewasa embrio dalam usus halus Tetap dalam usus Telur berisi >^ Keluar bersama

semu-cacing dapat dikeluarkan dan sistiserkoic masih ada di mukosa usus. Prognosis Prognosis baik, tetapi diperlukar pengobatan yang lama. Patologi dan Gejala Klinis H. nana biasanya tidak menyebabkan gejala. Jumlah yang besar dari cacing yang menempel di dinding usus halus menimbulkan iri'tasi mukosa usus. Ke-lainan yang sering timbul adalah toksemia umum karena penyerapan sisa metabolit parasit masuk ke dalam sistem peredaran darah penderita. Pada anak kecil dengan infeksi berat, cacing ini kadang-kadang Epidemiologi H. nana tidak memerlukan hospe^ perantara. Infeksi kebanyakan terjac secara langsung dari tangan ke mulut. Ha ini sering terjadi pada anak-anak umur 1: tahun ke bawah. Kontaminasi dengan tinja tikus perl, mendapat perhatian. Infeksi pada manusia selalu disebab-kan oleh telur yang tertelan dari benda-

tinja Termakan \ Skoleks melekat menetas pada mukosa usus vilus rnanusia / Onkosfer dan menernbus

Sitiserkoid peeah *+ Sistiserkoid masuk kc rongga usus Bagan 3. Daur Hidup Hymenolepis Nana menyebabkan keluhan neurologi yan^ gawat, mengalami sakit perut dengan ata. tanpa diare, kejangkejang, sukar tidu-dan pusing. Eosinofilia sebesar 8-16 Sakit perut, diare, obstipasi dan anoreksimerupakan gejala ringan. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja. Pengobatan Obat yang efektif adalah prazikuante dan niklosamid, tetapi saat ini oba:-obat tersebut sulit didapat di Indonesia Obat yang efektif adalah amodiakuin Hiperinfeksi sulit diobati, tidak

da yang terkena tanah, dari tempat rig air atau langsung dari anus ke ut. Kebersihan perorangan terutama a keluarga besar dan di perumahan :i asuhan harus diutamakan. Hymenolepis diminuta spes Tikus dan manusia hospes :ng ini. tribusi Geografik Penyebaran kosmopolit, Indonesia a cacing ditemukan ini di merupakan

maka a menjadi cacing dewasa di rongga - nalus. Patologi dan Gejala Klinis Parasit ini tidak menimbulkan gejala. Infeksi biasanya secara kebetulan saja. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan mencmukan telurnya dalam tinja. Sekali-sekali cacing dapat keluar secara spontan setelah purgasi. Pengobatan Prazikuantel yang efektif. Epidemiologi Hospes definitif mendapat infeksi bila hospes perantara yang mengandung parasit tcrtelan secara kebetulan. merupakan obat

rfologi dan Daur Hidup Cacing dewasa berukuran 20-60 cm. eks kecil bulat, mempunyai 4 batil - dan rostelum tanpa kait-kait. Pro-" d gravid lepas dari strobila, mennancur dan telurnya keluar bersama a Telurnya agak bulat, berukuran " g mikron, mempunyai lapisan luar _ jernih dan lapisan dalam yang --elilingi onkosfer dengan penebalan _a 2 kutub, tetapi tanpa filamen. .: sfer mempunyai 6 buah kait. facing dewasa hidup di rongga usus Hospes perantaranya adalah serangga _ra pinjal dan kumbang tepung. Dalam a'., telur berubah menjadi larva sisti- ::d. Bila serangga dengan sistiser-: ".ertelan oleh hospes definitif

Dipylidium caninum Hospes Anjing dan manusia hospes cacing ini. Distribusi Geografik Penyebaran cacing ini kosmopolit. Morfologi dan Daur Hidup Panjang cacing ini kira-kira 25 cm. Skoleks kecil, berbentuk jajaran genjang, mempunyai 4 batil isap dan rostelum dengan kait-kait. Leher cacing pendek dan langsing. Bentuk adalah

proglotid seperti tempayan. Tiap proglotid mempunyai dua

28

Parasitologi Kedokteran

perangkat alat kelamin. Telur biasanya berkelompok di dalam satu kapsul yang berisi 15-25 butir telur. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus. Bila telur tertelan pinjal anjing. maka terbentuk sistiserkoid yang tumbuh menjadi dewasa di usus halus hospes definitif. Patologi dan Gejala Klinis Parasit ini tidak menimbulkan gejala. Diagnosis Diagnosis ditcgakkan dengan mene-mukan proglotid yang bergerak aktif atau mcnemukan kapsul telur dalam tinja. Pengobatan Prazikuantel dan prazikuantel merupakan obat yang efektif. Epidemiologi Sebagian besar penderita adalah anak. Infeksi ini kebanyakan terjadi karena bergaul erat dengan anjing sebagai binatang pcliharaan. Daftar Pustaka 11. Ogilvie CM, Kastcn P. Rovinsky D, Workman KL, Johnston JO. Cysticercosis of the triceps an unusual pseudotumor: case report and review. Clin Orthop Relat Res 2001 Jan;382:217-21. 12. Fragoso G, Lamoyi E, Mellor A, Lomeli C, Hernandez M, Sciutto E. Increased resistance to Taenia crassiceps murine cysticercosis in Qa-1 transgenic mice. Inf &lm 1998 Feb:760-4. 13. White AC. Neurocysticercosis: A major cau>-. of neurological disease worldwide. Clin Ir" Dis 1997;24:101-5. 14. Takayanagui OM, Chimclli L. Disseminate^ muscular cysticercosis with myositis induce; by praziquantel therapy. Am J Trop Med U\. 1998:59(6):

1002-3. 15. Garcia MDLG, Torres M, Corrca D, Flisscr A Sosalechuga A, Velasco O, et al. Prevalent, and risk of cysticercosis and taeniasis in a: urban population of soldiers and their relative-Am J Trop Med Hyg 1999;61 (3):386-9. 16. White AC. Neurocysticercosis. Cur Treat Or in Inf Dis 2000;2:78-87. 17. Galan-Puchades MT. Fuentes MV. The Asia' Taenia and the possibility of cysticcrcosi-Korean J Parasitol 2000 March;38( 1): I7. 18. Wilkins PP, Allan JC, Verastegui V Aeosta M, Eason AG, Garcia HH, ct a Development of a serologic assay to dcte^ Taenia solium taeniasis. Am J Trop Med H\. 1999;60(2): 199-204. 19. Antoniuk S. Epidemiology of neurocw ticercosis. Rev Neurol 1999 Aug 1'-31;29(4);331-4. 20. Garcia HI I, Oilman RH, Gonzales Af Verastegui M, Rodriguez S, Gavidia C, et a Hypcrcndcmic human and porcine Taen:. solium infection in Peru. Am J Trop Med H\. 2000;68(3):268-5. 21. Singh O, Prabhakar, editor. Taenia Soliur Cysticercosis: From Basic to Clinical Scieiua 2002. Walingford: CABI Publishing. 22. Wandra T, Subahar R, Simanjuntak G.V Margono SS, Suroso T, Okamoto M, el a. Resurgence of cases of epileptic seizure-and burns associated with cyslicercos: in Assologaima, Jayawijaya, Irian Ja\_ Indonesia, 1991-95. Trans Roy Soc Trop Me; Hyg 2000;94:46-50. 23. Margono SS, I to A. Sato MO, Okamoto V. Subahar R, Yamasaki II, et al. Taenia soliu:":

Bab I . Helmintologi

29

J. H-._

'. CI a TLWK . cdH;.r Soliucicni.. v CA' . Ct A ei/.ur*ercovMe: V l SollU" :

tacniasis/cysticcrcosis in Papua, Indonesia in 2001: detection of human worm carriers. J Helminth 2003;77:39-42. Garcia HH, Evans CAW, Nash TE, Taka-yanagui OM, White AC, Botero D, et al. Current consensus guidelines for treatment of neurocysticercosis. Clin Microbiol Rev 2002 October; 15(4):747-56. Garcia HH, Del Brutto OH, Nash TE, White AC, Tsang VCW, Gilman RH. New concepts in the diagnosis and management of neurocysticercosis (Taenia solium). AM .1 Imp Med \ lyg 2005;72( 1 ):3-9. Yerastegui M, Gilman RH, Garcia HH, Gonzales AE, Arana Y, Jcri C, et al. Prevalence of antibodies to unique Taenia milium oncosphere antigens in taeniasis and human and porcine cysticercosis. Am J trop Med Hyg 2003;69(4):438-44. Gonzalez AE, Gauci CG, Barber D, Gilman R H, Tsang VCW, Garcia HH,etal. Vaccination of pigs to control human neurocysticercosis. Am J"Trop Med Hyg 2005;72(6):837-9. Echinococcus granulosus uarah Hippocrates, Aretaeus dan Golden ah mengenai gejala klinis penyakit yang -ebabkan oleh kista hidatid. Pada tahun '-h Palbes untuk pertama kali menyata-persamaan hidatid pada manusia dan :.i binatang lain. Infeksi kista hidatid -r.g pertama dibuat diagnosis pada manusia ah di Amerika Serikat pada tahun 1808. t ispes dan Nama Penyakit

Rubah, serigala, anjing (liar maupun . naraan), kucing dan karnivora lainnya :a.ah hospes cacing ini. 12 Manusia di-"ggapi stadium larva Echinococcus dan menimbulkan penyakit yang disebut hidatidosis. Distribusi Geografik Parasit ini ditemukan di Australia Selatan, Afrika, Amerika Selatan, Eropa, Asia Tengah, RRC, Jepang, Filipina dan negara-negara Arab.' IVIorfoIogi dan Daur Hidup Cacing dewasa berukuran 3 - 6 mm, yang melekat pada vilus usus halus anjing dan hospes definitif lainnya. Skoleksnya bulat, dilengkapi 4 batil isap dan rostelum dengan kaitkait dan mempunyai leher. Cacing ini hanya mempunyai 1 proglotid imatur, 1 proglotid matur dan 1 proglotid gravid. Proglotid terminal adalah paling lebar dan paling panjang. Telur dikeluarkan bersama tinja anjing atau karnivora lainnya. Bila telur tertelan oleh hospes perantara yang sesuai seperti kambing, domba, babi, onta, dan manusia, maka telur menetas di rongga duodenum dan embrio yang dikeluarkan menembus dinding usus, masuk ke saluran limfe dan peredaran darah kemudian dibawa ke alat-alat lain dalam tubuh, terutama hati, paru, otak, ginjal, limpa, otot, tulang dan lain-lain. Di dalam alat-alat itu terbentuk kista hidatid. Ukurannya dapat mencapai sebesar buah kelapa dalam jangka waktu 10-20 tahun/Bila kista termakan anjing, maka di usus halus menjadi cacing dewasa. Cara infeksi adalah dengan menelan telur. Telur cacing dapat bertahan hidup sampai 7

Bab I . Helmintologi

30

bulan pada suhu sedang dan kondisi lembab. Di air dan pasir yang lembab

31

Parasito/ogi Kedokteran

dengan suhu sekitar 30C, dapat hidup selama 3 minggu, 225 hari di suhu 6C, 32 hari di suhu 10-21C, namun dalam kondisi kering dan terkena sinar matahari langsung, telur hanya mampu bertahan sebentar (Gambar 15). Patologi dan Gejala Klinis Kista E. granulosus tumbuh perlahan, sehingga pasien dapat mengalami masa terinfeksi tanpa gejala. Gejala baru akan timbul ketika terjadi beberapa hal, antara lain: (1) desakan kista hidatid, (2) cairan kista yang dapat menimbulkan reaksi alergi, (3) pecahnya kista, sehingga cairan kista masuk peredaran darah dan menimbulkan syok anafilaktik yang dapat mengakibatkan kematian. Gejala tersebut juga dipengaruhi oleh letak dan ukuran kista. Diagnosis Saat ini diagnosis dilakukan dengan tes pencitraan dan uji serologi. Tes pen-citraan dengan memanfaatkan pemeriksaan radiologi, ultrasonografi, CT scan, MRI. Tes serologi dengan EL ISA, imunofluo-resensi indirek, serta imunoelektroforesis dan imunoblot. Pemeriksaan hemaglutinasi indirek, fiksasi komplemcn dan aglutinasi lateks sudah jarang dilakukan. Walaupun biopsi kadang-kadang masih dilakukan, risiko pecahnya kista menjadi kerugian metode ini. Pengobatan Berbagai macam terapi untuk kista ekhinokokosis di hati terdiri atas pem-bedahan dan nonbedah. Selama berpuluh tahun, pembedahan merupakan cara yang direkomendasikan. Saat ini, dengan ter-sedianya kemoterapi yang ampuh terhadap E. granulosus, memungkinkan dilakukan-nya drainase perkutaneus kista hidatic dipandu USG atau CT (puncture, aspirasi. injeksi, reaspirasi/PAIR). Intervensi pra dan pasca kemoterapi

dengan albendazol atau mebendazol memberikan manfaa: mengurangi risiko rekurens atau infeks intraperitoneal akibat kista yang pecah atau tumpah spontan atau saat pembedahan atau drainase dengan jarum. Prognosis Prognosis baik pada tipe unilokule: bila kista dapat dioperasi dan diangka: tanpa cairan kista atau hydatid sain: keluar di rongga yang dioperasi. Epidemiologi Hidatidosis penting di daerah dengar. ternak domba dan yang berhubungan era: dengan anjing, misalnya di Belanda dan Selandia Baru. Akibat hidatidosis terhadap sosk ekonomi dinilai dari konsekuensi pada manusia dan hewan, biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang dihasilkan dar program kontrol. Echinococcus alveolaris Sejarah Lebih dari satu abad yang lalu banyak ahli patologi, antara lain Virchow (1855 melihat kista hidatid pada autopsi dengar morfologi yang berbeda dari tipe kista unilokularis. Tahun 1863 Leuckart menentukan variasi ini sebagai Taenia echi-nococcus multilocularis dan tahun 1883 Klemm menyebutnya sebagai E.alveolaris. Hospes Rubah, serigala, anjing (liar maupun peliharaan), kucing dan karnivora lainnya adalah hospes cacing ini.

32

Parasito/ogi Kedokteran

Distribusi Geografik Penyebaran cacing ini sampai di Balkan, Rusia, Siberia, China, Jepang, Alaska, Australia, Selandia Baru. Di Indonesia parasit ini tidak ditemukan. 4
6 7 8 4

organ-organ lain, ju_. sering didiagnosis sebagai kanker hati.WHO mendesain sistem klasifika-klinis sebagai PNM (P^ massa paray N= keterlibatan organ lain, M= Metastasis dan terdiri dari stadium I-IV." Pengobatan Pengobatan dengan albendazol at., mcbendazol dilakukan untuk membum." parasit dan membiarkan absorpsi yar. perlahan-lahan. Pada pejamu definit dapat diberikan prazikuantel yang ma> efektif untuk membunuh cacing muc. dan dewasa. Prognosis Walaupun infeksi cacing ini leb jarang, bila tidak dilakukan pengobatr yang adekuat atau mencukupi akan fa:, pada 70-100% penderita. Prognosis bur.-dengan keadaan yang bertingkat-tingk.

Morfologi dan Daur Hidup Cacing ini mempunyai bentuk sama dengan E. granulosus, tetapi ukurannya lebih kecil, yaitu 1,2-4,5 mm. Jumlah segmen proglotidnya bervariasi 2-6, namun kebanyakan ditemukan memiliki 4-5 segmen proglotid. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus anjing yang mendapat infeksi bila memakan binatang pengerat. Hospes peran-taranya adalah mencit ladang dan tupai tanah yang mendapat infeksi bila menelan telur dari tinja anjing. Dalam tubuh hospes perantara termasuk juga manusia, tumbuh larva yang disebut kista hidatid. Kista ini berbeda dengan kista hidatid cacing E.granulosus, karena dapat me-nyebar ke alat dalam lainnya. Telur cacing dapat bertahan sampai suhu -50 C. Patologi dan Gejala Klinis Kista hidatid tumbuh seperti turn ganas. Skoleks tersebar ke seluruh tub_ sehingga gejalanya lebih berat dar-pada hidatidosis yang disebabkan ok" E.granulosus. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan tes im. nologi, menggunakan koproantigen ELIS dan kopro-DNA dengan PCR. Pemeriksa_" dapat dilakukan pada pejamu post morh maupun intra vitam, dan juga dap. menggunakan sampel tinja." Seringku ditemukan sebagai lesi di hati, dan karc terjadi infiltrasi ke

Bab 3 3 . Helmintologi

99

Bagan 4. granulosus

Daur

Hidup

Echinococcus

- .1 sifat infeksinya yang menyebar -Pada pengobatan jangka panjang antihelmintik, angka harapan . r .:'i 10 tahun pada pasien dapat menjadi

Bab 3 4 . Helmintologi anjing. Multiceps spp.

99

: Jemiologi feksi dapat dicegah dengan mengkontak dengan tinja anjing, ter-- : pada anak-anak. Upaya control ..".gan juga dilakukan dengan umpan r diberikan antihelmintik terhadap r liar, regulasi kepemilikan anjing, " rromosi pola hidup rendah risiko - .-an untuk manusia dan

Hospes dan nama penyakit Anjing dan karnivora lain adalah hospes parasit ini. Penyakit pada manusia disebut senurosis (eoenurosis). Distribusi geografik Penyebaran parasit ini kosmopolit, terutama di negeri yang banyak peternakan dombanya. Morfologi dan daur hidup Cacing dewasa berukuran 40-60 cm,

Bab 3 5 . Helmintologi

99