Anda di halaman 1dari 10

TUGAS AUDIT MANAJEMEN

MAKALAH AUDIT MANAJEMEN FUNGSI PRODUKSI






Disusun Oleh :

TANTI YUNIARSIH
NIM. 1142520001
DIV 3B / 24




JURUSAN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI MANAJEMEN
POLITEKNIK NEGERI MALANG
MALANG
2014
AUDIT FUNGSI PRODUKSI

1. Definisi Audit Produksi
Audit produksi merupakan penilaian secara komprehensif terhadap keseluruhan
fungsi produksi dan operasi untuk menentukan apakah fungsi ini telah berjalan dengan
memuaskan (ekonomis, efektif, dan efisien). Audit ini dilakukan tidak hanya sebatas
pada unit produksi tetapi juga berlaku untuk keseluruhan proses produksi dan operasi.
Audit ini juga berperan melengkapi fungsi pengendalian kualitas.
Menurut Linberg dan Cohn, Audit Produksi adalah suatu teknik penilaian yang
dilakukan secara teratur dan sistematis atas kefektifan suatu unit operasi dengan
membandingkannya pada standar-standar industry.
Menurut Bayangkara (2008:177), Audit Produksi melakukan penilaian secara
komprehensif terhadap keseluruhan fungsi produksi dan operasi untuk menentukan
apakah fungsi ini telah berjalan dengan memuaskan (ekonomis, efektif, dan efisien).

Ruang Lingkup Audit
a. Rencana Produksi dan Operasi
Rencana produksi dan operasi mengakomodasi rencana fungsi-fungsi bisnis lain,
yang merupakan penjabaran dari rencana pencapaian tujuan perusahaan secara
keseluruhan. Suatu rencana induk memuat tentang:
1. Jadwal induk produksi
2. Penilaian atas pengguanaan kapasitas produksi
3. Tingkat persediaan
4. Perencanaan keseimbangan lintas produksi.


Berikut Kriteria dan Pengkuran Variabel Rencana Induk Produksi dan Operasi
No. Variabel Kriteria Pengukuran
1. Jadwal Produksi
Induk
Tepat Kuantitas Rasio hasil produksi dengan
kebutuhan
Tepat Mutu Standar kualitas
Tepat waktu Jadwal pelepasan barang ke pasar
2. Optimalisasi
Penggunaan Sumber
Daya
Kapasitas penuh Rasio rencana produksi dengan
kapasitas produksi
Maksimum utilisasi Rasio penggunaan kapasitas
dengan kapasitas tersedia
3. Persediaan minimum
(zero)
Persediaan minimum
(zero)
Rasio jumlah persediaan akhirr
dengan hasil produksi
4. Keseimbangan lintas
produksi
Tidak ada kemacetan
proses produksi
Rencana operasi dan
pemeliharaan mesin produksi
Keseimbangan beban
operator dengan mein
produksi
Rasio operator dengan mesin
produksi

b. Produktivitas dan Peningkatan Nilai Tambah
Transformasi yang mengubah input menjadi output selalu diikuti dengan
peningkatan nilai tambah. Nilai tambah meliputi seluruh usaha dalam meningkatkan
manfaat yang diperoleh baik oleh perusahaan maupun oleh pelanggan. Faktor penting
dalam usaha peningkatan nilai tambah adalah adanya komitmen untuk beroperasi secara
efisien pada semua tingkatan dalam perusahaan.
Lean production adalah suatu metode produksi ramping, yang dikembangkan oleh
produsen mampu secara signifikan member keuntungan bagi perusahaan yang
menerapkannya. Keunggulan metode ini adalah didukung oleh kebijakan dan praktik
produksi yang secara maksimal mengoptimalkan pengguanaan sumber daya
pperusahaan untuk meningkatkan keunggulan bersaingnya, kebijakan dan praktik
tersebut meliputi:
1. Penghapusan persediaan (zero inventory)
2. Tingkat cacat no (zero defect)
3. Meminimalkan kebutuhan temapat (areal)
4. Kemitraan dengan pemasok
5. Tanggung jawab pemasok
6. Meminimalkan aktivitas yang tidak menambah nilai
7. Pengembangan angkatan kerja
8. Mencipttakan tantangan dalam bekerja,
9. Pengendalian Produksi dan Operasi.
Sementara itu, lean production juga menemukan tujuh sumber pemborosan yang
mengakibatkan operasi perusahaan tidak efisien. Hal ini tentunya harus menjadi focus
utama dalam proses audit, yaitu :
1. Produksi yang lebih besar dari kebutuhan
2. waktu tunggu dan waktu menganggur
3. penanganan material yang terlalu sering
4. persediaan, dan
5. pergerakan peralatan dan operatornya yang tidak menambah nilai bagi produk.

c. Pengendalian produksi dan operasi
Proses ini menyangkut pengamatan atas hubungan antara proses yang berjalan
dengan standar (kriteria) yang telah ditetapkan. Pengamatan ini bertujuan untuk
memandi proses agar tidak keluar dari standar operasi pencapaian tujuan perusahaan,
agar keseimbangan antara sumber daya yang tersedia dengan permintaan total dapat
diptahankan.
Tujuan utama dari pengendalian produksi dan operasi meliputi tiga hal penting
dalam keunggulan bersaing perusahaan, meliputi:
1. Memaksimumkan Tingkat Pelayanan
2. Pengandalian harus menjamin bahwa pelayanan telah diberikan secara tepat.
3. Meminimumkan investasi persediaan
4. Pengendalian harus mampu memandu seluruh aktivitas (uatam dan pendukung)
manufaktur ke dalam suatu proses yang terintegrasi, sehingga proses berjalan
sesuai dengan rencana dan jadawal yuang telah ditentukan.
5. Efisiensi produksi dan operasi
Efisiensi produksi dan operasi merupakan suatu yang mutlak dan harus menjadi
budaya kerja pada setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi dan
operasi. Pengendalian produksi dan operasi meliputi pengendalia terhadap
keseluruhan komponen dan tahapan daam proses produksi mulai dari
penanganan bahan baku sampai denggan penanganan penyerahan produk jadi ke
gudang. Secara rinci pengendalian tersebut meliputi hal-hal berikut ini:
a) Pengendalian bahan baku
Pengendalian bahan baku bertujuan untuk memastikan bahwa bahan baku
yang diolah dalam proses produksi telah sesuai dengan kebutuhan standar
kualitas produk yang dihasilkan.
b) Pengendalian peralatan dan fasilitas produksi
Pengendalian ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua peralatan dan
fasilitas produksi ada dalam keadaan siap untuk melaksanakan proses
produksi sesuai dengan ketentuan penggunaannya.
c) Pengendalian transformasi
Pengendalian transformasi disini bertujuan untuk memastikan bahwa proses
pengolahan input menjadi output telah berjalan sesuai dengan kebutuhan
proses yang efektif dan efisien.
d) Pengendalian kualitas
Pengendalian ini memastikan bahwa produk yang dihasilkan nanti mampu
memenuhi spesifikasi pelanggan.



e) Pengendalian barang jadi
Pengendalian ini bertujuan untuk memastikan bahwa penanganan barang
setelah produksi berjalan sesuai dengan prosedur, sehingga tidak terjadi
kerusakan barang dalam proses penyimpanan dan pendistribusiannya.
2. Sasaran 3E ( Ekonomi, Efisiensi, Efektifitas )
1. Ekonomi
Konsep yang pertama dalam pengelolaan organisasi adalah ekonomi, yang berarti
pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang
terendah.. Konsep ekonomi memastikan bahwa biaya input yang digunakan dalam
operasional organisasi dapat diminimalkan. Ekonomi merupakan perbandingan
input dengan input value yang dinyatakan dalam satuan moneter. Ekonomi terkait
dengan sejauh mana organisasi dapat meminimalisir input resources yang
digunakan, yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak
produktif. Dapat disimpulkan bahwa ekonomi mempunyai arti biaya terendah,
2. Efisiensi
Efisiensi merupakan ketepatan cara untuk mengerjakan atau memanfaatkan atau
mengoptimalkan sesuatu atau menghasilkan sesuatu dengan tepat dan cepat serta
berdaya guna dengan tidak mengorbankan biaya, waktu, tenaga, atau lainnya
dalam tujuan memeperoleh hasil yang terbaik. Konsep efisien berarti pencapaian
output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input yang
terendah untuk mencapai output tertentu dan memastikan bahwa output yang
maksimal dapat dicapai dengan sumber daya yang tersedia. Efisiensi merupakan
perbandingan output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang
telah ditetapkan. sedangkan efisiensi mengacu pada rasio terbaik antara output
dengan biaya (input). Karena output dan biaya diukur dalam unit yang berbeda,
maka efisiensi dapat terwujud ketika dengan sumber daya yang ada dapat dicapai
output yang maksimal atau output tertentu dapat dicapai dengan sumber daya
yang sekecil-kecilnya.


3. Efektivitas
Konsep yang ketiga dalam pengelolaan organisasi sektor publik adalah efekivitas.
Efektivitas berarti tingkat pencapaian hasil program dengan target yang
ditetapkan. Efektivitas merupakan perbandingan antara outcome dengan output.
Outcome seringkali dikaitkan dengan tujuan (objectives) atau target yang hendak
dicapai. Jadi dapat dikatakan bahwa efektivitas berkaitan dengan pencapaian
tujuan. Audit efektivitas bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil
atau manfaat yang diinginkan, kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan
sebelumnya dan menentukan apakah entitas yang diaudit telah
mempertimbangkan alternatif lain yang memberikan hasil yang sama dengan
biaya yang paling rendah.
3. Tujuan Dan Manfaat Audit Produksi
Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan audit ini antara lain ingin mengetahui :
1. Apakah produk yang dihasilkan telah mencerminkan kebutuhan pelanggan
(pasar)
2. Apakah strategi serta rencana produksi dan operasi sudah secara cermat
menghubungkan antara kebutuhan untuk memuaskan pelanggan dengan
ketersediaan sumber daya serta fasilitas yang dimiliki perusahaan
3. Apakah strategi, rencana produksi dan operasi telah mempertimbangkan
kelemahan-kelemahan internal, ancaman lingkungan eksternal serta peluang
yang dimiliki perusahaan.
4. Apakah proses transformasi telah berjalan secara efektif dan efisien.
5. Apakah penempatan fasilitas produksi dan operasi telah mendukung berjalannya
proses secara ekonomis, efektif, dan efisien.
6. Apakah pemeliharaan dan perbaikan fasilitas produksi dan operasi telah berjalan
sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam mendukung dihasilkannya
produk yang sesuai dengan kuantitas, kualitas, dan waktu yang telah ditetapkan.
7. Apakah setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi dan operasi telah
melaksanakan aktivitasnya sesuai dengan ketentuan serta aturan yang telah
ditetapkan perusahaan

Manfaat Audit Produksi dan Operasi
Secara rinci audit ini mampu memberikan manfaat, yaitu :
1. Dapat memberikan gambaran kepada pihak yang berkepentingan tentang
ketaatan dan kemampuan fungsi produksi dan operasi dalam menerapkan
kebijakan serta strategi yang telah ditetapkan.
2. Dapat memberikan informasi tentang usaha-usaha perbaikan proses produksi dan
operasi yang telah dilakukan perusahaan serta hambatan-hambatan yang
dihadapi.
3. Dapat menentukan area permasalahan yang masih dihadapi dalam mencapai
tujuan produksi dan operasi serta tujuan perusahaan secara keseluruhan.
4. Dapat menilai kekuatan dan kelemahan strategi produksi dan operasi serta
kebutuhan perbaikannya dalam meningkatkan kontribusifungsi ini terhadap
pencapaian tujuan perusahaan.

4. Pendekatan Audit Produksi
Dalam melaksanakan audit manajemen fungsi produksi , seorang akuntan pemeriksa
terlebih dahulu perlu mengenal informasi umum yang penting (background
infotmation) dariperusahaan yang akan diperiksa.
Pendekatan dalam management audit fungsi produksi , yaitu :
a. Bertitik tolak dari fungsi-fungsi bisnis yaitu fungsi produksi
b. Bertitik tolak dari fungsi manajemen yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian/ pengawas.
c. Bertitik tolak dari sumber daya yaitu, manajemen, mesin, material, dan lain-lain.

5. Tahap Audit Produksi
1. Audit Pendahuluan
Audit pendahuluan diawali dengan perkenalan antara pihak auditor dengan
organisasi auditte. Pertemuan ini bertujuan untuk mengonfirmasi scope audit,
mendiskusikan rencana audit dan penggalian informasi umum tentang organisasi
auditte, objek yang akan diaudit, mengenal lebih lanjut kondisi perusahaan dan
prosedur yang diterapkan pada proses produksi. Pada tahap ini auditor
melakukan overview terhadap perusahaan secara umum, produk yang
dihasilkan, proses produksi yang dijalankan, melakukan peninjauan terhadap
pabrik(fasilitas produksi), layout pabrik, sistem komputer yang digunakan dan
berbagai sumber daya penunjang keberhasilan fungsi ini dalam mencapai
tujuannya. Hasil pengamatan pada tahap audit ini dirumuskan ke dalam bentuk
tujuan audit sementara.
2. Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen
Pada tahap ini auditor melakukan review dan pengujian terhadap beberapa
perubahan yang terjadi pada struktur perusahaan, sistem manajemen kualitas,
fasilitas yang digunakan dan/atau personalia kunci dalam perusahaan, sejak hasil
audit terakhir. Berdasarkan data yang diperoleh pada audit pendahuluan, auditor
melakukan penilaian terhadap tujuan utama produksi dan operasi serta variabel-
variabel yang mempengaruhinya. Disamping itu, pada tahap ini auditor juga
mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan penyimpangan dan gangguan-
gangguan yang mungkin terjadi yang mengakibatkan terhambatnya pencapaian
tujuan produksi. Review terhadap hasil audit terdahulu juga dilakukan untuk
menentukan berbagai tindakan korektif yang harus diambil.
3. Audit Lanjutan (terinci)
Pada tahap ini auditor melakukan audit lebih dalam dan pengembangan temuan
terhadap fasilitas, prosedur, catatan-catatan (dokumen) yang berkaitan dengan
produksi dan operasi. Konfirmasi kepada pihak perusahaan selama audit
dilakukan untuk mendapatkan penjelasan dari pejabat yang berwenang tentang
adanya hal-hal yang merupakan kelemahan yang ditemukan auditor. Untuk
mendapatkan informasi yang lengkap, relevan dan dapat dipercaya, auditor
menggunakan daflar pertanyaan (audit checlist) yang ditujukan kepada berbagai
pihak yang berwenang dan berkompeten berkaitan dengan masalah yang diaudit.
Dalam wawancara yang dilakukan, auditor harus menyoroti keseluruhan dari
ketidaksesuaian yang ditemukan dan menilai tindakan-tindakan korektif yang
telah dilakukan.
4. Pelaporan
Hasil dari keseluruhan tahapan audit sebelumnya yang telah diringkaskan dalam
kertas kerja audit (KKA), merupakan dasar dalam membuat kesimpulan audit
dan rumusan rekomendasi yang akan diberikan auditor sebagai altematif solusi
atas kekurangan-kekurangan yang masih ditemukan. Pelaporan menyangkut
penyajian hasil audit kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap hasil
audit tersebut.
Laporan audit disajikan dengan format sebagai berikut :
a. Informasi Latar Belakang
b. Kesimpulan Audit dan Ringkasan Temuan Audit
c. Rumusan Rekomendasi
d. Ruang lingkup audit

6. Tindak Lanjut
Rekomendasi yang disajikan auditor dalam laporannya merupakan altematif
perbaikan yang ditawarkan untuk meningkatkan berbagai kelemahan
(kekurangan) yang masih terjadi pada perusahaan. Tindak lanjut (perbaikan)
yang dilakukan merupakan bentuk komitmen manajemen untuk menjadikan
organisasinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dalam rangka perbaikan ini
auditor mendampingi manajemen dalam merencanakan, melaksanakan, dan
mengendalikan program-program perbaikan yang dilakukan agar dapat
mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.