Anda di halaman 1dari 7

Nama : Cahyo Nugroho NIM : 03111003094 Kriteria Pemilihan Bahan Konstruksi Kimia Perancangan pabrik untuk industri kimia

sudah barang tentu harus memperhatikan berbagai macam pertimbangan. Hal semacam ini dilakukan dalam rangka untuk mengefektifkan dan mengefesienkan pengunaan bahan konstruksi kimia tersebut.Sudah dipahami bersama bahwa seorang sarjana teknik kimia harus mengedepankan aspek ekonomi dalam setiap rancangan yang dibuat. Menjadi satu keharusan bagi kita untuk mengetahui sifat-sifat dari bahan itu sendiri. Ketika kita mengenali sifat bahan yang kita gunakan maka sudah barang tentu penggunaannya akan menjadi efektif karena telah mengetahui kekurangan dan kelebihan bahan yang kita pergunakan. Maka dari itu kita harus mengetahui kriteria pemilihan bahan konstruksi kimia. A. Biaya Biaya aktual dari logam dan paduan akan berfluktuasi cukup luas, tergantung pada pergerakan logam dunia. Jumlah bahan yang digunakan akan tergantung pada berat jenis material dan kekuatan (desainstres) dan ini harus diperhitungkan ketika membandingkan biaya material. Moore (1970) membandingkan biaya dengan menghitung faktor biaya penilaian ditentukan oleh persamaan: Biaya Peringkat D Cd Dimana : CD biaya per satuan massa, / kg, D density, kg / m3 D desain stres, N / mm Peringkat dihitung biayanya, relatif terhadap rating untuk baja ringan (karbon rendah). Bahan dengan stres desain relatif tinggi, seperti paduan stainless dan rendah baja, dapat digunakan lebih efisien daripada baja karbon. Biaya relatif peralatan yang terbuat dari bahan yang berbeda akan tergantung pada biaya fabrikasi, serta biaya dasar materi. Kecuali bahan tertentu memerlukan teknik fabrikasi khusus, biaya relatif peralatan jadi akan lebih rendah dari biaya bahan relatif telanjang. Sebagai contoh, biaya yang dibeli dari-stainless steel tangki penyimpanan akan menjadi 2 sampai 3 kali biaya dari tangki yang sama dalam baja karbon, sedangkan biaya relatif dari logam adalah antara 5 sampai 8. Jika laju korosi seragam, maka materi yang optimal dapat dipilih dengan menghitung tahunan biaya untuk

Nama : Cahyo Nugroho NIM : 03111003094

bahan kandidat yang mungkin. Biaya tahunan akan tergantung pada diperkirakan hidup, dihitung dari laju korosi, dan biaya pembelian peralatan. Dalam situasi tertentu, mungkin terbukti lebih ekonomis untuk menginstal bahan yang lebih murah dengan tingkat korosi yang tinggi dan menggantinya sering; ketimbang memilih lebih tahan tetapi lebih mahal material. Strategi ini hanya akan dipertimbangkan untuk relatif sederhana. Tabel 7.6. Relatif biaya peringkat untuk logam Desain stres (N / mm2) Baja karbon Al-paduan (Mg) Stainless steel 18/8 (Ti) Inconel Kuningan Perunggu Alumunium Monel Tembaga Nikel 1 4 5 12 10-15 16 18 19 27 35 100 70 130 140 76 87 14 120 46 70

Catatan: Angka desain stres ditunjukkan untuk tujuan ilustrasi saja dan tidak boleh digunakan sebagai desain nilai-nilai. Peralatan dengan biaya fabrikasi rendah, dan di mana kegagalan prematur tidak akan menyebabkan serius bahaya. Misalnya, baja karbon dapat ditentukan untuk limbah cair baris di tempat stainless steel, menerima kebutuhan kemungkinan untuk penggantian. Pipa Tebal dinding akan dipantau in situ sering untuk menentukan kapan pengganti dibutuhkan. Lebih mahal tahan korosi, paduan sering digunakan sebagai cladding pada baja karbon. Jika piring tebal diperlukan untuk kekuatan struktural, penggunaan bahan berpakaian secara substansial dapat mengurangi biaya.

B. Ketersediaan Bahan konstruksi harus tersedia dalam jumlah yang cukup untuk pabrikasi. Selain ketersediaan bahan, perlu diperhatikan juga peralatan untuk mengolah bahan tersebut

Nama : Cahyo Nugroho NIM : 03111003094

hingga siap dipakai dan dipabrikasi. Bahan baku sebaiknya tersedia di lingkungan sekitar yang cukup dekat, sehingga tidak perlu mendatangkan bahan dari tempat lain.

C. Sifat-sifat Umum Bahan Konstruksi Kimia

a. Sifat Mekanik Sifat mekanik adalah salah satu sifat yang terpenting, karena sifat mekanik menyatakan kemampuan suatu bahan (seperti komponen yang terbuat dari bahan tersebut) untuk menerima beban/gaya atau energi tanpa menimbulkan kerusakan pada bahan atau komponen tersebut. Seringkali bila suatu bahan mempunya sifat mekanik yang baik tetapi kurang baik pada sifat yang lain, maka diambil langkah untuk mengatasi kekurangan tersebut dengan berbagai cara yang diperlukan. Misalkan saja baja yang sering digunakan sebagai bahan dasar pemilihan bahan. Baja mempunyai sifat mekanik yang cukup baik, dimana baja memenuhi syarat untuk suatu pemakaian tetapi mempunyai sifat tahan terhadap korosi yang kurang baik. Untuk mengatasi hal itu seringkali dilakukan sifat yang kurang tahan terhadap korosi tersebut diperbaiki dengan cara pengecatan atau galvanising, dan cara lainnya. Jadi tidak harus mencari bahan lain seperti selain kuat juga harus tahan korosi, tetapi cukup mencari bahan yang syarat pada sifat mekaniknya sudah terpenuhi namun sifat kimianya kurang terpenuhi. Berikut adalah beberapa sifat mekanik yang penting untuk diketahui : Kekuatan (strength), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa menyebabkan bahan menjadi patah. Kekuatan ini ada beberapa macam, tergantung pada jenis beban yang bekerja atau mengenainya. Contoh kekuatan tarik, kekuatan geser, kekuatan tekan, kekuatan torsi, dan kekuatan lengkung. Kekerasan (hardness), dapat didefenisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk tahan terhadap penggoresan, pengikisan (abrasi), identasi atau penetrasi. Sifat ini berkaitan dengan sifat tahan aus (wear resistance). Kekerasan juga mempunya korelasi dengan kekuatan. (Elasticity), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah tegangan dihilangkan. Bila suatu benda mengalami tegangan maka akan terjadi perubahan bentuk. Apabila tegangan yang bekerja besarnya tidak melewati batas tertentu maka perubahan bentuk yang terjadi hanya bersifat sementara, perubahan bentuk

Nama : Cahyo Nugroho NIM : 03111003094 tersebut akan hilang bersama dengan hilangnya tegangan yang diberikan. Akan tetapi apabila tegangan yang bekerja telah melewati batas kemampuannya, maka sebagian dari perubahan bentuk tersebut akan tetap ada walaupun tegangan yang diberikan telah dihilangkan. Kekenyalan juga menyatakan seberapa banyak perubahan bentuk elastis yang dapat terjadi sebelum perubahan bentuk yang permanen mulai terjadi, atau dapat dikatakan dengan kata lain adalah kekenyalan menyatakan kemampuan bahan untuk kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah menerima bebang yang menimbulkan deformasi. Kekakuan (stiffness), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima

tegangan/beban tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk (deformasi) atau defleksi. Dalam beberapa hal kekakuan ini lebih penting daripada kekuatan. Plastisitas (plasticity) menyatakan kemampuan bahan untuk mengalami sejumlah deformasi plastik (permanen) tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Sifat ini sangat diperlukan bagi bahan yang akan diproses dengan berbagai macam pembentukan seperti forging, rolling, extruding dan lain sebagainya. Sifat ini juga sering disebut sebagai keuletan (ductility). Bahan yang mampu mengalami deformasi plastik cukup besar dikatakan sebagai bahan yang memiliki keuletan tinggi, bahan yang ulet (ductile). Sebaliknya bahan yang tidak menunjukkan terjadinya deformasi plastik dikatakan sebagai bahan yang mempunyai keuletan rendah atau getas (brittle). Ketangguhan (toughness), menyatakan kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga dapat dikatakan sebagai ukuran banyaknya energi yang diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja, pada suatu kondisi tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini sulit diukur. Kelelahan (fatigue), merupakan kecendrungan dari logam untuk patah bila menerima tegangan berulang ulang (cyclic stress) yang besarnya masih jauh dibawah batas kekuatan elastiknya. Sebagian besar dari kerusakan yang terjadi pada komponen mesin disebabkan oleh kelelahan ini. Karenanya kelelahan merupakan sifat yang sangat penting, tetapi sifat ini juga sulit diukur karena sangat banyak faktor yang mempengaruhinya. Creep, atau bahasa lainnya merambat atau merangkak, merupakan kecenderungan suatu logam untuk mengalami deformasi plastik yang besarnya berubah sesuai

Nama : Cahyo Nugroho NIM : 03111003094 dengan fungsi waktu, pada saat bahan atau komponen tersebut tadi menerima beban yang besarnya relatif tetap

Beberapa sifat mekanik diatas juga dapat dibedakan menurut cara pembebanannya, yaitu : Sifat mekanik statis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban statis yang besarnya tetap atau bebannya mengalami perubahan yang lambat. Sifat mekanik dinamis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban dinamis yang besar berubah ubah, atau dapat juga dikatakan mengejut. Ini perlu dibedakan karena tingkah laku bahan mungkin berbeda terhadap cara pembebanan yang berbeda.

b. Sifat Termal Bahan Sifat termal bahan adalah perubahan sifat yang berkaitan dengan suhu. Sifat termal ini dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : 1. Kandungan uap air Apabila suatu benda berpori diisi air, maka akan berpengaruh terhadap konduktifitas termal. Konduktifitas termal yang rendah pada bahan insulasi adalah selaras dengan kandungan udara dalam bahan tersebut. Hubungan antara konduktifitas termal dan kandungan uap air dituangkan dalam persamaan sebagai berikut : pers (1) Dimana Kh = konduktifitas termal pada kandungan uap air h Kd = konduktifitas termal dalam keadaan kering h = kandungan uap air ( % berat )

2. Suhu Pengaruh suhu terhadap konduktifitas termal suatu bahan adalah kecil, namun secara umum dapat dikatakan bahwa konduktifitas termal akan meningkat apabila suhu meningkat.

3. Kepadatan dan porositas Konduktifitas termal berbeda pengaruh terhadap kepadatan, apabila pori-pori bahan semakin banyak maka konduktifitas termal rendah. Perbedaan konduktifitas termal bahan dengan kepadatan yang sama akan tergantung pada perbedaan struktur yang meliputi

Nama : Cahyo Nugroho NIM : 03111003094

ukuran, distribusi, hubungan pori / lubang. Sifat termal bahan dikaitkan dengan perpindahan kalor. Perpindahan kalor ada 2 jenis, yaitu 1. Keadaan tetap (steady heat flow) 2. Keadaan berubah (transien heat flow)

c. Sifat Elektrik Bahan Berdasarkan sifat listriknya, material/bahan dikelompokkan menjadi 3 sebagai berikut : Konduktif jika resistansinya < 105 ohm Disini elektron mudah bergerak atau mengalir, jadi netralisasi dapat dilakukan dengan mudah dengan cara grounding. Contoh : logam dan tubuh manusia Insulatif jika resistansinya > 1011 ohm Elektron bisa dikatakan tak dapat bergerak, jadi netralisasi hanya mungkin dilakukan dengan ionisasi. Contoh : plastik dan karet Dari pengukuran tribocharging, kita bisa menentukan apakah muatan listrik mudah ditimbulkan pada bahan tersebut jika tidak mudah membangkitkan

muatan (atau muatan yang dihasilkan cukup rendah), maka bahan itu dapat dikatakan sebagai anti-statik Statik disipatif resistansi di antara 105 sampai 1011 ohm Disini, elektron dapat bergerak tetapi lambat, jadi perlu diketahui parameter decay time. Untuk mengetahui berapa cepat grounding dapat menetralisasi muatan. Pengukuran tribocharging juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah bahan tersebut anti-statik atau tidak. Umumnya bahan yang masuk kategori statik disipatif adalah bahan buatan, artinya memang khusus dibuat untuk mempunyai resistansi tertentu, misalnya bahan dasarnya adalah insulatif tapi diberi tambahan karbon dalam kadar tertentu untuk membuatnya bersifat statik disipatif. Jika kadarnya berlebih, bahan juga bisa bersifat konduktif. Untuk mengukur nilai resistansi bahan, kita gunakan MegaOhmmeter (atau Surface Resistance Meter) ini semacam multimeter biasa tetapi dengan jangkauan pengukuran sampai 100 G Ohm atau lebih. Kita juga dapat menggunakan electrometer (misalnya

Nama : Cahyo Nugroho NIM : 03111003094

Electrostatic Voltmeter/ Fieldmeter) untuk mengukur muatan listrik dari proses tribocharging dan dengan bantuan stopwatch, kita pun dapat mengukur decay time secara kualitatif. Untuk hasil yang lebih akurat, kita perlu menggunakan Charged Plate Monitor. Jadi, jika adanya muatan listrik statik menimbulkan masalah, maka salah satu solusinya adalah dengan menetralkan mutan listrik bersangkutan. Cara efektif untuk menetralkan muatan listrik dilakukan berdasarkan sifat listrik material/bahan.Pada dasarnya netralisasi muatan dapat dilakukan dua cara, yaitu grounding dan ionisasi dengan ionizer. Grounding dilakukan jika elektron dapat bergerak atau mengalir dalam bahan bersangkutan, yaitu dengan menghubungkan bahan tersebut ke tanah/bumi atau bagian ground dari kabel listrik karena tanah/bumi adalah reservoar muatan (sumber muatan yang tak-terhingga). Sebaliknya, untuk bahan yang tak dapat mengalirkan muatan, maka tidak ada jalan lain untuk menetralkan muatan kecuali

memberikan muatan yang berlawanan dari udara. Sebetulnya udara mengandung sejumlah molekual uap air yang dapat menetralkan permukaan suatu benda, tapi netralisasi secara alami ini akan berlangsung sangat lama. Untuk mempercepat proses netralisasi, maka digunakan alat/peralatan yang disebut Ionizer. Ionizer dirancang untuk menghasilkan sejumlah besar ion positif maupun negatif dan ion-ion tersebut diarahkan ke permukaan benda yang akan dinetralisasi. Selain itu, netralisasi juga dapat dilakukan dengan membasahi permukaan bahan bersangkutan dengan air biasa (bukan DI water) atau larutan yang mengandung air seperti IsoPropyl Alcohol (IPA).