Anda di halaman 1dari 23

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN



A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PKM Kassi kassi dan tempat-tempat yang
memungkinkan responden berkumpul dan dapat ditemui yang berlangsung selama
2 minggu terhitung mulai tgl 10 - 24 Juni 2013 mengenai gambaran
penyalahgunaan NAPZA pada pasien terapi metadon di Puskesmas Kassi kassi
Makassar. Jumlah responden yang mampu diperoleh selama penelitian sebanyak
50 orang. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan
menggunakan pendekatan Cross Sectional Study.
Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat pada uraian
berikut:
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Kassi kassi merupakan salah satu Puskesmas Pemerintah
Kota Makassar dan merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kota
Makassar. Puskesmas Kassi kassi berdiri sejak 1978/1979. Puskesmas ini
merupakan Puskesmas perawatan ke-VI (Rumah Sakit Pembantu IV) di
Makassar. Puskesmas Kassi kassi terletak di jalan Tamalate I No. 43
Kelurahan Kassi kassi kecamatan Rappocini Kota Makassar dengan luas
wilayah kerja 7, 32 kha. Dari 9 kelurahan terdapat 76 RW dan 409 RT.

Adapun letak atau batas-batas wilayah kerja Puskesmas Kassi kassi
sebagai berikut:
Sebelah utara : Kelurahan Bara Baraya Karuwisi
Sebelah timur : Kelurahan Panaikang Tamangapa
Sebelah selatan : Kelurahan Mangasa Jongaya
Sebelah barat : Kelurahan Maricaya Parangtambung
Puskesmas Kassi kassi memiliki visi yaitu terwujudnya kemadirian
masyarakat untuk sehat dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 62 orang yang
terdiri dari dokter, dokter spesialis, dokter gigi, magister kesehatan, apoteker,
kesehatan masyarakat, bidan, perawat, perawat gigi, gizi, kesehatan
lingkungan, asisten apoteker, perekam medis, pelaksana lab, dan seorang staf.
Salah satu program utama yang dijalankan di Puskesmas Kassi kassi
adalah program Harm Reduction yang mencakup 12 program yaitu :
penjangkauan, NSP (needle syringe programme), KIE (komunikasi,
informasi, dan edukasi), layanan kesehatan dasar, pengumpulan dan
pemusnahan jarum bekas pakai, pelatihan HIV 101 bagi warga binaan, VCT
(Tes HIV), sosialisasi dan advokasi, ARV (Layanan ARV Lanjutan) PMTCT
(Prevention mother to child transmission), CST (Care, support, and
treatment) serta PTRM (Program terapi rumatan metadon).



2. Karakteristik Responden
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dengan metode survey
deskriptif yang bertujuan mendapatkan gambaran tingkat penyalahgunaan
NAPZA pada pasien terapi metadon di Puskesmas Kassi kassi Makassar.
Pengambilan data dilakukan mulai tanggal 22 April 2013 dengan kegiatan
kunjungan ke puskesmas dan diperoleh responden sebanyak 50 responden,
kemudian di beri pertanyaan dalam bentuk pedoman wawancara. Data yang
diperoleh dari peneliti adalah sebagai berikut:
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.1.1
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013
Jenis Kelamin n %
Laki-laki 46 92,0%
Perempuan 4 8,0%
Total 50 100%
Sumber : Data Primer, 2013
Data dari tabel 5.1.1 diatas dapat dilihat bahwa frekuensi terbanyak
dari 50 responden yang diteliti adalah yang berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 46 orang atau 92,0 %, dan yang terendah yang berjenis kelamin
perempuan sebanyak 4 orang atau 8,0 %.

b. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 5.1.2
Distribusi Responden Berdasarkan Umur
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013
Umur n %
11-22
23-34
35-46
1
40
9
2,0%
80,0%
18,0%
Total 50 100,0
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.1.2 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan umur yaitu responden yang
berumur 23-34 tahun sebanyak 40 orang atau 80,0 %, dan yang terendah
responden yang berumur 11-22 tahun sebanyak 1 orang atau 2,0 %.








c. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 5.1.3
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Tingkat Pendidikan n %
SD
SMP
SMA
Akademi/Perguruan Tinggi
2
4
35
9
4,0%
8,0%
70,0%
18,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.1.3 di atas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan pendidikan yaitu responden yang
tamat SMA sebanyak 35 orang atau 70,0 %, dan terendah responden yang
tamat SD sebanyak 2 orang atau 4,0 %







d. Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan
Tabel 5.1.4
Distribusi Responden Berdasarkan Status Perkawinan
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Status Perkawinan n %
Menikah
Belum Menikah
Janda/Duda
18
29
3
36,0%
58,0%
6,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.1.4 di atas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan status perkawinan yaitu
responden yang belum menikah sebanyak 29 orang atau 58,0%, dan
terendah responden janda/duda sebanyak 3 orang atau 6,0 % .
e. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 5.1.5
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013
Pekerjaan n %
Bekerja
Tidak Bekerja
35
15
70,0%
30,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.1.5 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan pekejaan yaitu responden yang
bekerja sebanyak 35 orang atau 70,0 %,dan terendah responden yang
tidak bekerja sebanyak 15 orang atau 30,0 %.
f. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Zat yang Dipakai
Tabel 5.1.6
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Zat yang Dipakai
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Jenis zat yang dipakai n %
1. Ganja
2. Putaw
3. Ganja dan Putaw
4. Putaw dan Shabu-shabu
5. Putaw dan Esctasy
6. Putaw dan Alkohol
7. Ganja, Shabu-shabu, dan Putaw
8. Ganja, Putaw, Esctasy dan Alkohol
9. Shabu-shabu, Putaw dan Esctasy
10. Ganja, Putaw, Shabu-shabu dan Esctasy
3
4
2
4
2
6
12
6
3
8
6,0%
8,0%
4,0%
8,0%
4,0%
12,0%
24,0%
12,0%
6,0%
16,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.1.6 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan jenis zat yang dipakai yaitu
responden yang memakai Ganja, Shabu-shabu dan Putaw sebanyak 12
orang atau 24,0 %, dan terendah responden yang memakai (Ganja dan
Putaw) dan (Putaw dan Esctasy) masing-masing 2 orang atau 4,0 %.
3. Tingkat penyalahgunaan NAPZA
a. Awal Penyalahgunaan NAPZA
Tabel 5.2.1
Distribusi Responden Berdasarkan awal penyalahgunaan NAPZA
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Umur n %
11-22
23-34
40
10
80,0%
20, 0%
Total 50 100, 0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.2.1 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan awal penyalahgunaan
NAPZA yaitu responden yang berumur 11-22 tahun sebanyak 40
orang atau 80,0 %, dan terendah responden yang berumur 23-34 tahun
sebanyak 10 orang atau 20,0 %.




b. Alasan Penyalahgunaan NAPZA
Tabel 5.2.2
Distribusi Responden Berdasarkan alasan penyalahgunaan NAPZA
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Penyalahgunaan
NAPZA
n %
Coba-coba
Sosial/rekreasi
Situasional
Penyalahgunaan
Ketergantungan
33
6
6
3
2
66,0%
12,0%
12,0%
6,0%
4,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.2.2 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan alasan penyalahgunaan
NAPZA yaitu responden coba-coba sebanyak 33 orang atau 66,0 %,
terendah responden penyalahgunaan sebanyak 3 orang atau 6,0%, dan
responden ketergantungan sebanyak 2 orang atau 4,0%.




c. Pengaruh Negatif Penyalahgunaan NAPZA
Tabel 5.2.3
Distribusi Responden Berdasarkan alasan penyalahgunaan NAPZA
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Pengaruh negatif
penyalahgunaan NAPZA
n %
Emosi tidak terkontrol
Mencuri
37
13
74,0%
26,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.2.3 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan pengaruh negatif
penyalahgunaan NAPZA yaitu emosi tidak terkontrol sebanyak 37
orang atau 74,0 %, dan terendah mencuri sebanyak 13 orang atau 26,0.








d. Awal Beralih ke Metadon
Tabel 5.2.4
Distribusi Responden Berdasarkan Awal Beralih ke Metadon
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Tahun n %
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
15
6
4
6
4
10
5
30,0%
12,0%
8,0%
12,0%
8,0%
20,0%
10,0
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.2.4 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan awal beralih ke metadon yaitu
tahun 2007 sebanyak 15 orang atau 30,0 %, terendah tahun 2009 dan
2011 masing-masing sebanyak 4 orang atau 8,0%.




e. Alasan Beralih ke Metadon
Tabel 5.2.5
Distribusi Responden Berdasarkan Alasan Beralih ke Metadon
di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013
Alasan Beralih ke Metadon n %
Ingin sembuh/berhenti
Murah
44
6
88,0%
12,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.2.5 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan alasan beralih ke metadon
yaitu ingin sembuh/berhenti 44 orang atau 88,0%, dan terendah murah
sebanyak 6 orang atau 12,0%.
f. Penggunaan NAPZA selain Metadon
Tabel 5.2.6
Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan NAPZA Selain
Metadon di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013
Penggunaan NAPZA
selain Metadon
n %
Kadang-kadang
Tidak menggunakan
29
21
58,0%
42,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.2.6 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan penggunaan NAPZA selain
metadon yaitu kadang-kadang sebanyak 29 orang atau 58,0%, dan
terendah tidak menggunakan sebanyak 21 orang atau 42,0%.
g. Keefektifan Antara Metadon dan NAPZA
Tabel 5.2.7
Distribusi Responden Berdasarkan Keefektifan Antara Metadon dan
NAPZA di Puskesmas Kassi kassi Makassar Tahun 2013

Keefektifan antara metadon dan NAPZA n %
Metadon
NAPZA
43
7
86,0%
14,0%
Total 50 100,0%
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan hasil tabulasi data pada tabel 5.2.7 diatas, responden
dengan frekuensi terbanyak berdasarkan Keefektifan antara metadon
dan NAPZA yaitu metadon sebanyak 43 orang atau 86,0%, dan
terendah NAPZA sebanyak 7 orang atau 14,0%.





B. Pembahasan
Program terapi rumatan metadon (PTRM) adalah kegiatan memberikan
metadon cair dalam bentuk sediaan oral kepada pasien sebagai pengganti adiksi
opioida yang biasa mereka gunakan. Dalam rangka pengurangan dampak buruk
narkoba, terapi metadon bertujuan mengurangi dampak buruk pada individu dan
sosial yang terkait dengan penggunaan opiat ilegal.
Sejak diujicobakan tahun 2003 hingga saat ini terbukti mampu mengurangi
pengguna narkoba jenis heroin dan putaw hingga 20 persen (Komunitas AIDS
Indonesia, 2008).
Untuk mengetahui lebih lanjut hasil penelitian yang diperoleh mengenai
gambaran tingkat penyalahgunaan NAPZA pada pasien terapi metadon maka
akan dibahas secara sistematis sesuai dengan variabel yang diteliti :
1. Gambaran Karakteristik Pengguna NAPZA Pasien Terapi Metadon
Gambaran karakteristik pengguna NAPZA terdiri dari jenis kelamin,
umur, pendidikan, pekerjaan dan jenis zat yang dipakai. Berikut peneliti akan
membahas gambaran karakteristik pengguna NAPZA pada pasien terapi
metadon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden dalam penelitian
ini sebanyak 50 orang. Dari 50 orang responden yang mengikuti Program
Rumatan Terapi Metadon (PTRM), sebagian besar berjenis kelamin laki-laki
yaitu sebanyak 92,0% dan hanya 8,0% berjenis kelamin perempuan. Hasil
penelitian ini juga sesuai dengan hasil survey BNN bekerjasama dengan pusat
penelitian kesehatan universitas Indonesia (Puslitkes-UI) tahun 2012,
perbandingan prevalensi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba 5,4%
laki-laki dan 3,6% perempuan. Hal ini disebabkan karena pria disebabkan
karena pria cenderung lebih ekspresif daripada perempuan serta lebih berani
dalam melakukan hal-hal yang mengandung resiko tinggi.
Kelompok umur terbanyak yang mengikuti terapi metadon yaitu
kelompok umur 23-34 tahun yaitu 80,0% dan yang paling rendah kelompok
umur 11-22 tahun. Kelompok umur 23-34 tahun tersebut termasuk usia
produktif dan mulai memasuki awal kematangan berpikir untuk mengambil
keputusan tepat bagi kehidupannya. Selain itu pada usia tersebut
kecenderungan seseorang untuk menatap masa depan dan karir mulai fokus.
Namun pada usia yang tergolong dewasa muda ini banyak yang berperilaku
beresiko
Pada profil penyalahgunaan NAPZA kepemenkes disebutkan bahwa
sekitar 73% pasien yang datang ke Program Terapi Rumatan Metadon
(PTRM) RSKO berumur 20-29 tahun selebihnya berumur diatas 30 tahun.
Sedangkan di klinik di PTRM Rumah sakit Sanglah Denpasar, Usia pasien
lebih banyak dari usia diatas 25 tahun (Depkes, 2006).
Sebagian besar responden berpendidikan SMA dengan jumlah 70,0%
dan yang paling rendah adalah tingkat pendidikan SD yaitu 4,0Hal serupa
didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Hatu (2008) dimana seluruh
informan (peserta PTRM) berpendidikan tinggi yaitu S1, Diploma, dan Tamat
SMA.
Sebagian besar PTRM belum menikah yaitu 58,0% dan yang paling
rendah janda/duda yaitu 6,0%. Status perkawinan yang merujuk pada status
belum kawin memberikan peluang luas bagi remaja maupun orang dewasa
untuk melakukan apa yang diinginkannya termasuk menggunakan NAPZA
ataupun memutuskan untuk ikut terapi metadon. Dan hal ini didukung oleh
belum adanya tanggung jawab besar terhadap orang lain didalam
kehidupannya seperti anak dan istri.
Sebagian besar PTRM yang bekerja yaitu 70% dan lebih rendah tidak
bekerja 30,0%. Hal ini dikarenakan pasien pada terapi metadon ingin
memperbaiki kehidupannya dengan bekerja.
Adapun jenis NAPZA yang dipakai pada PTRM terbanyak adalah
kelompok Ganja, shabu-shabu, dan putaw yaitu 12 orang atau 24% dan
terendah adalah Ganja, putaw dan putaw, Esctasy masing-masing berjumlah 2
orang atau 4,0%. Berdasarkan UU RI Nomor 22 tahun 1997 tentang
narkotika, ganja termasuk dalam narkotika golongan I yang hanya dapat
digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak ditujukan untuk terapi
serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan, dan
juga merupakan jenis narkotika yang paling sering disalahgunakan (74,9%).




2. Gambaran Tingkat Penyalahgunaan NAPZA
Penanaman tentang NAPZA seharusnya ditanamkan sejak dini kepada
generasi muda. Ketidaktahuan individu mengenai NAPZA baik mengenai
dampak yang ditimbulkan secara fisik, pengaruh bagi tubuh, cara kerja,
dampak lingkungan dan hal penyerta lainnya, sangat mempengaruhi individu
untuk memilih menggunakan NAPZA. Adapun awal penyalahgunaan NAPZA
di PTRM terbanyak adalah berumur 11-22 tahun yaitu 80,0% dan paling
rendah berumur 23-34 yaitu 20,0%. Sangat ironis skali setelah mengetahui
awal para responden menggunakan NAPZA pada saat umur belasan tahun
bahkan terdapat responden menggunakan NAPZA pada saat duduk dibangku
sekolah SMP.
Usia pertama kali memakai NAPZA menunjukkan bahwa usia remaja
merupakan usia rawan penyalahguna NAPZA. Kepribadian responden yang
belum matang untuk menilai yang baik dan yang buruk serta pantas dan tidak
pantas bagi diri mereka, menyebabkan mereka terlibat NAPZA
(Depkes,2001).
Berbagai alasan yang dikemukakan responden mengapa mereka
menggunakan NAPZA. Alasan yang dikemukakan responden terbanyak
adalah karena coba-coba yaitu 66,0%. Hal ini sejalan dengan penelitian Kartia
(2010) yang mengambil kesimpulan bahwa seseorang bisa mulai menjadi
pemakai dipengaruhi oleh faktorfaktor individu maupun faktor lingkungan
kedua faktor ini berhubungan sangat erat satu sama lain, yang termasuk faktor
individu selain untuk iseng dan coba-coba, antara lain adanya harapan untuk
dapat memperoleh kenikmatan dari efek obat yang ada, atau untuk dapat
menghilangkan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dirasakan.
Adapun efek samping atau pengaruh negatif yang dirasakan selama
menggunakan NAPZA terbanyak adalah emosi tidak terkontrol yaitu 74,0%
dan paling rendah mencuri yaitu 13,0%. Para penyalahguna NAPZA biasanya
emosinya tidak terkontrol. Saat marah ia bisa sangat marah karena kesalahan
kecil, saat senang ia akan sangat senang, saat sedihpun demikian, ia akan
terlihat sangat sedih. Menurunnya kemampuan responden menilai perbuatan
yang baik dan salah tidak urung membuat mereka melakukan perbuatan tidak
terpuji, seperti berkelahi, melawan orang tua, mencuri, serta tindakan asusila
(berzina/seks bebas). Adapun hasil penelitian Kartia (2010) menyatakan
Perilaku menyimpang yang khas terjadi pada penyalahgunaan NAPZA adalah
perilaku mencuri dan tindakan anarkis dalam memenuhi kebutuhan akan
barang NAPZAnya. Sebagian besar PTRM menggunakan NAPZA pada tahun
2007 yaitu 30,0% dan terendah pada tahun 2009 dan 2011 masing masing
berjumlah 8,0%. Responden sebagian besar mengatakan bahwa ia mengikuti
terapi metadon saat awal dimulainya PTRM. Dimana yang kita ketahui PTRM
di Puskesmas Kassi kassi dimulai sejak tahun 2007 dan merupakan PTRM
dengan pasien terbanyak di Sul-Sel.
Beragam alasan yang dikemukakan responden mengapa mereka
mengikuti terapi metadon. Alasan yang dikemukakan terbanyak adalah karena
ingin sembuh/ berhenti yaitu 88,0%, alasan lain yaitu karena terapi metadon
murah sebanyak 12,0%. Hal ini sejalan dengan penelitian Harviani (2010)
yang menyatakan bahwa alasan yang dikemukakan oleh responden mengenai
alasan mengapa responden ikut terapi terbanyak adalah ingin sembuh/berhenti
dari NAPZA yaitu terdapat 21 orang (67,7%), alasan lain karena terapi
metadon murah sebanyak 32,3%. Keinginan sembuh merupakan alasan utama
hampir semua peserta metadon karena salah satu tujuan terapi metadon adalah
membantu pengguna lepas dari pengaruh NAPZA secara bertahap.
Sedangkan yang beralasan murah, menurut informasi beberapa
responden mengatakan bahwa ada teman mereka sesama peserta ikut terapi
dengan alasan murah karena apabila tidak sanggup membeli putaw cukup
dengan cukup metadon agar tidak sakau. Dari penelitian yang dilakukan Hatu
(2008), terdapat beberapa responden yang merasa nyaman menggunakan
metadon karena murah dan legal.
Adapun pernyataan responden yang menyatakan bahwa mereka masih
menggunakan NAPZA lain atau metadon. Sebagian besar responden
menyatakan kadang-kadang berjumlah 58,0% dan sebagian lagi menyatakan
tidak menggunakan NAPZA lain selain metadon berjumlah 42%.
Kebanyakan responden PTRM menyatakan bahwa mereka menggunakan
NAPZA apabila mereka menginginkannya lagi atau ada ajakan dari teman-
temannya. Adapun yang menyatakan bahwa dia tidak ingin lagi menggunakan
NAPZA lagi karena memang ingin betul-betul berhenti.
Kebanyakan responden PTRM mengatakan bahwa lebih efektif
menggunakan metadon daripada NAPZA lain. Responden yang mengatakan
metadon berjumlah 86,0% sedangkan NAPZA lain berjumlah 14,0%. Setelah
mengikuti terapi, kebanyakan responden mengaku merasa lebih sehat dan
hanya sebagian kecil yang mengaku merasa tidak cepat mengalami gejala
putus obat. Dengan mengikuti terapi metadon akan meningkatkan kualitas
hidup pengguna dan mempunyai kesempatan untuk meningkatkan
produktivitasnya secara sosial (Metadon Indonesia, 2008).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Diah Setia Utami
yang menunjukkan bahwa PTRM berpengaruh pada kualitas hidup pasien,
antara lain ditandai oleh berkurangnya angka pengangguran, menurunnya
keadaan depresi dan meningkatnya kepuasan terhadap situasi sosial (Medika,
2007).
Dalam ajaran islam, status hukum dalam konteks fiqih, tidak disebutkan
secara langsung dalam Alquran maupun Sunnah. Alquran hanya berbicara
mengenai keharaman khamar. Pengharaman khamar dalam Alquran bersifat
global.




Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari
Abdullah bin Umar yang berarti :


Artinya :
Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah
diharamkan. (Firanda,2010)

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :



Artinya :
Larangan setiap zat bahan yang memabukkan dan melemahkan.
(Riwayat Umi Salamah)

Menurut Mazhab Hanafi yang diharamkan meliputi penggunaan
NAPZA, memperjualbelikannya atau menjadikannya sumber penghasilan,
menanam atau memproduksi NAPZA, serta menggunakan harta hasil jual beli
benda benda haram dan ibadat ibadat yang dibiayai dengan hasil itu adalah
tidak diterima bahkan haram pula.




Penyalahgunaaan NAPZA dapat merusak kesehatan, dan lain - lain.
Yang mana hal tersebut telah dilarang oleh Allah Swt. dalam QS An-Nisa /
4:29:
4 W-EOU+^> 7=O^ _ Ep)
-.- 4p~E 7) V1gO4O ^g_
Terjemahannya:
... dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu.
Menurut Abdullah Bin Muhammad, dalam tafsir Ibnu Katsir orang
mencari harta untuk kelangsungan hidup. Maka selain kemakmuran harta
benda hendaklah pula terdapat keamanan jiwa. Larangan untuk saling
membunuh, bahkan larangan keras membunuh diri sendiri. ( Katsir, 2007).
Ayat diatas menganjurkan kita untuk menjauhi khamar (NAPZA) karena
akan mengganggu daya akal dan pikiran manusia, merusak kesehatan, dapat
merusak organ tubuh, gangguan jiwa, tertular virus HIV, dapat
menghancurkan potensi sosial, menurunkan minat belajar, merusak keamanan
dan ketertiban masyarakat dalam hal ini siswa, menimbulkan tindak
kriminalitas, kecelakaan lalu lintas, membahayakan kehidupan bangsa dan
negara, mengakibatkan rusaknya persatuan, kesatuan dan mobilitas nasional,
mentalitas dan moralitas bangsa.
Pemakai NAPZA dalam pandangan Islam adalah manusia terkutuk.
Mereka akan mendapat kerugian didunia dan akhirat. Hal ini dijelaskan
dengan jelas dalam dalil-dalil sebagai berikut: Barang siapa bertemu Allah
sebagai pecandu khamr, maka ia bertemu dengan-Nya seperti penyembah
berhala. (HR. An-Nasai). Tiga golongan yang Allah haramkan untuk
masuk surga yaitu peminum khamr, durhaka kepada orang tua, dan yang
mengizinkan terjadinya perzinaan dikalangan keluarga. (HR. Ahmad, Nasai,
Al-Bazzar, dan Hakim).
Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa atau orang tua merupakan
panutan dalam kehidupan anak, khususnya anak - anak yang sedang
menginjak usia remaja.