Anda di halaman 1dari 4

Table 1.

Dissolution was another studied important quality control parameters directly related to the absorption and bioavailability of drug (Pabla et al., 2009 . !he study revealed that at different time intervals drug release rate was better in paracetamol"caffeine tablet brands comparing with the paracetamol alone. #fter $0 minutes, the release rate of tablet brands of paracetamol was %&.92 to '$.$9( whereas release rate of paracetamol"caffeine tablets was )%.9* to '*.$$( which showed that initial release rate of paracetamol"caffeine combination was more than paracetamol alone and this also continued after 20 minutes. +inally after %0 minutes, 99,$00( drug release was observed in #$ and -$ for paracetamol brands and #2, -2, .2 and /2 for paracetamol"caffeine brands. #ll other brands of both groups also showed more than 90 ( drug release after %0 minutes. !he better dissolution profile of paracetamol"caffeine might be the impact of caffeine, as the solubility of paracetamol is accelerated by caffeine (01ore and 0su2i, 200$ . 0utcome of the test has been shown in Table 2 and Figure 1.

Tabel 1 . Dissolusi adalah parameter kontrol kualitas yang penting dan berkaitan langsung dengan penyerapan dan bioavailabilitas obat ( Pabla et al . , 2009) . ebuah penelitian membandingkan la!u pelepasan obat interval pada "aktu yang berbeda antara obat parasatemol#ka$ein dengan parasetamol sa!a. %asil penelitian ini menun!ukkan setelah 10 menit , la!u pelepasan tablet merek parasetamol adalah &',92()1,19 * sedangkan la!u pelepasan tablet parasetamol # ka$ein adalah +&,9,(),,11 *. %asil tersebut menun!ukkan bah"a la!u pelepasan a"al parasetamol # ka$ein lebih baik dari pada parasetamol sendiri, dan hal tersebut !uga menun!ukkan hasil yang sama setelah menit ke(20 . Tetapi setelah menit ke(&0, la!u pelepasan obat men!adi 99(100 * diamati pada -1 dan .1 untuk parasetamol dan -2 , .2 , /2 dan 02 untuk parasetamol # ka$ein. edangkan, merek lain dari kedua kelompok menun!ukkan pelepasan obat lebih dari 90 * setelah menit ke(&0. -pabila semakin baik disolusi parasetamol # ka$ein dimungkinkan adanya ka$ein dapat memper1epat kelarutan parasetamol (2kore dan 2su!i , 2001) . %asil penelitian dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3ambar 1 .

3eterangan 4 #$ -$ .$ D$ /$ 5 !ablet dengan 1andungan paracetamol murni #2 -2 .2 D2 /2 5 !ablet dengan 1andungan 1ombinasi paracetamol dan caffein

CONCLUSION CONCLUSION
Paracetamol is a well established and proven analgesic and antipyretic drug. !he current pharma mar1et of -angladesh is flooded with various combination preparations. 6ith other combination formulation, paracetamol"caffeine is also now widely used for the management of different pain in the country. !herapeutic response of any formulation depends on its quality parameters. +rom the study it was identified that weight variation and friability test of both paracetamol and paracetamol"caffeine tablet brands complied the specification. 7ariation was obtained in hardness, disintegration time and dissolution profile during the test procedure. Paracetamol"caffeine tablets were found harder than tablets having only paracetamol and the combination brands also increased the time of disintegration. 8t should be strictly considered that an ideal tablet will have sufficient hardness to maintain its mechanical stability but not more. -ecause harder tablet can delay disintegration time or alter dissolution profile. 0n the other hand, paracetamol"caffeine tablet brands showed better disintegration profile than the single paracetamol brands. #t every interval drug release rate was more in paracetamol"caffeine tablets than paracetamol alone. !his might be 9esulted by the presence of caffeine in the formulation as it increased the solubility of paracetamol followed by dissolution profile. +inally, as quality control parameters are related to one another from initial step to pharmacological action of the drug, a high,quality tablet either single or in combination should meet all the standard quality parameter for getting its desired therapeutic response.

3/:8;P<=#> Parasetamol merupa1an obat analgesi1 dan terbu1ti 2uga dapat diguna1an sebagai obat antipireti1. Dunia farmasi saat ini pembuatan tablet berbagai 1ombinasi . Dengan formula 1ombinasi, misalnya parasetamol " 1afein se1arang banya1 diguna1an untu1 pengobatan nyeri yang berbeda dalam negara . 9espon terapi formulasi apapun tergantung pada parameter 1ualitas . Dari mempela2arinya identifi1asi bahwa variasi berat tablet dan u2i 1erapuhan bai1 parasetamol maupun parasetamol " 1afein tablet harus memenuhi spesifi1asi . 7ariasi diperoleh dari

1e1erasan , wa1tu hancur dan disolusi selama prosedur pengu2ian . Parasetamol " 1afein tablet ditemu1an lebih sulit selama proses pengu2ian daripada tablet hanya memili1i parasetamol sa2a, selain itu mere1 1ombinasi 2uga mening1at wa1tu disintegrasi . ?al ini harus benar,benar dipertimbang1an bahwa tablet yang ideal a1an memili1i cu1up 1e1erasan untu1 men2aga stabilitas me1ani1. Di sisi lain , parasetamol " 1afein tablet menun2u11an Profil disintegrasi yang lebih bai1 daripada mere1 parasetamol tunggal. Pada setiap interval la2u pelepasan obat adalah lebih parasetamol " 1afein tablet dibanding1an parasetamol sa2a . ?al ini dapat ;enghasil1an oleh 1ehadiran 1afein dalam formulasi 1arena mening1at1an 1elarutan parasetamol dii1uti oleh disolusi . #1hirnya , sebagai parameter 1ontrol 1ualitas yang ter1ait satu sama lain dari lang1ah awal untu1 a1si farma1ologi obat , tablet ber1ualitas tinggi bai1 tunggal atau dalam 1ombinasi harus memenuhi semua parameter 1ualitas standar untu1 mendapat1an yang diingin1an nya respon terapi .