Anda di halaman 1dari 16

KONSEP DASAR MEDIK A.

Definisi Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dengan usia gestasi kurang dari 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram (Murray, 2002). Abortus dapat menimbulkan risiko yang tinggi bagi ibu baik risiko fisik maupun psikologis. Wanita yang mengalami abortus spontan cenderung akan mengalami risiko tinggi gangguan kejiwaan pasca abortus, wanita pasca abortus biasanya mengalami gangguan kejiwaan yang disebut dengan sindroma pasca abortus (post abortion syndrome) (WHO, 1998).

B. Etiologi Kemungkinan abortus adalah : 1. Ketidak seimbangan endokrin ibu dengan defek fase luteal atau diabetes tergantung insulin disertai peningkatan kadar gula darah dan hemoglobin A1C pada trimester pertama mengalami peningkatan resiko bermakna untuk mengalami abortus spontan. 2. Infeksi sistemik dan infeksi endometrium disebabkan oleh rubella, sitomegalovirus, herpes genital aktif, toksoplasmosis, dan Mycoplasma. 3. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi : kelainan kromosom, lingkungan nidasi kurang sempurnah dan pengaruh luar. 4. Gangguan sistemik misalnya, lupus erimatosusu. 5. Faktor genetik 6. Pemakaian kokain. 7. Kelainan plasenta.

C. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis, kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus.

Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 mingu, hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan selurunya karena vili korialis belum menembus desidua secara mendalam pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi konialis menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas, umumnya yang dikelaurkan setelah ketuban pecah adalah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum), janin lahir mati, janin masih hidup, molakruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

D. Gambaran Klinik 1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu. 2. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum tampak lemah, kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat. 3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi. 4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus. 5. Pemeriksaan ginekologi : a. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva. b. Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus.

E. Tanda dan Gejala 1. Perdarahan

Perdarahan adalah tanda yang paling umum. Perdarahan yang terjadi bisa hanya berupa bercak-bercak yang berlangsung lama sampai perdarahan hebat. Kadangkadang terdapat bagian jaringan yang robek yang ikut keluar bersamaan dengan darah. Misalnya, bagian dari jaringan dinding rahim yang terkoyak atau kantung ketuban yang robek. 2.

Kram atau kejang perut. Tanda ini rasanya mirip seperti kram perut pada awal datang bulan. Biasanya kram ini berlangsung berulang-ulang dalam periode waktu yang lama. Kram atau kejang juga dapat terjadi di daerah panggul

3. Nyeri pada bagian bawah perut.

Rasa nyeri pada bagian bawah perut terjadi dalam waktu cukup lama. Selain di sekitar perut, rasa sakit juga dapat terjadi di bagian bawah panggul, selangkangan, dan daerah alat kelamin. Nyeri ini terjadi dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah muncul gejala perdarahan.
4. Besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. 5. Keluar gumpalan darah. 6. Demam.

F. Klasifikasi 1. Abortus iminens adalah peristiwa perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, saat hasil konsepsi masih dalam uterus tanpa adanya dilatasi serviks. 2. Abortus insipidien adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uterus yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. 3. Abortus inkomopletus adalah pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih adanya sisa yang tertinggal dalam uterus. 4. Abortus kompletus adalah abortus yang hasil konsepsinya sudah dikeluarkan. 5. Abortus servikalis adalah keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uterus ekstermun yang tidak membuak, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis uterus menjadi besar, kurang lebih bundar dinding menipis. dengan

6. Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. 7. Abortus habitualis adalah abortus yang berulang dengan frekuensi lebih dari 3 kali. 8. Abortus septic abortus infeksius berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum.

G. Pemeriksaan Diagnostik 1. 2. 3. 4. 5. Test HCG Urine : Indikator kehamilan positif Ultra Sonografi : Kondisi janin/cavum uteri terdapat janin/sisa janin Kadar Hematocrit/Ht : Status Hemodinamika menurun (< 35 mg%) Kadar Hemoglobin : Status Hemodinamika menurun (< 10 mg%) Kadar SDP : Resiko Infeksi meningkat (>10.000 U/dl) Kultur : Kuman spesifik ditemukan.

6.

Pemeriksaan Ginekologi 1. Inspeksi Vulva Perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva. 2. Inspekulo Perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. 3. Colok vagina Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

H. Komplikasi a. Perdarahan (haemorrogrie).

b. Perforasi. c. Infeksi dan tetanus. d. Payah ginjal akut. e. Syok, yang disebabkan oleh syok hemoreagrie (perdarahan yang banyak) dan syok septik atau endoseptik (infeksi berat atau septis). f. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah.

I. Penatalaksanaan

Tipe Abortus Iminens

Penatalaksanaan Tirah baring, sedasi, dan menghindari stress dan orgasme adalah tindakan yang direkomendasikan. Pengobatan selanjutnya bergantung kepada respon wanita terhadap pengobatan.

Insipiens

Terminasi kehamilan segera dilakukan, biasanya dengan kuret atau dilatasi

Komplet

Mungkin tidak perlu ada intervensi jika kontraksi cukup kuat untuk menahan perdarahan dan jika tidak ada infeksi. 1. Kuretase terencana, atau jika perdarahan banyak, kuret emergensi sambil perbaiki keadaan umum.

Inkomplit

2. Berikan uterotonika setelah kuretase.

3. Antibiotik diberikan setelah kuretase 1. Mengobati kelainan endometrium sebelum konsepsi lebih besar hasilnya dari pada setelah konsepsi. 2. Merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau
Habitualis

dihentikan. 3. Pada sreviks inkompeten terapinya adalah operasi:

SHIRODKAR atau MC DONALD (cervical cerlage).


Missed Jika evakuasi spontan tidak terjadi dalam satu bulan, kehamilan diterminasi dengan cara yang sesuai dengan usia kehamilan.

Faktor-faktor pembekuan darah dipantau sampai rahim kosong. Bila terjadi DIC dan gangguan pembekuan darah disertai perdarahan yang tidak bisa dikendalikan pada kasus kematian janin setelah minggu ke 12 jika produk konsepsi tertahan lebih dari lima minggu Terminasi kehamilan segera denganmetode yang sesuai untuk usia kehamilan. Septik Pemeriksaan biakan dan sensitivitas serviks dilakukan dan terapi antibiotik spektrum luas dimulai. Pengobatan syok septik juga dimulai, jika perlu.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Data Dasar Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji adalah : 1. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama,

umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat.
2. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan

pervaginam berulang.
3. Riwayat kesehatan, yang terdiri dari : a. Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke

Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
b. Riwayat kesehatan masa lalu c. Riwayat kesehatan keluargnya dalam 3 generasi.

Jika selama kehamilan ditemukan perdarahan, identifikasi : 1. Lama kehamilan. 2. Kapan terjadi perdarahan, berapa lama, banyaknya, dan aktifitas yang mempengaruhi. 3. Karakteristik darah : merah terang, kecoklatan, adanya gumpalan darah, dan lendir. 4. Sifat dan lokasi ketidak nyamanan seperti kejang, nyeri tumpul atau tajan, mulas, serta pusing. 5. Gejala-gejala hipovilemia seperti sinkop.

Pemeriksaan fisik 1. Inspeksi : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa

tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya 2. Palpasi : a. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. b. Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. c. Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal 3. Perkusi a. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. b. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak 4. Auskultasi : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. Tipe Abortus Jumlah perdarahan Kram rahim Jaringan yang keluar Jaringan di vagina Ostium uteri interna Tertutup Ukuran rahim

Iminens

Sedikit

Ringan

Tidak ada

Tidak ada

Sesuai kehamilan

usia

Insipiens

Sedang

Sedang

Tidak ada

Tidak ada

Terbuka

Sesuai kehamilan

usia

Inkomplit

Banya

Berat

Ada

Mungkin ada

Terbuka dengan jaringan dalam serfiks

Lebih dari kehamilan

kecil usia

Komplit

Sedikit

Ringa

Ada

Mungkin ada

Tertutup

Lebih dari

kecil usia

kehamilan. Missed Sedikit Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tertutup Lebih dari kehamilan. Septic Bervariasi: biasanya Bervariasi Bervariasi: Bervariasi: biasanya demam Biasanya terbuka: disertai demam. Sesuai lebih disertai tekan. atau kecil nyeri kecil usia

: biasanya biasanya demam

berbau disertai demam demam.

B. Penyimpangan KDM Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi Oksigenasi plasenta terganggu Toksin, bakteri, virus Kelainan plasenta Infeksi akut Kelainan genetalis traktus

Perdarahan dalam sesidua basalis Nekrosis jaringan sekitar


Villi korialis menembus lebih dalam (8-14 mmg) Villi korialis belum menembus desidua (< 8 mmg)

Hasil konsepsi lepas (aborsi)

Lepas sebagian

Lepas seluruhnya

Kuretase

Perdarahan

MK : Nyeri Resti Infeksi MK : Kurang volume cairan. Perubahan perfusi jaringan, Ketakutan.

C. Diagnosa Keperawatan Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut : 1. Kurang volume cairan b/d kehilangan vaskuler dalam jumlah berlebih. 2. Perubahan perfusi jaringan b/d hipovilemia. 3. Ketakutan b/d ancaman kematian pada diri sendiri dan janin. 4. Nyeri b/d dilatasi serfiks, trauma jaringan, dan kontaksi uterus. 5. Risiko tinggi terjadi infeksi yang b/d penahan hasil konsepsi.

D. Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : kurang volume cairan b/d kehilangan vascular yang berlebihan Kriteria hasil : Mendemostrasikan kestabilan/perbaikan keseimbangan cairan yang dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil, pengisian kapiler cepat, sensorium tepat, serta pengeluaran dan berat jenis urine adekuat secara individual. Rencana Intervensi Mandiri Evaluasi, laporkan, serta catat jumlah dan Perkirakan sifat kehilangan darah, lakukan perhitungan memberikan pembalut, kemudian timbang pembalut. Rasional kehilangan diagnosis. darah membantu gram

Setiap

peningkatan berat pembalut sama dengan kehilangan kira-kira 1 ml darah.

Lakukan tirah baring, instruksikan ibu untuk Perdarahan dapat berhenti dengan reduksi menghindari valsava manufer dan koitus. aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen atau orgasme dapat meransang perdarahan. Catat tanda-tanda vital, pengisian kapiler Membantu menentukan beratnya kehilangan pada dasar kuku, warna membrane mukosa, darah, meskipun sianosis dan perubahan pada atau kulit dan suhu. tekanan darah dan nadi adalah tanda-tanda lanjut kehilangan volume sirkulasi. Hindari pemeriksaan rectal atau vagina. Dapat meningkatkan hemoragi.

Simpan jaringan atau hasil konsepsi yang Dokter perlu mengevaluasi kemungkinan keluar. retensi jaringan, pemeriksaan histology

mungkin diperlukan. Kolaborasi Dapatkan pemeriksaan darah cepat : HDL Menentukan jumlah darah yang hilang dan jenis dan pencocokan silang, titer Rh, kadar dapat memberikan informasi mengenai

fibrinogen, hitung trombosit, APTT, dan penyebab harus dipertahankan di atas 30% kadar LCC. untuk mendukung transport oksigen dan nutrient. Pasang kateter Haluan kurang dari 30 ml/jam menandakan penurunan perfusi ginjal dan kemungkinan terjadinya nekrosis tubuler. Keluaran yang tepat ditentukan oleh derajat divisit

individual dan kecepatan penggantian. Berikan larutan intravena, ekspander plasma, Meningkatkan volume darah sirkulasi dan darah lengkap, atau sel-sel kemasan sesuai mengatasi gejala-gejala syok. indikasi.

Dianosa 2 : perubahan perfusi jaringan b/d hipovilemia Kriteria hasil : perfusi jaringan adekuat dibuktikan dengan denyut jantung janin (DJJ) dalam batas normal Intervensi Mandiri Perhatikan status fisiologi ibu, status Kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan. Kemungkinan menyebabkan Rasional

sirkulasi dan volume darah.

hipovilemia atau hipoksia uteroplasenta. Auskultasi dan laporkan DJJ. Catat Mengkaji berlanjutnya hipoksia janin, pada

bradikardi atau takikardi. Catat perubahan awalnya janin merespon pada penurunan dan aktifitas janin. kadar oksigen dengan takikardi dan

peningkatan gerakan. Bila tetap defisit, bradikardi dan penurunan aktivitas terjadi. Atur tirah baring pada posisi miring. Meningkatkan ketersediaan oksigen pada

janin. Janin mempunyai beberapa kepastian perlengkapan untuk mengatasi hipoksia, dimana disosialisasi Hb janin lebih cepat daripada Hb dewasa dan jumlah etirosit janin lebih besar daro orang dewasa, sehingga kapasitas oksigen yang dibawa janin

mengingkat. Kolaborasi Berikan suplemen oksigen pada ibu. Lakukan Mengevaluasi dengan menggunakan Doppler sesuai jadwal. respon DJJ terhadap gerakan janin,

bermanfaat dalam menentukan apakah janin dalam keadaan afeksia. Bantu dengan ultrasonografi dan Menentukan maturasi janin dan usia gestasi. Membantu menentukan viabilitas dan

amniosintesis.

perkiraan hasil secara realistis. Siapkan ibu dengan intervensi bedah yang Pembedahan perlu dilakukan bila terjadi tepat. pelepasan plasenta yang berat atau bila perdarahan berlebihan, terjadi penyimpanan oksigen janin dan kelahiran melalui vagina tidak mungkin seperti pada kasus plasenta previa total, di mana pembedahan mungkin perlu diindikasikan untuk menyelamatkan hidup janin.

Diagnosa 3 : ketakutan b/d ancaman kematian pada diri sendiri dan janin. Kriteria hasil : ibu mendiskusikan ketakutan mengenai diri janin dan masa depan kehamilan, juga mengenai ketakutan yang sehat dan tidak sehat. Intervensi Mandiri Diskusi tentang situasi dan pemahaman Memberikan tentang situasi dengan ibu dan pasangan. informasi tentang reaksi Rasional

individu yang terjadi.

Pantau respon verbal dan nonverbal ibu dan Menandai tingkat rasa takut yang sedang pasangan. Dengarkan masalah ibu dengan seksama dialami ibu/pasangan. Meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi dan memberikan kesempatan pada ibu untuk mengembangkan solusi sendiri. Berikan informasi dalam bentuk verbal dan Pengetahuan akan membantu ibu untuk tertulis serta berikesempatan klien untuk mengatasi apa yang sedang terjadi dengan mengajukan pertanyaan. lebih efektif. Informasi sebaiknya tertulis, agar nantinya memungkinkan ibu untuk mengulang informasi akibat tingkat stress, ibu mungkin tidak dapat mengasimilasi informasi. Jawaban yang jujur dapat

meningkatkan pemahaman dengan lebih baik serta menurunkan rasa takut. Libatkan ibu dalam perencanaan dan Menjadi mampu melakukan sesuatu untuk

berpartisipasi dalam perawatan sebanyak membantu mengontrol situasi sehingga dapat mungkin. Jelaskan prosedur dan arti gejala menurunkan rasa takut. Pengetahuan dapat membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa

kontrolterhadap situasi.

Diagnosa 4 : nyeri b/d dilatasi serviks, trauma jaringan, dan kontraksi uterus. Kriteria hasil : klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Intervensi Mandiri Kaji kondisi nyeri yang dialami klien. Pengukuran nilai ambang nyeri dapat Rasional

dilakukan dengan skala maupun deskripsi. Penentuan skala nyeri menentukan intervensi berikutnya. Terangkan nyeri yang diderita klien dan Pemberian informasi akan mengurangi

penyebabnya.

kecemasan klien dan mengurangi nyeri. distraksi akan mengurangi

Ajarkan teknik distraksi nyeri : pengalihan Teknik pikiran. Kolaborasi Kolaborasi pemberian analgetika.

ketegangan klien dan mengurangi nyeri.

Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum

luas/spesifik.

Diagnosa 5 : risiko tinggi terjadi infeksi b/d penahanan konsepsi Kriteria hasil : tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan. Intervensi Mandiri Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji jumlah, warna, dan bau. setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi. Terangkan pada klien pentingnya perawatan Infeksi vulva selama masa perdarahan. Lakukan perawatan vulva. dapat timbul akibat kurangnya Rasional

kebersihan genital yang luar (vulva). Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

Terangkan pada klien cara mengidentifikasi Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda inveksi. tanda nonspesifik infeksi; demam dan

peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi. Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan Pengertian pada keluarga sangat penting hubungan perdarahan. senggama selama masa untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan system dapat memperburuk ibu dan kondisi sekaligus

reproduksi

meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Ed. 4. Jakarta : EGC. Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan ed. 3. Jakarta : EGC. Mitayani. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika. Munaroh Arum, dkk. 2012. Abortus Inkomplit. http://id.scribd.com/doc/87609789/abortus2#download (online). Diakses pada 02 Juli 2013, pukul 16.00 WITA Ningtias Ratna, dkk. 2010. Eksplorasi Perasaan Ibu Yang Mengalami Stres Pasca Abortus Spontan Di Rsud Cilacap. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 5, No.3, Nopember 2010.

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&v ed=0CD8QFjAD&url=http%3A%2F%2Fjks.fkik.unsoed.ac.id%2Findex.php%2Fjks% 2Farticle%2Fdownload%2F309%2F157&ei=E2TSUZflF8qzrger44GwBQ&usg=AFQj CNFzQeSsF8Xyi0Gp4YjF70oZglVMIg&sig2=afexXZ3RKLmXAlFbZxbUQ&bvm=b v.48705608,d.bmk. (online). Diakses pada 02 Juli 2013, pukul 16.00 WITA.