Anda di halaman 1dari 10

BAB 3 PEMBAHASAN

Kasus: Tn M (22 tahun) datang ke UGD dengan keluhan nyeri perut, anoreksia, mual, dan demam ringan. Nyeri dimulai di wilayah pertengahan perut 6 jam yang lalu dan sekarang dalam kuadran kanan bawah perut. Nyerinya stabil dan diperburuk oleh batuk. Pemeriksaan fisik mengungkapkan demam ringan (38 C), nyeri pada palpasi pada kuadran kanan bawah (tanda McBurney), dan leukositosis (12.000/mikroliter) dengan neutrofil 85%. Setelah diperiksa lebih lanjut, direncanakan untuk dilakukan operasi appendectomy segera karena ditemukan terjadi peritonitis. Sebagai perawat di ruang bedah, perawat harus mampu mengelola asuhan keperawatan perioperatif.

Appendisitis merupakan suatu peradangan pada appendiks vermiform yang bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti fekalit dan hyperplasia jaringan limfoid. Manifestasi klinis yang paling umum yang ditunjukkan oleh penderita appendisitis adalah nyeri perut, nausea dan muntah, nyeri tekan yang dalam, dan demam ringan. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Tn M. Nyeri perut pada penderita appendisitis dapat diawali pada bagian atas perut, atau di bagian pertengahan perut seperti yang dialami Tn M. Nyeri ini kemungkinan disebabkan oleh peristaltik appendiks yang berlebihan yang dirangsang oleh obstruksi lumen appendiks. Beberapa jam kemudian, nyeri akan berpindah ke kuadran kanan bawah perut. Nyeri ini juga dapat diperburuk dengan keadaan-keadaan tertentu seperti bergerak, berjalan, ataupun batuk. Ketika dipalpasi, seseorang dengan appendisitis memang akan merasakan nyeri pada suatu titik yang disebut titik McBurney. Rasa nyeri ini akan membuat seseorang dengan appendisitis merasa mual dan tidak nafsu makan, atau bahkan hingga muntah. Pada kasus Tn M ditemukan pula leukositosis yaitu peningkatan jumlah leukosit, yang menandakan

bahwa telah terjadi komplikasi yaitu peritonitis. Peritonitis adalah infeksi yang sangat berbahaya karena bakteri dapat masuk ke dalam abdomen.

3.1 Rencana Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Apendisitis 3.1.1. Pengkajian Data Subjektif Klien mengeluh nyeri perut, anoreksia, mual, demam Data Objektif Nyeri pada palpasi kuadran kanan bawah perut Nyeri stabil dan diperburuk dengan batuk Suhu 38oC Leukosit 12.000/mikroliter Neutrofil 85% Masalah Keperawatan Nyeri akut Ketidakefektifan bersihan jalan nafas Risiko infeksi

1. Data Dasar a. Identitas Identitas digunakan untuk memudahkan mengenal dan membandingkan antara klien yang satu dengan klien yang lain. Identitas klien meliputi : Umur Jenis kelamin Pendidikan Agama Pekerjaan Alamat Tanggal masuk rumah sakit Diagnose medis

b. Riwayat penyakit sekarang Hal ini meliputi apa yg dirasakanklien. Kapan awal gejala dirasakan klien, keluhan saat timbul nyeri, secara bertahap atau mendadak di bagaian perut kanan bawah. c. Riwayat penyakit terdahulu meliputi penyakit yang berhubungan dengan penyakit sekarang, riwayat kecelakaan, riwayat dirawat di rumah sakit dan riwayat pemakaian obat. d. Riwayat kesehatan keluarga yang mempunyai riwayat penyakit turunan seperti DM, asma, janutng, dan penyakit ginjal. e. Riwayat kesehatan keluarga yang meliputi koping, bagaimana mekanisme koping yang digunakan klien untuk mengatasi masalah dan bagaimana besarnya motivasi kesembuhan dan cara klien menerima keadaannya. f. Kebiasaan sehari-hari meliputi pola nutrisi, eliminasi, personal hygiene, istirahat, aktivitas dan latihan serta kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan. 2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik, dilakukan 4 tehnik pada bagian abdomen, yakni inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Inspeksi: pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut. Palpasi: pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah

dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). Auskultasi: peristaltik usus dan suara bertambah keras. Perkusi: mengetuk jari di atas perut.

Teknik lainnya adalah dengan melakuan : Pemeriksaan colok dubur : pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika. 3. Pemeriksaan penunjang Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.

Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CTscan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum.

3.1.2. Diagnosa, Kriteria Evaluasi, dan Intervensi Keperawatan Diagnosa Keperawatan: risiko kekurangan volume cairan b.d anoreksia DS: klien mengeluh anoreksia dan mual DO: Tujuan: pasien akan 1. Memiliki asupan cairan oral dan/atau intravena yang adekuat 2. Menampilkan hidrasi yang baik Intervensi Mandiri; Monitor tekanan darah dan nadi Rasional

Membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravskular atau perubahan pada TTV yang mengindikasikan adanya respon imun terhadap reaksi inflamasi Merupakan indicator terhadap sirkulasi perifer dan hidrasi seluler Mengurangi risiko iritasi lambung dan muntah untuk meminimalisasi kehilangan cairan

Inspeksi membran mukosa

Berikan cairan oral dalam jumlah sedikit jika

Kolaborasi; Terapi IV

Mengatur dan mencegah komplikasi akibat perubahan kadar cairan dan elektrolit

Diagnosa Keperawatan: nyeri akut b.d. distensi jaringan usus yang disebabkan oleh inflamasi DS: klien mengeluh nyeri perut DO: Nyeri pada palpasi kuadran kanan bawah perut (tanda Mc Burney) Tujuan/kriteria evaluasi: Pasien akan 1. Melaporkan tingkat nyeri 2. Memperlihatkan teknik relaksasi yang efekf hingga mencapai kenyamanan 3. Mempertahankan selera makan yang baik

Intervensi 1. Manajemen nyeri Mandiri; Mengkaji lokasi, karakteristik, skala nyeri (0-10).

Rasional

Berguna dalam hal memonitor keefektifan dari obat yang diberikan serta kemajuan dari penyembuhan. Perubahan karakteristik nyeri kemungkinan mengindikasikan perkembangan abses atau peritonitis, hal ini membutuhkan tindakan sesegera mungkin. Menginformasikan keadaan klien yang sebenarnya dapat memberikan emotional support, serta membantu mengurangi kecemasan klien Melokalisasi eksudat radang ke abdomen bagian bawah atau pelvis karena adanya gaya grafitasi, mengurangi tekanan abdomen yang dapat disebabkan karena posisi supinasi Mengalihkan fokus klien, membantu relaksasi dan juga dapat meningkatkan kemampuan koping positif

Informasikan keadaan klien dengan jujur

Istirahatkan klien dalam posisi semifowler

Ajarkan klien teknik distraksi

Kolaboratif; Pemberian analgesik Mengurang nyeri menggunakan agen-agen farmakologi agar dapat membantu tindakan terapeutik lainnya Mengurangi rasa nyeri dengan menenagkan ujung saraf. (jangan memberikan kompres panas karena dapat menyebabkan kongesti jaringan dan meningkatkan pembentukan edema.

Berikan kompres es secara periodik selama 24 sampai 48 jam

Diagnosa Keperawatan: mual b.d. nyeri akut DS: klien mengeluh mual DO: batuk tidak efektif Tujuan: 1. Mual akan berkurang yang dibuktikan oleh selera makan dan tingkat kenyamanan yang membaik 2. Tidak memperlihatkan efek gangguan mual yang dibuktikan dengan tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan 3. Melaporkan terbebas dari mual 4. Mengidentifikasi dan melakukan tindakan yang dapat menurunkan mual

Mandiri; Manajemen mual Hindari benda-benda yang menimbulkan aroma Hindari benda-benda yang menimbulkan aroma, Perhatikan kebersihan klien ketika terjadi muntah; Aroma bisa memicu terjadinya mual

Ubah posisi klien; tinggikan kepala Mencegah terjadinya aspirasi

Kolaborasi; Berikan obat antiemetik sesuai anjuran

Terapi IV

Mengatur dan mencegah komplikasi akibat perubahan kadar cairan dan elektrolit

Diagnosa Keperawatan: ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. batuk tidak efektif akibat nyeri akut DS: klien mengeluh nyeri bertambah ketika batuk DO: batuk tidak efektif Tujuan: pasien akan.. 1. Menunjukkan batuk efektif ditandai dengan pengeluaran sputum yanf efektif 2. Menunjukkan kenyamanan Intervensi Mandiri; Pengelolaan jalan nafas; Ubah posisi klien Auskultasi bagian dada Kaji pola nafas Catat tipe dan jumlah secret yang dikumpulkan Rasional

Fasilitas untuk kepatenan jalan udara

Kolaborasi; Lakukan Suction bila diindikasikan Membantu pengeluaran sekret, jika pasien tidak dapat batuk efektif

3.2 Tindakan Keperawatan Operatif 3.2.1. Tindakan Pre-operatif 3.2.2. Tindakan Intra-operatif

3.2.3. Tindakan Pasca-operatif Observasi tanda-tanda vital Angkat sonde lambung jika pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dengan posisi semi fowler. Pasien dikatakan baik jika dalam waktu 12 jam tidak terjadi gangguan selama pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar atau terjadi perforasi, puasa akan dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal. Berikan minum mulai dari 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya berikan makanan lunak. Satu hari pascaoperasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit. Pada hari kedua setelah operasi, pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ketiga atau keempat, pasien diijinkan pulang. Hari ketujuh setelah operasi, jahitan dapat diangkat.

Referensi Cameron. John L. (1997). Terapi Bedah Mutakhir. Jakarta:Binarupa Aksara Rahmadina. Analisis Cost Effectiveness Penggunaan Antibiotika Pada Terapi Profilaksis Apendektomi Di Bangsal Bedah Rsup Dr.M. Djamil Padang. (http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2011/09/ARTIKEL8.pdf). Diunduh pada Jumat, 22 Maret 2013 pukul 21.05 Yusrizal. (2012). Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Dan Masase Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pada Pasien Pasca Apendiktomi Di Ruangan Bedah Rsud Dr. M. Zein Painan Tahun 2012.

(http://repository.unand.ac.id/17872/1/YUSRIZAL.pdf). Diunduh pada Jumat, 22 Maret 2013 pukul 21.25