Anda di halaman 1dari 12

MUHAMMAD IQBAL DAN POKOK-POKOK

PEMIKIRANNYA
Oleh: Ujang Habibi

Kontribusi gerakan da’wah tidak terlepas dari gagasan pemikiran para


tokoh–tokoh di jamannya. Salah satunya adalah pemikiran M. Iqbal.
Bahkan Perdana Mentri RI pertama Dr. M. Natsir sering menjadikan
gagasan M. Iqbal sebagai ide-ide gerakan da’wah dan politiknya yang
tidak melepaskan antara negara dan agama dalam tempat berbeda.
Gerakan membangkitkan khudi (kepercayaan diri) juga menjadi salah satu
pemikirannya yang banyak dipuji-puji berbagai kalangan. Pemikiran-
pemikiran brilian yang memberikan faedah kepada Izzatul Islam dan kaum
muslimin sesungguhnya tidak akan berhenti pada jamannya saja. Ia akan
selalu aktual jika bersandar pada nilai-nilai universal dari suatu landasan
yang kuat. Dalam hal ini, Islam menjadi landasan dasar yang mampu
menjadikan segala sesuatu tetap terjaga aktualitasnya.

Kata Kunci: intuisi, multidimensional, dinamisme Islam,


imperialisme, reformasi

Pendahuluan
Berbicara masalah Islam dan pemikiran tokoh-tokohnya sungguh akan
memerlukan waktu yang sangat panjang mengingat banyaknya figur dan
aktifitas yang pernah dilakukannya sehingga menghantarkannya menjadi
seorang tokoh, berikut pemikiran-pemikiran yang telah berhasil mengukir
sejarah dan melahirkan peradaban baru bagi ummat Islam. Salah satu tokoh
yang menjadi perhatian para pengkaji adalah Muhammad Iqbal (selanjutnya
ditulis Iqbal), seorang muslim mufakkir brilian asal India. Ketokohannya
dapat dilihat dari ucapan tokoh Masyumi terpopuler sekaligus Perdana
Menteri pertama NKRI, Dr. Mohammad Natsir, di dalam buku
monumentalnya Kapita Selekta. Di sana Natsir mengungkapkan bahwa
Iqbal telah membangkitkan semangat rakyat dengan memompa kepercayaan
diri ('Izza al-Nafs) sambil menyitir sebuah sajak peniggalan Iqbal dengan
tema Khudi (pribadi) sebagai berikut:1

1 M. Natsir, Kapita Selekta 2, Jakarta: PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, 2008, cet. 2,
hal. 138-139
Khudi ko kar buland itna keh har taqdir se pahley
Khuda bandey se khud puchhey bata teri raza kia hai.
Binalah pribadimu demikian hebatnya sehingga sebelum Tuhan
menentukan takdirmu
Dia sendiri akan mengarahkan Tanya padamu: Apakah yang kau
kehendaki sebenarnya.

Biografi Singkat M. Iqbal


Iqbal dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di
perbatasan Punjab Barat dan Kashmir) pada tanggal 9 November 1877/ 2
Dzulqa'dah 12942, dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Meski terlahir dari
keluarga miskin, berkat kecerdasannya dalam memahami ilmu, bantuan
beasiswa ia peroleh dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi.
Iqbal pun mendapatkan pendidikan yang baik. Setelah pendidikan dasarnya
selesai di Sialkot, ia masuk Government College (Sekolah Tinggi
Pemerintah) Lahore. Iqbal tercatat sebagai murid kesayangan dari Sir
Thomas Arnold. Iqbal lulus pada tahun 1897 dan mendapatkan dua medali
emas karena kemampuannya yang baik dalam bahasa Inggris dan Arab,
serta memperoleh beasiswa. Hingga pada tahun 1909, ia mendapatkan gelar
master dalam bidang filsafat.3
Iqbal dilahirkan dari kalangan keluarga yang taat beribadah. Sejak
kecil ia telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah, Syekh
Mohammad Noor dan Muhammad Rafiq kakeknya.4 Pendidikan dasar
sampai tingkat menengah ia selesaikan di Sialkot untuk kemudian
melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore, di Cambridge-Inggris dan
terakhir di Munich-Jerman dengan mengajukan tesis berjudul The
Development Of Metaphysics in Persia. Sekembalinya dari Eropa tahun
1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat menjadi
pengacara.5
Karya-karya Iqbal yang tercatat diantaranya adalah Bang-i-dara
(Genta Lonceng), Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur), Asrar-i-Khudi
(Rahasia-rahasia Diri), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri),

2 Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,Jakarta, Gema
Insani, cet.1, th. 2006, hal.237
3 H.A Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan,
1998, Cet. III hal.174. Lihat juga Azzumardi Azra dan Syafi’i Ma’arif dalam Ensiklopedi
Tokoh Islam, Bandung: Mizan, 2003, hal 256. Musthafa Muhammad Hilmi, Manhâj
'Ulama' al-Hadîts wa al-Sunnah Fî Ushl al-Dîn, Kairo: Dâr Ibn Jauzi, Cet. 1, 2005, hal.
334. Juga pada Ensiklopedi Umum, Jakarta: Penerbit Yayasan Kanisius, 1977, hal. 473
4 Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh, hal.237
5 Ensiklopedi Umum, hal. 473
Jawaid Nama (Kitab Keabadian), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi
Musa), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau
Lakukan Wahai Rakyat Timur?), Musafir Nama, Bal-i-Jibril (Sayap Jibril),
Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz), Devlopment of Metaphyiscs in
Persia, Lectures on the Reconstruction of Religius Thought in Islam -‘Ilm
al-Iqtishâd, A Contibution to the History of Muslim Philosopy, Zabur-
i-'Ajam (Taman Rahasia Baru), Khusal Khan Khattak, dan Rumuz-i-Bekhudi
(Rahasia Peniadaan Diri).6
Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan
bahwa gagasan-gagasannya tersebut lahir tanpa dipengaruhi oleh pemikir-
pemikir sebelumnya. Jika dilihat dari kondisi sosial politik di masanya,
Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini, pemikiran
kaum muslimin di benua India sangat dipengaruhi oleh seorang tokoh
religius, yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi7 dan Sayyid Ahmad Khan8.

6 Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. 1, 2004, hal.
128, Lihat juga RA. Gunadi & M. Shoelhi, Khazanah Orang Besar Islam, Dari Penakluk
Jerusalem Hingga Angkonol, Jakarta: REPUBLIKA, 2002, hal. 162. Robert Gwinn et.al.,
The New Encyclopedia Britannica, The University Of Chicago, Volume 6, Cet. 15, hal. 373.
Juga pada Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, Jakarta: Wedatama Widya Sastra,
2003, hal. 8-9
7 Ia adalah Ahmad bin Abdurrahim bin Wajiduddin bin Mu'azzam bin Ahmad bin
Muhammad bin Qawanuddin al-Dahlan. Ia lahir di Kota dekat Delhi pada tanggal 21
Pebruari 1703 M/ 4 Syawal 1114 H dan wafat pada tanggal 29 Muharram 1176 H/ 10
gustus 1762 dalam usia 61 tahun. Karya tulisnya yang monumental adalah Hujjatullah al-
Balighah. Lihat Ensiklopedi Islam, hal. 185
8 Ia adalah seorang penulis, pemikir dan aktivis politik modernis Islam India. Lahir di
Delhi tahun 1817 M. Di masa pemberontakan tahun 1857, ia termasuk pembesar
India yang menyerukan modernisme ke dalam tubuh masyarakat Islam
khususnya di India. Baginya, sebagaimana diterangkan Prof. Dr. Harun
Nasution bahwa pintu ijtihad terbuka seluas-luasnya dan seseorang tidak
usah terikat dengan penafsiran klasik jika memang tidak sesuai dengan
jamannya. Kebebasan akal adalah faham utama Ahmad Khan sehingga
banyak penafsiran-penafsiran ganjil yang dilakukannya terhadap agama
ini. Ia menda’wahkan tiadanya kemulian atas sunnah Nabi, dan
mengklaim sunnah Nabi kebanyakan diriwayatkan bukan untuk maksud
tasyrî’. Ia bahkan menyudutkan nash-nash al Qur'an dan as Sunnah
dalam masalah sosial, budaya, ekonomi hanya berlaku pada zaman Nabi
saja. Untuk itu ia menolak haramnya bunga bank sebagai riba,
menyatakan tidak wajibnya hukum potong tangan bagi pencuri dan
dapat diganti dengan penjara, menganggap tujuan do’a adalah untuk
meraih kehadiran Tuhan, dan Tuhan tidak melakukan pengabulan atas
do’a. Baginya pula, aturan tentang perbudakan juga tidak ada lagi,
meskipun pada masa perang. Disamping itu Ahmad Khan adalah pemuja
peradaban Barat, bahkan ia mewajibkan kaum muslimin untuk mengikuti
jejak langkah Inggris dan Barat dalam bidang adat-istiadat, pendidikan,
politik dan seluruhnya. Khan lalai bahwa keterpesonaannya pada Barat
sejatinya melupakan bahwa mereka adalah imperialis. Lihat, Majalah Islam
Sabili, Edisi 11 h. XVI, 1429 H, hal. 41 dan Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam:
Kecuali Ahmad Khan, Syah Waliyullah adalah pemikir muslim pertama
yang menyadari bahwa kaum muslimin tengah menghadapi jaman modern
yang di dalamnya ada tantangan serius dari Inggris mengenai masalah
pemahaman Islam, terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India
mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, yang juga
sangat mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris9, dan bahkan
pada tahun 1858 British East India Company dihapus dan Raja Inggris
bertanggungjawab atas pemerintah imperium India10.

Pemikiran Muhammad Iqbal


Menurut Dr. Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika
Iqbal yang ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa
pemikiran yang fundamental, yaitu intuisi, diri, dunia, dan Tuhan. Baginya,
Iqbal sangat berpengaruh di India, bahkan pemikiran Muslim India dewasa
ini tidak akan dapat dicapai tanpa mengkaji ide-idenya secara mendalam.11
Namun yang diketahui dan difahami oleh masyarakat dunia dengan
bukti berupa literatur-literatur yang beredar luas, Iqbal adalah seorang
negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak sepenuhnya keliru karena
memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan hal itu. Dan
jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi, diri, dunia,
dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India pada
khususnya dan di belahan dunia timur ataupun barat pada umumnya, baik
sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut
sebagai Tokoh Multidimensional.12
Dengan latar belakang itu pula maka penulis akan memaparkan
gagasan-gagasan Iqbal dalam dua hal, yaitu pemikirannya tentang politik
dan tentang Islam.
1. Pemikiran Politik
Sepulangnya dari Eropa Iqbal terjun ke dunia politik, bahkan menjadi
tulang punggung Partai Liga Muslim India. Ia terpilih menjadi anggota
legislatif Punjab dan pada tahun 1930 terpilih sebagai Presiden Liga

Sejaran pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 2003, Cet. 16, hlm. 158-165.
Lihat juga Dhabith Tarki Sabiq, Al-Rajûl al-Shanam Kamal Al-Taturk, Terj. Abdullah
Abdurrahman, Jakarta: Senayan Publishing, 2008, Cet. 1, hlm. 11-24, dan Didin Saefuddin,
Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta: Grasindo, 2003, hal. 36-7
9 Imperium Inggris (British Empire) pada puncak kejayaannya akhir abad ke-19 dan awal
abad 20 merupakan kerajaan yang terbesar di seluruh dunia. Koloni yang pertama adalah
New Foundland (1583). Dasar-dasar kerajaan diletakkan pada permulaan abad ke-17
dengan mendirikan British East India Company. Lihat Ensiklopedi Umum, hal. 446
10 Didin Saefuddin, Pemikiran Modern,hal. 51
11 Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, hal. V
12 Didin, Pemikiran Modern, hal. 44
Muslim. Karir Iqbal semakin bersinar dan namanya pun semakin harum
ketika dirinya diberi gelar ‘Sir’ oleh pemerintah Kerajaan Inggris di London
atas usulan seorang wartawan Inggris yang aktif mengamati sepak terjang
Iqbal di bidang intelektual dan politiknya.13 Gelar ini menunjukan
pengakuan dari Kerajaan Inggris atas kemampuan intelektualitasnya dan
memperkuat bargaining position politik perjuangan ummat Islam India pada
saat itu. Ia juga dinobatkan sebagai Bapak Pakistan yang pada setiap
tahunnya dirayakan oleh rakyat Pakistan dengan sebutan Iqbal Day.14
Pemikiran dan aktivitas Iqbal untuk mewujudkan Negara Islam ia
tunjukkan sejak terpilih menjadi Presiden Liga Muslimin tahun 1930. Ia
memandang bahwa tidaklah mungkin ummat Islam dapat bersatu dengan
penuh persaudaraan dengan warga India yang memiliki keyakinan berbeda.
Oleh karenanya ia berfikir bahwa kaum muslimin harus membentuk Negara
sendiri. Ide ini ia lontarkan ke berbagai pihak melalui Liga Muslim dan
mendapatkan dukungan kuat dari seorang politikus muslim yang sangat
berpengaruh, yaitu Muhammad Ali Jinnah (yang mengakui bahwa gagasan
Negara Pakistan adalah dari Iqbal)15, bahkan didukung pula oleh mayoritas
Hindu yang saat itu sedang dalam posisi terdesak saat menghadapi front
melawan Inggris.16 Bagi Iqbal, dunia Islam seluruhnya merupakan satu
keluarga yang terdiri atas republik-republik, dan Pakistan yang akan
dibentuk menurutnya adalah salah satu republik itu.17
Sebagai seorang negarawan yang matang, tentu pandangan-
pandangannya terhadap ancaman luar juga sangat tajam. Bagi Iqbal, budaya
Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti spiritual dan jauh dari
norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh buruk budaya
Barat. Dia yakin bahwa faktor terpenting bagi reformasi dalam diri manusia
adalah jati dirinya. Dengan pemahamannya yang dilandasi di atas ajaran
Islam itulah maka ia berjuang menumbuhkan rasa percaya diri terhadap

13 RA. Gunadi & M. Shoelhi, Khazanah, hal. 163


14 Robert Gwinn et.al., The New Encyclopedia, hal. 373
15 Mohammad Ali Jinnah (1876-1948) adalah pendiri Negara Pakistan. Lahir di Pakistan
tanggal 26 Desember 1876 dari seorang pedagang terkemuka. Pada usia 16 tahun ia ke
Inggris mengikuti pelajaran di Lincoln's Institute di London. Duduk dalam Dewan
Legislatif Tertinggi di India (1909-1916). Ia mula-mula menyokong Partai Kongres dan
menganjurkan persatuan Hindu-Islam, tetapi sesudah 1934 (setelah menguasai Liga
Muslim) ia melancarkan ide Negara Pakistan terpisah dari India yang akan terdiri dari
daerah-daerah mayoritas muslimin di Punjab, daerah perbatasan Barat Daya, Baluchistan,
Sind sebelah Barat dan Benggala sebelah Timur (Resolusi Liga Muslimin 1940). Ia berhasil
mendesak Congress untuk menerima pembagian India (1947). Lihat Ensiklopedi Umum,
hal. 446 dan Robert Gwinn et.al., The New Encyclopedia, hal. 555
16 Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 1998, cet. 1, hal. 168-170
17 Harun Nasution, Pembaharuan, hal 186
ummat Islam dan identitas keislamannya. Ummat Islam tidak boleh merasa
rendah diri menghadapi budaya Barat. Dengan cara itu kaum muslimin
dapat melepaskan diri dari belenggu imperialis.18 Sejalan dengan hal itu,
Muhammad Asad19 mengingatkan bahwa imitasi yang dilakukan ummat
Islam kepada Barat baik secara personal maupun sosial dikarenakan
hilangnya kepercayaan diri, maka pasti akan menghambat dan
menghancurkan peradaban Islam.
Diantara paham Iqbal yang mampu ‘membangunkan’ kaum muslimin
dari ‘tidurnya’ adalah “dinamisme Islam”, yaitu dorongannya terhadap
ummat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah
gerak, sedang hukum hidup adalah menciptakan, maka Iqbal menyeru
kepada ummat Islam agar bangun dan menciptakan dunia baru. Begitu
tinggi ia menghargai gerak, sehingga ia menyebut bahwa seolah-olah orang
kafir yang aktif kreatif ‘lebih baik’ dari pada muslim yang ‘suka tidur’.20
Iqbal juga memiliki pandangan politik yang khas, yaitu gigih
menentang nasionalisme yang mengedepankan sentimen etnis dan kesukuan
(ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan matang di
lingkungan yang bebas dan jauh dari sentimen nasionalisme.21 M. Natsir
menyebutkan bahwa dalam ceramahnya yang berjudul Structure of Islam,
Iqbal menunjukkan asas-asas suatu negara dengan ungkapannya22:
“Didalam agama Islam spiritual dan temporal, baka dan fana,
bukanlah dua daerah yang terpisah, dan fitrah suatu perbuatan
betapapun bersifat duniawi dalam kesannya ditentukan oleh sikap
jiwa dari pelakunya. Akhir-akhirnya latar belakang ruhani yang tak
kentara dari sesuatu perbuatan itulah yang menentukan watak dan
sifat amal perbuatan itu. Suatu amal perbuatan ialah temporal

18 http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, disadur pada tanggal 18


November 2008
19 Nama asalnya adalah Leopold Weiss, lahir di kota Livow (Austria) pada tahun 1900 dan
wafat tahun 1992. Pada umur 22 tahun ia mengunjungi Timur Tengah dan selanjutnya
menjadi wartawan luar negeri dari harian Frankfurter Zeitung. Pada tahun 1926 ia memeluk
Islam dan beberapa tahun mempelajari Islam. Setelah itu ia bekerja di berbagai dunia Islam
dari Afrika Utara sampai Afghanistan di bagian Timur. Ia termasuk intelektual muslim
terkemuka abad 20. Karya-karyanya antara lain: Islam in the Cross Roads (Islam di
Persimpangan Jalan), Road to Mecca (Jalan ke Mekah) dan The Principles of States and
Government in Islam (Asas-asas Negara dan Pemerintahan dalam Islam, serta sebuah kitab
tafsir dengan nama The Message of the Qur'an. Lihat Muhammad Asad, Asas-asas Negara
dan Pemerintahan dalam Islam (terj. Muhammad Radjab), Jakarta: Granada, 1427 H, cet.
1, hal. sampul.
20 Harun Nasution, Pembaharuan, hal. 185 dan W.C. Smith, Modern Islam in India,
Lahore: Ashraf, 1963, hal. 111
21 http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329
22 M. Natsir, Kapita Selecta, hal. 147
(fana), atau duniawi, jika amal itu dilakukan dengan sikap yang
terlepas dari kompleks kehidupan yang tak terbatas. Dalam agama
islam yang demikian itu adalah adalah seperti yang disebut orang
"gereja" kalau dilihat dari satu sisi dan sebagai "negara" kalau
dilihat dari sisi yang lain. Itulah maka tidak benar kalau gereja dan
negara disebut sebagai dua faset atau dua belahan dari barang
yang satu. Agama Islam adalah suatu realitet yang tak dapat
dipecah-pecahkan seperti itu”.
Demikian tegasnya prinsip Iqbal, maka ia berpandangan bahwa dalam
Islam politik dan agama tidaklah dapat dipisahkan, bahwa negara dan agama
adalah dua keseluruhan yang tidak terpisah.
Dengan gerakan membangkitkan Khudi (pribadi; kepercayaan diri)
inilah Iqbal dapat mendobrak semangat rakyatnya untuk bangkit dari
keterpurukan yang dialami dewasa ini. Ia kembalikan semangat yang dulu
dapat dirasakan kejayaannya oleh ummat Islam. Ujung dari konsep
kepercayaan diri inilah yang pada akhirnya membawa Pakistan merdeka dan
ia disebut sebagai Bapak Pakistan.

2. Pemikirannya Tentang Landasan Islam


Pemikiran Tentang al-Qur’an
Sebagai seorang yang terdidik dalam keluarga yang kuat memegang
prinsip Islam, Iqbal meyakini bahwa al-Qur’an adalah benar firman Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat
Jibril. Al-Qur’an adalah sumber hukum utama dengan pernyataannya “The
Qur’an Is a book which emphazhise deed rather than idea” (al-Qur’an
adalah kitab yang lebih mengutamakan amal daripada cita-cita). Namun dia
berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah undang-undang. Dia berpendapat
bahwa penafsiran al-Qur’an dapat berkembang sesuai dengan perubahan
jaman, dan pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Tujuan utama al-Qur’an
adalah membangkitkan kesadaran manusia yang lebih tinggi dalam
hubungannya dengan Tuhan dan alam semesta, jika al-Qur’an tidak
memuatnya secara detail maka manusialah yang dituntut untuk
mengembangkannya. Dalam istilah fiqh hal ini disebut ijtihad. Ijtihad dalam
pandangan Iqbal adalah sebagai prinsif gerak dalam struktur Islam.
Disamping itu al-Qur’an memandang bahwa kehidupan adalah satu proses
cipta yang kreatif dan progresif. Oleh karenanya, walaupun al-Qur’an tidak
melarang untuk memperimbangkan karya besar ulama terdahulu, namun
masyarakat harus berani mencari rumusan baru secara kreatif dan inovatif
untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Akibat pemahaman
yang kaku terhadap ulama terdahulu, maka ketika masyarakat bergerak
maju, hukum tetap berjalan di tempatnya.23
Iqbal juga mengeluh tentang ketidakmampuan masyarakat India
dalam memahami al-Qur’an disebabkan tidak memahami bahasa arab dan
telah salah mengimpor ide-ide India (Hindu) dan Yunani ke dalam Islam dan
Al-Qur’an. Iqbal begitu terobsesi untuk menyadarkan ummat Islam untuk
lebih progresif dan dinamis dari keadaaan statis dan stagnan dalam
menjalani kehidupan duniawi. Karena berdasarkan pengalaman, agama
Yahudi dan Kristen telah gagal menuntun ummat manusia menjalani
kehidupan. Kegagalan Yahudi disebabkan terlalu mementingkan legalitas
kehidupan duniawi. Sedangkan kegagalan Kristen adalah dalam
memberikan nilai-nilai kepada pemeliharaan Negara, undang-undang dan
organisasi disebabkan terlalu mementingkan segi ibadah ritual. Dalam
kegagalan kedua agama tersebut, menurut Iqbal, al-Qur’an berada di tengah-
tengah dan sama-sama mengajarkan keseimbangan kedua kehidupan
tersebut, tanpa membeda-bedakannya. Baginya antara politik pemerintahan
dan agama tidak ada pemisahan sama sekali. Inilah yang dikembangkannya
dalam merumuskan ide berdirinya Negara Pakistan yang memisahkan diri
dari India yang mayoritas Hindu.24
Satu segi mengenai al-Qur'an yang patut dicatat adalah bahwa ia
sangat menekankan pada aspek Hakikat yang bisa diamati. Tujuan al-Qur'an
dalam pengamatan reflektif atas alam ini adalah untuk membangkitkan
kesadaran pada manusia tentang alam yang dipandang sebagai sebuah
symbol.25 Iqbal menyatakan hal ini seraya menyitir beberapa ayat,
diantaranya: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan
langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang mengetahui". (QS. 30:22)
Pendapat tentang Al-Hadits
Iqbal memandang bahwa ummat Islam perlu melakukan studi
mendalam terhadap literatur hadits dengan berpedoman langsung kepada
Nabi sendiri selaku orang yang mempunyai otoritas untuk menafsirkan
wahyunya. Hal ini sangat besar faedahnya dalam memahami nilai-nilai
hidup dari prinsip-prinsip hukum Islam sebagaimana yang dikemukakan al-
Qur’an.
Iqbal sepakat dengan pendapat Syaikh Waliyullah tentang hadits,

23 Harun Nasution, Pembaharuan,hal. 185


24 http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329
25 Muhammad Iqbal, Tajdîd Al-Tafkîr al-Dînî Fî al-Islâm, Cairo, 1968, Cet. 2, hal. 20-21
yaitu cara Nabi dalam menyampaikan dakwah Islam dengan memperhatikan
kebiasaan, cara-cara dan keganjilan yang dihadapinya ketika itu. Selain itu
juga Nabi sangat memperhatikan sekali adat istiadat penduduk setempat.
Dalam penyampaiannya, Nabi lebih menekankan pada prinsip-prinsip dasar
kehidupan sosial bagi seluruh ummat manusia, tanpa terkait oleh ruang dan
waktu. Jadi peraturan-peraturan tersebut khusus untuk ummat yang dihadapi
Nabi. Untuk generasi selanjutnya, pelaksanaannya mengacu pada prinsip
kemaslahatan. Dari pandangan ini Iqbal menganggap wajar saja kalau Abu
Hanifah lebih banyak mempergunakan konsep istihsan dari pada hadits
yang masih meragukan kualitasnya. Ini bukan berarti hadits-hadits pada
jamannya belum dikumpulkan, karena Abu Malik dan Az-Zuhri telah
membuat koleksi hadits tiga puluh tahun sebelum Abu Hanifah wafat. Sikap
ini diambil Abu Hanifah karena ia memandang tujuan-tujuan universal
hadits daripada koleksi belaka.26
Pandangannya Tentang Ijtihad
Menurut Iqbal, ijtihad adalah “Exert with view to form an
independent judgment on legal question” (bersungguh-sungguh dalam
membentuk suatu keputusan yang bebas untuk menjawab permasalahan
hukum). Kalau dipandang, baik hadits maupun al-Qur’an memang ada
rekomendasi tentang ijtihad tersebut. Disamping ijtihad pribadi, hukum
Islam juga memberi rekomendasi keberlakuan ijtihad kolektif. Ijtihad inilah
yang selama berabad-abad dikembangkan dan dimodifikasi oleh ahli hukum
Islam dalam mengantisipasi setiap permasalahan masyarakat yang muncul
sehingga melahirkan aneka ragam pendapat (madzhâb). Sebagaimana
mayoritas ulama, Iqbal membagi ijtihad ke dalam tiga tingkatan, yaitu27:
Otoritas penuh dalam menentukan perundang-undangan yang secara praktis
hanya terbatas pada pendiri madzhâb-mazhâb saja.
Otoritas relative yang hanya dilakukan dalam batas-batas tertentu dari satu
madzhâb.
Otoritas khusus yang berhubungan dengan penetapan hukum dalam kasus-
kasus tertentu, dengan tidak terkait pada ketentuan-ketentuan pendiri
madzhâb.
Iqbal menggaris bawahi pada derajat yang pertama saja. Menurut
Iqbal, kemungkinan derajat ijtihad ini memang disepakati diterima oleh
ulama ahl al-sunnah, tetapi dalam kenyataannya dipungkiri sendiri sejak
berdirinya mazhâb-mazhâb. Ide ijtihad ini dipagar dengan persyaratan ketat
yang hampir tidak mungkin dipenuhi. Sikap ini, lanjut Iqbal, adalah sangat

26 http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329
27 Muhammad Iqbal, Tajdîd, hal. 171
ganjil dalam suatu sistem hukum al-Qur’an yang sangat menghargai
pandangan dinamis. Akibat ketentuan ketatnya ijtihad ini, menjadikan
hukum Islam selama lima ratus tahun mengalami stagnasi dan tidak mampu
berkembang28. Ijtihad yang menjadi konsep dinamis hukum Islam hanya
tinggal sebuah teori-teori mati yang tidak berfungsi dan menjadi kajian-
kajian masa lalu saja. Demikian juga ijma’ hanya menjadi mimpi untuk
mengumpulkan ulama, apalagi dalam konsepnya satu saja ulama yang tidak
setuju maka batallah keberlakuan ijma’ tersebut, hal ini dikarenakan kondisi
semakin meluasnya daerah Islam. Akhirnya kedua konsep ini hanya tinggal
teori saja, konsekuensinya, hukum Islam pun statis tidak berkembang
selama beberapa abad.

Penutup
Iqbal adalah seorang intelektual asal India-Pakistan yang telah
melahirkan pemikiran dan peradaban besar bagi generasi setelahnya. Ia
merupakan sosok pemikir multidisiplin, seorang sastrawan, negarawan, ahli
hukum, filosof, pendidik dan kritikus seni. Menilai kepiawaiannya yang
multidisiplin itu, pak Natsir mengatakan, "tentulah sukar bagi kita untuk
melukiskan tiap-tiap aspek kepribadian Iqbal. Jiwanya yang piawai tidak
saja menakjubkan tetapi juga jarang ditemui".
Islam sebagai way of life yang lengkap mengatur kehidupan manusia,
ditantang untuk bisa mengantisipasi dan mengarahkan gerak perubahan
tersebut agar sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu hukum Islam
dihadapkan kepada masalah signifikan, yaitu sanggupkah hukum Islam
memberi jawaban yang cermat dan akurat dalam mengantisipasi gerak
perubahan ini. Seperti jawaban Iqbal, “bisa, kalau ummat Islam memahami
hukum Islam seperti cara berfikir Umar bin Khattab”.
Akhirnya, tidaklah lengkap rasanya menulis tentang Iqbal tanpa
menutupnya dengan salah satu syairnya berikut ini29:
Apakah kamu berada dalam tingkat "kehidupan",
"kematian", atau "kematian dalam kehidupan"?
Memanggil tiga saksi untuk memberitahu dimana tempat
"perhentianmu".
Saksi pertama adalah kesadaran batinmu sendiri-
Lihat dirimu sendiri dengan cahayamu sendiri.
Saksi kedua adalah kesadaran ego yang lain-
Lihat dirimu, lalu sinar ego yang lain daripada milikmu
Saksi ketiga adalah kesadaran Tuhan-
28 Harun Nasution, Pembaharuan, hal. 184
29 Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, Jogjakarta: Penerbit
Lazuardi, 2002, Cet. 1, hal. 280-281
Lihat dirimu, lalu dengan cahaya Tuhan,
Jika kamu berdiri tidak bergerak di depan cahaya ini,
Anggaplah dirimu sendiri seperti hidup dan abadi layaknya Tuhan!
Bahwa manusia sendiri adalah sejati yang berani-
Berani untuk melihat Tuhan berhadapan muka!
Apakah "Mi'raj"? Hanya pencarian seorang saksi
Yang akhirnya dapat menegaskan realitasmu-
Seorang saksi yang dengan kesaksiannya membuatmu abadi.
Tak seorang pun dapat berdiri tanpa bergerak oleh keberadaannya;
Dan dia yang dapat, sesungguhnya, dia emas murni.
Apakah engkau hanya butiran debu semata?
Ketatkan simpul egomu;
Dan pegang cepat makhlukmu yang kecil!
Betapa cemerlangnya memancarkan ego kita
Dan menguji kilauan ini dari keberadaan Matahari!
Bersihkan ragamu yang lama;
Dan membangun makhluk baru.
Suatu makhluk yang sesungguhnya;
Atau egomu hanyalah gumpalan asap semata!

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur'an Terjemah, Depag RI., Depok: Penerbit al-Huda (Kelompok GIP),
2005.
Ali, Mukti A, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung:
Mizan, 1998, Cet. 3.
Asad, Muhammad, Asas-asas Negara dan Pemerintahan dalam Islam (terj.
Muhammad Radjab), Jakarta: Granada, 1427 H, Cet. 1.
Azra, Azyumardi dan Syafii Maarif, Ensiklopedi Tokoh Islam dari Abu Bakr
sampai Natsir dan Qardhawi. Bandung: Mizan, 2003.
Enver, Ishrat Hasan, Metafisika Iqbal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004,
Cet. 1.
Glase, Cyril, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002,
Cet. 3.
Gunadi, R.A dan M Shoelhi, Khazanah Orang Besar Islam, Dari Penakluk
Jerusalem Hingga Angkonol, Jakarta: Republika, 2002.
Gwinn, Robert P. et.al., The New Encyclopedia Britannica, Chicago: The
University Of Chicago, Volume 6, Cet. 15.
Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, Jakarta: Wedatama Widya
Sastra, 2003.
Hilmi, Musthafa Muhammad, Manhâj 'Ulama' al-Hadîts wa al-Sunnah Fî
Ushl al-Dîn, Kairo, Dâr Ibn Jauzi, 2005, Cet. 1.
http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329
Iqbal, Muhammad. Tajdîd al-Tafkîr al-Dînî fî al-Islâm, Kairo, 1968, Cet.2
__________, Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, Jogjakarta:
Penerbit Lazuardi, 2002, Cet.1.
Mohammad, Herry (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,
Jakarta: Gema Insani, 2006. Cet. 1.
Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2003,
hal 185, cet. XIV.
Natsir, Mohammad, Kapita Selekta 2, Jakarta: PT Abadi dan Yayasan Kapita
Selekta, 2008, Cet. 2.
Pringgodigdo, A.G., Ensiklopedi Umum, Jakarta: Penerbit Yayasan Kanisius,
1977.
Saefuddin, Didin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta:
Grasindo, 2000.
Sani, Abdul, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam
Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998, Cet. 1.
Smith, W.C. Modern Islam in India, Lahore: Ashraf, 1963.
Sabiq, Dhabith Tarki, Al-Rajul al-Shanam Kamal At-Taturk, Terj. Abdullah
Abdurrahman, Jakarta: Senayan Publishing, 2008.