Anda di halaman 1dari 13

PAPSA

PEMERIKSAAN AIR (PA)


Tujuan Percobaan
1.

Mampu menghitung koloni-koloni bakteri air

2.

Mampu membandingkan radius pertumbuhan mikroba dengan atau desinfektan

Tinjauan Pustaka
1.

Peranan Air
Air merupakan zat yang mutlak bagi setiap makhluk hidup dan kebersihan
air adalah syarat utama terjaminnya kesehatan. Menurut tempatnya air berada di
permukaan tanah dan dapat pula berada di atas tanah selanjutnya air ini disebut air
tanah. Air hujan membawa serta mikroorganisme-mikroorganisme yang senantiasa
berhamburan di udara, lebih-lebih yang mengatasi (di atas) tanah berdebu. Setiba
di tanah, air menjadi lebih cemar lagi karena sisa-sisa makhluk hidup (sampah)
kotorran dari hwan-hewan ataupun manusia dan mungkin juga limbah dari pabrikpabrik
Manusia memperoleh air yang diperlukan untuk minum, masak, mandi dan
mencuci dari air hujan, dari air yang menggenang du oermukaan seperti waduk
atau kubangan, dari air sungai, air sumber dan air sumur.
Air yang mengandung mikroorganisme-mikroorganisme disebut air yang
terkena kontaminasi. Jadi air itu tidak steril. Sehingga apabila diminum atau
dipergunakan untuk keperluan-keperluan rumah tangga lainnya seperti misalnya
untuk MCK (mandi cuci kakus) dapat menimbulkan akibat-akibat yang merugikan
bagi kehidupan kita, misalnya penyakit kulit, penyakit perut (diare, mutaber, dan
lain-lain). Beberapa penyakit menular dapat sewaktu-waktu meluas menjadi wabah
(epidemi) karena peranan air yang tercemar.

2.

Kehidupan Mikroorganisme Dalam Air


Air tenang mengandung zat-zat organik maupun zat-zat anorganik dan oleh
karena itu merupakan tempat yang baik bagi kehidupan mikroorganisme.
Mikroorganisme-mikroorganisme yang autotrof merupakan penghuni pertama
dalam air yang mengandung zat-zat organik.
Sel-sel yang mati merupakan bahan organik yang heterotrop. Temperatur
turut menentukan populasi dalam air. Temperatur sekitar 30oC atau lebih sedikit

baik bagi kehidupan bakteri patogen yang berasal dari hewan-hewan maupun
manusia.
Sinar matahari terutama sinar ultaviolet memang bisa mematikan bakteri
tetapi daya tembus ultraviolet ke dalam air tidak seberapa.
Air yang mengalir deras dan bergolak karena menerjang karena menerjang
batu-batuan karang baik bagi kehidupan bakteri, air sumur dalam hal ini tergantung
pada lingkunganya. Pada umumnya lebih bersih daripada air permukaan, karena air
yang merembes ke dalam tanah itu telah tersaring oleh lapisan tanah yang
dilewatinya.
3.

Persyaratan Standar Kualitas Air


Air memiliki jaringan aliran yang luas, maka air di suatu tempat baik yang
mengalir maupun yang menerapkan pada permukaan tanah tersebut disebut Badan
Air, air yang termasuk kualifikasi badan air ialah waduk, saluran air, rawa-rawa
dan lain-lain.
Karena masing-masing badan air itu didalam kehidupan sehari-sehari
dihubung-hubungkan dengan kepentingan manusia, maka sering badan-badan air
itu diklarifikasikan lagi menurut kepentingan kegunaannya bagi manusia.
Disamping kepentingan kegunaan dari badan-badan air bagi manusia (maupun
organime), maka persyaratan standar kualitas air perlu ditentukan.
Persyaratan kualitas air adalah atas pertimbangan bahwa karena jaringan air
itu sedemikian luas, maka tak mustahil dalam peredarannya pasti sampai ditempattempat yang membahayakan penggunaannya oleh manusia (maupun organisme).
Lebih-lebih bila digunakan sebagai air minum, maka mutlaklah bila persyaratan
kualitas air minum dipakai. Persyaratan standar air minum adalah sebagai berikut :
a.

Persyaratan biologi untuk air


Ditentukan baik oleh kehadiran mikroorganisme yang patogen maupun
juga yang non patogen. Patogen lebih memperoleh perhatian terhadap
penilaian persyaratan biologis. Sekalipun sebaiknya mikroorganisme dan
patogen secara relatif tidak berbahaya lagi baik kesehatan, namun karena
golongan ini sering dalam jumlah berlebihan dapat mempengaruhi rasa, bau,
estetis, dan lain-lain.

b.

Persyaratan fisis untuk air


Ditentukan oleh faktor-faktor kekeruhan, warna, bau, maupun rasa,
dari keempat tersebut hanya bau saja penilaiannya ditentukan secara subyektif,

dengan jalan diencerkan sampai pada larutan yang paling encer. Umumnya
penilaian bau maupun rasa sering dilakukan bersamaan berbagai suatu
indikator, dimana antara keduanya sulit dipisahkan secara kualitatif. Bagi air
minum, persyaratan fisis ditetapkan antara lain oleh faktor-faktor kekeruhan,
warna maupun bau.
c.

Persyaratan kimia untuk air


Karena bahan kimia itu umumnya mudah larut dalam air, maka
tercemarnya air oleh bahan-bahan kimia yang larut, perlu dinilai kadarnya
untuk mengetahui sejauh mana membahayakan eksistensi organisme.

4.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organisme


a.

Temperatur
Daya tahan terhadap temperatur tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Ada
spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam
cairan medium pada suhu 60 C. sebaliknya bakteri jenis lain membentuk spora
seperti genus Bacillus dan genus Clostridium itu tetap hidup setelah dipanasi
dengan uap 100 C atau lebih selamat kira-kira setengah jam. Umumnya
mikroorganisme hidup pada suhu 26 C

b.

Kebebasan
Dalam keadaan bebas protein dari bakteri lebih cepat menggumpal
daripada dalam keadaan kering pada T sama. Berdasarkan ini maka sterilisasi
barang-barang gelas di dalam oven kering memerlukan suhu 121 C dan waktu
lebih dari 15 menit

c.

Medium
Medium yang digunakan harus memiliki zat-zat yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme, yaitu protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan lain-lain.

d.

Pengaruh perubahan nilai osmotik


Medium yang cocok bagi kehidupan bakteri adalah medium yang
isotonik terhadap isi sel bakteri jika ditempatkan di dalam suatu larutan yang
hipertonik terhadap sisi sel maka bakteri akan mengalami plasmolisis.
Sebaliknya jika ditempatkan dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap sisi
sel maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Jika pe

rubahan nilai nilai

osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyong-konyong akan tetapi

perlahan-lahan

sebagai

akibat

penguapan

air,

maka

bakteri

dapat

menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmologi secara mendadak.


e.

Pengaruh sinar
Kebanyakan bakteri tidak dapat mengalami fotosintesa bahkan setiap
radiasi dapat membahayakannya. Sinar tampak tidak berbahaya tetapi sinar
ultraviolet, sinar x, dan sinar radiasi yang gelombangnya lebih pendek dari
sinar tampak sangat berbahaya bahkan dapat mematikan bakteri.

f.

Pengaruh mekanik
Tekanan udara dapat mempengaruhi kehidupan bakteri. Untuk
menghentikan bakteri dibutuhkan tekanan 600 atm, dan untuk mematikan
bakteri dibutuhkan tekanan 6000 atm.

g.

Faktor kimia
Penggunaan bahan kimia kemungkinan dapat membunuh bakteri
seperti desinfektan-desinfektan germisida dan bakterisida. Zat-zat juga tanpa
merusak bakteri. Biasanya kerusakan-kerusakan akibat proses oksidasi,
koagulasi, depresi, dan ketegangan permukaan

5.

Sifat-sifat umum suatu koloni


Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh di permukaan
medium adalah:
a.

Besar kecilnya koloni


Ada koloni yang hanya berupa suatu titik, ada pula yang melebar sampai
menutup permukaan medium

b.

Bentuk
Ada koloni yang bulat, ada yang memanjang, ada yang tepinya rata, ada yang
tepinya tidak rata

c.

Kenaikan permukaan
Ada koloni yang permukaannya halus, ada yang permukaannya tidak rata

d.

Wajah permukaan
Ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang permukaannya suram

e.

Warna
Kebanyakan koloni bakteri itu berwarna keputihan atau kekuningan. Akan
tetapi ada juga yang kemerahan, coklat, jingga, biru, hijau, dan ungu

f.

Kepekatan

Ada koloni yang lunak seperti lendir, seperti mentega, ada yang keras dan
kering

6.

Sifat-sifat suatu koloni


a.

Dalam medium padat


Disini dibicarakan sifat-sifat koloni yang tumbuh pada agar-agar
lempengan. Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk
permukaan dan tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik-titik, bulat,
berbenang, tak teratur, serupa akar, serupa kumparan.
Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung,
mencembung, timbul membukit, timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh,
berombak, berbelah, bergerigi, berbenang-benang atau keriting.

b.

Dalam medium cair


medium cair itu pada dasarnya dapat diperoleh dengan tak
mencampurkan agar-agar atau gelatin kepadanya. Di dalam medium cair,
bakteri akan ketahuan sikapnya terhadap udara. Demikian pula sifat-sifat
koloninya akan kelihatan berbeda-beda. Pada permukaan medium dapat
memperlihatkan adanya serabut cicin, langit-langit atau selaput.

7.

Penghitungan jumlah koloni


Penentuan jumlah mikroba dapat bermacam-macam caranya. Salah satunya
adalah dengan menggunakan cara Standard Plate Count (SPC). SPC digunakan
untuk menentukan kepadatan bakteri heterotrof aerobik dan fakultatif anaerobik.
Dalam percobaan ini pengukuran bakteri secara empiris karena bakteri dapat
berbentuk koloni, rantai kumpulan atau paket. SPC adalah cara yang paling umum
digunakan untuk perhitungan jumlah mikroba. Dasarnya ialah meembuat sari
pengenceran bahan dengan kelipatan sepuluh. Setelah diinkubasikan dihitung
jumlah koloni tiap petridish dari masing-masing pengenceran. Untuk membantu
menghitung jumlah koloni dalam petridish dapat digunakan coloni counter yang
biasanya dilengkapi dengan elektronik register.
Perhitungan dan pencatatan koloni pada plate dilakukan sesegera mungkin
sesudah periode inkubasi selesai. Bila perhitungan koloni harus ditunda sementara
maka plate harus didimpan pada suhu 5-10 C dan tidak lebih dari 24 jam. Untuk
menghitung manual digunakan penghitungan koloni (coloni counter). Jika plate
pada semua pengenceran 1 : 100, laporkan penghitungan sebagai kurang dari 100

per ml. jika jumlah koloni per plate jauh di atas 300, laporkan hasil sebagai TNTC
(Too Numerous To Count)

Metodologi Percobaan
Alat dan Bahan
1. Bahan:
- Sampel air
- Aquadest
- PDA
- Desinfektan
2. Alat:
- Beaker glass
- Petri dish
- Tabung reaksi
- Erlenmeyer
- Pipet
- Pengaduk
- Kompor listrik
- Koloni Counter
3. Cara Kerja :
Langkah-langkah pendahuluan:
1.

Menyiapkan petridish, tabung reaksi, pipet yang sudah disterilisasi.

2.

Mengencerkan sampel (4 x faktor pengenceran): mengambil 1 ml sampel


kemudian Diencerkan 10 ml. Dan dari 10 ml itu diambil 1 ml lalu diencerkan
lagi menjadi 10 ml.

3.

Lanjutkan sampai didapatkan 4 kali pengenceran (10-4)

4.

Menyiapkan media: mengambil 3,9 gr PDA kemudian masukkan ke dalam


80 ml

5.

Tambahkan aquadest kemudian dipanaskan hingga mendidih.

6.

Membagi media ke dalam petridish dan tabung reaksi secara merata.

Langkah-langkah percobaan PA:


1. Uji Koloni

a. Biarkan media dalam petridish sampai setengah padat kemudian taburi


dengan contoh yang sudah diencerkan secara merata ke permukaan media
menggunakan pipet tetes yang sudah disterilisasi.
b. Simpan dalam ruang inkubasi dengan cara dibalik peletakannya selama
waktu inkubasi yang ditentukan. (biasanya 2 hari)
c. Menghitung jumlah koloni terbanyak dan tersedikit (dihitung biasa),
kemudian
dicari:
rata-rata jumlah koloni = (terbanyak + tersedikit)
2
jumlah koloni dalam petridish = rata-rata jumlah koloni x luas petridish x fp
Keterangan: luas petridish = 63,585 cm2
fp = 104
2. Uji Desinfektan
a. Biarkan media dalam petridish memadat kemudian buat lubang kecil pada
tengahtengah media tersebut. Kemudian teteskan contoh desinfektan ke dalam
lubang
tersebut menggunakan pipet tetes.
b. Simpan dalam ruang inkubasi selama waktu yang ditentukan (biasanya 2
hari).
c. Mencatat radius pertumbuhan diukur dari lubang yang dibuat (radius
terjauh,
terdekat, dan rata-rata).

PEMINDAHAN BIAKAN MIKROBA SECARA ASEPTIS


II.1. Tujuan percobaan
1. Menguasai teknik pemindahan bakteri dari satu wadah ke wadah lain secara aseptis
2. Memahami berbagai macam prosedur sterilisasi
II.2. Tinjauan Pustaka
A. Pendahuluan
Pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru
memerluka ketelitian. Terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat yang ada
sangkut pautnya dengan medium dan pekerjaan inokulasi itu benar-benar steril. Ini
menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikroorganisme yang tidak diinginkan.
a.

Penyiapan ruangan
Ruang tempat inokulasi itu kecil, bersih, dan bebas angin. Dinding ruang
yang basah menyebabkan butir-butir debu menepel padanya. Pada waktu
mengadakan inokulasi, baik sekali jika meja dapat juga dilakukan dalam suatu
kotak berkaca. Dalam laboratorium untuk membuat vaksin, serum, dan sebagainya.
Udara yang masuk kedalam ruangan itu dilewatkan saringan yang disinari dengan
sinar ultraviolet

b.

Pemindahan dengan kawat inokulasi


Ujung kawat inokulasi sebaiknya dari platina atau dari nikrom. Ujung itu
boleh lurus boleh juga berupa kolongan yang berdiameter 1-3 mm. lebih dahulu
ujung kawat dipijarkan, sedang sisaya sampai tangkai cukup dilewatkan nyala apai
saja. setelah dingin kembali, ujung kawat itu disentuhkan suatu koloni. Mulut
tabung tempat pemeliharaan itu dipanasi juga setelah sumbatnya diambil. Setelah
pengambilan inokulum (yaitu sampel bakteri) selesai, mulut tabung dipanasi lagi,
kemudian disumbat seperti semula. Ujung kawat yang membawa inokulum
tersebut digerakkan pada medium baru atau pada suatu kaca benda, kalau
tujuannya memang akan membuat suatu sediaan.

c.

Pemindahan dengan pipet


Cara ini dilakukan misalnya pada penyelidikan air minum atau pada
penyelidikan air minum atau pada penyelidikan susu. Diambil 1 ml dari contoh
untuk diencerkan dengan 99 mlair murni yang steril. Kemudian diambil 1 ml dari
diencerkan tersebut untuk dicampurkan dengan medium agar yang masih dalam

keadaan cair (suhu antara 42oC-45oC). setelah agar-agar membeku, maka cawan
petri yang berisi piaraan baru disimpan dalam tempat yang aman. Penyimpanan
cairan ini dilakukan dengan meletakkan secara terbalik yaitu permukaan medium
menghadap kebawah, ini untuk menghindari tetesnya air yang mungkin melekat
pada dinding dalam pada tutup cawan. Piaraan yang diperoleh dengan jalan seperti
tersebut diatas terkenal dengan piaraan adukan. Dengan cara ini bakteri yang
diinokulasi kan tadi dapat menyebar luas keseluruh medium. Bakteri yang aerob
maupun anaerob dapat tumbuh disitu dan banyaknya koloni dapat dihitung dengan
mudah. Pengenceran 1 ml sampel dengan 99 ml air murni itu tidak mutlak, hal ini
tergantung pada keadaan air yang akan diselidiki.
Dalam keadaan yang sebenarnya (dialam bebas) boleh dikatakan tidak ada
bakteri yang hidup tersendiri terlepas dari spesies lainnya. Untuk isolasi suatu
spesies terdapat berbagai cara yaitu:
1. Metode Pengenceran
Suatu sampel dari suatu suspensi mengandung campuran bermacam-macam
spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari enceran tersebut
diambil 1 ml untuk kemudian diencerkan kembali dst. Kemudian
diinokulasikan ke media padat (misal media agar)
2. Metode Penuangan
Suatu sampel campuaran bakteri yang telah diencerkan, kemudian disebarkan
dalam suatu media cair misal kaldu dan gelatin encer.
3. Metode goresan
Metode ini banyak digunakan karena mudah prosedurnya, Tetapi metode ini
hanya digunakan untuk jenis mikroorganisme aerobik.
4. Dengan isolasi suatu mikroorganisme
Isolasi suatu sel menggunakan mikropet yang ditempatkan pada tangan-tangan
suatu micromanipulator.
5. Inokulasi Hewan
Metode ini didasrkan atas suatu kenyataan bahwa tidak semua bakteri dapat
tumbuh didalam tubuh seekor hewan.

B. Mempersiapakan biakan
1.

Inokulasi pada lempengan


Sampel bakteri diambil dengan ujung kawat ose kemudian digesekkan pada
seluruh permukaan media agar. Maka setelah diinkubasi beberapa waktu maka
akan muncul koloni-koloni bakteri dipermukaan media agar.

2.

Inokulasi pada media miring


Tabung reaksi yang berisi medium agar (sebanyak 4-5 ml). setelah diambil
dari autoclave, dibaringkan hamper horizontal. Setelah medium mengental dan
tabung reaksi kita tegakkan akan diperoleh permukaan media agar yang
miring. Untuk inokulasi yaitu dengan membuat goresan dengan kawat ose
yang telah dikontakkan dengan biakan murni.

3.

Inokulasi dengan tusukan


Biakkan tusukan dapat diperoleh dengan menusukkan ujung kawat yang telah
dikontakkan dengan biakan murni. Tusukkan lurus kedalam medium. Biakan
dengan metode tusukan digunakan untuk inokulasi bakteri anaerobik.

4.

Inokulasi adukan
Bakteri yang akan digunakan untuk membuat piaraan adukan dapat diperoleh
dengan piaraan dalam medium cair atau dari suatu koloni pada medium padat
maka sampel yang diambil dari koloni itu perlu diencerkan dulu dalam air
steril sehingga terjadi suatu suspensi. Kemudian ambil agar-agar atau gelatin
yang belum membeku dan tuangkan medium itu ke dalam cairan petri tersebut.
Setelah cawan petri ditutup maka putar-putarlah cawan tersebut diatas
permukaan meja kerja.

C. Sifat-sifat umum koloni


1. Besar kecilnya koloni
Ada koloni yang berupa suatu titik, atau ada yang melebar sampai menutup
permukaan medium
2. Bentuk
Ada koloni yang bulat, ada yang memanjang, ada yang tepinya rata, ada yang
tepinya tidak rata
3. Kenaikkan permukaan
Ada koloni yang rata saja dengan permukaaan medium, ada pula yang timbul
yaitu menjulang tebal diatas permukaan medium.
4. Halus kasarnya permukaan

Ada koloni yang permukaannya mengkilat, ada yang permukaanya kasartidak


rata
5. Wajah permukaan
Ada koloni yang permukaannyamengkilat, ada yang permukaanya suram.
6. Warna
Kebanyakan koloni bakteri itu berwarna keputihan atau kekuningan akan
tetapi ada juga yang kemerahan, coklat, jingga, biru, hijau, ungu.
7. Kepekatan
Ada koloni yang lunak seperti lender, ada yang lunak seperti mentega, ada
yang keras dan kering.

D. Sifat-sifat khusus koloni dalam medium padat


Disini dibicarakan sifat-sifat koloni yang tumbuh pada agar-agar
lempengan, pada media agar miring dan pada tusukan gelatin
a. Sifat koloni yang tumbuh pada agar lempengan, bentuk koloni dilukiskan
sebagai titik-titik, bulat, berbenang, tak teratur serupa akar, serupa kumparan.
Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul
cekung, timbul berbukit, timbul berkawah, tepi koloni ada yang utuh,
berombak, berbelah-belah bergerigi, berbenang-benang da nada yang keriting.
b. Sifat koloni pada agar-agar miring
Sifat-sifat ini berkisar pada bentuk dan tepi koloni dan sifat itu dinyatakan
dengan kata-kata seperti berupa pedang, duri, tasbih, dll.
c. Sifat koloni tusukan pada gelatin
Ada bakteri yang adapt mengencerkan gelatin, ada juga yang tidak mampu.
E. Medium
Medium

adalah

bahan

yang

digunakan

untuk

menumbuhakan

mikroorganisme diatasnya atau didalamnya.


Berdasarkan komposisi kimianya medium dibagi menjadi 2 yaitu
a. Medium sintetik adalah medium dengan komposisi yang diketahui dengan
pasti dan biasanya dibuat dari bahan-bahan kimia dengan kemurnian tinggi
dan ditentukan dengan tepat, dengan demikian dapat dibuat ulang.
b. Medium non sintetik adalah medium yang komposisi kimiawinya tidak
diketahui dengan pasti dan tepat misalnya bahan yang terdapat dalam kaldu

nutrient yaitu ekstrak daging dan pepton mempunyai komposisi kimia yang
tidak pasti
Berdasarkan penggunaanya medium dibagi menjadi 3 yaitu
c. Medium serba guna adalah medium yang paling umum digunakan sifat dari
medium

ini

yaitu

dapat

menunjang

pertumbuhan

sebagian

besar

mikroorganisme, misalnya kaldu nutrient


d. Medium selektif adalah medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu yang
dapat menghambat pertumbuhan organisme yang tidak diinginkan.
e. Medium diferensial adalah medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu
yang memungkinkan si pengamat membedakan berbagai tipe bakteri.
Berdasarkan konsistensinya medium dibagi menjadi 3 jenis yaitu
a. Medium cair adalah medium yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti
pembiakan organisme dalam jumlah besar, fermentasi, dan berbagai macam
uji.
b. Medium setengah padat digunakan untuk menguji ada tidaknya motilitas dan
kemampuan fermentasi. Medium ini mengandung gelatin atau agar-agar dalam
jumlah lebih kecil daripada medium padat.
c. Medium padat digunakan untuk mengamati kenampakan atau morfologi
koloni dan mengisolasi biakan murni.

Metodologi Percobaan
Bahan dan Alat
1. Bahan :
- Aspergillus niger
- Sampel jamur
2. Alat :
- Tabung reaksi
- Inokulum
- Beaker glass
- Pipet tetes
- Gelas ukur
- Kompor listrik
- Cawan petri
- Mikroskop

3. Cara Kerja
1. Biarkan media dalam tabung reaksi memadat (untuk media miring, sebelum
memadat kedudukan tabung reaksi dibuat miring di bawah 45, kemudian
dibiarkan

sampai memadat). Apabila menggunakan petridish maka masukkan

media kedalam petridih kemudian biarkan sampai menjadi padat


2. Menyiapkan kawat osse, bunsen, dan HCl.
3. Mensterilkan

kawat

osse:

panaskan

kawat

osse

menggunakan

bunsen

kemudian memasukkan ke larutan HCl kemudian panaskan kawat osse lagi.


4. Memindahkan mikroorganisme dari biakan murni yang tersedia menggunakan
kawat osse yang sudah disterilisasi ke tabung media. Apabila menggunakan
petridish maka menggunakan pemindahan dengan metode gores.
5. Simpan di dalam ruang inkubasi selama waktu inkubasi yang ditentukan.
Mengamati kenampakannya setelah waktu inkubasi.