Anda di halaman 1dari 66

Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,

2009.


RANCANG BANGUN DAN PENGUJIAN ALAT
PENCETAK KOMPOS DENGAN VARIASI
BENTUK CETAKAN


SKRIPSI





ALFI SYUKRI HASIBUAN
050308035



















DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2009
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


RANCANG BANGUN DAN PENGUJIAN ALAT
PENCETAK KOMPOS DENGAN VARIASI
BENTUK CETAKAN


SKRIPSI


Oleh:

ALFI SYUKRI HASIBUAN
050308035/TEKNIK PERTANIAN



Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
















DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2009
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


RANCANG BANGUN DAN PENGUJIAN ALAT
PENCETAK KOMPOS DENGAN VARIASI
BENTUK CETAKAN


SKRIPSI


Oleh:

ALFI SYUKRI HASIBUAN
050308035/TEKNIK PERTANIAN



Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara



Disetujui Oleh :
Komisi Pembimbing






(Taufik Rizaldi, STP, MP) (
Ketua Anggota
Ainun Rohanah, STP, M.Si)












DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2009
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


ABSTRACT



Nowdays, there are so many fertilizers found in the market. One of them is
organic fertilizer such as compost. The high usage of compost is in line with the
increase of the price of anorganic fertilizer and its scarcity in the market.
Compost in the form of powder has some disadvantages such as low
storageability and less attractive. The aim of this research was to make hydraulic
composts molder. The molder could make the compost more attractive and had
more storageability but with the same quality.

Keyword : compost, compost molder, hydraulic compost molder, storageability
composts



ABSTRAK



Dewasa ini, banyak sekali jenis pupuk yang beredar di pasaran. Salah satu
jenisnya adalah pupuk organik berupa kompos. Tingginya penggunaan kompos
berbanding lurus seiring dengan meningkatnya harga pupuk anorganik dan
kelangkaannya di pasaran. Namun bentuknya yang berupa serbuk memiliki
kelemahan berupa daya simpannya yang kurang lama dan tidak menarik.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang suatu alat pencetak kompos dengan
variasi bentuk cetakan yang menggunakan dongkrak sebagai sumber penekannya.
Hasil rancangan ini digunakan untuk meningkatkan daya simpan dan daya tarik
kompos. Hasil cetakan kompos tidak mengalami perubahan kualitas namun
memiliki masa simpan dan daya tarik bagi penggunanya

Kata Kunci : kompos, alat pencetak kompos, pencetak sistem hidrolik,
kompos tahan lama






Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


RINGKASAN PENELITIAN


Alfi Syukri Hasibuan Rancang Bangun dan Pengujian Alat Pencetak
Kompos dengan Variasi Bentuk Cetakan, dibimbing oleh
Taufik Rizaldi, STP, MP sebagai ketua dan Ainun Rohanah, STP, M.Si sebagai
anggota.

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Teknik Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara. Pada penelitian ini, pengumpulan data
dilakukan dengan cara studi literatur (kepustakaan), melakukan eksperimen dan
melakukan pengamatan tentang alat pencetak kompos dengan variasi bentuk
cetakan. Kemudian dilakukan perancangan bentuk dan pembuatan/perangkaian
komponen-komponen alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan.
Berdasarkan pada hasil pengamatan tersebut, maka alat ini dirancang kemudian
dilakukan pengujian parameter dan dianalisis.
Pengamatan dan pengambilan data meliputi: kapasitas efektif alat
(kg/jam), persentase kerusakan hasil (%), analisa ekonomi, menghitung break
event point dan analisa kelayakan usaha dengan menghitung nilai net present
value biaya pencetakan kompos dengan variasai bentuk cetakan (Rp/kg). Dari
hasil penelitian yang dilakukan menghasilkan kesimpulan sebagai berikut.
Kapasitas Efektif Alat
Kapasitas efektif alat diperoleh dengan melakukan pencetakan kompos
sebanyak tiga kali ulangan, kemudian dihitung kapasitas cetak rata-rata kompos.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa kapasitas efektif rata-rata
alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan adalah 9,42 kg/jam.


Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Persentase Kerusakan Hasil
Pengukuran persentase kerusakan hasil dapat ditentukan dengan membagi
berat kompos yang rusak (tercetak dengan baik, pecah,, patah) dengan berat isian
kompos awal (sebelum dicetak) dikali dengan 100 %. Dari penelitian yang telah
dilakukan, diperoleh bahwa persentase kerusakan hasil cetakan kompos dengan
variasi bentuk cetakan adalah sebesar 13.4 %.
Biaya Pencetakan Kompos
Biaya pencetakan kompos diperoleh dengan menghitung biaya produksi
(biaya tetap dan biaya tidak tetap). Dari hasil penelitian diperoleh biaya
pencetakan sebesar Rp. 565,37/Kg.
Break Event Point
Alat ini akan mencapai nilai break event point pada nilai 82,24 Kg. Hal ini
berarti alat ini akan mencapai keadaan titik impas apabila telah mencetak kompos
sebanyak 82,24 Kg.
Net Present Value
Penginvestasikan modal pada penambahan alat pada suatu usaha maka net
present value ini dapat dijadikan salah satu alternatif dalam analisa finansial. Dari
percobaan dan data yang diperoleh pada penelitian maka dapat diketahui besarnya
nilai NPV dari alat ini adalah sebesar Rp. 5.313.891,77. Hal ini berarti usaha ini
layak untuk dijalankan



Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


RIWAYAT HIDUP



Alfi Syukri Hasibuan, dilahirkan di Sigambal, Rantau Prapat pada tanggal
20 Juli 1987 dari Ayah Drs. H. Dahman Hasibuan MPdi dan Ibu Dra. Hj. Dahlian
Ritonga. Penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara.
Tahun 2005 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Rantau Selatan dan pada
tahun 2005 lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara melalui jalur SPMB.
Penulis memilih Program Studi Teknik Pertanian, Departemen Teknologi
Pertanian, Fakultas Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi Asisten Mata Kuliah
Mesin dan Peralatan. Penulis aktif sebagai anggota ATM dan Ikatan mahasiswa
teknik pertanian IMATETA serta penulis menjadi ketua panitia pelaksana acara
Launching Website IMATETA.
Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di Pabrik Kelapa
Sawit Gohor Lama PT. Perkebunan Nusantara II (PERSERO) Tanjung Morawa
pada bulan juli sampai dengan bulan agustus 2008.












Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


KATA PENGANTAR



Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Rancang
Bangun dan Pengujian Alat Pencetak Kompos dengan Variasi Bentuk Cetakan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Taufik Rizaldi, STP, MP selaku ketua komisi pembimbing
dan kepada Ibu Ainun Rohanah, STP, M.Si selaku anggota komisi pembimbing
yang telah banyak membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan Skripi ini
dengan baik. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada kedua orang tua
dan keluarga yang telah banyak memberikan dukungan moril maupun materil
serta teman-teman di teknik pertanian dan teknik mesin USU yang telah banyak
membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Medan, Juni 2009

Penulis










Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


DAFTAR ISI



Hal
ABSTRACT ............................................................................................... iii
RINGKASAN PENELITIAN ..................................................................... iv
RIWAYAT HIDUP .................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ................................................................................ vii
DAFTAR TABEL ...................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xii
PENDAHULUAN
Latar Belakang..................................................................................... 1
Tujuan Penelitian ................................................................................. 4
Kegunaan Penelitian ............................................................................ 4
TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk dan Pemupukan.......................................................................... 5
Kompos dan Pengomposan .................................................................. 7
Kompos Lebih Unggul daripada Pupuk Anorganik .............................. 8
Alat Pencetak Kompos dengan Variasi Bentuk .................................... 9
Dongkrak dan Prinsip Kerjanya ........................................................... 9
Tekanan .............................................................................................. 10
Mekanisme Pembuatan Alat ................................................................. 12
Analisa Ekonomi dan Analisa Kelayakan Usaha .................................. 12
Net Present Value ................................................................................ 14
METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Lokasi Penelitian ............................................................... 16
Bahan dan Alat Penelitian ................................................................... 16
Metode Penelitian ............................................................................... 16
Komponen Alat ................................................................................... 17
Persiapan Penelitian ............................................................................. 18
Pembuatan Alat ............................................................................. 18
Pembuatan Bahan ......................................................................... 19
Prosedur penelitian .............................................................................. 20
Parameter yang Diamati ....................................................................... 20
Kapasitas Efektif Alat .................................................................. 20
Persentase Kerusakan Hasil .......................................................... 21
Analisis Ekonomi ......................................................................... 21
Break Event Point ......................................................................... 23
Net Present Value ......................................................................... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 25
Kapasitas Efektif Alat .......................................................................... 26
Persentase Kerusakan Hasil ................................................................ 27
Analisa Ekonomi ................................................................................ 28
Break Event Point ................................................................................ 29
Net Present Value ................................................................................ 29
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 31
Kesimpulan.......................................................................................... 31
Saran ................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 32
LAMPIRAN ................................................................................................. 33











































Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


DAFTAR TABEL



Hal

1. Perbedaan pupuk organik dengan pupuk anorganik ................................ 8

2. Data penelitian ....................................................................................... 33

3. Pemeliharaan bagian-bagian alat pencetak kompos dengan variasi
bentuk cetakan ...................................................................................... 45

4. Tingkat suku bunga dengan hubungan P/F ............................................. 46

5. Tingkat suku bunga dengan hubungan P/A ............................................. 46
































Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


DAFTAR GAMBAR



Hal

1. CAD alat ................................................................................................ 47
2. CAD plat cetakan ................................................................................... 48
3. Tampak depan ........................................................................................ 49
4. Tampak samping .................................................................................... 49
5. Tampak atas ........................................................................................... 49
6. Tampak bawah ....................................................................................... 50
7. Plat cetakan dan plat penekan ................................................................. 50
8. Pemasukan bahan ................................................................................... 50
9. Pengoperasian alat ................................................................................. 51
10. Batas penggunaan dongkrak ................................................................... 51
11. Penurunan kadar air ............................................................................... 51
12. Pengambilan hasil cetakan ..................................................................... 52
13. Hasil cetakan.......................................................................................... 52
14. Hasil cetakan berbentuk segitiga yang rusak........................................... 52
15. Hasil cetakan berbentuk segilima yang rusak.......................................... 53
16. Hasil cetakan berbentuk segitiga yang rusak........................................... 53










Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


DAFTAR LAMPIRAN



Hal

1. Data pencetakan kompos dengan variasi bentuk cetakan .................. 33
2. Analisa ekonomi ............................................................................... 34
3. Break event point .............................................................................. 37
4. Net present value .............................................................................. 38
5. Flowchart pelaksanaan penelitian ..................................................... 40
6. Tekanan efektif rata-rata pada plat penekan ....................................... 41
7. Spesifikasi alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan ....... 42
8. Prinsip kerja alat ............................................................................... 43
9. Pemeliharaan dan keselamatan kerja ................................................. 44
10. Tabel Suku Bunga ............................................................................. 46
11. CAD alat ........................................................................................... 47
12. CAD plat cetakan .............................................................................. 48
13. Gambar alat ...................................................................................... 49
















Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


PENDAHULUAN



Latar Belakang
Tanah idealnya dapat menyediakan sejumlah unsur hara yang sangat
dibutuhkan tanaman. Namun penerapan teknologi penanaman yang berorientasi
pada hasil panen yang sebanyak-banyaknya menjadikan para praktisi pertanian
sangat tergantung pada penggunaan pupuk (Novizan, 2007).
Pupuk adalah suatu bahan yang berifat organik ataupun anorganik, bila di
tambahkan ke dalam tanah ataupun tanaman dapat menambah unsur hara serta
dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi atau kesuburan tanah.
Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan anorganik.
Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa mahluk hidup yang diolah
melalui proses pembusukan oleh bakteri pengurai, sedangkan pupuk anorganik
adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan
kimia sehingga persentase kandungan haranya tinggi.
Ada beberapa alasan kenapa perlu dilakukan pemupukan, yaitu:
1. Untuk mengganti unsur hara yang hilang dari dalam tanah akibat diserap
oleh tanaman dalam bentuk hasil panen, atau hilang tercuci dan erosi.
2. Pelestarian kesuburan tanah.
3. Meningkatkan produksi tanaman.
4. Penggunaan tanaman varietas unggul
(Hasibuan, 2006).
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Pemupukan akan efektif jika sifat pupuk yang ditebarkan dapat menambah
atau melengkapi unsur hara yang tersedia di dalam tanah. Karena hanya bersifat
menambah atau melengkapi unsur hara, sebelum digunakan harus diketahui
gambaran tentang keadaan tanahnya terlebih dahulu. Namun, tanpa pengetahuan
yang memadai, penggunaan pupuk khususnya pupuk buatan justru dapat
menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi. Bahkan dapat berakibat
fatal yaitu kematian tanaman. Selain itu, pemakaian jangka panjang pupuk buatan
juga dapat menimbulkan dampak buruk pada kesuburan tanah dan lingkungan
(Novizan, 2007).
Berdasarkan fakta di atas para petani sudah banyak melirik dan beralih
menggunakan pupuk organik, contohnya kompos yang lebih ramah lingkungan
dan mudah dibuat dari bahan-bahan yang tidak terpakai yang ada di sekeliling kita
contohnya suatu bahan yang terbuang dan dibuang dari suatu sumber hasil
aktifitas manusia ataupun proses-proses alam. Selain itu, penggunaan dosis yang
berlebih tidak merusak tanaman. Namun, keseimbangan antara peningkatan hasil
dan biaya yang dikeluarkan harus dipertimbangkan.
Terdapat beberapa hambatan yang dihadapi para petani dalam penggunaan
pupuk kompos model konvensional (serbuk) yaitu kebutuhan dosis pupuk organik
yang sangat besar sering kali menyulitkan proses penebarannya, meningkatnya
biaya pengangkutan, dan membutuhkan ruangan yang lebih luas untuk
penyimpanan dan daya simpanya reletif lebih singkat karena adanya pelepasan
unsur-unsur hara, kurang praktis dan dianggap jorok bila diaplikasikan di
kalangan ibu-ibu pecinta tanaman hias selain itu bentuknya kurang menarik.
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Pupuk organik padat (konvensional) yang biasa dipakai petani adalah pupuk
organik dari kompos yang terdekomposisi secara alami berbentuk serbuk kasar
atau gumpalan. Pupuk organik tersebut tercampur dengan bahan-bahan lain
seperti sekam, jerami dan serbuk gergaji dan lain-lain dengan bau yang masih
menyengat dan kondisi relatif basah. Dengan demikian, pupuk tersebut terkesan
kotor karena sering menjadi sarang binatang.
Bentuk pupuk organik padat saat ini semakin beragam disesuaikan dengan
kebutuhan yang ada di lapangan. Keragaman bentuk tersebut jangan hanya dilihat
sebagai bahan penarik konsumen, melainkan dapat dijadikan sebagai acauan
dalam menentukan jenis yang sesuai dengan tanaman sehingga memberikan hasil
yang lebih baik dan efisien ( Musnamar, 2008).
Kendala-kendala tersebut di atas dapat dijadikan sebagai suatu peluang yang
cukup besar dan dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendapatan tambahan
bagi para petani khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini, petani
tidak saja hanya menjadi pengguna melainkan dapat berperan sebagai produsen
kompos dengan bentuk yang bervariasi. Perlakuan yang diberikan pada kompos
agar menjadi kompos bentuk yang bervariasi tidaklah sulit, hanya dengan
mengubah bentuk kompos serbuk menjadi kompos yang bervariasi bentuk sesuai
cetakan yang disediakan (Santoso, 1998).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis berinisiatif mengembangkan
rancang bangun alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan yang cukup
sederhana, sehingga tidak membutuhkan keahlian khusus dan pelatihan bagi
pengguna pemula. Pada alat ini penulis menggunakan dongkrak hidrolik sebagai
sumber tekanannya yang dihubungkan dengan plat dan akan menekan cetakan
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


yang telah berisi kompos yang telah dicampur dengan tepung tulang ikan yang
bertujuan sebagai tambahan unsur hara dan menjadi bahan perekat.
Tujuan Penelitian
Mendesain, membuat dan menguji alat pencetak kompos dengan variasi bentuk
cetakan.
Kegunaan Penelitian
1. Bagi penulis yaitu sebagai bahan untuk menyusun skripsi yang merupakan
syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Teknik Pertanian
Departeman Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara.
2. Bagi mahasiswa, sebagai informasi pendukung untuk melakukan penelitian
lebih lanjut mengenai alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan.
3. Bagi masyarakat, khususnya bagi pengusaha pupuk kompos agar dapat
membuat kompos dalam bentuk yang lebih menarik.














Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk dan Pemupukan
Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik. Bila
ditambahkan ke dalam tanah ataupun tanaman dapat menambah unsur hara serta
dapat memperbaiki sifat fisik, kima dan biologis tanah ataupun kesuburan tanah.
Sedangkan, Pemupukan adalah metode pemberian pupuk kedalam tanah
(Hasibuan, 2006).
Pengembalian bahan organik ke dalam tanah adalah hal yang mutlak
dilakukan untuk mempertahankan lahan pertanian agar tetap produktif. Dua alasan
yang selama ini sering dikemukakan para ahli adalah :
1. Pengolahan tanah yang dangkal selama bertahun-tahun mengakibatkan
menurunnya kandungan C dan N organik.
2. Penggunaan pupuk kimia yang melampaui batas efisiensi teknis dan
ekonomis sehingga efisiensi dan pendapatan bersih yang diterima petani
dari tiap unit pupuk yang digunakan semakin menurun.
Kedua alasan tersebut memberikan dampak buruk bagi pertanian di masa yang
akan datang jika tidak dimulai tindakan antisipasinya (Simamora, 2008).
Serangan penyakit pada tanaman akan berakibat turunnya kualitas dan
kuantitas hasil tanaman. Namun bila tubuh tanaman kokoh maka penyakit
cendawan dan bakteri jarang memiliki kesempatan menyerang tanaman. Agar
tanaman menjadi kokoh dan kuat yang diperlukan adalah memberikan pupuk ke
tanaman (Sutiyoso, 2003).
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Perkembangan terahir menunjukkan bahwa produksi dan permintaan pupuk
organik kian meningkat. Selain karena harga pupuk kimia yang terus meningkat,
petani semakin sadar dampak pupuk kimia pada tanah pertaniannya. Saat ini,
masyarakatpun menginginkan bahan makanan yang bersih dari residu bahan
kimia.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aplikasi pupuk organik adalah:
1. Penebaran pupuk organik sebaiknya diikuti dengan pengolahan tanah.
2. Pemberian pupuk organik dengan dosis kecil tetapi sering, lebih baik
daripada dosis banyak yang diberikan secara sekaligus..
3. J ika harus menggunakan pupuk organik yang belum terurai sempurna
rasio (C/N masih tinggi), harus diberi jeda waktu antara waktu pemberian
pupuk organik dan penanaman bibit, yakni minimal satu minggu. Hal itu
dilakukan untuk menghindari dampak yang mungkin terjadi pada
tanaman ketika proses penguraian pupuk organik berlangsung
( Novizan, 2007).

Pupuk organik bentuk tablet ataupun variasi bentuk lainnya masih sulit
ditemukan di pasaran dibandingkan dengan pupuk kimia. Pupuk berbentuk tablet
ataupun variasinya ini merupakan pupuk organik konsentrat dalam kondisi kering
dengan kadar air 10 -20% sehingga dosis anjuran pemakaiannya pun lebih rendah
daripada pemakaian pupuk organik serbuk atau konvensional (Musnamar, 2008).

Pelepasan unsur hara pupuk bentuk tablet dan variasinya lebih lambat (slow
realese) dibandingkan dengan bentuk lainnya. Pelepasan unsur haranya
membutuhkan waktu sekitar 6 -12 bulan setelah aplikasi, tergantung diameter dan
ukurannya. Dengan demikian pupuk organik bentuk tablet dan variasinya sangat
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


tepat jika digunakan untuk tanaman tahunan. Penggunaan pupuk bentuk tablet
sangat menekan biaya tenaga kerja, terutama untuk lahan skala luas seperti
perkebunan dan kehutanan. Penekanan biaya tenaga kerja selain dalam jumlah
pemupukan juga frekuensi pemupukan (Musnamar, 2008).

Kompos dan Pengomposan
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran
bahan-bahan organik yang dapat dipercepat oleh populasi berbagai macam
mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau
anaerobik. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik
mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang
memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah
mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk
lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang,
pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator
pengomposan. Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan
anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai 80%, sehingga
pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai (Isroi, 2008).
Kompos adalah pupuk organik yang sangat menguntungkan karena dapat
memperbaiki produktivitas dan kesuburan tanah. Keberadaannya dapat mengatasi
kelangkaan pupuk dan harga pupuk anorganik yang mahal dan dapat mengurangi
tingkat pencemaran lingkungan (Simamora, 2008).


Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Kompos Lebih Unggul daripada Pupuk Anorganik
Adanya aktifitas mikroorganisme dan terbentuknya asam organik pada
proses dekomposisi menyebabkan daya larut unsur N, P, K dan Ca menjadi lebih
tinggi dalam bentuk tersedia bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, jika
dibandingkan dengan pupuk anorganik, kandungan unsur hara kompos lebih
lengkap karena mengandung unsur hara mikro yang sangat diperlukan dalam
pertumbuhan tanaman. Berbeda dengan pupuk anorganik yang hanya
mengandung beberapa unsur hara saja.
Berikut beberapa keunggulan pupuk organik atau kompos dibandingkan
dengan pupuk anorganik.
Tabel 1. Perbedaan Pupuk Organik dengan Pupuk Anorganik
Pupuk Organik Pupuk Anorganik
1. Mengandung unsur hara makro dan
mikro lengkap, tapi dalam jumlah yang
sedikit
2. Dapat memperbaiki struktur tanah
sehingga tanah menjadi gembur.

3. Memiliki daya simpan air (water
holding capacity) yang tinggi

4. Beberapa tanaman yang dipupuk dengan
pupuk organik lebih tahan terhadap
serangan penyakit.
5. Meningkatkan aktifitas mikroorganisme
tanah yang menguntungkan



6. Memiliki residual effect yang positif.
Artinya pengaruh positif dari pupuk
organik terhadap tanaman yang ditanam
pada musim yang berikutnya masih ada
sehingga pertumbuhan dan
produktivitasnya masih bagus
1. Hanya mengandung satu atau beberapa
unsur hara, tetapi dalam jumlah banyak.
2. Tidak dapat memperbaiki struktur tanah
justru penggunaannya dalam jangka
waktu panjang menyebabkan tanah
menjadi keras.
3. Pupuk organik mudah menguap dan
tercuci. Karena itu, pengaplikasian yang
tidak tepat akan sia-sia.
4. Sering membuat tanaman rentan
terhadap penyakit.

5. Dalam penggunaan yang cukup lama
dapat memadatkan tanah sehingga
mempersempit ruang hidup dan aktifitas
bagi mikroorganisme yang sangat
menguntungkan
6. Memiliki residual effect yang negative.
(Simamora, 2008).
Bentuk pupuk organik padat konvensional berupa serbuk kasar (tidak
homogen) atau gumpalan-gumpalan dengan kandungan air yang masih tinggi
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


sekitar 50 80%, tergantung dari bahan dasar dan proses pematangannya. Dari
segi fisik, pupuk organik padat sangat volumnis (berbentuk bulk). Namun, dengan
kemajuan teknologi, bentuk volumnis tersebut dapat dihilangkan dengan cara
menurunkan kandungan airnya sehingga menjadi konsentrat. Bentuk konsentrat
lebih kering daripada pupuk konvensional sehingga berat maupun tempat yang
dibutuhkan jauh lebih kecil.
Alat Pencetak Kompos dengan Variasi Bentuk
Pada pembuatan pupuk organik padat melalui empat tahap yaitu :
1. Persiapan bahan baku,
2. Penghancuran dengan mesin penghancur agar menghomogenkan bahan,
3. Pengontrolan dengan mesin penyaring atau ayakan untuk menyaring bahan
kasar seperti tali rafia, batu atau benda kasar lain,
4. Pencetakan di alat pencetak (butiran, pelet, dan tablet). Alat pencetak yang
digunakan disesuaikan dengan bentuk pupuk yang diinginkan. Pupuk
organik butiran, pelet, tablet merupakan bentuk pupuk organik konsentrat
yang dibentuk dengan mesin pencetak bertekanan tinggi
( Musnamar, 2003).
Dongkrak dan Prinsip Kerjanya
Dongkrak adalah suatu alat untuk menaikkan sesuatu yang berat dan dapat
juga digunakan sebagai sumber gaya penekan pada beberapa alat yang
menggunakan sistem hidrolik. Cara penggunaan dongkrak itu sangat mudah yaitu
dengan cara memutar atau menggerakkan ke atas dan ke bawah tuas yang menjadi
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


pemicu dongkrak itu bergerak, dongkrak akan naik dan akan mengangkat benda
yang di atasnya ataupun menekan benda yang ada di bawahnya.
Prinsip kerja dongkrak hidrolik adalah dengan memanfaatkan hukum
Pascal, Tekanan yang diberikan pada suatu fluida dalam ruang tertutup akan
diteruskan ke segala arah sama rata. Dongkrak hidrolik terdiri dari dua tabung
yang berhubungan yang memiliki diameter yang berbeda ukurannya. Masing-
masig ditutup dan diisi air (Galih, 2008).
Tekanan
Tekanan didefenisikan sebagai jumlah gaya tiap satuan luas. Apabila gaya
terdistribusi secara merata pada suatu luasan, maka tekanan dapat ditentukan
dengan membagi gaya dengan luas, sehingga dapat dituliskan dalam bentuk
berikut ini.

dimana:
P = tekanan (kgf/m
2
atau N/m
2
)
F = gaya (kgf atau N)
A = Luas (m
2
)
cara menghitung gaya tekan yang bekerja pada dongkrak adalah sebagai berikut:

dimana:
P
1
= tekanan pada alat
P
2
= tekanan pada dongkrak hidrolik adalah tekanan pada tabung kecil
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


dari persamaan Tekanan di atas. Sehingga rumus di atas dapat dijabarkan menjadi
sebagai berikut:

dimana:
F
1
=Gaya yang diberikan pada penampang alat
F
2
=Gaya yang diberikan pada penampang dongkrak hidrolik
A
1
=luas Penampang alat
A
2
=Luas Penampang dongkrak hidrolik
Sehingga dengan mengetahui gaya berat yang akan diberikan pada alat
maka dapat dihitung gaya minimal yang diberikan pada pompa hidraulik untuk
menekan alat tersebut (Yohanes, 2009).
Rapat massa, (rho), didefenisikan sebagai massa zat tiap satuan volume
pada termperatur dan tekanan tertentu. Hubungan antara rapat massa, massa dan
volume dapat dirumuskan sebagai berikut:
= .(4)
dimana:
M =massa (Kg)
V =volume (m
3
)
=rapat massa (Kg/m
3
)
Dalam satuan SI, gaya dan luas mempunyai satuan Newton (N) dan meter
persegi (m
2
) sehingga satuan dari tekanan adalah dalam newton per meter persegi
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


(N/m
2
). Tekanan sebesar 1 N/m
2
dikenal dengan 1 Pascal (Pa). sehingga
hubungan satuan tekanan, gaya dan luas dapat dituliskan sebagai berikut:
1 N/m
2
=1 Pa....(5)
(Triatmojo, 1993).
Mekanisme Pembuatan Alat
Dalam pekerjaan bengkel alat dan mesin, benda kerja yang akan dijadikan
dalam bentuk tertentu sehingga menjadi barang siap pakai dalam kehidupan
sehari-hari, maka dilakukan proses pengerjaan dengan mesinmesin perkakas,
antara lain mesin bubut, mesin bor, mesin gergaji, mesin frais, mesin skrap, mesin
asah, mesin gerinda, dan mesin yang lainnya (Daryanto, 1984).
Kekuatan, keawetan, dan pelayanan yang diberikan peralatan usaha tani
bergantung terutama pada macam dan kualitas bahan yang digunakan untuk
pembuatannya. Dalam pembuatannya terdapat kecenderungan konstruksi
peralatan untuk meniadakan sebanyak mungkin baja tuangan dan mengganti
dengan baja tekan atau baja cetak. Bilamana hal ini dilakukan dapat menekan
biaya membuat mesin dalam jumlah besar. Keberhasilan atau kegagalan alat
sering sekali tergantung pada bahan yang dipakai untuk pembuatannya. Bahan
yang digunakan untuk pembuatan peralatan usaha tani dapat diklasifikasikan
dalam logam dan non logam (Smith dan Wilkes, 1990).
Analisa Ekonomi dan Analisa Kelayakan Usaha
Analisis titik impas umumnya berhubungan dengan proses penentuan
tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat
membiayai sendiri (self financing). Dan selanjutnya dapat berkembang sendiri
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


(self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol.
Bila pendapatan dari produksi berada di sebelah kiri titik impas maka kegiatan
usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila di sebelah kanan titik impas akan
memperoleh keuntungan.
Analisis titik impas juga digunakan untuk:
1. Hitungan biaya dan pendapatan untuk setiap alternatif kegiatan usaha,
2. Rencana pengembangan pemasaran untuk menetapkan tambahan
investasi untuk peralatan produksi,
3. Tingkat produksi dan penjualan yang menghasilkan ekuivalensi
(kesamaan) dari dua alternatif usulan investasi
(Waldiyono, 2008).
Biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung pada out put yang
dihasilkan. Dimana semakin banyak produk yang dihasilkan maka semakin
banyak bahan yang digunakan. Tak heran jika biayanya semakin besar.
Sedangkan, Biaya tetap adalah biaya yang tidak tergantung pada banyak
sedikitnya produk yang akan dihasilkan (Soeharno, 2007).
Untuk menilai kelayakan finansial, diperlukan semua data yang menyangkut
aspek biaya dan penerimaan usaha tani. Data yang diperlukan untuk pengukuran
kelayakan tersebut meliputi data tenga kerja, sarana produksi, hasil produksi,
harga, upah, dan suku bunga (Nastiti, 2008)
Analisis finansial yaitu menghitung tingkat keuangan yang diterima dari
modal yang sudah diinvestasikan pada alat yang akan dibuat. Kriteria investasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah net present value (NPV)
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Net Present Value (NPV) :
Net present value adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatau
alat layak atau tifak untuk diusahakan. Perhitungan net present value merupakan
net benefit yang telah didiskon dengan discount factor (Pujosumarto, 1998).
Dengan metode ini segala pengeluaran (cash out flow) dan penerimaan
(cash inflow) dari suatu proyek atau usaha diperhitungkan pada masa saat awal
proyek. Kriteria kelayakan proyek atau usaha menurut metode ini adalah :
CIF COF 0(6)
CIF = cash inflow
COF = cash outflow
Sementara itu keuntungan yang diharapkan dari investasi yang dilakukan
(dalam %) bertindak sebagai tingkat bunga modal dalam perhitungan
perhitungan seperti ketentuan yang ada di bawah ini:
Penerimaan (CIF) = pendapatan x (P/A, i, n) +Nilai ahir x (P/F, i, n)(7)
Pengeluaran (COF) = Investasi +pembiayaan (P/A, i, n)...(8)
dimana :
Investasi = status pengeluaran sekarang (P)
Pendapatan = status penerimaan periodic (A)
Nilai ahir = status penerimaan kemudian (P)
Pembayaran = status pengeluaran periodic (A)


Kriteria NPV yaitu :
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


- CIF COF >0, berarti usaha yang telah dilaksanakan
menguntungkan;
- CIF COF <0, berarti sampai dengan t tahun investasi proyek tidak
menguntungkan;
- CIF COF =0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan
biaya yang dikeluarkan.
(Darun, 2002)

















Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


METODOLOGI PENELITIAN



Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dimulai pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2009 di
Laboratorium Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Bahan dan Alat Penelitian
Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah : kompos, tepung tulang, air,
pegas, plat siku profil L 2,8 cm, plat besi tebal 1 cm, plat besi tebal 4 cm, besi
berdiameter 1 cm.
Alat-alat yang digunakan : dongkrak, mesin las, gergaji besi, kikir, mesin
bubut, ember, gerinda, sendok pengaduk, kalkulator, alat tulis, komputer.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, yaitu mengembangkan
metodologi sebagai landasan menentukan rasionalisasi dari suatu percobaan untuk
mengetahui unjuk kerja alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan
dengan menguji coba alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan di
laboratorium Teknik Pertanian.




Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Komponen Alat
Alat pencetak kompos sistem dongkrak ini mempunyai beberapa bagian
penting, yaitu :
1. Kerangka Alat
Kerangka alat ini berfungsi sebagai pendukung komponen lainnya, yang
terbuat dari besi plat dan besi siku. Alat ini mempunyai panjang 30,4 cm,
tinggi 54cm, dan lebar 23,4 cm.
2. Dongkrak
Dongkrak adalah sumber tenaga yang akan menekan bahan yang akan dicetak
pada alat ini. Pada alat ini digunakan dongkrak hidraulik dengan kapasitas 2
ton.
3. Pegas
Pegas berguna untuk mengembalikan posisi plat penekan bahan yang menekan
bahan ke posisi semula.
4. Plat Cetakan
Berguna sebagai media meletakkan kompos yang akan dibentuk dengan
bentuk dengan alat ini. Cetakan dibuat beraneka bentuk (bulat, persegi lima,
bujur sangkar, segitiga, petak dan berbentuk bintang).
5. Plat Penekan (dudukan dongkrak)
Plat penekan ini berguna untuk menekan bahan yang terdapat dalam cetakan
sehingga bahan yang dimasukkan ke cetakan alat ini menjadi padat dan dapat
terbentuk selain itu plat ini juga berfungsi sebagai dudukan dongkrak.


Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


6. Tuas Pengungkit
Tuas pengungkit ini berguna untuk menekan bahan yang sudah dibentuk
dengan alat ini ke atas guna mempermudah pengambilan produk yang
dihasilkan.
Persiapan Penelitian
Sebelum penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan persiapan untuk
penelitian yaitu merancang bentuk dan ukuran alat pencetak kompos dengan
variasi bentuk cetakan, mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang
akan digunakan dalam penelitian serta menyediakan dongkrak yang akan
digunakan pada alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan.
a. Pembuatan Alat
Adapun langkah pembuatan alat pencetak kompos dengan variasi bentuk
cetakan adalah :
1. Dirancang bentuk alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan.
2. Digambar serta ditentukan ukuran alat pencetak kompos variasi bentuk
cetakan
3. Dipilih bahan yang akan digunakan untuk membuat alat pencetak kompos
variasi bentuk cetakan.
4. Dilakukan pengukuran terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sesuai
dengan ukuran yang telah ditentukan pada gambar alat.
5. Dipotong bahan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan.
6. Dibubut dan dikikir plat cetakan sesuai dengan bentuk yang diinginkan
7. Dipasang tuas pengungkit pada plat cetakan
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


8. Dibentuk plat penekan sesuai dengan bentuk cetakan setebal 4 cm
9. Dipasang besi berdiameter 1 cm di setiap sudut plat penekan yang
bertumpu pada plat cetakan
10. Dilakukan perangkaian plat cetakan, pegas dengan kerangka alat.
11. Dilakukan pengelasan untuk menyambung setiap bahan yang telah
dirangkai
12. Digerinda permukaan yang terlihat kasar karena bekas pengelasan
13. Dilakukan pengecatan guna memperpanjang umur pemakaian alat dan
menambah daya tarik alat pencetak kompos variasi bentuk cetakan
14. Dipasang dongkrak pada plat penekan sebagai sumber tenaga untuk
menekan bahan.
b. Pembuatan bahan
1. Disiapkan kompos, tepung tulang dan air
2. Ditimbang semua bahan dengan perbandingan kompos : tepung tulang : air
sebesar 8 : 1 : 1 (dimana dalam penelitian yang akan dilakukan berat
kompos adalah seberat 0,5 Kg).
3. Dimasukkan ketiga bahan kedalam suatu wadah.
4. Diaduk sampai ketiga bahan tersebut tercampur merata membentuk suatu
adonan yang liat
5. Adonan siap untuk dicetak.


Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Prosedur Penelitian
Adapun prosedur pengujian alat adalah :
1. Dimasukkan adonan kompos kedalam cetakan yang tersedia pada alat ini.
2. Diratakan permukaan kompos yang dimasukkan dengan plat besi yang datar
yang telah disediakan.
3. Dioperasikan dongkrak dengan menekan tuas dongkrak naik turun sehingga
dongkrak mulai menekan plat penekan ke bawah
4. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk mencetak kompos dengan alat ini.
5. Dihitung kapasitas cetakan yang dihasilkan alat ini per jam, dihitung
persentase hasil yang rusak, dilakukan analisis ekonomi dan analisa
kelayakan usaha.
6. Perlakuan tersebut diulangi sebanyak 3 kali ulangan.
Parameter yang Diamati
1. Kapasitas Efektif Alat (Kg/jam)
Pengukuran kapasitas alat dilakukan dengan membagi berat kompos
organik yang dicetak terhadap waktu yang dibutuhkan untuk mencetak
kompos.
.....(9)
keterangan:
KA = kapasitas alat (kg/jam)
BK = berat kompos (kg)
T = waktu (Jam)


Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


2. Persentase Kerusakan Hasil
Pengukuran persentase kerusakan hasil dapat ditentukan dengan membagi
berat kompos yang rusak (tercetak dengan baik, pecah, patah) dengan berat
isian kompos awal (sebelum dicetak) dikali dengan 100 %. Secara matematis
dapat dituliskan dengan rumus:

= Hasil Kerusakan % % 100 x
BA
BR
.....(10)

dimana:
BR : bahan yang rusak (Kg)
BA : berat isian kompos awal (Kg)
3. Analisis Ekonomi
Biaya pencetakan kompos (Rp/Kg).
Pengukuran Biaya pencetakan kompos dilakukan dengan cara
menjumlahkan biaya yang dikeluarkan yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap
(biaya pokok).
Biaya pokok
C BTT
x
BT
(

+ =
.......(11)

dimana:
BT = total biaya tetap (Rp/tahun)
BTT = total biaya tidak tetap (Rp/jam)
x = total jam kerja pertahun (jam/tahun)
C = kapasitas alat (jam/satuan produksi)
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


a. Biaya tetap
Menurut Darun (2002), biaya tetap terdiri dari :
- Biaya penyusutan (metode garis lurus)

( )
n
S P
D

=
...(12)

dimana :
D = biaya penyusutan (Rp/tahun)
P = nilai awal (harga beli/pembuatan) alsin (Rp)
S = nilai akhir alsin (10% dari P) (Rp)
n = umur ekonomi (tahun)
- Biaya bunga modal dan asuransi, perhitungannya digabungkan, besarnya:

( )( )
n
n P i
I
2
1 +
=
......(13)

dimana :
i = total persentase bunga modal dan asuransi (17% pertahun)
- Biaya pajak
Di negara kita belum ada ketentuan besar pajak secara khusus untuk
mesin-mesin dan peralatan pertanian, namun biaya pajak alsin pertanian
diperkirakan sebesar 2% pertahun dari nilai awalnya.
- Biaya gudang/gedung
Biaya gudang atau gedung diperkirakan berkisar antara 0,5-1%, rata-
rata diperhitungkan 1% nilai awal (P) pertahun.

Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


b. Biaya tidak tetap
Menurut Darun (2002), biaya tidak tetap terdiri dari :
- Biaya perbaikan
Biaya perbaikan ini dapat dihitung dengan persamaan :

( )
jam
S P
reperasi Biaya
1495
% 2 , 1
=
....(14)

- Biaya karyawan/operator yaitu biaya untuk gaji operator.
Biaya ini tergantung kepada kondisi lokal, dapat diperkirakan dari gaji
bulanan atau gaji pertahun dibagi dengan total jam kerjanya.
4. Break Event Point (perhitungan titik impas)
Manfaat perhitungan titik impas (break event point) adalah untuk
mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar
usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income
yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya
keuntungan.
Untuk menentukan produksi titik impas (BEP) maka dapat digunakan
rumus sebagai berikut:
.(15)
dimana:
N : jumlah produksi minimal untuk mencapai titik impas (Kg)
F : biaya tetap per tahun (rupiah)


Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


R : penerimaan dari tiap unit produksi (harga jual) (rupiah)
V : biaya tidak tetap per unit produksi. VN =total biaya tidak
tetap per tahun (rupiah/unit)
5. Net Present Value (NPV)
Identifikasi masalah kelayakan financial dianalisis dengan
menggunakan metode analisis financial dengan kriteria investasi. Net present
value adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau
tidak untuk diusahakan. Perhitungan net present value merupakan net benefit
yang telah didiskon dengan discount factor. Secara singkat rumusnya :
CIF COF 0(16)
dimana : CIF = cash inflow
COF = cash outflow
Sementara itu keuntungan yang diharapkan dari investasi yang dilakukan
(dalam %) bertindak sebagai tingkat bunga modal dalam perhitungan
perhitungan
Penerimaan (CIF) =pendapatan x (P/A, i, n) +Nilai ahir x (P/F, i, n).(17)
Pengeluaran (COF) =Investasi +pembiayaan (P/A, i, n)...(18)






Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


HASIL DAN PEMBAHASAN



Pemilihan bahan dan spesifikasinya mempengaruhi kinerja alat yang
dirancang. Bahan-bahan teknik yang digunakan dalam perancangan alat
diusahakan kokoh dan mampu mendukung kinerja alat, namun juga diusahakan
mudah diperoleh untuk menjaga kesinambungan bahan baku apabila ada usaha
untuk memproduksi dalam jumlah besar. Pemilihan bahan yang berkualitas
namun murah juga sangat mempengaruhi biaya produksi alat.
Penggunaan dongkrak sebagai sumber tenaga penekan selain mudah
pengaplikasiannya dan mudah perawatannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Galih (2008) cara penggunaan dongkrak itu sangat mudah yaitu dengan cara
memutar atau menggerakkan ke atas dan ke bawah tuas yang menjadi pemicu
dongkrak itu bergerak, dongkrak akan naik dan akan mengangkat benda yang di
atasnya ataupun menekan benda yang ada di bawahnya.
Dalam pembuatan alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan ini
banyak sekali menggunakan mesin-mesin perkakas baik berupa : mesin bubut
untuk membuat boss pada plat penekan agar roller mudah dalam pergerakannya
dan tidak lari dari jalurnya dan mengikis plat penekan selain itu mesin gergaji
mutlak digunakan pada pemotongan plat profil L yang akan digunakan sebagai
rangka alat. Hal ini merujuk pada pernyataan Daryanto (1984) dalam pekerjaan
bengkel alat dan mesin, benda kerja yang akan dijadikan dalam bentuk tertentu
sehingga menjadi barang siap pakai dalam kehidupan sehari-hari, maka dilakukan
proses pengerjaan dengan mesinmesin perkakas.
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Kapasitas Efektif Alat
Besarnya kapasitas efektif alat dapat dihitung dengan membagikan berat
kompos dengan waktu yang dibutuhkan untuk mencetak kompos tersebut.
Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa kapasitas
efektif alat pada alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan adalah
sebesar 9,42 Kg (Lampiran 1).
Proses pencetakan yang dilakukan dengan menggunakan alat ini dapat
menurunkan kadar air dan meningkatkan massa jenisnya, karena terjadi
penekanan yang menyebabkan volume dari campuran bahan akan mengecil.
Selain itu, air yang berlebih dapat keluar melalui celah yang terdapat pada tuas
pengungkit sehingga pemakaian pupuk dapat berkurang hal ini sesuai dengan
pernyatmaan Musnamar (2008) Pupuk berbentuk tablet ataupun variasinya ini
merupakan pupuk organik konsentrat dalam kondisi kering dengan kadar air
10 -20% sehingga dosis anjuran pemakaiannya pun lebih rendah daripada
pemakaian pupuk organik serbuk atau konvensional.
Proses pengeluaran juga sangat mempengaruhi kapasitas efektif alat
karena apabila terjadi kemacetan pada pengungkit dapat meningkatkan waktu
produksi yang berakibat pada menurunnya kapasitas alat. Hal ini dapat disebabkan
oleh kecilnya jarak lubang pengungkit dengan tuas pengungkitan sehingga dapat
menyebabkan kemacetan apabila terjadi proses korosi akibat udara dan air dari
bahan yang dimasukkan. Pemberian minyak gemuk bisa menjadi solusi masalah
ini namun jangan sampai terlalu banyak karena dikhawatirkan akan masuk ke plat
cetakan sehingga dapat merusak unsur hara pupuk yang akan dicetak.
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Kapasitas alat dapat ditingkatkan dengan cara menurunkan ketebalan
kompos yang akan dibentuk karena dapat mempercepat waktu untuk mencetak
kompos tersebut dan mendapatkan komposisi yang sesuai dalam membuat adonan
kompos yang akan dibentuk.
Persentase Kerusakan Hasil
Persentase kerusakan hasil diperoleh dengan membandingkan antara bahan
yang masuk dengan berat isian kompos awal yang dinyatakan dalam persen. Dari
penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa persentase kerusakan hasil
adalah sebesar 13,4 % (Lampiran 1).
Dalam penelitian ini kompos hasil cetakan yang dikatakan rusak
dikategorikan dalam dua bentuk yaitu: kompos yang terbentuk sempurna namun
patah pada salah satu ujungnya dan kompos yang hancur atau kompos yang tidak
tebentuk secara sempurna. Hal ini diduga karena kurangnya isian kompos pada
pada saat pengisian di plat cetakan ataupun terlalu banyaknya campuran air pada
adonan yang dimasukkan, selain itu kurang bersihnya permukaan plat penekan
dan plat cetakan pada proses sebelumnya juga dapat mempengaruhi hasil cetakan.
Pupuk kompos yang dicetak menggunakan alat ini memiliki kelebihan
antaranya lebih lambat dalam melepaskan unsur hara daripada pupuk kompos
yang berbentuk serbuk yang umumnya ada di pasaran sehingga hal ini
menguntungkan petani ataupun konsumen yang menggunakannya karena dapat
menekan biaya untuk tenaga kerja dan frekuensi pemupukan. Hal ini sesuai
dengan pernayataan Musnamar (2008) Pelepasan unsur hara pupuk bentuk tablet
dan variasinya lebih lambat (slow realese) dibandingkan dengan bentuk lainnya.
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Pelepasan unsur haranya membutuhkan waktu sekitar 6 -12 bulan setelah aplikasi,
tergantung diameter dan ukurannya.
Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat
diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat
diperhitungkan.
Dari analisis biaya (Lampiran 2), diperoleh biaya pencetakan kompos
dengan variasi bentuk sebesar Rp. 565,37/Kg, yang merupakan hasil perhitungan
dari biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas alat pencetak kompos
dengan variasi bentuk cetakan. Untuk biaya tetap sebesar Rp. 464.035,71 dan
biaya tidak tetap sebesar Rp. 5.012,82 maka biaya pencetakan kompos dapat
dihitung berdasarkan persamaan 11, sebagai berikut:
Biaya Pokok = C BTT
x
BT
|
.
|

\
|
+


= kg jam jam Rp
jam
Rp
/ 11 , 0 82 , 012 . 5 .
1495
464.035,71 .
|
|
.
|

\
|
+

=Rp. 563,37/kg.


Berdasarkan nilai di atas dapat diketahui bahwa biaya pokok yang harus
dikeluarkan untuk mencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan sebanyak 1 kg
adalah sebesar Rp. 563,37. Dengan biaya pencetakan sebesar Rp. 563,37/kg dan
kapasitas 9,42 kg/jam, maka untuk mencetak kompos sebanyak 1 karung seberat
50 kg membutuhkan waktu selama 5,31 jam atau sekitar 5 jam 18 menit dengan
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


biaya pencetakan sebesar Rp. 28.268,7. Biaya pencetakan yang cukup besar
berbanding lurus dengan masa simpan dan masa pakai pupuk kompos yang
menjadi lebih tahan lama sehingga dapat dijadikan alternatif bagi para petani
untuk mengganti penggunaan pupuk anorganik yang harganya jauh lebih mahal
dewasa ini dan dapat mempercantik tampilan tanaman hias bagi kaum ibu ataupun
pencinta tanaman hias.
Break event point
Menurut Waldiyono (2008) analisis titik impas umumnya berhubungan
dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha
yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing). Dan selanjutnya dapat
berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap
sama dengan nol. Bila pendapatan dari produksi berada di sebelah kiri titik impas
maka kegiatan usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila di sebelah kanan
titik impas akan memperoleh keuntungan. Maka dari itulah penulis menghitung
analisa titik impas dari alat ini untuk mengetahui seberapa lama waktu yang
dibutuhkan alat ini agar mencapai titik impas.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan
(Lampiran 3), alat ini akan mencapai nilai break event point pada nilai 82,24 Kg
hal ini berarti alat ini akan mencapai keadaan titik impas apabila telah mencetak
kompos sebanyak 82,24 Kg.
Net Present Value
Dalam manginvestasikan modal dalam penambahan alat pada suatu usaha
maka net present value ini dapat dijadikan salah satu alternatif dalam analisa
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


finansial. Dari percobaan dan data yang diperoleh pada penelitian maka dapat
diketahui besarnya nilai NPV dari alat ini adalah sebesar Rp. 5.313.891,771 . Hal
ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih besar ataupun
sama dengan nol.

































Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


KESIMPULAN DAN SARAN



kesimpulan
1. Alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan ini dapat
dioperasikan dengan tingkat keterampilan biasa.
2. Kapasitas efektif rata-rata pada alat pencetak kompos dengan variasi
bentuk cetakan ini adalah sebesar 9,42 Kg/jam.
3. Persentase kerusakan hasil cetakan alat pencetak kompos dengan variasi
bentuk cetakan ini adalah sebesar 13,4 %.
4. Biaya pokok (biaya tetap dan biaya tidak tetap) yang harus dikeluarkan
dalam mencetak kompos dengan alat pencetak kompos dengan variasi
bentuk cetakan ini adalah sebesar Rp. 565,37/Kg.
5. Pemasukan kompos pada alat pencetak kompos dengan variasi bentuk
cetakan ini masih dilakukan secara manual.
6. Alat ini akan mencapai nilai break event point apabila telah mencetak
kompos sebanyak 82,24 Kg.
7. Net present value alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan ini
adalah sebesar Rp. 5.313.891,77 yang artinya usaha ini layak untuk
dijalankan.
Saran
1. Perlunya penambahan engkol pada tuas pengungkit sehingga dapat
mempercepat proses pengambilan hasil pada plat cetakan.
2. Perlu dicari komposisi penyusun adonan (campuran kompos,air dan
perekat) yang tepat untuk hasil dan kapasitas alat yang maksimal.
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


DAFTAR PUSTAKA
Darun, 2002. Ekonomi Teknik. J urusan Teknologi Pertanian. Fakultas
Pertanian
USU, Medan.

Daryanto., 1984. Dasar Dasar Teknik Mesin. Bina Aksara, Jakarta.

Galih., 2008. Dongkrak.
http://trendy.rasyid.net/2008/11/07/dongkrak/ [7 Februari 2009]

Hasibuan, B. E., 2006. Ilmu Tanah. USU Press, Medan.

Isroi., 2008. Kompos. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia,
Bogor. http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos [27 april 2008]

Musnamar, E. I., 2008. Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Padat. Penebar
Swadaya, Jakarta.

Nastiti, D., Sriwulan, P., Farid R. A. 2008. Analisis Finansial Agribisnis
Pertanian. BPTP, Kalimantan Timur.

Novizan., 2007. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agromedia, Jakarta.

Pudjosumarto, M., 1998. Evaluasi Proyek. Fakultas Ekonomi Brawijaya Malang.
Edisi Kedua. Liberty, Yogyakarta.

Santoso, H. B., 1998. Pupuk Kompos. Kanisius, Yogyakarta

Simamora, S. dan Salundik., 2008. Meningkatkan kualitas kompos. Agromedia,
Jakarta.

Smith, H. P., dan L. H. Wilkes., 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. Gajah
Mada University Press, Yoyakarta.

Soeharno., 2007. Teori Mikroekonomi. Andi Offset, Yogyakarta.

Sutiyoso, Y., 2003. Meramu Pupuk Hidroponik. Penebar Swadaya, Jakarta.

Triatmodjo, B., 1993. Hidraulika. Beta Offset, Yogyakarta.

Waldiyono., 2008. Ekonomi Teknik (Konsepse, Teori dan Aplikasi). Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.

Yohanes, S., 2008. Dongkrak Hidrolik.
http://www.fisikaasyik.com/Dongkrak Hidrolik.html [7 Februari 2009]
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 1. Data pencetakan kompos dengan variasi bentuk cetakan

Tabel 2. Data penelitian
Ulangan
Berat Kompos
yang dicatak (gr)
Waktu
pencetakan
(detik)
Berat kompos
yang rusak
(gr)
Hasil cetakan
yang rusak
I 500 199 62 Bintang
II 520 190 78 Segitiga 5
III 510 196 65 Bintang
Rata-rata 510 195 68.33


1. Kapasitas Efektif Alat

(9)


KA =9.42 Kg/jam
2. Persentase Kerusakan Hasil

.............................................................(10)
dimana:
BR : bahan yang rusak (Kg)
BA : bahan awal (Kg)
% Kerusakan Hasil =
= 13,4%





Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 2. Analisis ekonomi
I. Unsur Produksi
1. Biaya Pembuatan Alat
1. Bahan = Rp. 1.000.000
2. Biaya perakitan = Rp. 700.000
3. Dongkrak kapasitas 2 ton = Rp. 75.000/buah
Total P = Rp. 1.775.000
3. Umur ekonomi (n) = 7 tahun
4. Nilai akhir alat (S) = 10 % dari P
5 Jam kerja = 5 jam/hari
6. Produksi/hari = 47,07 kg
7. Biaya operator = Rp. 25.000 / hari (1 jam =Rp.5000)
8. Biaya perbaikan = Rp. 12,82 / jam
9. Bunga modal dan asuransi = Rp. 182.571,43 / tahun
10. Biaya sewa gedung = Rp. 17.750 / tahun
11. Pajak = Rp. 35.500 / tahun
12. jam kerja alat per tahun = 1495 jam / tahun ( asumsi 299 hari efektif
berdasarkan tahun 2009)
II. Perhitungan Biaya Produksi
1. Biaya Tetap (BT)
1. Biaya penyusutan
D =(P-S)/n(12)
=(1.775.000 177.500)/7 = Rp. 228.214,29

Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


2. Bunga modal dan asuransi
Bunga modal pada bulan Mei 16%
Asuransi 2 %
Bunga modal dan asuransi I =
n
n P i
2
) 1 )( ( +
...(13)
=
7 2
) 1 7 )( 000 . 775 . 1 ( % 18
x
+
= Rp. 182.571,43 / tahun
3. Biaya sewa gedung
Sewa gedung =1 % . P
=1% x 1.775.000 = Rp. 17.750 / tahun
4. Pajak
Pajak =2 % . P
=2% x 1.775.000 = Rp. 35.500 / tahun
Total Biaya Tetap (BT) = Rp. 443.750 / tahun
2. Biaya Tidak Tetap (BTT)
1. Biaya perbaikan alat (reparasi)
Biaya reparasi =
jam
S P
1495
) ( % 2 , 1
(14)

=
jam 1495
) 500 . 177 000 . 775 . 1 %( 2 , 1

= Rp. 12,82 / jam
2. Biaya operator
Biaya operator = Rp. 5.000 / jam
Total Biaya Tidak Tetap (BTT) = Rp. 5.012,82

Biaya pencetakan kompos
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.



Biaya Pokok = C BTT
x
BT
|
.
|

\
|
+
(11)

= kg jam jam Rp
jam
Rp
/ 11 , 0 82 , 012 . 5 .
1495
464.035,71 .
|
|
.
|

\
|
+

= Rp. 563,37/kg.
















Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 3. Break Event Point
Berdasarkan persamaan (14) alat ini akan mencapai break event point jika
memenuhi persamaan :
....(14)

Biaya tetap (F) = Rp. 443.750/tahun
Biaya tidak tetap (V) = Rp. 5.012,82 / jam (1 jam =9,42 Kg)
= Rp. 532,41/Kg
Penerimaan dari tiap kg produksi = (16% x (BT+BTT)) +(BT+BTT)
= Rp. 6.174,93/Kg
Penerimaan dari tiap kg produksi pupuk yang akan dijual setelah
diproduksi adalah sebesar Rp. 6.174,93/Kg. Maka nilai R dapat kita hitung
dengan mengalikan harga minimal pupuk dengan kapasitas alat pencetak kompos
dengan variasi cetakan selama 1 jam operasi
Alat akan mencapai Break event point jika alat telah mencetak kompos sebanyak


Kg










Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 4 Net Present Value

Berdasarkan persamaan 6 nilai NPV alat ini dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
CIF COF 0(6)

Investasi : Rp. 1.775.000
Pendapatan : Rp.9.231.518,63/tahun
Nilai ahir : Rp. 177.500
Pembiayaan : Rp.7.494.170/tahun
Keuntungan yang diharapkan : Rp.16%
Umur alat : 7 tahun
Cash in flow
1. Pendapatan : invesatasi x (P/A, 16%, 7)
: Rp. 1.775.000 x 4,044
: Rp.37.332.261,25
2. Nilai ahir : nilai ahir x (P/F, 16%, 7)
: Rp. 177.500 x 0,3552
: Rp. 63.053,917
Jumlah CIF : Rp. 37.395.315,25
Cash out flow
1. Investasi : Rp.1,775,000.000
2. Pembiayaan : pemniayaan x (P/A, 16%, 7)
: : Rp. 7,494,170.000 x 4,044
: Rp.30,306,423.480
Jumlah COF : Rp. 32,081,423.480
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


NPV = CIF COF
= 37.395.315,25 - 32,081,423.480
= Rp. 5,313,891.771
Jadi besarnya NPV adalah Rp. 5,313,891.771. Nilai NPV dari alat ini 0
maka usaha ini layak untuk dijalankan.
























Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 5. Flowchart pelaksanaan penelitian
Mulai
Layak ?
Data
Pengelasan
Merancang bentuk alat
Menggambar dan
menentukan dimensi alat
Diukur bahan yang akan
digunakan
Memilih bahan
Pemasangan tuas pengungkit pada
plat cetakan
Dipotong, dibubut dan dikikir bahan
yang akan digunakan sesuai dengan
dimensi pada gambar
Merangkai alat
Digerinda permukaan
yang kasar
Pengujian alat
pengecatan
Analisis data
Selesai
Pengukuran parameter
Ya
Tidak

Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 6. Tekanan efektif rata-rata pada plat penekan
Menurut Yohanes (2009) tekanan didefenisikan sebagai jumlah gaya tiap
satuan luas. Apabila gaya terdistribusi secara merata pada suatu luasan, maka
tekanan dapat ditentukan dengan membagi gaya dengan luas, sehingga dapat
dituliskan dalam bentuk berikut ini.

dimana:
P = tekanan (kgf/m
2
atau N/m
2
)
F = gaya (kgf atau N)
A = luas (m
2
)
Besarnya kapasitas dongkrak yang digunakan sebesar 2 ton =2.000 Kg dan
luas penampang plat penekan sebesar 690 cm
2
maka dapat dihitung besarnya
tekanan yang bekerja pada plat penekan:
diketahui: F = 2.000Kg
A = 690 cm
2
ditanya: P=?


P = 2,89 Kg/cm
2

P = 2,9 Kg/cm
2













Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 7. Spesifikasi alat pencetak kompos dengan variasi bentuk
cetakan
Dimensi
Panjang : 30,4 cm
Lebar : 23,4 cm
Tinggi : 54 cm
Plat penekan
Panjang : 30 cm
Lebar : 23 cm
Tinggi : 1 cm
Luas penampang : 690 cm
2
Plat pencetak
Panjang : 30 cm
Lebar : 23 cm
Tinggi : 1 cm
Luas penampang : 690 cm
2
Berat : 27,5 kg
Kapasitas efektif : 9,24 kg/jam
Kerusakan hasil : 13,39 %
Tebal plat siku : 0,2 cm
Lebar plat siku : 2,8 cm
Tekanan efektif rata-rata yang bekerja pada plat penekan : 2,9 Kg/cm
2




Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 8. Prinsip Kerja Alat
Alat ini menggunakan dongkrak sebagai sumber penekannya, mulanya
bahan dimasukkan ke dalam plat cetakan sedemikian rupa sampai batas yang
ditentukan. Lalu dipompa dongkrak sehingga mendorong turun plat penekan lalu
bahan yang terdapat di antara plat penekan dengan plat pencatak akan memadat
dan berkurang kadar airnya. Selanjutnya pengaman dongkrak dibuka sehingga
dongkrak dan plat penekan kembali ke tempat semula dengan bantuan pegas
diamabillah hasil cetakan.
















Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 9. Pemeliharaan dan keselamataan kerja
Tujuan Pemeliharaan
Pemeliharaan alat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk merawat serta
menjaga setiap fasilitas atau peralatan dari bagian-bagian alat pencetak kompos
dengan variasi bentuk cetakan agar dalam keadaan siap pakai dengan kondisi
yang baik dan tahan lama. J adi, dengan adanya kegiatan pemeliharaan atau
perawatan pada alat pencetak kompos dengan variasi bentuk ini maka alat dapat
dipergunakan untuk produksi sesuai dengan rencana atau tidak terganggu sebelum
jangka waktu tertentu yang direncanakan tercapai. Adapun tujuan pemeliharaan
adalah sebagai berikut.
- Menjaga kondisi peralatan agar dalam keadaan siap pakai.
- Menghindari kerusakan yang lebih berat.
- Alat dapat tahan lama dan dapat beroperasi dengan baik.
- Hasil yang diharapkan dapat tercapai.
Pemeliharaan bagian-bagian alat
Agar pemeliharaan alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan
dapat dengan baik dan benar maka harus terlebih dahulu diketahui prinsip kerja
dari alat tersebut. Diharapkan dengan menguasai prinsip kerja maka kemungkinan
kerusakan yang terjadi dapat ditanggulangi sedini mungkin. Kegiatan
pemeliharaan yang dilakukan adalah perawatan preventif.



Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Tabel 3. Pemeliharaan bagian-bagian alat pencetak kompos dengan variasi
bentuk cetakan
No. Bagian alat Bentuk pemeliharaan
1. Pegas - Dengan tidak membiarkannya selalu dalam keadaan
merenggang
2. Plat penekan - Membersihkan kotoran yang menempel yang
dapat menyebabkan korosi
- Memberi minyak gemuk pada lubang tempat plat
bergerak naik turun
3. Plat pencetak - Membersihkan kotoran yang menempel yang dapat
menyebabkan korosi
- mengembalikan posisi plat tuas pengungkit ke
posisi semula
4. Tuas Pengungkit - Member minyak gemuk pada tuas dan lubang ang terdapat
pada bagian atas tuas


Keselamatan kerja
Keselamatan kerja dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan
untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama proses kerja.
Keselamatan kerja pada alat pencetak kompos dengan variasi bentuk cetakan ini
dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Keselamatan alat
- Hindari memasukkan bahan isian yang berlebihan karena dapat membuat
plat pencetak maupun plat menekan menjadi baling.
- Plat penekan harus kembali ke posisi semula untuk mempermudah
pengisian pada proses selanjutnya.
- Pastikan pegas terpasang pada tempatnya dan tidak ada kekenduran karena
apabila pegas terlepas dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
2. Keselamatan operator
Pada saat mengoperasikan alat, jangan meletakkan atau memasukkan tangan
di antara plat penekan dan plat pencatak ataupun sela di antara pegas dengan
roler untuk menghindari kemungkinan tangan terjepit.
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


Lampiran 10. Tabel Suku Bunga
Tabel 4. Tingkat suku bunga dengan hubungan P/F
Tahun Tingkat Suku Bunga
15% 16% 18%
1
0.8696 0.8622 0.8475
2 0.7561 0.7435 0.7182
3 0.6575 0.6412 0.6086
4 0.5718 0.5531 0.5158
5 0.4972 0.4772 0.4371
6 0.4323 0.4117 0.3704
7 0.3759 0.3552 0.3139


Tabel 5. Tabel Tingkat suku bunga dengan hubungan P/A
Tahun Tingkat Suku Bunga
15% 16% 18%
1 0.870 0.862 0.847
2 1.626 1.606 1.566
3 2.283 2.247 2.174
4 2.855 2.800 2.690
5 3.352 3.277 3.127
6 3.784 3.689 3.498
7 4.160 4.044 3.812

















Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.


















































Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.

















































mpiran 13. Gambar alat
Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.



Gambar 3 . tampak depan


Gambar 4. tampak samping



Gambar 5 . tampak atas



Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.



Gambar 6. tampak bawah


Gambar 7. plat cetakan dan plat penekan


Gambar 8. pemasukan bahan



Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.




Gambar 9. Pengoperasian alat


Gambar 10. batas penggunaan dongkrak


Gambar 11. penurunan kadar air




Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.




Gambar 12. pengambilan hasil cetakan



Gambar 13. hasil cetakan


Gambar 14. hasil cetakan berbentuk segitiga yang rusak


Alfi Syukri Hasibuan : Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pencetak Kompos Dengan Variasi Bentuk Cetakan,
2009.




Gambar 15. hasil cetakan berbentuk segilima yang rusak


Gambar 16. hasil cetakan berbentuk bintang yang rusak