Anda di halaman 1dari 2

Etiologi Gagal Jantung Menurut Braunwald et all (1995) etiologi pemicu terjadinya gagal jantung yaitu 1.

Emboli Paru, pasien yang tidak aktif secara aktif dengan curah jantung rendah mempunyai resiko tinggi membentuk trombus dalam vena tungkai bawah atau panggul. Emboli paru dapat berasal dari peningkatan lebih lanjut tekanan arteri pulmonatis, yang sebaliknya mengakibatkan atau memerkuat kegagalan ventrikel. Dengan adanya bendungan pembuluh darah paru, emboli ini juga dapat mengakibatkan infark paru. 2. Infeksi, pasien dengan bendungan pembuluh darah paru juga lebih rentan terhadap infeksi paru; infeksi apapun dapat memicu terjadi gagal jantung. Demam, takikardia dan hipoksemia yang terjadi serta kebutuhan metabolik yang meningkat akan memberi tambahan beban kepada miokard yang sudah kelebihan bebas meskipun masih terkompensasi pada pasien dengan penyakit jantung kronik. 3. Anemia, pada keadaan anemia, kebutuhan oksigen jaringan yang melakukan metabolisme hanya dapat dipenuhi dengan meningkatkan curah jantung; meskipun peningkatan curah jantung seperti ini dapat dipertahankan oleh jantung normal, tetapi jantung yang sakit, kelebihan beban kecuali masih terkompensasi, tidak dapat meningkatkan volume darah yang cukup untuk dialirkan ke perifer. Pada keadaan ini, kombinasi anemia dan penyakit jantung terkompensasi sebelumnya dapat menyebabkan penghantaran oksigen yang tidak memadai ke perifer dan memicu gagal jantung. 4. Tirotoksikosis dan kehamilan, seperti pada anemia dan demam, pada tirotoksikosis dan kehamilan, perfusi jaringan yang memadai membutuhkan peningkatan curah jantung. Perkembangan atau intensifikasi gagal jantung sebenarnya mungkin merupakan salah satu penampakan klinis hipertiroidisme pada pasien dengan penyakit jantung yang mendasari sebelumnya masih dapat terkompensasi. Demikian juga, gagal jantung tidak jarang terjadi pertama kali selama kehamilan pada perempuan dengan penyakit katup reumatik, yaitu kompensasi jantung dapat kembali setelah pelahiran. 5. Aritmia, pada pasien dengan penyakit jantung terkompensasi, aritmia merupakan penyebab pemicu gagal jantung yang paling sering. Aritmia menimbulkan efek yang mengganggu dengan jumlah alasan : (a) Takiaritmia mengurangi periode waktu yang tersedia untuk pengisian ventrikel. Pada pasien dengan penyakit jantung iskemik, takiaritmia juga dapat menyebabkan disfungsi miokard yang mengalami iskemia. (b) Pemisahan yang terjadi antara kontraksi atrium dan ventrikel yang khas pada banyak aritmia menyebabkan hilangnya mekanisme pompa penguat atrium, karena meningkatnya tekanan atrium. (c) Pada aritmia yang disertai dengan abnormalitas konduksi intraventrikel, kemampuan miokardium dapat lebih terganggu karena hilangnya keselarasan kontraksi ventrikel yang normal. (d) Bradikardi yang nayat disertai blok atrioventrikel komplit atau bradiaritmia berat lainnya akan mengurangi curah jantung kecuali volume sekuncup meningkat; respons kompensasi ini tidak dapat terjadi pada disfungsi serius miokard bahkan pada keadaan tanpa gagal jantung. 6. Reumatik dan bentuk kiokarditis lainnya, demam reumatik akut dan sejumlah proses infeksi atau peradangan lainnya yang mengenai menganai mioard dapat mengganggu fungsi miokard pada pasien dengan atau tanpa penyakit jantung sebelumnya. 7. Endokarditis infektif. Kerusahan katup tambahan, anemia, demam dan miokarditis yang sering muncul sebagai akibat endokarditis infektif dapat, sendiri atau bersama-sama, memicu gagal jantung.

8. Beban fisis, makanan, cairan, lingkungan dan emosional yang berlebihan. Penambahan asupan sodium, penghentian obat gagal jantung yang tidak tepat, tranfusi darah, kegiatan fisis yang terlalu berat, kelembaban atau panas lingkungan yang terlalu berat dan krisis emosional dapat memicu terjadinya gagal jantung pada pasien dengan gagal jantung yang sebelumnya masih dapat terkompensasi. 9. Hipertensi sistemik. Peningkatan tekanan arteri yang cepat, seperti yang terjadi pada beberapa hipertensi yang berasal dari ginjal atau karena penghentian obat anti hipertensi, dapat menyebabkan dekompensasi jantung. 10. Infark miokard. Pada pasien dengan gagal jantung iskemik kronik tetapi terkompensasi, selain tidak ada gejala klinis (tenang), kadang-kadang infark baru yang terjadi dapat lebih mengganggu fungsi ventrikel dan memicu gagal jantung.

Sumber : Braunwald et all. (1995). Harrions Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam Ed 13 Vol 3. Penerjemah Prof. Dr. Ahmad H. Asdie, Sp.PD-KE. Jakarta : EGC