Anda di halaman 1dari 4

1.3.Anemia 1.3.1.

Definisi Anemia adalah sindroma klinis yang ditandai oleh adanya penurunan hematokrit, hemoglobin dan jumlah eritrosit dalam darah yang berakibat pada penurunan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen. (Tjokroprawiro dkk, 2007; Dipiro and Talbert, 2005).

1.3.2. Klasifikasi (Tjokroprawiro dkk, 2007) A. Berdasarkan patofisiologi 1. Perdarahan 2. Hemolisis

3. Kegagalan sumsum tulang B. Berdasarkan morfologi sel darah merah


1. Hipokrom-mikrositer (MCH menurun, MCV menurun). 2. Normokrom-normositer (MCH-MCV normal). 3. Hiperkrom-makrositer (MCH-MCV meningkat).

1.3.3. Etiologi Secara umum etiologi anemia adalah (Dipiro et al, 2008): 1. Defisiensi: zat besi (Fe), vitamin B12, asam folat, vitamin B6 (pyridoxine). 2. Central (gangguan sumsum tulang): anemia pada penyakit kronis, anemia pada geriatrik, dan gangguan sumsum tulang ganas. 3. Peripheral: perdarahan, hemolisis (anemia hemolitik).

1.3.4. Patofisiologi Anemia timbul apabila pemecahan/pengeluaran eritrosit lebih besar daripada

pembentukan atau pembentukannya sendiri yang menurun. Oleh karenanya, anemia dapat terjadi melalui mekanisme sebagai berikut (Tjokroprawiro dkk, 2007): 1. Perdarahan (pengeluaran eritrosit yang berlebih) 2. Pemecahan eritrosit yang berlebihan (hemolisis) 3. Pembentukan eritrosit yang berkurang

1.3.5. Gejala klinis Gejala-gejala klinis anemia dapat timbul pada berbagai macam organ-organ dalam tubuh, antara lain (Tjokroprawiro dkk, 2007): a. Gejala dari sistem kardiorespirasi Akibat anoksia maka timbul kompensasi dari jantung guna memenuhi kebutuhan oksigen dan terjadi palpitasi, takikardi dan denyutan prekordial yang pada dasarnya adalah manifestasi denyut jantung yang bertambah cepat. b. Gejala dari sistem saraf Akibat anoksia pada organ ini dapat timbul sakit kepala, pusing, badan terasa ringan, perasaan dingin, telinga berdenging, mata berkunang-kunang, kelemahan otot, lekas capai dan iritabel. c. Gejala dari sistem saluran pencernaan makanan Akibat anoksia dapat timbul nafsu makan menurun, mual, muntah, flatulensi, perasaan tidak enak pada perut bagian atas, obstipasi dan diare. d. Gejala dari sistem urogenital Akibat anoksia dapat timbul gangguan haid, kadang-kadang hipermenorrhoe dan libido berkurang. e. Pada jaringan epitel Akibat anoksia nampak pucat yang mudah dilihat pada kelopak mata, mulut dan kuku, elastisitas kulit berkurang, rambut tipis.

1.3.6. Penatalaksanaan (Tjokroprawiro dkk, 2007) 1. Mencari dan memberi pengobatan yang sesuai dengan penyebab. 2. Bila anemia timbul sekunder akibat penyakit lain, pengobatan penyakit dasarnya adalah yang utama (anemia akan membaik dengan sendirinya). 3. Transfusi darah hanya akan diberikan pada: a. Perdarahan akut yang disertai dengan perubahan hemodinamik. b. Anemia kronis, progresif dan terdapat keluhan (Packed Red Cell) 4. Bila terdapat kegagalan faal jantung, maka penderita harus istirahat total dan diberikan diuretika.

DAFTAR PUSTAKA Boediwarsono, Soebandiri, Sugianto, Ashariati, A., Soedana, M.P., Ugroseno. 2007. Anemia. Dalam: Tjokroprawiro, A., Setiawan, P.B., Santoso, D., Soegiarto, G., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya: Airlangga University Press. Hal: 139-142. Chrisholm-Burns, M.A., Wells, B.G., Schwinghammer, T.L., Malone, P.M., Kolesar, J.M., Rotschafer J.C., and Dipiro, J.T., 2008. Pharmacotherapy Principles and Practice. New York: McGraw-Hill. Hal: 463-666. Dipiro, J.T., and Schwinghammer, T.L., 2009. In: Wells, B.G., Dipiro, J.T., Schwinghammer, T.L., and Dipiro, C.V., Pharmacotherapy Handbook, 7th Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc, p.294-300. Fugit, R.V., and Berardi, R.R., 2009. Upper Gastrointestinal Disorders. In: Koda-Kimble, M.A., Young, L.Y., Alldredge, B.K., Corelli, R.L., Guglielmo, B.J., Kradjan, W.A., and Williams, B.R., Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs, 9th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. P.56p2. Guglielmo, B.J., 2009. Principles of Infectious Diseases. In: Koda-Kimble, M.A., Young, L.Y., Alldredge, B.K., Corelli, R.L., Guglielmo, B.J., Kradjan, W.A., and Williams, B.R., Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs, 9th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. P.56p2. Kane, B.M., 2007. Drugs, The Straight Facts: Codeine. New York: Chelsea House Publishers. P.54. Kang-Birken, S.L., and Dipiro, J.T., 2008. Sepsis and Septic Shock. In: DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.A., Wells, B.G., and Posey, L.M., Pharmacotherapy-A Pathophysiologic Approach, 7th Ed. New York: The McGraw-Hill Companies. P.1944. Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2009. Drug Information Handbook, 17th Edition. Ohio: Lexi-comp Inc. Maskoep, W.I., 2011. Terapi Nutrisi pada Penderita Kanker. Surabaya: Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo-Fakultas Kedokteran Unibersitas Surabaya. McPhee, Stephen J., Lingappa, Vishwanath R., Ganong, Wiliam F., and Lange, Jack D., 1995, Pathophysiology of Disease, an Introduction to Clinical Medicine, 1st ed., Connecticut : Appleton & Lange. Mulyarjo, Kentjono, W.A., Kusuma, H., dan Soerarso, B., 2005. Karsinoma Nasofaring. Pedoman Diagnosa dan Terapi Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo. Hal. 63-67. Neal, M.J., 2006. At a Glance, Farmakologi Medis. Surabaya: Penerbit Airlangga, hal.67-68.

Nolte, M.S., and Karam, J.H., 2007. Pancreatic Hormones and Antidiabetic Drugs. In: Katzung, B.G., A Lange Medical Book- Basic and Clinical Pharmacology, 10th Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc. Peralta, R., 2012. Hypoalbuminemia. Tersedia http://misc.medscape.com/pi/android/medscapeapp/html/A166724-business.html. Diakses 26 Juni 2012. di:

Piasiska, H., 2010. Tesis: Profil Penderita Karsinoma Nasofaring di Laboratorium Patologi Anatomi Kota Medan Tahun 2009. Medan: Program Magister Kedokteran KlinikFakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pranoto, Agung, 2003. Konsensus Diabetes Mellitus. In: Hendromartono, Pranawa, Hans Tandra, Agung Pranata (Eds.), Naskah Lengkap Symposium Practical Approach in the Management of Diabetes Complication. Surabaya. Sugondo, S., 2002. Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2. Jakarta : Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi (PB PERKENI), hal. 29; 31-32; 45 Tjokroprawiro, A., Hendromartono, Sutjahjo, A., Pranoto, A., Murtiwi, S., Adi, S., dan Wibisono, S., 2007. Diabetes Mellitus. Dalam: Tjokroprawiro, A., Setiawan, P.B., Pranoto, A., Nasronudin, Santoso, D., dan Soegiarto, G., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya: Airlangga University Press. Hal.29-63. Saseen, J.J., and Maclaughlin, E.J., 2008. Hypertension In: DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.A., Wells, B.G., and Posey, L.M., Pharmacotherapy-A Pathophysiologic Approach, 7th Ed. New York: The McGraw-Hill Companies. P.139-159. Sweetman, S.C., 2009. Martindale-The Complete Drug Reference, Thirty-Sixth Edition. London: The Pharmaceutical Press.