Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Inkontinensia urin adalah pengeluaran urin yang tidak terkendali

pada waktu yang tidak dikehendaki dan tanpa melihat frekuensi maupun jumlahnya
yang mana keadaan ini dapat menyebabkan masalah fisik, emosional, sosial dan
higienis bagi penderitanya ( Martin dan Frey, 2005 ). Inkontinensia urin pada
dasarnya bukan konsekuensi normal dari proses penuaan, tetapi perubahan traktus
urinarius yang berkaitan dengan penambahan usia merupakan faktor predisposisi
bagi usia lanjut untuk mengalami Inkontinensia urin ( Juniardi, 2008 ).
menurut Brown et al
( 2006 ) kemungkinan usia lanjut bertambah berat Inkontinensia urinnya 25-30%
saat berumur 65-74 tahun. Pada usia lanjut, masalah Inkontinensia urin merupakan
masalah yang sering terjadi. Prevalensi Inkontinensia urin dalam komunitas orang yang
berumur lebih dari 60 tahun berkisar 15-30 %. Inkontinensia urin ini dapat
terjadi pada usia lanjut wanita maupun pria. Namun, prevalensi Inkontinensia urin
lebih tinggi terjadi pada wanita dan meningkat dengan bertambahnya usia, BMI,
riwayat histerektomi, monopause, status depresi dan paritas (Melville et al, 2005 ).
Inkontinensia urin seringkali tidak dilaporkan oleh pasien ataupun
keluarganya, hal ini mungkin dikarenakan adanya anggapan bahwa masalah
tersebut merupakan hal yang memalukan atau tabu untuk diceritakan. Pihak
kesehatan, baik dokter maupun tenaga medis yang lain juga terkadang tidak
memahami penatalaksanaan pasien dengan Inkontinensia urin dengan baik. Padahal
sesungguhnya Inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan pada usia lanjut
yang dapat diselesaikan ( Setiati dan Pramantara, 2007 ). Inkontinensia urin
berkepanjangan yang tidak tertangani dengan baik secara tidak langsung akan
mempengaruhi kualitas hidup seseorang, menimbulkan problematika kehidupan
baik dari segi medis, sosial, ekonomi maupun psikologis.



Terapi:
1. Konservatif
a. Behavior terapy
b. Latihan Kegel
c. Latihan otot dasar panggul dengan Cone, Perineometri, Stimulator,
d. Pakai kateter atau pembalut
2. Operatif Kelly Kenedy Aplikasi
a. Sling, dengan menggunakan mesh seperti, TVT, TVT-O dan lain-lain.
b. Cara Marshal Marchetty Kraz (MMK)
c. Burch Colposuspensi
d. Sling dengan menggunakan fasialata, fasiagrasilis, prolene dan rektus abdominis

Pemeriksaan Fisik, perlu diperhatikan berat badan penderita, kelainan pada paru dan
abdomen mungkin ada tumor atau tidak.
Pemeriksaan ginekologi, harap diperhatikan adanya sistokel atau prolaps uteri pada stadium
lanjut. Penderita disuruh batuk, kemudian terlihat urin keluar dari uretra. Perlu dilakukan pula
penilaian urin sisa, bila urin sisa lebih dari 100 cc kemungkinan penderita mengalami retensio
urin, bila urin sisa kurang dari 50 cc, maka penderita mengalami kelainan stres inkontinensia
urin.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Q Test
Bila terdapat penyimpangan-
mengalami stres inkontinensia urin
2. Bony Test
Penekanan uretra dengan dua jari, bila kandung kemih terisi, penderita disuruh batuk maka
urin tidak akan keluar dari uretra sedangkan kalau tidak ditekan urin akan keluar.
3. Pemeriksaan Pad Test
Penderita disuruh minum sebanyak 500 cc kemudian dalam waktu 30 menit penderita disuruh
naik tangga, jalan dan batuk-batuk. Lima belas menit kemudian penderita disuruh duduk
berdiri, duduk berdiri sebanyak 10 kali dan batuk yang kuat serta mengambil barang yang
jatuh di lantai. Enam puluh menit setelah tes ini selesai (lama tes 60 menit). Pad ditimbang
dengan hasil kemungkinan:
a. Timbangan Pad bertambah 2 gram, ini berarti tidak ada stres inkontinensia urin
b. Pad bertambah beratnya 2-10 gram disebut stres inkontinensia urin derajat ringan
c. Pad bertambah 10-20 gram, ini berarti penderita mengalami stres inkontinensia urin sedang
d. Pad bertambah beratnya 20-40 gram, ini berarti penderita mengalami stres inkontinensia
urin derajat berat.
e. Pad bertambah beratnya 40-50 gram, ini berarti penderita mengalami stres inkontinensia
urin derajat sangat berat.

4. Pemeriksaan Urodinamik
Pemeriksaan urodinamik dikerjakan hanya pada kasus-kasus yang diragukan diagnostiknya
atau terapi direncanakan operatif.

DIAGNOSTIK
Tahapan diagnostik meliputi anamnesis yang teliti dan pemeriksaan fisik yang seksama,
diharapkan
sudah dapat dibedakan antara enuresis primer (enuresis nokturnal) dengan inkontinensia urin.
Hal-hal
yang perlu ditanyakan antara lain pola berkemih (voiding) dan mengompol, frekuensi dan
volume urin,
kebiasaan defekasi serta pola kepribadian. Pemeriksaan fisik meliputi perkembangan
psikomotor,
inspeksi daerah genital dan punggung, refleks lumbosakral dan pengamatan terhadap pola
berkemih.10,11
Tahapan diagnostik berikutnya ialah pemeriksaan penunjang baik laboratorik (urinalisis,
biakan
urin, pemeriksaan kimia darah dan uji faal ginjal perlu dilakukan terhadap semua kasus
inkontinensia
urin) maupun pencitraan. Ultrasonografi dipakai sebagai pilihan pertama (penyaring),
kemudian
dilanjutkan dengan miksio-sisto-uretrografi (MSU). MSU merupakan pemeriksaan radiografi
vesika
urinaria dengan pemakaian kontras yang dimasukkan melalui kateter urin kemudian
dilakukan
pemeriksaan fluoroskopi secara intermitten selama pasien berkemih.10,11
Pemeriksaan urodinamik terindikasi pada kasus yang diduga buli-buli neurogenik yang tidak
selalu dapat terdiagnosis hanya berdasarkan pemeriksaan fisik-neurologik, ataupun pada
sekitar 20%
kasus yang belum jelas diagnosisnya dengan pemeriksaan baku seperti USG dan MSU.
Pemeriksaan
tersebut pada anak terbatas karena memerlukan waktu yang sangat banyak dan kesabaran
dengan
banyaknya instruksi yang harus diberikan, selain itu tidak semua rumah sakit memiliki alat
tersebut.
Bila sarana pemeriksaan MSU ataupun urodinamik tersedia, maka diagnosis akhir yang lebih
akurat
dapat ditegakkan.10,11

Pemeriksaan ginekologi,
harap diperhatikan adanya sistokel atau prolaps uteri padastadium lanjut. Penderita disuruh
batuk, kemudian terlihat urin keluar dari uretra.Perlu dilakukan pula penilaian urin sisa, bila
urin sisa lebih dari 100 cc kemungkinanpenderita mengalami retensio urin, bila urin sisa
kurang dari 50 cc, maka penderitamengalami kelainan stres inkontinensia urin