Anda di halaman 1dari 19

Aspek Genetika dalam Penurunan Sifat

pada Talasemia Alfa

Kelompok B2
RIANA LIZA SONGUPNUAN

102011010

DIONISIUS

102011073

NOVY TRIANDANI LIMBONG 102011095


JULVICA HEUW

102011175

ANDREY SETIAWAN

102011204

RACHEL NOVIANA TOMMY

102011261

MUHAMAD IMAM SYAHBANI 102011336


NILASARI WULANDARI

102011367

Fakultas Kedokteran UKRIDA


Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Skenario
Sepasang suami-isteri yang sudah lama ingin punya anak datang untuk konseling.
Mereka menginformasikan bahwa mereka berdua sama-sama mempunyai talasemia-alfa
minor. Selama ini isteri sudah pernah 2 kali hamil tetapi kehamilan pertama mengalami
keguguran pada usia kehamilan 12 minggu, sedangkan kehamilan kedua melahirkan bayi
dengan hydrops foetalis pada gestasi 27 minggu dan meninggal beberapa menit setelah
dilahirkan. Pada pemeriksaan darah kedua suami isteri tersebut tidak dilakukan pemeriksaan
faktor rhesus maupun TORCH.
Rumusan masalah

Sepasang suami-istri masing-masing menderita thalasemia alfa minor.

Pernah 2 kali mengandung, anak pertama keguguran pada minggu ke 12, sedangkan
anak ke dua lahir pada minggu ke 27 dengan hydrops foetalis dan meninggal beberapa
menit kemudian.

Mind map
Anamnesis dan
pembuatan pedigree

Epidemiologi dan
gejala klinis

Faktor resiko dan komplikasi

Pemeriksaan fisik dan


penunjang

Orang Tua dengan


Talasemia Alfa Minor
dan Kedua Anak
Meninggal.

Konseling genetika

Working dan
differential diagnosis

Etiologi dan
patofisiologi

Penatalaksanaan dan
prognosis

Pendahuluan
Penurunan sifat ini bisa terjadi dengan adanya penggambungan materi ibu dan ayah.
Ilmu yang mempelajari mengenai hal ini adalah Genetika. Genetika adalah ilmu mengenai
keturunan, dalam hal ini rantai yang diturunkan yaitu fisik, biokimia, dan fisiologi.
Penurunan sifat yang terjadi ini tentu bisa terjadi pada orang yang sakit dan orang yang sehat,
dari orang tua biologis kepada anaknya. Dalam proses penurunan ini, kesalahan atau mutasi
dapat terjadi dan bisa meningkatkan kerentanan terhadap bahaya penyakit, kecacatan, dan
kematian.1
Informasi genetik dibawa didalam gen, yang saling terikat satu sama lain pada DNA
(asam deoksiribonukleat) yang membentuk double helix dan membentuk kromosom. Pada
manusia normal disetiap selnya, (kecuali sel gamet) memiliki 46 kromosom, 22 pasang
kromosom autosomal dan 2 kromosom seks, baik XX untuk perempuan, maupun XY pada
laki-laki. Paket kromosom perorangan biasa disebut sebagai kariotipe. Genomik manusia
dalam 15 tahun terakhir ini, mengalami penelitian yang dalam untuk mengetahui struktur dari
masing-masing gen pada genom dan lokasi-lokasinya dari 23 kromosom yang membentuk 1
set kromosom manusia. Pada Mei 2006, peneliti mengumumkan bahwa pemetaan sikuens
genom sudah selesai, yang terdiri dari lebih dari 3 miliar pasang basa DNA. Dengan
penemuan ini, diharapkan dapat mempermudah orang untuk mengetahui yang diperkirakan
akan mengalami kelainan turunan yang spesifik dan memudahkan peneliti untuk
mengeliminasi atau mengembangkan tatalaksana dari banyak jenis penyakit.1
Pada tinjauan pustaka ini akan dibahas bagaimana anamnesis pada pasien kelainan
genetika secara umum, pemeriksaan fisik dan penunjang yang diperlukan sesuai kasus, dan
juga penjelasan mengenai jenis talasemia yang mungkin diturunkan sesuai dengan kasus.
Pengetahuan ini penting karena talasemia merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan
di Indonesia. Masih banyak penelitian yang bisa dilakukan untuk mengembangkan ilmu
genetika ini, dan tidak mustahil dikemudian hari, dampak dari penemuan-penemuan hasil
penelitian dapat membantu pasien dengan penyakit keturunan.
Anamnesis
Peran seorang dokter atau seorang ahli genetika klinik adalah menghasilkan
kesimpulan diagnosis yang akurat yang akan mendasari konseling dan juga informasi yang
harus diberikan mengenai prognosis dan kelanjutan penyakit, kemungkinan menurunkan atau
3

penyebaran penyakit, dan apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah. Selama proses ini,
keluaga butuh dukungan untuk proses penyesuaian atas penyakit genetika dan keputusankeputusan penting yang harus diambil.2
Diagnosis penyakit kelainan genetik sangat bergantung pada pengambilan anamnesis
secara akurat dan juga pemeriksaan fisik, sama seperti cabang kedokteran lainnya.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik akan lebih fokus pada hal-hal yang berhubungan dengan
keluhan utama. Seperti contohnya, ketika seorang anak datang dengan adanya kelainan
bawaan, informasi mengenai umur orang tua saat hamil, kesehatan kehamilan, komplikasi
kehamilan, kemungkinan adanya paparan zat teratogenik, perkembangan dan gerak janin,
AnteNatal Care, metode kelahiran, dan bagaimana dengan anak sebelumnya. Informasi yang
mengisyaratkan kesamaan atau hubungan antara kelainan pada anggota keluarga lain juga
perlu di perhatikan. Kalau kejadian terjadi pada pasien dewasa, umur onset, presentasi apa
yang dihasilkan, dan perjalanan penyakit yang mengenai keluarga perlu untuk di catat,
bersamaan dengan umur keluarga yang tidak terkena penyakit ini.2
Dokter yang sudah terlatih, biasanya sudah mengetahui hal-hal apa saja yang harus
ditanyakan untuk membuat anamnesis keluarga yang baik, dan setidak-tidaknya menanyakan
bagaimana perjalanan penyakit pada keluarga yang satu generasi, termasuk didalamnya,
orang tua, saudara, dan anak, walau kalau memungkinkan, saudara yang jauh juga perlu
dicatat. Meskipun normalnya yang perlu dilakukan adalah melakukan anamnesis keluarga
komplit, yang memerlukan data tiga generasi yang biasa di sebut sebagai Pedigree atau
pohon silsilah keluarga. Semakin pesatnya perkembangan ilmu genetika, pengambilan
informasi tersebut bisa meningkatkan jumlah pertemuan dalam konsultasi genetik, baik jelas
maupun tidak kelainan genetiknya.3,4
Di Inggris, sekarang spesialis genetika klinik sudah beberapa yang memiliki
softwareyang bisa membantu memudahkan pembuatan pedigree dan bisa langsung
disebarkan dengan sesama profesional. Namun, hampir semua konsultan dan konselor
genetik di Inggris menggunakan pena untuk pengambilan informasi keluarganya dan bahkan
menggambar pedigree menggunakan tangan.4
Riwayat penyakit dahulu juga cukup penting. Biasanya dikelompokkan menjadi
penyakit berat atau kronik, operasi sebelumnya, pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya,
obat yang sedang dipakai serta dosisnya, dan alergi obat-obatan. Tanyakan juga riwayat
4

perjalanan kehamilan, pengecekan sebelum kelahiran, kekhwatiran sebelum kelahiran, dan


yang lainnya. Riwayat sosial, tanyakan apakah ada kelompok pendukung yang berdampak
baik dan signifikan pada pasien, apakah ada paparan dari lingkungan yang bisa berhubungan
dengan penyakit pasien, keadaan tempat tinggal, hubungan suami-istri, pendidikan,
pekerjaan, kebiasaan olahraga, hobi, dan kepercayaan yang dianut. Penting tanyakan
kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya merokok, minum alkohol, dan
lainnya. Perlu ditanyakan pula mengenai keluhan sistem lainnya, biasanya meliputi,
kesehatan mata, gigi, pendengaran, pencernaan, ekskresi, fungsi seksual, dan beberapa
pertanyaan yang bisa ditambahkan baik pada pasien laki-laki maupun perempuan. Tanyakan
juga hal-hal yang bisa membantu membuat diagnosis banding dengan menanyakan riwayat
kehamilan, riwayat prenatus, dan lainnya.5
Pembuatan Pedigree
Dokumentasi yang akurat dari riwayat penyakit pada keluarga adalah sesuatu yang
penting dalam diagnosis penyakit genetika. Silsilah penyakit keluarga atau family pedigree
digambar dan disusun, kemudian keadaan medis yang berkaitan dikumpulkan. Ada beberapa
variasi simbol yang digunakan dalam penggambaran pedigree ini. Penting juga untuk
diperhatikan bahwa penulisan nama harus nama lengkap dan tanggal lahir keluarga yang
tercantum dalam silsilah tersebut, sehingga data dari rekam medis rumah sakit mudah
didapatkan bila diperlukan. Usia onset dan gejala-gejala pada keluarga yang terkena penyakit
juga perlu dicatat. Pertanyaan-pertanyaan spesifik perlu ditanyakan, seperti aborsi, lahir mati,
kematian bayi, perkawinan lebih dari sekali, dan perkawinan antar sepupu karena jawaban
data-data ini biasanya tidak diberikan secara langsung.2
Ketika menggambar silsilah, biasanya paling gampang dimulai dari pasien yang
datang ke klinik. Detail dari anggota keluarga pada generasi pertama, meliputi orang tua,
saudara, dan anak, kemudian generasi berikutnya meliputi kakek dan nenek, paman, tante,
dan keponakan-keponakan. Biasanya dilengkapi sampai generasi ke tiga. Bila pasien yang
datang telah memiliki pasangan, maka silsilah yang sama perlu dibuat juga dari sisi
pasangannya. Orang yang terkena penyakit yang diturunkan dari pihak keluarga manapun
akan di beri tanda dengan tanda panah (Gambar 1).2

Gambar 1. Simbol-simbol pada Pedigree.2


Konfirmasi diagnosis klinis bisa menemukan mode penurunan sifat yang jelas pada
beberapa penyakit atau kondisi. Pada penyakit lainnya, fenotip yang sesuai bisa terjadi karena
beberapa penyebab yang mendasarinya, misalnya ada penyakit yang bisa dominan maupun
resesif diturunkan, maka menggunakan silsilah ini, lebih bisa dilihat sifat mana yang lebih
menonjol. Pada beberapa kasus yang diagnosis klinis tidak dapat ditemukan secara pasti,
informasi risiko penurunan genetik dapat diberikan kepada pasien bila pada pedigree tampak
mode yang unik. Akan tetapi, ketika hanya ada satu orang saja dalam keluarga yang terkena,
kejadian berulang berikutnya akan sulit di prediksi bila diagnosis tidak didapatkan.2
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang menyeluruh memang diperlukan, tetapi hal-hal penting perlu
di fokuskan pada bagian tubuh yang berhubungan. Pemeriksaan fisik yang menyeluruh pada
anak dengan kelainan bawaan atau sindrom dismorfik adalah penting untuk mencapai sebuah
diagnosis. Pencarian kelainan baik minor maupun mayor harus dilakukan secara hati-hati dan
teliti. Pengukuran antropometri juga penting untuk menilai perkembangan dan pertumbuhan.
Proporsi tubuh dan patokan khas pada wajah perlu dilihat juga dan lebih baik lagi kalau
dilakukan dengan mendokumentasikan pasien menggunakan foto. Tidak jarang diagnosa
genetika juga memerlukan temuan klinis dari spesialis lain, misalnya spesialis mata, saraf,
jantung dan lainnya.2

Kemungkinan lain adalah orang yang datang ke tempat praktek bukanlah orang yang
terkena penyakit, tetapi memiliki kekhawatiran untuk mengetahui apakah dia memiliki suatu
kelainan yang bisa dia turunkan ke anaknya. Pada kasus seperti ini, diagnosis pada keluarga
yang terkena penyakit harus diperjelas, dengan melakukan pemeriksaan atau berdasarkan
rekam medis rumah sakit yang bersangkutan, tidak lupa meminta ijin informed consent
sebelumnya. Sesungguhnya anggota keluarga yang tidak sakit perlu diperiksa secara teliti,
karena bisa saja dia merupakan carrier atau memiliki gejala minor atau gejala awal yang
menyingkirkan kemungkinan kesalahan diagnosis. Pasien yang menunjukkan tanda-tanda
gejala pada onset yang lambat dari suatu penyakit harus dilakukan pemeriksaan fisik sebelum
dilakukan pemeriksaan genetik, sehingga hasil dari test yang didapatkan bisa sesuai dengan
apa yang sesungguhnya terjadi pada pasien.2
Pemeriksaan fisik pada evaluasi genetika adalah berbasis pada pemeriksaan fisik
secara umum, namun memiliki beberapa elemen tambahan yang bisa jadi rutin atau tidak
rutin dilakukan, tergantung dari individu dan kondisi spesifik yang diperhatikan. Komponen
dasar pada pemeriksaan fisik termasukmelakukan pemeriksaan tanda vital, yaitu tekanan
darah, denyut jantung, suhu, dan pernapasan, serta perhatikan keadaan umum pasien,
kesadaran mental, dan status gizi. Seperti pada anak, penting pula dilakukan pengukuran
tinggi, berat badan, dan lingkar kepala untuk mengevaluasi keadaan tubuh pasien.5
Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan dengan cara yang sistemaik, melakukan
pemeriksaan dari kepala dan leher, dada, jantung, paru-paru, abdomen, payudara, alat
kelamin, sistem muskuloskeletal, sistem saraf termasuk didalamnya adalah status mental, dan
terakhir adalah kulit. Urutan pemeriksaan bisa diacak tergantung dari keluhan utama pasien
dan umur pasien.

Salah satu pemeriksaan yang penting dalam evaluasi genetik adalah

pemeriksaan kulit secara detail, untuk melihat apakah ada lesi pada kulit yang bisa
dihubungkan dengan kelainan neurocutaneous atau sindrom lainnya.5
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pada pasien dan anggota keluarga lainnya yang sakit bisa termasuk
pemeriksaan radiologis, dan biokimiawi, termasuk tes sitogenetika dan tes genetik molekuler.
Pencarian anomali yang berhubungan pada anak menggunakan tes kromosom, biasanya
termasuk pemeriksaan radiologi kepala, jantung, dan ginjal bersamaan dengan beberapa tes
yang spesifik dari sindrom yang bersangkutan. Pada beberapa kelainan genetik, pasien yang
7

sakit mungkin membutuhkan pemeriksaan berulang untuk mendeteksi kemungkinan


terjadinya komplikasi.2
Diagnosis dari talasemia diketahui dengan melakukan beberapa pemeriksaan darah,
seperti pemeriksaan darah lengkap atau Full Blood Count, emeriksaan ini akan memberikan
informasi mengenai berapa jumlah sel darah merah yang ada, berapa jumlah hemoglobin
yang ada di sel darah merah, dan ukuran serta bentuk dari sel darah merah. Nilai normal Hb
(laki-laki>13 g/dLwanita>12g/dL), Ht (37-42%), SDM (4-6 jutasel/uL), leukosit (4.50011.000 sel/uL), dantrombosit (150.000-350.000 sel/uL).Kemudian dilakukan pemeriksaan
apusan darah tepi, pada pemeriksaan ini, darah akan diperiksa dengan mikroskop untuk
melihat jumlah dan bentuk dari sel darah merah, sel darah putih, dan platelet. Selain itu, dapat
juga dievaluasi bentuk darah, kelainan morfologi darah, kepucatan darah, dan maturasi darah.
Kemudian adalah pemeriksaan zat besi pada darah, hal ini bertujuan untuk mengetahui segala
aspek penggunaan dan penyimpanan zat besi dalam tubuh. Tujuan pemeriksaan ini adalah
untuk membedakan apakah penyakit disebabkan oleh anemia defisiensi besi atau talasemia.
Pemeriksaan lainnya adalah elektroforesis Hb dan Analisi DNA. Analisis DNA digunakan
untuk mengetahui adanya mutasi pada gen yang memproduksi rantai alpha dan beta.
Pemeriksaan ini merupakan tes yang paling efektif untuk mendiagnosis keadaan karier pada
talasemia.6
Diagnosis pranatal tersedia dengan menggunakan DNA (vili korionik atau cairan
amnion) maupun darah janin. Karier harus diidentifikasi pertama kali (skrining dengan hitung
darah pada kelompok etnik minoritas, pada konsultasi prakonsepsi, atau di klinik antenatal).
Jika seorang ibu merupakan karier, pasangannya harus diuji. Jika keduanya karier, terdapat
satu dalam empat kemungkinan bahwa janin homozigot, atau heterozigot ganda, dan satu
dalam dua kemungkinan bahwa janin adalah karier. DNA fetal biasanya diamplifikasi dengan
menggunakan reaksi rantai polimerase (PCR) dan mutasi DNA dideteksi. Jika janin terkena
dengan parah, pasangan tersebut harus melakukan konsultasi dan terminasi kehamilan, jika
perlu bisa ditawarkan.7
Elektroforesis Hb juga perlu dilakukan.Elektroforesis hemoglobin pada selulosa
asetat, atau elektroforesis gel kanji pada pH basa 8,6, merupakan uji laboratorium paling
mudah untuk membuktikan adanya hemoglobin abnormal. Hemoglobin yang dipisahkan
dengan metode ini dapat dikuantifikasi dengan elusi dan analisis spektrofotografik atau
penapisan densitometri. Sebagian besar hemoglobin yang penting dapat dipisahkan dengan
8

metode ini. Sayangnya, metode ini tidak membedakan antara hemoglobin A dan F, sehingga
hemoglobin F harus diukur dengan metode lain, yaitu dengan pemberian asam karena
hemoglobin F adalah tahan asam. Uji ini menjadi dasar untuk uji Kleihauer-Betke untuk
mengetahui adanya sel-sel janin dalam sirkulasi ibu sewaktu hamil.Pada talasemia-alfa,
penurunan sintesis rantai alfa menyebabkan rantai beta menjadi berlebihan. Rantai-rantai beta
ini dapat membentuk tetramer, yang mudah dibuktikan dengan pewarnaan supravital berupa
kristal hemoglobin H. Kristal ini menyebabkan gambaran morfologi "bola golf" pada sel
darah merah, dan ini adalah uji untuk badan inklusi hemoglobin H. Selain itu, hemoglobin H
bermigrasi secara tersendiri pada elektroforesis hemoglobin dan merupakan salah satu
hemoglobin yang bermigrasi cepat. Jelaslah letak suatu pita hemoglobin pada elektroforesis
dapat mengarahkan pemeriksaan laboratorium selanjutnya.8,9
Ilmu genetika molekuler melibatkan pemahaman mengenai ekspresi gen-gen dengan
mempelajari urutan DNA pada kromosom. Setelah salah satu gen terbukti cacat dalam
penyakit tertentu, sifat mutasi dapat dijelaskan dengan mengurutkan nukleotida dan
dibandingkan dengan alele yang normal. Pemeriksaan molekuler ini sudah tersedia sampai
lebih dari 1000 kelainan turunan dan memiliki efek yang besar untuk diagnosis penyakit
dengan tipe turunan Mendel.3
Working Diagnosis
Kasus 1. Sepasang suami-isteri yang sudah lama ingin punya anak datang untuk
konseling. Mereka menginformasikan bahwa mereka berdua sama-sama mempunyai
talasemia-alfa minor. Selama ini isteri sudah pernah 2 kali hamil tetapi kehamilan pertama
mengalami keguguran pada usia kehamilan 12 minggu, sedangkan kehamilan kedua
melahirkan bayi dengan hydrops foetalispada gestasi 27 minggu dan meninggal beberapa
menit setelah dilahirkan. Pada pemeriksaan darah kedua suami isteri tersebut tidak dilakukan
pemeriksaan faktor rhesus maupun TORCH.
Kata talasemia pertama kali digunakan pada anemia yang sering ditemukan pada
orang Itali dan Yunani, pada tepi pantai dan pulau sekitaran. Kata ini sekarang mengarah
pada sekelompok penyakit yang diturunkan karena kelaianan sintesis rantai globin. Talasemia
termasuk dalam bentuk hemoglobinopati, yang dimana di klasifikasi berdasarkan rantai
globin spesifik ( atau ) yang dimana sintesisnya mengalami gangguan. Sehingga sesuai

namanya, talasemia alfa dan beta adalah kelainan pembentukan rantai alfa dan beta secara
berurutan.10
Tipe penurunan sifat talasemia adalah autosomal resesif. Pada talasemia alfa, perlu
dimengerti bahwa sintesis rantai globin alfa diatur oleh 4 buah gen alfa yang terletak 2 pada
setiap kromosom saudara 16. Yang terjadi pada talasemia alfa adalah hilangnya gen alfa pada
kromosom, bisa satu ataupun lebih dari satu gen. Talasemia alfa-2/silent carrier adalah
hilangnya 1 buah gen globin alfa, talasemia alfa-1 adalah hilangnya 2 buah gen globin alfa,
penyakit Hb H adalah hilangnya 3 buah gen globin alfa, dan terakhir Hb Barts/ Hydrops
Foetalis adalah hasil dari hilangnya semua gen globin alfa.10
Diagnosis Banding
1. Inkompatibilitas Rhesus
Inkompatibilitas rhesus terjadi ketika tidak terbentukanya antigen D pada sel
darah ibu dan keberadaan antigen D pada sel darah merah fetus bisa menyebabkan
autosensitifitas. Pemeriksaan yang paling mendasar adalah pemeriksaan darah
ABO dan Rh, serta mungkin dilakukan USG untuk melihat adanya hydrops
fetalis.11
2. Infeksi pada Kehamilan
Infeksi adalah umum terjadi selama kehamilan. Memiliki efek yang besar pada
kehamilan bila sampai terkena, dan memerlukan vaksinasi dengan titer yang
cukup sehingga bisa terhindar dari infeksi ini. Biasanya dikenal sebagai infeksi
TORCH, yaitu Toxoplasmosis, Other infections, Rubella, Cytomegalovirus,
Herpes simplex virus. Bisa terjadi selama kelahiran atau menembus sawar
plasenta.11
Epidemiologi dan Gejala Klinis
Talasemia merupakan salah satu penyakit genetik dengan penderita terbanyak
didunia. Sekitar 4.83% dari seluruh populasi dunia membawa variasi rantai globin, termasuk
didalamnya adalah 1.67% yang alfa dan beta talasemia heterozigot. Talasemia alfa sering
didapati pada orang di Afrika, Indochina, Malaysia, dan Cina. Talasemia alfa-2 atau
talasemia alfa-karier diam (-/) memiliki pesebaran 25% pada orang Afrika-Amerika,
3.4% pada orang Yunani-Amerika, dengan mikrositik minor dan anemia sedikit atau batas
bawah anemia. Talasemia alfa-1 atau sifat talasemia alfa (--/) terjadi sekitar 15-20% pada
10

orang Thailand, dengan sifat anemia sedikit, sel darah merah mikrositik, ada variasi ukuran
sedikit, splenomegali ringan, kemampuan kerja tidak terpengaruh, memiliki efek fenotip yang
sama dengan thalasemia alfa-2 (-/-) yang sering diderita orang berkulit hitam. Pada
penyakit Hb H atau talasemia alfa-intermedia (--/-) terjadi pada 1 % orang Thailand,
memiliki gejala berupa anemia hipokrom yang signifikan pada keadaan neonatal, anemia
mikrositik, retikulositosis, jaundice, splenomegali, terjadi hemolisis dikarenakan infeksi atau
obat, memerlukan beberapa kali transfusi, splenektomi, dan menghindari obat yang memicu
hemolisis darah.10

Gambar 2. Gambaran Gen pada Talasemia Alfa.2


Pada Hb Barts atau hydrops foetalis atau talasemia alfa mayor (--/--) adalah
merupakan tipe yang paling parah dari talasemia, tidak memiliki kemampuan untuk hidup
kecuali dilakukan transfusi darah intrauterin, dikarenakan tidak cukup hemoglobin yang
berfungsi untuk menghasilkan oksigenisasi sel-sel yang adekuat. Kekurangan oksigen yang
berat didalam kandungan yang berakibat terjadinya gagal jantung disertai hydrops foetalis.
Lahir hidup atau meninggal sesaat setelah kelahiran, edema dengan asites karena gagal
jantung, hepatosplenomegali yang masif, dan anemia eritroblastik yang hebat (Gambar 2).10
Etiologi dan Patofisiologi
Kelainan utama yang terjadi pada talasemia adalah sinstesis yang tidak seimbang dari
rantai-rantai globin karena ketidakpunyaan gen yang mengatur produksi rantai globin
11

tersebut,

yaitu

tidakadanyasintesissatuataulebihrantaipolipeptida

globin

yangbergabungmembentuk hemoglobin. Seperti yang telah dijelaskan, talasemia alfa adalah


salah satu penyakit hemoglobinopati yang bersifat herediter dan terkait autosomal resesif
kromosom. Jika seseorang menerima gen dari orang tua yang sama-sama carrier atau bahkan
salah satu adalah penderita maka akan ada kemungkinan menjadi anak dengan kromosom
autosom yang homozigot & mengandung gen talasemia akan terjadi keadaan yang disebut
talasemia mayor. Kelainan ini disebabkan adanya lesi/defek pada kromosom 16, bila lesi
tersebut terdapat pada kromosom 16 maka akan menghasilkan orang dengan talasemia alfa.12
Delesi gen globin- menyebabkan sebagian besar kelainan ini. Terdapat empat gen
globin- pada individu normal, dan empat bentuk talasemia- yang berbeda telah diketahui
sesuai dengan delesi satu, dua, tiga, atau semua empat gen ini. Bentuk thalassemia- yang
paling berat, disebabkan oleh delesi semua gen globin-, disertai dengan tidak ada sintesis
rantai sama sekali. Karena Hb F, Hb A, dan Hb A2 semuanya mengandung rantai , maka
tidak satupun dari Hb ini terbentuk. Hb Barts (4) merupakan sebagian besar dari Hb pada
bayi yang menderita, dan karena ada 4 rantai gamma mempunyai afinitas oksigen yang
tinggi, maka bayi-bayi itu mengalami hipoksia berat. Eritrositnya juga hanya mengandung
sejumlah kecil Hb embrional normal yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen.
Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati dan kebanyakan dari bayi yang lahir hidup
meninggal dalam waktu beberapa jam. Bayi ini sangat hidropik, dengan gagal jantung
kongestif dan edema anasarka berat.12
Faktor Risiko
Untuk kelainan single gene yang disetujui untuk dilakukan analisis mutasi, risiko
seseorang untuk mengembangkan atau menularkan kondisi tertentu sering di indentifikasi
yang bisa dipastikan keakuratannya. Akan tetapi, pada banyak kondisi risiko biasanya
diberikan kepada pasien dalam bentuk kemungkinan-kemungkinan yang dihitung atau
didapatkan dari data-data silsilah keluarga atau berdasarkan angka risiko yang sudah menjadi
patokan. Salah satu komponen penting dalam konseling genetik adalah menjelaskan risiko ini
kepada keluarga dengan cara tertentu sehingga pasien dapat mengerti dan menerima dengan
baik penjelasan kita sekaligus membantu pasien menentukan pilihan atas informasi yang kita
berikan.2

12

Kelainan yang bersifat sesuai dengan hukum Mendel yang dikarenakan mutasi gen,
umumya menghasilkan penurunan sifat yang lebih sering, sedangkan kelainan kromosom
umumnya menghasilkan penurunan sifat yang lebih sedikit. Dalam kondisi yang lebih umum
terjadi, tidak ada mode atau alur yang jelas dalam penurunan sifat dan angka risiko yang
sudah ditetapkan hanya berasal dari informasi yang didapatkan dari keluarga-keluarga pasien.
Ada banyak variasi yang terjadi pada kelainan genetik. Fenotip yang mirip mungkin
diakibatkan mutasi pada lokus yang berbeda atau karena cara penurunan sifat yang berbeda.
Pada orang tua yang keduanya memiliki penyakit atau kelainan, anaknya atau keturunannya
memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menurunkan sifat dari orang tuanya. Angka
penurunan sifat yang pasti tidak bisa diberikan bila hanya ada satu orang anggota keluarga
yang terkena, karena baik dominan maupun resesif pada pasien tersebut tidak bisa dinilai
secara langsung.2
Persepsi risiko tentunya dipengaruhi oleh keberatan penyakit, prognosisnya, dan
ketersediaan tatalaksana. Suatu keputusan pasangan yang sedang mengandung akan
dipengaruhi sebagian oleh risiko menurunkan penyakit dan sebagian lagi dari keberatan
penyakit dan juga keberadaan diagnosis prenatus. Nilai moral dan agama seseorang juga
perlu diperhatikan dalam mengambil keputusan terkait masalah reproduksi ini dan setiap
kepercayaan pasien harus dihargai.2
Komplikasi
Komplikasi dari penyakit talasemia adalah kerusakan multi organ sistemik seperti
hepar dan limpa, anemia berat kronis, mudahnya terjadi infeksi, ekspansi sumsum tulang
yang berlebihan sehingga terjadi osteoporosis, dan mengalami overload zat besi karena
destruksi eritrosit yang lebih cepat dari seharusnya. Pertumbuhan lambat terutama, akibat
kegagalan maturasi tulang, terutama selama tahun-tahun remaja. Maturasi seksual juga
terlambat, atau tidak ada dan hipogonadisme lazim pada anak laki-laki dan perempuan.
Kelainan pertumbuhan dan perkembangan ini diduga akibat hemosiderosis transfusi
bukannya talasemia. Namun pertumbuhan tinggi dan berat badan cukup normal selama umur
4-5 tahun pertama pada anak yang ditransfusi secara teratur dan perkembangan intelektual
normal. Kematian pada sebagian besar penderita yang ditransfusi secara teratur dianggap
berasal dari kelebihan besi. Penyerapan besi saluran cerna meningkat sebagai akibat anemia
hemolitik kronis. Akumulasi besi menyebabkan penggelapan kulit karena melanin dan besi
diendapkan di dermis. Akumulasi besi pada organ mengakibatkan fibrosis dan kerusakan
13

organ permanen. Komplikasi yang paling serius adalah gagal jantung yang sering
mematikan.12
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada talasemia alfa tergantung dari tipe talasemia yang diderita
pasien. Pada talasemia alfa yang sifat, maka tidak perlu melakukan terapi apapun, hanya
perlu menghindari paparan dari obat yang yang bisa menginduksi terjadinya hemolisis sel
darah merah. Harus diperhatikan tatalaksana secara lebih dini untuk pencegahan infeksi yang
terjadi setelah operasi splenektomi.10
Bila pasien mengidap penyakit Hb H, maka harus diberikan suplemen folat 1 mg/hari
peroral, terapi transfusi jangka panjang dengan dosis PRC 15-20 ml/kg setiap 4-5 minggu,
dan perlu diperhatikan untuk disertai dengan melakukan iron-chelation therapy untuk
menghindari terjadinya kelebihan besi didalam darah, misalnya deferasiroks oral 20-30
mg/kgBB/hari. Perlu dilakukan splenektomi pada kasus yang jarang berupa hipersplenisme.
Mungkin perlu dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang yang tidak dilakukan pada
semua pasien, hanya dilakukan pada pasien yang sangat berat keadaanya.10
Bila seorang pasien mengkonsultasikan mengenai kematian bayi dan terjadinya
hydrops foetalis ditambah dengan riwayat keluarga dengan talasemia maka kemungkinan
bayi yang meninggal tersebut menderita Hb Barts, yang memang biasanya menghasilkan
kematian neonatus, dan jarang pasien yang bisa diselamatkan meskipun telah melakukan
transfusi intrauterin dan transplantasi stem-cells yang adekuat.10
Perlunya dilakukan konsul kepada dokter spesialis penyakit dalam yang mengambil
sub spesalisasi dibidang hematologi pada kasus yang berat sekali. Semua pasien yang kita
dapati dengan anemia mikrositik yang tidak jelas harus di konsulkan untuk mengetahui
diagnosa yang pasti. Pasien dengan talasemia minor dan intermedia harus di konsulkan
kepada dokter spesialis genetika klinik untuk dilakukan konseling genetik dikarenakan anak
atau keturunan mereka bisa dalam risiko menurunkan talasemia mayor.9
Konseling Genetik
Konseling genetik telah didefinisikan sebagai proses komunikasi dengan dua tujuan,
yaitu edukatif dan psikoterapi. Sementara konseling genetik harus didasarkan pada diagnosis

14

yang akurat dan penentuan risiko, kegunaan genetik konseling bagi pasien dan keluarga akan
tergantungpada cara bagaimana informasi diberikan dan efek psikososial diberikan. Tujuan
utama konseling genetikadalah untuk membantu keluarga yang berisiko meningkat dalam
penurunan sifat genetik untuk hidupdan mereproduksi senormal mungkin.2
Meskipun konseling genetik adalah kegiatan yang komprehensif,fokus khusus akan
tergantung pada situasi keluarga. Sepasang pasangan hamil yang berisiko penurunan sifat
genetik tinggi mungkin perlu membuat keputusan yang mendesak tentang diagnosis prenatal,
orang tua dengan anak yang baru didiagnosis dengan gangguan genetik yangjarang mungkin
akan sangat menanyakan bagaimana prognosis dari anaknya itu, sementara masih datang
untuk menjelaskan mengenai diagnosisnya, dewasa muda yang berisiko penyakit degeneratif
dengan onset terlambat harus mendapatkan informasi tentang kondisinya. Mampu mengatur
jadwal konsultasi individu dan keluarga sehingga dapat menyajikan informasi secara
jelas,dan untuk mengatasi masalah psikososial adalah hal-hal keterampilan penting yang
dibutuhkandalam konseling genetik.2
Dampak psikososial dari diagnosis genetik untuk individu yang terkenadan keluarga
mereka tidak boleh terlalu di tegaskan. Sebuah diagnosis kondisi medis yang signifikan pada
anak atau orang dewasa mungkin memiliki efek psikologis, keuangan dan sosial, akan tetapi
jika kondisi memiliki dasar genetik, sejumlah masalah tambahan akan timbul. Ini termasuk
rasa bersalah dan menyalahkan, dampak pada keputusan reproduksi masa depan dan
implikasi genetik untuk keluarga besar.2
Perasaan bersalah muncul dalam kaitannya dengan diagnosis genetik dalam keluarga
pada berbagai situasi. Orang tua sangat sering mengungkapkan rasa bersalah karena telah
menurunkan kelainan genetik kepada anak-anak mereka,bahkan ketika mereka tidak memiliki
pengetahuan apapun mengenai risiko sebelumnya. Hal lain, orang tua juga mungkin merasa
bersalah karena telah mengambil keputusan untuk menggugurkan kehamilan yang memiliki
kelainan. Anggota yang sehat dalam keluarga mungkin merasa bersalah karena mereka telah
lebih beruntung daripada kerabat yang terkena penyakit dampak dan pasien yang berisiko
mungkin merasa bersalah memberikan beban ke pasangan mereka dan keluarganya.
Meskipun dalam kebanyakan situasi orang yang mengekspresikan rasa bersalah ternyata tidak
berperan dalam penurunan sifat genetik tersebut, tetap merupakan hal penting untuk
membiarkan dia untuk mengekspresikan keprihatinan ini dan konselor mengingatkan bahwa
apa yang dia rasakan adalah reaksi manusia normal terhadap keadaan tersebut.2
15

Menyalahkan mungkin terjadi lebih jarang daripada yang dipikirkan olehkeluarga.


Meskipun orang tua sering khawatir bahwa anak-anak mereka akan menyalahkan mereka
untuk penurunan sifat genetik yang merugikan ini, dalam prakteknyaini jarang terjadi dan
biasanya hanya terjadi ketika orang tua sengaja menyembunyikan informasi tentang risiko
genetik dari anaknya. Menyalahkan kadang-kadang dapat terjadi dalam keluarga di mana
hanya satu anggotadari pasangan membawa risiko genetik, tapi sekali lagi ini kurang
mungkin terjadi ketika situasi genetik telah dijelaskan dan dipahami.2
Pasangan yang menyadari adanya risiko penurunan sifat genetik yang meningkat
kepada keturunannya harus memutuskan apakah hal ini akan mempengaruhi rencana mereka
untuk berkeluarga. Beberapa pasangan mungkin dihadapkan dengan berbagai pilihan yang
membingungkan, termasuk metode diagnosis prenatal yang berbeda-beda dan penggunaan
teknologi assisted reproductive technologies. Sedangkan pasangan lainnya, satu-satunya
pilihan yang tersedia adalah untuk memilih antara mengambil risiko memiliki anak yang
terkena dampak dan tetap tidak punya anak. Pasanganmungkin perlu mempertimbangkan
kembali pilihan ini berkali-kali selama tahun-tahun reproduksi mereka.2
Sebagian besar pasangan mampu membuat pilihan reproduksi dan ini difasilitasi
melalui akses ke informasi yang lengkap dan konseling. Pengambilan keputusan mungkin
lebih sulit pada keadaan tertentu, termasuk perselisihan perkawinan,konflik agama atau
budaya, dan situasi di mana prognosis untuk anak yang terkena tidak pasti. Banyak kelainan
genetik yang memiliki tingkat keparahan yang bervariasi, meskipun diagnosis prenatal
dapatditawarkan,

prognosis

klinis

untuk

janin

tidak

dapatdiprediksi.

Ketika

mempertimbangkan keputusan reproduksi, juga bisa sulit bagi pasangan untuk menyatukan
cinta mereka untuk anak atau anggota keluarga yang terkena penyakit, dengan keinginan
untuk mencegah kelahiran anak yang berpenyakit lagi.2
Efek dari diagnosis genetik biasanya bergaung sampai melebihi individu yang terkena
penyakit dan keluarga inti nya.Hal ini mungkin akan menyusahkan bahkan ketika hubungan
keluarga utuh, tetapi akan lebih rumit dalam keluarga di manahubungan kurang
baik.Dukungan

keluarga

dapat

menjadi

sangat

penting

bagi

orang-orang

yang

mengatasidampak dari kelainan genetik. Ketika sudah adabeberapa individu yang terkena dan
beberapa sebagai pembawa/carrier di dalam keluarga, sumberdukungan dari anggota
keluarga lainnya dapat terganggu. Untuk beberapa kasus dimana keluarga terkena suatu
penyakit, anggota keluarga yang membutuhkan dukungan mungkin enggan untuk
16

memberatkan kerabat yang dia sendiri juga menghadapi penyakit atau kekhawatiran tentang
mereka sendiri. Mereka juga mungkin ragu-ragu untuk mendiskusikan tentang diagnosis
prenatal dan juga pemeriksaan prediktif dengan kerabat yang mungkin telah membuatpilihan
yang berbeda sendiri.2
Masalah dukacita sering timbul dalam konseling genetik. Ini mungkin berhubungan
dengan kehilangan yang telah terjadibaru-baru ini atau di masa lalu. Sebuah gangguan
genetik dapat menyebabkan kehilangan hasil reproduksi atau kematian anggota keluarga
dekat. Kesedihan yang dialami setelah pengguguran setelah di diagnosis dengan adanya
kelainan, memiliki kesamaan dengan reaksi berkabung lainnya dan dapat diperburuk oleh
perasaan orang tua yang merasa bersalah. Setelah kelahiran bayi dengan cacat bawaan, orang
tuameratapi hilangnya bayangan anak yang sehat, selain kesedihan mereka tentang kecacatan
anak mereka, dan kesedihan kronis ini mungkin berlangsung terus menerus selama kehidupan
anak.2
Banyak keluarga akan membutuhkan informasi terkini dan dukungan setelah sesi
konseling genetik awal, mungkin untuk mengatasi hal yang berhubungan dengan diagnosis
aktual atau risiko lanjutan dari gangguan genetik. Hal ini kadang-kadang dikoordinasikan
melalui keluarga di daerah sekitar, atau dapat diminta oleh anggota keluargapada peristiwa
kehidupan yang penting termasuk kehamilan, timbulnya gejala, atau kematian anggota
keluarga yang terkena.2
Ketersediaan tes genetik prenatal telah memungkinkan banyak pasangan berisiko
genetik yang tinggi untuk memulai kehamilan yang sebelumnya tidak akan mereka lakukan.
Namun, diagnosis prenatal dan pilihan terkait abortus, dapat memiliki efek psikologis yang
penting bagi wanita hamil dan pasangan mereka. Di hadapan riwayat keluarga yang sudah
diketahui,konseling genetik idealnya ditawarkan sebelum kehamilansehingga pasangan punya
waktu untuk membuat pilihan yang dipertimbangkan. Hal ini juga memungkinkan
laboratorium untuk melengkapi pengujian keluarga yang diperlukan sebelum tes prenatal
dapat dilakukan. Konseling harus disediakan dalam keadaan antenatal ketika tes genetik
prenatal yang ditawarkan kepada pasangan yang tidak memiliki riwayat genetik pada
keluarga, seperti pengujian amniosentesis setelah hasil pengetestan biokimia sindrom Down
menghasilkan suatu kenaikan. Untuk membantupasangan membuat suatu pilihan, informasi
harusdisajikan tentang kondisi, kemungkinan terjadinya, prosedur test dan risiko yang terkait,
keakuratan tes, dan potensi hasil yang keluar dalam test pengujian termasuk pilihan terminasi
17

kehamilan. Pasangan berisiko penurunansifat genetik tinggi seringmemerlukan konseling


yang terus menerus dan memerlukan dukungan selama kehamilan.2
Risiko penurunan pada orang tua yang keduanya adalah talasemia alfa-1 yaitu
memiliki kemungkinan anak 25% normal, 50% talasemia alfa-1, 25% Hb Barts (hydrops).
Ketika salah satu pasangan menderita talasemia alfa-1 dan satu lagi menderita talasemia alfa2 maka kemungkinan anaknya adalah 25% normal, 25% talasemia alfa-2, 25% talasemia alfa1, 25% Hb H. Risiko pada pasien tidak akan meningkat bila pasangannya bukan seorang
penderita atau karier. Pada diagnosis prenatal bisa ditemukan hepatosplenomegali,
cardiomegali, plasenta edema, asites, oligohidramnion, dan lain-lain pada talasemia alfa.10
Prognosis
Hasil prognosis sangat tergantung pada tipe talasemia yang diderita seseorang. Tanpa
terapi penderita akan meninggal pada dekade pertama kehidupan, pada umur, 2-6 tahun, dan
selama hidupnya mengalami kondisi kesehatan buruk. Dengan tranfusi saja penderita dapat
mencapai dekade ke dua, sekitar 17 tahun, tetapi akan meninggal karena hemosiderosis,
sedangkan dengan tranfusi dan iron chelating agent penderita dapat mencapai usia dewasa
meskipun kematangan fungsi reproduksi terlambat.12
Penutup
Berdasarkansemua yang telah dijabarkan diatas, maka kemungkinan besar keturunan
yang selama ini dihasilkan namun meninggal dikarenakan, kedua orang tua merupakan
penderita talasemia alfa minor yang memiliki kemungkinan terjadinya hydrops fetalis.
Talasemia merupakankelainansintesisrantaiglobin yang diturunkan secara autosomal resesif.
Secaraklinisdibedakanantaratalasemia

mayor

dan

minor.

Talasemia

mayor

sangattergantungpadatransfusi atau pada Hb Barts biasanya tidak bertahan lama setelah


kelahirandantalasemia minor (karier) biasatanpagejala atau bergejala ringan. Konseling
genetic pada pasangan ini juga perlu dijelaskan risiko penurunan sifat sehingga mereka
berdua bisa memutuskan apa yang harus dilakukan berikutnya mengingat anak berikutnya
bisa memiliki kemungkinan menderita seperti 2 anak sebelumnya.

18

Daftar Pustaka
1. Conroy ML, Davis KR, Embree JL, Madara B, Magaletto P, Roach RR, et al. Atlas of
pathophysiology. 3rd Edition. Philadelphia: Lippincot, Williams,& Wilkins;2010.p.224.
2. Kingston HM. Abc of clinical genetics. 3rd Edition. Malaysia: British Medical Journal
Books; 2002.p.5-10.
3. Gunder LM, Martin SA. Essentials of medical genetics for health professionals.
London: Jones & Bartlett Learning International; 2011.p.24-8.
4. Smith GB, Hope S, Firth HV, Hurst JA. Oxford handbook of genetics. New York:
Oxford University Press Inc.; 2010.p.52.
5. Uhlmann WR, Schuette JL, Yashar BM. A guide to genetic counseling. 2 nd Edition.
Canada: John Wiley & Sons; 2009.
6. Mehta A, Hoffbrand V. At a glance: hematologi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2008.h.40-1.
7. Kiswari R. Hematologi & transfusi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2014.h.193-5.
8. Sacher RA, McPherson RA. Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium. Edisi ke11. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.h.98-9.
9. Papadakis MA, McPhee SJ. Current medical diagnosis & treatment 2013. 52nd
Edition. Canada: The McGraw Hill Companies; 2013.p.494-5.
10. Chen H. Atlas of genetic diagnosis and counseling. New Jersey: Humana Press;
2006.p.950-1.
11. Ferri FF. Ferris clinical advisor 2013. Philadelphia: Elsevier Mosby; 2013.p.1075-6.
12. Honig GR. Kelainan hemoglobin.Volume 2. Edisi ke-15. Jakarta: EGC; 2000. h.40220.

19