Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN Sifilis merupakan penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh spiroseta Treponema pallidum.

Sifilis sering disebut the great imitator karena effloresensinya yang menyerupai kelainan kulit yang lain.1 Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan insidens sifilis adalah, bangsa/ras, pekerjaan dan tingkat sosial. i !merika Serikat, dilaporkan jumlah penderita sifilis tahun "##$ sebesar % &$.### orang. 'asus terbanyak adalah sifilis primer dan sekunder yang terjadi pada (anita usia "#)"* tahun dan pada pria usia &+)&, tahun. Sedangkan pada tahun "##-, dilaporkan angka kejadian sifilis di !merika Serikat mengalami penurunan menjadi 1&.+## kasus dengan persentasi terbesar pada rentang usia "#)", tahun, dimana $&. kasus terjadi pada pria homoseksual.1," Penularan sifilis terjadi dengan /ara kontak langsung dengan luka sifilis tersebut, melalui hubungan seksual, dari ibu kepada fetus dalam uterus, dan melalui komponen darah. !pabila sifilis tidak tertangani dengan baik maka akan dapat berkembang dalam * tahap, yaitu primer, sekunder, laten, dan tersier. Pada bab selanjutnya akan dibahas se/ara lebih mendalam mengenai sifilis akuisita, dalam hal ini termasuk epidemiologi, penyebab, patogenesis, diagnosis, terapi, komplikasi, serta prognosis dari sifilis akuisita pada orang de(asa.1,"

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan mempunyai beberapa sifat, yaitu0 perjalanan penyakitnya sangat kronis, dalam perjalanannya dapat menyerang semua organ tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dapat kambuh kembali (rekuren), dan dapat ditularkan dari ibu ke janinnya sehingga menimbulkan kelainan kongenital. Selain ibu ke bayinya juga dan melalui hubungan seksual, sifilis juga ditularkan melalui luka, transfusi dan jarum suntik.& 2.2 Epidemiologi Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan insidens sifilis adalah, bangsa/ras, pekerjaan dan tingkat sosial. 1as berpengaruh pada kepekaan terhadap sifilis, misalnya orang negro lebih peka dibandingkan dengan orang kulit putih. Pekerjaan yang lebih besar risikonya untuk tertular penyakit ini adalah Pekerja Seks 'omersial (PS'), pekerja hotel tertentu, pelaut dan tentara, dimana pekerjaan)pekerjaan ini lebih besar kemungkinannya untuk melakukan multiple sexual contact. Selanjutnya adalah tingkat sosial. Pada abad ke)1+ terjadi (abah di 2ropa. Sesudah tahun 1-$# morbilitas sifilis di 2ropa menurun /epat, mungkin karena adanya perbaikan sosial ekonomi. Selama Perang dengan /epat setelah ditemukan penisilin*,+ i !merika Serikat, dilaporkan jumlah penderita sifilis tahun "##$ sebesar % &$.### orang. 'asus terbanyak adalah sifilis primer dan sekunder yang terjadi pada (anita usia "#)"* tahun dan pada pria usia &+)&, tahun. Sedangkan pada tahun "##-, dilaporkan angka kejadian sifilis di !merika Serikat mengalami penurunan menjadi 1&.+## kasus dengan persentasi terbesar pada rentang usia "#) ", tahun, dimana $&. kasus terjadi pada pria homoseksual.1," unia kedua, insidenss sifilis meningkat dan men/apai pun/aknya pada tahun 1,*$, kemudian menurun

2.3 Etiologi

Sifilis disebabkan oleh Treponema pallidum, ordo Spirochaetales, familia spirochaeteceae dan genus Treponema. Bentuknya spiral teratur, panjang antara $)1+ 3m dan lebar #,1)#," 3m, serta terdiri atas *)1* gelombang dengan inter4al 13m. engan pemeriksaan mikroskop lapangan gelap kuman akan tampak sebagai spiral yang terang pada dasar yang gelap. Selain itu dapat dilihat dengan pe(arnaan perak (/ara 5e4aditi), karena dengan adanya pengendapan perak pada permukaannya, kuman akan tampak lebih jelas. 6mpregnasi perak digunakan terutama untuk memperlihatkan kuman dalam jaringan.1,* Sel kuman berupa silinder sitoplasma terbungkus dalam membran plasma dan dinding sel yang ketat dari peptidoglikan. 7erakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan membuka botol. Berkembangbiak se/ara pembelahan melintang, dimana pada stadium aktif terjadi setiap tiga puluh jam. 8reponema sangat peka terhadap situasi di luar tubuh manusia, /epat terbunuh dengan pengeringan, suhu agak panas (*"#9), suhu dingin, terkena oksigen dan terkena disinfektan.*

7ambar ".1 8reponema pada pe(arnaan perak dari lesi 2. P!togenesis 5esi pada kulit atau selaput lendir merupakan tempat masuknya Treponema pallidum ke dalam tubuh. :ika melalui kulit harus ada makro/mikro lesi, sedangkan jika melalui selaput lendir dapat dengan atau tanpa lesi, /ontohnya melalui sanggama. Treponema pallidum masuk ke dalam tubuh le(at luka ke/il
3

atau luka le/et pada kulit penis atau le(at mukosa labia, 4agina atau ser4iks yang masih utuh, atau rektum. 8empat)tempat tersebut merupakan tempat dimana biasanya dapat ditemukan lesi primer. Penyakit ini juga dapat ditularkan le(at transfusi darah, terutama jika digunakan darah segar se/ara langsung dari donor. Selain itu, penularan juga dapat terjadi se/ara transplasental terhadap fetus di dalam rahim ibu hamil, yaitu dalam trimester ke dua masa kehamilan.&,*,+ Sebagian Treponema pallidum menempel di jaringan sub)epitel di tempat masuk dan berkembangbiak. :aringan ini akan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri dari sel)sel limfosit dan sel)sel plasma yang se/ara klinis tampak sebagai papula. 1eaksi radang ini tidak hanya terbatas pada tempat masuknya kuman tetapi juga di daerah peri4askuler. 8reponema berada di antara endotel kapiler dan sekitar jaringan peri4askular, sehingga mengakibatkan hipertofi endotel yang dapat menimbulkan obliterasi lumen kapiler (endarteritis obliterans). 'erusakan 4askular ini mengakibatkan aliran darah pada daerah papula tersebut berkurang sehingga terjadi erosi atau ulkus, yang pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S6 atau dikenal juga dengan afek primer.&,*,+ Treponema masuk aliran darah dan limfe lalu menyebar ke seluruh jaringan tubuh, termasuk kelenjar getah bening regional dan berkembangbiak. Bila sudah mengenai kelenjar getah bening regional disebut kompleks primer S 6. Penjalaran se/ara hematogen akan menyebarkan kuman ke seluruh jaringan tubuh, tetapi manifestasinya baru akan tampak kemudian. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan dimana akan terlihat enam sampai delapan minggu setelah kompleks primer dan reaksi ini bermanifestasi sebagai S 66 dengan berbagai bentuk kelainan yang biasanya didahului oleh gejala prodromal. 5esi primer perlahan)lahan menghilang oleh karena berkurangnya jumlah kuman di tempat tersebut, yang kemudian terbentuklah fibroblas)fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatriks. 5esi S 66 juga mengalami regresi perlahan)lahan dan akhirnya menghilang dalam (aktu kurang lebih sembilan bulan.&,+ Selanjutnya adalah stadium laten yaitu stadium tanpa tanda atau gejala klinis tetapi infeksi masih aktif yang ditandai dengan S.8.S (Serologic Test for Syphilis) positif. Sebagai /ontoh pada stadium ini seorang ibu dapat melahirkan
4

bayi

dengan

sifilis

kongenital.

'adang)kadang

proses

imunitas

gagal

mengendalikan infeksi sehingga 8reponema berkembang lagi dan menimbulkan lesi seperti pada tempat S 6 dan S 66 dan stadium ini disebut stadium rekuren. 5esi menular ini dapat timbul berulang)ulang, tetapi pada umumnya tidak melebihi dua tahun terhitung sejak permulaan infeksi.&,+ Stadium laten lanjut dapat berlangsung beberapa tahun, dimana 8reponema dalam keadaan dorman. :adi antibodi tetap ada di dalam serum penderita (S.8.S positif). 'eseimbangan antara 8reponema dan jaringan suatu saat bisa berubah. ;aktor yang menyebabkan hal ini masih belum jelas, tetapi diduga faktor trauma berperan sebagai salah satu faktor presipitasi timbulnya S666 yang berbentuk gumma. Pada stadium gumma ini 8reponema sukar ditemukan, tetapi reaksinya hebat karena bersifat destruktif dan berlangsung bertahun)tahun. 5esi sembuh berangsur)angsur dengan pembentukan jaringan fibrotik. Setelah mengalami masa laten yang ber4ariasi gumma tersebut timbul di tempat lain. 8reponema pallidum dapat men/apai sistem kardio4askular dan saraf pusat lebih dini, tetapi kerusakan yang timbul terjadi perlahan)lahan sehingga membutuhkan (aktu bertahun)tahun hingga timbulnya gejala klinis. <ampir "/& kasus dengan stadium laten dapat hidup tanpa menimbulkan gejala klinis.&,+ 2.". #e$!l! %linis Pasien dengan sifilis sebagian besar tidak memberikan gejala sampai bertahun)tahun. <al ini yang menyebabkan penularan sifilis melalui kontak langsung kadang tidak disadari. !dapun gejala klinis yang dapat mun/ul pada penderita sifilis terjadi dalam beberapa stadium, sebagai berikut01,*,+,$ 1. Stadium Primer (S 6) Stadium primer dari sifilis biasanya ditandai dengan mun/ulnya ulkus soliter yang disebut chancre, namun juga dapat ditemukan multipel ulkus. Masa inkubasi berkisar antara 1#),# hari (rata)rata "1 hari). 'elainan kulit dimulai dengan makula, papula, kemudian berubah menjadi papula erosif atau ulkus dengan sifat khas yaitu biasanya soliter, berbentuk bulat atau lonjong, tepi teratur berbatas tegas, dinding tidak bergaung, permukaan bersih dengan
5

dasar jaringan granulasi ber(arna merah daging, di atasnya hanya tampak serum, pada perabaan ada indurasi dan tidak nyeri tekan (indolen). =lkus dengan sifat)sifat ini disebut ulkus durum atau Hunterian chancre. !fek primer umumnya berlokasi di genitalia eksterna. Pada pria tempat yang sering terkena adalah sulkus koronarius, sedangkan pada (anita di labia minor dan mayor. Selain itu dapat juga terjadi di ekstragenital seperti di lidah, tonsil dan anus. Satu minggu kemudian terjadi pembesaran kelenjar getah bening regional di inguinalis medialis dengan tanda)tanda indolen, soliter, tidak lunak, tidak supuratif dan tidak ada periadenitis. 'ulit di atasnya tidak menunjukkan tanda) tanda radang akut. Pada penularan le(at transfusi darah dan sifilis kongenital afek primer tidak pernah terjadi dan disebut syphillis demblee. <al ini terjadi karena kuman masuk ke jaringan yang lebih dalam.&,*,+ Chancre bertahan selama &)$ minggu, dapat sembuh tanpa pengobatan, namun apabila pengobatan tidak diberikan, maka dapat berkembang ke stadium sekunder.

7ambar "." Chancre pada sifilis primer, nampak seperti papul dengan erosi, tepi meninggi, dasar bersih

7ambar ".& 'lasik Hunterian/han/re nampak tepi meninggi dan sedikit hemorrhagi/ pada dasar ulkus. ". Stadium Sekunder (S 66) 2nam sampai delapan minggu kemudian timbul S66 dimana sekitar sepertiga kasus masih disertai S6. idahului oleh gejala)gejala prodromal seperti nyeri otot atau sendi, turunnya berat badan, demam subfebris, sukar menelan, malaise, anoreksia dan sefalgia. 'elainan yang timbul dapat mengenai kulit >+., selaput lendir &#., kelenjar +#. dan alat)alat dalam 1#.. Stadium sifilis sekunder ditanda dengan adanya kemerahan pada kulit dan lesi pada membran mukosa. <al ini dia(ali dengan pembentukan kemerahan pada satu atau lebih area tubuh. 'emerahan biasanya tidak gatal. 'emerahan yang berhubungan dengan sifilis, mun/ul setelah atau saat mun/ulnya chancre. 'arakteristik kemerahan pada sifilis sekunder adalah permukaannya kasar, merah, atau merah ke/oklatan pada kedua telapak tangan dan kaki. Pada S66 kelainan kulit yang eksudatif seperti kondiloma lata dan pla?ue mu?ueuses sangat menular sementara kelainan yang kering kurang menular. 'elainan kulit pada sifilis disebut the great imitator oleh karena dapat menyerupai berbagai penyakit kulit. 7ejala penting untuk membedakannya dengan kelainan kulit lain adalah kelainan kulit pada S66 umumnya tidak gatal, sering disertai limfadenitis generalisata. 'elainan kulit dapat berupa0

Makula ber(arna merah terang/ roseola sifilitika 1oseola ialah makula eritema, berrbintik)bintik atau berupa ber/ak, (arnanya merah tembaga dan bentuknya bulat atau lonjong. ini kasus dengan gatal makin sering dijumpai. 1oseola akan menghilang dalam beberapa hari atau minggu, dapat pula bertahan hingga beberapa bulan. 'elainan tersebut dapat residif, jumlahnya lebih sedikit, lebih bertahan lama, dapat anular dan bergerombol. :ika menghilang umumnya tanpa bekas, tetapi kadang dapat meninggalkan ber/ak hipopigmentasi dan disebut leukoderma sifilitikum atau dapat berlanjut dengan papula.&,+ Papula dengan berbagai bentuk dan 4ariasi Misalnya papula dengan susunan arsiner, sirsiner, polisiklik@ papula diskret pada telapak kaki dan tangan@ papula korimbiformis@ kondiloma lata@ dan papula dengan folikulitis. Bentuk papula merupakan yang paling sering terlihat pada S66. Pada S66 dini, papula generalisata dan simetrik, sedangkan pada yang l@anjut bersifat lokal dan tersusun se/ara tertentu. :ika susunan arsinar/sirsinar terdapat pada dahi maka disebut korona 4enerik karena menyerupai mahkota. Papul)papul ini juga dapat dilihat pada sudut mulut, ketiak, di ba(ah mamae dan alat genital. Selanjutnya kondiloma lata, terdiri atas papul)papul lentikular, istribusi menyebar hampir di seluruh tubuh tanpa rasa gatal, akan tetapi akhir)akhir

permukaannya datar, sebagian berkonfluensi, terletak pada daerah lipatan kulit. Permukaannya dapat menjadi erosif, seksudatif dan sangat menular oleh karena gesekan antar kulit. 8empat predileksinya di lipat paha, skrotum, 4ul4a, perianal, di ba(ah mamae dan antar jari kaki.

Selanjutnya ialah chancre redux yaitu terbentuknya kembali infiltrasi dan reindurasi pada tempat afek primer oleh karena 8reponema yang masih tertinggal pada (aktu S6 menyembuh yang kemudian akan membiak.*,+ Papulo)skuamosa Papula dapat berskuama yang terletak di pinggir (koleret) dan disebut papulo)skuamosa. Skuama dapat pula menutupi permukaan papul sehingga mirip psoriasis sehingga disebut psoriasiformis. :ika papul menghilang dapat meninggalkan ber/ak hipopigmentasi yang disebut leukoderma sifilitikum. Bila pada leher disebut leukoderma koli atau colar of venus. Pustula imulai dengan banyak papul yang segera menjadi 4esikel dan kemudian membentuk pustula. Bentuk pustula ini lebih sering tampak pada kulit ber(arna dan jika daya tahan tubuh menurun. 8imbulnya banyak pustula sering disertai demam intermiten dan penderita tampak sakit. 5amanya dapat berminggu)minggu. 'elainan kulit seperti ini disebut sifilis 4ariseliformis karena menyerupai 4arisela. 7ejala dan tanda pada sifilis sekunder dapat hilang dengan atau tanpa pengobatan, namun tanpa pengobatan infeksi akan berkembang ke arah stadium laten.

7ambar ".* (!) Sifilis sekunder pada telapak tangan, (B) 5esi Sifilis pada telapak kaki

&. Sifilis ;ase 5aten Sifilis fase laten mun/ul dalam beberapa tahun sampai sekitar "+ tahun sebelum mun/ul gejala sifilis tersier. Pada sifilis fase laten, tidak ditemukan adanya gejala pada pasien, sehingga satu)satunya bukti adanya sifilis adalah hasil tes serologi yang positif. Pada pemeriksaan fisik hendaknya di/ari lesi mukokutaneus dengan teliti dan kemungkinan keterlibatan organ.$

*. Sifilis 8ersier (S 666) Pada stadium ini lesi pertama umumnya terlihat antara tiga sampai sepuluh tahun setelah S 6.* 'elainan khas ialah guma, yakni infiltrate sirkumskrip, kronis, biasanya melunak, dan dekstuktif. Besarnya guma ber4ariasi dari lentikular sampai sebesar telur ayam. 'ulit di atas mula)mula tidak menunjukan tanda)tanda radang akut dan dapat digerakan. Setelah beberapa bulan mulai melunak, biasanya mulai dari tengah, tanda)tanda radang mulai tampak, kulit menjadi eritematosa dan li4id seta melekat terhadap guma tersebut. 'emudian terjadi perforasi dan keluarlah /airan seropurulen, kadang)kadang sanguinolen. 8empat perforasi akan menjadi ulkus berbentuk bulat/lonjong, dindingnya /uram, seolah)olah kulit tersebut terdorong keluar. Beberapa ulkus berkonfluensi sehingga membentuk pinggir yang polikistik. :ika telah menjadi ulkus, maka infiltrate yang terdapat diba(ahnya yang semula sebagai benjolan menjadi datar. 8anpa pengobatan guma tersebut akan bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun. Biasanya guma soliter , tetapi dapat pula multiple, umumnya asimetrik. 7ejala umum biasanya tidak ada, tetapi jika guma multiple dan perlunakannya /epat dapat disertai demam. Selain guma dapat juga timbul nodus. Mula)mula di daerah kutan kemudian ke epidermis, pertumbuhannya lambat yakni beberapa minggu/bulan dan umumnya meninggalkan sikatrik yang hipertrofi. Aodus tersebut dalam perkembanganya mirip guma, mengalami nekrosis ditengah dan membentuk ulkus. apat pula tanpa nekrosis dan menjasi sklerotik.+ 7uma juga ditemukan di selaput lendir, dapat setempat atau menyebar. Bang setempat biasanya pada mulut dan tenggorokan atau septum nasi. Pada lidah
10

yang tersering adalah guma yang nyeri dengan fisur)fisur tidak teratur serta leukoplakia. Pada tulang paling sering menyerang tibia, tengkorak bahu, femur dan fibula dan humerus dengan gejala nyeri biasanya pada malam hari.*,+ 2.& Peme'i%s!!n Pen(n$!ng iagnosis sifilis dapat ditegakkan dengan /ara melihat langsung organisme dengan mikroskop lapangan gelap atau pe(arnaan antibodi fluoresen langsung dan kedua dengan mendeteksi adanya antibodi dalam serum dan /airan serebrospinal. 8es serologis merupakan tes konfirmasi untuk melihat adanya antibodi terhadap organisme penyebab sifilis. 8es serologis juga diperlukan untuk menegakkan diagnosis infeksi sifilis pada masa laten sifilis dimana tidak tampak adanya gejala)gejala penyakit. !da dua kelompok tes serologis yang dapat digunakan dalam mendiagnosis penyakit sifilis yaitu tes serologis antibodi non treponema dan antibodi treponema.> 1. Pemeriksaan T. pallidum dengan mikroskop lapangan gelap. 9ara pemeriksaan adalah dengan mengambil serum dari lesi kulit dan dilihat bentuk dan pergerakannya dengan mikroskop lapangan gelap. Pemeriksaan dilakukan tiga hari berturut)turut jika hasil pada hari pertama dan kedua negatif. 8reponema tampak ber(arna putih berlatar belakang gelap. Pergerakan memutar terhadap sumbunya, bergerak perlahan)lahan melintasi lapangan pandang+

7ambar ".+ Treponema pallidum di ba(ah mikroskop lapangan gelap


11

:ika dalam pemeriksaan mikroskop tidak berhasil ditemukan kuma bukan berarti diagnosis sifilis dapat disingkirkan. <asil negati4e dalam pemeriksaan dapat terjadi karena jumlah kuman dalam sediaan terlampau sedikit, penderita telah mendapat obat antitreponema se/ara sistemik atau topi/al, lesi telah menyembuh, lesi berasal dari late sifilis atau memang bukan lesi yang disebabkan oleh penyakit sifilis.* ". Serologis Test for Syphilis (S.8.S) S.8.S merupakan tes yang penting bagi sifilis. S.8.S. dibagi menjadi " berdasarkan antigen yang dipakai yaitu0 Aontreponemal (tes regain), dan treponemal.+,> ".1 8es Aon 8reponemal 8es non treponemal adalah tes untuk melihat antibodi yang terbentuk akibat adanya infeksi oleh penyakit sifilis atau penyakit infeksi lainnya. !ntibodi ini terbentuk setelah penyakit menyebar ke kelenjar limpe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan serta dapat menimbulkan reaksi silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain. 8es serologis non treponema mendeteksi antibodi yang merupakan kompleks dari le/itin, kolesterol dan kardiolipin dan digunakan untuk skrining adanya infeksi oleh T. pallidum. 8ermasuk tes ini adalah Venereal isease !esearch "aboratory (C 15) dan !apid #lasma !eagen (1P1) yang memberikan hasil positif setelah * D $ minggu terinfeksi (positif pada >#. pasien dengan lesi primer dan stadium lanjut). 8etapi tes ini dapat memberikan positif palsu pada kondisi seperti kehamilan, ke/anduan obat, keganasan, penyakit autoimun dan infeksi 4irus. 6munoasai ini menggunakan antibodi nontreponemal dan lipoid sebagai antigen, termasuk pemeriksaan ini adalah0> a. Veneral isease !esearch "aboratory (C 15) b. !apid #lasma !eagen (1P1) /. Cardiolipin $assermann (9E1) d. %nheated Serum !eagen (=S1)
12

e. Toulidone !ed %nheated Serum Test (81=S8) f. 256S! 8es ini bertujuan untuk mendeteksi adanya reaksi antara antibodi dari sel yang rusak dan kardiolipin dari treponema. igunakan untuk skrining penderita dan monitoring penyakit setelah pemberian terapi. 8es)tes seperti Ceneral isease 1esear/h 5aboratory (C 15), 1apid Plasma 1eagin (1P1), =nheated Serum 1eagin (=S1) dan 8oulidone 1ed =nheated Serum 8est (81=S8) mendeteksi adanya reaksi antigen)antibodi dengan menilai presipitasi yang terbentuk baik se/ara makroskopik (1P1 dan 81=8S) maupun mikroskopik (C 15 dan =S1). !ntibodi yang terdeteksi biasanya timbul 1 D * minggu setelah mun/ulnya chancre primer. Pengambilan spesimen pada stadium primer akan mempengaruhi sensiti4itas tes dimana titer antibodi meningkat selama tahun pertama dan selanjutnya menurun se/ara nyata sehingga memberikan hasil negatif pada pemeriksaan ulang. apat ditemukan hasil tes positif palsu maupun negatif palsu. Positif palsu terjadi karena adanya penyakit bersifat akut seperti hepatitis, infeksi 4irus, kehamilan atau proses kronik seperti kerusakan pada jaringan penyambung. Sedang hasil negatif palsu terjadi karena tingginya titer antibodi &pro'one phenomenon( yang sering ditemukan pada sifilis sekunder. "." 8es 8reponemal !ntibodi treponemal yang bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen treponema dan sebagai konfirmasi dari hasil positif tes skrining nontreponemal atau konfirmasi adanya proses infeksi pada hasil negatif tes nontreponemal pada fase late atau laten disease a. Tes Treponema #allidum )mmobili'ation (8P6) Sensitifitas tes rendah pada beberapa stadium penyakit terutama stadium 6 , tetapi spesifisitasnya paling baik dibanding tes serologis lain dan merupakan satu)satunya tes yang hampir tidak memberi hasil positif semu. 8es menggunakan serum penderita yang tidak aktif ditambah dengan T. pallidum yang mobile dan komplemen, lalu diinkubasi pada suhu &+F 9

13

selama 1$ jam selanjutnya dilihat di ba(ah mikroskop. <asil positif terlihat dengan T. pallidum yang tidak mobile. b. *luorescent Treponemal +ntibody,+bsorbed !BS S). Sebelum tes, serum pasien diinaktifkan dengan pemanasan dan diserap dengan sorbent untuk membersihkan dari antibodi terhadap treponema komensal, kemudian di/ampur dengan apusan T. pallidum pada ka/a obyek, inkubasi lalu bilas hati)hati. 8ambahkan konjugat antibodi anti) imunoglobulin human yang dilabel dengan tetrametil)rodamin isotiosinat (8M1689) tutup dengan ka/a penutup, inkubasi dan bilas. Periksa apusan di ba(ah mikroskop pen/ahayaan ultra4iolet. <asil positif ditunjukkan dengan adanya treponema berfluoresensi)8M1689 pada apusan. 8es ;8! adalah imunoassay yang sangat sensitif dan spesifik sehingga baik digunakan untuk diagnosis tetapi tidak dipakai dalam pemantauan terapi sebab hasil tes positif akan tetap positif (alaupun telah diberi pengobatan sampai sembuh. /. Tes Treponema pallidum Hemagglutination (8P<!) Merupakan uji hemaglutinasi pasif se/ara kualitatif dan semi kuantitatif yang dapat mendeteksi anti T. pallidum antibodi dalam serum atau plasma, di mana hasil positif didapatkan bila terjadi aglutinasi. Sensiti4itas dan spesifisitas /ukup baik ke/uali untuk sifilis stadium 6, tes ini juga /ukup praktis, mudah dan sederhana serta harganya relatif murah. Sebagai antigen dipakai T .pallidum strain Ai/hol dan sebagai carrier digunakan sel darah merah kalkun. Sel darah merah kalkun yang diliputi antigen T . pallidum dan antibodi serum penderita lalu diinkubasi. !ntibodi T. pallidum dalam serum akan mengikat antigen pada sel darah merah membentuk kompleks !g)!b dan hasil positif dinilai dengan melihat adanya aglutinasi . &. ;oto 1ontgen ;oto rontgen dapat dipakai untuk melihat kelainan khas pada tulang yang dapat terjadi pada S 66, S 666, dan sifilis kongenital. :uga pada sifilis kardio4askuler misalnya untuk melihat aneurisma aorta.
14

ouble Strain Test (;8!)

*. <istopatologi 'elainan yang utama pada sifilis adalah proloferasi sel)sel endotel terutama terdiri atas infiltrate peri4askular tersusun oleh sel)sel limfoid dan sel)sel plasma. 2.) Di!gnos! B!nding iagnosa banding untuk masing)masing stadium sifilis nampak dalam tabel berikut0$

15

2.* Pen!t!l!%s!n!!n Pengobatan dengan penisilin masih sangat ampuh. Pedoman dari 9 9 !tlanta ("##") berdasarkan atas stadium penyakitnya, yaitu0 &,-,, 1. Sifilis dini (sifilis stadium 6)66 dan sifilis laten dini tidak lebih dari " tahun)0 a. BenGatin Peni/illin 7 ",* juta unit i.m dosis tunggal, atau
16

b. Peni/llin Pro/aine 7 dalam a?ua $##.### = i.m 1H/hari selama 1# hari Pemberian 1# hari pada sifilis primer seronegatif, sedangkan pada seropositif sebaiknya diopname selama 1)" hari, sebab kemungkinan terjadi reaksi :arish)<erHheimer. Pengobatan sifilis dini dan yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan0 ) ) ) oHy/y/line "H1## mg/hr oral selama 1+ hari 8etra/y/line *H+## mg/hr oral selama 1+ hari 2rythromy/in *H+## mg/hr oral selama 1+ hari

". Sifilis lanjut a. BenGatin Peni/illin 7 ",* juta unit i.m 1H/minggu selama & minggu berturut) turut, total >," juta unit@ atau b. Peni/llin Pro/aine 7 $##.### = i.m 1H/hari selama 1* hari, atau /. oHy/y/line "H1## mg/hr oral selama &# hari d. 8etra/y/line *H+## mg/hr oral selama &# hari Pengamatan lanjutan harus dilakukan se/ara ketat dan tekun dengan pemeriksaan S8S yang nonspesifik (non treponemal). Pemantauan S8S dilakukan pada bulan ke 6, 666, C6, I66 dan setiap $ bulan pada tahun ke dua.&,1# Satu bulan sesudah pengobatan selesai, ulangi pemeriksaan S8S0 a. 8iter turun0 tidak diberi pengobatan lagi b. 8iter naik0 pengobatan ulang /. 8iter tetap0 tunggu 1 bulan lagi Satu bulan setelah (/)0 a. 8iter turun0 tidak diberi pengobatan b. 8iter naik atau tetap0 pengobatan ulang 2.+ P'ognosis engan ditemukannya penisilin maka prognosis sifilis lebih baik. Pada stadium dini yang diobati, angka penyembuhan sebesar ,+.. :ika tidak diobati maka seperempatnya akan kambuh, +. akan menjadi S 666, 1#. mengalami sifilis

17

kardio4askular, neurosifilis pada ,. pria dan +. pada (anita, sedangkan "&. akan meninggal. 'egagalan terapi sebanyak +. pada S 6, dan S 66.+

BAB III PENUTUP Sifilis merupakan penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh spiroseta Treponema pallidum. Sifilis sering disebut the great imitator karena effloresensinya yang menyerupai kelainan kulit yang lain. Sifilis dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan luka sifilis tersebut, melalui hubungan seksual, dari ibu kepada fetus dalam uterus, dan melalui komponen darah. !pabila sifilis tidak tertangani dengan baik maka akan dapat berkembang dalam * tahap, yaitu primer, sekunder, laten, dan tersier. iagnosis sifilis dapat ditegakkan dengan /ara melihat langsung organisme dengan mikroskop lapangan gelap atau pe(arnaan antibodi fluoresen langsung dan kedua dengan tes serologis, untuk mendeteksi adanya antibodi dalam serum dan /airan serebrospinal.

18

DA,TA- PUSTAKA 1. ivision of ST #revention & ST #( Centers for isease Control and #revention. C C *act SheetSyphilis. !4ailable from0 http0//(((./d/.go4/std/syphilis/syphilis);a/t)Sheet.pdf (diakses tanggal "& September "#1") %.S. epartment of Health and Human Services. Syphilis. !4ailable from0 (diakses tanggal "& September "#1") Murtiastutik, (i. Sifilis. alam0 P21 JS'6. 2ditor. Symposium .n ermatology and Venereology )n aily #ractice. Surabaya0 P21 JS'6. "##-0 &#)*# Soe(arso, 6 8. /pidemiologi Sifilis0 *rambusia dan !egular 1ass Treatment &!1T(. alam0 aili ; S, <. .P 2rdina, (ikarya Maria, Sugito 5 8, Menaldi 5 S. 2ditor. #enanggulangan Tera2hir Sifilis dan *rambusia. :akarta0 Balai Penerbit ;'=6. 1,--0 "@11)* Aatahusada, 2.9 dan juanda, !dhi. Sifilis. alam0 juanda !dhi, <amGah M, !isah S. 2ditor. )lmu #enya2it 3ulit an 3elamin0edisi 2e,4. :akarta0 Badan Penerbit ;'=60 "##>0 &,")San/heG, 1 M. Syphilis. alam0 Eolff ', 7oldsmith J !, 'atG S 6, 7il/hrest ! !, Paller ! S, 5effell :. 2ditor. *it'patric2s ermatology in

". &. *.

+. $.

19

5eneral 1edicine 6th /dition. Ae(york0 M/7ra()<ill Medi/al Publishing i4ision. "##-0 1,++)$& 7. :ulyani Sri. +spe2 )munologis #enya2it Sifilis. :urnal 'esehatan Masyarakat Madani, 6SSA.1,>,)""->,Col.#" Ao.#&. "##,. !4ailable from0 http0//(((.journal.umi.as.id/pffs/!spekK6munologisKPenyakitKSifilis.pd f (diakses tanggal "+ September "#1") -. epartment of Health and Human Sevices Center for isease Control and #revention. 11$!- Sexually Transmitted iseases Treatment 5uidelines0 7898. !4ailable from0 http0//(((./d/.go4/std/treatment/"#1#/"#1#S8 7uideline.epub (diakses tanggal "& September "#1") ,. Murtiastutik , 2r4ianti 2, !gusni 6, Suyoso S. +tlas #enya2it 3ulit dan 3elamin /disi 7. Surabaya0 Pusat Penerbitan dan Per/etakan =A!61. "#110 "1> 1#. Perhimpuan okter Spesialis 'ulit dan 'elamin 6ndonesia. Standar #elayanan 1edi2 o2ter Spesialis 3ulit dan 3elamin. :akarta0 PP P21 JS'6. "##*01">)-

20