Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH RIWAYAT KELUARGA DENGAN MIOPIA BERAT TERHADAP LEVEL DAN ONSET TERJADINYA MIOPIA Tujuan : Untuk meneliti

tentang pengaruh positif riwayat keluarga dengan myopia berat terhadap level dan onset terjadinya myopia serta pengaruhnya terhadap kompponen bola mata. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional (potong lintang). Para peserta (usia 17-45 tahun) dikelompokkan menjadi 4 group penelitian, yang terdiri dari: kelompok normal, kelompok mild myopia (myopia ringan), moderate myopia (myopia sedang), dan high myopia (myopia berat/gravior). Onset yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah usia awal peserta saat memakai kaca mata. Dalam ini diperhitungkan adanya pengaruh riwayat keluarga terhadap level dan onset terjadinya myopia. DAlam penelitianini juga dianalisis mengenai parental effect (efek orang tua) terhadap bentuk kelengkungan kornea (cornea curvature = CC), kedalaman bilik mata depan (anterior chamber depth = ACD) dan panjang aksis bola mata (axial length = AXL). Hasil : Dalam penelitian ini terdapat 185 peserta (subjek penelitian) dalam kelompok normal, 170 peserta dalam kelompok myopia ringan, 140 dalam kelompok myopia sedang dan 392 dalamkelompok myobia berat. Riwayat keluarga sangat berhubungan erat dengan probands status (P < 6 x 10-12). Dimana terdapat 1 orang tua dengan myopia berat, odds ratio (ORs) untuk berkembangnya derajat myopia dari ringan menjadi berat adalah 2,5 dan 3,7 (95% Cl: 1,16,5) dan Ors untuk menjadi myopia berat adalah > 5,5 (95% Cl: 3,2-12,6). Dalampenelitian ini juga ditemukan kaitan yang sangat erat (P = 2 x 10-6) antara status orang tua dengan myopia terhadap panjang aksis bola mata (AXL) pada subjek, tetapi tidak ditemukan adanya hubungan terhadap kelengkungan kornea (CC) dan kedalamanbilik mata depan (ACD). Terdapat hubungan yang erta antara riwayat orang tua dengan myopia berat terhadap onset terjadinya myopia pada anak. Sedangkan riwayat sepupu dengan myopia tinggi terhadap hubungan yang sangat lemah untuk terjadinya myopia pada anak. Kesimpulan: Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hubungan antara riwayat keluarga terhadap level dan onset myopiawalaupun dipengaruhi oleh factor lingkungan.Juga terdapat pengaruh terhadap komponen bola matanya yaitu pada panjang aksis bola mata (AXL).

Miopia adalah suatu kejadian yang sangat umum terjadi. Prevalensi terjadinya myopia di United States diperkirakan sekitar 25% dari total populasi yang ada. Dan jumlah ini lebih besar da ripada prevalensi yang terjadi di Negara-negara Asia. Miopia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit mata yang serius seperti glaukoma, katarak subkapsular posterior, retinal detachment, degenerasi retina, kecacatan penglihatan dan kebutaan. Beberapa cara telah digunakan untuk koreksi myopia yaitu penggunaan kaca mata, contact lense, orthokeratology, photorefractive keratectomy, dan Laser in situ keratomieleus (LASIK). Walaupun sebenarnya cara tersebut tidak mencegah terhadap komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh myopia yang telah disebutkan sebelumnya. Komplikasi meningkat pada penggunaan contact lense, orthokeratology dan pembedahan. Adapunfaktor risiko terjadinya myopia adalah : gen, lingkungan, dan interaksi antara genetic dan lingkungan. Beberapa penelitian menemukan bahwa terdapat pengaruh lingkungan terhadap terjadinya myopia, sedangkan terdapat 2 penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh genetic pada myopia. Beberapa penelitian juga mengemukakan bahwa riwayat keluarga berpengaruh terhadap terjadianya myopia, walaupun belum diteliti lagi mengenai pengaruh riwayat keluarga terhadap derajat myopia. Survei nasional di Taiwan mengungkapkan bahwa subyek dengan rentang umur 16-18 dengan myopia adalah sebanyak 84%. Dari subjektersebut, prevalensi yang menderita myopia berat (> -6 D) adalah sebanyak 18%pada laki-laki dan 24% pada wanita. Sedangkan di Singapura dilaporkan terdapat > 13% yang menderita myopia berat baik laki-laki maupun perempuan. Selanjutnya, beberapa studi menunjukkan bahwa prevalensi miopi meningkat dari 75% menjadi 81% pada populasi remaja (usia < 15 tahun) di Taiwan yang tercatat dalam survey nasional tahun 1995 dan 2000. Diyakini bahwa adanya pengaruh genetika pada awal terjadinya miopi dan diperberat dengan adanya pengaruh dari lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan pada adanya pengaruh orang tua dan sepupu dengan myopia berat terhadap level dan onset terjadinya myopia. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk menguji adanya keterlibatan riwayat keluarga (orang tua dan sepupu) dengan myopia berat terhadap level dan 3 komponen miopi yaitu: AXL,ACD, dan CC. Sedang tujuan keduanya adalah untuk menguji pengaruh riwayat keluarga terhadap onset miopi. Selain riwayat keluarga, factor lingkungan seperti TV, games, computer, tingkat pendidikan dan aktivitas diluar (harian) juga dirangkum dalam data.

Metode Penelitian ini mengikut sertakan sebanyak 887 orang dengan rentang usia 17-45 tahun. Peserta diambil dari Kaohsiung, Taiwan. Seluruh peserta merupakan keturunan Cina. Peserta berasal dari: 1) Mahasiswa/alumni Universitas Sun Yat Sen yang mengambil bidang advertisement (periklanan). 2) Siswa SMA yang telah disurvey visusnya 3) Pemuda yang sedang mengikuti wajib militer 4) Karyawan Rumah Sakit Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Institutional ReviewBoards di Kaohsiung Municipal United Hospital dan Universitas Columbia, . Seluruh peserta mendapatkan penjelasan mengenai seluruh risiko beserta manfaatnya.Seluruh peserta menanda tangani lembar informed consent. Setiap peserta mendapatkan pemeriksaan berupa slitlamp, direct funduscopy, autorefractor,dan koreksi visus tanpa seikloplegik. Pengukuran kelainan refraksi menggunakan autorefractometer (KR -8100; Topcon, Tokyo, Japan). Angka rata-rata dengan pengukuran menggunakan autorefractometer yaitu -25 dan +22 D untuk lensa sferis, -8 dan +8 untuk silinder, dan 33,75 - 67,50 untuk kekuatan kornea. Diameter pupil minimal adalah 2,0 mmPengukuran AXL menggunakan ultrasonic biometer A-scan (model 820: Humphray Inc. , San Leandro, CA). Pengukuran refraksi dilakukan sebanyak 3x, dan hasil akhirnya diambil dari pengukuran terakhir. Peserta dikelompokkan kedalam 4 grup sesuai dengan kelainan refrakinya (data dari myopia berat juga digunakan). Normal : 1,0 hingga -1,0 D, myopia ringan : -1,25 hingga -3,5 D, myopia sedang : -3,75 hingga -4,7 D dan myopia berat -5 D. Setiap peserta diminta untuk melengkapi kuisioner mengenai riwayat keluarga, usia pertama saat mengenakan kaca mata untuk rabun jauh dan faktor lingkungan yang berperan. Pada kuisioner juga ditanyakan mengenai ada/tidaknya orang tua/saudara yang memakai kaca mata untuk rabun jauh dan apakah kelainan refraksinya mencapai -5D. Apabila peserta tidak memiliki saudara, maka ia tidak diikutsertakan dalam analisis risiko saudara. Sama juga halnya apabila ada data keluarga yang tidak diketahuinya, maka peserta tidak dimasukkan dalam analisa nrisiko keluarga. Reliabilitas kuisioner telah

menghubungi secara langsung seluruh orang tua dan 56 saudara untuk menanyakan mengenai status refraksinya. Apabila ada saudara yang tidak dapat ditemui, maka dapat ditanyakan pada orang tuanya untuk pertanyaan yang sama, yang kami sebut sebagai cross validation. Test validasi menunjukkan bahwa 2 pasien yang terdata memiliki orang tua dengan miopia berat ternyata orang tuanya menderita miopia sedang dan 3 peserta tidak memiliki saudara yang menderita miopia berat. Jadi kesalahan data dari penelitian kami adalah sebanyak 2% pada orang tua dan 3% pada saudara. Terdapat 4 peserta yang datanya salah, yaitu: 1 peserta normal, 2 peserta miopia ringan dan 1 peserta miopia berat. Untuk memvalidasi refraksi, maka 35 anggota keluarga diminta datang ke klinik kami untuk menjalani pemeriksaan mata. Keseluruhannya menggunakan kaca mata jarak jauh. Mereka ditanya mengenai status penglihatan mereka, apakah diatas/dibawah -5D. Kmi juga menyertakan kuisioner pada setiap anggota keluarga, kuisioner terdiri dari pertanyaan mengenai faktor risiko yang berhubungan dengan lingkungan sepertibanyaknya waktu yang digunakan untuk menonton TV (dalam hitungan jam/minggu), video/computer games, bekerja dengan menggunakan komputer,outdoor activity, serta tingkat pendidikan. Untuk 4 faktor risiko yang paling utama, setipa peserta diminta untuk memilih satu dari 5 angka, angka 1 untuk 10 jam/mimggu, angka 2 untuk 11 -20 jam/minggu, angka 3 untuk 21-30 jam/minggu, angka 4 untuk 31-40 jam/minggu dan angka 5 untuk 40 jam/minggu. Uji X2 adalah uji yang pertama digunakan untuk menguji distribusi dari proband disesuaikan dengan status miopia parental dan saudara yang tersaji dalam tabel. OR dihitung untuk mengukur dampak dari riwayat keluarga terhadap status miopia proband. AXL, ACD dan CC baik horizontal maupun vertikal telah dianalisis dengan menguji hubungan antara keempat dari komponen bola mata dan parental myopic status. Nilai tertinggi terhadap dua mata digunakan untuk analisis terhadap komponen-komponen tersebut. Untuk hasil normal dan miopia berat dianalisis dengan menggunakan regresi logistik dimana termasuk di dalamnya status miopia, faktor lingkungan dan jenis kelamin. Kami menduga bahwa riwayat keluarga kemungkinan mempengaruhi derajat miopia seperti halnya onset terjadinya miopia. Usia pertama memakai kaca mata kami gunakan sebagai indikator onset yang dibuat berdasarkan angka rata-rata usia awal memakai kaca mata pada setiap kelompok. Nilai rata-ratanya yaitu pada usia 11 tahun untuk miopia berat, 13 tahun untuk miopia sedang dan 15 tahun untuk miopia ringan. Nilai rata-rata dari ketiga kelompok tersebut

adalah sama dengan nilai rata-rata yang tertera dalam data. Analisis hubungan antara onset dengan orang tua yang memilki myopia berat telah ditampilkan. Untuk memastikan bahwa cut off point tidak akan mempengaruhi hasil, juga dilakukan uji untuk usia 111, 131 dan 151 sebagai cut off point. Nilai p 0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil Pengaruh orang tua dan saudara terhadap status miopia Sebanyak 185 peserta kami kelompokkan sebagai kelompok kontrol (dengan status normal). Jumlah dari miopia ringan sedang dan berat adalah 170, 140 dan 392. Diagram antara usia dan kelainan refraksi digambarkan dalam diagram 1a sedangkan diagram antara onset dan kelainan refraksi digambarkan pada diagram 1b. Keempat kelompok dalam diagram 1a menunjukkan usia seluruh peserta. Pertama kami mengympulkan data mengenai efek dari orang tua dan saudara dan kami menemukan kaitan yang sangat erat antara orang tua dan saudara terhadap derajat miopia pada peserta. Kaitan tersebut menunjukkan hasil sebagai nilai p 5,94 x 10-12 dan 1,67 x 10-12 yang tertera dalam tabel 1. Kami meneliti lebih lanjut lagi mengenai hubungan tersebut dengan menggunakan serangkaian tabel 2x2, dimana peserta yang tidak mempunyai riwayat derajat miopia berat pada orang tua dan saudara sebagai kelompok utama dan peserta yang memiliki riwayat keluarga dengan derajat miopia berat sebagai kelompok pembandingnya. Ketika hanya ada salah satu dari orang tua yang menderita miopia berat, OR (95% Cl) adalah 3,09 (1,69-5,67), 3,47 (1,86-6,50), dan 5,47 (3,23-9,29) untuk kelompok miopia ringan, sedang dan berat. Sedangkan untuk peserta yang kedua orang tuanya menderita miopia berat, OR (95% Cl) adalah 2,53 (1,07-6,02), 3,09 (1,27-7,51) dan 6,03 (2,88-12,63) untuk ringan, sedang dan berat. Demikian pula apabila memiliki satu saudara kandung yang menderita miopia berat, maka OR (95% Cl) ,dari 1,73 (0,99-3,01), 2,60 (1,45-4,67) dan 5,16 (3, 19-8,35) untuk ringan, sedang dan berat. Ketika peserta memiliki 2 saudara kandung yang menderita miopia berat, maka OR (95% Cl) untuk miopia ringan, sedang dan berat adalah 0,78 (0,25-2,42), 2,51 (0,90-6,95), dan 2,27 (0,93-5,56). Untuk hasil yang non signifikan pada peserta dengan riwayat 2 saudara yang menderita miopia berat dimungkinkan karena jumlah yang sedikit pada kasus seperti itu. Analisis Multivariat

Nilai rata-rata untuk faktor lingkungan terhadap setiap kelompok miopi disajikan dalam tabel 2. Tingkat pendidikan (P = 0,0001) dan menonton TV (P < 0,0001) mempunyai nilai signifikansi yang sangat berbeda dalam setiap kategori, sedangkan untuk video/computer games, komputer maupun outdoor activity tidak memiliki nilai yang signifikan. Sebuah analisis logistic multivariate digunakanuntuk mengevaluasi pengaruh orang tua, kelima faktor lingkungan dan jenis kelamin terhadap status myopia peserta (Tabel 3) yang termasuk didalamnya kategorinormal dan myopia berat. Terdapat 3 variabel yang memilki nilai signifikan dalam statistic terhadap status myopia yaitu mempunyai orang tua dengan statusmiopia berat (satu orang tua; OR = 6,36 P = 1,16 x 10-9 dan untuk keduaorang tua dengan status myopia berat; OR = 7,70 P = 6,14 x 10-6), mahasiswa atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi (OR = 3,26 P = 4,42 x 10-7), perempuan (OR = 2,21 P = 0,02 dibandingkan dengan laki-laki). Pengaruh orang tua terhadap status miopi pada anak dapat dilihat dari analisis regresi logistic multivariate ini ataupun pada analisis contingency yang sebelumnya. Namun, 95% Cl pada satu atau kedua orang tua memiliki nilai signifikansi yang sangat tumpang tindih. Oleh karena itu, diharapkan untuk berhati-hati dalam mengambil sebuah interpretasi terhadap hasil ini. Pengaruh parental terhadap AXL (Axial Length), ACD (Anterior Chamber Depth) dan CC (Cornel Curvature) Distribusi dari AXL,ACD dan CC ditampilkan dalam gambar 2. Untuk data AXL dibagi

kedalam 4 kategori (yaitu setiap masing-masing kategori memiliki jumlah peserta yang sama) untuk analisis, terlepas dari ada/tidaknya riwayat keluarga. The cutoff point were 26.71, 25.78, dan 24.71 mm (Tabel 4). Distribusi keempat AXL berdasarkanpadu status myopia orang tua disajikan dalam table 4. Status myopia pada orang tua sangat mempengaruhi terhadap nilai AXL pada anak-anak (P = 1,18 x 10-6). Sama halnya juga terhadap ACD dan CC pada tiap masingmasing kelompok. Untuk CC horizontal dan vertical dianalisis secara independen. The cutoff point for ACD were 3.89, 3.73, dan 3.54 mm(Tabel 4). The cutoff point were 43.75, 42.50, dan 41.75 Dioptri untuk CC horizontal dan 45.0, 43.75, 42.75 D untuk CC vertical. Tidak terdapat hasil yang signifikan terhadap ACD (P = 0,15), CC horizontal (P = 0,19) dan CC vertical (P = 0,11) yang ditampilkan dalam table 4. Pengaruh Parental dan Saudara Kandung Terhadap Onset Miopia

Terdapat hubungan yang signifikan (semua nilai P 0,006) antara orang tua dengan status myopia ringan, sedang dan berat terhadap keturunan mereka. Diantara seluruh peserta yang termasuk di dalam kelompok myopia berat, mereka yang memiliki orang tua dengan riwayat myopia berat, mempunyai onset miopiayang lebih awal dengan OR 2,61 (P = 3,1 x 10-5). Riwayat orang tua dengan myopia memilikinilai signifikansi yang sangat kuat pada usia 10 (OR 2,58 P = 7,98 x 105

) dan 12 (OR 2,03 P = 0,004) yang kami jadikan sebagai patokan awal untuk menentukan onset

dini ataupun lambat. Untuk myopia sedang, pengaruh orang tua juga memiliki nilai signifikansi terhadap onset terjadinya myopia pada keturunan mereka dengan OR = 4,19 P = 0,001. Hasil tersebut masih signifikan walaupun patokannya pada usia 12 tahun (OR = 4,78 P = 0,0001) dan 14 tahun (OR =4,54 P = 0,002). Untuk myopia ringan, walaupun memiliki hubungan yang signifikan (P = 0,006) dengan patokan onset pada usia 15 tahun, menunjukkan hasil yang kurang konsisten terhadap patokan yang lain (P = 0,09 untuk usia a4 tahun dan 16 tahun). Tidak ada hubungan antara adanya saudara kandung dengan myopia berat terhadap onset terjadinya myopia pada seluruh kelompok ; P = 0,79 untuk myopia berat, P = 0,30 untuk myopia sedang, P = 0,1 untuk myopia ringan. Walaupun patokan usia yang digunakan berbeda untuk menguji pengaruh dari saudara kandung, hasilnya tetap tidak signifikan. The unequalnumber of subjects in the early and late groups (Tabel 5) were due to missing family information in the late group. Diskusi Penelitian ini menunjukkan 3 hal penting : 1) Riwayat orang tua dan saudara kandung dengan myopia memiliki hubungan dengan terjadinya myopia ringan, sedang dan berat pada peserta penelitian. 2) Derajat myopia berat pada orang tua dapat memicu onset awal pada keturunan mereka untuk terkena myopia 3) AXL pada peserta (tetapi tidak pada ACD dan CC) berhubungan dengan status myopia pada orang tua. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkanadanya pengaruh riwayat keluarga dengan perkembangan myopia. Mutti et al. defined myopias 0,75 D, and reported an OR of 6,4 for two, compared with no parent with myopia, which is similar with our adjusted OR of 7,70. Wu dan Edwards merekrut anak-anak yang berkebangsaan Cina yang berada di Hong kong dan dua

kota di Cina, dimana mereka menderita myopia dengan koreksi sfreris 1 D, dan visus yang tidak dikoreksi. Mereka melaporkan bahwa OR bagi yang mebderitamiopia dengan riwayat orang tua myopia adalah antara 2,96 dan12,85 yang datanya dianalisis melalui beberapa penelitianyang ada. Saw et al. melaporkan adanya hubungan yang sangat lemah terhadap riwayat orang tua (OR 3,1 untuk kedua orang tua vs tidak ada riwayat orang tua dengan myopia) pada pemuda yang berada di Singapura; Walaupun deskripsi myopia disini adalah orang yang memiliki koreksi visus 0,5 D. Beragam nilai OR antara penelitian ini dimungkinkan karena bervariasinya sampel, alur perekrutan, definisi myopia dan berbagai risiko pada populasi yang berbeda. Namun, penelitian ini secara konsisiten menunjukkan bahwa riwayat orang tua dengan myopia merupakan sebuah factor risiko. Meskipun analisis kami menunjukkan bahwa riwayat orang tua dengan miopi adalah lebih penting daripada pengaruh dari factor lingkungan. Kita harus mengingat bahwa pengaruh dari orang tua disini termasuk didalamnya factor genetic dan factor lingkungan yang tidak terukur (seperti kebiasaan membaca atau paparan awal terhadap

pekerjaan yang memerlukan kecermatan jarak dekat). Penelitian menunjukkan bahwa orang tua membawa pengaruh yang sangat besar terhadap AXL anak-anak mereka (P = 2x 10-6). Akan tetapi ACD dan CC tidak dipengaruhi oleh status myopia orang tua. Penelitian terhadap anak-anak Singapura, Saw et al, juga melaporkan bahwa nilai AXL sangat dipengaruhi oleh status myopia orang tua (P<0,001), tetapi untuk nilai rata-rata ACD adalah sama untuk satu, dua atau tidakada orang tua dengan riwayat miopi. Zadnik et al telah meneliti tentang ukuran mata pada anak-anak Amerika, melaporkan bahwa orang ukuran mata anak dengan orang tua myopia lebih panjang daripada anak tanpa orang tua dengan riwayat myopia. Penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya untuk mengukur AXL dalam pemeriksaan mata pada anak. Sama halnya dengan penelitian yang kami lakukan, bahwa kelengkungan kornea tidak berhubungan dengan status myopia orang tua, begitu juga menurut Saw dan Zadnik et al. Using the age of first glasses for myopia as a surrogate of the onset of myopia may cause some concerns. Di Taiwan sendiri, kaca mata tidak diresepkan untuk anak-anak hingga myopia mencapai -2D. Salah satunya berargumen bahwa orang tua dengan riwayat myopia memiliki anak dengan onset myopia yang lebih awal. Oleh karena Taiwan memiliki angka prevalensi yang tinggi terhadap terjadinya myopia, pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan yang

sangat popular dilakukan, dan di sekolah-sekolah pemeriksaan tersebut tidak memungut biaya. Zadnik et al melaporkan bahwa anak-anak dengan orang tua miopi mempunyai bola mata yang lebih panjang daripada anak-anak yang orang tuanya tidak menderita miopi, hal ini dapat terjadi bahkan sebelum anak terkena miopi. Penelitian mereka menunjukkan bahwa onset myopia terjadi lebih awal pada anak yang memiliki riwayat keluarga myopia.